Category Archives: Mutiara Salaf

MUTIARA SALAF : Sempurnakan Amal Kebaikanmu Dengan Berdo’a Agar Allah Menerima Amalan Tersebut

Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin rohimahullah berkata,

إذا عمل الإنسان عملاً صالحاً وسأل الله القبول فهذا من تمامه. ألم تعلم أن إبراهيم وإسماعيل كانا يبنيان الكعبة ويقولان:

“Apabila seorang muslim beramal sholih dan memohon kepada Allah agar amalan tersebut diterima, ini adalah bagian dari kesempurnaan amalannya. Tidakkah engkau tahu bahwa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ‘alaihimas salam dahulu membangun Ka’bah dan memohon kepada Allah subhanahu wata’ala.

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Wahai Robb kami, terimalah amalan kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui..” (al-Baqarah: 127)

ونحن نعلم أن عملهما عمل صالح مبني على نية صالحة ومع ذلك يسألان الله القبول.

Kita tahu bahwa amalan kedua Nabi tersebut adalah amalan sholih yang dibangun di atas niat yang sholih. Meski demikian, seiring dengan itu mereka berdua masih memohon kepada Allah agar amalan tersebut diterima..”

(Liqo’ Bab al-Maftuh 154)

MUTIARA SALAF : Kawatir Akan Penyimpangan Diri

Berkata sahabat Abu Bakr ash-Shiddiq rodhiyallahu ‘anhu,

❍ ﻟـﺴﺖ ﺗـﺎﺭﻛﺎ ﺷﻴــﺌﺎ ﻛـﺎﻥ ﺭﺳــﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻـﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋــﻠﻴﻪ ﻭﺳـﻠﻢ ﻳﻌــﻤﻞ ﺑـﻪ ﺇﻻ ﻋﻤــﻠﺖ ﺑـﻪ،

⇦ ﻭﺇﻧــﻲ ﻷﺧـﺸﻰ ﺇﻥ ﺗـﺮﻛـﺖ ﺷﻴــﺌﺎ ﻣـﻦ ﺃﻣــﺮﻩ ﺃﻥ ﺃﺯﻳــﻎ .

“Tidaklah aku meninggalkan sedikitpun dari suatu amalan, yang mana Rosulullah mengamalkannya kecuali aku pun mengamalkannya. Sesungguhnya aku kawatir, seandainya aku meninggalkan sesuatu pun dari perintah beliau shollallahu ‘alaihi sallam, kemudian aku akan menyimpang..”

Berkata Ibnu Bathah al-Akbari rohimahullah,

❍ ﻫـﺬا ﻳﺎ ﺇﺧــﻮاﻧﻲ اﻟﺼــﺪّﻳﻖ اﻷﻛﺒﺮ ﻳﺘــﺨﻮﻑ ﻋﻠﻰ ﻧــﻔﺴﻪ اﻟﺰﻳــﻎ ﺇﻥ ﻫﻮ ﺧــﺎﻟﻒ ﺷﻴــﺌﺎ ﻣﻦ ﺃﻣﺮ ﻧﺒــﻴﻪ ﺻـﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋـﻠﻴﻪ ﻭﺳـﻠﻢ،

⇦ ﻓــﻤﺎﺫا ﻋـﺴﻰ ﺃﻥ ﻳــﻜﻮﻥ ﻣﻦ ﺯﻣــﺎﻥ ﺃﺿــﺤﻰ ﺃﻫــﻠﻪ ﻳﺴﺘــﻬﺰﺋﻮﻥ ﺑﻨـﺒﻴﻬــﻢ ﻭﺑﺄﻭاﻣـﺮﻩ، ﻭﻳــﺘﺒﺎﻫـﻮﻥ ﺑﻤــﺨﺎﻟﻔﺘـﻪ، ﻭﻳﺴــﺨﺮﻭﻥ ﺑﺴﻨﺘـﻪ ؟

“Ketahuilah wahai saudaraku, ini adalah ash-shidiq al-akbar (Abu Bakar ash-Shidiq rodhiyallahu ‘anhu) merasa kawatir penyimpangan atas dirinya, apabila menyelisihi sesuatu dari perintah Nabinya shollallahu ‘alaihi wasallam.

Lalu bagaimana kiranya dengan sebuah zaman, yang mana orang-orang ketika itu mengolok-olok Nabi mereka dan juga perintah-perintahnya..?! Bahkan mereka merasa bangga dengan penyelisihan mereka, dan mengejek serta mentertawakan sunnah beliau shollallahu ‘alaihi wasallam..”

(al-Ibanah al-Kubro – 1/245)

MUTIARA SALAF : Jangan Ragu Untuk Memberikan Nasehat

Ada seseorang yang berkata kepada al-Hasan al-Bashri rohimahullah bahwa si fulan tidak mau menasehati dengan dalih, “Aku takut mengatakan apa yang tidak aku lakukan..”

Maka beliau mengatakan,

وأينا يفعل كل ما يقول! ودّ الشيطانُ لو ظفر بهذا؛ فلم يؤمر بمعروف.

“Siapa diantara kita yang mengerjakan semua yang dia ucapkan..?!

Setan sangat ingin seandainya dia bisa berhasil dengan melemparkan pemahaman yang salah semacam ini, sehingga tidak ada satupun perkara ma’ruf yang diperintahkan..”

(Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an – 1/367)

Kenikmatan Yang Paling Berharga

Al-Imam Ibnu Rojab al-Hanbali rohimahullah berkata,

فَالشَّأْنُ فِي أَنَّ الْعَبْدَ يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ رَبِّهِ مَعْرِفَةٌ خَاصَّةٌ بِقَلْبِهِ، بِحَيْثُ يَجِدُهُ قَرِيبًا مِنْهُ، يَسْتَأْنِسُ بِهِ فِي خَلْوَتِهِ، وَيَجِدُ حَلَاوَةَ ذِكْرِهِ وَدُعَائِهِ وَمُنَاجَاتِهِ وَخِدْمَتِهِ؛ وَلَا يَجِدُ ذَلِكَ إِلَّاَّ مَنْ أَطَاعَهُ فِي سِرِّهِ وَعَلَانِيَّتِهِ

“Yang paling penting bagi seorang hamba adalah antara dirinya dengan Robbnya terdapat perkenalan yang khusus dengan hatinya, dimana :
– dia menjumpai-Nya dekat dengannya,
– dia merasa senang menyendiri dengan-Nya,
– dia merasakan kelezatan ketika berdzikir mengingat-Nya, berdo’a kepada-Nya, bermunajat kepada-Nya, serta berkhidmat kepada-Nya.

Dan tidak akan menjumpai itu semua kecuali seorang hamba yang mentaati-Nya baik dalam keadaan sembunyi-sembunyi maupun dalam keadaan terang-terangan..”

(Bayan Fadhli Ilmis Salaf – hal. 75)

Kunci Kebahagiaan Dalam Pergaulan

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata,

والسعادة في معاملة الخلق: أن تعاملهم لله، فترجو الله فيهم ولا ترجوهم في الله، وتخافه فيهم ولا تخافهم في الله”.

Kebahagiaan dalam bergaul dengan manusia adalah bergaul dengan mereka karena Allah :

– engkau berharap keridhoan Allah pada mereka, dan bukan berharap keridhoan mereka saat di jalan Allah.

– engkau takut kepada Allah saat bergaul dengan mereka, dan bukan takut kepada mereka saat di jalan Allah.

(Majmu Fatawa 1/51)

Itulah kunci kebahagiaan dalam bergaul..
Adapun bergaul bukan karena Allah dan tidak memperhatikan batasan batasan Allah..
Hanya akan mendatangkan penyesalan di hari kiamat kelak..

Allah berfirman,

يٰوَيْلَتٰى لَيْتَنِيْ لَمْ اَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيْلًا (٢٨)

“Wahai, celaka aku..! Sekiranya (dulu) aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku) (Qs. Al-Furqon ayat 28)

لَقَدْ اَضَلَّنِيْ عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ اِذْ جَاۤءَنِيْۗ وَكَانَ الشَّيْطٰنُ لِلْاِنْسَانِ خَذُوْلًا (٢٩)

sungguh, dia telah menyesatkan aku dari peringatan (Al-Qur’an) ketika (Al-Qur’an) itu telah datang kepadaku. Dan setan memang pengkhianat manusia..” (Qs. Al-Furqon ayat 29)

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Menggantungkan Hati Hanya Kepada Allah

Asy-Syaikh al-Allamah Dr. Sholih al-Fauzan hafizhohullah berkata,

الإنسان لا يشتغل بمدح الناس يرجو منهم، وإنما يثني على الله عز وجل، ويذكر الله ويعلق قلبه بالله، ثم الله جل وعلا يجود عليه وييسر له، أما الناس فإنهم لا ينفعونه بل يكرهونه، إذا صار يمدحهم يكرهونه.

“Seseorang tidak boleh menyibukkan diri memuji orang lain karena mengharapkan kebaikan dari mereka, tetapi hendaknya dia :
– memuji Allah ‘Azza wa Jalla,
– mengingat Allah, dan
– menggantungkan hatinya kepada Allah,
sehingga Allah Jalla wa ‘Ala akan memberikan kemurahan-Nya dan memudahkan urusannya.

Adapun manusia, maka sesungguhnya mereka tidak akan memberinya manfaat, bahkan mereka akan membencinya, jika dia suka memuji-muji mereka maka mereka akan membencinya..”

(Syarh Kitab al-Kabair karya asy-Syaikh Muhammad bin Sulaiman at-Tamimy)

MUTIARA SALAF : Tawadhu

Al Imam Hasan Al-Bashri rohimahullah ditanya tentang makna tawadhu, beliau menjelaskan :

هو أن تخرج من بيتك فلا تلقى أحدا إلا رأيت له الفضل عليك

“Tidaklah engkau keluar dari rumah lalu bertemu dengan seorang muslim, kecuali engkau memiliki perasaan bahwa dia lebih baik dari dirimu..”

(Al-‘Iqdu Al-Fariid 2/202)

MUTIARA SALAF : Manfaat Berteman Dengan Orang Sholeh

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

مُجَالَسَةُ الصَّالِحِينَ تُحَولُكَ مِنْ سِتَّةٍ إِلَى سِتَّةٍ:
– مِنَ الشَّكِّ إِلَى الْيَقِينِ
– وَمِنْ الرِّيَاءِ إِلَى الْإِخْلَاصِ
– وَمِنْ الْغَفْلَةِ إِلَى الذِّكْرِ
– وَمِنْ الرَّغْبَةِ فِي الدُّنْيَا إِلَى الرَّغْبَةِ فِي الْآخِرَةِ
– وَمِنْ الْكِبَرِ إِلَى التَّوَاضُعِ
– وَمِنْ سُوءِ النِّيَّةِ إِلَى النَّصِيحَةِ.

‏Bermajelis dengan orang sholeh akan mengubahmu dalam 6 hal :

1. Ragu-ragu menjadi yakin
2. riya’ menjadi ikhlas
3. lalai menjadi dzikir
4. cinta dunia menjadi cinta akhirat
5. kesombongan menjadi tawadhu’
6. niat yang jelek menjadi tulus menasihati.

(Ighotsatul Lahfan – 1/136)

MUTIARA SALAF : Akibat Tidak Menjaga Lisan

Umar bin Abdul Aziz rohimahullah berkata,

أَدْرَكْنَا السَّلَفَ وَهُمْ لَا يَرَوْنَ الْعِبَادَةَ فِي الصَّوْمِ، وَلَا فِي الصَّلَاةِ، وَلَكِنْ فِي الْكَفِّ عَنْ أَعْرَاضِ النَّاسِ، فَقَائِمُ اللَّيْلِ وَصَائِمُ النَّهَارِ؛ إِنْ لَمْ يَحْفَظْ لِسَانَهُ؛ أَفْلَسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

“Kami menjumpai salaf (para shahabat) dalam keadaan mereka tidak (hanya) menilai ibadah pada puasa dan sholat. Namun, (mereka menilai ibadah termasuk pula) pada menahan lisan dari mencela kehormatan orang lain.

Sebab, orang yang banyak mengerjakan sholat malam dan puasa, jika dia tidak menjaga lisannya, maka dia akan bangkrut pada hari kiamat nanti..”

(At-Tamhid – 17/443)

MUTIARA SALAF : Macam Macam Cinta

قال الإمام ابن القيم رحمه الله :
“فالمحبة النافعة ثلاثة أنواع: محبة الله، محبة في الله، محبة على ما يعين على طاعة الله واجتناب معصيته.
والمحبة الضارة ثلاثة أنواع: المحبة مع الله، محبة ما يبغضه الله، محبة ما تقطع محبته عن محبة الله أو تنقصها.
فهذه ستة أنواع عليها مدار محاب الخلق”
(إغاثة اللهفان ص.٥١٢)

Ibnul Qoyyim rohimahullah menjelaskan bahwa :

● Cinta yang bermanfaat ada tiga macam:

1. Cinta Allah.
2. Cinta karena Allah.
3. Cinta perkara yang membantu ketaatan kepada Allah dan menjauhi kemaksiatan kepada-Nya.

● Cinta Yang Memudhoratkan ada tiga macam:

1. Cinta selain Allah dengan kecintaan yang sama kepada Allah.
2. Cinta hal-hal yang Allah benci.
3. Cinta perkara yang memutus kecintaan terhadap Allah ataupun menguranginya.

Enam macam cinta inilah yang beredar padanya cinta-cinta makhluk.

(Ighotsatul Lahfan hal. 512)