Saat Anda berlumuran dosa; memperbanyak ISTIGHFAR lebih afdhol daripada banyak bertasbih.
Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- mengatakan:
“Ada seorang ulama ditanya: Manakah yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba, bertasbih atau beristighfar?
Dia menjawab: Bila sebuah pakaian bersih, maka parfum dan air mawar lebih bermanfaat baginya.
Tapi apabila pakaian itu kotor, maka sabun dan air panas lebih bermanfaat baginya”.
[Alwaabilus shoyyib, Ibnul Qoyyim, 92]
———
Mungkin ada yang bertanya, berarti kita akan beristighfar saja, karena kita selalu merasa berlumuran dosa..?!
Kita katakan: “memperbanyak istighfar”, bukan berarti tidak membaca dzikir yang lain sama sekali.
Dan tidak diragukan lagi bahwa perasaan ‘berlumuran dosa’ tidak akan selamanya menghinggapi diri kita, pasti ada saat-saat kita merasa dekat dengan Allah ta’ala, wallohu a’lam.
Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى
Walaupun Tidak Wajib
Al Qurthubi rohimahullah berkata:
“Siapa yang terus menerus meninggalkan sunnah, maka itu kekurangan dalam agamanya..
Jika ia meninggalkannya karena meremehkan dan tidak suka..
Maka itu kefasikan..
Karena adanya ancaman dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :
من رغب عن سنتي فليس مني
“Siapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia bukan dari golonganku.”
Dahulu para shahabat dan orang-orang yang mengikutinya..
Senantiasa menjaga yang sunnah sebagaimana menjaga yang wajib..
Mereka tidak membedakan keduanya dalam meraih pahala..
(Fathul Baari syarah Shahih Al Bukhari 3/265).
Banyak sunnah yang diremehkan di zaman ini..
Dengan alasan: ah itu kan cuma sunnah..
Padahal sunnah bukanlah untuk ditinggalkan..
Banyak perkara sunnah yang berpahala amat besar..
Seperti shalat qabliyah shubuh yang lebih baik dari dunia dan seisinya..
Bahkan ada amalan sunnah yang menjadi tonggak kebaikan..
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لا يزال الناس بخير ما عجلوا الفطر
“Senantiasa manusia di atas kebaikan selama mereka bersegera berbuka puasa.” (HR Bukhari dan Muslim).
Bagi kita penuntut ilmu..
Mari hiasi hari-hari dengan sunnah..
Meraih cinta Allah..
Dia berfirman dalam hadits qudsi..
ولا يزال عبدي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه
“Senantiasa hambaKu bertaqarrub kepadaku dengan ibadah yang sunnah hingga Aku mencintainya.”
Untuk inilah kita berlomba..
Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
Teruslah Menjaga KEIKHLASAN Dalam Menuntut Ilmu Agama
Imam Adz-Dzahabi (wafat tahun 748 H) -rohimahulloh- mengatakan:
“Ini adalah masalah yang diperselisihkan, apakah menuntut ilmu lebih afdhol, ataukah sholat sunnah, bertilawah, dan berdzikir..?!
Adapun orang yang IKHLAS karena Allah dalam menuntut ilmu dan kecerdasannya baik, maka menuntut ilmu lebih baik bagi dia, tapi dengan tetap memperhatikan bagian sholat dan ibadahnya.
Jadi, jika kamu melihatnya giat dalam menuntut ilmu, tapi tidak punya bagian dalam amalan ketaatan (sedikit ibadahnya), maka ini adalah orang yang malas dan hina, dan dia bukan orang yang jujur dalam kebaikan niatnya.
Adapun orang yang mencari ilmu hadits dan fikihnya karena hobi dan kesenangan hati, maka ibadah lebih afdhol baginya, bahkan tidak ada perbandingan antara keduanya. Dan ini pembagian (keadaan para penuntut ilmu) secara global.
Sungguh -demi Allah- SEDIKIT orang yang kulihat IKHLAS dalam menuntut ilmu (agama)..”
[Siyaru A’lamin Nubala’ 7/167].
——-
Jika di zaman beliau saja seperti ini, bagaimana keadaannya di zaman ini..?!
Ini menuntut kita untuk terus memperhatikan NIAT kita dalam menuntut ilmu, dan juga memperhatikan IBADAH kita sebagai bentuk penerapan ilmu kita.
Semoga Allah memberikan taufiq-Nya kepada kita.
Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى
Nasehat Bagi Para Penasehat
Asy-Sya’bi rohimahullah berkata :
يُشْرِفُ أَهْلُ الجنة في الجنة على قوم فِي النار فيقولون ماَ لَكُم في النارِ؟ وإِنما كنا نعمل بما تُعَلِّمُوْنَا !، فيقولون : إِنَّا كُنَّا نُعَلِّمُكم ولا نَعْمَلُ بِهِ
“Penghuni surga di surga melihat sebuah kaum di neraka, maka penghuni surga berkata kepada mereka, “Kenapa gerangan kalian di neraka..? padahal kami dahulu beramal sholeh dengan apa yang kalian ajarkan kepada kami..!”
Maka kaum penghuni neraka berkata, “Kami dahulu mengajari kalian akan tetapi kami tidak mengamalkan apa yang kami ajarkan..”
(Kitab Az-Zuhud karya Al-Imam Ahmad hal 369)
Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى
Kemuliaan Ditentukan Oleh AMAL Ketakwaan, BUKAN Oleh Asal Usul Dan Keturunan
Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- berkata :
Perkataan Iblis “Saya lebih baik darinya” adalah kedustaan, dan alasannya bahwa dia diciptakan dari api sedang Adam diciptakan dari tanah juga batil.
Karena kelebihan asal-usul penciptaan, tidak otomatis menunjukkan kelebihan hasil yang diciptakan darinya.
Karena Allah bisa saja menciptakan dari unsur yang biasa; makhluk yang lebih mulia dari yang Dia ciptakan dari unsur yang lebih baik, dan ini merupakan kesempurnaan kekuasaan Allah ta’ala.
Lihatlah bagaimana Nabi Muhammad, Ibrohim, Musa, Isa, Nuh, serta para nabi dan rasul lainnya -alaihimus sholatu wasallam- lebih mulia dari para malaikat. Dan madzhab Ahlussunnah; bahwa manusia yang saleh itu lebih mulia dari para malaikat, WALAUPUN asal ciptaan mereka dari cahaya, sedang asal ciptaan manusia dari tanah.
Jadi, kemuliaan bukan karena asal-usul.
Oleh karenanya, para budak dan hamba sahaya yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka lebih baik dan lebih mulia di sisi Allah melebihi orang yang merdeka, meskipun dari keturunan Quraisy dan Bani Hasyim.
Dan alasan Iblis inilah yang akhirnya di warisi oleh para pengikutnya dalam mengedepankan seseorang HANYA karena asal-usul dan nasab, bukan karena keimanan dan ketakwaan. Padahal Allah ta’ala telah mementahkannya dalam firman-Nya:
“Sungguh orang yang paling mulia dari kalian adalah orang yang paling bertakwa..” [Al-Hujurot: 13].
——
Ditambah lagi, alasan Iblis bahwa api lebih baik dari tanah, ini juga batil. Karena sebenarnya tanah lebih baik dari api dari banyak sisi, bahkan Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- menyebutkan 13 alasan mengapa tanah lebih baik dari api.
● Diantaranya: bahwa api itu tidak mampu berdiri sendiri, dia membutuhkan media yang asalnya dari tanah agar bisa hidup. Adapun tanah, dia mampu berdiri sendiri, dia tidak membutuhkan api untuk bisa hidup.
● Diantaranya: Tanah menumbuhkan banyak kebaikan, sedang api malah sering menghancurkan kebaikan-kebaikan itu.
● Diantaranya: Tidak seorang pun mampu hidup tanpa tanah dan apa yang dihasilkannya, tapi orang bisa hidup -dalam waktu yang panjang- tanpa api sama sekali. wallohu a’lam.
[Diringkas dari perkataan Ibnul Qoyyim dalam kitab “Mukhtashor Showa’iq Mursalah” 2/377-383]
Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى
ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL
Hidayah Di Tangan Allah
SEKUAT apapun hujjah kita, tetap saja HIDAYAH itu di tangan Allah.. maka berusahalah semampunya, lalu serahkanlah hasilnya kepada Allah.
=======
Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- mengatakan:
Pernah terjadi debat antara aku dengan seorang ulama ahli kitab, hingga diskusi itu sampai pada topik bahwa Kaum Nasrani telah mencela Robb semesta alam dengan celaan yang tidak pernah dilakukan oleh siapapun.
Ku katakan kepada mereka: “Dengan pengingkaran kalian kepada kenabian Muhammad -shollallohu ‘alaihi wasallam- berarti kalian telah mencela Allah ta’ala dengan celaan yang paling parah..”
Dia mengatakan: “Bagaimana bisa seperti itu..?”
Ku katakan:
“Karena kalian beranggapan bahwa Muhammad adalah raja lalim, bukan rosul tepercaya. Bahwa dia keluar menawarkan (agamanya) kepada manusia dengan pedangnya, lalu dia menghalalkan darah, wanita, dan anak-anak mereka.
Tidak hanya itu, bahkan hingga dia berdusta atas nama Allah dan mengatakan, ‘Allahlah yang menyuruhku melakukan ini dan membolehkannya untukku..’ padahal sebenarnya (menurut kalian) Allah tidak menyuruhnya dan tidak membolehkannya.
Dia (Muhammad -shollallohu ‘alaihi wasallam-) mengatakan, ‘Aku mendapatkan wahyu..’ padahal (menurut kalian) dia tidak mendapatkan wahyu sedikitpun.
Dia (Muhammad -shollallohu ‘alaihi wasallam-) mengganti sendiri syariat para nabi, membuang dari syariat itu apa yang dia kehendaki dan menetapkan darinya apa dia kehendaki. Dan dia menyandarkan semua itu kepada Allah.
Maka, ada dua kemungkinan, Allah ta’ala melihat dan mengetahui itu semua atau tidak.
Jika kalian katakan: ‘Itu semua tidak diketahui dan tidak dilihat Allah..’ berarti kalian menyandarkan sifat bodoh dan dungu kepada-Nya, dan itu termasuk celaan paling buruk.
Jika kalian katakan: ‘Itu semua diketahui Allah..’ (maka ada dua kemungkinan): Allah mampu untuk menghentikan dan melarangnya dari tindakannya itu atau tidak.
Jika kalian katakan: ‘Allah tidak mampu menghentikannya..’ berarti kalian menyandarkan sifat lemah kepada-Nya.
Jika kalian katakan: ‘Allah mampu menghentikannya, tapi tidak melakukannya..’ berarti kalian menyandarkan sifat tolol dan zalim kepada-Nya.
Dan inilah keadaan beliau (Muhammad -shollallohu ‘alaihi wasallam-), dari semenjak dia muncul (sebagai nabi) hingga Robbnya mewafatkannya, Dia mengabulkan do’anya, memberikan hajat-hajatnya, bahkan tidaklah ada musuh melainkan Allah menjadikan beliau menang atasnya.
Dan inilah keadaan beliau (Muhammad -shollallohu ‘alaihi wasallam-), dari semenjak dia muncul (sebagai nabi) hingga Allah ta’ala mewafatkannya, seiring berjalannya siang dan malam beliau semakin tenar, semakin tinggi, dan semakin mulia. Sebaliknya keadaan musuhnya semakin hari semakin hina dan sirna. Semakin hari kecintaan para hamba kepada beliau semakin bertambah, dan Robbnya menguatkannya dengan berbagai macam cara.
Inilah orang yang menurut kalian termasuk musuh Allah yang paling jahat, dan paling berbahaya bagi manusia. Celaan apa yang melebihi ini terhadap Robbul alamin..?! Penghinaan apa yang lebih parah dari ini semua..?!
Maka, orang tersebut menerima sebagian dari keterangan ini, dan dia mengatakan:
“Tidak mungkin kami mengatakan terhadap Allah ini semua, bahkan beliau (Muhammad) adalah seorang nabi tepercaya, siapapun yang mengikutinya menjadi bahagia, dan setiap orang yang obyektif dari kami akan berikrar seperti ini dan mengatakan: para pengikutnya adalah orang-orang yang berbahagia di dunia dan di akherat..”
Aku pun mengatakan: “Lalu apa yang menghalangimu untuk ikut mendapatkan kebahagiaan itu..?”
Dia mengatakan: “Begitu pula pengikut seluruh nabi, para pengikut Nabi Musa juga bahagia..”
Aku katakan: “Jika kamu mengakui bahwa beliau (Muhammad -shollallohu ‘alaihi wasallam-) adalah nabi tepercaya, dan dia telah mengkafirkan siapapun yang tidak mengikutinya, maka bila kamu membenarkannya dalam hal ini, harusnya kamu mengikutinya.
Tapi jika kamu mendustakannya dalam hal ini, berarti dia bukanlah nabi tepercaya, lalu bagaimana para pengikutnya adalah orang-orang yang bahagia..?!
Maka dia pun tidak bisa menjawab, dan mengatakan: “Kita bicarakan yang lain saja..”
[Mukhtasor Showa’iq Mursalah, hal: 56]
Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny Lc, حفظه الله تعالى
Kepada Mereka Yang Ragu
Kepada Seorang pemuda yang ragu melangkah maju untuk menikah, khawatir tidak bisa menghidupkan rumah tangga..
Kepada orang tua yang membatasi anaknya hanya dua atau tiga saja, karena khawatir miskin..
Kepada siapapun yang bingung hidup.. takut miskin..
Kepada orang yang selalu mengeluh kesusahan hidup..
Simaklah perkataan Ulama besar Al Hasan Al Bashri rohimahullah berikut ini,
قال الحسن البصري: قرأت في تسعين موضعا من القرآن أن الله قدر الأرزاق وضمنها لخلقه ، وقرأت في موضع واحد ” الشيطان يعدكم الفقر” : فشككنا في قول الصادق في تسعين موضعا ، وصدقنا قول الكاذب في موضع واحد
“Aku telah membaca di SEMBILAN PULUH tempat (90 kali disebutkan) di dalam al Quran, bahwa sesungguhnya ALLAH TELAH MENETAPKAN REZEKI dan MENJAMIN (menggaransi) REZEKI itu untuk makhlukNya, dan aku membaca (hanya) pada SATU tempat syaitan menakut-nakutimu akan kefakiran, lantas, (apakah layak) kita ragu terhadap perkataan yang Maha Benar di sembilan puluh tempat, sementara kita mempercayai perkataan pembohong (hanya) di satu tempat..?”
Apakah setelah ini, kita masih ragu terhadap rezeki kita yang telah ditetapkan Allah untuk kita..?
Bersemangatlah… maju.. Langkahkanlah kaki anda untuk maju ke depan..
Ditulis oleh,
Ustadz Muhammad Elvi Syam MA, حفظه الله تعالى
HATI Yang Lebih Luas Dari DUNIA
Diantara barometer ilmu Anda adalah hati Anda, semakin luas ilmu Anda, akan semakin lapang pula dada Anda… Simaklah dengan seksama mutiara kata Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- berikut ini:
“Diantara yang dapat melapangkan dada adalah ILMU (agama), sungguh dia dapat melapangkan dada dan meluaskannya, hingga dia LEBIH LUAS DARI DUNIA.
Adapun kebodohan, dia menjadikan hati seseorang sempit, terhimpit, dan terpenjara.
Maka, semakin luas ilmu seorang hamba, semakin lapang dan luas pula dadanya. Tapi ini TIDAK berlaku pada SEMUA ilmu, namun HANYA untuk ilmu yang diwariskan oleh Rosul -shollallohu alaihi wasallam-, itulah ilmu yang bermanfaat.
Oleh karenanya, orang yang ilmunya bermanfaat, menjadi orang yang paling lapang dadanya, PALING LUAS hatinya, paling baik akhlaknya, dan paling berkah kehidupannya..” [Zadul Ma’ad: 2/23].
———
Sungguh ini pelajaran yang sangat berharga bagi kita… Makanya kita dapati mereka yang ilmunya bermanfaat akan menjadi paling tegar dalam menghadapi musibah dan cobaan, sebagaimana Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam-.
Karena setelah hati seseorang menjadi besar, lapang, dan luas; semua masalah akan menjadi terlihat kecil dan kerdil…
Dan jika kita masih menganggap ada permasalahan besar yang tidak sanggup kita hadapi, itu menunjukkan kecil dan kerdilnya hati kita, wallohu a’lam.
Semoga bermanfaat…
Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى
ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL
Biasakanlah Menyebutkan DALIL Saat Mendidik Anak
Syeikh Utsaimin -rohimahulloh- mengatakan:
“Sebaiknya anak-anak diberikan pengetahuan tentang hukum-hukum sesuatu beserta dalil-dalilnya… misalnya: ketika kamu mengatakan kepada anakmu: “Bacalah basmalah saat akan makan, dan bacalah hamdalah saat kamu selesai makan..!”, jika kamu mengatakan itu; maka maksud perintahnya sudah tercapai.
Tapi bila kamu mengatakan:
“Bacalah basmalah saat akan makan, dan bacalah hamdalah saat kamu selesai makan, KARENA Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- menyuruh (kita) agar membaca basmalah sebelum makan,” beliau (shollallohu ‘alaihi wasallam) juga mengatakan: ‘Sungguh Allah meridhoi seorang hamba yang memakan sesuap makanan dan dia membaca hamdalah karenanya, dan (seorang hamba) yang meminum seteguk minuman dan dia membaca hamdalah karenanya..!”
Jika kamu melakukan hal ini, kamu akan mendapatkan 2 manfaat:
PERTAMA: Kamu membiasakan anakmu untuk mengikuti dalil.
KEDUA: Kamu mendidik anakmu untuk mencintai Rosul -shollallohu ‘alaihi wasallam-, dan bahwa Rosul -shollallohu ‘alaihi wasallam- adalah seorang imam/pemimpin panutan yang wajib diikuti arahan-arahannya.
Dan hakekat ini banyak dilalaikan, kebanyakan orang mengarahkan anaknya kepada hukum-hukumnya saja, namun dia tidak mengaitkan arahan itu dengan sumbernya, yaitu: Alkitab dan Assunnah..”
[Kitab: Al-Qoulul Mufid ala Kitabit Tauhid: 2/423].
———-
Ada MANFAAT KETIGA yang bisa ditambahkan di sini: bahwa ORANG TUA juga akan belajar mengetahui dalil-dalil tersebut, dan menyampaikannya kepada anaknya, sehingga akan berkumpul banyak dalil padanya dan dia dapat menghapalnya dengan mudah karena dibarengi dengan praktek, wallohu a’lam.
Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى
ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL
Paling Dicintai Oleh Allah Namun Paling Diuji Dengan Kesedihan
Hasan Al-Bashri rohimahullah berkata :
كَانَ مُنْذُ فَارَقَ يُوسُفُ يَعْقُوبَ إِلَى أن التقيا، ثمانون سنة، لم يفارق في الْحُزْنُ قَلْبَهُ، وَدُمُوعُهُ تَجْرِي عَلَى خَدَّيْهِ، وَمَا عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ عَبَدٌ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ يَعْقُوبَ .
“Selama 80 tahun Nabi Ya’qub berpisah dengan Nabi Yusuf hingga mereka bertemu kembali, kesedihan tidak pernah terlepas dari hati Ya’qub, sementara air mata beliau mengalir ke kedua pipi beliau. Padahal beliau orang yang paling dicintai oleh Allah di atas muka bumi (tatkala itu)..” (Tafsir Ibnu Katsir 4/413)
Jika antum sering mengalami kesedihan.. janganlah suudzon kepada Allah.. siapa tahu antum dicintai oleh Allah..
Jangan berputus asa bagaimanapun juga, sebagaimana Nabi Ya’qub yang selalu berharap Allah mengembalikan Nabi Yusuf kepadanya. Dan setelah 80 tahun.. Allah-pun mengabulkan dan mempertemukan mereka kembali.
Ustadz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى
