MUTIARA SALAF : Sikap Seorang Mukmin Dalam Menghadapi Masalah

Ibnul Qoyyim rohimahullah mengatakan,

“Sesungguhnya semua (musibah) yang menimpa orang-orang yang beriman dalam (menjalankan agama) Allah Ta’ala senantiasa disertai dengan sikap ridho dan ihtisaab (mengharapkan pahala dari-Nya)..

Kalaupun sikap ridho tidak mereka miliki maka pegangan mereka adalah sikap sabar dan ihtisaab. Ini (semua) akan meringankan beratnya beban musibah tersebut. Karena, setiap kali mereka menyaksikan (mengingat) balasan (kebaikan) tersebut, akan terasa ringan bagi mereka menghadapi kesusahan dan musibah tersebut..

Adapun orang-orang kafir, mereka tidak memiliki sikap ridho dan tidak pula ihtisaab. Kalaupun mereka bersabar (menahan diri), maka (tidak lebih) seperti kesabaran hewan-hewan (ketika mengalami kesusahan)..

Sungguh Allah Ta’ala telah mengingatkan hal ini dalam firman-Nya yang artinya,

”Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan..”

(Qs an-Nisaa/4:104)

Jadi, orang-orang Mukmin maupun kafir sama-sama menderita kesakitan, akan tetapi orang-orang Mukmin teristimewakan dengan pengharapan pahala dan kedekatan dengan Allah Ta’ala..”

[ Ighootsatul Lahfaan – hal 421-422 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Nasihat Dalam Mencari Istri

Imam Ahmad bin Hambal rohimahullah berkata,

“Jika seorang pria melamar seorang wanita, hendaklah menanyakan kecantikannya lebih dahulu..

Jika wajahnya cantik baru dia tanyakan tentang agamanya, kalau agamanya baik hendaklah menikahinya, kalau tidak baik maka dia menolak karena sebab agamanya..

Dan jangan sampai dia menanyakan agamanya terlebih dahulu, kalau baik baru menanyakan kecantikannya, lalu kalau ternyata dia tidak cantik dia tolak, sehingga menolaknya karena si wanita tidak cantik, bukan disebabkan karena agamanya yang kurang baik..”

(Al Inshaaf – 12/206)

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Tentang Keutamaan Membaca Qs Al Kahfi Di Hari Jum’at

Ga boleh baca surat AL-KAHFI di hari Jum’at..?!

=====

Tidak bisa dipungkiri, setelah keluarnya hasil sidang dewan fatwa tentang hadits keutamaan membaca surat Al-Kahfi di hari Jum’at, banyak yang memahami dilarang membaca surat al-Kahfi di hari Jum’at..!

Padahal sebenarnya tidak demikian.

Beberapa poin yang bisa disimpulkan dari hasil sidang Dewan Fatwa tentang itu adalah sebagai berikut :

1. Hadits tentang keutamaan membaca surat al-Kahfi di hari atau malam Jum’at saja, derajatnya lemah sekali.

2. Yang shohih adalah atsar dari sahabat Abu Sa’id al-Khudri rodhiallahu ‘anhu, yang menjelaskan tentang keutamaan membaca surat al-Kahfi secara umum, apapun harinya .. dan keutamaannya yang shohih adalah bahwa pembacanya mendapatkan cahaya dari tempat dia membaca sampai ke baitullah (ka’bah).

3. Atsar ini bisa dihukumi marfu’ (dianggap sebagai hadits), karena berkaitan dengan sesuatu yang ghoib yang tidak ada celah ijtihad di dalamnya.

4. Atsar ini tidak melarang kita membaca surat Al-Kahfi di hari Jum’at .. tapi menjelaskan bahwa keutamaan itu bukan hanya di hari Jum’at saja.

5. Bagi yang ingin membaca surat Al-Kahfi di hari Jum’at, maka tidak ada masalah, sebagaimana bila dia ingin membacanya di hari lain juga tidak masalah.

Bahkan, yang saya pahami, bila dia menganggap membacanya di hari Jum’at lebih utama, maka tidak ada masalah juga .. bukan karena dasar hadits lemah yang membatasi keutamaan itu di hari Jum’at .. tapi karena dalil umum bahwa hari Jum’at adalah termasuk hari yang paling mulia, dan amalan yang dilakukan di hari yang lebih mulia maka menjadi lebih mulia, wallahu a’lam.

RINGKASNYA: Jangan meyakini bahwa keutamaan membaca Al-Kahfi itu ada di hari Jum’at saja .. karena yang shohih bahwa keutamaan itu ada di hari Jum’at dan juga hari-hari yang lainnya, wallahu a’lam.

Semoga bisa dipahami dengan baik, barokallahu fiikum.

✏️
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Syarah Kitab Tauhid : 202 – 203 – 204

Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini :

202.

203.

204.

 

ARTIKEL TERKAIT

Syarah Kitab Tauhid : KUMPULAN ARTIKEL

Iman Dan Manhaj

Ada orang yang berkata, “Jangan melebihkan manhaj di atas iman..”
Mungkinkah iman akan lurus tanpa manhaj..?

Manhaj Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam dan para shahabatnya adalah manhaj yang wajib diikuti.
Beriman tapi tidak mau mengikuti manhaj Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam dan para shahabatnya, imannya bisa tidak diterima.

Iman dan manhaj tidak bisa dipisahkan.
Lihatlah kaum munafikin yang Allah ceritakan,

وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ اٰمِنُوْا كَمَآ اٰمَنَ النَّاسُ قَالُوْٓا اَنُؤْمِنُ كَمَآ اٰمَنَ السُّفَهَاۤءُۗ اَلَآ اِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاۤءُ وَلٰكِنْ لَّا يَعْلَمُوْنَ (١٣)

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Berimanlah kamu sebagaimana orang lain telah beriman..!” Mereka menjawab, “Apakah kami akan beriman seperti orang-orang yang kurang akal itu beriman..?” Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang kurang akal, tetapi mereka tidak tahu..” (Q.S. Al-Baqoroh ayat 13)

Mereka menuduh para shahabat kurang berakal, dan tidak mau mengikuti manhaj para shahabat dalam keimanan.

Allah juga berfirman:

فَاِنْ اٰمَنُوْا بِمِثْلِ مَآ اٰمَنْتُمْ بِهٖ فَقَدِ اهْتَدَوْاۚ وَاِنْ تَوَلَّوْا فَاِنَّمَا هُمْ فِيْ شِقَاقٍۚ فَسَيَكْفِيْكَهُمُ اللّٰهُۚ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُۗ (١٣٧)

“Maka jika mereka telah beriman sebagaimana yang kalian imani, sungguh, mereka telah mendapat petunjuk. Tetapi jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (denganmu), maka Allah mencukupkan engkau (Muhammad) terhadap mereka (dengan pertolongan-Nya). Dan Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui..” (Q.S. Al-Baqoroh ayat 137)

Ayat ini menyuruh kita beriman seperti apa yang diimani oleh para shahabat dan balasannya adalah mendapat hidayah. Jika berpaling, maka mereka dalam permusuhan dengan Rosulullah shollallahu’alayhi wasallam dan para shahabatnya.

Jadi iman tak mungkin sempurna dan lurus tanpa manhaj.

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Kuatnya Hidayah Seiring Dengan Kuatnya Iman Seseorang

Allah Ta’ala berfirman,

فَهَدَى اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا لِمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِهِ ۗ وَاللَّهُ يَهْدِي مَن يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

”maka Allah memberi hidayah orang orang yang beriman kepada kebenaran dalam perkara yang mereka perselisihkan. Dan Allah memberi hidayah siapa yang Dia kehendaki kepada jalan yang lurus..” (Al Baqoroh: 213)

Syaikh ‘Utsaimin rohimahullah berkata dalam tafsirnya,

“Diantara faidah ayat ini adalah bahwa keimanan seorang hamba bila semakin kuat maka ia lebih dekat kepada kebenaran. Karena Allah berfirman yang artinya, “maka Allah memberi hidayah orang orang yang beriman kepada kebenaran dalam perkara yang mereka perselisihkan..”

Karena Allah menggantungkan hidayah kepada keimanan. Maka hidayah itu semakin kuat dengan kuatnya iman dan semakin lemah dengan lemahnya iman.

Oleh karena itu para shahabat lebih dekat kepada kebenaran dibandingkan generasi setelahnya; baik dalam tafsir, hukum, dan akidah. Karena tidak diragukan lagi bahwa para shahabat adalah generasi yang paling kuat imannya.

Rosul shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya, “Sebaik baik manusia adalah generasiku kemudian setelahnya. Kemudian setelahnya..”

Oleh karena itu madzhab imam Ahmad adalah bahwa pendapat shahabat adalah hujjah selama tidak bertabrakan dengan nash..”

(Tafsir Syaikh ‘Utsaimin 3/35)

Semakin hati dipenuhi keimanan kepada Allah..
Maka ia semakin mendapat hidayah kepada jalan kebenaran..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

MUTIARA SALAF : Dua Sumber Segala Fitnah

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

وأصل كل فتنة إنما هو من تقديم الرأي على الشرع، والهوى على العقل

“Sumber segala fitnah (keburukan) adalah..

1.  Mendahulukan akal pikiran daripada syariat,

2.  Mendahulukan hawa nafsu daripada akal sehat.

فالأول:أصل فتنة الشبهة، والثاني: أصل فتنة الشهوة.

Adapun yang pertama adalah sumber fitnah syubhat (kerancuan berpikir dalam agama) dan yang kedua adalah sumber fitnah syahwat.

ففتنة الشبهات تدفع باليقين، وفتنة الشهوات تدفع بالصبر، ولذلك جعل سبحانه إمامة الدين منوطة بهذين الأمرين،

Fitnah syubhat bisa ditepis dengan keyakinan (ilmu), sedangkan fitnah syahwat bisa ditepis dengan kesabaran. Oleh karena itu, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikan kepemimpinan dalam agama ini di atas dua hal ini.

Allah berfirman,

وجعلنا منهم أئمة يهدون بأمرنا لما صبروا وكانوا بآياتنا يوقنون

‘Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin- pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami, ketika mereka sabar dan yakin dengan ayat-ayat kami..’

فدل علي أنه بالصبر واليقين تنال الإمامة في الدين.

Ini menunjukkan bahwa dengan kesabaran dan keyakinan, akan diperoleh kepemimpinan dalam agama ini..”

[ Ighotsatul-Lahafan 1/167 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

65 Hari Menjelang Ramadhan 1444 Hijriyah

hari ini Selasa tanggal 17 Januari, bertepatan dengan tanggal 24 Jumadal Aakhiroh, atau sekitar 65 hari menjelang tibanya bulan Romadhon 1444 hijriyah..

bagi yang masih ada hutang puasa Romadhon 1443, silahkan mengatur jadwal pelunasan hutang puasa tsb..

nb : angka 65 hanya estimasi, penentuan tanggal 1 Romadhon 1444 hijriyah akan diputuskan oleh pemerintah setelah sidang isbath, semoga Allah memberikan kesempatan kepada kita semua untuk bertemu kembali dengan bulan Romadhon, aamiiin.

Do’a Yang Mengumpulkan Dunia Dan Akherat

Dari Thoriq bin Asyyam rodhiyallahu ‘anhu,

أنه سمع النبي ﷺ وأتاه رجل فقال: يا رسول الله: كيف أقول حين أسأل ربي؟
‏قال: ”قل: اللهم اغفر لي، وارحمني، وعافني، وارزقني -ويجمع أصابعه إلا الإبهام- فإن هؤلاء تجمع لك دنياك وآخرتك“.

“Ia mendengar Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam didatangi seorang laki laki. Ia berkata, “Ya Rosulullah, apa yang aku ucapkan bila aku meminta kepada Robbku..?”

Beliau bersabda, “Ucapkanlah :

Allaahummagh-firlii
Warhamnii
Wa ’aafinii
Warzuqnii

Yang artinya: “Ya Allah ampuni aku, rahmati aku, berilah aku ‘afiat dan rezeki..”

Beliau kumpulkan semua jari jemarinya kecuali jempol seraya bersabda, “Do’a ini mengumpulkan bagimu dunia dan akheratmu..”

(Silsilah Hadits Shohih no 1318)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Panduan Ringkas Dalam Interaksi Sosial

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata,

ﻣﻌﺎﻣﻠﺔ ﺍﻟﺨﻠﻖ ﺃﻥ ﺗﻌﺎﻣﻠﻬﻢ ﻟﻠﻪ، ﻓﺘﺮﺟﻮ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻴﻬﻢ ﻭﻻ‌ ﺗﺮﺟﻮﻫﻢ في ﺍﻟﻠﻪ، ﻭﺗﺨﺎﻓﻪ ﻓﻴﻬﻢ ﻭﻻ‌ ﺗﺨﺎﻓﻬﻢ في ﺍﻟﻠﻪ، ﻭﺗﺤﺴﻦ ﺇﻟﻴﻬﻢ ﺭﺟﺎﺀ ﺛﻮﺍﺏ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ‌ ﻟﻤﻜﺎﻓﺄﺗﻬﻢ، ﻭﺗﻜﻒ ﻋﻦ ﻇﻠﻤﻬﻢ ﺧﻮﻓًﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ‌ ﻣﻨﻬﻢ

“Muamalah dengan dengan orang lain (yang benar) adalah engkau bermuamalah dengan mereka karena Allah..

●  Engkau mengharapkan pahala kepada Allah dalam bermuamalah dengan mereka, dan tidak berharap kepada mereka dalam bermuamalah dengan Allah.

●  Engkau takut kepada Allah dalam bermuamalah dengan mereka, dan tidak takut kepada mereka dalam bermuamalah dengan Allah.

●  Engkau berbuat baik kepada mereka dalam rangka mengharap pahala Allah, bukan balasan dari mereka.

●  Engkau tidak berbuat zholim kepada mereka karena takut kepada Allah, bukan karena takut kepada mereka..”

[ Majmu’ Fatawa – 1/51 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Menebar Cahaya Sunnah