Category Archives: Mutiara Salaf

LISAN Adalah Cerminan Hati

Yahya bin Mu’adz -rohimahulloh- mengatakan:

“Hati itu seperti PANCI, dia akan mendidihkan apa yang ada di dalamnya, sedangkan lisannya itu (ibarat) GAYUNGnya.

Maka tunggulah (untuk menilai) seseorang sehingga dia berbicara, karena lisannya akan mengambilkan untukmu apa yang ada dalam hatinya; bisa jadi rasanya manis, atau kecut, atau tawar, atau asin.

Lisannya akan mengabarkan kepadamu tentang rasa hatinya”.

[Kitab: Hilyatul Aulia, 10/63].

———

Oleh karenanya, terapkanlah hadits Nabi -shollallohu alaihi wasallam-:

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka katakanlah perkataan yang baik, atau (jika tidak) maka diamlah.” [HR. Bukhori Muslim].

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى

Allahu YAHDIIIK

Syeikh Binbaz -rohimahulloh- berkata,

“Jangan tersinggung saat dikatakan kepadamu ‘ALLAHU YAHDIIK’ (semoga Allah memberimu hidayah).  Karena engkau memang selalu membutuhkan hidayah,

meski engkau orang yang paling bertakwa, meski engkau orang yang paling berilmu, engkau akan selalu membutuhkan hidayah sampai engkau mati..”

[Al-Fatawa 7/163]

Diterjemahkan oleh, 
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله

 

MUTIARA SALAF : Berusahalah

Imam Sufyan Ats Tsauri rohimahullah berkata,

“Berusahalah menyeru dan mengajak manusia pada kebenaran dan balutlah dengan kesantunan dan kelembutan.

Jika mereka menerima, ucapkanlah hamdalah dan pujilah ALLAH..!

Namun jika mereka menolak dan menjatuhkan anda, maka kembali fokus pada perbaikan diri anda (jangan meladeni mereka, menjatuhkan mereka dan menjelek-jelekan mereka)..! karena dosa dan kesalahan anda pribadi sudah sangat menyita waktu dan menyibukkan anda..”

(Al Jarh wat Ta’diil 87).

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, حفظه الله تعالى

Ternyata Benar, Ada Sungai-Sungai Pencuci Dosa

Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- mengatakan:

“Bagi mereka yang banyak dosa, ada tiga sungai besar yang dapat membersihkan mereka di dunia, jika itu tidak cukup membersihkan mereka, nantinya mereka akan dibersihkan di sungai (neraka) jahim pada hari kiamat.

1. Sungai taubat nasuha.
2. Sungai amal-amal kebaikan yang dapat menenggelamkan dosa-dosa yang mengelilingi pelakunya.
3. Sungai musibah besar yang dapat menebus dosanya.

Maka, jika Allah menginginkan hambanya kebaikan; Dia akan memasukkannya ke tiga sungai ini, sehingga pada hari kiamat nanti dia akan datang dalam keadaan baik dan bersih, sehingga dia tidak perlu lagi pembersihan keempat..”

[Madarijus Salikin 1/312]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

 

TIGA Tanda Kebahagiaan

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab at-Tamimi rahimahullah berkata:

وأن يجعلك ممّن إذ أعطى شكر , وإذ ابتلي صبر , وإذ أذنب الستغفر . فإنّ هؤلاء الثّلاث عنوان السّعادة

Semoga Allah menjadikanmu termasuk orang-orang yang :

– apabila diberi kenikmatan, bersyukur,
– pabila di timpa musibah, bersabar,
– apabila terjatuh dalam perbuatan dosa, beristighfar (taubat).

Sebab ketiga perkara itu adalah tanda-tanda kebahagiaan.

(Muqoddimah Qowa’idul Arba’)

Mari Muhasabah Diri Kita

Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- mengatakan:

Intinya: hendaknya seseorang melakukan muhasabah terhadap dirinya,

●  Pertama: (muhasabah) pada hal-hal yang diwajibkan (dalam syariat), apabila dia tahu ada yang kurang; maka harusnya dia tutup kekurangan itu, dengan meng-qodhonya atau memperbaikinya.

●  Kemudian melakukan muhasabah pada hal-hal yang dilarang (dalam syariat), jika dia tahu pernah melakukan sebagian dari larangan itu, maka harusnya dia perbaiki dengan :
– taubat,
– istighfar, dan
– amal-amal kebaikan yang bisa menghapusnya.

●  Kemudian melakukan muhasabah atas kelalaiannya. Bila dia telah lalai dengan tujuan dia diciptakan, maka harusnya dia memperbaikinya dengan berdzikir dan menghadapkan dirinya kepada Allah ta’ala.

●  Kemudian melakukan muhasabah pada perkataannya, atau langkah kakinya, atau gerakan tangannya, atau apa yang didengarkan telinganya.
– apa yang dia inginkan darinya..?
– mengapa dia melakukannya..?, dan
– bagaimana dia melakukannya..?

Hendaknya dia tahu, bahwa dalam semua gerakan dan ucapan harus dibentangkan DUA aturan:
* mengapa kamu melakukannya..?, dan
* bagaimana kamu melakukannya..?

(Aturan) yang pertama adalah pertanyaan tentang keikhlasan, dan (aturan) yang kedua adalah pertanyaan tentang mutaba’ah, (yakni pengikutan kita kepada cara Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam).

[Kitab: Ighotsatul Lahafan 1/83].

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Istri Sholehah Adalah Sahabat Hidup

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata,

“Istri sholihah menjadi sahabat hidup suaminya yang sholeh dalam mengarungi tahun-tahun yang panjang. Dialah perhiasan yang telah disebutkan oleh Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, ‘Dunia adalah perhiasan, dan perhiasan dunia yang terbaik adalah wanita sholihah..’

‘Ketika kaupandang, ia membuatmu bahagia..
Ketika kauperintah, ia menaatimu..
Ketika engkau tiada di sisinya, ia berjuang keras menjaga diri dan harta yang bersamanya..’

Dia pula wanita yang dimaksudkan oleh Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya ketika sebagian Muhajirin bertanya, ‘Harta apa yang harus kami bawa..?’ Beliau menjawab, ‘Lisan yang senantiasa berdzikir, hati yang senantiasa bersyukur, dan istri sholihah yang akan membantu menjaga keimanan kalian..’

Di dalam jiwa suami yang sholih dan istri yang sholihah terpatri rasa kasih dan sayang, sebagai anugerah dari Allah. Hal ini sebagaimana termaktub dalam Kitabullah. Oleh karena itulah, rasa sakit nan perih datang menghampiri ketika mereka ‘berpisah’, seakan-akan melebihi rasa sakit ketika ajal menjemput. Hati serasa tersayat, pedih, melebihi kepedihan ketika kehilangan harta benda atau kepergian dari negeri tercinta. Lebih-lebih ketika rasa cinta telah kuat melekat dalam sanubari keduanya. Atau karena kehadiran buah hati di tengah mereka, entah bagaimana nasibnya apabila keduanya harus ‘berpisah’.”

( Majmu’ al-Fatawa 35/299 )

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Zainal Abidin bin Syamsuddin,  حفظه الله تعالى

Beda Antara Khilafiyah dan Ijtihadiyah

Sebagian orang tidak bisa membedakan masalah khilafiyah dan ijtihadiyah.

Masalah khilafiyah adalah masalah yang diperselisihkan.
Sedangkan masalah ijtihadiyah adalah masalah yang tidak ada nash yang sharih tidak pula ijma ulama.

Yang perlu diingat:
Tidak setiap masalah khilafiyah itu masuk dalam kategori ijtihadiyah.

Tidak setiap yang diperselisihkan diterima pendapatnya. Seperti perselisihan antara ahlussunnah dengan syi’ah. Atau perselisihan ahlussunnah dengan khawarij dan murji’ah.

Karena bila telah ada nash yang sharih atau ijma ulama, pendapat yang menyelisihinya dianggap menyimpang dan sesat.

Sedangkan masalah ijtihadiyah maka kita tidak boleh saling memaksakan pendapat. Apalagi memvonisnya pelakunya sebagai ahlul bid’ah.

Syaikhul Islam ibnu Taimiyah rohimahullah berkata:

“Sebagaimana kaum muslimin berbeda pendapat :
– apakah lebih utama tarji’ dalam adzan atau tidak,
– pakah lebih utama mengganjilkan iqomah atau menduakan,
– apakah sholat fajar lebih utama di waktu gelap atau di waktu agak terang,
– apakah qunut subuh disunnahkan atau tidak,
– apakah bismillah dibaca dengan keras atau sirr, dan sebagainya.

Ini adalah masalah ijtihadiyah diperselisihkan oleh para ulama terdahulu. Setiap mereka mengakui ijtihad ulama lainnya. Siapa yang benar, ia mendapat dua pahala dan siapa yang telah berijtihad lalu salah, maka kesalahannya dimaafkan.

Ulama yang memandang lebih kuat pendapat Asy Syafi’i tidak mengingkari orang yang menguatkan pendapat Malik.
Siapa yang menguatkan pendapat Ahmad, tidak mengingkari orang yang menguatkan pendapat Asy Syafii dan seterusnya..” (Majmu fatawa 20/292).

Imam Asy Syathibi rohimahullah berkata: “Bukan kebiasaan para ulama memutlakkan lafadz bid’ah untuk masalah furu’ (ijtihadi)..” (Al I’tisham 1/208).

Inilah sikap yang benar dalam masalah intihadiyah. Adapun masalah khilafiyah maka wajib kita lihat apakah ia termasuk kategori ijtihadiyah atau bukan.

Wallahu a’lam

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

ARTIKEL TERKAIT
Menyikapi Khilafiyah
Masalah Khilafiyah Tidak Boleh Di Ingkari..?
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Renungan

Dalam surat Luqman ayat 25 Allah Ta’ala berfirman:

ولئن سألتهم من خلق السموات والأرض ليقولن الله

“Jika kamu bertanya kepada mereka (kaum musyrikin quraisy), “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi..?” Niscaya mereka akan menjawab, “Allah..”

Kaum musyrikin itu rupanya tidak meyakini bahwa yang menciptakan langit dan bumi adalah Latta dan Uzza patung-patung yang mereka sembah itu..

Lantas apa makna penyembahan mereka kepada Latta dan Uzza patung-patung orang-orang sholeh tersebut..?

Allah menjawab dalam surat Az Zumar ayat 3:

والذين اتخذوا من دونه أولياء ما نعبدهم إلا ليقربونا إلى الله زلفى

“Dan orang-orang yang mengambil tandingan tandingan selain Allah itu berkata, “Kami tidak beribadah kepada mereka kecuali agar mendekatkan diri kami kepada Allah sedekat dekatnya..”

Rupanya inilah maksud tujuan mereka kepada Latta dan Uzza. Menjadikan mereka sebagai perantara dan meminta syafaat kepada mereka agar bisa mendekatkan diri mereka kepada Allah.

Imam Qotadah rohimahullah seorang tabi’in berkata,

“Apabila dikatakan kepada mereka siapa Rabb dan pencipta kalian..?
Siapa yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan..?”
Mereka menjawab, “Allah..”

Lalu ditanya kepada mereka:
“Lantas apa makna peribadahan kalian kepada patung patung tersebut..?”

Mereka menjawab,
“Agar mereka mendekatkan diri kami kepada Allah sedekat dekatnya dan agar mereka memberi syafa’at kepada kami di sisiNya..”

(Al Jami Li Ahkamil Quran 15/233)

Renungkanlah dua ayat tersebut dan lihatlah kenyataan yang ada : banyak orang karena ketidak-tahuannya berdo’a kepada Allah di sisi kuburan dengan harapan agar mayat dapat menyampaikan do’anya kepada Allah.

Ini adalah bentuk meminta syafa’at kepada selain Allah. Mengharapkan syafa’at kepada mayat yang tidak memiliki syafa’at. Padahal Allah berfirman:

أم اتخذوا من دون الله شفعاء قل أولو كانوا لا يملكون شيئا ولا يعقلون قل لله الشفاعة جميعا

“Apakah mereka mengambil selain Allah sebagai pemberi syafa’at..? Katakan, “Apakah seandainya mereka tidak memiliki apapun dan tidak berakal (kalian tetap meminta kepada mereka..?) Katakan, “Syafa’at itu hanya milik Allah seluruhnya..” (Az Zumar 43-44)

Siapapun tidak dapat memberi syafa’at kecuali dengan izin dan ridho Allah…

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Engkau Akan Mengalaminya Seorang Diri

Engkau akan mengalaminya seorang diri.. tanpa orang lain.. oleh karenanya, pikirkan baik-baik jalan hidupmu, jangan hanya ikut-ikutan orang lain.

Ibrohim bin Adham -rohimahulloh-:

“Apa hubunganku dengan manusia..?!

– Dahulu aku berada di perut ibuku seorang diri.
– Aku juga keluar ke dunia seorang diri.
– Aku akan mati seorang diri.
– Akan dimasukkan kuburan seorang diri.
– Dan akan ditanya seorang diri.

– Aku akan dibangkitkan seorang diri.
– Dan akan dihisab seorang diri.
– Jika aku masuk surga, aku masuk seorang diri.
– Jika aku masuk neraka, aku juga akan masuk seorang diri.

Di saat-saat itu, tidak ada seorangpun yang bisa memberikan manfaat baik kepadaku, lalu apa hubunganku dengan manusia..”

[Iqozhul Himam, karya Ibnu Ajiibah 1/176]

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى