Category Archives: Mutiara Salaf

Jangan Meremehkan Sesuatu Yang Terlihat Kecil

Dalam masalah kemaksiatan sahabat Abu Bakar -rodhiallohu ‘anhu- pernah mengatakan:

“Sungguh Allah bisa saja mengampuni dosa besar, maka janganlah engkau putus asa (karenanya). Dan bisa saja Dia meng-adzabmu karena dosa kecil, maka janganlah engkau terlena (karenanya)..”

[Syarah Shahih Bukhori, karya Ibnu Batthol, 10/203].

Sedangkan dalam masalah ketaatan, Ibnul Mubarok -rohimahullah- pernah mengatakan:

“Betapa banyak amalan kecil, dibesarkan oleh niat. (Sebaliknya) betapa banyak amalan besar, dikecilkan oleh niat..”

[Jami’ul Ulum Wal Hikam, karya Ibnu Rojab, 1/71].

Hal ini juga telah ditegaskan oleh Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- dalam sabdanya:

“Jangan sampai engkau meremehkan kebaikan apapun, walaupun hanya menemui saudaramu dengan wajah yang bersahabat..” [HR. Muslim: 2626].

Lihatlah bagaimana beliau memberikan contoh perbuatan yang kecil dan sederhana, namun demikian, beliau melarang kita meremehkannya.

——-

Jika kita melatih diri untuk memperhatikan yang kecil-kecil, insya Allah yang besar akan semakin kita perhatikan.. sebaliknya bila kita sering menyepelekan yang kecil-kecil, maka lambat laun kita juga akan menyepelekan sesuatu yang besar.

Semoga bermanfaat.. dan silahkan dishare..

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Hakekatnya Kita Dianggap Baik Bukan Karena Kebaikan-Kebaikan Tapi Karena Allah Menutupi Aib-Aib Kita

Muhammad bin Waasi’ rohimahullah berkata, 

لو كان للذنوب ريح ما جلس إلي أحد

“Seandainya dosa-dosa itu ada baunya maka tidak seorangpun yang mau duduk bersamaku..”

Jangan pernah ujub dengan amalan kita, jangan pernah terpedaya dengan pujian mereka yang memujimu.

Kalau ada satu aib kita saja diungkap oleh Allah maka semua pujian akan menjadi celaan..

AmpunanMu senantiasa hamba harapkan wahai Dzat yang menutupi aib-aib hambaNya.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

Keajaiban Do’a

Syaikh Ali Musthofa Thonthowi rohimahullah mengisahkan,

“Dahulu, aku menjabat sebagai hakim di wilayah Syam.

Disuatu senja, aku dan beberapa kawan pergi menikmati sejuknya malam. Namun tiba-tiba aku merasakan pernafasanku begitu sesak.

Akupun pamit kepada kawan-kawan untuk pulang. Akan tetapi mereka meminta supaya aku tetap ikut bersama mereka.
Aku sampaikan bahwa aku tidak bisa menemani mereka lagi. Aku ingin pulang dan mencari hawa yang baik.

Aku menyusuri gelapnya malam yang baru saja dihantarkan senja.

Tiba-tiba aku mendengar tangisan seorang wanita dari balik bukit kecil.

Suara tangis itu terdengar begitu keras, aku mendekat ke arah dimana suara itu berasal.
Ternyata kudapati seorang wanita yang sedang menangis dengan wajah yang memendam kesedihan yang mendalam. Dalam tangisnya ia tak henti-hentinya berdo’a.

Lalu akupun bertanya, “Saudariku. .. apa yang membuatmu menangis .?

Wanita itu menjawab:
“Suamiku adalah orang yang sangat keras dan suka menzhalimiku, dia mengusirku dari rumah dan merampas anak-anak dariku. Dia juga bersumpah untuk tidak akan melihatku selama-lamanya. Sementara aku tak punya siapa-siapa. Tak ada tempat untukku kembali.

Aku bertanya lagi “Mengapa engkau tidak mengadukannya kepada Hakim. .?”

Wanita itu menjawab: “Bagaimana mungkin wanita biasa sepertiku bisa sampai kepada seorang hakim.?”

Sambil menangis Syaikh melanjutkan kisahnya,

“Wanita itu berkata seperti itu, padahal dia tidak menyadari bagaimana Allah menghantarkan seorang hakim untuknya (maksudnya beliau).

Subhanallah.. siapa yang menuntun hakim tersebut keluar ditengah gelapnya malam, untuk kemudian berdiri didepan wanita malang dan menanyakan sendiri apa keperluannya..?

Do’a apa yang telah dipanjatkan wanita malang itu, sehingga dengan cepat dijawab oleh Allah dengan cara seperti ini.. ?

Wahai engkau yang merasa dirundung duka dan mengira bahwa dunia begitu gelap hingga tak lagi dapat mengantarkanmu pada jalan keluar..

Angkatlah tanganmu ke langit dan jangan bertanya, “Bagaimana masalaahku akan diselesaikan.?”
Apakah engkau masih akan merasa bahwa hidup itu sempit..?

Jangan lagi.. khusyu’lah dengan penuh tunduk kepada-Nya. Dialah yang Maha Mendengar langkah seekor semut yang berjalan di tengah kegelapan malam.

Yakinlah.. bahwa disana ada bahagia yang menantimu setelah kesabaran yang panjang.
Tidaklah Allah mengujimu dengan suatu ujian melainkan disana ada kebaikan untukmu, meskipun engkau menduga sebaliknya. .

Lapangkan dadamu.
Kalau bukan karena ujian, maka Yusuf tetap menjadi seorang anak yang manja dipangkuan ayahnya.
Namun setelah melewati ujian, ia kemudian menjadi penguasa Mesir.
Apakah engkau masih merasa bahwa hidup itu sempit..?

Yakinlah..
Bahwa disana ada bahagia yang menantimu setelah kesabaran yang panjang.

Ada keajaiban yang menantimu untuk membuatmu lupa betapa pahitnya ujian hidup..”

(Rowaa’i At-Thonthowi)

Amalan Yang Bisa Berpahala TANPA Niat

Syeikh Utsaimin -rohimahulloh- mengatakan:

“Jika seseorang melakukan perbuatan yang MUBAH dan dia tidak meniatkannya untuk ibadah, maka tidak ada pahala padanya.

KECUALI bila ada manfaatnya bagi makhluk lain, misalnya: ketika seseorang memberikan nafkah kepada orang yang wajib dinafakahinya, maka mungkin saja dia tidak menghadirkan niat TAPI dia mendapatkan pahala.

Begitu pula jika seseorang menanam biji, atau menanam pohon, lalu sebagiannya dimakan oleh burung atau hewan melata, atau orang, maka sungguh dicatat baginya pahala kebaikan..”

[Liqo’ bab maftuh 5/53].

———-

Bila tanpa niat saja berpahala, bagaimana bila diniatkan untuk ibadah.. Bagaimana bila niatnya adalah tujuan-tujuan baik yang bisa bermacam-macam.. Oleh karenanya ada perkataan yang bagus: “Niat adalah ladang bisnisnya para ulama..”

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Manfaatkanlah Waktumu Sebaik-Baiknya

Manfaatkanlah waktumu sebaik-baiknya.. karena keadaan dirimu saat ini lebih baik daripada keadaan dirimu di masa yang akan datang.

Ibnus Sammak -rohimahulloh- mengatakan:

“Apakah yang dinanti oleh orang :
– yang rambutnya telah memutih setelah sebelumnya hitam,
– yang wajahnya mengeriput setelah sebelumnya mulus,
– yang punggungnya membungkuk setelah sebelumnya tegak,
– yang penglihatannya merabun,
– yang anggota badannya melemah,
– yang tidurnya menjadi hanya sebentar, dan
– yang bagian tubuhnya sedikit demi sedikit rusak di masa hidupnya..?!

Maka, rahmat Allah bagi orang yang memahami hal ini dan memperhatikannya dengan baik, lalu memanfaatkan hari-harinya..”

[Siyaru A’lamin Nubala’ 8/330]

——

Ironisnya, banyak orang mengundur-undur rencana baiknya, padahal keadaannya di masa depan biasanya tidak lebih baik daripada keadaannya saat ini.

Oleh karena itu, mulailah dari sekarang..

Semoga bermanfaat..

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Perbanyaklah Istighfar

Syeikhul Islam -rohimahulloh- mengatakan:

“Istighfar adalah kebaikan yang paling agung, oleh karena itu, siapa yang merasa kurang dalam perkataannya, atau kurang dalam amalannya, atau kurang dalam rezekinya, atau merasa gonjang-ganjing hatinya; maka hendaklah dia hadapi dengan kalimat tauhid dan istighfar.”

[Al-Fatawa 11/698].

Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

Jangan Sampai Anda Terlena

Hatim Al-Ashomm rohimahullahu Ta’ala mengatakan,

“Jangan terlena dengan keberadaanmu di tempat yang baik, kerena tidak ada tempat yang lebih baik dari surga, tapi nyatanya Adam mendapati apa yang sudah dapati.

Jangan pula terlena dengan banyaknya ibadah, karena Iblis setelah ibadah lamanya, ternyata menjumpai apa yang dia jumpai.

Jangan pula terlena dengan banyaknya ilmu, karena ba’am bin ba’uro telah menjumpai apa yang dia jumpai, padahal dia telah tahu nama Allah yang paling agung (Al-Ismul A’zhom).

Dan jangan pula terlena karena telah bertemu dan melihat orang-orang saleh, karena tidak ada orang yang lebih saleh dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, tapi ternyata pertemuan dengan beliau tidak memberikan manfaat untuk para musuh beliau dan kaum munafikin..”

[Madarijus Salikin, Ibnul Qoyyim, 1/510]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Dalam Menasehati, Jangan Menunggu Diri Menjadi Sempurna

Berikanlah nasehat dan pesan kebaikan kepada orang lain, walaupun Anda masih banyak kekurangan.

Ibnu Rojab -rohimahulloh- mengatakan:

“Jika tidak ada yang boleh memberi nasehat melainkan orang yang bebas dari kesalahan; tidak akan ada orang yang boleh memberi nasehat kepada manusia setelah Rosulullah -shollallohu alaihi wasallam-, karena tidak ada orang yang maksum setelah Nabi -shollallohu alaihi wasallam-.”

Justru, dengan langkah ‘memberi nasehat’ itu, kita akan berusaha menjadi lebih baik, dan menambah rasa ‘malu’ kita untuk bermaksiat.

Dan pahala untuk orang yang menunjukkan kebaikan kepada orang lain TIDAK disyaratkan harus menjadi sempurna atau harus melakukannya lebih dulu, wallohu a’lam.

SIAPAPUN yang menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya pahala orang yang melakukannya”, sebagaimana sabda Nabi -shollallohu alaihi wasallam-.

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Membantu Pekerjaan Rumah Istri – Sunnah Nabi Yang Perlu Dihidupkan Kembali

Syeikh al ‘Utsaimin -rohimahulloh- berkata :

“Diantara tawadhu’nya Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-; bila beliau di rumah, beliau membantu istrinya, memeras susu kambing, memperbaiki sandal, beliau membantu mereka di rumah mereka.

Hal ini berdasarkan penuturan ‘Aisyah -rodhiallohu ‘anha- ketika ditanya apa yang dilakukan Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- saat di rumah: “Beliau dahulu biasa mengerjakan pekerjaan istrinya..”, yakni membantu istrinya.

Misalnya, jika seseorang di rumahnya, maka termasuk sunnah, bila dia membuat teh untuk dirinya sendiri, memasak sendiri bila dia bisa, mencuci apa yang butuh dicuci, ini semua termasuk sunnah Nabi.

Jika kamu melakukan hal itu, maka kamu akan mendapatkan pahala menjalankan sunnah.

Karena (kamu melakukan hal itu untuk tujuan) mengikuti Rosul -shollallohu ‘alaihi wasallam- dan bertawadhu’ (merendah) kepada Allah -azza wajall-.

Hal ini juga akan menumbuhkan rasa cinta antara kamu dan istrimu. Jika istrimu merasa kamu banyak membantunya, tentu dia akan mencintaimu dan dirimu akan semakin berharga di matanya.. dan ini merupakan masalahat yang besar..”

[Syarah Riyadhus Shalihin2/264].

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Kalau Haditsnya Sudah Tidak Valid

Kalau haditsnya sudah tidak valid, maka tinggalkanlah…
begitulah pendapat Imam Syafi’i -rohimahullah-.

=====

Beliau mengatakan:

“Kesimpulan masalah ini, bahwa hadits tidak boleh diterima, kecuali hadits yang valid.

Sebagaimana para saksi tidak boleh diterima persaksiannya kecuali orang yang telah diketahui keadilannya.

Maka apabila haditsnya “tidak diketahui”, atau orang yang membawakannya “dibenci”; maka seakan hadits itu tidak pernah ada, karena hadits itu tidak valid.”

[Kitab: Ikhtilaful Hadits 10/41].
——–

Sungguh, penjelasan yang sangat jelas dan tegas dalam menyikapi hadits yang lemah… Terus terang, penulis sangat takjub dengan perkataan beliau, bahwa hadits yang tidak valid itu seakan tidak pernah ada sama sekali !!

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى