MUTIARA SALAF : Membantu Pekerjaan Rumah Istri

Syeikh al ‘Utsaimin -rohimahulloh- berkata :

“Diantara tawadhu’nya Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-; bila beliau di rumah, beliau membantu istrinya, memeras susu kambing, memperbaiki sandal, beliau membantu mereka di rumah mereka.

Hal ini berdasarkan penuturan ‘Aisyah -rodhiallohu ‘anha- ketika ditanya apa yang dilakukan Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- saat di rumah: “Beliau dahulu biasa mengerjakan pekerjaan istrinya..”, yakni membantu istrinya.

Misalnya, jika seseorang di rumahnya, maka termasuk sunnah, bila dia membuat teh untuk dirinya sendiri, memasak sendiri bila dia bisa, mencuci apa yang butuh dicuci, ini semua termasuk sunnah Nabi.

Jika kamu melakukan hal itu, maka kamu akan mendapatkan pahala menjalankan sunnah.

Karena (kamu melakukan hal itu untuk tujuan) mengikuti Rosul -shollallohu ‘alaihi wasallam- dan bertawadhu’ (merendah) kepada Allah -azza wajall-.

Hal ini juga akan menumbuhkan rasa cinta antara kamu dan istrimu. Jika istrimu merasa kamu banyak membantunya, tentu dia akan mencintaimu dan dirimu akan semakin berharga di matanya.. dan ini merupakan masalahat yang besar..”

(Syarah Riyadhus Sholihin 2/264)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

ref : https://bbg-alilmu.com/archives/21332

Makna Silaturrohim Yang Sebenarnya

Terkait makna kalimat Silaturrohim yang sebenarnya, Ibnu Atsir rohimahullah menjelaskan,

تكرر في الحديث ذكر صلة الرحم: وهي كناية عن الإحسان إلى الأقربين من ذوي النسب، والأصهار، والتعطف عليهم، والرفق بهم، والرعاية لأحوالهم، وكذلك إن بَعُدُوا أو أساءوا, وقطعُ الرحم ضِدُّ ذلك كله

“Banyak hadits yang menyebutkan tentang silaturrohim.

Silaturrohim adalah istilah untuk perbuatan baik kepada karib-kerabat yang memiliki hubungan nasab, atau kerabat karena hubungan pernikahan serta berlemah-lembut, kasih sayang kepada mereka, memperhatikan keadaan mereka. Demikian juga andai mereka menjauhkan diri atau suka mengganggu. Dan memutus silaturohim adalah kebalikan dari hal itu semua..”

(An Nihayah fi Gharibil Hadits, 5/191-192, dinukil dari Shilatul Arham, 5)

MUTIARA SALAF : Adakah Batasan Waktu Untuk Silaturrohim..?

Syaikh Muhammad bin Sholih al Utsaimin rohimahullah mendapatkan pertanyaan sebagai berikut :

PERTANYAAN:

Apakah silaturrohim memiliki batasan waktu tertentu..?

JAWABAN:

Wajib kita mengetahui suatu kaedah yang sangat berguna bagi penuntut ilmu dan selain penuntut ilmu, yaitu apabila Allah menyebutkan tentang suatu hal dan tidak membatasinya, maka perkaranya kembali kepada adat dan kebiasaan manusia.

Silaturrohim datang dalam al-Qur’an dan sunnah dengan tanpa pembatasan, sehingga perkaranya kembali kepada adat kebiasaan manusia. Dan adat kebiasaan manusia tentu berbeda-beda selaras dengan perbedaan zaman, negeri, dan keadaan.

Misal: Pada sebagian daerah engkau harus mengunjungi kerabatmu setiap bulan. Bila engkau tidak melakukannya berarti engkau telah memutus hubungan silaturrohim. Demikian juga pada sebagian suku (kabilah), pada sebagian masa, dan sebagian keadaan tertentu. Manusia butuh untuk tetap saling berhubungan dan seseorang tidak meninggalkan yang lainnya.

Namun pada sebagian keadaan tidaklah demikian. Demikian juga kerabat terkadang sakit, butuh untuk berkali-kali dikunjungi. Atau terkadang dia itu fakir yang membutuhkan bantuan materi.

Kesimpulannya, selama silaturrohim itu tidak ada batasan ketentuannya, tidak di dalam al-Qur’an, tidak pula di dalam sunnah, maka urusannya dikembalikan kepada kebiasaan manusia.

Di zaman sekarang ini, kita dapat menjalin hubungan silaturrohim kepada kerabat dengan menggunakan telepon, meskipun engkau menghubunginya setiap hari.

Namun suatu hal yang telah diketahui bila engkau menghubunginya setiap hari tentu hal ini akan membuatnya jenuh.

Kalau engkau menjadikannya setiap pekan sekali, setengah bulan sekali, atau dua bulan sekali sesuai dengan keadaan, tentunya hal ini akan lebih baik.

Kemudian kerabat juga berbeda-beda tingkat kekerabatannya, maksudnya anak paman tentu tidaklah sama dengan saudara (kandung).

(Silsilatu Liqo’atil Baabil Maftuh – 126)

=====

MAKNA KALIMAT SILATURROHIM YANG SEBENARNYA

Terkait makna kalimat Silaturrohim yang sebenarnya, Ibnu Atsir rohimahullah menjelaskan,

تكرر في الحديث ذكر صلة الرحم: وهي كناية عن الإحسان إلى الأقربين من ذوي النسب، والأصهار، والتعطف عليهم، والرفق بهم، والرعاية لأحوالهم، وكذلك إن بَعُدُوا أو أساءوا, وقطعُ الرحم ضِدُّ ذلك كله

“Banyak hadits yang menyebutkan tentang silaturrohim.

Silaturrohim adalah istilah untuk perbuatan baik kepada karib-kerabat yang memiliki hubungan nasab, atau kerabat karena hubungan pernikahan serta berlemah-lembut, kasih sayang kepada mereka, memperhatikan keadaan mereka. Demikian juga andai mereka menjauhkan diri atau suka mengganggu. Dan memutus silaturahim adalah kebalikan dari hal itu semua..”

(An Nihayah fi Gharibil Hadits, 5/191-192, dinukil dari Shilatul Arham, 5)

MUTIARA SALAF : Tawadhu Hanya Karena Allah

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahullah berkata,

ﻗﻮﻟﻪ -ﷺ:َ (ﻣَﺎ ﺗَﻮَﺍﺿَﻊَ ﺃَﺣَﺪٌ ﻟِﻠَّﻪِ ﺇِﻟَّﺎ ﺭَﻓَﻌَﻪُ ﺍﻟﻠَّﻪُ)
ﻓﻠﻮ ﺗﻮﺍﺿﻊ ﻟﻴﺮﻓﻌﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻣﺘﻮﺍﺿﻌﺎ، ﻓﺈﻧﻪ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﻘﺼﻮﺩﻩ ﺍﻟﺮﻓﻌﺔ ﻭﺫﻟﻚ ﻳﻨﺎﻓﻲ ﺍﻟﺘﻮﺍﺿﻊ.

Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

َﻣَﺎ ﺗَﻮَﺍﺿَﻊَ ﺃَﺣَﺪٌ ﻟِﻠَّﻪِ ﺇِﻟَّﺎ ﺭَﻓَﻌَﻪُ ﺍﻟﻠَّﻪُ.

“Tidaklah seseorang bersikap tawadhu karena Allah, kecuali justru akan Allah tinggikan derajatnya..”

(HR. Muslim no. 2588)

Jadi seandainya seseorang bersikap tawadhu hanya bertujuan agar Allah Subhanah meninggikan derajatnya, maka dia bukan orang yang tawadhu. Sebab, sesungguhnya tujuan (dia) sebenarnya adalah ingin meraih ketinggian derajat, dan hal itu justru bertentangan dengan sifat tawadhu itu sendiri..”

(Al-Fatawa al-Kubro, jilid 2 hlm. 272)

HADITS : Setiap Muslim Bersedekah

Rosulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

على كل مسلم صدقة
‏فقالوا : يا نَبِيَّ اللَّهِ فمن لم يجد؟
‏قال : يَعمل بيَدِهِ فَيَنفَعُ نَفْسَهُ ويَتَصَدَّقُ
‏قالوا : فإن لم يجد ؟
‏قالَ : يعين ذا الحاجة الملهوف
‏قالوا : فإن لم يَجد ؟
‏قال :
‏فليعمل بالمعروف وليمسك عن الشر
‏⇦ فإنها له صدقة.

“Setiap muslim hendaklah bersedekah..”

Mereka berkata, “Jika tidak mampu..?”
Beliau bersabda, “Bekerja dengan tangannya agar ia memberi manfaat dirinya dan bersedekah..”

Ditanya lagi, “Jika tidak mampu juga..?”
Beliau bersabda, “Membantu orang yang membutuhkan pertolongan..”

Ditanya lagi, “Jika tidak mampu juga..?”
Beliau bersabda, “Hendaklah ia beramal kebaikan dan menahan diri dari keburukan..”

(HR Al Bukhari no 1445)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Mintalah Hidayah Hanya Kepada Allah

Syaikh Abdurrahman bin Hasan rohimahullah berkata,

ومن حكمة الرب تعالى في عدم هداية أبي طالب إلى الإسلام ليبين عباده أن ذلك إليه، وهو القادر عليه دون من سواه

“Di antara hikmah Allah tidak memberi hidayah kepada Abu Thalib untuk masuk Islam adalah Allah hendak menjelaskan kepada para hamba-Nya bahwa hidayah hanya kembali kepada-Nya.

Allah lah yang Mahakuasa memberi hidayah, bukan selain-Nya.

فلو كان عند النبي -الذي هو أفضل خلقه- من هداية القلوب وتفريج الكروب ومغفرة الذنوب والنجاة من العذاب ونحو ذلك شيء، لكان أحق الناس بذلك وأولاهم به عمه الذي كان يحوطه ويحميه وينصره ويؤويه

Seandainya Nabi -yang merupakan makhluk Allah yang paling utama- memiliki sedikit kekuasaan untuk :

– memberi hidayah
– menghilangkan kesulitan
– mengampuni dosa, dan
– menyelamatkan seseorang dari adzab

niscaya yang berhak mendapatkan itu semua adalah pamannya. Paman beliaulah yang melindungi, menjaga, membantu, dan mendukung beliau (dan dakwahnya).

فسبحان من بهرت حكمته العقول، وأرشدت العباد إلى ما يدلهم على معرفته وتوحيده، وإخلاص العمل له وتجريده

Mahasuci Allah, Yang hikmah-Nya menyinari akal manusia, Yang memberi petunjuk kepada para hamba-Nya untuk mengenal, bertauhid, dan mengikhlaskan amal hanya kepada-Nya..”

(Fathul Majid – hlm. 223-224)

SELESAI : Bukber Puasa Senin-Kamis : Desember 2023

AHAD PAGI –  31 DESEMBER 2023 / 18 JUMADAL AAKHIROH 1445

Jadwal bukber berikutnya di bulan January 2024, insyaa Allah, silahkan baca artikel berikut  :

UPDATE : Bukber Puasa Senin-Kamis : Desember 2023

===============

BANK SYARIAH INDONESIA
748 000 4447
AL ILMU TA’AWUN
info : 0838 0662 4622

===============

BACKGROUND :
Program rutin, insyaa Allah, menghidangkan ratusan porsi ifthor (makanan dan minuman) untuk kegiatan buka-bersama (bukber) ratusan santri/santriwati penghafal Alqur’an dan penuntut ilmu yang rutin berpuasa dan buka bersama di setiap hari senin-kamis di beberapa ma’had di lombok timur dan  RPQ di kota bima (sumbawa timur).

SATU porsinya senilai antara Rp. 15.000 s/d Rp. 20.000. Silahkan berapapun partisipasinya, semoga menjadi bekal amal kebaikan yang melimpah, aamiin.. Dalam program ini, kami bekerjasama dengan Assunnah Peduli, Lombok Timur.

DOKUMENTASI
SENIN : 27 Nov 2023 : 190 Santri
KAMIS : 30 Nov 2023 : 168 Santri
SENIN : 04 Des 2023 : 249 Santri
KAMIS : 07 Des 2023 : 105 Santri
SENIN : 11 Des 2023 : 230 Santri
KAMIS : 14 Des 2023 : 350 Santri
SENIN : 18 Des 2023 : 150 Santri

================

● saldo 30/12 pkl. 05.00 wib  : Rp. 15.8 Juta
—————————–
● tambahan partisipasi   >>     : Rp. 0.0 Juta
bukber 04/01 – .. santri  >> : Rp. (0.0) Juta
—————————–
● saldo 31/12 pkl. 05.00 wib : Rp. 15.8 Juta

Laporan bukber bulan NOVEMBER 2023 dapat dilihat di link berikut ini :

SELESAI : Bukber Puasa Senin-Kamis : November 2023

Dalam hadits lainnya, Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda (yang artinya), “Setiap orang akan berada di bawah NAUNGAN SEDEKAH-nya hingga diputuskan hukum antara manusia.”

Yazid berkata, “Abul Khair tidak pernah melewati satu haripun melainkan ia bersedekah dengan sesuatu walaupun hanya dengan sebuah kue ka’kah atau lainnya.” [HR. Ahmad – dishohihkan oleh Syaikh al Albani]
.
FAQ :
Menghadiahkan Pahala Sedekah Untuk Teman Karib Yang Sudah Meninggal
Siapa Saja Dari Ummat Islam Yang Bisa Dihadiahkan Pahala Sedekah..?
================
.
jazaakumullahu khoyron kepada para muhsinin/donatur yang telah dengan tulus karena Allah menyisihkan sebagian hartanya untuk menghidangkan ifthor bagi ratusan santri/santriwati penghafal Alqur’an yang melaksanakan ibadah puasa sunnah secara rutin in-syaa Allah di setiap senin-kamis, semoga Allah menerimanya…
.
silahkan share ke kerabat, teman, dll karena terdapat juga pahala bagi orang yang menunjukkan jalan kebaikan.
.
Nabi shollallahu ’alayhi wa sallam bersabda:

.من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه.

“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” [ HR. Muslim no. 1893 ]
.
.
Semoga Allah ‘azza wa Jalla senantiasa mudahkan urusan kita bersama… Aaamiiin

MUTIARA SALAF : Pokok Dan Cabang Keimanan

Syaikh as-Sa’di rohimahullah berkata,

“Adapun sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah dan sabar dalam menjauhi kemaksiatan kepada-Nya, maka hal itu sudah jelas bagi setiap orang bahwasanya keduanya merupakan bagian dari keimanan.

Bahkan, kedua hal itu merupakan pokok dan cabangnya. Karena pada hakekatnya iman itu secara keseluruhan merupakan kesabaran untuk menetapi apa yang dicintai Allah dan diridhoi-Nya serta untuk senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya, demikian pula harus sabar dalam menjauhi hal-hal yang diharamkan Allah.

Dan juga karena sesungguhnya agama ini berporos pada tiga pokok utama :

(1) membenarkan berita dari Allah dan Rosul-Nya,

(2) menjalankan perintah Allah dan Rosul-Nya, dan

(3) menjauhi larangan-larangan keduanya…”

( al-Qaul as-Sadid fi Maqoshid at-Tauhid, hal. 105 dan 106 )

MUTIARA SALAF : Tujuan Membaca Alqur’an

Al Imam Al Ajurri rohimahullah berkata,

«ومَن تدبَّر كلامَه عرف الربَّ عزَّ وجلَّ، وعَرَفَ عظيمَ سلطانه وقدرتِه، وعظيمَ تفضُّله على المؤمنين، وعَرَف ما عليه مِن فرض عبادته، فألزم نَفْسَه الواجبَ، فحَذِر ممَّا حذَّره مولاه الكريم، فرَغِب فيما رغَّبه، ومَن كانت هذه صفتَه عند تلاوته للقرآن وعند استماعه مِن غيره كان القرآنُ له شفاءً فاستغنى بلا مال ، وعَزَّ بلا عشيرةٍ، وأَنِسَ ممَّا يستوحش منه غيرُه، وكان همُّه عند التلاوة للسورة إذا افتتحها: «متى أتَّعظُ بما أتلو؟»، ولم يكن مرادُه: «متى أختم السورةَ؟»، وإنما مراده: «متى أَعْقِلُ عن الله الخطابَ؟ متى أزدجِرُ؟ متى أعتبر؟»، لأنَّ تلاوة القرآن عبادةٌ لا تكون بغفلةٍ، واللهُ الموفِّق لذلك

“Barang siapa mentadabburi firman-Nya, maka dia akan :
– mengetahui tentang Robbnya, agungnya kerajaan dan kekuasaan-Nya,
– besarnya karunia yang diberikan kepada kaum mukminin,
– kemudian sadar kewajiban untuk beribadah kepada-Nya.

Oleh karena itu, dia akan mengharuskan dirinya :
– mengerjakan kewajiban,
– menjauhi dari apa yang diperingatkan Robbnya yang Mahamulia, dan
– mencintai apa yang Dia perintahkan.

Barang siapa memiliki sifat ini ketika membaca dan mendengarkan Alqur’an, maka Alqur’an akan menjadi obat baginya. Dia akan berkecukupan tanpa harta, mulia tanpa suku (pendukung), dan tenang menghadapi apa yang biasa membuat orang lain gelisah.

Tujuannya saat membuka surat untuk dibaca adalah : ‘kapan aku bisa mengambil pelajaran dari apa yang kubaca..’ dan bukan : ‘kapan aku menyelesaikan surat ini..’

Namun keinginannya hanyalah :
– kapan aku bisa memahami firman Allah
– kapan aku terhenti (dari larangan-Nya setelah membaca)
– kapan aku bisa mengambil pelajaran

Sebab, membaca Alqur’an adalah ibadah yang tidak dapat diamalkan dengan kelalaian. Hanya Allah yang memberi taufik atas semua itu..”

(Akhlaq Hamalatil Qur’an, hlm 10)

MUTIARA SALAF : Diantara Tanda Keikhlasan

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rohimahullah mengatakan,

“Seseorang (yang ikhlas) tidak akan merasa senang ketika orang lain menerima ucapannya karena dia yang mengucapkannya, tetapi dia senang ketika manusia menerima ucapannya karena menilainya itu sebagai kebenaran, bukan karena dia yang mengucapkannya.

Demikian juga dia tidak disedihkan ketika orang lain menolak ucapannya karena dia yang mengucapkannya, karena jika demikian hakekatnya dia mengajak kepada pribadinya, akan tetapi dia hanyalah sedih ketika yang mereka tolak itu adalah kebenaran.

Dengan seperti inilah keikhlasan akan terwujud. Jadi ikhlas itu sangat sulit. Hanya saja jika seseorang menuju kepada Allah dengan jujur dan bersih di atas jalan yang lurus, maka sesungguhnya Allah akan membantunya dan memudahkan untuknya..”

(Al-Qoulul Mufid – 1/123)

Menebar Cahaya Sunnah