Hati Yang Mati

Setelah kita mengetahui hati yang hidup atau
hati yang sehat, kita mesti tahu pula bagaimanakah hati yang mati. Hati yang mati itulah lawan dari hati yang sehat. Ringkasnya kami sarikan dari penjelasan Ibnul Qayyim berikut ini.

Hati yang mati adalah lawan dari hati yang hidup. Hati yang mati adalah hati yang tidak ada kehidupan di dalamnya. Hati seperti ini tidak mengenal Rabbnya, tidak menyembah-Nya dengan menjalankan perintah-Nya sesuai ia cintai dan ridhoi. Bahkan hati seperti ini hanya mau menuruti syahwat dan keinginannya walau sampai membuat Allah murka dan marah. Ia tidak ambil pusing apakah Rabbnya peduli ataukah tidak.

Hakikatnya ia beribadah pada selain Allah dalam hal cinta, takut, harap, ridho, murka, pengagungan dan penghinaan diri. Jika ia mau mencinta, maka ia mencintai karena hawa nafsunya (bukan karena Allah). Begitu pula ketika ia membenci, maka ia membenci karena hawa nafsunya (bukan karena Allah). Sama halnya ketika ia memberi atau menolak, itu pun dengan hawa nafsunya. Hawa nafsunya lebih ia cintai daripada ridho Allah. Hawa nafsu, syahwat dan kebodohan adalah imamnya. Kendaraannya adalah kendaraannya.

Hati yang mati ini adalah hati yang tidak mau menerima kebenaran dan juga tidak mau patuh. Berbeda halnya dengan hati yang sehat yang mengetahui kebenaran, patuh dan menerimanya.

Demikian penjelasan Ibnul Qayyim yang kami sarikan dari kitab Ighotsatul Lahfan, hal. 44, 46.

Semoga Allah menjauhkan kita dari hati yang mati dan memberikan kita hati yang hidup.

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

Pesantren Darush Sholihin, Panggang-GK, 29 Rabi’ul Akhir 1434 H

www.rumaysho.com

Jangan Lewatkan Hari Tanpa 3 Perkara Ini !

(Faedah dari penjelasan أُسْتَاذُ Abu Yahya Badrusalam, Lc – حفظه الله dalam kajian Mukhtashar Minhajul Qasidin)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah meninggalkan sebuah do’a, yang mana beliau senantiasa berdo’a dengan do’a ini setiap selesai shalat Shubuh. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha

(( اللهم إني أسألك علما نافعا ورزقا طيبا وعملا متقبلا ))

“Ya Allah, aku memohon kepadamu Ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal, serta amal yang diterima”

[Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Majah, Thabrani, dan yang lainnya, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Ibnu Majah]

Hal ini merupakan sinyal yang diberikan oleh Rasulullah shallallahu’ala­ihi wasallam, agar hari-hari kita tidak kosong dari 3 hal tersebut, yaitu:

Pertama:
Agar senantiasa kita MENAMBAH ILMU, bukan sekedar ilmu, akan tetapi yang diinginkan adalah ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu agama, yang dengannya kita mengetahui apa-apa yang diinginkan Allah Ta’ala dan apa-apa yang telah disampaikan oleh RasulNya shallallahu’ala­ihi wasallam.

Ilmu hanya diperoleh dengan mempelajarinya.­ Maka dengan memanjatkan do’a ini, kita berharap agar Allah Ta’ala memberi taufiq kepada kita sehingga terdorong hati kita untuk menuntut ilmu, mempelajarinya demi mengangkat kebodohan dari diri kita. Terlebih lagi, segala bentuk sarana telah tersedia pada hari ini, yang memudahkan kita untuk mendapatkan ilmu agama,
kapan saja, dan dimana saja.

Kedua:
Agar kita juga MENCARI RIZKI, bekerja dan berkarya, tidak duduk-duduk menantikan uluran tangan dari org lain. Islam menganjurkan mencari rizki demi untuk dapat melaksanakan ketaatan kepada Allah. Dengan rizki tersebut kita bisa menyempurnakan shalat kita, dgn rizki tersebut kita bisa bersedekah baik yg wajib maupun yg sunnah, dengan rizki tersebut mungkin mencukupi utk menunaikan umrah maupun haji, dan segala bentuk ketaatan lainnya.

Akan tetapi tidak berarti semua rizki, melainkan hanya yang halal. Karena hanya rizki yang halal yang akan memberikan keberkahan. Dan karena Allah Ta’ala tidak akan menerima kecuali dari yang halal dan baik.

Ketiga, agar kita banyak beramal shaleh. Kita sangat butuh agar amalan kita diterima Allah Ta’ala. Setelah bersusah payah, mengorbankan waktu, tenaga, harta, tentu kita ingin agar semua itu diterima Allah Ta’ala sehingga mendapat balasan yang diinginkan. Akan tetapi Allah hanya akan menerima amal yang shaleh, yaitu amal yang dilandasi 2 hal utama: Ikhlas (semata-mata mengharap Wajah Allah), serta Muttaba’ah (beramal hanya dengan petunjuk yang telah dibawa oleh Muhammad shallallahu’ala­ihi wasallam).

Dan ketiga hal diatas saling berhubungan satu sama lain.

Dengan Ilmu yang bermanfaat kita dapat mengetahui mana yang halal dan mana yang haram, sehingga dalam mencari rizki pun kita mengetahui batasan-batasan­nya dan memastikan hanya mencari yang halal.

Dan hanya dengan ilmu lah suatu amal dapat ditegakkan dengan benar, sesuai yang diinginkan Allah dan RasulNya, sehingga amalan pun diterima. Karena amalan yang tidak dilandasai dengan ilmu, yaitu yang tidak berdasarkan petunjuk Allah dan RasulNya, maka amalan tersebut akan tertolak, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh A’isyah radhiyallahu’an­ha “Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang bukan atas petunjuk kami, maka amalan tersebut tertolak” (Riwayat Muslim, shahih).

Demikian juga, harta yang halal juga menentukan apakah amalan kita diterima atau ditolak. Sebagaimana hadits yang menceritakan seorang musafir yang berdo’a kepada Allah dalam safarnya “Ya Rabb, Ya Rabb…” akan tetapi makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, sehingga Rasulullah shallallahu’ala­ihi wasallam bersabda “Bagaimana do’anya akan dikabulkan?” (Riwayat Muslim, shahih).

Bersambung……

10 penyelamat muslim dari pengaruh kedengkian manusia

# 10 penyelamat muslim dari pengaruh kedengkian manusia #
Ust. Djazuli LC

1. Banyak berlindung kpd Allah dgn banyak berta’awudz seperti ucapan ” ‘audzu billah minasyaitanirajim”

2. Berupaya untuk selalu menjalankan perintah Allah & meninggalkan larangan-Nya (taqwa)

3. Banyak bersabar, yaitu dengan tdk membalas keburukan dgn keburukan

4. Banyak bertawakkal kpd Allah

5. Berupaya untuk selalu khusyu’ pada setiap ibadah

6. Berusaha untuk senantiasa berorientasi kpd akhirat pada setiap amal

7. Bertaubat kpd Allah & banyak beristighfar

8. Bersedekah dan memperbanyak kebaikan

9. Berbuat baik kpd orang yg berindikasi menyimpan kedengkian

10.Berserah diri kpd Allah dgn tauhid, dengan keyakinan bhw semua kejadian di Dunia tdk akan terjadi tanpa izin dari Allah.

Dinukil dari “Fawaid tata’allaqu biasma wasifat” karya ibnul Qoyyim

Semoga bermanfaat!

Mengharap Kasih Sayang Nya

# Mengharap Kasih Sayang Nya#
Ust. Firanda Andirja MA

Al-Imam Asy-Syaukaani rahimahullah (wafat 1250 H) berkata dalam sya’irnya :

فَكَّرْتُ فِي عِلْمِي وَفِي أَعْمَالِي …. وَنَظَرْتُ فِي قَوْلِي وَفِي أَفْعَالِي
Aku merenungkan tentang ilmuku & amalanku….
Aku mengamati perkataanku & perbuatanku…

فَوَجَدْتُ مَا أَخْشَاهُ مِنْهَا فَوْقَ مَا …. أَرْجُو فَطَاحَتْ عِنْدَ ذَا آمَالِي
Maka aku dapati apa yg aku takutkan darinya melebihi apa yg aku harapkan darinya…maka sirnalah saat itu harapan – harapanku…

وَرَجَعْتُ نَحْوَ الرَّحْمَةِ الْعُظْمَى إِلَى … مَا أَرْتَجِي مِنْ فَضْلِ ذِي الأَفْضَالِ
Akupun kembali menuju rahmat (kasih sayang) yg luas…
kpd karunia yg aku harapkan dari Dzat Pemilik Segala Karunia…

فَغَدَا الرَّجَا وَالْخَوْفُ يَعْتَلِجَانِ فِي … صَدْرِي وَهَذَا مُنْتَهَى أَحْوَالِي
Jadilah harapan & ketakutan berseteru dlm dadaku…
inilah kesudahan kondisiku

(Nailul Wathor min taroojumi rijaalil yaman fi al-qorni ats-tsaalits ‘asyar karya Muhammad Zabaaroh As-Shon’aani, 2/302)

Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah adalah seorang ulama yg sangat terkenal, penulis buku Nailul Authoor, menjelaskan bahwa setelah menimbang – nimbang ilmu, amalan, perkataan & perbuatannya maka beliau mendapati bahwa semuanya tdk bisa diandalkan.

Apa yg beliau takutkan dari ilmu, amal, perkataan & perbuatan jika dihisab kelak lebih besar dari apa yg beliau harapkan..

Karenanya beliau hanya bisa mengharapkan kasih sayang yg luas dari Allah Ta’aala agar merahmati beliau…

Jika seorang Al-Imam Asy-Syaukani tdk ujub & bangga dgn ilmu & amal beliau, bagaimana lagi dgn sebagian kita yg pas-pasan ?? Atau sdh jelas pailit, minus, & defisit ??
Hanya rahmat Allah yg luas yg bisa kita andalkan…

Ya Allah berilah taufiq kpd kami agar senantias bersyukur & beramal sholeh…
senantiasa takut adzab-Mu & senantiasa berharap akan rahmat-Mu…

آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

AGAMA FITRAH

Ust. Rochmad Supriyadi LC

Allah سبحانه وتعالى berfirman yg artinya, “Maka hadapkanlah wajahmu dg lulus kpd agama (Islam) yg sesuai fitrah Allah yg Dia telah ciptakan manusia menurut fitrah itu. Tdk ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yg lurus,tetapi kebanyakan manusia tdk mengetahui”. QS Ar-Rum 30.

Ibnu Qoyyim berkata,” Allah سبحانه وتعالى menerangkan bahwa arti “menghadapkan wajah” adalah berbuat iklas dlm hati, dan berjuang utk Agama Allah, yg mengandung atas kecintaan kpd Nya, yg diwujudkan dg beribadah sesuai kebenaran, hanya menghambakan diri kpd-Nya, dan berpaling dari selain-Nya سبحانه وتعالى.

Dan ini adalah agama fitrah yg Allah telah ciptakan para hambanya diatas fitrah ini, akan tetapi kemudian para manusia merusak fitrah tersebut, melumurinya dg noda dan kotoran, sebagaimana Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda, “Tdk lah seseorang yg dilahirkan kecuali ia diatas fitrah (agama tauhid) maka ayah mereka merubahnya menjadi yahudi, nasrani, majusi “.

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda dlm hadist Qudsi, Allah سبحانه وتعالى berkata, “Sesungguhnya aku ciptakan manusia dlm keadaan lurus tdk condong, akan tetapi kemudian para syaiton datang dan menggoda mereka dari agama nya, mereka diperintah agar menyekutukan Ku yg tdk ada dalil sedikitpun padanya”. HR Muslim.

– Bada’iut Tafsir 3/391 –

Umur

Saudaraku..
Dalam perniagaan ini kita memiliki modal yg tak kita ketahui jumlahnya..

Kita tidak tau pula kapan modal ini expired..

Ia adalah umur..

Terbatas dan sesaat..
Jika telah dibelanjakan maka tak dapat kembali..

Wahai saudaraku.
Modal ini jika telah berjalan pasti habis..
Belilah dagangan yg bermanfaat tuk bekal akhirat..

Perjalanan masih panjang.. Juta’an tahun.. Yg tak kau ketahui berapa lamanya..

Jangan kau buang modalmu sia sia..

Engkau akan rugi dan merugi..
Sungguh celaka jika modalnya digunakan untuk membeli racunn.. Racun untuk ke neraka yg akan direngguhnya..
Naudzubillah mindzalik

Semoga hati kita dijauhkan dari berkeinginan maksiat..

Ibnu Uqail Al-Hanbali berkata: “Sesungguhnya aku tidak menghalalkan bagi diriku untuk menyia-nyiakan sesaatpun dari umurku.”

Suatu saat Amr bin Abdu Qais melewati sekumpulan manusia yang sedang berleha-leha. Mereka lalu mengajaknya untuk duduk bersama, maka ia menjawab: “Tahanlah matahari dari peredarannya agar aku dapat bercakap-cakap dengan kalian.”

Inilah di antara untaian hikmah yang keluar dari lisan-lisan mereka, semuanya menunjukan betapa berharganya waktu di sisi mereka.

www.abu-riyadl.blogspot.com

Vonis Kafir Dan Kaidahnya

Tidak boleh seorang mukmin untuk tenggelam dalam masalah kafir mengkafirkan sebelum ia memahami kaidah-kaidahnya, dan merealisasikan syarat-syarat dan batasannya, jika tidak maka ia telah menjerumuskan dirinya dalam dosa dan kebinasaan, karena masalah kafir mengkafirkan termasuk masalah agama yang paling agung, tidak ada yang menguasainya kecuali para ulama besar yang luas dan tajam pemahamannya. Berikut ini adalah kaidah-kaidah penting yang harus diketahui oleh seorang mukmin seputar takfir :

Kaidah pertama: Kafir mengkafirkan adalah hukum syari’at dan hak murni bagi Allah Ta’ala bukan milik paguyuban atau kelompok tertentu dan tidak diserahkan kepada akal dan perasaan, tidak boleh dimasuki oleh semangat membabi buta tidak pula permusuhan yang nyata. Maka tidak boleh dikafirkan kecuali orang yang Allah dan Rosul-Nya telah kafirkan.

Syaikhul islam ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,” Berbeda dengan apa yang dikatakan oleh sebagian orang seperti Abu ishaq Al Isfiroyini dan para pengikutnya yang berkata,” Kita tidak mengkafirkan kecuali orang yang telah kita kafirkan”. Karena sesungguhnya kufur itu bukan hak mereka, akan tetapi ia adalah hak Allah…”

[1]Karena mengkafirkan maknanya adalah menghalalkan darahnya dan menghukuminya kekal dalam api Neraka, dan ini tidak bisa diketahui kecuali dengan nash atau kiyas kepada nash tersebut.

Kaidah kedua : orang yang masuk islam secara yakin tidak boleh dikafirkan sebatas dengan dugaan saja.

Baca selengkapnya di:
http://cintasunnah.com/vonis-kafir-dan-kaidahnya/

JALAN-JALAN KESELAMATAN

Saudara-saudaraku yang kami cintai karena ALLAH, berikut ini kita akan mengambil manfaat/pelajaran yg snagat berharga dari sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan kepada kita tentang jalan-jalan keselamatan dunia & akhirat kita….

Haditsnya:
Dari ‘Uqbah bin ‘Amir dia berkata: aku bertanya kepada Rasulullah, apakah yang menyebabkan keselamatan itu?

Beliau menjawab:
– Tahanlah Lisanmu
– Tinggal dirumahmu
– Tangisilah kesalahanmu (dosamu).

Hadits Hasan Lighairihi diriwayatkan oleh imam tirmidzi no 2406

Penjelasan hadits diatas ialah:
Bahwa diantara sebab manusia ingin mendapatkan Keselamatan dunia & akhirat:

1. Tahanlah Lisanmu = yaitu kita diperintah utk menjaga & memelihara lisan ini dari mengucapkan sesuatu yg tercela/ yg tidak baik apakah itu menceritakan aib saudaranya, ngadu domba, menyakiti saudaranya dll &kita diperintah untuk menggunakan lisan kita utk perkara-perkara yg diRidhoi ALLAH سبحانه وتعالى apakah utk berdzikir, berkata yg baik dll.

2. Tinggal dirumahmu= artinya tetaplah engkau tinggal dirumahmu dan sibukkanlah dirimu dengan mentaati, beribadah kepada ALLAH. Serta tinggalkanlah keinginan-keinginan/ segala sesuatu yg tidak baik yg menyebabkan dirimu keluar rumah yang akhirnya menjerumuskan dirimu kepada perbuatan dosa dan ma’siyat, KECUALI engkau keluar rumah utk mengerjakan perkara-perkara yg baik yang dibenarkan oleh syariat Rabbul ‘Aalamiin/yg tdk dilarang oleh agama.

3. Tangisilah kesalahan (dosamu)= yakni ingatlah kesalahan dan dosa-dosamu yang pernah engkau kerjakan pada masa lalu dan selalu engkau ingat adzab/ siksa yang sgt pedih baik didunia dan akhirat akibat perbuatan dosa& ma’siyat itu, yg demikian dpt membantumu utk ttp berada dijalan ketaatan &juga dpt menghalangimu utk kembali melakukan perberbuatan dosa.

Semoga ALLAH سبحانه وتعالى memberikan kemudahan kpd kita semua utk memahami hadits tersebut dengan baik, dan diberikan kemudahan utk mengamalkan.

Ahmad ferry nasution.

Kenapa Wanita Safar Harus Bersama Mahram ?

Ia adalah perintah Allah Ta’ala melalui lisan nabinya..

Sebagai orang beriman maka tiada kata yg lebih indah dari” sami’na wa ato’na” kami dengar dan kami Ta’ala’ati..
Tak bertanya mengapa dan kenapa?..

Sabda nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam :

لاَ تُسَافِرِ الْمَرْأَةُ إِلاَّ مَعَ ذِي مَحْرَمٍ وَلاَ يَدْخُلُ عَلَيْهَا رَجُلٌ إِلاَّ وَمَعَهَا مَحْرَمٌ فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أَخْرُجَ فِي جَيْشِ كَذَا وَكَذَا وَامْرَأَتِي تُرِيدُ الْحَجَّ فَقَالَ اخْرُجْ مَعَهَا

“Janganlah wanita safar (bepergian jauh) kecuali bersama dengan mahromnya, dan janganlah seorang (laki-laki) menemuinya melainkan wanita itu disertai mahromnya. Maka seseorang berkata: “Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sesungguhnya aku ingin pergi mengikuti perang anu dan anu, sedangkan istriku ingin menunaikan ibadah haji.” Beliau bersabda: “Keluarlah (pergilah berhaji) bersamanya (istrimu)”. [HSR. Imam Bukhari (Fathul Baari IV/172), Muslim (hal. 978) dan Ahmad I/222 dan 246]

www.abu-riyadl.blogspot.com
Abu riyadl nurcholis

Ngapain Pacaran ?

Ia merupakan cinta bukan karena Allah..
Nafsu belaka..

Cinta sesungguhnya adalah ketika kalian telah halal..
Ia bukan sekedar cinta.. Tapi juga berisikan ibadah..

Sedangkan anda akan dikumpulkan diakhirat dengan yang anda cintai..

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
المَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ
“Seseorang bersama dengan yang dicintainya”
(HR Al-Bukhari no 6169)

Dan taukah kamu bahwa cinta yang tulus adalah cinta pasca nikah

Seperti ungkapan berikut..

لم نر للمتحابين مثل النكاح ”

Kami tidak Pernah melihat dua orang yg saling mencintai melebihi tulusnya cinta dg PERNIKAHAN.

Semoga anda mendapat jodoh yang akan dapat digandeng diakhirat kelak tuk menikmati cinta abadi akhirat..

www.abu-riyadl.blogspot.com

Menebar Cahaya Sunnah