Category Archives: Mutiara Salaf

Antara Rezeki Dan Ajal

Al Hasan al Bashri rohimahullahu berkata,

ابن آدم، إنك لست بسابق أجلك، ولا بمغلوب على رزقك، ولا بمرزوق ما ليس لك، فلم تكدح وعلام تقتل نفسك

Wahai anak Adam .. sesungguhnya, engkau tidak dapat mendahului ajalmu.

Engkau juga tidak dapat dikalahkan (tidak ada yang menghalangi) dalam rezeki yang telah ditetapkan untukmu, dan tidak akan diberi rezeki yang bukan bagianmu.

Lantas .. mengapa engkau terlalu berlebihan dalam bekerja (sehingga lalai dari Allah)..? atas dasar apa engkau membinasakan dirimu..?

(Mawaizh lil imam al Hasan al Bashri 91)

Nikmat Yang Bisa Menjadi Petaka

Imam Qotadah rohimahullahu Ta’ala berkata,

مَن أُعْطِي مالًا أو جمالًا وثيابًا وعلمًا، ثمَّ لم يتواضع، كان عليه وبالًا يوم القيامة.

Siapa saja yang diberikan :
– harta,
– keindahan rupa,
– pakaian, dan
– ilmu,
namun ia tidak tawadhu’ (rendah hati), maka semua kelebihan tersebut akan menjadi petaka baginya pada hari kiamat kelak.

( At Tawadhu Wa Khumul – Ibnu Abid Dunya hal.142 )

Diantara Tanda Tanda Seorang Mukmin

Allah berfirman,

وَلَآ اُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ

“Dan Aku bersumpah demi jiwa yang selalu menyesali (dirinya sendiri)..” (QS Al-Qiyamah: 2)

Al Hasan Al Bashri rohimahullah berkata terkait ayat di atas,

لا تلق المؤمن إلا يلوم نفسه: ما أردت بكلمة كذا؟ ما أردت بأكلة كذا؟ ما أردت بمجلس كذا؟

Tidaklah engkau menemui seorang mukmin, kecuali ia pasti selalu mencela dirinya sendiri (dengan mengatakan),

– apa tujuanku mengatakan ini..?!
– apa tujuanku memakan ini..?!
– apa tujuanku berada di majelis ini..?!

وأما الفاجر فيمض قدما قدما، لا يلوم نفسه

Adapun seorang pendosa, ia terus berlalu tanpa sekalipun pernah mencela dirinya sendiri.

( Al-Bidayah wan Nihayah – 9/272 )

Hakekat Umur

Imam Ibnu Rojab rohimahullahu Ta’ala berkata,

Wahai orang-orang yang berbangga telah melewati banyak tahun dalam kehidupannya .. sebenarnya yang engkau banggakan adalah umurmu yang telah berkurang.

( Lathoiful Ma’arif, hlm. 405 )

Keadaan Seorang Mukmin Setelah Beramal

Tentang firman Allah,

الَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ… (المؤمنون: 60

“Dan orang orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut..” (Al-Mu`minun: 60)

Al-Hasan al-Bashri rohimahullah mengatakan,

كَانُوا يَعْمَلُونَ مَا يَعْمَلُونَ مِنْ أَعْمَالِ الْبِرِّ وَهُمْ مُشْفِقُونَ أَلَّا يُنْجِيَهُمْ ذَلِكَ مِنْ عَذَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Mereka mengerjakan amalan amalan kebaikan dalam keadaan kawatir bahwa amalan tersebut tidak menyelamatkan mereka dari adzab Allah ‘azza wa jalla..”

(Az-Zuhd hlm. 230, karya al-Imam Ahmad)

Pilar Kebaikan

Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah rohimahullah berkata,

Pilar segala kebaikan adalah engkau memahami bahwa apa yang Allah kehendaki pasti terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki, pasti tidak akan terjadi.

(Al Fawaid – hlm. 96)

Tidak Ternilai Harganya

Syaikh Muhammad bin Sholeh al-‘Utsaimin rohimahullah mengatakan,

الوقت ثمين الوقت أثمن من المال وأثمن من كل شيء كل وقت يمضي عليك في غير طاعة الله فهو خسارة

Waktu itu sangat berharga, lebih berharga dari harta dan bahkan lebih bernilai daripada segala sesuatu.

Setiap waktu yang engkau jalani untuk selain ketaatan kepada Allah, maka itulah kerugian (yang nyata).

( Al-Liqoo asy-Syahri, hlm. 19 )

Diantara Keutamaan Memiliki Teman Teman Yang Sholeh

Ubaidullah bin al-Hasan rohimahullah pernah berpesan kepada seseorang,

يَا فُلانُ اسْتَكْثِرْ مِنَ الصَّدِيقِ فَإنَّ أيْسَرَ ما تُصِيبُ أنْ يَبْلُغَهُ مَوْتُكَ فَيَدْعُوَ لَكَ

Wahai fulan, perbanyaklah teman-teman (yang baik). Karena setidaknya, pada saat kabar kematianmu sampai ke telinganya, ia akan mendo’akan kebaikan untukmu.

(Al-Ikhwan, karya Ibnu Abid Dunya – 78)

Menjadi Pedagang Akherat

Syaikh Muhammad bin Sholeh al ‘Utsaimin rohimahullahu ta’ala berkata,

وإذا كان التجار لا ينامون حتى يراجعوا دفاتر تجارتهم، ماذا صرفوا، وماذا أنفقوا، وماذا كسبوا، فإن تجار الآخرة ينبغي أن يكونوا أشد اهتماماً، لأن تجارتهم أعظم.

Apabila para pedagang dunia tidak akan tidur sampai mengulang kembali pembukuan keuangan mereka,
– apa yang sudah dibelanjakan
– apa yang sudah dikeluarkan
– apa yang sudah didapatkan

Maka bagi para pedagang akherat, sudah seharusnya mereka memberikan perhatian yang lebih lagi (dengan introspeksi terhadap amalannya), karena sesungguhnya dagangan mereka lebih jauh besar dan mulia.

(Tafsir Qs As-Syarh:2)

Tawadhu Yang Benar

Imam al-Hasan al-Bashri rohimahullah ditanya tentang tawadhu (yang benar), maka beliau menjawab,

هو أن تخرح من بيتك، فلا تلقى أحدا إلا رأيت له الفضل عليك

Tawadhu (rendah hati) yang benar adalah ketika engkau keluar rumah, tidaklah engkau bertemu seseorang melainkan engkau memandang bahwa dia memiliki kelebihan atasmu.

( Mawaizh lil imam al-Hasan al-Bashri – hlm. 115 )