Merasa Cukup

@sahabatilmu

Memiliki banyak harta namun tetap merasa sengsara..

Punya tabungan dan simpanan tetapi terus kekurangan…

Hati yang bicara, merasa puas atau nestapa.

A. Sungguh Beruntung.

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

“Sungguh beruntung seseorang yang masuk Islam, dan memperoleh rizki yang cukup serta Allah menganugerahkan kepadanya sifat qana’ah (merasa cukup) atas rizki yang Allah berikan…” (HR Muslim: 1054)

Qana’ah (merasa cukup) merupakan harta berharga yang tak terhingga bagi seorang muslim.

B. Berdoa.

Jangan pernah meninggalkan doa.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa melantunkan do’a:

اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

“Ya Allah, aku meminta kepadaMu hidayah, ketakwaan, menjaga kehormatan dan kekayaan…” (HR. Muslim no. 2721)

Adapun kekayaan yang dimaksud adalah kaya hati.

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Bukanlah kekayaan (yang sejati) dengan banyaknya harta. Namun kekayaan (yang hakiki) adalah hati yang senantiasa merasa cukup..” (HR. Bukhari: 6446, Muslim: 1051)

@sahabatilmu

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Menjaga Lisan – Jalan Surga Dan Jalan Neraka

Ust. Ahmad Daniel LC, حفظه الله تعالى

Saudaraku, lisan itu ibarat pisau. Dia bisa digunakan untuk perkara yang bermanfaat dan juga bisa digunakan untuk kejahatan. Pisau bisa menjadi jalan pahala dan bisa menjadi jalan dosa, tergantung siapa yang memanfaatkannya. Dari Abu Hurairah, dari Nabi, bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لاَ يُلْقِي لَهَا بَالاً يَرْفَعُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لاَ يُلْقِي لَهَا بَالاً يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ

“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang Allah ridhai tanpa keseriusan yang kata tersebut menjadi sebab Allah tinggikan kedudukannya beberapa derajat. Dan sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang Allah murkai tanpa keseriusan yang kata tersebut menjadi sebab terjerumus ke dalam neraka Jahannam.
(HR Bukhari)

Saudaraku, sungguh sangat berat kita menjaga lisan ini.
Lisan yang terjaga dari caci
maki, ghibah, fitnah, kata-kata kotor, kata-kata kasar, menyepelekan, dan tuduhan dusta terhadap saudara muslim yang lain.

Dari Abu Sa’id Al-Khudri, Nabi bersabda:

إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانَ فَتَقُولُ اتَّقِ اللَّهَ فِينَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ فَإِنِ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنِ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا

“Jika anak Adam masuk waktu pagi maka seluruh anggota badan menyatakan ketundukannya terhadap lisan dengan mengatakan, “Bertakwalah kepada Allah terkait dengan kami karena kami hanyalah mengikutimu. Jika kau istiqamah (di atas kebenaran) maka kami juga istiqamah. Jika kau melenceng (dari kebenaran) maka kami juga melenceng.”
(HR. Tirmidzi & dinilai hasan oleh Al-Albani).

Saudaraku, mohonlah pada Allah agar dimudahkan untuk menjaga lisan.

بارك الله فيكم

View

Sibuk Dengan Berita Politik

Ust. M Abduh Tuasikal, حفظه الله تعالى

Akhi … kenapa hari-harimu cuma ingin mengurus capres A dan capres B, padahal berita politik tidaklah jelas.

Akhi … bukankah engkau tahu bahwa dalam politik itu ingin saling menjatuhkan satu dan lain.

Akhi … bukankah engkau tahu bahwa dalam politik tidak ada kawan sejati dan tidak ada musuh abadi.

Akhi … jangan terlalu memforsir usahamu untuk terus menelusurui berita politik.

Engkau tahu demikian, namun kerjaanmu setiap harinya hanya menelusuri terus berita capres A dan capres B, itu pun engkau tidak bisa menemukan manakah yang benar dari berita-berita yang ada.

Kenapa engkau terlalu sibuk dengan berita yang hanya berlandas “katanya”?

Padahal Allah membenci seperti itu sebagaimana kata hadits,

وَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ

“Allah tidak menyukai qiila wa qool (berkata hanya berlandaskan ‘katanya’)” (HR. Muslim no. 1715, dari Abu Hurairah).

Qiila wa qool kata Ibnu Katsir, maksudnya adalah, “Banyak bicara tentang perkataan orang lain namun
(1) tanpa kroscek,
(2) tanpa memastikan,
(3) tanpa mencari kejelesan.”
(Tafsir Surat An Nisaa’ ayat 82).

Andai waktumu habis untuk menelaah buku dan kitab.

Andai waktumu habis untuk mendatangi majelis ilmu.

Andai waktumu habis dengan menelusuri website islam bermanfaat.

Andai waktumu hanya dengan ilmu, ilmu dan ilmu.

Ayo kembali ngaji lagi.

Moga Allah memberi taufik pada kita semua dalam memanfaatkan waktu-waktu kita.

Artikel Muslim.Or.Id

By: Muhammad Abduh Tuasikal

– – – – – •(*)•- – – – –

View

1095. Bagaimana Cara Mengusir Jin Dari Tempat Usaha ?

1095. BBG Al Ilmu

Tanya:
Bolehkah kita ruqyah tempat kerja, yaitu dengan membaca ayat-ayat ruqyah di sebuah wadah/tempat yang berisi air kemudian kita siram di tempat usaha kita (siram /mandikan kapal dengan air ruqyah) ? Kalo tidak boleh, bagaimana harusnya “membersihkan” tempat kerja dari aura jahat ?

Jawab:
Ust. Ammi Nur Baits, حفظه الله تعالى

Pada prinsipnya, ruqyah digunakan untuk orang yang sakit, bukan untuk tempat.
Demikian penjelasan As Syaikh DR. Ibrahim Ar-Ruhaili dalam kajian beliau di masjid Nabawi.

Sementara untuk tempat, cara yang paling efektif dalam hal ini adalah membacakan surat Al-Baqarah, satu surat penuh. Ini berdasarkan hadis dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا تجعلوا بيوتكم مقابر، إن الشيطان ينفر من البيت الذي تقرأ فيه سورة البقرة

“Jangan kalian jadikan rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan surat Al-Baqarah di dalamnya.” (HR. Muslim 780, At-Turmudzi 2877)

Sahabat Ibnu Mas’ud mengatakan:

إِنَّ الشَّيْطَانَ إِذَا سَمِعَ سُورَةَ الْبَقَرَةِ تُقْرَأُ فِي بَيْتٍ، خَرَجَ مِنْهُ

“Sesungguhnya setan, apabila mendengar surat Al-Baqarah dibacakan dalam rumah, maka dia akan keluar dari rumah itu.” (HR. Ad-Darimi 3422, At-thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir 8642).

Untuk penjelasan lebih lanjut, silahkan buka link berikut:

http://www.konsultasisyariah.com/cara-mengusir-jin-dari-rumah/

والله أعلم بالصواب

– – – – – •(*)•- – – – –

1094. Bagaimana Bila Suami Pelupa ?

1094. BBG Al Ilmu

Tanya:
Suami saya waqaf tanah dan gedung untuk sekolah dan kini dalam masa perluasan sekolah. Uang waqaf pembangunan dari suami saya.

Namun kini suami sudah sakit-sakitan, mudah marah dan pelupa. Jika diminta dana untuk pembangunan sekolah bilangnya nanti-nanti, dan bila dapat uang langsung minta dimasukkan ke rekeningnya dan tidak pernah keluar lagi. Padahal pembangunan sekolah perlu dana.

Terakhir suami dapat uang cukup besar (warisan keluarganya), namun saya tidak kasi tahu suami dan saya simpan di satu rekening khusus (atas nama saya) dan saya kasi tahu ke anak-anak kami (sudah dewasa semua) bahwa uang ini untuk selesaikan sekolah. Niat saya baik yaitu agar pembangunan sekolah bisa lancar. Jika saya kasi tahu suami pasti dia akan minta uangnya di simpan di rekeningnya dan tidak dikeluarkan meskipun kita ingatkan soal sekolah. Jawabnya nanti-nanti dan terus lupa.

Mohon nasehatnya:

1. Apakah yang saya lakukan ini benar ?

2. Jika ajal suami datang, apakah semua hartanya jadi waris ? Atau kita sisihkan dulu sebagian untuk selesaikan sekolah ?

Jawab:
Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Uang waris yang anda simpan tanpa pemberitahuan kepada suami adalah salah. Hendaknya di beri tahu, dan di serahkan kepada nya. Karena wakaf pembangunan gedung membutuhkan izin dan kerelaan sang suami. Jika tidak mendapat izin maka tidak di wakafkan. Bisa jadi suami memiliki niatan tersendiri/kebutuhan tertentu yang bisa di tanyakan dengan baik-baik. Karena wakaf adalah suatu ibadah mulia yang butuh ke-ikhlasan.

Harta akan menjadi warisan jika setelah dikurangi hal ini: kebutuhan keperluan jenazah, hutang, wasiat. Jika tidak ada wasiat untuk wakaf maka akan menjadi harta waris.

Menyisihkan harta tanpa izin dan kerelaan maka tidak di benarkan. Anda bisa mengembangkan sekolah itu dengan membuka sumbangan wakaf dari pihak lain, baik luar/dalam negeri dari para donatur yang ada.

والله أعلم بالصواب

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Menyingkat Salam Atau Menyempurnakannya ?

Ust. Kholid Syamhudi, حفظه الله تعالى

Salah satu bentuk ibadah yang terlalaikan, namun dianggap sebagai hal biasa di kalangan kaum muslimin sekarang ini adalah menulis salam dan shalawat dengan disingkat. Padahal telah diketahui bahwa dalam kaidah penggunaan bahasa Arab, kesempurnaan tulisan dan pembacaan lafadz akan mempengaruhi arti dan makna dari sebuah kata dan kalimat.
Lalu, bagaimana jika salam dan shalawat disingkat dalam penulisannya?

Apakah akan merubah arti dan makna kalimat tersebut?

** Adab Menulis Salam

Kata salaam memuat makna keterbebasan dari setiap malapetaka dan perlindungan dari segala bentuk aib dan kekurangan. Salaam juga berarti aman dari segala kejahatan dan terlindung dari peperangan.

Oleh karena itu, Islam memerintahkan supaya menampakkan salam dan menyebarluaskannya (Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali dalam kitab Bahjatun Naadzirin Syarah Riyadhush Shalihin, Bab Keutamaan Salam dan Perintah Untuk Menyebarluaskannya).

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya, “Dan apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.” (Qs. An-Nisaa’: 86)

Baca lengkap KLIK :

http://klikuk.com/adab-salam-dan-shalawat/

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Jerat-Jerat Setan Dalam Menggoda Manusia

Ust. Abdussalam Busyro, حفظه الله تعالى

Firman اَللّهُ سبحانه وتعالى :
“Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau Aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka. (Shad: 82-83)

Ibnul Qayyim menyebutkan dalam kitab Al Bada’iul Fawaaid: “Sesungguhnya setan mengajak manusia kepada enam perkara, ia baru melangkah kepada perkara kedua bila perkara pertama tidak berhasil dilakukannya.

Langkah2 setan dalam menggoda manusia:

1. Mengajaknya berbuat syirik dan kekufuran. Jika hal ini berhasil dilakukannya berarti setan telah menang dan tidak sibuk lagi dengannya.

2. Jika tidak berhasil, setan akan mengajaknya berbuat bid’ah. Jika sudah terjerumus ke dalamnya maka setan akan membuat bid’ah itu indah dimatanya hingga ia rela dan setanpun membuatnya puas dgn bid’ah itu.

3. Jika tidak berhasil juga, setan akan menjerumuskannya ke dalam dosa-dosa besar.

4. Jika tidak berhasil, setan akan menjerumuskannya ke dalam dosa-dosa kecil.

5. Jika ternyata tidak berhasil juga setan akan menyibukkannya dengan perkara-perkara mubah hinggai ia lupa beribadah.

6. Jika tidak mempan juga, setan akan membuainya dengan perkara-perkara kurang penting hingga ia abaikan perkara-perkara terpenting.

7. Jika gagal juga maka setan akan melakukan tipu daya terakhir, yaitu mengerahkan bala tentaranya dari jenis manusia untuk menyerang orang-orang yang berpegang teguh dengan agamanya.

Allah Ta’ala mengabarkan bahwa dikalangan manusia ada juga yang berperan sebagai setan, firman Allah Subhana Wata’ala:
“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin.
(Al-An’am: 112).

Oleh sebab itu banyak kita temui setan-setan jenis manusia, ada yang menyeru kepada kekufuran, syirik, mengajak orang berbuat dosa baik dosa besar maupun dosa kecil, atau mengajak kepada perbuatan-perbuatan yang melalaikan

(Ust Abdus Salam Busyro, Lc)

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Bersabarlah…

Ust. M Abduuh Tuasikal, حفظه الله تعالى

Fashbir Shobron Jamiilaa Yaa Akhi

Sabarlah dengan sabar yang indah (QS. Al Ma’arij: 5)

Maksudnya?

Bersabarlah tanpa berputus asa. (Tafsir Al Jalalain)

Kita butuh sabar seperti ini supaya bisa ajeg (tetap, rutin, terus-menerus) dalam ibadah dan ketaatan.

Kita butuh sabar seperti ini untuk menghindarkan diri dari yang haram dan maksiat.

Kita butuh sabar seperti ini dalam menghadapi takdir ilahi yang kita rasa menyakitkan.

Sabarlah tanpa berkeluh kesah. Sabarlah tanpa batas.

Pahala bersabar adalah surga.

M. Abduh Tuasikal,
Pengasuh Rumaysho.Com

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Buat Apa Bekerja Keras Sampai Lembur Segala ? Kan Urusan Rejeki Sudah Ditakdirkan Alias Telah Dijamin ? Sedangkan Surga Atau Neraka Harus Diupayakan, Alias Belum Ada Jaminan…

Ust. DR. Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Satu motivasi untuk beribadah dan mengutamakan urusan akhirat yang nampak indah dan menyejukkan hati. Terlebih bagi anda yang telah memahami bahwa urusan dunia begitu hina dina sedangkan akhirat begitu mulia, dan memahami bahwa urusan rejeki benar-benar urusan kodrat ilahy.

(يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا الله وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْساْ لَنْ تَمُوَت حَتىَّ تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا، فَاتَّقُوا الله وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ، خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرَمَ). رواه ابن ماجة

“Wahai umat manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rizqi, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga ia benar-ebnar telah mengenyam seluruh rizqinya, walaupun telat datangnya. Maka bertakwalah kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rizqi. Tempuhlah jalan-jalan mencari rizki yang halal dan tinggalkan yang haram.” (Riwayat Ibnu Majah)

Mendengar motivasi ini, anda semakin tergugah untuk meningkatkan ibadah, dan zuhud terhadap urusan dunia. Tentu saja ini adalah sikap yang begus dan patut diapresiasi.

Walau demikian, sadarkah anda bahwa ungkapan di atas walau bertujuan baik, namun disadari atau tidak mengandung kesalahan besar. Karena ternyata urusan surga dan neraka juga telah menjadi bagian dari kodrat ilahy.

Suatu hari Nabi shallallahu alaihi wa sallam menghadiri penguburan seorang jenazah. Sambil menanti proses penggalian selesai, berliau duduk lalu bersabda:

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ مَا مِنْ نَفْسٍ مَنْفُوسَةٍ إِلاَّ وَقَدْ كَتَبَ اللَّهُ مَكَانَهَا مِنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ وَإِلاَّ وَقَدْ كُتِبَتْ شَقِيَّةً أَوْ سَعِيدَةً ».

“Tiada seorang jiwapun melainkan Allah telah menuliskan tempat kembalinya, baik di surga atau di neraka, dan juga telah dituliskan apakah ia berbahagia atau sengsara.

Tak ayal lagi, pernyataan Nabi shallallahu alaihi wa sallam ini mengejutkan para sahabat, sehingga salah seorang dari mereka segera bertanya: Wahai Rasulullah , bila demikian apa tidak lebih baik kita mengandalkan catatan takdir kami dan meninggalkan segala bentuk amalan (usaha)?

Menanggapi pertanyaan ini, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ فَسَيَصِيرُ إِلَى عَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ فَسَيَصِيرُ إِلَى عَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ أَمَّا أَهْلُ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ وَأَمَّا أَهْلُ الشَّقَاوَةِ فَيُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ

“Siapapun yang ditakdirkan termasuk dari orang yang berbahagia niscaya ia berhasil mengamalkan amalan orang-orang yang berbahagia. Sebaliknya orang yang ditakdirkan menjadi bagian dari orang-orang serangsara, niscaya ia hanyut dalam amalan orang-orang sengsara.”

“Beramallah kalian, karena setiap orang pastilah mendapat kemudahan. orang-orang yang berbahagia pastilah dimudahkan untuk mengamalkan amalan orang-orang yang berbahagia. Sedangkan orang-orang sengsara pasti pula dimudahkan untuk hanyut dalam amalan orang-orang sengsara.”

Selanjutnya beliau membaca ayat berkut:

( فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى)

“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan memudahkan baginya jalan yang mudah (kebahagiaan). Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan memudahkan baginya (jalan) yang sukar (kesengsaraan).” (Al Lail 5-10)

Semoga bermanfaat.

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Menebar Cahaya Sunnah