Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini :
142.
143.
144.
.
ARTIKEL TERKAIT
Syarah Kitab Tauhid : KUMPULAN ARTIKEL
Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini :
142.
143.
144.
.
ARTIKEL TERKAIT
Syarah Kitab Tauhid : KUMPULAN ARTIKEL
Syaikh Muhammad Attamimi rohimahullah berkata,
الشرك قد يقع ممن هو أعلم الناس
وأصلحهم وهو لا يدري،
كما قال رسول الله صلى الله عليه وسلم
”الشرك أخفى من دبيب النمل”
“Kesyirikan bisa terjadi kepada orang yang paling berilmu dalam keadaan ia tidak tahu. Sebagaimana sabda Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam, “Syirik itu lebih tersembunyi dari langkah semut..”
(Al Jawahir Al Mudhiah, 23)
Para nabi khawatir dirinya jatuh kepada kesyirikan..
Mereka berlindung kepada Allah darinya..
Karena hati itu mudah berubah ubah..
Maka janganlah kita merasa aman dari syirik..
Walaupun kita telah mempelajari tauhid bertahun-tahun lamanya..
Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL
Sa’iid bin Jubair rohimahullah berkata,
“Seseorang mendatangi Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhumaa lalu bertanya, ‘Wahai Ibnu ‘Abbas, apakah pendapatmu tentang firman Allah,
فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ وَمَا كَانُوا مُنْظَرِينَ
’Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka dan mereka pun tidak diberi penangguhan waktu..’ (QS. Ad-Dukhan/44: 29)
Apakah langit dan bumi itu akan menangisi seseorang..?’
Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhumaa berkata,
“Ya.. sesungguhnya tidak ada satupun dari makhluk kecuali memiliki pintu di langit yang menjadi tempat turunnya rezeki dan tempat naiknya amal perbuatan..
Apabila seorang mukmin itu meninggal dunia maka pintu langit tempat naiknya amal dan turunnya rezeki itu ditutup. Pada saat itulah langit merasa kehilangan dan ia pun menangis..
Demikian juga bumi, ketika tempat sholatnya yang ada di bumi yang sebelumnya dipakai untuk sholat dan berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla juga merasa kehilangan, maka bumi pun menangis..
Sementara itu Fir’aun dan kaumnya, karena tidak ada kebaikan yang mereka lakukan di bumi, serta tidak ada kebaikan dari mereka yang naik kepada Allah ‘Azza wa Jalla, maka langit dan bumi pun tidak menangis atas (kematiannya) mereka..”
[ Al Misbaahul Muniir Fii Tahdziib Tafsiir Ibnu Katsiir – 1096 dan Tafsir Ath-Thobari 22/34 ]
ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL
Syaikh Muhammad bin Sholeh al-‘Utsaimin rohimahullah berkata,
”Sesungguhnya dunia ini semuanya akan berlalu, segala sesuatu yang ada di dalamnya merupakan pelajaran yang berharga..
Jika engkau melihat matahari keluar di pagi hari, kemudian tenggelam di sore hari, lalu menghilang, demikian juga wujudnya seorang insan di dunia, Ia muncul kedunia kemudian akan sirna..
Demikian pula jika kita melihat rembulan, ia muncul di awal bulan dalam bentuk bulan sabit kecil, kemudian terus bertambah membesar.. maka jika telah sempurna, iapun mulai mengecil sampai kembali seperti sedia kala..
Demikian juga kalau kita perhatikan bulan demi bulan, engkau dapati seorang insan memandang kalau bulan depan masih lama datangnya..
Misalnya ia mengatakan, ‘kita sekarang ada di bulan dua belas, bulan romadhon masih delapan bulan lagi, maka alangkah lamanya..!’
Tiba-tiba ia telah melewati romadhon dengan cepatnya. Tak terasa seolah-olah (kedatangan romadhon) itu seperti waktu sesaat di siang hari..
Demikian juga umur, umur seorang insan..
Engkau dapati ia memandang kamatian itu masih lama datangnya, ia masih memiliki angan-angan, tiba-tiba tali angan-angannya telah terputus.. maka sungguh telah terluput darinya segala sesuatu. Engkau dapati ia telah dipikul orang lain diatas keranda mayat, lalu iapun dikuburkan dalam tanah..
Lalu ia berfikir, ‘kapankah terjadinya keadaanku ini..? kapankah saya sampai pada keadaan ini..?’
Dan tiba-tiba ia telah sampai kepada (ajal)nya, seolah-olah tidaklah ia hidup di dunia ini kecuali baru sore tadi atau waktu dhuha-nya.
Aku mengatakan ini agar bisa memotivasi diriku sendiri dan saudara-saudaraku untuk bersegera memanfaatkan waktu, agar tidak menyia-nyiakan waktu, biarpun sedikit, kecuali dalam keadaan kita mengetahui perhitungan kita padanya..
apakah kita sudah mendekatkan diri kita kepada Allah dengan suatu ibadah..? ataukah kita tetap di tempat-tempat kita..?
Apa jadinya keadaan kita..?
Wajib bagi kita bersegera melakukan perkara-perkara yang bermanfaat sebelum hilang kesempatan.
Betapa dekatnya akhirat dari dunia. Dahulu Abu Bakr rodhiyallahu ‘anhu sering mempermisalkan (hal ini) dengan ucapan penyair,
”Setiap kita selalu berada di dekat keluarganya, sementara kematian itu lebih dekat daripada tali sandalnya..”
Aku memohon kepada Allah untuk diriku dan kalian husnul khotimah..
Semoga Allah menjadikan urusan kita kelak lebih baik dari yang telah berlalu..
Semoga Allah menolong kita untuk bisa selalu mengingat-Nya, bersyukur pada-Nya dan memperbagus ibadah kepada-Nya.. “
[ Liqoo-ul Baabul Maftuuh 2 – 179 ]
ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL
Di berbagai masjid, ada orang orang yang berdzikir atau membaca Al Qur’an dengan suara keras bahkan dengan pengeras suara, di saat ada orang lain yang sedang sholat sunnah atau sholat fardhu.
Tentu suara yang keras dapat mengganggu orang-orang yang sedang sholat tersebut.
Abu Sa’iid rodhiallahu ‘anhu mengisahkan bahwa di saat Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam sedang beri’tikaf di masjid, beliau shollallahu ‘alayhi wasallam mendengar sebagian sahabat mengeraskan bacaan (Al-Qur’an)-nya.
Mendengar bacaan mereka yang keras, beliau shollallahu ‘alayhi wasallam membuka tirai seraya bersabda,
أَلَا إِنَّ كُلَّكُمْ مُنَاجٍ رَبَّهُ فَلَا يُؤْذِيَنَّ بَعْضُكُمْ بَعْضًا، وَلَا يَرْفَعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الْقِرَاءَةِ، أَوْ قَالَ: فِي الصَّلَاةِ
“Ketahuilah, sesungguhnya kalian semua tengah bermunajat dengan Robbnya. Oleh karena itu janganlah sebagian dari kalian mengganggu konsentrasi sebagian yang lain, dan jangan pula kalian saling mengeraskan suara bacaannya (Al-Qur’an – atau beliau shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda : bacaan dalam sholatnya’..)” [Ahmad dan Abu Daawud]
Kasus ini berkaitan dengan sesama orang yang sedang sholat..
Bagaimana bila yang mengeraskan suaranya adalah orang yang berdzikir bukan sedang sholat, atau mambaca al Qur’an di luar sholat, tanpa peduli dengan saudara-saudaranya yang sedang sholat..?
Semoga mencerahkan.
Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,
إذا مرِض العبدُ بعث اللهُ إليه ملكين فقال: انظرا ما يقولُ لعوَّادِه؟ فإنْ هو إذا جاءوه حمِد اللهَ وأثنى عليه رفعَا ذلك إلى اللهِ وهو أعلمُ
“Apabila seorang hamba sakit, Allah mengutus kepadanya dua malaikat. Allah berfirman kepada keduanya, “Lihatlah oleh kalian berdua, apa yang dikatakan hamba-Ku kepada para penjenguknya..”
Ketika penjenguknya datang, dia (hamba yang sakit tsb) memuji Allah dan menyanjung-Nya. Kedua malaikat itu mengangkat perkara tersebut kepada Allah dan Allah lebih mengetahuinya.
Allah Ta’ala berfirman,
لعبدي عليَّ أنْ أدخلَه الجنَّةَ وإن أنا شفيتُه أنْ أبدلَه لحمًا خيرًا من لحمِه وأنْ أُكفرَ عنه سيئاتِه.
“Jika Aku wafatkan hamba-Ku tersebut, wajib bagi-Ku untuk memasukkannya ke dalam surga. Namun, bila Aku menyembuhkannya, Aku akan gantikan untuknya daging yang lebih baik daripada dagingnya, darah yang lebih baik daripada darahnya, dan Aku hapuskan darinya kesalahan-kesalahannya..”
(HR. Imam Malik dalam al-Mawaththo dan al-Mundziri dalam at-Targhiib wat Tarhiib, Syaikh Al-Albani mengatakan hadits hasan lighoyrihi dalam Shohih at-Targhiib no. 3431)
[ ‘Uddatush Shoobirin, hal.125 ]
Tidak adanya Indzar (peringatan adzab) tidak berarti adzab itu tidak ada atau tidak datang, karena hal itu bisa jadi merupakan istidroj dari Allah ta’ala, Allah menunda adzab bagi manusia atas maksiat mereka.
{ وَٱلَّذِینَ كَذَّبُوا۟ بِـَٔایَـٰتِنَا سَنَسۡتَدۡرِجُهُم مِّنۡ حَیۡثُ لَا یَعۡلَمُونَ }
“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, akan Kami biarkan mereka berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui..”
[ Qs. Al-A’raf : 182 ]
Jangan merasa aman dari makar Allah ta’ala, karena Allah berfirman:
{ أَفَأَمِنُوا۟ مَكۡرَ ٱللَّهِۚ فَلَا یَأۡمَنُ مَكۡرَ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡقَوۡمُ ٱلۡخَـٰسِرُونَ }
“Tidak ada yang merasa aman dari siksaan Allah selain orang-orang yang rugi..” [ Qs. Al-A’raf:99 ]
Semoga kita tidak lengah, dan tidak menyepelekan perkara maksiat..
Ditulis oleh,
Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi Lc, حفظه الله تعالى
Imam Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,
الرِيَاءُ ، والعُجبُّ ، والكِبرُ ، والفَخرُ ، والخُيَلاءُ ، والقُنوطُ مِن رَحمةِ اللهِ ، واليَأسُ مِن رُوحِ اللهِ ، والأمنُ مِن مَكرِ اللهِ ، والفَرحُ والسرُورُ بِأذَى المُسلمِين ، والشَمَاتةُ بِمُصِيبَتِهم ، ومَحبَةُ أن تَشِيعَ الفَاحِشَةَ فِيهم ، وحَسدُهم عَلى مَا آتاهُم اللهُ مِن فَضلهِ ، وتَمنِي زَوالُ ذلِكَ عَنهُم أشدُّ تَحرِيمًا مِن الزِنَا ، وشُربِّ الخَمرِ ، وغَيرُهمَا مِن الكَبَائِر الظَاهِرَة ، ولا صَلاحُ للقَلب ، ولا للجَسَدِ إلا بِاجتنَابِهَا ، والتَوبَةُ مِنهَا ؛ وإلا فَهو قَلبٌ فَاسِد .
– riya,
– ujub,
– sombong,
– angkuh,
– putus asa dari rahmat Allah,
– merasa aman dari makar Allah,
– gembira dengan menyakiti kaum muslimin,
– senang ketika kaum muslimin ditimpa musibah,
– merasa suka perbuatan maksiat tersebar pada kaum muslimin,
– dengki kepada nikmat yang diberikan kepada kaum muslimin dan berharap nikmat itu hilang dari mereka,
(semua ini) lebih haram dari dosa zina, minum arak dan dosa-dosa besar lainnya yang tampak.
Hati dan jasad tidak mungkin menjadi lurus kecuali dengan menjauhinya dan bertaubat darinya. Jika tidak maka hatinya rusak.
( Madaarijus Saalikin 402/1 )
📝
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL
Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini :
139.
140.
141.
.
ARTIKEL TERKAIT
Syarah Kitab Tauhid : KUMPULAN ARTIKEL
Nabi shollallaahu ‘alayhi wasallam bersabda,
أَيُّهَا النَّاسُ ، اتَّقُوا اللهَ ، وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ ، فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا ، وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا ، فَاتَّقُوا اللهَ ، وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ ، خُذُوا مَا حَلَّ ، وَدَعُوا مَا حَرُمَ.
“Wahai manusia bertakwalah kepada Allah, dan perbaguslah dalam mencari rezeki, karena jiwa tidak akan meninggal hingga sempurna rezekinya walaupun lambat datangnya..
Bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah dalam mencarinya.. ambil yang halal dan tinggalkan yang haram..”
[ HR Ibnu Majah ]
Ketakutan dengan rezeki masa depan..
Bukanlah sifat mukmin yang bertawakal..
Karena mukmin itu yakin bahwa yang memberi rezeki adalah Allah..
Bukan ijazah, bukan skil dan kemampuan, bukan perusahaan..
Kewajiban kita hanya berusaha..
Sedangkan hasilnya serahkan kepada Allah Azza wa Jalla..
Ditulis oleh
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى