Mendirikan Sholat Karena Takut Kepada Allah

● Rosulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

يعجَبُ ربُّكَ من راعي غنمٍ ، في رأسِ شظيَّةِ الجبلِ يؤذِّنُ بالصَّلاةِ ويصلِّي فيقولُ اللَّهُ عزَّ وجلَّ انظروا إلى عبدي هذا يؤذِّنُ ويقيمُ الصَّلاةَ يخافُ منِّي قد غَفرتُ لعَبدي ، وأدخلتُهُ الجنَّةَ

“Allah kagum kepada penggembala kambing yang berada di puncak gunung. Ia adzan untuk sholat lalu ia sholat.

Maka Allah berfirman, “Lihatlah hamba-Ku itu, ia adzan dan mendirikan sholat karena takut kepada-Ku. Sungguh Aku telah mengampuni hamba-Ku itu dan Aku akan memasukkannya ke surga..”

(HR Abu Dawud dan An Nasai)

● Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

« ﻭاﻟﺼﻼﺓ ﻣﺠﻠﺒﺔ ﻟﻠﺮﺯﻕ، ﺣﺎﻓﻈﺔ ﻟﻠﺼﺤﺔ، ﺩاﻓﻌﺔ ﻟﻷﺫﻯ، ﻣﻄﺮﺩﺓ ﻟﻷﺩﻭاء، ﻣﻘﻮﻳﺔ ﻟﻠﻘﻠﺐ، ﻣﺒﻴﻀﺔ ﻟﻠﻮﺟﻪ، ﻣﻔﺮﺣﺔ ﻟﻠﻨﻔﺲ، ﻣﺬﻫﺒﺔ ﻟﻠﻜﺴﻞ، ﻣﻨﺸﻄﺔ ﻟﻠﺠﻮاﺭﺡ، ﻣﻤﺪﺓ ﻟﻠﻘﻮﻯ، ﺷﺎﺭﺣﺔ ﻟﻠﺼﺪﺭ ﻣﻐﺬﻳﺔ ﻟﻠﺮﻭﺡ، ﻣﻨﻮﺭﺓ ﻟﻠﻘﻠﺐ، ﺣﺎﻓﻈﺔ ﻟﻠﻨﻌﻤﺔ، ﺩاﻓﻌﺔ ﻟﻠﻨﻘﻤﺔ، ﺟﺎﻟﺒﺔ ﻟﻠﺒﺮﻛﺔ، ﻣﺒﻌﺪﺓ ﻣﻦ اﻟﺸﻴﻄﺎﻥ، ﻣﻘﺮﺑﺔ ﻣﻦ اﻟﺮﺣﻤﻦ »

Sholat itu :
– mendatangkan rezeki,
– menjaga kesehatan,
– menolak bala,
– mengusir penyakit,
– menguatkan hati,
– memutihkan wajah,
– membahagiakan jiwa,
– menghilangkan kemalasan,
– membuat semangat anggota badan,
– memberi kekuatan,
– melapangkan dada,
– memberi gizi kepada ruh,
– mencahayakan hati,
– menjaga nikmat,
– menolak adzab,
– menimbulkan keberkahan,
– menjauhkan dari setan, dan
– mendekatkan kepada Ar Rohman.

(Zaadul Ma’aad 304/4)

Penterjemah,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Bukanlah Sifat Seorang Mukmin

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

الكسَالى أكثر النَّاس همًّا وغمًّا وحزنًا،
‏ليس لهم فرح ولا سرور،
‏بخلاف أرباب النَّشَاط والجِدِّ في العمل”.

“Pemalas itu orang yang paling sering terkena gundah, galau dan sedih. Mereka tidak merasakan kegembiraan dan kebahagiaan. Berbeda dengan orang orang yang selalu semangat dalam beramal..”

(Raudhotul Muhibbin hal 268)

Malas bukanlah sifat mukmin..
Dan tidak ada manfaatnya..
Bahkan berbahaya untuk seseorang..

Orang yang berakal tidak akan menuruti kemalasan..
Ia akan berusaha melawannya..
Dan berusaha untuk selalu semangat dalam kebaikan..
Malasnya mukmin itu kepada keburukan dan kepada perkara yang tak bermanfaat..

Penulis,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

HADITS : Berbakti Kepada Orangtua Terutama Ibu – Dapat Menggugurkan Dosa Besar

Ibnu ‘Umar rodhiyallahu ‘anhumaa berkata,

Ada seorang laki laki datang dan berkata, ‘wahai Rosulullah, aku telah melakukan dosa besar .. apakah masih ada taubat..?’

Beliau bersabda, ‘apakah kamu memiliki ibu..?’

‘Tidak..’ jawabnya.

Beliau bersabda, ‘apakah kamu punya kholah (saudari ibu)..?’

‘Punya..’ jawabnya.

Beliau bersabda, ‘berbaktilah kepadanya..’

(Shohih Sunan At Tirmidzi no 1904)

Penterjemah,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

HADITS : Beberapa Niat Bekerja Yang Termasuk Fii Sabilillah

Suatu hari, Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat melihat ada orang yang kerjanya sangat tekun dan serius. Lalu para sahabat berkomentar, “Andai usahanya itu untuk jihad di jalan Allah, tentu pahalanya luar biasa..”

Kemudian Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إن كان خرجَ يسعى على وَلَدِه صِغارًا، فهو في سبيل الله، وإن كان خرج يسعى على أبوين شيخين كبيرين، فهو في سبيل الله، وإن كان خرج يسعى على نفسه، يَعُفُّها، فهو في سبيل الله، وإن كان خرج يسعى رياء ومُفاخرة، فهو في سبيل الشيطان

– jika dia bekerja untuk mencukupi kebutuhan anaknya yang masih kecil, maka itu termasuk fii sabilillah

– jika dia bekerja untuk mencukupi kebutuhan kedua orangtuanya yang sudah tua, maka itu termasuk fii sabilillah

– jika dia bekerja untuk menutupi kebutuhan dirinya, sehingga tidak membutuhkan milik orang lain, maka itu termasuk fii sabilillah

Namun jika dia bekerja untuk meningkatkan status sosial dan berbangga-bangga dengan penghasilan, maka dia berada di jalan setan..”

(HR. At Thobroni dalam al-Mu’jam al-Ausath 6835, perawinya dinilai shohih oleh al-Mundziri dan dishohihkan al-Albani)

Penterjemah, 
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Beberapa Perbuatan Mengabaikan Alqur’an

Alqur’an yang berisi hidayah dan mengajak kepada surga, kamu tinggalkan .. dan kamu lebih senang disibukkan oleh nyanyian, game dan hiburan yang hanya menambah penyakit hati..

Namun kita tidak merasa telah merugi..
Bahkan tertipu oleh angan angan..
– kelak saya akan membaca Alqur’an..
– nanti saya akan mentadabburinya..

وَقَالَ الرَّسُوْلُ يٰرَبِّ اِنَّ قَوْمِى اتَّخَذُوْا هٰذَا الْقُرْاٰنَ مَهْجُوْرًا (٣٠)

“Dan Rosul (Muhammad) berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Alqur’an ini diabaikan…” (Qs. Al-Furqon – 30)

Ibnu Katsir rohimahullah berkata dalam tafsirnya,

وَتَرْكُ تَدَبُّرِهِ وَتَفْهُّمِهِ مِنْ هُجْرَانِهِ، وَتَرْكُ الْعَمَلِ بِهِ وَامْتِثَالِ أَوَامِرِهِ وَاجْتِنَابِ زَوَاجِرِهِ مِنْ هُجْرَانِهِ، والعدولُ عَنْهُ إِلَى غَيْرِهِ -مَنْ شِعْرٍ أَوْ قَوْلٍ أَوْ غِنَاءٍ أَوْ لَهْوٍ أَوْ كَلَامٍ أَوْ طَرِيقَةٍ مَأْخُوذَةٍ مِنْ غَيْرِهِ -مِنْ هُجْرَانِهِ

“Tidak mau mentadabburi dan memahaminya termasuk mengabaikan Alqur’an.

Tidak mau mengamalkannya, tidak melaksanakan perintah dan menjauhi larangannnya .. atau berpaling dari Alqur’an dan sibuk dengan syair, nyanyian, perkataan manusia, perkara yang sia sia, dan bimbingan selain Alqur’an .. semua itu termasuk mengabaikan Alqur’an..”

Penulis,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Allah Merahmati Orang Yang Memberikan Kemudahan

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

“Semoga Allah merahmati orang yang :
– mudah dalam menjual,
– mudah saat membeli, dan
– mudah dalam menagih hutang..”

(HR. Al Bukhori)

● mudah dalam menjual dengan tidak mengambil keuntungan yang menyusahkan pembeli.

● mudah dalam membeli dengan tidak menawar dengan tawaran yang menyusahkan penjual.

● mudah dalam menagih hutang, dengan memberi tangguh bagi yang sulit bahkan ia memaafkan.

Dalam riwayat Ibnu Hibban, “Mudah dalam membayar hutang..” yaitu dengan tidak menunda nunda pembayaran hutang.

Penulis,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Obat Lupa

Ali bin Khasyram rohimahullah berkata,

“Aku melihat Waki’ bin al-Jarrah tidak pernah membawa kitab, namun beliau bisa menghafal apa yang tidak kami hafal.

Maka aku merasa heran dengan hal itu sehingga aku pun bertanya kepada beliau, “Wahai Waki’, engkau tidak pernah membawa kitab dan tidak menggoreskan yang hitam di atas yang putih (tidak mencatat -pent), namun engkau menghafal lebih banyak dibandingkan apa yang kami hafal..”

Maka Waki’ berkata dengan membisikkan ke telingaku, “Wahai Ali, jika aku tunjukkan kepadamu obat lupa, apakah engkau akan mengamalkannya..?”

Aku pun menjawab, “Ya, demi Allah..”

Maka beliau menjelaskan, “Meninggalkan maksiat, demi Allah, aku tidak melihat sesuatu yang lebih bermanfaat untuk memudahkan menghafal dibandingkan meninggalkan kemaksiatan..”

(Siyarul A’lamin Nubala’, 6/384)

MUTIARA SALAF : Tidak Berharap Kepada Makhluk

Kholifah Hisyam bin Abdul Malik masuk ke dalam Ka’bah, ternyata di dalamnya ada Salim bin Abdullah bin Umar rohimahullah,

Maka Kholifah berkata kepadanya: “Wahai Salim, mintalah kepadaku apa yang engkau butuhkan..!”

Salim menjawab: “Sesungguhnya aku merasa malu kepada Allah untuk meminta di rumah Allah kepada selain-Nya..”

Ketika Salim keluar maka Kholifah mengikutinya seraya berkata kepadanya: “Sekarang engkau telah keluar, maka mintalah kepadaku apa yang engkau butuhkan..!”

Salim menjawab: “Kebutuhan dunia atau kebutuhan akhirat..?”

Kholifah menjawab: “Kebutuhan dunia..”

Maka Salim menjawab: “Aku tidak memintanya kepada yang memilikinya (Allah), maka bagaimana aku akan meminta kepada yang tidak memilikinya..”

(Al-Muntazham Fii Taarikhil Muluk wal Umam, 7/114-115)

Teman Yang Paling Disukai

Kholid bin Shofwan rohimahullah ditanya, ‘siapakah temanmu yang paling kamu sukai..?’

Ia berkata,
– yang suka memaafkanku,
– mau menerima kekuranganku, dan
– menutupi kesalahanku.

(Kitab Mujalasah – Ad Dainawari)

Teman yang susah memaafkan..
Tak mau menerima kekurangan..
Bahkan menebar aib kita..
Adalah teman yang tak ada manfaatnya..
Bahkan lebih banyak mudhorotnya..

Penulis,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Memilih Teman

Ibnu Hibban rohimahullah berkata,

“Yang wajib atas seorang yang berakal adalah agar ia berlindung kepada Allah dari berteman dengan orang yang :
– jika dirinya mengingat Allah, orang tersebut tidak mau membantunya,
– jika dirinya lupa, orang tersebut tidak mau mengingatkannya,
– jika dirinya lalai, orang tersebut justru mendorongnya agar meninggalkan dzikir.

Siapa yang berteman dengan orang-orang yang buruk maka hakekatnya dialah yang paling buruk diantara mereka.

Sebagaimana orang yang baik tidak mencintai kecuali orang-orang yang baik, demikian pula orang yang buruk tidak akan berteman kecuali dengan orang-orang yang jahat.

Jadi seseorang jika membutuhkan teman maka hendaklah ia berteman dengan orang-orang yang menjaga kehormatannya..”

(Roudhotul Uqolaa’ – hal. 102)

Menebar Cahaya Sunnah