MUTIARA SALAF : Ujub Menghancurkan Amal

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

– Jika Allah membukakan untukmu pintu sholat malam, janganlah engkau melihat orang-orang yang tidur dengan pandangan merendahkan.

– Jika Allah membukakan untukmu pintu puasa, janganlah engkau melihat orang-orang yang tidak berpuasa dengan pandangan merendahkan.

– Jika Allah membukakan untukmu pintu jihad, janganlah engkau melihat orang-orang yang tidak berjihad dengan pandangan merendahkan.

Bisa jadi :
– orang yang tidur,
– orang yang tidak berpuasa, dan
– orang yang tidak berjihad,
dia lebih dekat dengan Allah dibandingkan dirimu.

Dan sungguh engkau menghabiskan malam dengan tidur dan bangun pagi dalam keadaan menyesal, itu lebih baik dibandingkan engkau menghabiskan malam dengan sholat, namun di pagi hari engkau merasa ujub.

Sesungguhnya orang yang ujub amalnya tidak akan ada yang naik (diterima oleh Allah).

(Madaarijus Saalikiin, 1/177)

MUTIARA SALAF : Jagalah Sholat Witir

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

إِنَّ اللهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ، فَأَوْتِرُوْا يَاأَهْلَ الْقُرْآنِ.

“Sesungguhnya Allah itu ganjil dan menyukai orang-orang yang melakukan sholat witir, maka sholat witirlah, wahai para ahli al-Qur’an..”

(HR. Abu Dawud – Shohiihut Targhiib no. 590)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahullah berkata,

ﺍﻟﻮﺗﺮ ﺳﻨﺔ ﺑﺎﺗﻔﺎﻕ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ، ﻭﻣﻦ ﺃﺻﺮ ﻋﻠﻰ ﺗﺮﻛﻪ ﻓﺈﻧّﻪ ﺗﺮﺩ ﺷﻬﺎﺩﺗﻪ، ﻭﺍﻟﻮﺗﺮ ﺃﻭﻛﺪ ﻣﻦ ﺳﻨﺔ ﺍﻟﻈﻬﺮ ﻭﺍﻟﻤﻐﺮﺏ ﻭﺍﻟﻌﺸﺎﺀ، ﻭﺍﻟﻮﺗﺮ ﺃﻓﻀﻞ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻣﻦ ﺟﻤﻴﻊ ﺗﻄﻮّﻋﺎﺕ ﺍﻟﻨﻬﺎﺭ ﻛﺼﻼﺓ ﺍﻟﻀﺤﻰ، ﺑﻞ ﺃﻓﻀﻞ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﻤﻜﺘﻮﺑﺔ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﻠﻴﻞ، ﻭﺃﻭﻛﺪ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﻮﺗﺮ ﻭﺭﻛﻌﺘﺎ ﺍﻟﻔﺠﺮ، والله أعلم.

“Sholat witir adalah sunnah berdasarkan kesepakatan (ulama) kaum muslimin, namun siapa yang meninggalkannya secara terus menerus maka persaksiannya tertolak.

Witir lebih ditekankan dibandingkan sholat sunnah zhuhur, maghrib, dan isya’, dan witir merupakan sholat yang paling afdhol dibandingkan semua sholat sunnah di siang hari seperti sholat dhuha.

Bahkan sholat yang paling afdhol setelah sholat wajib adalah sholat malam, dan sholat malam yang paling ditekankan adalah witir dan dua roka’at sholat fajar (qobliyah shubuh), wallahu a’lam..”

(Majmu’ul Fatawa, 23/88)

MUTIARA SALAF : Tidak Boleh Menyingkat Tulisan Sholawat

Seseorang bertanya kepada Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rohimahullah sebagai berikut :

Apakah diperbolehkan ketika menulis hadits, terkhusus pada kalimat Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasalam untuk menuliskannya dengan huruf (ص) atau (صلعم) sebagai isyarat kepada Rosulullah صلى الله عليه وسلم ..? Dan apakah kita harus menggerakkan kedua bibir ketika menulis kalimat صلى الله عليه وسلم ..?

JAWABAN:
Yang wajib adalah dengan menulisnya صلى الله عليه وسلم (shollallahu ‘alaihi wasalam).

Adapun (ص) atau (صلعم) (atau SAW versi indonesia -pent), maka ini tidak boleh. Ini keliru. Tetapi (yang benar) setelah menyebutkan nama beliau adalah dengan menuliskan shollallahu ‘alaihi wasalam (صلى الله عليه وسلم).

Dan YANG AFDHOL (lebih utama) adalah sembari melafazhkannya, menggabungkan antara dua perkara shollallahu ‘alaihi wasalam.

Sumber: http://www.ibnbaz.org.sa/node/19350

Memohon Kepada Allah Kebaikan Di Dunia Dan Di Akherat Serta Perlindungan Dari Adzab Neraka

Allah Ta’ala berfirman,

وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّقُوْلُ رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ ۝٢٠١

“Dan di antara mereka ada yang berdo’a, ‘Yaa Robb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akherat serta peliharalah kami dari adzab api neraka..” (Qs Al Baqoroh: 201)

Ibnu Katsir rohimahullah berkata,

“Do’a ini meliputi berbagai kebaikan di dunia dan menjauhkan segala kejahatan.

Kebaikan di dunia mencakup segala permintaan yang bersifat duniawi, berupa :
– kesehatan,
– rumah yang luas,
– istri yang cantik,
– rezeki yang melimpah,
– ilmu yang bermanfaat,
– amal sholih,
– kendaraan yang nyaman,
– pujian

dan lain sebagainya yang tercakup dalam ungkapan para mufassir, dan di antara semuanya itu tidak ada pertentangan, karena semuanya itu termasuk ke dalam kategori kebaikan dunia.

Sedangkan mengenai kebaikan di akherat, maka yang tertinggi adalah masuk Surga dan segala cakupannya berupa :
– rasa aman dari ketakutan yang sangat dahsyat,
– kemudahan hisab, dan
– berbagai kebaikan urusan akherat lainnya.

Sedangkan keselamatan dari api neraka, berarti juga kemudahan dari berbagai faktor penyebabnya di dunia, yaitu berupa :
– perlindungan dari berbagai larangan dan dosa,
– terhindar dari berbagai syubhat dan hal-hal yang haram.

Al Qosim Abu Abdurrohman berkata, “Barangsiapa dianugerahi :
– hati yang suka bersyukur,
– lisan yang senantiasa berdzikir, dan
– diri yang sabar,

berarti dia telah diberikan kebaikan di dunia dan kebaikan di akherat serta dilindungi dari adzab neraka. Oleh karena itu, sunnah Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam menganjurkan do’a tersebut di atas..”

Al Bukhori (no. 4522) meriwayatkan dari Mu’ammar, dari Anas bin Malik, dia berkata, Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam pernah berdo’a,

اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Allaahumma Robbanaa aatinaa fid-dunya hasanatan wa fil aakhiroti hasanatan wa qinaa ‘adzaaban-naar

Yaa Allah, ya Robb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akherat, serta peliharalah kami dari adzab neraka.

(Tafsir Ibnu Katsir)

Jika Kemaksiatan Lisan Menjadi Kebiasaan

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

‏إذا صارت المعاصي اللسانية معتادة للعبد، فإنه يعز عليه الصبر عنها، ولهذا تجد الرجل يقوم الليل ويصوم النهار ويتورع من استناده إلى وسادة حرير لحظة واحدة، ويطلق لسانه في الغيبة والنميمة والتفكه في أعراض الخلق والقول على الله ما لا يعلم.

“Jika kemaksiatan lisan telah menjadi kebiasaan seorang hamba, maka akan berat baginya untuk bersabar meninggalkannya.

Oleh karena itulah, engkau bisa menjumpai seseorang yang biasa mengerjakan sholat malam dan puasa serta berhati-hati untuk tidak bersandar ke bantal sutera walaupun sedetik saja, namun dia mengumbar lisannya untuk :
– ghibah (menggunjing),
– namimah (mengadu domba),
– senang menghancurkan kehormatan orang lain, dan
– berbicara atas nama Allah dengan hal-hal yang tidak dia ketahui..”

(Uddatush Shobirin, hlm. 127)

90 Hari Menjelang Romadhon 1445 Insyaa Allah

malam rabu tanggal 29 Jumadal Uula, atau sekitar 90 hari menjelang tibanya bulan Romadhon 1445 hijriyah. bagi yang masih punya hutang puasa Romadhon 1444, silahkan mengatur jadwal pelunasan hutang puasa tsb.

nb : angka 90 hanya estimasi .. penentuan tanggal 1 Romadhon 1445 hijriyah akan diputuskan oleh pemerintah setelah sidang isbat .. semoga Allah memberikan kesempatan kepada kita semua untuk bertemu kembali dengan bulan Romadhon, aamiiin.

Senantiasa Dalam Ibadah

Mukmin memulai harinya dengan ibadah..
Ia bangun membaca dzikir lalu sholat bermunajat dengan Allah..

Saat adzan shubuh berkumandang ia segera pergi untuk sholat shubuh..
Karena orang yang sholat shubuh maka ia berada dalam jaminan Allah..

Setelah itu ia berdzikir hingga matahari terbit..
Di waktu dhuha ia pun kembali sholat berharap rahmat-Nya..

Rosulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman:

يَا ابْنَ آدَمَ ، لَا تَعْجِزْ عَنْ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ أَكْفِكَ آخِرَهُ

“Hai anak Adam, janganlah kamu lemah dari empat roka’at di awal siang niscaya Aku akan mencukupimu di akhirnya..”

(HR Ahmad dan Attirmidzi)

Al Munawi rohimahullah dalam Faidhul Qodir (4/615) berkata:

أكفك آخره) أي : شر ما يُحدثه تعالى في آخر ذلك اليوم من المحن والبلايا

“Makna: ‘Aku akan mencukupimu di akhir siang’ adalah dari keburukan yang akan terjadi di akhir siang berupa musibah dan bencana..”

Yang dimaksud empat roka’at di awal siang ini ada dua pendapat ulama:

1. sebagian ulama mengatakan bahwa maksudnya adalah empat roka’at dhuha, dan

2. sebagian mengatakan dua roka’at qobliyah shubuh dan sholat shubuh.

Namun bila kita lakukan semua, maka menjadi keutamaan yang besar bagi kita.

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Sempurnakan Amal Kebaikanmu Dengan Berdo’a Agar Allah Menerima Amalan Tersebut

Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin rohimahullah berkata,

إذا عمل الإنسان عملاً صالحاً وسأل الله القبول فهذا من تمامه. ألم تعلم أن إبراهيم وإسماعيل كانا يبنيان الكعبة ويقولان:

“Apabila seorang muslim beramal sholih dan memohon kepada Allah agar amalan tersebut diterima, ini adalah bagian dari kesempurnaan amalannya. Tidakkah engkau tahu bahwa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ‘alaihimas salam dahulu membangun Ka’bah dan memohon kepada Allah subhanahu wata’ala.

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Wahai Robb kami, terimalah amalan kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui..” (al-Baqarah: 127)

ونحن نعلم أن عملهما عمل صالح مبني على نية صالحة ومع ذلك يسألان الله القبول.

Kita tahu bahwa amalan kedua Nabi tersebut adalah amalan sholih yang dibangun di atas niat yang sholih. Meski demikian, seiring dengan itu mereka berdua masih memohon kepada Allah agar amalan tersebut diterima..”

(Liqo’ Bab al-Maftuh 154)

Menebar Cahaya Sunnah