MUTIARA SALAF : Tidak Memberikan Mudhorot Selama Engkau Tidak Perdulikan

Syaikh ‘Abdurrohman bin Nashir As Sa’di rohimahullah berkata,

ومن الأمور النافعة أن تعرف أن أذية الناس لك وخصوصاً في الأقوال السيئة، لا تضرك بل تضرهم، إلا إن أشغلت نفسك في الاهتمام بها، وسوغت لها أن تملك مشاعرك، فعند ذلك تضرك كما ضرتهم، فإن أنت لم تضع لها بالاً لم تضرك شيئاً.

“Di antara perkara bermanfaat yang perlu engkau ketahui, bahwa gangguan orang-orang kepadamu, khususnya berupa ucapan jelek, tidak memberikan mudhorot (bahaya/kerugian) bagimu, namun justru memberikan mudhorot bagi mereka.

Kecuali, jika engkau sibukkan dirimu dengan memperhatikannya dan engkau biarkan ucapan itu mengendalikan kemarahanmu. Saat itulah, ucapan itu akan memberikan mudhorot  bagimu sebagaimana memberikan mudhorot bagi pelakunya.

Jika engkau tidak memperdulikannya, ucapan jelek itu tidak akan memberikan mudhorot bagimu sama sekali..”

[ Al Wasailul Mufidah lil Hayatis Sa’idah – 30 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Tingginya Rasa Takut Kepada Allah Ta’ala

Gambaran betapa tingginya rasa takut kepada Allah ta’ala .. padahal keadaan agamanya sangat istimewa.
=====

Diceritakan oleh Imam Bukhari -rahimahullah-:

“Suatu ketika Hammad bin Salamah menjenguk Sufyan Ats-Tsauri (seorang ulama besar ahli hadits dari generasi tabi’ut tabi’in, wafat 97 H) saat beliau sakit..

Maka Sufyan Ats-Tsauri mengatakan: “Wahai Abu Salamah (kun-yah Hammad), apakah Allah MAU MENGAMPUNI orang sepertiku..?”

Maka Hammad mengatakan: “Demi Allah, jika aku diminta memilih antara dihisab oleh Allah dengan dihisab oleh kedua orangtuaku, tentu aku memilih dihisab oleh Allah daripada dihisab oleh kedua orang tuaku, karena Allah ta’ala lebih sayang kepadaku daripada kedua orang tuaku..!” [Hilyatul Auliya’ 6/251]

—————————-

Pelajaran berharga dari kisah ini:

1. Sebaik apapun agama kita, kita harus tetap takut kepada Allah.

2. Takut kepada Allah adalah tanda baiknya seseorang.

3. Pentingnya teman yang shalih dan manfaatnya yang sangat besar bagi kita.

4. Pentingnya menyeimbangkan antara khauf (rasa takut) dan roja’ (rasa harap) kepada Allah.

5. Bila kita melihat teman kita dominan rasa takutnya, maka ingatkan dia kepada kasih sayang Allah yang sangat besar kepada hamba-Nya.

Wallahu a’lam.

Silahkan dishare .. semoga bermanfaat dan Allah berkahi.

Ditulis oleh,
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Membuka Wajah Mayat Saat Dikuburkan

Membuka wajah mayat saat dikuburkan.

Syaikh Masyhur bin Hasan hafidzahullahu berkata:
“Sebagian orang melakukan hal itu pada mayat dan berhujjah dengan atsar-atsar yang sharih tapi tidak shahih..”

Seperti:
Atsar tabi’in Adh Dhohak yang berwasiat agar wajahnya dibuka. (Dikeluarkan oleh ibnu abi Syaibah dalam Mushonnaf no 11795) Namun sanadnya lemah karena ada perawi yang lemah yang bernama Juwaibir.

Juga berhujjah dengan riwayat Ibnu ‘Umar yang berkata, “Apabila kalian menurunkan aku ke liang lahat maka tempelkan pipiku ke tanah..” Namun atsar ini tidak ditemukan sanadnya. Kalaupun misalnya shahih akan tetapi tidak sharih menunjukkan membuka wajah.

(Al Qoulul Mubin fii Munkarotil Janaiz hal. 460-461)

Lajnah Daaimah ditanya tentang hukum membuka wajah mayat saat dikuburkan. Mereka menjawab:

لا نعلم دليلا يدل على كشف وجه الميت في القبر، بل ظاهر الأدلة الشرعية يدل على أنه لا يكشف؛ ذكرا كان أو أنثى؛ لأن الأصل تغطية الوجه كسائر بدنه، إلا أن يكون الرجل محرما فلا يغطى

“Kami tidak mengetahui adanya dalil membuka wajah mayat di kubur. Justeru lahiriyah dalil dalil syariat menunjukkan tidak dibuka baik laki laki maupun wanita. Karena pada asalnya adalah ditutup wajahnya sebagaimana badannya. Kecuali orang yang sedang berihram maka tidak boleh ditutup..”

(Fatwa Lajnah Daaimah)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

 

Kenapa Ramadhan Tidak Termasuk Bulan Haram..?

Kenapa bulan Ramadhan tidak termasuk bulan suci/haram..?

➡️ Karena dalil yaitu firman Allah ‘Azza wa Jalla dalam QS At Taubah ayat 36 :

إن عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu..”

dan hadits Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam,

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Diantaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhar yang terletak antara Jumadil (akhiroh) dan Sya’ban..”

(HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679)

Syaikh al-‘Utsaimin rohimahullah berkata,

“Semenjak Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan langit dan bumi, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menentukan jumlah bulan yaitu dua belas bulan; empat diantaranya adalah bulan haram, tiga bulan berurutan yaitu Dzul qa’dah, Dzul hijjah, lalu Muharram serta satu yang terpisah yaitu bulan Rajab. Ini merupakan bulan-bulan diagungkan, baik pada masa jahiliyyah ataupun pada masa islam, Allah mengkhususkan larangan berbuat zhalim dibulan-bulan tersebut..”

(Dyiaul Lami’ min Khutabil Jawami’ Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin jilid 5 hal 397-401)

wallahu a’lam

Kesombongan Yang Besar Tapi Dibungkus Agama

Kita sadari atau tidak, kesombongan banyak ditampakkan oleh sebagian orang kepada kita .. tapi karena dibungkus agama, ia tidak terlihat sebagai kesombongan, dan mudah menyebar di tengah-tengah masyarakat, wallahul musta’an.

Dan berikut ini adalah sebagian contohnya:

1. Mengaku shalat jumatnya di depan ka’bah .. padahal tinggalnya di negara kita.

2. Mengaku bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saat sadar.

3. Mengaku bertemu atau bersalaman dengan Nabi Khadhir (biasanya disebut Khidir).

4. Mengaku dikasih pesan atau hadits istimewa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

5. Mengaku selalu diawasi dan diperhatikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

6. Mengaku didatangi atau diziarahi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam .. mirip dengan ini, mengaku acaranya dihadiri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

7. Mengaku dibawa naik ke Sidrotul Muntaha dan bertemu Allah.

8. Mengaku sudah sebagai wali, atau rela disebut sebagai wali.

9. Memerintahkan muridnya untuk menyebut namanya bila sedang dalam masalah, niscaya beres masalahnya.

10. Menjamin semua muridnya masuk surga.

11. Mengaku yang menyelisihinya pasti celaka.

12. Mengaku nanti bisa menggandeng seseorang masuk surga.

13. Mengaku mendapatkan ilham atau bisikan dari Allah.

14. Menjamin semua yang mengikuti ormasnya masuk surga .. ketika ditanya oleh malaikat di kubur, jawab saja: “aku pengikut ormas itu..!”

15. Mengaku kalau pengurus masjid bukan dari ormasnya, maka akan salah semua..!

16. Mengaku mendapat tongkat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dan masih banyak lagi yang lainnya .. Sungguh kesombongan yang terlihat oleh orang awam, karena dibungkus oleh agama.
Padahal kesombongan sangatlah dimurkai oleh Allah, sampai-sampai Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam menyabdakan: “Tidak masuk surga, orang yang di hatinya ada kesombongan, meski hanya sekecil dzarrah (semut merah yang sangat kecil)..”

Saudaraku seiman, waspadalah terhadap kesombongan, semoga Allah jauhkan kita semua darinya, amin.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

Dakwah Pasang Tarif..?

Da’i ibarat lentera yang menerangi ummat jalan menuju Allah dan negeri akhirat. Betapa pentingnya peran mereka di masyarakat, bila mereka lurus maka akan lurus pulalah masyarakat, namun bila mereka bengkok, bagaimana pula akan meluruskan masyarakat.

Da’i yang lurus adalah da’i yang mengikuti jejak para Rasul dalam mendakwahi kaumnya, ikhlas dalam berdakwah, tidak pernah meminta upah, apalagi mematok upah puluhan juta hingga miliaran rupiah yang memberatkan ummat.

Allah memberikan pada kita panduan untuk mengikuti siapa sebenarnya da’i yang di atas hidayah/petunjuk dan dijadikan panutan dalam dakwah, agar kita tidak tersesat mengikuti figur-figur da’i yang mencari dunia dengan menjual ayat Allah dengan harga yang murah.

Standar da’i yang lurus dalam Alqur’an adalah da’i yang tidak pernah meminta upah dalam dakwahnya, apalagi mematok harus sekian dan sekian baru mau menyampaikan dakwahnya.

Allah berfirman:

اتَّبِعُوا مَن لَّا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُم مُّهْتَدُونَ (يس :٢١)

“Ikutilah petunjuk orang-orang yang tidak pernah meminta dari kalian upah dan mereka adalah orang-orang yang mendapat hidayah..”

Allah juga berfirman:

يَا قَوْمِ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى الَّذِي فَطَرَنِي ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ [هود : 51]

Nabi Hud berkata, “duhai kaumku aku tidak meminta dari kalian upah, sesungguhnya upahku hanyalah ku harap dari Allah yang menciptakanku, tidakkah kalian berfikir..?”

Masih mau mendatangkan da’i mata duitan yang membandrol dakwahnya layaknya seperti barang dagangan..? apa yang diharap ummat dari da’i semacam ini..? Allahul musta’an.

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan MA, حفظه الله تعالى

ref : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=4511525955560873&id=100001105385773

Periksalah Sebab Pertemanan Kita

Allah Ta’ala berfirman:

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa..” (Az-Zukhruf – 67)

Imam Ibnu Katsir rohimahullah menafsirkan:

كل صداقة وصحابة لغير الله فإنها تنقلب يوم القيامة عداوة إلا ما كان لله ، عز وجل ، فإنه دائم بدوامه

“Setiap pertemanan dan persahabatan bukan karena Allah akan berubah menjadi permusuhan pada hari kiamat.. kecuali pertemanan karena Allah ‘Azza wa Jalla, maka ia akan kekal..” (Tafsir Ibnu Katsir)

Maka periksalah pertemanan kita selama ini..
Apakah karena Allah..?
Atau karena kepentingan dunia..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Nasihat Bagi Wanita

Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin rohimahullah berkata,

“Setiap wanita harus mengingat saat ia akan berbaring diatas kerandanya yang dipikul oleh manusia menuju negeri pembalasan..

Setiap wanita harus mengingat ketika ia sendirian di dalam kuburnya..

Setiap wanita harus mengingat ketika ia dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan tidak berpakaian dan tidak bersandal..”

[ Fatawaa Su’al ‘Alal Haatif : 1/202 ]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Mashun Lc, حفظه الله تعالى
Assunnah Lombok

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

MUTIARA SALAF : Dua Macam Pergaulan Dengan Teman

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

الاجتماع بالاخوان قسمان:
احدهما اجتماع علي مؤانسة الطبع وشغل الوقت فهذا مضرته أرجح من منفعته وأقل ما فيه انه يفسد القلب ويضيع الوقت
الثاني الاجتماع بهم علي التعاون علي أسباب النجاة والتواصى بالحق والصبر فهذا من أعظم الغنيمة وأنفعها

“Bergaul dengan teman ada dua macam :

1. Berkumpul untuk membiarkan tabiat dan menghabiskan waktu. Yang ini, mudhorotnya lebih besar daripada manfaatnya. Minimalnya hal ini akan merusak kalbu dan menyia-nyiakan waktu.

2. Berkumpul untuk saling menolong mencari sebab keselamatan serta saling berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran. Yang ini, termasuk di antara harta terbesar dan hal yang paling bermanfaat..”

( Al Fawaid – 71 )

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Dimanakah Kita..?

Setan akan berusaha bagaimana supaya si hamba lupa kepada kehidupan akhirat.

Oleh karena itu sebagian ulama ketika menafsirkan firman Allah tentang janji iblis –la‘anahullah-. Dimana iblis berkata:

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ ‎﴿١٦﴾‏ ثُمَّ لَآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ ‎﴿١٧﴾

“Iblis berkata, ‘Karena Engkau telah menyesatkan diriku, aku akan menggoda hamba-hambaMu dari jalanMu yang lurus. Kemudian aku akan datangi mereka dari arah depannya, belakangnya, kanan dan kirinya. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur..’ ” (QS. Al-A’rof: 16-17)

Sebagian ulama mengatakan makna “dari arah depannya”  yaitu dijadikan ia cinta dunia dan lupa kepada kehidupan akhiratnya. Sehingga kemudian ia pun tidak bersiap untuk akhirat dan kematiannya. Ia terkena godaan iblis la‘anahullah.

Maka dimanakah kita, saudaraku..?

Akankah terus habis waktu kita hanya untuk memikirkan dunia..? Kapankah kita mau mengingat Allah dan kehidupan akhirat..? Belumkah saatnya kita kembali kepada Allah..? Allah mengatakan:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ…

“Belumkah saatnya untuk orang-orang yang beriman agar hati mereka menjadi khusyuk dengan mengingat Allah ‘Azza wa Jalla..?” (QS. Al-Hadid: 16)

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ref : https://www.radiorodja.com/50797-khutbah-jumat-mengingat-kehidupan-akhirat/

 

Menebar Cahaya Sunnah