Lebih Dicintai Allah

Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rohimahullahu ta’ala berkata,

والعمل الصالح متنوع : قرآن، ذكر، تسبيح، تحميد، تكبير، أمر بالمعروف، ونهي عن منكر، صلاة، صدقات، بر بالوالدين، صلة للأرحام؛ والأعمال الصالحة لا تحصى.

Amalan kebaikan itu beragam macam bentuknya, apakah :
– membaca al-Qur’an,
– berdzikir,
– mengucapkan subhaanallah, Allahu Akbar,
– mengajak kepada kebaikan,
– melarang dari kemungkaran,
– menunaikan sholat,
– bersedekah,
– berbakti kepada kedua orangtua,
– menyambung hubungan silaturahiim,

maka amalan kebaikan tidak terbatas jumlahnya.

إذا تصدقتَ بدرهم في هذه العشر ، وتصدقتَ بدرهم في عشر رمضان ، فأيهما أحب إلى الله؟
الصدقة في عشر ذي الحجة أحب إلى الله من الصدقة في عشر رمضان.

Namun, apabila engkau bersedekah
senilai satu dirham pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah ini, lalu engkau bersedekah dengan satu dirham di sepuluh hari terakhir Ramadhan, maka manakah dari keduanya yang paling dicintai Allah..?

Sedekah di sepuluh hari pertama Dzulhijjah itu yang lebih dicintai Allah dari bersedekah pada sepuluh hari terakhir Ramadhan.

(al-Liqo’ Asy-Syahri – jilid: 2/hal. 10)

Tentang Puasa Di 9 Hari Awal Dzulhijjah

➡️ APAKAH BOLEH PUASA TERUS DARI TANGGAL 1 S/D 9..?

Boleh.

➡️ APAKAH BOLEH BERPUASA HANYA DI SEBAGIAN HARINYA SAJA..?

Boleh asalkan jangan tinggalkan puasa Arofah di tanggal 9 nya (maksudnya 9 Dzulhijjah).

➡️ MENGAPA DEMIKIAN..?

Karena ada 2 hadits terkait puasa dan tidaknya Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam di 9 hari pertama Dzulhijjah.

Terkait hal tsb, Imam Ahmad bin Hambal rohimahullah menjelaskan bahwa,

“..maksud riwayat ‘Aisyah adalah Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam tidak berpuasa penuh selama sepuluh hari Dzulhijah.. Sedangkan maksud riwayat Hafshoh adalah Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam berpuasa di mayoritas hari yang ada.

Jadi, hendaklah berpuasa di sebagian hari dan berbuka di sebagian hari lainnya..”

[ Latho-if Al Ma’arif, hal. 459-460 ]

Allahu a’lam

ref : https://muslim.or.id/1625-amalan-sholih-di-awal-dzulhijah-dan-puasa-arofah.html

Jangan Tinggalkan Sholat Malam

● Sahabat mulia Abu ad-Darda’ – ‘Uwaimir bin Malik, 32H- rodhiyallahu ‘anhu berkata,

صلوا ركعتين في ظلم الليل لظلمة القبور

“Sholatlah (walaupun hanya) dua roka‘at di tengah kegelapan malam, agar kelak menjadi cahaya yang akan menerangi kegelapan di alam kubur kalian nanti..”

(Jami‘ul ‘Ulum wal Hikam – syarah hadits no. 23)

● Allah subhanahu wa ta‘ala memuji orang-orang yang sholat malam dalam firmanNya,

كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah)..” [Adz-Dzaariyaat: 17-18]

● Allah subhanahu wa ta‘ala juga berfirman,

تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُون

َ“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdo’a kepada Robb-nya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyenangkan hati sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan..” [As-Sajdah:16-17]

● Ibnul Qoyyim rohimahullah mengatakan,

“Coba renungkanlah bagaimana Allah membalas sholat malam yang mereka sembunyikan ketika mengerjakannya dengan balasan yang Allah sembunyikan pula bagi mereka, yakni (dengan balasan) yang tidak diketahui oleh semua jiwa.

Juga bagaimana Allah membalas rasa gelisah, takut dan gundah gulana mereka di atas tempat tidur saat bangun untuk melakukan sholat malam dengan kesenangan jiwa di dalam Surga..”

(Haadil Arwaah Ilaa Bilaad Afraah oleh Ibnul Qoyyim hal.278)

Kisah Sekelompok Jin Yang Mendapatkan Hidayah Setelah Mendengarkan Al Qur’an

Pembahasan Kitab At Tibyaan Fii Syarh Akhlaaqi Hamalatil Qur’an (karya Imam Al-Ajurri rohimahullah) oleh Syaikh Prof Dr. ‘Abdurrozzaq bin ‘Abdil Muhsin Al Badr hafizhohullah.

“Penulis kitab ini (Imam Al-Ajurri) rohimahullah menyebutkan permisalan yang sangat agung tentang pentingnya kita mendengarkan Al-Qur’an dengan baik, dan bagaimana mendengarkan Al-Qur’an dengan baik itu bisa membuka bagi seorang hamba -dengan izin Allah ‘Azza wa Jalla- pintu hidayah dan kemuliaan di dunia dan di akhirat.

Beliau menyebutkan kisah sekelompok jin yang dihadapkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla kepada Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam agar mereka mendengarkan Al-Qur’an. Dan Nabi kita shollallahu ‘alaihi wa sallam diutus untuk jin dan manusia.

Adapun dakwah Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam kepada manusia maka perkaranya jelas karena Nabi kita shollallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi kaumnya di perkumpulan-perkumpulan mereka, di rumah-rumah mereka dan mengajak mereka kepada agama Allah ‘Azza wa Jalla.

Adapun jin, maka mereka adalah makhluk yang lain yang mereka bisa melihat manusia namun manusia tidak bisa melihat mereka. Oleh karena itu ketika Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada jin dan manusia Allah Subhanahu wa Ta’ala menyiapkan dan memudahkan bagi Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyampaikan dakwahnya kepada jin.

Maka dihadapkanlah sekelompok jin yang mendengarkan Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam membaca Al-Qur’an dan mendengarkan ucapan Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mereka kembali menjadi utusan dan da’i dikaum mereka sebagaimana disebutkan dalam ayat.

Dan jika kita memperhatikan kejadian ini, maka kita bisa mendapati bahwasanya sekelompok jin tersebut mereka hanya mendengarkan Al-Qur’an sebentar saja. Namun mereka mendengarkan Al-Qur’an dengan baik sehingga mereka bisa mengambil manfaat dan memberi manfaat kepada yang lain.

Namun yang sangat disayangkan betapa banyak manusia yang mendengarkan Al-Qur’an namun mereka tidak bisa mendengarkan dengan baik dan mereka tidak bisa merenungi dan memahami ayat-ayat Al-Qur’an tersebut dengan baik.

Dan sekelompok jin tersebut mereka dalam suatu majelis saja mendengarkan Al-Qur’an dengan baik sehingga amal mereka yang sangat agung disebutkan dalam Al-Qur’an dan mereka berubah menjadi para da’i yang mengajak kepada Allah ‘Azza wa Jalla, mengajak kepada Tauhid..”

ref : https://www.radiorodja.com/48166-mendengarkan-al-quran-dengan-baik-membuka-pintu-hidayah/

Terhapusnya Amal Kebaikan Akibat Ghibah

Seorang ‘alim Ulama pada zaman Tabi’in Sa’id bin Jubair rohimahullah, beliau berkata,

يؤتى بالعبد يوم القيامة فيدفع له كتابه، فلا يرى فيه صلاته ولا صيامه، ويرى أعماله الصالحة؛ فيقول: يا رب هذا كتاب غيري، كانت لي حسنات ليس في هذا الكتاب فيقال له، إن ربك لا يضل ولا ينسى، ذهب عملك باغتيابك الناس.

Seorang hamba akan didatangkan pada hari kiamat, kemudian diberikan catatan amal perbuatannya, dan dia tidak mendapati ibadah sholat dan puasa padanya, sedangkan dia mengetahui amal sholihnya, maka ia pun berkata,

“Wahai Robbku, ini bukanlah catatan amalanku, karena aku memiliki kebaikan yang tidak tercatat di dalamnya..”

Maka dikatakan kepadanya, “Sesungguhnya Robbmu tidak mungkin salah dan lupa..!  Amalan perbuatanmu telah lenyap karena engkau menggunjing orang lain..”

(Bahrud Dumu’ – hal.233)

Berhutang Untuk Membeli Hewan Qurban

Fatwa Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rohimahullah.

PERTANYAAN

Apakah dianjurkan bagi orang fakir (yang tidak berharta) untuk berhutang agar ia dapat menyembelih hewan qurban..?

JAWABAN

Seorang fakir yang tidak memiliki sesuatu dari hartanya ketika hari raya ‘iedul adha akan tetapi dia berharap akan mendapatkannya dalam waktu dekat, seperti seseorang mempunyai gaji bulanan, atau seseorang ketika di hari raya dia tidak punya uang ditangannya tetapi dia mampu untuk meminjam dari orang lain dan melunasi hutangnya bila tiba gaji bulanannya,

Maka bagi orang seperti ini bisa kami katakan kepadanya, hendaknya engkau berhutang lalu berqurban dan kemudian lunasilah hutangmu.

Adapun orang yang tidak ada kemungkinan untuk mampu melunasi hutangnya dalam waktu dekat, maka kami tidak menganjurkan kepadanya untuk berhutang agar ia bisa berqurban.

Karena ini akan menjadikan dirinya terbebani dengan hutang dan tuntutan manusia kepadanya sedangkan dia tidak tahu apakah ia mampu melunasi hutangnya ataukah tidak.

(Majmu’ Fatawa war Rosaail Syaikh Al ‘Utsaimin – 25/110)

سئل الشيخ محمد بن صالح العثيمين رحمه الله

هل يشرع للفقير أن يستدين لكي يضحي؟

فأجاب:الفقير الذي ليس بيده شيء عند حلول عيد الأضحى لكنه يأمل أن يحصل،كإنسان له راتبٌ شهريٌ، أو أنه في يوم العيد ليس في يده شيء لكنه يستطيع أن يستقرض من صاحبه ويوفي إذا جاء الراتب ،فهذا يمكن أن نقول له:لك أن تستقرض إذن وتضحي ثم توفي،أما إذا كان لا يأمل الوفاء عن قريبٍ،فإننا لا نستحب له أن يستقرض ليضحي؛لأن هذا يستلزم إشغال ذمته بالدَّين ومنِّ الناسِ عليه، ولا يدري هل يستطيع الوفاء أو لا يستطيع.

مجموع فتاوى ورسائل الشيخ العثيمين 25/110.

Diantara Sebab-Sebab Belum Terkabulnya Do’a

Ibnul Qoyyim rohimahullahu ta’ala berkata,

الدعاء من أقوى الأسباب في دفع المكروه وحصول المطلوب، ولكن قد يتخلف عنه أثره، إما لضعفه في نفسه بأن يكون دعاء لا يحبه الله لما فيه من العدوان، وإما لضعف القلب وعدم إقباله على الله وجمعيته عليه وقت الدعاء، فيكون بمنزلة القوس الرخو جدًّا فإن السهم يخرج منه خروجًا ضعيفًا؛ وإما لحصول المانع من الإجابة من أكل الحرام، والظلم، ورَين الذنوب على القلوب، واستيلاء الغفلة والسهو واللهو وغلبتها عليها.

Berdo’a termasuk sebab-sebab yang terkuat untuk menolak perkara yang dibenci dan tercapainya perkara yang diinginkan, akan tetapi terkadang (do’a itu) berbeda-beda dalam hasilnya.

1. Bisa jadi karena lemahnya do’a tersebut, yaitu bahwa do’a itu tidak dicintai oleh Allah karena berisi permusuhan.

2. Bisa jadi karena lemahnya hati, hatinya tidak menghadapkan diri kepada Allah, dan hatinya lalai saat berdo’a, maka jadilah kedudukannya seperti sebuah busur panah yang sudah sangat mengendur, sehingga anak panah akan melesat darinya dengan sangat lemah.

3. Atau bisa jadi karena adanya penghalang dari terkabulkannya do’a seperti :
– memakan makanan yang haram,
– berbuat kezholiman,
– kotoran dosa yang mengotori hati, dan
– terkuasai oleh kelalaian, kelupaan, kesia-siaan, dan dominannya (hal-hal tersebut) atas hati.

(Ad Da-u Waa ad-Dawa – hlm. 9)

Mengayunkan Badan Ketika Membaca Al Qur’an

Lajnah Ad-Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah wal Ifta (fatwa no: 19588)
-Komisi tetap untuk riset ilmu dan fatwa di negara Saudi Arabia-
—- —- —- —-

PERTANYAAN

Sebagian manusia bila membaca al-qur’an mereka mengayunkan badannya ke arah kanan dan kiri atau depan dan belakang, maka bagaimana  hukum perbuatan tersebut..? Berilah fatwa kepada kami, semoga Allah membalas dengan pahala terhadap kalian.

JAWABAN

Mengayunkan badan ketika membaca Al-Qur’an termasuk adat kebiasan yang harus ditinggalkan, karena perbuatan tersebut bertentangan dengan adab dengan Al-Qur’an.

Karena yang diharapkan ketika membaca dan mendengarkan Al-Qur’an adalah diam dan meninggalkan gerakan serta perbuatan sia-sia.

Agar orang yang membaca maupun yang mendengarkan mampu untuk lebih memperhatikan Al-Qur’an dan lebih khusyu’ dalam beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla.

Bahkan para ulama menyebutkan bahwa perbuatan tersebut (mengayunkan badan) termasuk dari adat kebiasan orang-orang yahudi ketika membaca kitab suci mereka, sedangkan kita dilarang untuk mengikuti mereka.

wabillaahittaufiq wa shollallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa aalihi wa shohbihi wasallam

—————

?التــمايـل عـند قـراءة الــقرآن

❍ اللجـنة الـدائمـة للبحـوث العـلمية والإفـتاء

❪✿❫ السُّــــ☟ــــؤَالُ :

【بــعض النــاس إذا قــرأ الــقرآن يتــمايل ذات اليـمين وذات الشــمال ، أو إلى الأمـام والخــلف . فما حــكم فــعلهم هذا ؟ أفــتونا مأجــورين.】

❪❁❫ الجَــــ☟ــــوَابُ :

《 هـذا التــمايل عــند تــلاوة الــقرآن هو من الــعادات التي يــجب تــركها ، لأنــها تتــنافى مع الأدب مع كــتاب الله عز وجــل ، ولأن المــطلوب عــند تــلاوة الــقرآن وســماعه ، الإنــصات وتــرك الحــركات والعــبث

❐ ليتــفرغ الــقارئ والمســتمع لتــدبر الــقرآن الــكريم والخــشوع لله عــز وجل ، وقــد ذكــر العــلماء أن ذلـك من عــادة اليــهود عـند تــلاوة كتابــهم ، وقـد نــهينا عن التشـبه بــهم .

☜ وبــالله التـوفيــق ، وصـلى الله عـلى نبــينا محــمد وآلــه وصحــبه وســلم .》

〖الــفــتوى رقــم〖19588〗

Menebar Cahaya Sunnah