Category Archives: Mutiara Salaf

Pahala Membangun Masjid

Syaikh ‘Abdurrozzaq al-Badr حفظه الله تعالى berkata,

“Masjid merupakan tempat yang paling dicintai Allah ‘Azza wa Jalla. Sebuah tempat yang Allah perintahkan untuk diangkat dan disebut nama-Nya di sana. Apabila masjid telah dibangun maka di sana akan dilaksanakan sholat, dibaca ayat-ayat al-Qur’an, nama-nama Allah ‘Azza wa Jalla akan disebut, ilmu-ilmu akan diajarkan, serta bisa menjadi tempat berkumpulnya kaum Muslimin, masih banyak faedah-faedah yang lain. Masing-masing poin itu bisa menghasilkan pahala..”

[ al-Fawaaid al-Mantsuurah, hlm. 11-15 ]

MUTIARA SALAF : Lima Pilar Syukur

Ibnul Qoyyim rohimahullah menjelskan bahwa syukur itu akan tegak jika ditopang oleh lima pilar :

[1] Tunduk dan merendah kepada Dzat yang disyukuri yaitu Allah,
[2] Cinta kepada-Nya,
[3] Mengakui bahwa nikmat itu adalah pemberian-Nya,
[4] Memuji-Nya -dengan lisan- atas limpahan nikmat tersebut, dan
[5] Tidak memanfaatkannya dalam perkara yang dibenci-Nya.

Inilah lima pilar syukur, apabila salah satunya hilang maka cacatlah syukur yang ada pada diri seorang hamba..”

[ Madaarijus Saalikin ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Maafkan…

Syaikh Ali Musthofa Thonthowi rohimahullah berpesan,

Genggam erat orang yang engkau cintai.. Ungkapkan rasa cintamu pada mereka. Maafkan setiap kesalahan mereka, karena boleh jadi suatu hari nanti engkau atau mereka akan pergi sementara di dalam hati ada cerita dan rindu (yang belum tersampaikan) pada mereka.. Diskusikan, perbaiki, jelaskan dan akui setiap salah…

Hidup ini sangat pendek, tak layak dilalui dengan hasad dan dengki.. Esok kita akan menjadi kenangan saja..

Kematian tak akan meminta izin,
karena itu.. tersenyumlah.. dan maafkan semua yang pernah menyakitimu..”

 

Wasiat Bagi Yang Diberikan Nikmat Berupa Suara Merdu Saat Membaca Al Qur’an

Imam Abu Bakar al-Ajurri -rahimahullah- mengatakan,

“Bagi orang yang diberikan kemerduan suara dalam (membaca) Al Qur’an, ketahuilah bahwa Allah telah mengistimewakannya dengan kebaikan yang agung.

Maka, harusnya dia sadar akan besarnya keistimewaan yang Allah berikan kepadanya, dan harusnya dia membaca (Al Qur’an) karena Allah, bukan karena makhluk makhluk-Nya.

Harusnya dia waspada akan :

keinginan untuk didengarkan oleh orang orang, karena ingin mendapatkan dunia. 

– keinginan untuk mendapatkan pujian dan kedudukan di hati pemilik dunia.

– (keinginan) untuk memiliki hubungan baik dengan orang orang yang berkedudukan, meninggalkan hubungan baik dengan orang orang awam.

Maka orang yang punya keinginan terhadap sesuatu yang kularang ini, aku khawatir kemerduan suaranya akan menjadi fitnah (musibah) baginya.

Merdunya suara dia itu hanya akan memberikan manfaat bagi dia, jika :

– dia takut kepada Allah -azza wajalla- saat sendiri maupun saat bersama.

– niatnya agar Al Qur’an didengar darinya, sehingga orang orang yang lalai menjadi sadar, hingga mereka mencintai apa yang diinginkan Allah -azza wajalla- untuk dicintai, dan berhenti dari apapun yang Allah larang.

Maka, siapa yang sifatnya demikian, dia akan mendapatkan manfaat dari kemerduan suaranya, dan manusia pun akan mendapatkan manfaat darinya..”

[Kitab: Akhlaqu Ahlil Qur’an, hal: 161].

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Coba Perhatikan Keadaan Rumah Anda

Rumah yang dihidupkan dengan ibadah, maka ia akan menjadi terasa nyaman dan hati penghuninya akan tenang, tentram, dan bahagia.

Sedang rumah yang dipenuhi dengan maksiat, maka ia akan menjadi tidak nyaman dan hati penghuninya juga tidak tenang dan gersang.

Syeikh Binbaz -rahimahullah- mengatakan:

“Suatu keluarga, semakin banyak mereka membaca Qur’an, atau mempelajari hadits, atau membaca dzikir, bertasbih dan bertahlil; maka mereka akan semakin selamat dari setan dan semakin jauh darinya..

Sebaliknya, semakin mereka dipenuhi dengan kelalaian dan dan hal-hal yang menyebabkan mereka lalai, seperti: nyanyian bermusik, dan membincangkan gosip; maka mereka akan semakin dekat dengan setan yang menyemangati mereka melakukan kebatilan..”

[Fawaid Ilmiyah min Durus Baziyyah 1/142]

—–

Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa sebenarnya yang paling penting bukanlah bentuk fisik rumah.. tapi bagaimana kita membangun sisi rohaninya, agar sebuah rumah hidup dengan ibadah-ibadah yang dicintai oleh Allah ta’ala, sehingga rahmat Allah memenuhi rumah tersebut.

Rumah yang megah, setiap orang kaya bisa membuatnya.. tapi itu tidak menjamin kenyamanan penghuninya.

Oleh karena itu, seringkali kita mendapati rumah megah, tapi hati kita tidak nyaman saat memasukinya.. sebaliknya seringkali kita dapati rumah yang sangat sederhana, tapi hati kita sangat nyaman dan bahagia tinggal di dalamnya.

Inilah kemurahan Allah ta’ala.. bahwa kenyamanan suatu rumah bisa didapatkan oleh siapapun.. baik yang kaya maupun yang miskin.. kuncinya satu, hidupkan rumah itu dengan ibadah yang dituntunkan oleh-Nya.

Silahkan dishare… Semoga bermanfaat.

Ditulis oleh,
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

MUTIARA SALAF: Selalu Mengingat Allah = Kunci Berkahnya Waktu Anda

Syeikh Al-‘Utsaimin rohimahulloh berkata,

“Orang yang mendapat taufiq itu selalu dalam keadaan ‘sadar’, sedang orang yang hina itu selalu dalam keadaan lupa,

Allah ta’ala berfirman (yang artinya): “Janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami LALAIKAN dari mengingat kami, dia menuruti keinginannya, dan keadaannya sudah melewati batas..”

Oleh karena itu, bila kamu melihat dirimu tidak beramal, dan hari-harimu berlalu begitu saja, maka curigailah dirimu, maka sungguh (kamu akan dapati) hatimu selalu lupa dari MENGINGAT Allah -azza wajall-, karena orang yang menghadapkan dirinya kepada Allah, tentu Dia akan MEMBERKAHI waktu dan amalnya, serta semua waktunya akan HIDUP dengan sesuatu yang ada kebaikannya..”

Diterjemahkan oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Tidaklah Cukup Dengan CINTA

Agar bersama dengan seseorang di akhirat, tidak cukup dengan CINTA… Tapi, harus dengan mengikuti tuntunannya.

=====

Al-Hasan Al-Bashri -rohimahulloh- mengatakan:

“Wahai anak adam, jangan terlena dengan perkataan bahwa seseorang akan bersama orang yang dicintainya, karena sesungguhnya orang yang mencintai suatu kaum, ia harus mengikuti jejak-jejak mereka.

Dan engkau tidak akan menyusul mereka yang mulia, hingga engkau meniti jejak-jejak​ mereka, mengambil petunjuk mereka, dan mengikuti tuntunan mereka.

Siang dan malam engkau selalu berada di atas manhaj (jalan hidup) mereka, engkau berusaha untuk menjadi bagian dari mereka​, sehingga engkau berjalan di atas jalan mereka dan mengambil petunjuk mereka, meskipun engkau kurang dalam beramal, intinya bagaimana engkau selalu dalam keadaan istiqamah.

Tidakkah engkau lihat kaum Yahudi, Nasrani, dan para ahli bid’ah yang binasa..?! Meski mereka mencintai Nabi mereka, tapi mereka tidak bersama Nabi mereka. Karena mereka menyelisihi Nabi mereka dalam perkataan dan perbuatannya, mereka berjalan di selain jalan Nabi mereka, sehingga tempat akhir mereka di Neraka, na’udzubillah min dzalik..”

[Istinsyaqu nasiimil uns, Ibnu Rojab, hal:87].

——

Sungguh hal ini sangat selaras denan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Ingatlah bahwa dagangan Allah itu mahal, ingatlah bahwa dagangan Allah itu mahal, ingatlah bahwa dagangan Allah itu surga”..

jika masuk surga bersama orang-orang saleh cukup dengan CINTA tanpa mengikuti tuntunannya, berarti dagangan Allah menjadi sangat murah..!

Silahkan dishare.. Semoga bermanfaat..

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Sampai Kapan Engkau Terlelap dan Tak Sadarkan Diri..??

Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- mengatakan:

“Sungguh sangat mengherankan sekali keadaan kebanyakan manusia, waktu terus berlalu dan umurpun habis, namun hatinya masih tetap tertutup dari Allah dan kehidupan akhirat.

Dia keluar dari dunia sebagaimana dia memasukinya, dia tidak mencicipi sesuatu yang paling nikmat darinya. Dia hidup seperti hidupnya hewan, dan dia berpindah seperti pindahnya orang-orang yang pailit.

Sehingga dia menjadi orang yang hidupnya lemah, matinya menyedihkan, dan kembalinya (ke akherat) adalah kerugian dan penyesalan..”

[Thoriqul Hijrotain, hal: 385].

Sekali lagi sampai kapan kita terlelap dan tak sadarkan diri..?? bangunlah sebelum semuanya terlambat..!! Bukankah Anda yakin semuanya akan mati… dan bisa jadi itu tidak lama lagi..!!

Silahkan dishare.. semoga bermanfaat..

Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Tiga Hal Yang Sangat Berharga Dalam Kehidupan

Tiga hal yang sangat berharga dalam kehidupan… Jangan sampai kita sia-siakan.

Muhammad bin Wasi’ -rohimahulloh- mengatakan:

Tidak ada yang tersisa dari kehidupan dunia ini kecuali tiga hal:

(Pertama): Sholat berjama’ah; engkau mendapatkan keutamaannya dan dimaafkan lupamu di dalamnya.

(Kedua): Kehidupan yang mandiri dan bersih; engkau tidak merasa berhutang budi di dalamnya pada orang lain, dan harta itu tidak mendatangkan dosa kepada Allah.

(Ketiga): Saudara yang baik denganmu, jika engkau salah; dia meluruskanmu..”

[Kitab: Roudhotul Uqola’, hal: 86].

——-

Di saat kita diganggu dengan kegaduhan berita oleh media-media.. kita perlu mengingat pesan-pesan sederhana seperti di atas ini.

Kita juga perlu menyadarkan diri, bahwa sebenarnya banyak berita yang hanya mengganggu pikiran kita.. kita hanya dibuat khawatir olehnya, tapi kita tidak bisa berusaha mengubahnya.

Jika kita hanya penonton, mengapa cari tontonan yang tidak mengenakkan pikiran.. sudah saatnya kita ganti dengan menonton kajian sunnah yang menyejukkan hati dan mendekatkan kepada ilahi.

Silahkan dishare, semoga bermanfaat.

Penulis,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Kasus : Memeriksa HP Suami Karena Curiga dan Cemburu

Pertanyaan :
Bolehkah istri memeriksa HP suami tanpa sepengetahuannya, karena dorongan cemburu..? (Terus terang) aku mencurigainya dan aku ingin mencari kepastian akan hal itu.

=====
Jawaban :
Pertanyaan ini pernah diajukan kepada Syeikh Walid bin Rosyid As-Sa’iidan -hafizhahullah-, dan beliau memberikan jawaban sebagai berikut:

Segala puji bagi Allah.

Telah ditetapkan oleh para ulama, bahwa sesuatu yang masuk dalam hak milik pribadi seseorang, maka tidak boleh bagi orang lain untuk mengambilnya, kecuali dengan izinnya.

Dan HP suamimu itu masuk dalam hak milik pribadinya, makanya di sana ada urusan-urusan pribadinya, ada rahasia-rahasia dia, dan juga hal-hal yang dia tidak ingin ada orang lain mengetahuinya.

Oleh karena itu, aku melihat -wallohu a’lam- termasuk perkara yang diharamkan, jika kamu berusaha melihat isi HP nya, kecuali dengan izinnya.

Tindakan (memeriksa HP suami tanpa sepengetahuannya) itu merupakan tindakan tahassus dan tajassus yang diharamkan oleh syariat, terutama bila hal itu dilakukan tanpa alasan kecurigaan dan tanpa indikasi-indikasi yang kuat, sungguh Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- telah melarang kita dari tindakan itu.

Allah berfirman di dalam kitab-Nya (yang artinya): “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak hal dari prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kalian melakukan tajassus!”. [Al-Hujurot:12].

Di dalam hadits shahih, Nabi -shollallohu alaihi wasallam- juga menyabdakan: “Janganlah kalian melakukan tajassuss, jangan pula melakukan tahassus”. [HR. Bukhori:5143, Muslim:2563]

Dan hendaknya jangan sampai setan mempermainkan dirimu, sehingga dia memasukkan dalam hatimu ilusi-ilusi, khayalan-khayalan, dan bisikan-bisikan buruk, yang setan tidak menginginkan darinya melainkan rusaknya hubunganmu dengan suamimu.

Jangan sampai engkau menurutinya, dan berusahalah untuk meminta perlindungan kepada Allah dari setan itu. Harusnya kamu berbaik sangka kepada suami, kecuali bila kamu telah melihat perkara (buruk) itu nyata di depan mata, jelas, dan terang, tanpa ada keraguan sama sekali.

Adapun sekedar khayalan-khayalan, keragu-raguan, dan ilusi-ilusi, maka hendaknya hal itu jangan diindahkan, apalagi hal ini biasanya akan menjadikan para suami marah, bahkan bisa saja hal itu menyebabkanmu kena talak, sehingga kamu akan menyesal ketika itu.

Karena termasuk diantara hal yang menjadikan suami marah, bila dia tahu bahwa istrinya meragukan kehormatannya, meragukan sifat amanahnya, meragukan rasa malu dan kesuciannya, serta meragukan agama dan keimanannya.

Ketika suamimu tahu bahwa engkau mengorek-ngorek HP nya; aku khawatir dia malah menjatuhkan talak kepadamu karena kemarahan yang dilampiaskannya, maka agar masalahnya tidak sampai pada apa yang diinginkan oleh setan, yaitu talak; harusnya engkau menahan diri dari tindakan ini, harusnya engkau berbaik sangka kepada suami, dan jangan sampai memberanikan diri mengorek-ngorek HP nya atau mengambilnya secara sembunyi-sembunyi.

Relakah engkau diperlakukan oleh suami seperti apa yang ingin engkau lakukan kepada suamimu itu, tentu jawabannya tidak.

Bagaimana bila engkau tahu bahwa suamimu curiga pada dirimu tanpa sebab (yang jelas), lalu dia mengambil HP mu, memeriksa apapun yang ada di dalamnya? Tentu Anda akan marah karena tindakan ini, dan apa yang menjadikanmu marah, itu juga akan menjadikan orang lain marah.

Dan termasuk diantara konsekuensi keimanan seseorang, adalah berusaha memperlakukan orang lain dengan sesuatu yang dia senang diperlakukan dengannya.

Oleh karena itu, jika Anda mau menerima nasehatku -semoga engkau mendapatkan taufiqNya-, harusnya engkau meninggalkan tindakan itu, dan bersihkan hati dari kecurigaan itu, harusnya engkau berbaik sangka kepada suami, dan tinggalkan kecurigaan-kecurigaan dan ilusi-ilusi itu, karena menyibukkan diri dengannya bisa menyebabkan rusaknya hubungan kalian berdua, lalu engkau nantinya akan menyesal di saat penyesalan tidak ada gunanya lagi, wallohu a’lam.

Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=aBCFu32aLsA

——–

Tajassus dan tahassus, pada intinya sama, yaitu usaha memata-matai orang lain, dengan tanpa sepengetahuan orangnya.

Ada yang mengatakan perbedaan keduanya, bahwa :
– tajassus itu dilakukan langsung oleh pelaku kepada sasaran korbannya, sedangkan
– tahassus dilakukan dengan mencari-cari info dari orang lain

perbedaan ini disebutkan oleh Syeikh Utsaimin -rohimahulloh-, wallohu a’lam.

Silahkan dishare, semoga bermanfaat…

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى