Seburuk-Buruk Manusia

Al-Imam Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

فإن الكريم لا يعامل بالإساءة من أحسن إليه. وإنما يفعل هذا لئام الناس. فليمنعه مشهد إحسان الله ونعمته عن معصيته حياء منه أن يكون خير الله وإنعامه نازلا إليه، ومخالفاته ومعاصيه وقبائحه صاعدة إلى ربه. فملك ينزل بهذا وملك يعرج بهذا، فأقبح بها من مقابلة!

Sesungguhnya orang yang mulia tidak akan membalas Dzat yang telah berbuat baik kepadanya dengan keburukan. Yang melakukan hal itu hanyalah seburuk-buruk manusia.

Oleh sebab itu, merenungi kebaikan dan nikmat Allah akan menghalangi dirinya untuk bermaksiat kepada-Nya. Dia malu jika kebaikan dan nikmat Allah turun kepadanya, namun di saat yang sama :
– pelanggaran,
– kemaksiatan, dan
– keburukannya,
naik ke hadapan Robbnya.

Renungkanlah.. ketika malaikat turun kepadanya dengan membawa nikmat-nikmat untuknya, lalu malaikat lain naik dengan membawa dosa-dosanya, betapa buruknya balasan yang yang dia berikan.

(‘Uddatush Shobirin, hlm.102)

Menjadi Orang Yang Pemaaf

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا يَأْتَلِ اُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ اَنْ يُّؤْتُوْٓا اُولِى الْقُرْبٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَالْمُهٰجِرِيْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِۖ وَلْيَعْفُوْا وَلْيَصْفَحُوْاۗ اَلَا تُحِبُّوْنَ اَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ۝٢٢

“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu..? dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang..”

(Qs An-Nuur/24: 22)

● Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata:

ﻳﺎ ﺍﺑﻦ ﺁﺩﻡ ﺇﻥَّ ﺑﻴﻨﻚ ﻭﺑﻴﻦ الله ﺧﻄﺎﻳﺎ ﻻ ﻳﻌﻠﻤُﻬﺎ ﺇﻻ الله ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ، ﻓﺈﻥ ﺃﺣﺒﺒﺖَ ﺃﻥ ﻳﻐﻔِﺮَﻫﺎ ﻟﻚ ﻓﺎﺻﻔﺢ ﺃﻧﺖ ﻋﻦ ﻋِﺒﺎﺩﻩ، ﻭﺇﻥ ﺃﺣﺒﺒﺖَ ﺃﻥ ﻳﻌﻔﻮﻫﺎ ﻟﻚ ﻓﺎﻋﻒُ ﺃﻧﺖ ﻋﻦ ﻋِﺒﺎﺩﻩ؛ ﻓﺈﻧﻤﺎ ﺍﻟﺠﺰﺍﺀُ ﻣﻦ ﺟِﻨﺲِ ﺍﻟﻌﻤﻞ.

Wahai anak Adam, sesungguhnya antara engkau dan Allah terdapat kesalahan-kesalahan yang tidak ada yang mengetahuinya selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

– jika engkau ingin agar Allah mengampuninya maka hendaknya engkau berlapang dada kepada hamba-hamba-Nya, dan

– jika engkau ingin agar Allah memaafkan dirimu maka maafkanlah kesalahan hamba-hamba-Nya,

karena sesungguhnya balasan itu sesuai dengan jenis perbuatan.

(Bada-i’ul Fawaid – 2 / 648)

Yakin Namun Masih Saja Lalai

Hamid al-Qaishari rohimahullah berkata,

كُلُّنَا قَدْ أَيْقَنَ الْمَوْتَ، وَمَا نَرَى لَهُ مُسْتَعِدًّا، وَكُلُّنَا قَدْ أَيْقَنَ بِالْجَنَّةِ وَمَا نَرَى لَهَا عَامِلاً، كُلُّنَا قَدْ أَيْقَنَ بِالنَّارِ وَمَا نَرَى لَهَا خَائِفاً، فَعَلَام تَفْرَحُوْنَ؟! وَمَا عَسَيْتُمْ تَنْتَظِرُوْنَ؟! الْمَوْتُ، فَهُوَ أَوَّلُ وَارِدٍ عَلَيْكُمْ مِنْ أَمْرِ اللهِ بِخَيْرٍ أَوْ بَشَرٍ، فِيا إِخْوَتَاهْ! سِيْرُوْا إِلَى رَبِّكُمْ سِيْراً جَمِيْلاً

– Setiap kita yakin dengan adanya kematian, namun kita tidak melakukan persiapan untuk menghadapinya.

– Setiap kita yakin dengan adanya surga, namun kita tidak melakukan amal kebaikan untuk mendapatkannya.

– Setiap kita yakin dengan adanya neraka, namun kita tidak merasa takut terhadapnya.

Lantas, apa yang membuat kalian merasa gembira..?!

Apa yang kalian tunggu dan harapkan dari dunia..?!

Kematian.. ia akan datang kepada kalian dengan membawa berita dari Allah Ta’ala, kebaikan ataupun keburukan.

Wahai saudaraku.. persiapkanlah perjalanan menghadap Allah dengan sebaik-baiknya.

(Mukhtashor Minhajul Qoshidin, hlm. 384)

Diantara Penyebab Kesedihan Hati

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahullah berkata,

سُئل سُفيانُ بن عُيينة عَن غَمٍّ لا يُعرفُ سببُه؟

Pernah ditanyakan kepada Sufyan bin ‘Uyainah tentang kesedihan yang sebabnya tidak diketahui. Maka beliau menjawab,

هو ذنبٌ همَمْتَ به في سرِّك ولم تَفْعَلْهُ؛فجُزيتَ همّاً به.

Sebabnya adalah dosa yang engkau niatkan secara sembunyi-sembunyi, akan tetapi engkau belum melakukannya. Kemudian engkau dibalas dengan kesedihan karena sebab itu.

Maka Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah mengatakan,

فالذّنوبُ لها عُقُوباتٌ:السّرُّ بالسّرِّ، والعَلانِيةُ بالعَلانِيَةِ.

Setiap dosa itu ada balasannya, ketika dosa itu dilakukan diam-diam, maka balasannya dengan tersembunyi, dan kalau dilakukan terang-terangan, maka balasannya dengan terang-terangan.

(Majmu’ul Fatawa – 14/111)

HADITS : Larangan Memakai Minyak Wangi Bagi Wanita Saat Keluar Rumah

Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

”أيُّما امرأةٍ استعطرتْ ثُمَّ خَرَجَتْ ، فمرَّتْ علَى قومٍ ليجِدُوا ريَحها فهِيَ زانيةٌ ، وكُلُّ عينٍ زانيةٌ.“

“Wanita mana saja yang memakai wewangian lalu ia keluar dan melewati para lelaki sehingga tercium sebagian dari wanginya tersebut, maka ia seorang pezina. Dan setiap mata yang melihatnya juga pezina..”

(HR. Abu Daud no. 4173)
Dihasankan oleh syaikh Al-Albani dalam Shohih al-Jaami’ no. 2701

=======
● Al-Munawi rohimahullahu Ta’ala menjelaskan,

“Wanita, jika memakai parfum kemudian melewati majelis (sekumpulan) laki-laki, maka ia bisa membangkitkan syahwat laki-laki dan mendorong mereka untuk melihat kepadanya. Setiap yang melihat kepadanya maka matanya telah berzina. Wanita tersebut mendapat dosa karena memancing pandangan kepadanya dan membuat hati laki-laki tidak tenang. Jadi, ia adalah penyebab zina mata dan ia termasuk pezina..”

(Faidhul Qodir 5/27)

Bentuk Ibadah Saat Mendapat Nikmat

Al-Imam Ibnul Qoyyim rohimahullah  berkata,

وأما عبودية النعم فمعرفتها والاعتراف بها أولا، ثم العياذ به أن يقع في قلبه نسبتها وأضافتها إلى سواه وإن كان سببا من الأسباب، فهو مسببه ومقيمه، فالنعمة منه وحده بكل وجه واعتبار، ثم الثناء بها عليه ومحبته عليها وشكره بأن يستعملها في طاعته

Adapun bentuk ibadah ketika mendapat kenikmatan adalah :

1. meyakini dan mengakui bahwa itu adalah suatu kenikmatan.

2. berlindung kepada Allah agar tidak terbetik dalam hatinya untuk menyandarkan nikmat tersebut kepada selain-Nya, meskipun hal itu adalah sebab. Dialah Allah yang mentakdirkannya sebagai sebab. Semua nikmat hanya berasal dari-Nya semata dari segala sisi.

3. selanjutnya adalah memuji, mencintai, dan bersyukur kepada Allah; dengan menggunakan nikmat tersebut untuk taat kepada-Nya.

ومن لطائف التعبد بالنعم أن يستكثر قليلها عليه، ويستقل كثير شكره عليها، ويعلم أنها وصلت إليه من سيده من غير ثمن بذله فيها، ولا وسيلة منه توسل بها إليه، ولااستحقاق منه لها، وأنها لله فى الحقيقة لا للعبد، فلا تزيده النعم إلا انكسارا وذلا وتواضعا ومحبة للمنعم

4. (kemudian) di antara bentuk keindahan ibadah saat mendapatkan kenikmatan adalah dia menganggap bahwa sedikit nikmat yang dia dapatkan sudah terasa banyak. Demikian pula dia menganggap bahwa banyaknya rasa syukur yang dia lakukan, masih terasa sedikit.

5. dia menyadari bahwa nikmat dari Allah tersebut sampai kepadanya dengan cuma-cuma; tanpa dia menempuh suatu sarana untuk memperolehnya; dan dia tidak pula merasa sebagai pihak yang berhak untuk mendapatkannya.

6. dia memahami bahwa nikmat tersebut hakikatnya adalah milik Allah, bukan kepunyaan hamba. Oleh sebab itu, tidaklah nikmat bertambah kepadanya melainkan bertambah pula kerendahan, penghambaan, tawadhu, dan rasa cintanya kepada Dzat Pemberi Nikmat.

وكلما جدد له نعمة أحدث لها عبودية ومحبة وخضوعا وذلا، وكلما أحدث له قبضة أحدث له رضى، وكلما أحدث ذنبا أحدث له توبة وانكسارا واعتذارا، فهذا هو العبد الكيس، والعاجز بمعزل عن ذلك

– Setiap kali ada nikmat yang baru, dia menambah ibadah, cinta, ketundukan, dan kerendahan kepada-Nya.

– Setiap ada nikmat yang dicabut, dia munculkan rasa ridho kepada-Nya.

– Setiap kali melakukan dosa, dia mempersembahkan taubat, sangat menyesal, dan memohon ampun kepada-Nya.

Inilah hamba yang cerdas.

Adapun orang yang lemah, jauh dari bayangan untuk bisa melakukan semua itu.

(Al-Fawaid, hlm. 164-165)

Berpikir Sebelum Berbicara Dan Sebelum Melakukan Sesuatu

Al-Hasan al-Bashri rohimahullahu Ta’ala berkata,

“ما ضربت ببصري ولا نطقت بلساني ولا بطشت بيدي ولا نهضت على قدمي حتى أنظر أعلى طاعة أو على معصية؟ فإن كانت طاعة تقدمت، وإن كانت معصية تأخرت.

– tidaklah pernah aku melepaskan pandanganku,
– tidaklah pernah aku berbicara dengan lisanku,
– tidaklah pernah aku menggerakkan kedua tanganku, dan
– tidaklah pernah aku melangkahkan kedua kakiku,
sampai aku melihat apakah semua itu untuk perbuatan ketaatan ataukah sebuah kemaksiatan.

Jika untuk ketaatan, maka aku lakukan, dan jika ternyata untuk perbuatan maksiat, maka aku tinggalkan.

(Jaami’ul Uluum wal Hikaam, hal. 75)

Mengikuti Teladan Orang-Orang Yang Berada Di Atas Jalan Yang Lurus

Sahabat mulia ‘Abdullah bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu berkata,

مَن كانَ مُسْتَنًّا ، فَلْيَسْتَنَّ بمن قد ماتَ ، فإنَّ الحيَّ لا تُؤمَنُ عليه الفِتْنَةُ ، أولئك أصحابُ محمد – صلى الله عليه وسلم – ، كانوا أفضلَ هذه الأمة : أبرَّها قلوبًا ، وأعمقَها علمًا ، وأقلَّها تكلُّفًا ، اختارهم الله لصحبة نبيِّه ، ولإقامة دِينه ، فاعرِفوا لهم فضلَهم ، واتبعُوهم على أثرهم ، وتمسَّكوا بما استَطَعْتُم من أخلاقِهم وسيَرِهم ، فإنهم كانوا على الهُدَى المستقيم.

Siapa saja yang mencari teladan, hendaknya mencari teladan dari orang-orang yang sudah mati (karena orang yang masih hidup tidak aman dari fitnah) dan mereka itulah para sahabat Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam.

Mereka adalah generasi terbaik umat ini, merekalah orang-orang yang :
– paling baik hatinya,
– paling mendalam ilmu agamanya,
– paling sederhana hidupnya.

Allah telah memilih mereka untuk mendampingi Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam dan untuk menegakkan agama-Nya.

Kenalilah keutamaan mereka, dan ikutilah jalan mereka. Dan pegang teguh akhlaq dan perilaku mereka semampu kalian, karena mereka semua berada di atas shirothol mustaqiim (jalan yang lurus).

(Jaami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih – 2/97)

Menebar Cahaya Sunnah