Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini :
ARTIKEL TERKAIT
Membangun Istana Di Surga – 12
Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini :
ARTIKEL TERKAIT
Membangun Istana Di Surga – 12
Dari Syaddad bin Aus Rodhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam ,
“Sesungguhnya Istighfar yang paling baik adalah seseorang hamba mengucapkan :
ALLAAHUMMA ANTA ROBBII LAA ILAAHA ILLAA ANTA
KHOLAQTANII WA ANA ‘ABDUKA
WA ANA ‘ALA ‘AHDIKA
WA WA’DIKA MAS-TATHO’TU
A’UUDZU BIKA MIN SYARRI MAA SHONA’TU
ABUU-U LAKA BINI’MATIKA ‘ALAYYA WA ABUU-U BI-DZANBII
FAGH-FIRLII FA INNAHU LAA YAGHFIRUDZ DZUNUUBA ILLAA ANTA
Ya Allah, Engkau adalah Robbku, tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau. Engkau yang menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu. Aku menetapi perjanjian-Mu dan janji-Mu sesuai dengan kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku, aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku kepada-Mu, maka ampunilah aku. Sebab tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau)..
(Beliau bersabda) “Barangsiapa mengucapkannya di waktu siang dengan penuh keyakinan lalu meninggal pada hari itu sebelum waktu sore, maka ia termasuk penghuni surga. Barangsiapa membacanya di waktu malam dengan penuh keyakinan lalu meninggal sebelum masuk waktu pagi, maka ia termasuk penghuni surga..”
[ HR. Bukhari no. 6306, 6323 ]
Syaikh ‘Abdurrozzaq bin ‘Abdil Muhsin al-‘Abbad hafizhohumallah bercerita bahwa pada suatu malam ke 27 Ramadhan (malam yang sangat diharapkan terjadinya lailatul qodar), beliau bersama Bapak serta Kakeknya ingin pergi ke masjid Nabawi untuk sholat malam pada malam itu, kemudian ketika keluar rumah menuju mobil, beliau mendengar suara musik yang begitu keras dinyalakan oleh anak-anak muda, kemudian beliau mendekati mobil tersebut dan mengatakan kepada mereka:
“Wahai para pemuda, jika kalian tidak sanggup untuk mengisi malam ini dengan ibadah, maka mohon dimatikan suara yang begitu keras ini..”
Akhirnya mereka mematikannya, kemudian syaikh mengatakan:
“Hendaknya malam ini kalian memperbanyak mengucapkan
اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني
Allaahumma innaka ‘Afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii .. (Ya Allah sungguhnya Engkau Maha Pengampun, Engkau suka memberi ampunan, maka ampunilah daku).
Lalu seorang yang dekat syaikh mengatakan, “aku belum hafal..”,
Lalu syaikh mengulangi kedua kalinya, lalu si pemuda ini akhirnya dapat melafazhkannya.
Setelah enam tahun, Syaikh ‘Abdurrozzaq hafizhohullah ceramah di sebuah kota, kemudian setelah ceramah ada seorang pemuda yang berjenggot dan dari wajahnya terlihat ia ahli keta’atan kepada Allah, pemuda ini berkata:
“Syaikh ingatkah engkau kepada para pemuda yang engkau peringatkan untuk mematikan musik di malam ke 27 Ramadhan, lalu engkau mengajari mereka do’a lailatul qodar, maka semenjak malam itu aku selalu membacanya dan akhirnya Allah Taala membencikan maksiat-maksiat di dalam hatiku, Alhamdulillah akhirnya aku kembali ke jalan-Nya”.
Wahai Saudaraku sebarkanlah DO’A ini..! di hari-hari mulia ini, semoga yang membacanya akan melihat kebaikan BAIK DI DALAM RAMADHAN ATAU DI LUAR RAMADHAN:
اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني
Allaahumma innaka ‘Afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii .. (Ya Allah sungguhnya Engkau Maha Pengampun, Engkau suka memberi ampunan, maka ampunilah daku).
📝
Ustadz Ahmad Zainuddin Al Banjary Lc, حفظه الله تعالى
ARTIKEL TERKAIT
Keutamaan Malam 27 Ramadhan
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Pertanyaan berikut diajukan kepada Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rohimahullah
هل ترى ليلة القدر عيانًا أي أنها ترى بالعين البشرية المجردة حيث إن بعض الناس يقولون: إن الإنسان إذا استطاع رؤية ليلة القدر يرى نورًا في السماء ونحو هذا؟وكيف رآها رسول الله ﷺ والصحابة رضوان الله عليهم أجمعين؟ وكيف يعرف المرء أنه قد رأى ليلة القدر؟ وهل ينال الإنسان ثوابها وأجرها وإن كانت في تلك الليلة التي لم يستطع أن يراها فيها؟ نرجو توضيح ذلك مع ذكر الدليل
Apakah Laylatul Qodar itu bisa dilihat dengan mata, yakni bisa dilihat dengan mata manusia saja..? Yang mana sebagian manusia mengatakan: Sesungguhnya manusia jika berhasil melihat Laylatul Qodar, dia akan melihat cahaya di langit dan semisal ini.
Bagaimana dulu Rosulullah shallallahu ‘alihi wa sallam dan para sahabatnya melihatnya..?
Dan bagaimana seorang itu tahu kalau dirinya telah melihat Laylatul Qodar..? Apakah seorang tetap mendapatkan pahala dan keutamaannya sekalipun terjadi Laylatul Qodar di malam yang ia tidak bisa melihatnya..?
Kami harap penjelasan akan hal itu dengan dalilnya.
Jawaban:
Terkadang Laylatul Qodar itu bisa terlihat dengan mata oleh orang yang Allah Ta’ala beri taufiq untuk itu dengan melihat tanda-tandanya. Dan dahulu para sahabat rodhiallahu ‘anhum mencirikan Laylatul Qodar dengan tanda-tandanya.
Akan tetapi tidak terlihatnya (Laylatul Qodar) itu tidak menghalangi seorang untuk meraih keutamaannya bagi orang yang menghidupkan sholat malamnya karena iman dan mengharap pahala. Maka sebaiknya seorang muslim itu tetap bersungguh-sungguh dalam mencarinya di sepuluh malam terakhir Ramadhan, sebagaimana Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan, dalam rangka mencari pahala dan ganjaran.
Maka jika sholat malamnya karena dorongan iman dan mengharap pahala itu bertepatan dengan malam tersebut, maka ia akan meraih pahala nya, sekalipun ia tidak mengetahuinya.
Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;
من قام ليلة القدر إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه
“Barang siapa yang sholat malam di Laylatul Qodar karena Iman dan mengharap pahala, dia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu..” (H.R Al-Bukhari)
Dalam riwayat lainnya:
من قامها ابتغاءها ثم وقعت له غفر له ما تقدم من ذنبه وما تأخر
“Barangsiapa yang sholat malam mengharapkan Laylatul Qodar kemudian dia mendapatinya, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang..” (H.R Ahmad)
Dan telah tetap dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, hadits yang menunjukkan bahwasanya di antara tanda-tanda (Laylatul Qodar) adalah terbitnya matahari di pagi harinya itu tidak menyilaukan.
Dahulu Ubai bin Ka’ab rodhiallahu ‘anhu bersumpah kalau itu adalah malam yang ke duapuluh tujuh dengan berdalilkan tanda-tanda ini.
Dan yang rojih hal itu berpindah-pindah di malam-malam kesepuluh semuanya, dan malam ganjil itu yang lebih pantas. Dan malam kedua-puluh tujuh itu malam ganjil yang paling diharapkan dalam hal itu.
Dan barang siapa yang bersungguh-sungguh dalam sepuluh malam terakhir semuanya, dengan sholat malam, membaca Al-Qur’an dan berdo’a dan selainnya dari amalan-amalan baik, niscaya ia akan mendapatkan Laylatul Qodar tanpa ragu lagi. Dan dia beruntung dengan apa yang Allah janjikan bagi orang yang beribadah di Laylatul Qodar jika melakukannya karena iman dan mengharap pahala.
Dan Allah lah tempat meminta Taufiq. Semoga Sholawat dan salam terlimpah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga beliau dan sahabat beliau..”
📚 Sumber || http://www.binbaz.org.sa/fatawa/372
Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini :
ARTIKEL TERKAIT
Hukum Seputar Ramadhan – 25
Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini :
ARTIKEL TERKAIT
Membangun Istana Di Surga – 11
malam ke 26..
ini termasuk dzikir mutlak yang tidak terbatas oleh jumlah dan waktu, silahkan dibaca kapan saja, salah satunya adalah di waktu SAHUR dimana Allah ‘Azza wa Jalla berfiman (yang artinya),
“merekalah orang-orang yang penyabar, jujur, tunduk, rajin ber-infaq, dan RAJIN ISTIGHFAR DI WAKTU SAHUR..” [ Qs 3 – 17 ]
Ibnu Katsir rohimahullah mengatakan,
“ayat ini menunjukkan keutamaan memperbanyak istighfar di waktu sahur..”
[ Tafsir Ibnu Katsir 2/23 ]
dan bisa dibaca berulang-ulang sehingga memperbanyak istighfar harian kita.. Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,
“Sungguh beruntung seseorang yang mendapati pada catatan amalnya istighfar yang banyak..”
(HR Ibnu Maajah no 3818, dan dishohihkan oleh syaikh Al-Albani rohimahullah)
wallahu ta’ala a’lam.
Berikut adalah poster dari Ramadhan 01 s/d Ramadhan 26
Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini :
ARTIKEL TERKAIT
Membangun Istana Di Surga – 10
Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini :
70.
71.
72.
.
ARTIKEL TERKAIT
Syarah Kitab Tauhid : 73 – 74 – 75
Syarah Kitab Tauhid : KUMPULAN ARTIKEL
Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini :
ARTIKEL TERKAIT
Hukum Seputar Ramadhan – 24