Category Archives: Mutiara Salaf

Waspadalah Terhadap Kematian

Syaikh Muhammad bin Sholeh al ‘Utsaimin rohimahullahu ta’ala berkata,

فبادر هذا، لأنك لا تدري ربما تموت وأنت تخاطب أهلك، أو تموت وأنت على فراشك، أو تموت وأنت على غدائك، أو تموت وأنت في سيارتك، أو في سفرك، إذاً فبادر!

Bersegeralah kalian untuk beramal sholeh..! Sebab, engkau tak akan mengerti soal kematian .. kapan ia (akan) menghampirimu.

Bisa saja (kematian menjemputmu) di saat :
– engkau sedang bercengkerama bersama keluargamu,
– engkau sedang berada di kasurmu,
– engkau sedang makan siang.
– engkau sedang mengendarai mobilmu,
– engkau sedang bepergian.

Sekali lagi, bergegaslah untuk beramal..!

(Syarah Riyadhush Shalihin – 2/290)

Akibat Riya’

Allah Ta’ala berfirman,

مَنْ كَانَ يُرِيْدُ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا وَزِيْنَتَهَا نُوَفِّ اِلَيْهِمْ اَعْمَالَهُمْ فِيْهَا وَهُمْ فِيْهَا لَا يُبْخَسُوْنَ ۝١٥

اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ لَيْسَ لَهُمْ فِى الْاٰخِرَةِ اِلَّا النَّارُۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوْا فِيْهَا وَبٰطِلٌ مَّا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ۝١٦

“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka. Lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan..”

(Qs Hud/11 ayat 15-16)

●  Al Fudhail bin Iyaadh (w. 187 H) rohimahullahu ta’ala berkata,

تزينت للناس ، وتصنعت لهم ، وتهيأت لهم ، ولم تزل ترائي حتى عرفوك ، فقالوا : رجل صالح ، فقضوا لك الحوائج ، ووسعوا لك في المجلس وعظموك ، خيبة لك ، ما أسوأ حالك إن كان هذا شأنك !

إن قدرت أن لا تعرف فافعل ، وما عليك أن لا تعرف ، وما عليك إن لم يثن عليك ، وما عليك أن تكون مذموما عند الناس إذا كنت عند الله محمودا.

– engkau berhias untuk mendapat pujian dari manusia,
– engkau bersandiwara untuk mereka,
– engkau mempersiapkan diri untuk mereka,
– engkau selalu berbuat riya sampai akhirnya engkau terkenal dikalangan mereka.

sampai akhirnya mereka pun mengatakan, ‘Ini adalah seorang yang sholeh..’ sehingga mereka pun :
– memenuhi semua kebutuhanmu,
– melapangkan tempat duduk untukmu, dan
– mereka agungkan dirimu.

Maka celakalah engkau..!! Sungguh jelek sekali dirimu bila demikian keadaannya.

Bila engkau mampu untuk tidak dikenal maka lakukanlah..!!

– tiada ada dosa bagimu bila engkau tidak terkenal,
– tiada ada dosa bagimu bila engkau tidak dipuji, dan
– tiada dosa bagimu bila engkau dicela oleh manusia namun engkau terpuji disisi Allah.

(At-Tauwabiin – Ibnu Qudamah – hal.7)

Peringatan Bagi Orang Yang Berharap Balasan Do’a Dan Ucapan Terima Kasih Ketika Memberi

Allah Ta’ala berfirman,

وَيُطْعِمُوْنَ الطَّعَامَ عَلٰى حُبِّهٖ مِسْكِيْنًا وَّيَتِيْمًا وَّاَسِيْرًا (٨)

Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.. (Qs Al-Insan ayat 8)

اِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللّٰهِ لَا نُرِيْدُ مِنْكُمْ جَزَاۤءً وَّلَا شُكُوْرًا (٩)

(sambil berkata), “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridhoan Allah, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kamu..” (Qs Al-Insan ayat 9)

● Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata,

من طلب من الفقراء الدعاء أو الثناء خرج من هذه الآية

“Siapa yang meminta dido’akan oleh fakir miskin (setelah memberinya) maka ia keluar dari ayat ini..”

(Majmu’ Fatawa 11/111)

Hukuman Bagi Pelaku Maksiat

Al Hafizh Ibnul Jauzi rohimahullahu ta’ala berkata,

ربّما رأى العاصي سلامةَ بدنِهِ ومالِه، فَظَنَّ أن لا عقوبة! وغَفْلَتُه عما عُوقِب به عقوبة! وقد قال الحكماء: المعصية بعد المعصية عقابُ المعصية، والحسنةُ بعد الحسنة ثوابُ الحسنة.

Seringkali seorang pelaku maksiat mendapati keselamatan badan dan hartanya, sehingga ia pun mengira bahwa tidak ada hukuman baginya. Padahal, kelalaiannya dari dosa yang membuatnya pantas menerima hukuman, justru merupakan salah satu bentuk hukuman itu.

Sebagian ahli hikmah mengatakan, “melakukan kemaksiatan setelah kemaksiatan adalah merupakan hukuman (dari perbuatan) maksiat, sedangkan menjalankan kebaikan setelah melakukan kebaikan adalah merupakan buah (dari perbuatan) kebaikan.

(Shoidul Khothir, hlm. 65)

Diantara Sebab Seseorang Suka Berburuk Sangka

Ibnu Hajar Al Haitami rohimahullah berkata,

وكل من رأيته سيء الظن بالناس، طالبًا لإظهار معايبهم؛
‏ فاعلم أن ذلك لخبث باطنه وسوء طويته.

“Semua orang yang kamu lihat suka berburuk sangka kepada manusia dan ingin menampakkan aib mereka adalah karena busuknya batin dan hatinya.”

(Az Zawaajir 1/143)

Orang yang hatinya bening..
Akan bening pula hatinya kepada manusia..
Dan manusiapun selamat dari lisannya..

✏️
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Diantara Bentuk Ujian Keimanan Seorang Hamba

Syaikh Muhammad bin Sholeh al-‘Utsaimin rohimahullah berkata,

الله يبتلي المرء بتيسير أسباب المعصية حتى يعلم سبحانه من يخافه بالغيب.

Allah ‘Azza wa Jalla akan menguji seorang hamba dengan mudahnya jalan untuk berbuat maksiat, sehingga dengan hal tersebut, Allah mengetahui orang yang benar-benar takut kepada-Nya, walaupun ia tidak melihat-Nya.

(Al Qoulul Mufid – 1/200)

Sikap Seorang Mukmin Terkait Aib Orang Lain

Al Fudhail bin ‘Iyadh rohimahullahu ta’ala (w. 187 H) berkata,

المؤمن يستر ويعظ وينصح، والفاجر يهتك ويعيّر ويفشي.

Seorang mukmin itu :
– menutup aib saudaranya,
– memperingatkan, dan
– menasehatinya.

Sedangkan seorang fajir (pendosa) itu :
– membongkar aib orang lain,
– mencelanya, dan
– menyebarkannya.

(Hilyatul Auliyaa’ – 8/95)

Ketergesa-Gesaan Yang Tidak Tercela

Hatim al-Ashom (w. 237 h) rohimahullah berkata,

كَانَ يُقَالُ العَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ إِلاَّ فِي خَمْسٍ إِطْعَامِ الطَّعَامِ إِذَا حَضَرَ الضَّيْفُ وَتَجْهِيْزِ المَيِّتِ إِذَا مَاتَ وَتَزْوِيْجِ البِكْرِ إِذَا أَدْرَكَتْ وَقَضَاءِ الدَّيْنِ إِذَا وَجَبَ وَالتَّوْبَةُ مِنَ الذَّنْبِ إِذَا أَذْنَبَ.

Dikatakan, ketergesa-gesaan itu dari setan, kecuali dalam lima perkara :

1. Bersegera menghidangkan makanan ketika ada tamu.

2. Bersegera mengurus penyelenggaraan jenazah setelah kematiannya.

3. Bersegera menikahkan anak gadis jika sudah bertemu jodohnya.

4. Bersegera membayar hutang jika telah jatuh temponya.

5. Bersegera bertaubat jika telah berbuat dosa

(Hilyatul Auliyaa – 8/78)

Memperbagus Amalan

Al Hafizh Ibnu Rojab rohimahullah berkata,

وكـان الســلـف يـوصــون بـإتــقان الــعمــل وتـحسـينـه دون الإكـثــار مـنــه،

فــإن الــعمــل القــليـل مــع التـحـسيـن والإتــقان، أفضــل مــن الـكثيــر مــع الغــفلـة وعــدم الإتــقـان.

Dahulu para salaf, mereka mewasiatkan untuk menyempurnakan dan memperbagus amalan, bukan sekadar memperbanyaknya.

Maka sesungguhnya amalan yang sedikit, tetapi diperbagus dan disempurnakan, itu lebih utama dibandingkan dengan amalan yang banyak yang disertai dengan kelalaian dan ketidak sempurnaan.

(Majmu Rosail Ibnu Rojab – 1/352)