Category Archives: Mutiara Salaf

Nasehati Aku .. Jangan Permalukan Aku

Syair Imam Syafi’i rohimahullah,

تعَمَّدْني بِنُصْحك فِي انفرادي *** وجَنِّبْني النصيحةَ في الجماعَةْ

فإنَّ النُّصحَ بين الناسِ نوعٌ *** من التوبيخ لا أرضَى اسْتِماعَهْ

وإنْ خالفْتَني وعصيْتَ قولي *** فلا تجزعْ إذا لم تُعطَ طاعَةْ

“Sengajalah menasehatiku saat aku sendiri. Jauhkan aku dari nasehat di depan khalayak ramai

Karena nasehat di tengah manusia itu bentuk mempermalukan. dan aku tidak rela untuk mendengarkan

Dan jika perkataanku ini tidak engkau ikuti. maka jangan kaget bila nasehatmu tidak ditaati..”

(Diwan Imam Syafi’i, hal: 96)

Sekelas Imam Syafi’i rohimahullah saja, tidak mau mendengarkan nasehat yang disampaikan di hadapan manusia.. maka bagaimana orang yang jauh di bawah beliau -ketakwaan dan keikhlasannya-, akan mau mendengarkannya..?!

Sebagian orang menampakkan diri :
– sebagai penasehat,
– sebagai penjaga benteng agama,
– sebagai orang yang peduli untuk menjaga masyarakat dari kesesatan.. dst.

Tapi sayang TERSELIP di hati kecilnya -disengaja atau tidak- rasa ingin menjatuhkan SAUDARANYA.. wallohul musta’an.

📝
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

MUTIARA SALAF : Mengapa UJUB Bisa Menghapus Pahala Amalan..?

Syeikh Al-Utsaimin rohimahullah mengatakan,

“Riya’ yang terjadi setelah amalan dilakukan tidak akan berpengaruh pada amalan, kecuali bila dia menjadi UJUB karenanya.

Karena bisa jadi ujub menghapuskan amalan itu, karena orang yang ujub dengan amalannya, seakan-akan dia melihat dirinya telah berbuat jasa kepada Allah, dan ini akan menghapuskan amalan.

Karena bila tindakan ‘al-mann’ (mengungkit-ungkit) terhadap kebaikan sedekah kepada anak adam saja akan membatalkan amalan sedekah, apalagi tindakan ‘al-mann’ kepada Allah..”

[Syarah Bulughul Marom 14/39]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Pesan-Pesan Istimewa Bagi Kawula Muda

“Wahai pemuda yang mendapat taufiq-Nya.. ini pesan-pesan khusus, yang aku sampaikan sebagai nasehat seorang yang sayang dan peduli kepadamu..

Jika kau ambil, tentu itu akan menjadi sebab keselamatan, keberuntungan, kebahagiaanmu di dunia dan akherat..

Wahai pemuda..
Harusnya engkau menjaga dan melindungi masa mudamu, dengan menjauhi berbagai macam keburukan dan kerusakan, dengan meminta tolong dan tawakkal kepada Allah semata dalam menjalani itu semua..

Semua pintu, atau lorong, atau jalan menuju kepada keburukan atau kerusakan, maka jauhilah dan bersungguh-sungguhlah dalam mewaspadainya..

Wahai pemuda..
Harusnya engkau benar-benar menjaga kewajiban-kewajiban yang Allah wajibkan dalam Agama Islam, terutama shalat, karena shalat bisa menjagamu dari keburukan dan bisa mengamankanmu dari kebatilan..

Karena shalat juga dapat menolongmu dalam melakukan kebaikan, dan menjadikanmu takut melakukan semua keburukan dan kebatilan..

Wahai pemuda..
Harusnya engkau menunaikan hak-hak manusia yang Allah wajibkan kepadamu, dan yang paling besar dari hak-hak itu adalah hak dua orang tuamu, sungguh itu merupakan hak yang sangat agung dan kewajiban yang sangat besar..

Wahai pemuda..
Harusnya engkau dekat dengan para ulama kibar yang mulia, dengan mendengarkan perkataan mereka, mengambil arahan dari fatwa-fatwa mereka, mengambil ilmu mereka, dan meminta pendapat kepada mereka dalam perkara yang membingungkanmu..

Wahai pemuda..
Harusnya engkau mewujudkan apa yang Allah wajibkan kepadamu, berupa sikap mendengar dan taat kepada penguasa, karena sikap itu akan mendatangkan keselamatan.

Adapun cara-cara yang dasarnya mengacu pada sikap membangkang terhadap penguasa, keluar dari persatuan jamaah, dan melepaskan tangan dari ketaatan, maka ini tidaklah mengantarkan pelakunya, melainkan kepada keburukan dan kebinasaan..

Wahai pemuda..
Harusnya engkau di dalam hari-hari dan malam-malammu melakukan upaya untuk melindungi diri dengan dzikir kepada Allah jalla wa’ala, dan dengan rutin membaca dzikir-dzikir pagi dan sore, dzikir selesai shalat, dzikir masuk dan keluar rumah, serta dzikir naik kendaraan dan dzikir yang semisal dengannya..

Karena dzikir kepada Allah itu dapat menjaga seseorang dari gangguan setan, dan dapat mengamankan pelakunya dari bahaya dan bala’..

Wahai pemuda..
Harusnya engkau juga memiliki wirid Qur’an harian, agar hatimu tenang, karena kitabullah itu dapat menenangkan hati, dan dapat menjadikannya bahagia di dunia dan akherat. Allah telah berfirman :

“Dialah orang-orang yang beriman dan tenang hatinya dengan dzikir kepada Allah, ingatlah bahwa dengan berdzikir kepada Allah semua hati akan tenang..” [QS. Arra’d:28]

Wahai pemuda..
Harusnya engkau banyak berdo’a kepada Allah azza wajall, meminta agar diteguhkan dalam kebenaran dan petunjuk. Dan meminta agar Allah melindungimu dari keburukan dan kehinaan.. Karena do’a adalah kunci semua kebaikan di dunia dan akherat..

Wahai pemuda..
Harusnya engkau semangat untuk berteman dan bersahabat dengan orang-orang yang baik dan saleh, karena ada kerugian besar dalam bersahabat dengan orang-orang buruk..

Wahai pemuda..
Harusnya engkau sangat berhati-hati dengan sarana-sarana yang dipakai musuh untuk memerangi generasi muda, terutama internet, agar selamat agamamu dan terjaga urusanmu, sungguh nikmat selamat itu tidak ada tandingannya..

Wahai pemuda..
Harusnya engkau selalu ingat bahwa engkau suatu hari nanti akan berdiri di hadapan Allah, dan Dia akan menanyakan kepadamu akan masa muda ini, engkau habiskan untuk apa..?!

Semoga Allah ‘azza wajall melindungimu dengan perlindungan yang diberikan kepada hamba-hambanya yang shaleh..”

Ditulis Oleh: Syeikh Prof DR. ‘Abdurrozzaq bin ‘Abdil Muhsin Alubadr, حفظه الله تعالى

Diterjemahkan oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Ref : http://www.islamek.net/play.php?catsmktba=1798

ARTIKEL TERKAIT
Nasihat Ulama – KOMPILASI ARTIKEL

Ziarahilah Kuburan Karena Dorongan Mengingatkan Diri

Syeikh Al-Utsaimin -rohimahulloh- mengatakan:

“Jika seseorang menziarahi kuburan, maka hendaknya dia lakukan karena dorongan mengambil ibroh, bukan karena dorongan perasaan.

Karena sebagian orang menziarahi kuburan ayahnya, atau kuburan ibunya, karena dorongan perasaan kasihan, iba, dan cinta.

Keadaan ini, meskipun manusiawi, namun yang lebih baik adalah menziarahi kuburan, karena dorongan tujuan yang telah disebutkan oleh Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-, yaitu: mengingatkan diri kepada hari akhir dan kematian.

Bahwa mereka yang berada di kuburan sekarang ini, sama seperti dirimu hidup di muka bumi kemaren hari, dan sekarang mereka telah berada di perut bumi,  mereka tergadaikan oleh amal-amal mereka.

Mereka tidak mampu lagi menambah, meski hanya satu kebaikan. Dan tidak mampu lagi mengurangi, walau hanya satu keburukan..”

[Durus wa fatawa Alharomil Madani, hal: 51]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Karena DUNIA Lebih Berharga Di Mata Mereka Daripada AGAMA

Ibnu Muflih -rohimahulloh- mengatakan:

“Diantara pemandangan yang mengherankan dari keadaan manusia adalah: banyaknya ratapan mereka atas rusaknya rumah, matinya kerabat dan pendahulu, dan sedikitnya harta sehingga mereka mencela zaman dan orang-orangnya, serta kepayahan hidup di dalamnya.

Padahal di sisi lain mereka juga melihat runtuhnya Islam, rapuhnya agama, matinya banyak sunnah, mencuatnya banyak bid’ah, dan banyaknya maksiat dilakukan manusia.

Tapi aku tidak dapati orang yang meratapi agamanya, tidak pula orang yang menangisi umurnya yang kurang dimanfaatkan, bahkan tidak pula orang yang menyesali waktunya yang disia-siakan.

Dan aku tidak lihat sebabnya, kecuali sedikitnya perhatian mereka terhadap agamanya, dan keagungan dunia di mata mereka”.

[Al-Adabusy Syar’iyyah 3/240].

————

Jika kita tidak bisa menghilangkan cinta dunia di hati, paling tidak mari tumbuhkan dan besarkan cinta agama di hati kita… dan sedikit demi sedikit berusaha untuk mengubah paradigma di benak kita.

Ingatlah selalu, di dunia kita tidak akan lama… semuanya akan berlalu dengan cepat… untuk menuju kehidupan akherat… di sanalah keabadian yang harusnya kita perjuangkan.

Semoga Allah menyelamatkan kita dari fitnah dunia… amin.

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

 

MUTIARA SALAF : Tenanglah Bersama Allah Karena Allah Melebihi Segalanya

Tenanglah bersama Allah.. karena Allah melebihi segalanya..

Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- mengatakan:

“Jika orang-orang merasa kaya dengan dunianya, maka harusnya kamu merasa kaya dengan Allah..

Jika mereka merasa senang dengan dunianya, maka harusnya kamu merasa senang dengan Allah..

Jika mereka merasa akrab dengan teman-teman karib mereka, maka jadikanlah keakrabanmu itu dengan Allah..

Jika mereka mencari kenalan para penguasa dan pembesarnya, dan orang-orang mendekati mereka untuk mendapatkan kemuliaan dan kedudukan yang tinggi… maka kenalkan dirimu kepada Allah dan carilah kasih sayang-Nya, niscaya kamu raih dengannya puncak kemuliaan dan kedudukan yang tinggi..”

[Kitab: Al-Fawaid, hal: 118].

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Tidak Boleh Menakut-Nakuti Saudara Seiman Walaupun Maksudnya Bercanda

Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- bersabda:

“Tidak boleh salah seorang dari kalian mengacungkan senjata kepada saudaranya, karena dia tidak tahu bisa jadi setan menghempaskannya dari tangannya, hingga dia jatuh ke dalam jurang Neraka..”

[HR. Bukhari no. 7072 dan Muslim no. 2617/Muttafaqun Alaih].

Syeikh Utsaimin -rohimahulloh- mengatakan:

“Begitu pula yang dilakukan oleh sebagian orang yang kurang akalnya, dia naik mobil dengan ngebut menuju ke orang yang sedang berdiri atau duduk atau tidur, dengan maksud mencandainya, lalu dia belokkan dengan cepat ketika sudah dekat dengannya agar tidak menabraknya.

Maka ini juga dilarang, dan ini seperti tindakan mengacungkan senjata, karena dia tidak tahu, bisa jadi setan mengambil kendali dari tangannya, sehingga dia tidak dapat mengendalikan mobilnya, dan ketika itulah dia jatuh ke dalam jurang Neraka.

Dan diantara contohnya lagi, bila seseorang mempunyai anjing, dan ada orang lain yang berkunjung kepadanya atau tujuan yang semisalnya, lalu dia memerintahkan anjingnya (mendekat) kepada orang tersebut, karena bisa jadi anjing itu lari dan memakan orang tersebut atau melukainya, dan si pemiliknya tidak mampu menyelamatkannya setelahnya.

Intinya, manusia dilarang melakukan semua sebab/jalan kebinasaan, baik dilakukan secara sungguhan ataupun gurauan..”

[Kitab: Syarah Riyadhus Sholihin 6/556].

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Dunia Yang Untuk Anda, Bukan Anda Yang Untuk Dunia..!

“Sungguh mengherankan; jika manusia mengejar dunia yang diciptakan untuknya, hingga seakan-akan dia yang diciptakan untuknya -wal iyaadzu billah-, dia melayani dunia dengan pelayanan yang luar biasa, dia memforsir badannya dan pikirannya, (mengorbankan) kesantaiannya dan waktu bersama keluarganya (untuk dunia).

Lalu apa (hasilnya)..?

Bisa jadi dia kehilangan dunia itu dalam sekejab..! Bisa jadi dia keluar dari rumahnya lalu tidak kembali lagi.. tidur di atas ranjangnya, lalu tidak bangun lagi.. dan ini nyata adanya.

Dan mengherankannya lagi, fenomena-fenomena ini kita saksikan, tapi hati-hati ini keras.

Kita menyaksikan seorang yang akad nikah dengan seorang perempuan, lalu meninggal sebelum dia menggaulinya, padahal dia sangat berhasrat dan telah lama menginginkannya, namun kematian menghalanginya.

Kita melihat banyak orang yang surat-surat undangan pernikahannya sudah bersama mereka, lalu mereka meninggal padahal si pengantin wanita masih di mobil mereka.

Jadi, apa gunanya dunia jika sampai seperti ini dalam menipu..?

Oleh karena itu, Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam -yang sangat penyayang, sangat penyantun, dan sangat simpati terhadap kaum mukminin- telah mengabarkan; bahwa beliau khawatir terhadap kita, bila dunia ini dibuka untuk kita, sehingga kita saling berlomba untuk mendapatkannya, dan inilah yang terjadi.

Maka waspadalah saudaraku, jangan sampai kehidupan dunia ini menipumu, dan jangan sampai pula (setan) penipu mengelabuimu.

Bila Allah meluaskan rizkimu dan kamu bersyukur, maka itulah yang baik bagimu, sebaliknya bila Dia menyempitkan rizkimu dan kamu bersabar, maka itulah yang baik bagimu.

Adapun menjadikan dunia sebagai target utamamu dan tujuan akhir ilmumu, maka ini adalah kerugian di dunia dan di akherat.

Semoga Allah melindungi kami dan kalian dari berbagai cobaan, baik yang nampak maupun yang tersembunyi.

[Oleh: Syeikh Utsaimin, Kitab: Syarah Riyadhus Sholihin 6/687].

Diterjemahkan oleh
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

 

Muliakanlah Kitabullah… Jangan Menjadikannya Sebagai Penghias Barang…

Syeikh Utsaimin -rohimahulloh- mengatakan:

“Termasuk sikap mengagungkan Kitabullah = ketika ahli kaligrafi tidak mempermainkan Kitabullah ‘azza wajall dalam penulisannya.

Karena sebagian ahli kaligrafi -hadahumulloh- menulis Kitab (Alqur’an) yang Agung ini dalam bentuk .. bangunan, atau menara, atau masjid. Dan lebih keji lagi, mereka yang menulisnya dalam bentuk manusia yang sedang ruku’ atau sujud.

Tindakan mempermainkan kitabullah macam apa ini..?! Tindakan menghinakan kitabullah seperti apa ini..?! seakan-akan kitabullah adalah (hiasan) pahat yang bisa kalian pakai untuk menghias tembok-tembok kalian, atau yang lainnya.

Jika para ulama berbeda pendapat dalam masalah ‘bolehnya menulis Alqur’an dengan metode penulisan yang dikenal di zaman ini’ (bukan dengan metode penulisan utsmani), lalu bagaimana dengan orang yang menulis Alqur’an dalam bentuk pahatan, atau tembok, atau menara, atau yang lainnya.

Sungguh ini perkara HARAM, siapapun yang tahu kemuliaan Kitabullah dan tahu perkataan para ulama tidak akan ragu dalam masalah ini.

Oleh karena itu, aku memperingatkan mereka yang ahli kaligrafi dan aku (juga) memperingatkan mereka yang meminta ahli ahli kaligrafi, dari menuliskan Kitabullah dalam bentuk gambar-gambar dan pahatan-pahatan ini.

Dan aku katakan: ‘Muliakanlah Kitabullah, karena sungguh Kitabullah (jauh) lebih mulia dan lebih agung daripada dijadikan pahatan di tembok dalam bentuk rumah, atau dalam bentuk menara, atau dalam bentuk masjid, atau lebih keji lagi dibentuk seperti manusia.

Maka dari itu, waspadalah wahai para hamba Allah, jangan sampai kalian menghinakan Kitabullah, jangan sampai pengagungan kalian terhadap Kitabullah menipis, karena bila keagungan Kalamullah di hati seseorang menipis, maka akan menipis pula keagungan semua Syariat Islam di hatinya. Kami memohon hidayah kepada Allah untuk kami dan mereka.

Dan barangsiapa memiliki sebagian dari perkara ini, maka hendaklah dia segera menghilangkannya sebagai bentuk taubat kepada Allah azza walla, dan juga sebagai bentuk mengagungkan dan menghormati Kitabullah..”

Penterjemah,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Makna Silaturrahim

Silaturrahim adalah usaha untuk menyambung atau menguatkan hubungan KEKERABATAN..

Al-Hafizh Ibnu Hajar -rohimahulloh- mengatakan:

“RAHIM digunakan untuk menyebut para kerabat, yaitu orang yang antara dia dan orang lain memiliki hubungan nasab, baik orang tersebut mewarisinya atau tidak, baik orang tersebut masih termasuk mahromnya atau tidak.

Memang ada yang mengatakan bahwa RAHIM itu khusus untuk mahrom saja, namun pendapat yang pertama lebih kuat, karena pendapat kedua ini melazimkan anak-anaknya paman dari garis bapak dan anak-anaknya paman dari garis ibu keluar dari lingkup dzawil arham (orang yang masih ada hubungan rahim), padahal kenyatannya tidak demikian..”   [Fathul Bari 10/414].

——–

Jadi, fadhilah atau keutamaan bersilaturrahim yang dijelaskan oleh Alqur’an dan Assunnah hanya berlaku pada usaha menyambung dan menguatkan hubungan kekerabatan saja, bukan orang lain yang tidak ada hubungan kekerabatannya, wallohu a’lam.

Tapi bukan berarti menyambung dan menguatkan hubungan antara sesama muslim lainnya tidak dianjurkan.. tetap saja dianjurkan hanya saja keutamaannya lain lagi, wallohu a’lam.

Allah ta’ala berfirman yang artinya: “Sesungguhnya seluruh kaum mukminin adalah bersaudara..” [QS. Al-Hujurat: 10].

Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- juga bersabda:

“Seorang mukmin dengan mukmin lainnya itu ibarat sebuah bangunan yang saling menguatkan satu dengan yang lainnya”, dan beliau pun mencengkramkan antara jari jemarinya..” [Muttafaqun Alaih, Bukhori: 481, Muslim: 2585].

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL