#COVID_19 : Menunggu Jalan Keluar
Ibnu Rojab rohimahullah berkata,
“Menunggu jalan keluar adalah suatu ibadah, karena sesungguhnya bala bencana tidaklah terus-menerus.”
[ Majmu’ur Rasail Ibnu Rajab 3/155 ]
JANGAN LEWATKAN YANG BERIKUT INI:
Kumpulan Artikel Terkait Covid-19
Mengapa Kamu Melakukan Itu..?
Tahukah anda..
Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bila melihat seorang shahabat melakukan kesalahan..
Beliau bertanya, “Apa yang membuatmu melakukan itu..”
Seperti dalam kisah Mu’adz bin Jabal yang pulang dari Syam..
Lalu sujud kepada Rosulullah..
Padahal sujud kepada manusia adalah syirik besar..
Seperti dalam kisah Hathib bin Abi Balta’ah yang hendak membocorkan rahasia Allah dan RosulNya..
Padahal itu adalah pengkhianatan..
Namun..
Apakah Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam langsung memvonisnya sesat…
Tidak..
Sekali-sekali tidak..
Beliau bertanya dahulu, “Apa yang membuatmu melakukan itu…”
Barangkali ia tidak tahu..
Barangkali ia mempunyai alasan..
Subhanallah..
Tidak demikian di zaman ini..
Sebatas melihat saudaranya melakukan perbuatan yang ia anggap salah..
Segera vonis dilancarkan..
Fulan sesat..
Fulan hizbiy..
Fulan sururi..
Lalu segera ia menjauhinya..
Tak ada lagi ucapan salam untuknya..
Subhaanallah..
Telah hilang kasih sayang di hati kita..
seakan..
Bila ia telah berhasil memvonis saudaranya..
Ia telah membela islam dan sunnah..
Sementara setan menyeringai gembira..
Karena ia telah membantunya untuk menyesatkan manusia..
Saudaraku..
Tidakkah kita takut bila vonis itu kembali kepada diri kita..
Bukankah salah dalam memaafkan lebih baik dari pada salah dalam memberikan sanksi..
Iya.. Demi Allah..
Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
WAG Al Fawaid
#COVID_19 : Renungan Ayat – 3
Allah Ta’ala berfirman tentang nabi Yusuf ‘alayhis salam:
وَقَالَ لِلَّذِي ظَنَّ أَنَّهُ نَاجٍ مِّنْهُمَا اذْكُرْنِي عِندَ رَبِّكَ فَأَنسَاهُ الشَّيْطَانُ ذِكْرَ رَبِّهِ فَلَبِثَ فِي السِّجْنِ بِضْعَ سِنِينَ
“Dan Yusuf berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat diantara mereka berdua: “Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu”. Maka syaitan menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Karena itu tetaplah dia (Yusuf) dalam penjara beberapa tahun lamanya” (Yusuf:42)
Lihatlah…
Nabi Yusuf berkata kepadanya, “Terangkan keadaanku kepada tuanmu.”
Akibatnya apa ?
Setan menjadikannya lupa..
Sehingga Nabi Yusuf tinggal di penjara beberapa tahun lamanya…
Kalaulah beliau meminta kepada Allah saat itu…
Pasti Allah akan segera mengijabah…
Ibnu Jarir Ath Thobari berkata:
وهذا خبرٌ من الله جل ثناؤه عن غفلة عَرَضت ليوسف من قبل الشيطان، نسي لها ذكر ربه الذي لو به استغاث لأسرع بما هو فيه خلاصه ، ولكنه زلَّ بها فأطال من أجلها في السجن حبسَه، وأوجع لها عقوبته
“Ini adalah kabar dari Allah tentang kelalaian nabi Yusuf yang berasal dari setan. Beliau lupa untuk mengingat Allah yang seandainya beliau meminta tolong kepada Allah, pasti Allah segera membebaskannya. Namun beliau tergelincir sehingga beliau menjadi lama di penjara dan sanksi menjadi terasa berat.”
(Tafsir Thobari)
Terkadang…
Saat kita terkena musibah. Kita berharap bantuan manusia dan lupa kepada Allah…
Akibatnya Allah tidak mempedulikan kita…
Ya Rabb..
Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
ARTIKEL TERKAIT
Renungan Ayat – 2
JANGAN LEWATKAN YANG BERIKUT INI:
Kumpulan Artikel Terkait Covid-19
Renungan Ayat – 2
Allah Ta’ala berfirman tentang munafikin:
وَلَوْ أَرَادُوا۟ ٱلْخُرُوجَ لَأَعَدُّوا۟ لَهُۥ عُدَّةً وَلَٰكِن كَرِهَ ٱللَّهُ ٱنۢبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيلَ ٱقْعُدُوا۟ مَعَ ٱلْقَٰعِدِينَ
“Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka. dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu” (Attaubah: 46)
Sungguh ini adalah ayat yang membuat merinding dan khawatir…
Lihatlah..
Allah tidak menyukai keberangkatan mereka kaum munafikin kepada kebaikan..
Maka Allah melemahkan keinginan mereka kepada kebaikan tersebut..
Saat hati kita dijadikan lemah menuju kebaikan..
Mau berangkat ke masjid malas..
Mau berangkat menuntut ilmu malas..
Berarti apa ?
Artinya di hati kita ada penyakit..
Semua pasti akibat maksiat..
Maka segeralah bertaubat dan meminta ampun kepada Allah
Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
ARTIKEL TERKAIT
Renungan Ayat – 1
Renungan Ayat – 1
Saat membaca Al Maidah, terhenti pada ayat ini
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَيَبْلُوَنَّكُمُ اللَّهُ بِشَيْءٍ مِّنَ الصَّيْدِ تَنَالُهُ أَيْدِيكُمْ وَرِمَاحُكُمْ لِيَعْلَمَ اللَّهُ مَن يَخَافُهُ بِالْغَيْبِ ۚ فَمَنِ اعْتَدَىٰ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan sesuatu dari binatang buruan yang mudah didapat oleh tangan dan tombakmu supaya Allah mengetahui orang yang takut kepada-Nya, biarpun ia tidak dapat melihat-Nya. Barang siapa yang melanggar batas sesudah itu, maka baginya azab yang pedih.” (Almaidah:94)
Allah menguji para shahabat dengan hewan buruan yang mudah ditangkap saat berihram…
Di zaman ini pun kita diuji dengan maksiat yang dekat dan mudah didapat yaitu dalam handphone…
Supaya Allah mengetahui orang yang takut kepada-nya..
Tapi..
Saat kita sendiri sering tidak takut kepada-Nya..
Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
WAG Al Fawaid
Tentang Mengucapkan ‘Do’a Kafaratul Majelis’ Setelah Membaca Al Qur’an
Pertanyaan :
Ust, tersebar di medsos bahwa dzikir setelah membaca al qur’an itu sama dengan do’a kafarat majelis yaitu subhanakallahumma wabihamdika asyhadu an laa ilaaha illaa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika. Apakah benar demikian ? Terima kasih atas jawabannya.
Jawab :
memang ada hadits yang menunjukkan demikian, yaitu hadits Aisyah
عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ : مَا جَلَسَ رَسُولُ اللهِ مَجْلِسًا قَطُّ، وَلاَ تَلاَ قُرْآناً، وَلاَ صَلَّى صَلاَةً إِلاَّ خَتَمَ ذَلِكَ بِكَلِمَاتٍ، قَالَتْ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَرَاكَ مَا تَجْلِسُ مَجْلِساً، وَلاَ تَتْلُو قُرْآنًا، وَلاَ تُصَلِّي صَلاَةً إِلاَّ خَتَمْتَ بِهَؤُلاَءِ الْكَلِمَاتِ ؟
قَالَ: (( نَعَمْ، مَنْ قَالَ خَيْراً خُتِمَ لَهُ طَابَعٌ عَلَى ذَلِكَ الْخَيْرِ، وَمَنْ قَالَ شَرّاً كُنَّ لَهُ كَفَّارَةً: سُبْحَانَكَ [اللَّهُمَّ] وَبِحَمْدِكَ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ ))
Dari Aisyah ia berkata, “Tidaklah Nabi duduk di majelis tidak pula membaca al qur’an dan tidak pula sholat kecuali menutupnya dengan kalimat kalimat tersebut.
Aku berkata, “Wahai Rosulullah, aku melihatmu tidaklah duduk di suatu majelis, tidak juga membaca al qur’an dan tidak juga sholat kecuali engkau tutup dengan kalimat tersebut ?”
Beliau bersabda, “Iya, siapa yang berkata baik akan ditutup dengan stempel kebaikan, dan siapa yang berkata buruk, akan menjadi penghapus dosanya. Yaitu subhaanakallahumma wabihamdika asyhadu an laa ilaaha illaa anta astaghfiruka wa atuubu ilayka.”
(HR An Nasai).
Namun bila kita kumpulkan semua jalan dan matannya, tampak kepada kita bahwa lafadz: “tidak pula membaca al qur’an” bersendirian dalam menyebutkannya seorang perawi yang bernama Khollaad bin Sulaiman. Sementara perawi lainnya tidak menyebutkannya. Dan hadits diriwayatkan oleh 15 shahabat namun TIDAK ADA lafadz: “tidak pula membaca al qur’an”
Dan Khollaad ini walaupun dianggap tsiqoh namun ia bukan perawi yang masyhur dengan itqon. Sehingga bersendiriannya ini tidak bisa dianggap sebagai tambahan perawi yang tsiqoh.
Yang masyhur adalah bahwa dzikir tersebut sebagai do’a kafarat majelis. Maka jika kita setelah membaca al qur’an langsung pergi meninggalkan majelis, disunnahkan membaca do’a kafarat majelis tersebut. Adapun jika setelah membaca al qur’an kita masih duduk di majelis, maka tidak disyari’atkan. Yang menunjukkan kepada ini adalah hadits ibnu Mas’ud rodliallahu ‘anhu ia berkata:
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam menyuruhku: “Bacakan Al-Quran untuk aku dengar.”
“Ya Rasulullah, apakah aku boleh membaca Al-Quran di hadapan Anda, padahal Al-Quran itu diturunkan kepada Anda ?” tanyaku.
“Ya, tidak masalah.”
Akupun membaca surat An-Nisa. Ketika sampai pada ayat,
فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ، وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلاَءِ شَهِيدًا
Bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (Rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu). (QS. An-Nisa: 41)
Seketika sampai di ayat ini, Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Cukup..cukup.”
Saya melihat beliau, ternyata beliau berlinangan air mata.” (HR. Bukhari 5050 dan Muslim 800)
Di dalam hadits tersebut, Setelah membaca al qur’an beliau tidak beranjak dari majelis. Beliau tidak membaca do’a kafarat majelis tersebut. Beliau hanya berkata: “cukup.. cukup..”
Jadi dzikir : subhanakallahumma wabihamdika.. Dst adalah do’a kafarat majelisnya. Bukan do’a setelah membaca alqur’an.
Wallahu a’lam
Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
Tentang Mengucapkan “Shodaqollahul ‘Azhiim” Setelah Membaca Al Qur’an…
Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
ARTIKEL TERKAIT
Tanya-Jawab Seputar Ramadhan…
Ikuti terus channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih
EDISI – 10 Ramadhan 1441 / 2020 M
Larangan Menghina Dengan Nama Binatang
Sa’id bin Al Musayyab rohimahullah berkata :
لَا تَقُلْ لِصَاحِبِكَ: يَا حِمَارُ، يَا كَلْبُ، يَا خِنْزِيرُ. فَيَقُولَ لَكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: أَتُرَانِي خُلِقْتُ كَلْبًا أَوْ حِمَارًا أَوْ خِنْزِيرًا؟
“Jangan engkau berkata kepada temanmu ‘wahai keledai‘, ‘wahai anjing‘, ‘wahai babi‘. Sehingga kelak di hari kiamat engkau akan ditanya: ’apakah engkau melihat aku diciptakan sebagai anjing atau keledai atau babi ?’”
[ Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf 5/282 ]
Ustadz DR. Sufyan Baswedan MA, حفظه الله تعالى.

