Munafik, Memang Munafik!

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri حفظه الله تعالى

Sobat! Sekedar mendengar kata munafik saja terasa menyebalkan, apalagi bertemu dan berinteraksi dengan orangnya, iiih benci banget deh. Kata orang jawa: amet-amet jabang bayi. Maksudnya, semoga anak keturunan kita tidak berjumpa dan juga tidak menjadi orang munafik. Amiin.

Namun demikian, tahukah anda siapakah orang munafik itu? Adakah daftar nama, alamat dan profesinya? Tentu tidak ada, karena munafik itu adalah sikap dan perilaku, bukan nama atau identitas.

Karena itu, bila anda ingin mengetahui siapa itu munafik, maka kenalilah ciri-cirinya, niscaya anda dapat mengenali siapakah orang munafik. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا، وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا: إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ ”

“Ada empat hal, yang bila keempatnya ada pada diri seseorang, maka berarti ia adalah seorang munafik tulen. Dan bila pada diri seseorang terdapat salah satu dari keempat hal itu, maka itu pertanda dirinya terjangkiti kemunafikan hingga ia meninggalkannya:
1. Bila diberi kepercayaan (amanat), ia berkhianat.
2. Bila berbicara, ia berdusta
3. Bila berjanji, ia ingkar janji.
4. Bila ia bersilang pendapat, maka ia bersikap keji.” (Muttafaqun Alaih)

Ali Al Qary dalam kitabnya Mirqatul Mafatih, menjelaskan bahwa maksud dari bersikap keji ketika bersilang pendapat ialah dengan sikap gegabah menuduh orang yang menyelisihi pendapatnya dan ditambah lagi ia juga hobi untuk berkata-kata yang menyelisihi fakta.

Sobat! Marilah kita semua belajar membiasakan diri dengan sikap dan perilaku orang-orang yang beriman dan berjuang meninggalkan kebiasaan buruk semisal perilaku munafik di atas. Semoga Allah Ta’ala memudahkan kita semua untuk berakhlak karimah dan beramal sholeh. Amiin.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Berjualan Cinta, Mengakunya Cinta Sejati

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, MA, حفظه الله تعالى

Kasih sayang dan cinta suci antara dua insan yang berbeda jenis, sebaiknya dipadu hingga ke pelaminan. Keduanya bisa menyatukan rasa cinta dan membuktikan manisnya rasa cinta suci. Ketulusan, pengorbanan, kesetiaan, dan kedamaian sungguh terasa dalam pernikahan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«لم نر – ير – للمتحابين مثل النكاح»

“Tiada ikatan yang paling berguna bagi dua insan yang saling mencintai dibanding pernikahan.” (Ibnu Majah)

Namun demikian, kadang kala, dua insan yang dahulu saling mencintai, terpaksa harus berpisah. Kodrat ilahi menentukan bahwa cinta antara kedua insan tersebut hanya cukup untuk mendorong roda-roda pedati rumah tangga mereka dalam beberapa waktu saja. Karena cinta telah pudar bahkan telah sirna, maka dengan sangat terpaksa pedati rumah tangga merekapun mogok bahkan rusak.

Dalam kondisi semacam ini, sering kali masing-masing pihak berkata: dialah penyebab perceraian ini. Langka dari kedua insan itu yang berkata dengan jujur: “sayalah biang perpisahan ini,” alih-alih mengakui semua, sekedar mengakui bahwa dirinya juga punya andil saja tidak sudi.

Sobat! Ketahuilah bahwa kesetiaan yang sejati ialah kesetian yang anda berikan ketika anda dikhianati atau dizholimi. Adapun setia di saat ia setia, berbuat baik di saat dia berbuat baik maka sejatinya itu hanyalah praktek barter alias memperdagangkan cinta dan kesetian. Cinta sejati ialah cinta yang anda berikan walaupun dia telah membenci, hingga akhirnya iapun tak kuasa untuk terus membenci. Cinta yang sejati anda tersebut dapat merubah kebencian menjadi cinta dan kesetiaan.

Namun demikian, betapa banyak orang yang belum bisa memahami arti kehidupan ini, sehingga mereka bisa tertawa terbahak-bahak, disaat melihat saudaranya terperosok dalam lumpur, walaupun dirinya sedang berada dalam lumpur yang sama. Itulah manusia, maunya tampil suci walaupun dirinya sedang berlumuran lumpur.

Dalam kehidupan kita sehari-hari, banyak orang yang ingin tampil suci dengan berkata: “mengapa dia tidak mau mengucapkan salam kepada saya setiap kali berjumpa?” Padahal orang tersebut juga berkata: “mengapa dia tidak mengucapkan salam kepada saya setiap kali berjumpa.” Bila demikian, terbayang sudah, mustahil rasanya mereka bisa bersatu dan bersahabat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ، يَلْتَقِيَانِ فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا، وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ»

“Tidak halal bagi seorang muslim untuk memboikot saudaranya lebih dari tiga hari, akibatnya setiap kali mereka berdua berjumpa, yang ini memalingkan wajahnya dan yang itupun juga memalingkan wajahnya. Orang yang paling baik dari mereka adalah yang terlebih dahulu mengucapkan salam. (Muttafaqun ‘alaih).

Dalam konteks silaturrahim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ الوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ، وَلَكِنِ الوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا»

“Tidak dikatakan menyambung tali slilaturrahim orang yang biasa membalas kunjungan atau pemberian, namun orang yang menyambung tali silaturrahim ialah orang yang berusaha menjaga/ menyambung hubungan silaturrahimnya dengan kerabat yang telah memutuskan hubungan dengannya. (Muttafaqun ‘alaih)

Sobat! Sikap dan pola pikir semacam ini sepatutnya kita pelajari dan kita terapkan dalam kehidupan kita sehari hari, agar hidup kita menjadi tentram dan nyaman.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Do’a Sapu Jagad

Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى ٱلْءَاخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

“Robbanaa aatinaa fid-dun yaa hasanah, wafil aa-khiroti hasanah, waqinaa ‘adzaaban-naar.”

“Ya Tuhan, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan selamatkanlah kami dari siksa neraka.” (QS. Al-Baqarah 201)

Penjelasan:
Doa ini merupakan doa yang singkat tapi sangat berguna karena mencakup semua aspek kehidupan diantaranya memiliki kandungan, memohon kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat dan keselamatan dari siksa api neraka. Doa ini baik dibaca dalam setiap kesempatan.

Sebab Turunnya Ayat:
Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dari Ibnu Abbas, katanya, “Suatu golongan dari kalangan Arab biasa datang ke tempat berwukuf lalu berdoa, ‘Ya Allah! Jadikanlah tahunku ini tahun hujan dan tahun kesuburan, serta tahun kasih sayang dan kebaikan,’ tanpa menyebut-nyebut soal akhirat walau sedikit pun.” Allah pun menurunkan tentang mereka, “Di antara manusia ada yang mengatakan, ‘Ya Tuhan kami berilah kami (kebaikan) di dunia, tetapi tiadalah bagian di akhirat.” (Q.S. Al-Baqarah 200)

Setelah itu datanglah golongan lain yakni orang-orang beriman yang memohon, ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari siksa neraka. Mereka itulah yang beroleh bagian dari apa yang mereka usahakan, dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.'” (Q.S. Al-Baqarah 201)

Oleh karenanya Allah Ta`ala memberikan pujian kepada para hamba yang memohon kebaikan urusan dunia dan akhirat.

Berkata Imam Ibnu Katsir rohimahullah, “Terkumpul dalam doa ini permohonan segala kebaikan dunia dan perlindungan dari segala keburukan nya, dikarenakan segala kebaikan dunia mencakup seluruh keinginan seperti ; kesehatan, keselamatan, rumah yang indah, pasangan yang cantik, rezeki yang banyak, ilmu yang bermanfaat, amal yang salih, kendaraan yang mewah, dan seterusnya dari aneka nikmat yang termasuk dalam kebaikan dunia.

Adapun kebaikan akhirat maka yang paling diharapkan adalah masuk ke dalam surga serta aneka nikmat di dalam nya, dan terhindar dari rasa takut pada hari kiamat, padang mahsyar, hari perhitungan dan hisab, serta terbebas kan dari siksa neraka.

Berkata Al Qo`sim abu abdurrahman, “Barangsiapa yang telah diberikan hati yang pandai bersyukur, lisan yang berdzikir, tubuh yang mampu bersabar, maka ia telah di berikan di dunia suatu kebaikan, dan di akhirat kebaikan, dan ia akan di hindarkan dari api neraka.”

Di riwayat kan dari Abdul Aziz bin Syuhaib bahwa Qotadah bertanya kepada Anas radhiyallah anhu tentang doa yang paling banyak di baca oleh Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Anas menjawab :

رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى ٱلْءَاخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّا .

“Dan Anas jika hendak berdoa dengan suatu doa maka ia melantunkan doa ini.” (HR Muslim).
« Tafsir Ibnu Katsir 2/262~263 »

View

Ternyata Segelas Air Putih Bisa Lebih Berharga Daripada Dunia Dan Seisinya

Ustadz M Wasitho, حفظه الله تعالى

» Diriwayatkan bahwa Ibnus Samak rahimahullah masuk menemui khalifah Harun Ar-Rasyid memberikan nasehat, sampai khalifah menangis.

Kemudian Ibnus Samak meminta segelas air, dan mengatakan: “Wahai amirul mukminin, seandainya engkau dihalangi dari (meminum) minuman ini (padahal engkau dalam keadaan sangat kehausan), kecuali dengan (membayar) dunia dan seisinya, apakah engkau akan menebus segelas air itu dengannya?”. Khalifah menjawab: “Ya”. Ibnus Samak mengatakan (kepadanya): “Minumlah dengan puas, semoga Allah memberkahi anda”.

Ketika khalifah telah minum, Ibnus Samak berkata lagi kepadanya: “Wahai amirul mukminin, beritahukan kepadaku seandainya engkau dihalangi mengeluarkan minuman ini dari (diri)mu, kecuali dengan (membayar) dunia dan seisinya, apakah engkau akan menebusnya?” Khalifah menjawab: “Ya”. Ibnus Samak mengatakan (kepadanya): “Lalu apakah yang akan engkau lakukan dengan sesuatu (yakni dunia dan seisinya) yang mana seteguk air lebih baik darinya?”.

(*) Dialog antara seorang ulama dengan kholifah ini menunjukkan bahwa kenikmatan Allah yang berupa minum air di saat kehausan yang sangat lebih besar daripada memiliki dunia seisinya. Kemudian adanya kemudahan di dalam mengeluarkannya dengan buang air termasuk kenikmatan yang sangat berharga. Ini juga menunjukkan betapa besarnya nikmat kesehatan. (Lihat Mukhtashar Minhajul Qashidin, karya Imam Ibnu Qudamah, hal. 366, ta’liq dan takhrij: Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi).

» BBG Majlis Hadits, chat room Faedah dan Mau’izhoh Hasanah.

View

Masalah 404: Yang Lebih Afdhol Bagi Seorang Wanita Muslimah Antara Ibadah I’tikaf Di Masjid Dan Melayani Suami Di Dalam Rumah

Ustadz M Wasitho, حفظه الله تعالى

Tanya:
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Ustad, terhadap seorang perempuan yang sudah menikah, manakah yang lebih utama antara melakukan itikaf di masjid dengan melayani suami di rumah ?….
جَزَاك اللهُ خَيْرًا

Jawab:
وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bismillah. Yang lebih utama bagi seorang wanita muslimah yang telah menikah adalah berada di dalam rumahnya untuk melayani suaminya dan menjalankan tugas-tugasnya sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga, karena hal ini hukumnya Wajib atasnya.

Sedangkan melakukan ibadah I’tikaf adalah Sunnah hukumnya. Sehingga dengan demikian, seorang wanita muslimah tidak boleh beri’tikaf kecuali seizin suaminya.

Maka dari itu, janganlah ada diantara kita yang menyibukkan dirinya dengan ibadah-ibadah yang hukumnya sunnah, namun di waktu yang bersamaan ia meninggalkan atau melalaikan ibadah-ibadah yang wajib.

Di dalam hadits Qudsy, Allah Ta’ala berfirman:
(Wa Ma Taqorroba ilayya ‘Abdi Bi Syai-in Ahabba ilayya Mimma Iftarodhtuhu)

Artinya: “Dan Hamba-Ku tidaklah mendekatkan dirinya kepada-Ku dgn sesuatu amalan yang lebih Aku cintai daripada melakukan ibadah-ibadah yang telah Aku Wajibkan kepadanya.”

Demikian jawaban yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bish-showab. Wabillahi at-Taufiq. (Klaten, 11 Juni 2014).

» BBG Majlis Hadits, chat room Tanya Jawab.

View

Angkuhnya Orang Berilmu

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Angkuh/kasarnya orang berilmu & tawadhu’/lembutnya orang jahil/sesat merupakan musibah.

Masyarakat akhirnya menjauhi orang berilmu tersebut dan malah simpati kepada orang yang jahil dan sesat.

Ilmu seharusnya semakin menambah tawadu dan ramahnya seseorang bukan semakin manjadikannya angkuh dan kasar.

Sungguh sedih tatkala melihat seorang awam tertarik dengan dai syi’ah karena lembutnya dan trauma dengan dai ahlus sunnah karena kasarnya

View

Puasa Batin Sebelum Lahir

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, MA, حفظه الله تعالى

Sobat! Sesaat lagi tamu istimewa bagi setiap muslim kan tiba, yaitu bulan Romadhan. Betapa tidak, pada bulan ini, pintu-pintu menuju surga dibuka lebar-lebar, sedangkan pintu-pintu menuju neraka di tutup rapat-rapat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

: «إذا جاء رمضان فتحت أبواب الجنة، وغلقت أبواب النار، وصفدت الشياطين»

“Bila Ramadhan telah tiba, maka seluruh pintu menuju surga dibuka, dan sebaliknya seluruh pintu menuju neraka di tutup, sedangkan setan setan dibelenggu.” (Muslim)

Pada bulan ini setiap orang yang beriman berpuasa dengan menahan lapar, dahaga dan syahwat birahinya. Walaupun ketiga hal itu sebelumnya halal untuk anda nikmati.

Anda meninggalkan ketiga hal halal tersebut dalam rangka mentaati perintah Allah. Namun demikian, betapa sering anda lalai untuk meninggalkan hal-hal haram yang nyata-nyata haram, semisal berdusta, berkhianat, suuzhon, memandang yang tidak halal, riba dan lainnya.

Sobat! Coba anda renungkan, mungkinkah Allah menerima puasa anda dari perbuatan yang sebelumnya halal, yaitu makan, minum dan yang serupa, sedangkan anda tetap menjalankan berbagai perbuatan haram yang tiada pernah dihalalkan? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من لم يدع قول الزور والعمل به والجهل، فليس لله حاجة أن يدع طعامه وشرابه»

“Barang siapa yang tidak kuasa meninggalkan ucapan dusta, perbuatan dusta dan perilaku bodoh, maka Allah tiada butuh/menerima puasanya yang sekedar menahan rasa lapar dan dahaga.” (Bukhari)

Sobat! Sebagaimana sejak sekarang anda telah mulai berpikir dan mempersiapkan diri untuk meninggalkan makan dan minum pada siang hari di bulan ramadhan, sudahkan anda memulai persiapan anda untuk meninggalkan segala perbuatan haram ?

View

Silau! Aneh Namun Nyata

 Ditulis oleh Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri حفظه الله تعالى

Sobat! Mentari di pagi hari, nampak begitu indah dan menyejukkan, seakan membawa sejuta harapan untuk anda, sehingga andapun senang memandanginya.

Namun tatkala sang mentari telah meninggi, sinarnya begitu terik dan sangat terang, sehingga terasa panas dan andapun tidak kuasa lagi untuk memandangnya. Bahkan kalaupun anda memaksakan diri untuk memandangnya, niscaya mata anda menjadi silau.

Bukan hanya silau di saat memandangnya, sampaipun setelah anda memalingkan pandanganpun, pandangan mata anda masih kabur, sehingga kesusahan untuk melihat. Bukankah demikian sobat? Tidak percaya, buktikan sendiri.

Kejadian di atas membawa pelajaran besar pada kita semua, betapa mentari yang begitu nyata ternyata anda tidak kuasa melihatnya, anda hanya bisa merasakan dampaknya, yaitu panas, dan terang.

Namun betapa bodohnya kita bila telah merasakan terang dan teriknya sinar mentari, kita masih menyibukkan diri untuk mencari bukti tentang keberadaannya.

Kenyataan di atas juga menjadi bukti bahwa anda memiliki banyak kelemahan, sampaipun sekedar untuk menyaksikan sesuatu yang nyata semisal sang mentari anda tidak kuasa melakukannya. Jangan salahkan mentari kenapa susah dilihat di siang hari, namun sadarilah kelemahan diri anda.

Sobat! Mentari mengajari kita untuk jujur, mengakui kelemahan dan keterbatasan kita, maka dari itu, jadilah orang yang pandai mawas diri bukan orang yang hobi menyombongkan diri.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

View

Dilarang Sering Lihat Saldo Rekening !!!

Ustadz Ammi Nur Baits,  حفظه الله تعالى

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Salah satu kebiasaan yang selayaknya dihindari dengan rekening anda, terlalu sering ngecek saldo rekening tabungan. Terlebih setelah merebaknya fasilitas internet banking dan mobile banking. Padahal dia sendiri tahu, dia belum melakukan transaksi apapun dengan rekeningnya. Dia tidak mengambil uangnya, tidak pula mendapatkan kiriman dari luar.

Tapi itulah manusia, umumnya mereka merasa tenang, merasa tentram, ketika melihat hartanya. Mendapatkan kebahagiaan, ketika menghitung uangnya. Merasa senang, ketika melihat saldo rekeningnya, terlebih ketika datang tanggal muda.

Kita tentu telah menghafal surat al-Humazah. Salah satu surat yang mengingatkan kita agar tidak menjadi orang yang rakus harta. Namun, ada satu keterangan yang penting untuk kita garis bawahi, terkait hobi melihat saldo rekening.

Diantara sifat tercela yang Allah sebutkan dalam surat al-Humazah,

الَّذِي جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ

Yaitu orang yang mengumpulkan harta dan suka menghitung-hitungnya. (QS. Al-Humazah: 2).

Makna kata [وَعَدَّدَهُ] ’menghitung-hitungnya’ ada dua:

Pertama, makna’addadah [عَدَّدَهُ] adalah ta’did [التعديد], artinya dia menghitung jumlah uang dan harta yang dia miliki di luar kebutuhan.

Kedua, kata’addadah [عَدَّدَهُ] bermakna ja’alahu uddatan [جعله عُدة], artinya dia meyakini bahwa hartanya adalah satu-satunya modal untuk bisa melanjutkan hidupnya.

(Zadul Masir, Ibnul Jauzi, 4/489).

Kita memiliki kaidah, bahwa jika ada ayat yang memiliki beberapa penjelasan tafsir dari para ulama, dan tidak ada yang bertentangan, maka semua tafsir itu dianggap benar. (Syarh Muqadimah Tafsir, Ibnu Utsaimin, hlm. 20).

Jika kita perhatikan, dua keterangan tafsir di atas, tidak saling bertentangan. Sehingga tafsir ayat ini, mencakup keduanya.

Tafsir Ibnu Utsaimin

Dalam tafsir Juz Amma, Imam Ibnu Utsaimin menjelaskan,

وقيل: معنى التعديد يعني الإحصاء يعني لشغفه بالمال كل مرة يذهب إلى الصندوق ويعد، يعد الدراهم في الصندوق في الصباح، وفي آخر النهار يعدها، وهو يعرف أنه لم يأخذ منه شيئاً ولم يضف إليه شيئاً لكن لشدة شغفه بالمال يتردد عليه ويعدده، ولهذا جاءت بصيغة المبالغة {عدده} يعني أكثر تعداده لشدة شغفه ومحبته له يخشى أن يكون نقص، أو يريد أن يطمئن زيادة على ما سبق فهو دائماً يعدد المال

Ada sebagian ulama yang menjelaskan, makna ’addadah’ adalah suka menghitung-hitung, karena saking cintanya dia dengan hartanya. Setiap saat dia buka lemari, lalu menghitung uangnya. Dia hitung uangnya di pagi hari, sore juga dia hitung lagi. Padahal dia tahu pasti, dia sama sekali tidak mengambil uang itu sedikitpun. Juga tidak menambahkan uang ke dalam lemari. Namun karena saking cintanya dengan harta, dia bolak-balik menghitungnya. Karena itulah, ayat ini diungkapkan dengan pola kalimat hiperbola ’addadah artinya terlalu sering menghitung, karena saking cintanya dengan harta. Dia khawatir jangan-jangan berkurang. Atau dia ingin mencari ketenangan batin ketika melihat uangnya bertambah. Sehingga dia terus-menerus menghitungnya. (Tafsir Juz Amma, hlm. 315)

Sebagai seorang mukmin, tentu kita tidak ingin memiliki sifat tercela seperti yang disebutkan dalam surat al-Humazah di atas. Kendalikan jari-jari anda, jangan terlalu sering mengintip saldo rekening tabungan.

Allahu a’lam.

Ref:  http://pengusahamuslim.com/sering-lihat-saldo-rekening-dilarang/#.U5hjO7HLOBU

View

Pengantar Surat Ke Neraka

Ustadz DR. Syafiq Riza Basalamah, حفظه الله تعالى

AKHI UKHTI

Betapa besarnya jasa tukang pos,

Pada masa lalu, yang dengan sepeda atau motornya memasuki gang-gang kecil untuk menyampaikan surat dari handai taulan atau dari teman…

Namun pada masa kini tugas mereka sudah tergantikan dengan berbagai sarana tehnologi yang begitu modernnya…

Namun ketahuilah,,,, ternyata ada pengantar-pengantar surat yang pada hakekatnya mengantarkan dirinya ke dalam neraka…

MEREKA ADALAH ORANG-ORANG YANG SUKA MEMINDAH OMONGAN ORANG

TANPA SADAR ATAU TIDAK OMONGAN ITU MENIMBULKAN PERMUSUHAN DI ANTARA MANUSIA

RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM BERSABDA

« لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ ».

 “Nammam (orang yang melakukan namimah) itu tidak akan masuk surga” (HR Muslim no 303).

NAMIMAH ADALAH menyampaikan perkataan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak hubungan di antara mereka 

Bila kiranya ada berita yang kau dengar…

Maka berdiamlah sejenak ketika hendak menyampaikan berita itu… 

KE SURGA

ATAU KE NERAKA
 
ENGKAU BEBAS MEMILIH 

DAN INGATLAH, BAHWA SEMUA YANG KELUAR DARI LISANMU DAN TULISANMU AKAN KAU RASAKAN DAMPAKNYA

DI SINI

DAN DI SANA

اللهم سلم سلم

View

Menebar Cahaya Sunnah