Bukanlah Bukti Akan Keilmuan Seseorang

Kehebatan berbicaramu..
Bukanlah bukti tentang keilmuanmu..

Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam justru tidak menyukai orang yang memfasih fasihkan lisannya agar terlihat kelebihannya..

Beliau bersabda yang artinya,

“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat denganku kedudukannya pada hari kiamat adalah yang paling bagus akhlaknya.

Dan orang yang paling aku benci dan paling jauh kedudukannya dariku pada hari kiamat adalah :

tsartsarun (orang yang banyak berbicara dengan cara membagus baguskan ucapannya agar terlihat lebih),

mutasyaddiqun (memfasih fasihkan lisan saat berbicara agar terlihat hebat), dan

mutafaihiqun.

Mereka bertanya, ‘Siapakah mutafaihiqun..?’

Beliau bersabda, ‘Orang yang sombong..”

(Shohih At Tirmidzi no 2018)

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Tentang Hujjah

Syaikhul Islam ibnu Taimiyah rohimahullah berkata,

وليس لأحد أن يحتج بقول أحد في مسائل النزاع، وإنما الحجة النص والإجماع، والدليل مستنبط من ذلك، تقرر مقدماته بالأدلة الشرعية، لا بأقوال بعض العلماء، فإن أقوال العلماء ويحتج لها بالأدلة الشرعية.

“Tidak boleh bagi seorangpun untuk berhujjah dengan pendapat seseorang dalam masalah yang diperselisihkan.

Hujjah itu adalah nash dan ijma serta dalil yang diambil istinbath darinya. Dan pendahuluannya ditetapkan oleh dalil syariat bukan ditetapkan oleh pendapat sebagian ulama. Karena pendapat ulama itu dijadikan hujjah bila berdasarkan dalil syariat..”

(Majmu Fatawa 26/202)

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rohimahullah berkata memberikan faidah ayat 20 surat Ali Imran pada faidah yang keenam,

لا يمكن أن يكون قول أحد من أهل العلم حجة على الأخرين لأن الكل تابعون لا متبوعون

“Tidak mungkin pendapat salah seorang ulama menjadi hujjah atas (ulama) yang lainnya. Karena semua mereka pengikut (Nabi) bukan yang harus diikuti..”

(Tafsir Ali Imron 1/136)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

HADITS : Jangan Tinggalkan Sholat Berjama’ah Di Masjid

● Abdullah bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu berkata,

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَلْقَى اللَّهَ غَدًا مُسْلِمًا فَلْيُحَافِظْ عَلَى هَؤُلاَءِ الصَّلَوَاتِ حَيْثُ يُنَادَى بِهِنَّ فَإِنَّ اللَّهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكُمْ -صلى الله عليه وسلم- سُنَنَ الْهُدَى وَإِنَّهُنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَى وَلَوْ أَنَّكُمْ صَلَّيْتُمْ فِى بُيُوتِكُمْ كَمَا يُصَلِّى هَذَا الْمُتَخَلِّفُ فِى بَيْتِهِ لَتَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ وَمَا مِنْ رَجُلٍ يَتَطَهَّرُ فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ يَعْمِدُ إِلَى مَسْجِدٍ مِنْ هَذِهِ الْمَسَاجِدِ إِلاَّ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِكُلِّ خَطْوَةٍ يَخْطُوهَا حَسَنَةً وَيَرْفَعُهُ بِهَا دَرَجَةً وَيَحُطُّ عَنْهُ بِهَا سَيِّئَةً وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلاَّ مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ وَلَقَدْ كَانَ الرَّجُلُ يُؤْتَى بِهِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِى الصَّفِّ

“Siapa yang senang bertemu Allah besok dalam keadaan muslim maka jagalah sholat-sholat (berjama’ah) di tempat asal panggilan (adzan) nya.

Karena Allah telah mensyariatkan kepada Nabi kalian shollallahu ‘alayhi wasallam sunnah-sunnah hidayah. Dan itu (sholat berjama’ah di masjid) termasuk dari sunnah-sunnah hidayah.

Jika kalian sholat di rumah-rumah kalian, seperti pembangkang yang sholat di rumahnya ini, maka itu artinya kalian telah meninggalkan sunnah Nabi kalian. Jika kalian meninggalkan sunnah Nabi kalian, niscaya kalian akan sesat.

Aku sudah melihat bahwa tidak ada seorang pun yang meninggalkan sholat berjama’ah kecuali munafik yang jelas kemunafikannya.

(Karena sedemikian bahayanya meninggalkan sholat berjama’ah) sampai-sampai orang yang lemah harus dipapah dua orang laki-laki untuk bisa berbaris di dalam shof..”

(HR. Muslim no. 654)

● Dalam riwayat Muslim yang lain, Abdullah bin (Ibnu) Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu berkata,

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلَّمَنَا سُنَنَ الْهُدَى وَإِنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَى الصَّلاَةَ فِى الْمَسْجِدِ الَّذِى يُؤَذَّنُ فِيهِ

“Sesungguhnya Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam telah mengajarkan pada kami suatu petunjuk yang baik. Yang termasuk ajaran yang baik tersebut adalah sholat di masjid yang dikumandangkan adzan di sana..”

(HR. Muslim no. 654)

● Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rohimahullah menerangkan,

“Setiap ajaran Rosul shollallahu ‘alayhi wasallam itu adalah petunjuk, cahaya dan syari’at dari Allah. Dan yang dimaksud dalam hadits adalah sholat yang lima waktu.

Sholat tersebut adalah bagian dari petunjuk Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam. Maka benarlah apa yang dituturkan oleh Ibnu Mas’ud. Bahkan sholat lima waktu adalah petunjuk terbesar setelah dua kalimat syahadat dalam rukun Islam..”

(Syarh Riyadhus Sholihin, 5: 76).

● Syaikh ‘Abdullah Al Fauzan  hafizhohullah mengatakan,

“Seseorang yang meninggalkan sholat berjama’ah menunjukkan akan beratnya dia menjalankan sholat. Ini pertanda bahwa hatinya terdapat sifat kemunafikan. Untuk lepas dari sifat tersebut, marilah menjaga sholat berjama’ah..”

(Minhatul ‘Allam fii Syarh Bulughil Maram, 3: 365)

ARTIKEL TERKAIT
WAHAI KAUM PRIA.. ANDA AKAN MENYESAL TIDAK SHOLAT BERJAMA’AH DI MASJID

https://bbg-alilmu.com/archives/38030

MUTIARA SALAF : Ujub Menghancurkan Amal

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

– Jika Allah membukakan untukmu pintu sholat malam, janganlah engkau melihat orang-orang yang tidur dengan pandangan merendahkan.

– Jika Allah membukakan untukmu pintu puasa, janganlah engkau melihat orang-orang yang tidak berpuasa dengan pandangan merendahkan.

– Jika Allah membukakan untukmu pintu jihad, janganlah engkau melihat orang-orang yang tidak berjihad dengan pandangan merendahkan.

Bisa jadi :
– orang yang tidur,
– orang yang tidak berpuasa, dan
– orang yang tidak berjihad,
dia lebih dekat dengan Allah dibandingkan dirimu.

Dan sungguh engkau menghabiskan malam dengan tidur dan bangun pagi dalam keadaan menyesal, itu lebih baik dibandingkan engkau menghabiskan malam dengan sholat, namun di pagi hari engkau merasa ujub.

Sesungguhnya orang yang ujub amalnya tidak akan ada yang naik (diterima oleh Allah).

(Madaarijus Saalikiin, 1/177)

MUTIARA SALAF : Jagalah Sholat Witir

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

إِنَّ اللهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ، فَأَوْتِرُوْا يَاأَهْلَ الْقُرْآنِ.

“Sesungguhnya Allah itu ganjil dan menyukai orang-orang yang melakukan sholat witir, maka sholat witirlah, wahai para ahli al-Qur’an..”

(HR. Abu Dawud – Shohiihut Targhiib no. 590)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahullah berkata,

ﺍﻟﻮﺗﺮ ﺳﻨﺔ ﺑﺎﺗﻔﺎﻕ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ، ﻭﻣﻦ ﺃﺻﺮ ﻋﻠﻰ ﺗﺮﻛﻪ ﻓﺈﻧّﻪ ﺗﺮﺩ ﺷﻬﺎﺩﺗﻪ، ﻭﺍﻟﻮﺗﺮ ﺃﻭﻛﺪ ﻣﻦ ﺳﻨﺔ ﺍﻟﻈﻬﺮ ﻭﺍﻟﻤﻐﺮﺏ ﻭﺍﻟﻌﺸﺎﺀ، ﻭﺍﻟﻮﺗﺮ ﺃﻓﻀﻞ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻣﻦ ﺟﻤﻴﻊ ﺗﻄﻮّﻋﺎﺕ ﺍﻟﻨﻬﺎﺭ ﻛﺼﻼﺓ ﺍﻟﻀﺤﻰ، ﺑﻞ ﺃﻓﻀﻞ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﻤﻜﺘﻮﺑﺔ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﻠﻴﻞ، ﻭﺃﻭﻛﺪ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﻮﺗﺮ ﻭﺭﻛﻌﺘﺎ ﺍﻟﻔﺠﺮ، والله أعلم.

“Sholat witir adalah sunnah berdasarkan kesepakatan (ulama) kaum muslimin, namun siapa yang meninggalkannya secara terus menerus maka persaksiannya tertolak.

Witir lebih ditekankan dibandingkan sholat sunnah zhuhur, maghrib, dan isya’, dan witir merupakan sholat yang paling afdhol dibandingkan semua sholat sunnah di siang hari seperti sholat dhuha.

Bahkan sholat yang paling afdhol setelah sholat wajib adalah sholat malam, dan sholat malam yang paling ditekankan adalah witir dan dua roka’at sholat fajar (qobliyah shubuh), wallahu a’lam..”

(Majmu’ul Fatawa, 23/88)

MUTIARA SALAF : Tidak Boleh Menyingkat Tulisan Sholawat

Seseorang bertanya kepada Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rohimahullah sebagai berikut :

Apakah diperbolehkan ketika menulis hadits, terkhusus pada kalimat Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasalam untuk menuliskannya dengan huruf (ص) atau (صلعم) sebagai isyarat kepada Rosulullah صلى الله عليه وسلم ..? Dan apakah kita harus menggerakkan kedua bibir ketika menulis kalimat صلى الله عليه وسلم ..?

JAWABAN:
Yang wajib adalah dengan menulisnya صلى الله عليه وسلم (shollallahu ‘alaihi wasalam).

Adapun (ص) atau (صلعم) (atau SAW versi indonesia -pent), maka ini tidak boleh. Ini keliru. Tetapi (yang benar) setelah menyebutkan nama beliau adalah dengan menuliskan shollallahu ‘alaihi wasalam (صلى الله عليه وسلم).

Dan YANG AFDHOL (lebih utama) adalah sembari melafazhkannya, menggabungkan antara dua perkara shollallahu ‘alaihi wasalam.

Sumber: http://www.ibnbaz.org.sa/node/19350

Memohon Kepada Allah Kebaikan Di Dunia Dan Di Akherat Serta Perlindungan Dari Adzab Neraka

Allah Ta’ala berfirman,

وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّقُوْلُ رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ ۝٢٠١

“Dan di antara mereka ada yang berdo’a, ‘Yaa Robb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akherat serta peliharalah kami dari adzab api neraka..” (Qs Al Baqoroh: 201)

Ibnu Katsir rohimahullah berkata,

“Do’a ini meliputi berbagai kebaikan di dunia dan menjauhkan segala kejahatan.

Kebaikan di dunia mencakup segala permintaan yang bersifat duniawi, berupa :
– kesehatan,
– rumah yang luas,
– istri yang cantik,
– rezeki yang melimpah,
– ilmu yang bermanfaat,
– amal sholih,
– kendaraan yang nyaman,
– pujian

dan lain sebagainya yang tercakup dalam ungkapan para mufassir, dan di antara semuanya itu tidak ada pertentangan, karena semuanya itu termasuk ke dalam kategori kebaikan dunia.

Sedangkan mengenai kebaikan di akherat, maka yang tertinggi adalah masuk Surga dan segala cakupannya berupa :
– rasa aman dari ketakutan yang sangat dahsyat,
– kemudahan hisab, dan
– berbagai kebaikan urusan akherat lainnya.

Sedangkan keselamatan dari api neraka, berarti juga kemudahan dari berbagai faktor penyebabnya di dunia, yaitu berupa :
– perlindungan dari berbagai larangan dan dosa,
– terhindar dari berbagai syubhat dan hal-hal yang haram.

Al Qosim Abu Abdurrohman berkata, “Barangsiapa dianugerahi :
– hati yang suka bersyukur,
– lisan yang senantiasa berdzikir, dan
– diri yang sabar,

berarti dia telah diberikan kebaikan di dunia dan kebaikan di akherat serta dilindungi dari adzab neraka. Oleh karena itu, sunnah Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam menganjurkan do’a tersebut di atas..”

Al Bukhori (no. 4522) meriwayatkan dari Mu’ammar, dari Anas bin Malik, dia berkata, Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam pernah berdo’a,

اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Allaahumma Robbanaa aatinaa fid-dunya hasanatan wa fil aakhiroti hasanatan wa qinaa ‘adzaaban-naar

Yaa Allah, ya Robb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akherat, serta peliharalah kami dari adzab neraka.

(Tafsir Ibnu Katsir)

Jika Kemaksiatan Lisan Menjadi Kebiasaan

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

‏إذا صارت المعاصي اللسانية معتادة للعبد، فإنه يعز عليه الصبر عنها، ولهذا تجد الرجل يقوم الليل ويصوم النهار ويتورع من استناده إلى وسادة حرير لحظة واحدة، ويطلق لسانه في الغيبة والنميمة والتفكه في أعراض الخلق والقول على الله ما لا يعلم.

“Jika kemaksiatan lisan telah menjadi kebiasaan seorang hamba, maka akan berat baginya untuk bersabar meninggalkannya.

Oleh karena itulah, engkau bisa menjumpai seseorang yang biasa mengerjakan sholat malam dan puasa serta berhati-hati untuk tidak bersandar ke bantal sutera walaupun sedetik saja, namun dia mengumbar lisannya untuk :
– ghibah (menggunjing),
– namimah (mengadu domba),
– senang menghancurkan kehormatan orang lain, dan
– berbicara atas nama Allah dengan hal-hal yang tidak dia ketahui..”

(Uddatush Shobirin, hlm. 127)

Menebar Cahaya Sunnah