Jangan Menyebarkan Hadits Palsu Tentang Amalan Khusus Di Bulan Rojab

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

“Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta pada selainku .. barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka..”

(HR. Al Bukhari no 1291, Muslim no 4)

● Al Imam Ibnu Qoyyim al Jauziyyah rohimahullahu Ta’ala berkata,

“Dan semua hadits yang berbicara tentang puasa Rojab dan sholat pada sebagian malamnya adalah
dusta yang diada-adakan..”

(Al-Manaarul Muniif, 96)

● Al Hafizh Ibnu Rojab rohimahullah berkata,

“Tentang puasa, tidak ada satu pun hadits shohih dari Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam atau sahabatnya tentang keutamaan puasa Rojab secara khusus..”

(Lathoif al-Maarif – 140)

● Al Hafizh Ibnu Rojab rohimahullah berkata,

“Adapun tentang sholat, tidak ada hadits yang shohih tentang sholat tertentu yang dilakukan pada bulan Rojab. Hadits-hadits yang diriwayatkan tentang keutamaan sholat roghoib pada malam Jum’at pertama bulan Rojab adalah bohong, batil dan tidak sah..”

(Lathoif al-Maarif – 140)

Kepo

Ada orang Arab badui bertanya kepada Imam Asy Sya’biy rohimahullah, ‘apakah Iblis punya istri..?’

(Asy Sya’biy) : ‘punya..’

(Arab badui) : ‘mana dalilnya..?’

(Asy Sya’biy) : yaitu firman Allah, ‘apakah kamu menjadikan iblis dan keturunannya sebagai tandingan selain-Ku..?’ (Al Kahfi: 50)

(Arab badui) : ‘siapa nama istrinya..?’

(Asy Sya’bi) : ‘aku tidak menghadiri pernikahannya..’

(Siyar A’laam Nubala 4/312)


Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Screenshot

Bukan Sekedar Melaksanakan Ketaatan

Alllah ‘Azza wa Jalla berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُبۡطِلُواْ صَدَقَٰتِكُم بِٱلۡمَنِّ وَٱلۡأَذَىٰ

“Wahai orang orang yang beriman ! janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima)..” (Qs Al Baqoroh – 264)

● Ibnu Qoyyim al Jauziyyah rohimahullah menjelaskan,

فليس الشأن الإتيان بالطاعة إنما الشأن في حفظها مما يبطلها

Yang terpenting bukanlah sekedar melaksanakan ketaatan .. tetapi yang terpenting (harus selalu diperhatikan) adalah menjaga amalan tersebut dari hal-hal yang dapat menggugurkannya.

(‘Uddah ash-Shoobiriin – 66)

Tiga Perkara

‘Umar bin al-Khattab rodhiyallahu ‘anhu berkata,

إن مما يصفِّي ودادَ أخيك أن تبدأه بالسلام
إذا لقيته، وأن تدعوه بأحب الأسماء إليه، وأن توسع له في المجلس.

Sesungguhnya diantara perkara yang dapat memurnikan kecintaan terhadap saudaramu ialah :
– engkau memulai dengan mengucapkan salam ketika bertemu dengannya,
– engkau memanggilnya dengan nama yang paling ia cintai, dan
– engkau melapangkan tempat duduk untuknya ketika berada di majelis ilmu.

(Bahjatul Majalis – Ibnu Abdil Barr – 1/hal. 43)

Meninggalkan Takwa Menjadi Penyebab Tertutupnya Pintu Rezeki

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka sangkanya..” (Qs Ath Tholaq: 2-3)

● Ibnu Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu menjelaskan tentang makna Takwa,

“Bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa adalah mentaati-Nya sehingga kita :
– tidak berbuat maksiat kepada-Nya,
– tidak menentang-Nya,
– tidak membangkang kepada-Nya, tapi kita mentaati Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kemudian :
– mengingat Allah dan tidak melupakan-Nya,
– kita terus dzikir, selalu ingat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak melupakan-Nya,
– juga selalu bersyukur kepada Allah dan tidak kufur kepada-Nya..”

(Tafsir Ibnu Mas’ud, 2/651)

● Ibnul Qoyyim rohimahullah menjelaskan,

“Kesulitan yang menimpa seseorang sering kali terlihat dalam urusan-urusannya yang menjadi serba sulit. Setiap kali ia mencoba menghadapi suatu perkara, ia mendapati jalannya tertutup atau penuh hambatan.

📌 Sebagaimana orang yang  bertakwa kepada Allah akan dimudahkan dalam urusannya, maka siapa yang meninggalkan takwa akan mendapati urusannya menjadi sulit. Rezeki hanya akan mengalir ketika seseorang menjauhi segala bentuk maksiat..!

Sungguh mengherankan..! Bagaimana seorang hamba bisa merasakan bahwa pintu-pintu kebaikan dan kemaslahatan tertutup baginya, serta jalannya terasa penuh kesulitan, namun ia tidak menyadari dari mana asal kesulitan itu datang..”

(Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa‘, hlm. 85-86)

Apakah Kalimat Yang Diucapkan Saat Marah Bisa Menjadi Do’a..?

simak audio penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini :

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

لَا تَدْعُوْا عَلَى أَنْفًسِكُمْ ، وَلَا تَدْعًوْا عَلَى أَوْلَادِكُمْ ، وَلَا تَدْعُوْا عَلَى خَدَمِكُمْ ، وَلَا تَدْعُوْا عَلَى أَمْوَالِكُمْ ، لَا تُوَافِقُوْا مِنَ اللهِ سَاعَةَ نَيْلٍ فِيْهَا عَطَاءٌ فَيُسْتَجَابَ لَكُمْ

– janganlah mendo’akan kejelekan bagi diri kalian,
– janganlah kalian mendo’akan kejelekan kepada anak-anak,
– janganlah mendo’akan kejelekan kepada pembantu kalian,
– janganlah pula mendo’akan kejelekan kepada harta-harta kalian.

Bisa jadi tatkala do’a kejelekan itu diucapkan, saat itu merupakan waktu dikabulkannya do’a oleh Allah.

(HR. Muslim no. 3009 dari sahabat mulia Jabir bin Abdillah rodhiyallahu ‘anhu)

Akibat Bermusuhan

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

“Pintu-pintu surga dibuka pada hari SENIN dan KAMIS .. setiap hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan suatu apapun, maka dia akan diampuni dosanya, kecuali seseorang yang bermusuhan dengan saudaranya, maka dikatakan, “tangguhkanlah dua orang ini sampai mereka berdamai..” (HR. Muslim XVI / 123)

● Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin rohimahullahu ta’ala berkata,

الأعمال تعرض على الرب عز وجل كل إثنين وكل خميس إلا رجلين بينهما شحناء وفي قلوبهما شيء من الكراهية والعداوة فإنه يقال: (أنظرا هذين حتى يصطلحا). ولذلك ينبغي للإنسان أن يحاول ألا يكون في قلبه غل على أحد من المسلمين، حتى لو أن النفس الأمارة بالسوء قالت له: إن فلانا فعل كذا وفعل كذا وقال كذا، يجب أن يمحو ذلك من قلبه وأن يكون قلبه نظيفا بالنسبة لإخوانه المسلمين.

Setiap amalan kebaikan akan dihadapkan kepada Robb ‘Azza wa Jalla setiap hari SENIN dan KAMIS kecuali bagi dua orang yang ada :
– di antara keduanya permusuhan, dan
– di dalam hati mereka terdapat kebencian serta permusuhan.

Dan akan dikatakan, ‘Tundalah amalan mereka berdua ini sampai keduanya berdamai..’ (sebagaimana disebutkan dalam hadits).

Oleh karena itu, semestinya bagi seseorang hamba untuk berusaha agar tidak ada di dalam hatinya kedengkian kepada seorang pun dari muslimin, walaupun jiwa yang memerintahkan kepada kejelekan ini berbisik kepadanya, ‘Sesungguhnya si anu telah berbuat demikian dan demikian, telah berkata demikian..’!!

Maka wajib baginya untuk segera menghapus bisikan tersebut dari hatinya, dan hatinya bersih dari kebencian terhadap saudara-saudaranya sesama muslim.

(Silsilah Al-Liqo’ asy-Syahri 36/26)

Diantara Hikmah Dirahasiakannya Akhir Dari Kehidupan Seorang Hamba

Al-Imam Ibnul Mulaqqin rohimahullah menjelaskan,

وفي تغييب الله عن عباده خواتم أعمالهم، حكمة بالغة، وتدبير لطيف، وذلك أنه لو علم أحد خاتمة عمله، لدخل الإعجاب والكسل من علم أنه يختم له بالإيمان، ومن علم أنه يختم له بالكفر يزداد غيًّا وطغيانًا وكفرًا؛ فاستأثر الله بعلم ذلك؛ ليكون العباد بين خوف ورجاء، فلا يعجب المطيع لله بعمله، ولا ييأس العاصي من رحمته؛ ليقع الكل تحت الذل والخضوع لله تعالى والافتقار إليه.

Dan pada rahasia Allah tentang bagaimana hamba menutup umurnya, terdapat hikmah yang mendalam dan ketetapan yang lembut.

Yang demikian karena jikalau seorang hamba mengetahui bagaimana akhir umurnya kelak, maka sifat ujub (berbangga diri) dan malas akan masuk ke dalam hatinya, karena dia tahu bahwa akhir hidupnya di atas keimanan (sehingga ia akan sombong dan malas dari ibadah).

Dan begitu pun jika dia tahu bahwa ia akan menutup usianya dengan kekufuran, maka akan semakin bertambah kesesatan, kedurhakaan, dan kekafirannya.

Oleh karena itu, Allah menyimpan pengetahuan tentang akhir amal hamba hamba-Nya, agar mereka tetap dalam keadaan takut dan berharap.

Sehingga orang yang taat tidak akan sombong dengan amalnya .. dan seorang pendosa tidak akan putus asa dari rahmat-Nya.

Agar semua hamba tetap dalam keadaan tunduk dan patuh kepada Allah ta’ala, serta mengakui kelemahan dan ketergantungan mereka kepada-Nya.

(At-Taudhih lis Syarhil Jaami’ as-Shohih – 29/550)

Perbanyak Mengucapkan Sholawat Dan Salam Setiap Saat .. Setiap Hari .. Terutama Di Malam Jum’at Dan Di Hari Jum’at

dengan izin Allah, setiap sholawat dan salam yang kita ucapkan akan disampaikan oleh para malaikat kepada Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam ..

1. MANUSIA PERTAMA MASUK KE SURGA

● Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

”Aku mendatangi pintu surga pada hari kiamat. Lalu aku minta dibukakan. Maka penjaga pintu Surga berkata, ‘siapakah engkau..?’

Lalu aku jawab, ’aku Muhammad’.

Lantas malaikat tersebut berkata, ’aku diperintahkan dengan sebab engkau .. aku tidak membukanya untuk seorangpun sebelum engkau’..”

(HR. Muslim)

2. PEMILIK TELAGA MULIA DAN TERBESAR DI AKHERAT

● Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

“Telagaku  :
– (panjangnya) perjalanan satu bulan,
– airnya lebih putih dari susu,
– wanginya lebih wangi dari misk (minyak kesturi),
– cahayanya seperti bintang-bintang di langit.

Barangsiapa yang minum darinya niscaya ia tidak akan pernah merasa haus selama-lamanya..”

(HR. Al Bukhori no. 6579 dan Muslim no. 2292)

● Dalam riwayat lainnya, Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

“Sesungguhnya kadar (ukuran) telagaku adalah seperti jarak di antara Aylah dan Shon’a dari Yaman .. dan sesungguhnya di dalamnya terdapat teko-teko sejumlah bintang bintang di langit..”

(HR. Al Bukhori no. 6580 dan Muslim no. 2303)

3. PEMBERI SYAFA’AT DENGAN IZIN ALLAH

● Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam pernah ditanya, “siapakah orang yang paling bahagia dengan syafa’atmu pada hari Kiamat..?”

Beliau shollallahu ‘alayhi wasallam menjawab, “yang paling bahagia dengan syafa’atku pada hari Kiamat adalah orang yang mengucapkan Laa ilaahaa illallaah dengan ikhlas dari hatinya atau dirinya..”

(HR Al Bukhori no. 99)

📌 Maka perbanyaklah bersholawat kepada Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam setiap hari .. setiap saat .. terutama di malam Jum’at dan di hari Jum’at .. bisa ucapkan berulang ulang : Allaahumma sholli wa sallim ‘alaa Muhammad ..

Menebar Cahaya Sunnah