MUTIARA SALAF : Sesuatu Yang Terbaik Bagi Seseorang

Hubaib Al Jallab berkata, “Aku bertanya kepada Abdullah bin Mubarok tentang apakah sesuatu yang terbaik bagi seseorang..?”
Beliau menjawab, “Akal yang kuat..”

Aku berkata, “Jika ia tidak memiliki itu..?”
Beliau menjawab, “Adab yang bagus..”

Aku bertanya lagi, “Jika ia tidak punya..?”
Beliau menjawab, “Saudara yang baik yang bisa dimintai nasehatnya..”

Aku kembali bertanya, “Jika tidak..?”
Beliau menjawab, “Diam yang panjang..”

“Jika tidak..?” Tanyaku lagi.
Beliau menjawab, “Kematian yang segera..”

[ Siyar A’lam Nubala 8/397 ]

Penterjemah, 
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Puasa Sunnah Di Bulan Haram

Disunnahkan untuk memperbanyak puasa sunnah di bulan haram (mulia). Salah satunya kita bisa melakukan puasa sunnah mutlak.

Apa itu puasa sunnah mutlak..?

Puasa sunnah mutlak adalah puasa sunnah yang waktu pengerjaannya tidak terikat dengan waktu tertentu (selama bukan di hari dilarangnya untuk berpuasa). Adapun seperti puasa Arafah 9 Dzulhijjah, puasa Asyura 10 Al-Muharram, puasa Senin-Kamis, dan puasa yang lainnya tidak termasuk ke dalam puasa sunnah mutlak.

Dalilnya adalah keumuman dari hadist Abu Sa’id Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda;

مَنْ صَامَ يَوْمًا فِي سَبِيْلِ اللهِ بَعَّدَ اللهُ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِيْنَ خَرِيْفًا

“Barangsiapa melakukan puasa satu hari di jalan Allah (dalam melakukan ketaatan kepada Allah), maka Allah akan menjauhkannya dari neraka sejauh perjalanan 70 tahun..” (HR. Bukhari no. 2840)

Puasa sunnah mutlak ini bisa dilakukan baik di bulan haram (bulan Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Al-Muharram dan Rajab), maupun di bulan-bulan lainnya. Dan tidak ada niat khusus. Diniatkannya adalah puasa sunnah mutlak, bukan diniatkan karena ada kekhususan tertentu.

Khusus untuk berpuasa di hari Jum’at, Sabtu dan Ahad dimakruhkan jika dilakukan 1 hari sendiri, melainkan harus 2 hari berturut-turut, baik itu dengan tambahan 1 hari sebelumnya atau 1 hari setelahnya. Misalnya, Kamis dan Jumat atau Jumat dan Sabtu atau Sabtu dan Ahad atau Ahad dan Senin.¹

Maksimalkanlah ibadah di bulan haram (mulia). Dan bulan Dzulqa’dah adalah 1 dari 4 bulan haram (mulia). Yang mana amal ibadah yang dilakukan di bulan ini pahalanya akan dilipatgandakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sebagaimana perbuatan buruk pun juga akan dilipatgandakan dosanya.

Maka puasa sunnah mutlak atau puasa-puasa sunnah seperti puasa Senin-Kamis, Ayyamul biidh, puasa Nabi Daud -‘alaihissalam, begitu juga dengan amalan-amalan lainnya yang dilakukan di 4 bulan haram, pahalanya akan dilipatgandakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala..

Selamat beramal shalih di bulan Dzulqa’dah
1 dari 4 bulan haram (mulia)..

Ditulis oleh,
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri Lc, حفظه الله تعالى

¹ Lihat: Minhaj Ath-Thalibin dan Majmu’ Syarh Muhadzab karya Al-Imam An-Nawawi Rahimahullah

 

Memaafkan Kesalahan Anak, Istri, Orangtua

Abdullah bin ‘Umar -rodhiallohu ‘anhumaa- mengatakan:

Ada seseorang yang mendatangi Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-, dia mengatakan: “Wahai Rosululloh, berapa kali kita sebaiknya mengampuni pelayan (budak) kita..?”

Maka beliau diam, lalu orang itu mengulangi lagi perkataannya, dan beliau diam lagi (tidak menjawab).

Kemudian ketika orang itu mengulangi perkataannya untuk yang ketiga kali, beliau menjawab: “Ampunilah dia 70 kali pada setiap harinya..!”

[HR. Abu Dawud, dishohihkan oleh Syeikh Albani dalam Silsilah Shohihah: 488]

———

Subhanallah… Yang ditanyakan dalam hadits ini adalah tentang BUDAK alias hamba-sahaya… lalu berapa kali kita diperintahkan untuk mengampuni kesalahan anak kita, atau istri kita, atau bahkan kedua orang tua kita terutama ketika mereka sudah lanjut usia..?!

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

ref : https://bbg-alilmu.com/archives/11534

ARTIKEL TERKAIT
Kumpulan HADITS

Dianak-Tirikan

Ia adalah bulan mulia…
Bulan ibadah…
Bulan yang memiliki 2 gelar:

1. Bulan Haji

ALLAH ta’ala berfirman:

ٱلْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومات

Musim haji jatuh pada beberapa bulan yang telah diketahui (Syawwal, Dzul Qa’dah, 10 hari pertama Dzul Hijjah).”
(Al Baqarah: 197)

2. Bulan Haram

Bulan dimana DOSA dilipatgandakan, sebagaimana PAHALA setiap tetesan keringat dan langkah kebajikan dilipatgandakan.

ALLAH ta’ala berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمٰوٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram/mulia (Dzul Qa’dah, Dzul hijjah, Al Muharram, dan Rajab).” (At Taubah: 36)

Namun…
Bulan ini cenderung dilupakan.
Jarang terlihat penyambutan dan jamuan.

Jangankan menyambut kedatangannya, banyak dari kita tidak sadar bahwa ia telah bertamu dalam kehidupan kita.

Saudaraku,
Kita telah berada di bulan Dzul Qa’dah .
Lumbung dari pahala dan mimpi buruk bagi setiap dosa.

Maksimalkanlah…
Perlakukanlah dia dengan semestinya dan jangan sampai kita “menganak-tirikan”-nya.

(Tafsir Ath Thabari dan Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Baqarah: 197 dan Surat At Taubah: 36)

Ditulis oleh,
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri Lc,  حفظه الله تعالى

ref : https://bbg-alilmu.com/archives/29407

 

Berkata Dalam Agama Allah Tanpa Ilmu

Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَن تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Katakanlah : “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) berkata terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui..” (Al-A’raf – 33)

Dalam ayat ini..
Allah menyebutkan perkara perkara yang Allah haramkan..
Dimulai dari yang terkecil yaitu fahisyah, lalu berbuat dosa, lalu berbuat kezaliman, lalu syirik..

Lalu Allah menutup ayat itu dengan firman-Nya: berkata terhadap Allah apa yang kamu tidak ketahui..
Karena berkata tanpa ilmu adalah sumber berbagai macam kesesatan..
Munculnya kesyirikan, bid’ah, zalim, dan dihalalkannya maksiat adalah akibat berkata tanpa ilmu..
Maka menuntutlah ilmu dahulu sebelum pandai berbicara dan berkomentar..
Karena semua itu akan dimintai pertanggung jawabannya di hari kiamat kelak..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Kerinduan Orangtua

Kita -sebagai orang tua-sering rindu kepada anak kita, ingin melihatnya, ingin memeluknya, ingin ngobrol dengannya. Betapa bahagianya kita tatkala melihat tawa anak kita.

Begitu pula ibu dan ayah kita, bisa jadi di masa tua mereka rindu kepada kita, maka janganlah kita baru menjenguk mereka atau menelpon mereka jika kita yang rindu. Kerinduan mereka kepada kita tidak harus menunggu kerinduan kita kepada mereka. Apalagi kita sering sibuk sehingga kerinduan terhadap mereka
terlupakan dan terabaikan.

Terlebih lagi orang tua malu untuk menyatakan kerinduannya kepada kita.

Kapan lagi..? Mumpung mereka masih bisa melihat tawa kita.

Waktu untuk kesibukan kita belum tentu sepanjang umur orang tua kita.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

ref : https://bbg-alilmu.com/archives/16683

MUTIARA SALAF : Berlindung Dari Kesedihan

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata:

” *والمقصود أن النبي ﷺ جعل الحزن مما يستعاذ منه ، وذلك لأن الحزن يُضعف القلب ، ويُوهن العزم ، ويضر الإرادة ، و لا شيء أحبّ إلى الشيطان من حزن المؤمن، قال تعالى { إنما النجوى من الشيطان ليحزن الذين آمنوا .. }*”.

“Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam berlindung dari kesedihan karena kesedihan melemahkan hati, melemahkan semangat, dan membahayakan keinginan.. dan tidak ada sesuatu yang paling disukai oleh setan dari membuat sedih seorang mukmin. Allah berfirman, “Sesungguhnya najwa (berbisik-bisik tersebut) berasal dari setan agar membuat sedih kaum mukminin..”

(Thoriqul Hijrotain 2/607)

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Menebar Cahaya Sunnah