Allah Membagi Amalan Sebagaimana Allah Membagi Rezeki

Amalan-amalan sholeh itu seperti rezeki yang dibagi-bagikan Allah kepada hamba-hambaNya.. ada yang jadi tukang kayu, ada pengusaha, ada pedagang, dll.

Demikian pula amalan sholeh,
– ada orang yang dimudahkan untuk selalu sholat malam (namun jarang puasa sunnah)..

– ada yang sebaliknya dimudahkan untuk selalu puasa sunnah (namun jarang sholat malam)..

– ada yang dimudahkan untuk sholat malam dan puasa sunnah..

– ada yang dimudahkan Allah untuk bersedekah namun tidak pandai berceramah..

– ada yang pintar ceramah tapi tidak mampu bersedekah, dan demikianlah..

Karenanya masing-masing kita hendaknya menekuni amal sholeh yang dimudahkan Allah baginya, dan jangan pernah menyepelekan amalan sholeh tersebut, serta jangan pernah pula menyepelekan amal sholeh orang lain.

Bukankah tanpa donatur, dakwah sulit untuk berjalan..? dan bukankah dana tanpa arahan da’i juga kurang optimal..?

Sebagaimana sholat malam merupakan sebab masuk surga, maka demikan pula puasa, bersedekah, dan berdakwah.

Menekuni amalan sholeh yang Allah mudahkan bagi kita -apapun bentuk amalan sholeh tersebut- merupakan ungkapan rasa syukur kita kepada Allah yang telah memudahkan segalanya

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

Syarah Kitab Tauhid : 49 – 50 – 51

Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى beriut ini:

49.

50.

51.

.
ARTIKEL TERKAIT
Syarah Kitab Tauhid : 52 – 53 – 54
Syarah Kitab Tauhid : KUMPULAN ARTIKEL

MUTIARA SALAF : Perkara Yang Mempengaruhi Hubungan Sesama Muslim

Imam al-Muzanii rohimahullah mengatakan,

‏إذا وجدت من إخوانك جفاءً فتب إلى الله فإنك أحدثت ذنبا، وإذا وجدت منهم زيادة ود فذلك لطاعة أحدثتها، فاشكر الله تعالى

“Jika engkau mendapati sikap kasar dari saudara-saudaramu, bertaubatlah engkau kepada Allah.. sebab, hal itu merupakan tanda bahwa engkau telah melakukan sebuah dosa. .

Jika engkau mendapati mereka semakin cinta (kepadamu), itu disebabkan ketaatan yang engkau lakukan. Karena itu, bersyukurlah engkau kepada Allah Ta’ala..”

[ Faidhul Qodir – 5 / 437 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

 

MUTIARA SALAF : SEPULUH Hal Yang Tiada Manfaatnya

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

عُشُرَةُ أَشْيَاءِ ضَائِعَةِ لَا يَنْتَفِعُ بِهَا: عِلْمٌ لَا يَعْمَلُ بِهِ، وَعَمَلٌ لَا إِخْلَاَصٌ فِيهِ وَلَا اِقْتِدَاءٌ، وَمَالٌ لَا يُنْفِقُ مِنْهُ فَلَا يَسْتَمْتِعُ بِهِ جَامِعُهُ فِي الدُّنْيَا وَلَا يُقَدِّمُهُ أَمَامَهُ إِلَى الْآخِرَةِ، وَقَلْبَ فَارِغَ مِنْ مَحَبَّةِ اللهِ وَالشَّوْقِ إِلَيْهِ وَالْأُنْسَ بِهِ

وَبَدَنٌ مُعَطَّلٌ مِنْ طَاعَتِهِ وَخِدْمَتِهِ، وَمَحَبَّةً لَا تَتَقَيَّدْ بِرِضَاءِ الْمَحْبُوبِ وَاِمْتِثَالِ أَوَامِرِهِ، وَوَقْتَ مُعَطَّلٍ عَنِ اِسْتِدْرَاكِ فَارِطِهِ أَوِ اِغْتِنَامُ بَرٍّ وَقُرْبَةٍ، وَفِكْرٌ يَجُولُ فِيمَا لَا يَنْفَعُ، وَخِدْمَةً مِنْ لَا تَقَرُّبُكَ خَدَّمَتْهُ إِلَى اللهِ وَلَا تَعَوُّدٌ عَلَيْكَ بِصُلَاَّحِ دُنْيَاِكَ، وَخَوْفَكَ ورجاؤك لِمَنْ نَاصِيَتِهِ بِيَدِ اللهِ وَهُوَ أَسَبْرٌ فِي قَبْضَتِهِ وَلَا يَمْلِكُ لِنَفْسُهُ حَذَرًا وَلَا نَفْعَا وَلَا مَوْتَا وَلَا حَيَاةٌ وَلَا نُشُورَا.

“Ada sepuluh hal yang sia-sia, tiada manfaatnya..

1. Ilmu yang tidak diamalkan

2. Amal yang tidak dilandasi keikhlasan dan (tidak) mengikuti petunjuk Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam

3. Harta yang tidak digunakan (hanya disimpan). Pemiliknya tidak bisa menikmatinya di dunia, tidak pula menggunakannya untuk persiapan masa depannya di akhirat

4. Kalbu yang tidak memiliki kecintaan kepada Allah, kerinduan pada-Nya, dan ketenangan bermunajat dengan-Nya.

5. Tubuh yang tidak dipakai untuk ketaatan dan penghambaan kepada Allah

6. Kecintaan (kepada Allah) tetapi tidak terikat (mengharap) ridho-Nya dan tidak melaksanakan perintah-Nya

7. Waktu yang tidak digunakan untuk memperbaiki diri atau berbuat kebajikan dan ibadah

8. Pikiran yang digunakan pada sesuatu yang tidak bermanfaat

9. Melayani seseorang tetapi pelayananmu terhadapnya tidak mendekatkan dirimu kepada Allah, tidak pula menguntungkan urusan duniamu

10. Takut dan harapan kepada sesama hamba padahal dia di bawah kuasa Allah; tidak mampu memberi celaka, manfaat, kematian, kehidupan, dan kebangkitan.

وَأَعْظَمَ هَذِهِ الْإِضَاعَاتِ إضاعتان، هُمَا أَصْلٌ كُلَّ إِضَاعَةٍ: إِضَاعَةُ الْقَلْبِ وَإِضَاعَةِ الْوَقْتِ ؛ فَإِضَاعَةَ الْقَلْبِ مِنْ إِيثَارِ الدُّنْيَا عَلَى الْآخِرَةِ، وَإِضَاعَةَ الْوَقْتِ مِنْ طُولِ الْأَمَلِ

Kesia-siaan terbesar ada pada dua hal, keduanya pangkal segala kesia-siaan : kalbu dan waktu.

KALBU YANG SIA-SIA karena mengutamakan dunia daripada akhirat..

WAKTU YANG SIA-SIA karena panjang angan-angan.

فَاِجْتَمَعَ الْفَسَادُ كُلَّهُ فِي إتباع الْهَوَى وَطُولَ الْأَمَلِ، وَالصُّلَاَّحَ كُلَّهُ فِي اِتِّبَاعٍ لِهُدًى وَالْاِسْتِعْدَادِ لِلِقَاءِ واللَّه الْمُسْتَعَانَ

Seluruh kerusakan berporos pada sikap mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. Seluruh kebaikan berpangkal pada mengikuti petunjuk Nabi shollaallahu ‘alayhi wa sallam  dan mempersiapkan diri menghadap Allah.

Hanya Allah tempat memohon pertolongan..”

[ Al Fawaid – 162 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

MUTIARA SALAF : Diantara Tanda Kemunafikan

Wahb bin Munabbih rohimahullah berkata,

للمنافق ثلاث علامات: يكسل إذا كان وحده، وينشط إذا كان أحد عنده، ويحرص في كل أموره على المحمدة.

“Seorang munafik memiliki tiga tanda :
1. malas jika sendirian,
2. semangat jika bersama orang lain, dan
3. dalam semua urusannya, selalu berusaha mendapatkan pujian..”

[ Hilyatul Auliya’ – 4 / 47 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

MUTIARA SALAF : Ucapan Mereka Lebih Berguna

Hamdan bin Ahmad rohimahullah pernah ditanya, “Mengapa ucapan ulama Salaf lebih berguna dari ucapan kita..?”

Beliau menjawab, “Karena mereka berbicara untuk kemuliaan Islam, keselamatan jiwa dan keridhoan ar-Rohmaan.. Sedangkan kita berbicara untuk kemuliaan diri, mencari dunia dan keridhoan manusia..”

[ Shifatush Shofwah – 2 / 234 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Menebar Cahaya Sunnah