Betapa Kuatnya Ilmu Agama Tersebar Di Zaman Itu..!

Suatu ketika Imam Abu Ishaq Asy-Syirazi (w 476 H) ingin meninggalkan kota Baghdad, maka lewatlah beliau di sebuah jalanan kota itu.

Tiba-tiba ada seorang kuli pembawa sayuran mengatakan kepada temannya: “Pendapat Sahabat Ibnu ‘Abbas dalam masalah Istitsna’ itu tidak benar, karena kalau itu benar, tentunya Allah ta’ala tidak akan mengatakan kepada Nabi Ayyub -‘alaihissalam-:

وَخُذْ بِيَدِكَ ضِغْثًا فَاضْرِبْ بِهِ وَلَا تَحْنَثْ

‘Ambillah dengan tanganmu seikat rumput (alang-alang), lalu pukullah dengan itu, dan janganlah kamu melanggar sumpah..’ [QS. Shad: 44].

Akan tetapi harusnya Allah cukup mengatakan kepadanya: ‘lakukanlah istitsna’ (ucapan InsyaAllah)..! Sehingga dia tidak perlu melakukan cara seperti itu untuk menunaikan sumpahnya..”

Melihat pemandangan itu, Imam Abu Ishaq mengatakan kepada dirinya: “Negeri yang kuli pembawa sayurannya saja bisa membantah perkataan Sahabat Ibnu ‘Abbas, tidak pantas engkau keluar meninggalkannya..” [Al-Bahrul Muhith Liz Zarkasyi 4/382].

—–

Bisa dibayangkan, kalau kulinya saja seperti itu, bagaimana dengan para ulamanya..!

Diterjemahkan oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Janganlah Engkau Bersedih

Nabi Shallallaahu ‘alaihi Wasallam bersabda:

طوبى للغرباء” قيل: ومن الغرباء؟ قال: “ناس صالحون قليل في ناس سوء كثير من يعصيهم أكثر ممن يطيعهم”.

“Thuba bagi orang orang yang terasing.
Beliau ditanya, “Siapakah mereka..?”
Beliau bersabda, “Manusia yang shalih yang sedikit jumlahnya di tengah tengah manusia banyak yang buruk..”
(HR Ahmad)

Nabi Shallallaahu ‘alaihi Wasallam juga bersabda:

طوبى شجرة في الجنة مسيرة مائة عام ثياب أهل الجنة تخرج من أكمامها

“Thuba adalah sebuah pohon di surga, jaraknya 100 tahun. Pakaian penduduk surga berasal darinya..”
(HR Ibnu Hibban)

Janganlah engkau bersedih saat terasing dan diasingkan karena berpegang kepada sunnah…
Jangan merasa kesepian dengan sedikitnya orang yang meniti jalan kebenaran…

Sabarlah..
Dan kuatkan kesabaran…
Hingga bertemu dengan Nabi yang amat kita cintai..
Di telaganya kelak…

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Beberapa Jam Saja Untuk Membersihkan Dosa Selama 1 Tahun

Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyuro (10 Al Muharrom)..?

Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyuro akan menghapus dosa setahun yang lalu..” (HR. Muslim 1162)

Sebuah penawaran yang sangat menarik bagi kita yang berlumur dosa.. 1 tahun adalah waktu yang cukup lama dalam menumpuk dosa-dosa kecil¹ dan dapat kita putihkan dengan puasa beberapa jam saja.

Tidak heran jika sebagian ulama-ulama klasik kita (seperti Ibnu ‘Abbas, Abu Ishaq, Az Zuhri) berusaha berpuasa di tanggal 10 Al Muharrom walaupun mereka sedang safar, bukan mewajibkan namun semangat untuk meraih ampunan dan keutamaan.²

Imam Az Zuhri -rahimahullah- ditanya:
“(Mengapa) Anda berpuasa ‘Asyuro saat safar sedangkan saat Ramadhan anda berbuka (tidak berpuasa) ketika safar..?”

Maka beliau menjawab:
“Sesungguhnya (mengganti puasa) Ramadhan itu memiliki hari-hari yang lain, sedangkan ‘Asyuro akan lewat begitu saja (yaitu tidak bisa tergantikan)..”³

¹ Syarah Muslim Nawawi 4/179, Al Furuu’ 3/83
² Lathooiful Ma’aarif 53, At Tamhid 7/215
³ Siyar A’laamin Nubala’ 5/342

Ditulis oleh,
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri Lc, حفظه الله تعالى

Jadilah Seperti Cermin

Nabi Shollallaahu ‘alaihi Wasallam bersabda:

المؤمِنُ مرآةُ أخيهِ ، المؤمنُ أخو المؤمنِ يَكُفُّ عليهِ ضَيْعَتَه ويحوطُه مِن ورائِهِ

“Mukmin adalah cermin untuk saudaranya. Mukmin adalah saudara mukmin lainnya. Ia menjaga harta saudaranya dan menjaga kehormatannya dari belakangnya (saat gaib darinya)..” (HR Abu Dawud dan dihasankan oleh Syaikh Al Bani rohimahullah)

Itulah mukmin bagaikan cermin kepada saudaranya..

Bersikap jujur seadanya dan tidak bersikap pura pura di hadapannya..
Ia mengabarkan kepada saudaranya sesuai dengan kenyataannya..
Dan tidak membuka aib aibnya kepada orang lain..

Karena sebaik-baik teman adalah yang membenarkan kita saat benar..
Dan menasehati kita saat salah..
Bukan yang selalu mendukung kita baik benar maupun salah..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Ilmu Dan Kasih Sayang

Ilmu jika tidak disertai rahmat atau kasih sayang seringkali menimbulkan sikap arogan.. dan kasih sayang tanpa ilmu seringkali menimbulkan kerusakan.

Maka ilmu dan kasih sayang dua perkara yang hendaknya berjalan bersama.

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata:

وهكذا الرجل كُلَّما اتَّسع علمه اتَّسعت رحمته، وقد وسع ربنا كلَّ شيء رحمةً وعلمًا.

“Demikianlah seseorang.. semakin ilmunya luas maka semakin luas pula kasih sayangnya. Robb kita rahmat-Nya meluasi segala sesuatu..” (Ighotsatu Lahafan 2/251)

Allah sayang kepada hamba-hambaNya dengan cara menyelamatkan dari api neraka walaupun dengan kesusahan yang menimpa si hamba.

Maka kasih sayang kepada manusia yang paling besar adalah menyelamatkan mereka dari api neraka.. dengan menjelaskan kepada mereka tauhid dan syirik, bid’ah dan sunnah, halal dan haram.. dan ilmu-ilmu yang bermanfaat untuk kehidupan dunia dan akherat.

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

 

Menjadi Hamba Allah, Itulah KEMERDEKAAN Yang Hakiki Dan Tertinggi

Syeikh Al-‘Utsaimin rohimahullah mengatakan:

العبودية لله هي حقيقة الحرية، فمن لم يتعبد له، كان عابدا لغيره.

“Menjadi hamba Allah, itulah kemerdekaan yang hakiki, karena siapapun yang tidak menghamba kepada Allah, dia pasti menghamba kepada yang selain-Nya..” [Syarah Akidah Wasithiyyah, 365].

Ya, itulah kenyataannya.. manusia berada di antara dua pilihan, menjadi hambanya Allah atau menjadi hambanya yang lain.. tidak ada pilihan ketiga..!

Imam Ibnul Qoyyim rohimahullah dalam Nuniyyah-nya mengatakan:

هَربوا من الرق الذي خُلقوا له ♡ فبُلُوا برِقِّ النفس والشيطان

“Mereka lari dari penghambaan (kepada Allah) yang mereka diciptakan untuknya.. akhirnya mereka dihukum dengan penghambaan kepada hawa nafsu dan setan..”

Jika kita menghamba hanya kepada Allah, maka kita akan bebas dan merdeka dari penghambaan kepada semua makhluk-Nya .. dan itulah kemerdekaan tertinggi yang bisa dicapai oleh manusia.

Penulis,
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Siapa Saja Dari Ummat Islam Yang Bisa Dihadiahkan Pahala Sedekah..?

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rohimahullah pernah ditanya,

“apakah seseorang dibolehkan ber-shodaqoh dengan harta lalu (niat) menyertakan selainnya dalam pahala..?”

=======

Beliau rohimahullah menjawab :

”Sesorang dibolehkan ber-shodaqoh dengan niat untuk ayah, ibu dan saudaranya dan siapa saja yang dikehendaki (dari) ummat Islam. Karena pahala itu banyak. Sementara shodaqoh jika ikhlas karena Allah dan dari hasil yang halal, akan dilipat gandakan berlipat-lipat. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ   

(سورة البقرة: 261)

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui..” (QS. Al-Baqoroh: 261)

Dahulu Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam menyembelih satu kambing untuknya dan untuk keluarganya..”

(Fatawa Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rohimahullah, ref 18 / 249 )

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL
Sedekah Untuk Orangtua Yang Telah Wafat #1
Sedekah Untuk Orangtua Yang Telah Wafat #2
Menghadiahkan Pahala Sedekah Untuk Teman Karib Yang Sudah Meninggal

MUTIARA SALAF : Buktikan Imanmu Saat Ujian Datang Dengan Bersabar

Syaikh Al ‘Utsaimin -rohimahullah- mengatakan:

“Palsunya emas, tidak bisa diketahui kecuali jika kita lelehkan dengan api.

Wanginya gaharu, tidak bisa diketahui kecuali jika kita bakar dengan api.

Begitu pula seorang mukmin, tidak bisa diketahui (imannya) kecuali dengan ujian dan cobaan.

Maka saudaraku, bersabarlah..

Bisa jadi engkau diganggu karena agamamu.
Bisa jadi engkau dihina, bisa jadi engkau dicurigai, bisa jadi engkau diawasi.
Meski demikian, tetaplah bersabar dan teguh.

Lihatlah apa yang didapatkan oleh para Rosul yang berjuluk “Ulul Azmi” .. bersabarlah dan berharaplah pahala dari kesabaranmu.

Ketahuilah, bahwa ujian apapun yang menimpamu, maka puncaknya adalah kematian. Padahal jika engkau mati dalam keadaan bersabar karena Allah, maka sejatinya engkau telah berpindah dari suatu negeri ke negeri lain yang lebih baik darinya..”

[Tafsir Al Baqarah 3/41]

Penterjemah,
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Memakai Pakaian Yang Bagus Dan Tidak Jelek

Malik bin Nadhlah berkata:

“Aku mendatangi Rosulullah Shollallaahu ‘alaihi Wasallam dalam keadaan memakai baju yang jelek dan lusuh..

Beliau bersabda, “Apakah kamu memiliki harta..?”
“Punya..” jawabku.
Beliau bertanya lagi, “Harta apa..?”
Aku menjawab, “Semua harta telah Allah berikan kepadaku; unta, kuda, hamba sahaya dan kambing..”

Beliau bersabda,

إذا آتاك الله عز وجل مالا فلير عليك

“Apabila Allah memberimu harta, maka hendaklah terlihat pada dirimu..” (HR Ahmad dengan sanad yang shohih)

Namun bukan dengan memakai pakaian yang amat mahal karena itu termasuk pakaian syuhroh..
Akan tetapi pakaian yang bagus dan tidak jelek..
Sebagai rasa syukur kepada Allah atas pemberian-Nya..

Ibnul Jauzi rohimahullah berkata, “Salaf terdahulu memakai pakaian pertengahan; tidak terlalu mahal dan tidak jelek.. dan mereka memilih pakaian yang bagus khusus untuk sholat jum’at, hari raya dan bertemu dengan teman-teman..” (Al Muntaqo An Nafiis min Talbis Iblis hal. 256)

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Menebar Cahaya Sunnah