Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى
ARTIKEL TERKAIT
Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى
ARTIKEL TERKAIT
Dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhu, Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
Sesungguhnya Allah menulis kebaikan-kebaikan dan kesalahan-kesalahan kemudian menjelaskannya.
– Barangsiapa berniat melakukan kebaikan namun dia tidak (jadi) melakukannya, Allah tetap menuliskanya sebagai satu kebaikan sempurna di sisi-Nya.
– Jika ia berniat berbuat kebaikan kemudian mengerjakannya, maka Allah menulisnya di sisi-Nya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat sampai kelipatan yang banyak.
– Barangsiapa berniat berbuat buruk namun dia tidak jadi melakukannya, maka Allah menulisnya di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna.
– Dan barangsiapa berniat berbuat kesalahan kemudian mengerjakannya, maka Allah menuliskannya sebagai satu kesalahan.
(HR. al-Bukhari no. 6491)
======
● Imam Nawawi rohimahullah mengatakan,
Wahai saudaraku .. semoga Allah memberikan petunjuk kepada kita semua.
Lihatlah betapa sempurna kelemahlembutan Allah ‘Azza wa Jalla..! Renungilah untaian kalimat-kalimat ini.
– Sabda beliau : عِنْدَهُ (di sisi-Nya) mengisyaratkan perhatian Allah terhadap amalan hamba.
– Kata : كَامِلَةً (kaamilah/sempurna) berfungsi sebagai penegas dan menunjukkan perhatian Allah yang besar terhadapnya.
Kemudian beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang keburukan yang diniatkan oleh seorang hamba namun ditinggalkannya : كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً (Maka Allah ‘Azza wa Jalla mencatatnya sebagai satu kebaikan sempurna). Beliau menguatnya dengan kata “kaamilah” (sempurna).
Sedangkan jika ia tetap melakukan keburukan itu, maka Allah mencatatnya sebagai satu keburukan. Di sini, kecilnya balasan dikuatkan dengan kata “waahidah” (satu) bukan dengan kata “kaamilah”.
(Kitaabul Arba’în an-Nawawiyyah hlm. 106)
● Syaikh al-‘Utsaimin rohimahullah berkata,
“Yang disyariatkan ketika selesai sholat adalah membaca dzikir yang sudah dikenal, kemudian bila anda selesai berdzikir silahkan bertakbir.
Begitu pula disyariatkan supaya orang-orang tidak bertakbir bersama, akan tetapi SETIAP ORANG BERTAKBIR SENDIRI-SENDIRI.
Inilah yang disyariatkan sebagaimana di hadits Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu, mereka bersama Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam saat haji, diantara mereka ada yang mengeraskan bacaan talbiyah, sebagian lagi bertakbir, mereka tidak dalam satu bentuk..”
(Majmu’ Fatawa wa Rosail 16/261)
PERTANYAAN :
● Syaikh Khalid Al-Musyaiqih hafizhohullah ditanya,
ومتى يكبر ؟ هل يكبر بعد السلام مباشرة أو عقب الذكر ؟
نقول يكبر بعد الاستغفار وقول : ( اللهم أنت السلام ومنك السلام تباركت يا ذا الجلال والإكرام ) ، فيستغفر الله ثلاثاً ثم يقول : ( اللهم أنت السلام ومنك السلام تباركت يا ذا الجلال والإكرام ) ثم يشرع في التكبير ، يكبر ما شاء الله عز وجل ثم بعد ذلك يعود لأذكاره
Kapan mulai takbir setelah sholat..? Apakah langsung bertakbir persis setelah salam ataukah setelah Dzikir..?
JAWAB :
Kami katakan, sebaiknya bertakbir setelah istighfar dan membaca,
اللهم أنت السلام ومنك السلام تباركت يا ذا الجلال والإكرام
Hendaknya dia :
– istighfar 3 kali (Astaghfirullah .. astaghfirullah .. astaghfirullah)
– kemudian membaca dzikir di atas (Allaahumma antas salaam wa minkas salaam tabaarokta yaa Dzal Jalaali wal ikroom),
– setelah itu mulai bertakbir.
Dia bisa bertakbir dengan jumlah bebas, kemudian kembali berdzikir lagi.
Wallaahu ta’ala a’lam
(*) Syaikh Prof Dr. Khalid Al-Musyaiqih hafizhohullah adalah dosen Fakultas Syariah di Universitas Muhammad bin Suud KSA. Beliau merupakan murid Imam Ibnu Baz dan Imam Ibnu Utsaimin, rohimahumallah.
ref : https://konsultasisyariah.com/8570-takbiran-dulu-atau-dzikir-dulu.html


simak penjelasan Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى berikut ini :
Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,
“Sungguh ada seorang hamba yang menurut pandangan orang banyak mengamalkan amalan penghuni surga, namun berakhir menjadi penghuni neraka. Sebaliknya ada seorang hamba yang menurut pandangan orang melakukan amalan-amalan penduduk neraka, namun berakhir dengan menjadi penghuni surga. Sungguh amalan itu dilihat dari akhirnya..”
[ HR. Al Bukhari no. 6493 ]
KAMIS – 06 DZULHIJJAH – 13 JUNI
sekarang kita telah melewati separuh dari 10 hari terbaik.
untuk mereka yang giat beribadah sejak hari pertama Dzulhijjah, jangan lengah.. justru inilah saatnya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah, kenapa demikian..?! karena setiap amalan tergantung pada akhirnya.
dan untuk mereka yang baru serius ibadah, jangan pula bersedih dan kecil hati.. karena, sekali lagi, setiap amalan tergantung pada akhirnya.. masih ada kesempatan di hari ini tanggal 6 dzulhijjah, lalu besok tanggal 7, 8, 9 dan 10 insyaa Allah.
as the saying goes.. it’s not how you start, it’s how you finish..
Imam Ibnul Qoyyim (w. 751 h) rohimahullahu ta’ala berkata,
فهذه ست صفات في الصلاة من علامات النفاق :
1. الكسل عند القيام إليها
2. ومراءاة الناس في فعلها
3. وتأخيرها
4. ونقرها
5. وقلة ذكر الله فيها
6. والتخلف عن جماعتها
Ini adalah enam sifat dalam sholat yang merupakan tanda kemunafikan,
1. Tidak bersemangat dan malas untuk mengerjakannya,
2. Ingin dilihat manusia saat mengerjakannya,
3. Menunda-nunda waktunya,
4. Tidak khusyuk dalam mengerjakannya,
5. Sedikit mengingat Allah dalam sholatnya.
6. Sengaja berlambat-lambat dari sholat berjama’ah (di masjid, bagi laki-laki).
(ash-Sholah wa Hukmu Tarikiho – 1/173)
Ka’ab Al Ahbaar (w. 32 h) rohimahullahu Ta’ala mengatakan,
” اختار الله عز وجل البلاد ، فأحب البلدان إلى الله عز وجل البلد الحرام ، واختار الله الزمان فأحب الزمان إلى الله الأشهر الحرم ، وأحب الأشهر إلى الله ذو الحجة ، وأحب ذي الحجة إلى الله تعالى العشر الأول منه “.
Allah ‘Azza wa Jalla telah memilih negeri-negeri, maka negeri yang paling Allah cintai adalah negeri haram (Makkah),
Dan Allah pun memilih waktu, maka waktu yang paling Allah cintai adalah bulan-bulan haram.
Dan bulan yang paling Allah cintai adalah bulan dzulhijjah, sementara hari-hari di bulan dzulhijjah yang paling Allah cintai adalah sepuluh hari pertama di bulan tersebut.
(Syu’abul Iman 5/302-303)
simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini :
● Ibnul Mubarok (w.181 h) rohimahullah Ta’ala berkata,
العجب: أن ترى عندك شيئا ليس عند غيرك و لا أعلم فى المصلين شيئا شرا من العجب.
Penyakit ujub ialah ketika kamu menganggap bahwa dirimu memiliki sesuatu kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain.
Dan aku tidak mengetahui sesuatu bagi orang-orang yang banyak sholatnya yang lebih berbahaya dari sifat ujub.
(Siyar A’lamin Nubala – 8/hal. 429)
● Al-Imam Asy-Syafi’i (w. 204 h) rohimahullah Ta’ala berkata,
إذا خفت على عملك العجب فاذكر رضى من تطلب و فى أي نعيم ترغب و من أي عقاب ترهب و من فكر ذلك صغر عنده عمله.
Bila kamu khawatir penyakit ujub pada amalanmu, maka ingatlah :
– keridhoan siapa yang kamu cari,
– kenikmatan seperti apa yang kamu harapkan,
– siksa seperti apa yang kamu lari darinya.
Maka siapa yang mengingat hal tersebut niscaya dia akan menganggap kecil amalannya.
(Siyar A’lamin Nubala – 10/hal. 42)