1033. Honor Mengamankan Bank, Halal Ataukah Haram ?

1033. BBG Al Ilmu – 349

Tanya:
Ana seorang polisi, jadi kami selalu melaksanakan pengamanan di bank, lalu di akhir bulan ana menerima honor dari pengamanan tersebut. Jadi bagaimana hukumnya dan bagaimana sebaiknya yang ana lakukan dengan honor yang ana terima tersebut ?

Jawab:
Ust. DR. Erwandi Tarmizi, حفظه الله تعالى

Honornya tidak halal. Sedekahkan untuk fakir miskin.

والله أعلم بالصواب

– – – – – •(*)•- – – – –

1032. Apakah Dianjurkan Juga Untuk Bershalawat Ketika Hendak Berdo’a Di Dalam Shalat ?

1032. BBG Al Ilmu

Tanya:
Sebelum berdo’a kita dianjurkan untuk bershalawat, apakah hal ini juga berlaku ketika kita berdo’a dalam shalat ? yaitu ketika sujud.

Jawab:
Ust. Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى

Lafadz dalam hadits tentang anjuran bershalawat ketika berdo’a itu sifatnya umum, tidak terbatas di luar shalat.

Rasulullah bersabda (yang artinya) seluruh do’a itu terhalang sampai shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam salah satu hadits riwayat At Tarmizi, Rasulullah melihat dan mendengar seseorang berdo’a dalam shalatnya tanpa bershalawat dan tanpa memuji Allah, maka Rasulullah mengatakan bahwa orang ini tergesa-gesa. Lalu kemudian Rasulullah memanggil orang tersebut dan mengatakan jika ia ingin berdo’a pujilah Allah dan bershalawatlah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu silahkan berdo’a dengan apa yang disukainya.

Maka dari itu di dalam shalat ketika kita sujud dan mau berdo’a, kita tetap dianjurkan bershalawat karena hadiths ini umum, baik untuk di dalam maupun di luar sholat.

والله أعلم بالصواب
Ref:
Tanya/Jawab Kamis 24.04.14 @ Radio Rodja

– – – – – •(*)•- – – – –

1031. Bagaimana Hukumnya Kajian Yang Melewati Waktu Shalat ‘Isya Tanpa Berhenti ?

1031. BBG Al Ilmu – 307

Tanya:
Bagaimana hukum pengajian/kajian yang di lakukan ba’da magrib sampai jam 8-9 malam di mana waktu shalat isya tiba di babat alias lewat, adzan dan shalat isya nya setelah pengajian selasai antara jam 8 jam 9 malam?

Jawab:
Ust. Abdullah Sya’roni, حفظه الله تعالى

Sebaiknya ketika masuk waktu isya di stop dulu kajiannya, untuk jeda adzan karena fungsi adzan diantaranya adalah pemberitahuan kepada kaum muslimin bahwa waktu sholat isya telah masuk.

Adapun setelah adzan bisa langsung dilanjutkan ta’limnya karena mengundur pelaksanaan sholat isya dibolehkan. Berdasarkan hadits dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu: bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengakhirkan sholat isya sehingga sudah masuk waktu malam, tatkala anak-anak dan para wanita sudah tidur.

“Seandainya tidak memberatkan umatku niscaya aku perintahkan mereka untuk melaksanakan sholat isya pada waktu seperti ini” (agak malam) sekitar jam 8-11).

والله أعلم بالصواب

– – – – – •(*)•- – – – –

1030. Berapa Kali Istikhoroh Sebelum Menentukan Pilihan ?

1030. BBG Al Ilmu – 397

Tanya:
Berapa kali kita harus mengucapkan do’a Istikharah sebelum menentukan pilihan ?

Jawab:
Ust. M Wasitho, حفظه الله تعالى

Syaikh Said ibn Ali al-Qathani – beliau menyebutkan apa yang dilakukan pra dan pasca istikhoroh) yaitu:

1. Istikharah dilakukan jika seorang ingin melakukan amalan yang ia bimbang atau bisa juga hanya untuk memantabkan saja (jadi dilakukan sebelum berbuat);

2. Beristikharah dengan melakukan shalat dua raka’at dan setelah salam ia berdo’a dengan do’a istikharah kepada Allah Ta’ala;

3. Bemusyawarah dengan ahli ilmu dan ahlil khoir;

4. Melangkah pada pilihan yang ia rasa lebih cenderung ke situ, tanpa harus nunggu wangsit atau mimpi (karena kedua hal ini tak ada dalilnya);

5. Tak perlu menyesal pada perbuatan yang ia telah lakukan dengan 4 tahap di atas. Karena “apa yang menimpa kita tak akan membuat kita disalahkan”
(ma ashabaka lam yakun liyukhtiaka’).

والله أعلم بالصواب

– – – – – •(*)•- – – – –

Yuk…Kita Bersedekah Seberapa Saja Kita Miliki…

Ust. Ferry Nasution, حفظه الله تعالى

Jangan lupa sedekah yang utama kita berikan kepada keluarga dekat kita dulu looohh, baru kepada orang lain.

Perhatikanlah hadits berikut:

A. Sedekah dapat memadamkan murka ALLAH:

Dari muawiyah bin haydah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sedekah dengan rahasia (sembunyi) bisa memadamkan murka Allah” 
(Shahih At-Targhib, 888)

B. Sedekah Dapat menghapuskan kesalahan/dosa. 

Dari Ka’b bin Ujrah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Sedekah bisa memadamkan dosa, sebagaimana air bisa memadamkan api. 
(Shahih At-Targhib, 866)

C. Sedekah dapat memadamkan panas kubur.

Dari Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya sedekah akan memadamkan panas kubur bagi pelakunya. Sungguh pada hari kiamat, seorang mukmin akan berlindung di bawah naungan sedekahnya.” 

(Silsilah As-Shahihah, 3484).

D. Dapat mengobati penyakit إِنْ شَاءَ اللّهُ

Dari Al-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Obati orang sakit di antara kalian dengan sedekah.”
(Shahih At-Targhib, 744).

E. Didoakan oleh Malaikat

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Setiap datang waktu pagi, ada dua malaikat yang turun dan keduanya berdoa. Malaikat pertama memohon kepada Allah, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang memberi nafkah’, sementara malaikat satunya berdoa, ‘Ya Allah, berikan kehancuran bagi orang yang pelit.’
(HR. Bukhari & Muslim).

F. Sedekah tidak akan mengurangi harta seseorang.

Abu Hurairah meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda,

“Sedekah tidak akan mengurangi harta” 
(HR. Muslim)

Perlu diketahui wahai saudaraku…
Harta merupakan salah satu kenikmatan dari ALLAH yang kelak ALLAH akan bertanya tentangnya,
Dari mana engkau peroleh hartanya dan kemana engkau infakkan ???

Akhukum Ahmad Ferry Nasution, حفظه الله تعالى

– – – – – •(*)•- – – – –

Telaga Dan Shirat

Ust. Kholid Syamhudi, حفظه الله تعالى

1. Telaga

Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan telaga bagi setiap Nabi, dan telaga Nabi kita shalallahu alaihi wa sallam  yang terbesar, paling manis dan yang paling banyak didatangi pada hari kiamat.

Gambaran Telaga Nabi shalallahu alaihi wa sallam  :

1. Abdullah bin ‘Amar radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda: “Telagaku  (panjangnya) perjalanan satu bulan, airnya lebih putih dari susu, wanginya lebih wangi dari misk (minyak kesturi), cahayanya seperti bintang-bintang di langit. Barangsiapa yang minum darinya niscaya ia tidak akan pernah merasa haus selama-lamanya.” (Muttafaqun ‘alaih).[1]

2. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda: “Sesesungguhnya kadar (ukuran) telagaku adalah seperti jarak di antara Ailah dan Shan’a dari Yaman. Dan sesungguhnya di dalamnya ada teko-teko sejumlah bintang di langit.” (Muttafaqun ‘alaih).[2]

Orang yang Terusir dari Telaga:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda: “Segolongan sahabatku datang kepadaku pada hari kiamat, lalu mereka terusir dari telaga. Aku bertanya: ‘Ya Rabb, sahabat-sahabatku.’ Lalu Allah subhanahu wa ta’ala  berfirman: ‘Sesungguhnya engkau tidak tahu apa yang mereka ciptakan (perbuatan-perbuatan bid’ah) setelah (kematian)mu. Sesungguhnya mereka kembali di atas pantat mereka (murtad).”  (Muttafaqun ‘alaih).[3]

2.  SHIRAT (JEMBATAN)

Shirath: ia adalah jembatan/titian yang dipasang di atas neraka Jahanam, orang-orang beriman melewatinya ke surga.

Orang yang melewati shirath:
Yang dapat melewati jembatan itu adalah orang-orang beriman. Adapun orang-orang kafir dan kaum musyrik, maka setiap golongan dari mereka mengikuti apa yang disembahnya di dunia, yaitu berhala, syetan, dan semisal keduanya dari tuhan-tuhan yang batil, lalu ia mendatangi neraka bersama sesembahannya yang pertama.

Kemudian setelah itu, tersisalah orang yang hanya menyembah Allah subhanahu wa ta’ala  pada zahir, sama saja ia benar atau munafik. Mereka itulah yang ditegakkan jembatan untuk mereka. Kemudian berbedalah kaum munafik dari orang-orang beriman dengan terhalangnya mereka melakukan sujud, dan cahaya yang meliputi orang-orang beriman. Maka kembalilah kaum munafik ke belakang, ke neraka, dan orang-orang beriman melewati titian menuju surga.

Lewat di atas titian adalah setelah dihisab, timbangan amal perbuatan, dan selesai darinya. kemudian manusia dipaksa lewat di atas jembatan, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala :

وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا كَانَ عَلَى رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا (71) ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا (72)

Dan tidak ada seorangpun daripadamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Rabbmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.  Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertaqwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut. (QS. Maryam: 71-72).

Gambaran titian dan melewatinya:
Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu dalam hadits melihat dan gambaran titian… dan padanya ada yang bertanya, ‘Wahai Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam  , apakah titian itu?’ Beliau menjawab: “Tempat yang licin, di atasnya ada besi pengait, dan duri keras yang diratakan, baginya ada duri yang melinggar, ia ada di Najd. Dinamakan baginya: as-Sa’daan. Orang beriman di atasnya (jembatan) seperti kedipan mata, seperti kilat, seperti angin, seperti kuda dan tunggangan yang baik/terlatih. Ada yang selamat diselamatkan, yang selamat tapi tergores, dan yang didorong di Neraka Jahannam.” (Muttafaqun ‘alaih).[4]

Orang yang pertama kali melewati titian:
Orang yang pertama kali melewati titian adalah Muhammad shalallahu alaihi wa sallam   dan umatnya, dan tidak bisa melewati titian selain orang-orang yang beriman. Mereka diberi cahaya menurut kadar iman dan amal perbuatan mereka. Kemudian mereka melewati titian menurut hal tersebut. Dan diutus amanah dan silaturrahimm lalu keduanya berdiri di dua tepi titian, di kanan dan di kiri. Doa para rasul pada hari itu adalah: Ya Allah subhanahu wa ta’ala , selamatkan-selamatkan.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi shalallahu alaihi wa sallam   bersabda dalam hadits melihat Allah subhanahu wa ta’ala : ‘Kemudian dipancangkan titian di atas neraka Jahanam. Aku dan umatnya adalah yang pertama lewat, tidak ada yang berbicara pada hari itu selaian para rasul. Dan doa para rasul pada hari itu:

Ya Allah subhanahu wa ta’ala , selamatkan, selamatkan.’ Muttafaqun ‘alaih.[5]

Apakah yang diterima orang-orang beriman setelah melewati titian:
Dari Abu Sa’id al-Khudri, ia berkata, ‘Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam   bersabda, ‘Orang-orang beriman selamat dari neraka, lalu mereka ditahan di atas titian di antara surga dan nereka. Maka dilakukan qisas untuk sebagian mereka dari yang lain, yaitu kezaliman yang terjadi di antara mereka di dunia. Sehingga apabila mereka telah dibersihkan, mereka mendapat izin masuk surga. Demi diri Muhammad yang berada di tangan-Nya, sungguh salah seorang dari mereka lebih mengenali tempatnya di surga  melebihi tempatnya di dunia.” (HR. Bukhari).[6]

[1]  HR. Bukhari No 6579 dan ini adalah lafazhnya dan Muslim No.2292

[2]  HR. Bukhari No. 6580 dan ini adalah lafazhnya dan Muslim No. 2303.

[3]  HR. Bukhari No. 6585 dan ini adalah lafazhnya dan Muslim No. 2290 dan 2291.

[4]  HR. Bukhari No. 7439 dan Muslim No. 183 dan ini adalah lafazhnya.

[5]  Muttafaqun‘alaihi. HR Bukhari no 806, Muslim no: 182, dan ini adalah lafadznya.

[6]  HR. al-Bukhari no 6535

– – – – – •(*)•- – – – –

Bekas Yang Tidak Hilang

Ust. Badru Salam LC, حفظه الله تعالى

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Khaulah berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimana bila darah (haidh) tidak bisa hilang?” Beliau bersabda: “Cukup untukmu air dan tidak berpengaruh bekasnya”. HR Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Syaikh al Bani.

Fawaid hadits:
1. Wajibnya mencuci darah haidh yang mengenai baju dan badan.

2. Kewajiban mencucinya adalah dengan air.

3. Apabila baju telah dicuci namun masih tersisa bekasnya, maka tidak berpengaruh.

4. Islam adalah agama yang mudah, tidak memberikan beban kecuali sesuai dengan kemampuan.

5. Badan wanita haidh dan keringatnya adalah suci.

– – – – – •(*)•- – – – –

Keutamaan Berkunjung Kepada Saudara

Ust. Fuad Hamzah Baraba’, Lc حفظه الله تعالى

عن أَبِي هُرَيْرَةَ -رضي الله عنه-، عَنْ النَّبِيِّ -صلى الله عليه وسلم- : «أَنَّ رَجُلاً زَارَ أَخًا لَهُ فِي قَرْيَةٍ أُخْرَى، فَأَرْصَدَ اللَّهُ لَهُ عَلَى مَدْرَجَتِهِ مَلَكًا، فَلَمَّا أَتَى عَلَيْهِ قَالَ: أَيْنَ تُرِيدُ؟ قَالَ : أُرِيدُ أَخًا لِي فِي هَذِهِ الْقَرْيَةِ؟ قَالَ: هَلْ لَكَ عَلَيْهِ مِنْ نِعْمَةٍ تَرُبُّهَا؟ قَالَ : لاَ، غَيْرَ أَنِّي أَحْبَبْتُهُ فِي اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ. قَالَ : فَإِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكَ بِأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَبَّكَ كَمَا أَحْبَبْتَهُ فِيهِ»

Dari Abu Hurairah radhiallah ‘anhu, dari Nabi صلى الله عليه و سلم, beliau bersabda:
“Sesungguhnya ada yang akan berkunjung ke tempat saudaranya yang berada di desa lain, kemudian Allah Ta’ala mengutus malaikat untuk mengujinya, setelah malaikat itu
berjumpa dengannya, ia bertanya: “Hendak kemanakah kamu?” Ia menjawab: “Saya akan berkunjung ke tempat saudaraku yang berada di desa itu.” Malaikat itu bertanya:
“apakah kamu merasa berhutang budi sehingga kamu mengunjunginya?” Ia menjawab: “Tidak, saya mengunjungi dan mencintainya karena Allah Ta’ala” Malaikat itu berkata:
“Sesungguhnya saya adalah utusan Allah untuk menjumpaimu, dan Allah telah mencintaimu sebagaimana kamu mencintai saudaramu karena Allah.” (HR. Muslim:2567).

Faedah:

1. Keutamaan berkunjung kepada saudara Karena Allah, yang dilakukan dilandasi cinta karena Allah Ta’ala, bukan karena manfaat keduniaan.

2. Berkunjung kepada saudara karena Allah memiliki manfaat yang sangat banyak.

3. Penetapan sifat Mahabbah (cinta) bagi Allah Ta’ala, sesuai dengan keagungan Allah Ta’ala.

4. Beriman kepada malaikat, dan terkadang malaikat datang dalam bentuk manusia, sebagaimana dalam hadits tesebut.

5. Seorang muslim hendaknya menghidupkan syi’ar yang agung ini, terlebih di zaman kita sekarang, karena kebanyakan orang sudah banyak yang melupakannya.

Oleh Ust. Fuad Hamzah Baraba’, Lc حفظه الله تعالى

– – – – – •(*)•- – – – –

Keutamaan Melakukan Kebaikan Sekecil Apapun

Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz, حفظه الله تعالى

عَنْ أَبِي ذَرٍّ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ لِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” لَا تَحْقِرَنَّ مِنْ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ “.( رواه مسلم)

Dari Abi Dzar radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kamu meremehkan kebaikan sekecil apapun, sekalipun engkau bertemu saudaramu dengan wajah yang berseri.” (HR. Muslim no. 6637).

BEBERAPA PELAJARAN PENTING DAN FAEDAH ILMIYAH YANG DAPAT DIAMBIL DARI HADITS:

1. Dilarang meremehkan kebaikan sekecil apapun meskipun dianggap remeh oleh sebagian orang.

Diantara kebaikan yang dianggap kecil ialah:

» Mengirim sms/email dukungan untuk keberlangsungan dakwah sunnah di TV, Radio dan semisalnya kepada pihak yang berwenang.

» Mengambilkan atau menuangkan air minum untuk orang lain.

» Menshare/menyebar luaskan ilmu atau info kajian Islam dengan pemahaman yang benar kepada orang lain.

» Bersedekah dengan sepotong roti atau sebiji kurma, dan selainnya.

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
(Ittaquu An-Naaro Wa Lau Bi Syiqqi At-Tamroti)

Artinya: “Lindungilah diri kalian dari api Neraka meskipun dengan (bersedekah) separuh biji kurma.”

2. Anjuran bersikap lemah lembut dan berwajah ceria ketika berjumpa dengan saudara seislam dan seiman.

3. Anjuran untuk melakukan hal-hal yang dapat menguatkan ikatan persaudaraan Islam, dan wajib menjauhi segala sebab perpecahan dan permusuhan sekecil apapun.

4. Tersenyum dan Berwajah ceria kepada saudara sesama muslim merupakan amal kebaikan yamg mendatangkan pahala sebagaimana pahala bersedekah.

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:
(Tabassumuka Fii Wajhi Akhiika Shodaqotun)

Artinya: “Senyummu di hadapan saudaramu sesama muslim adalah (bernilai) sedekah bagimu.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban. Dan dinyatakan SHOHIH oleh syaikh Al-Albani rahimahullah).

(*) Catatan:
Meskipun senyum dan bermuka manis kepada saudara sesama muslim merupakan amal kebaikan yang berpahala, hanya saja kita wajib menjaga diri kita dari senyum dan tebar pesona kepada lawan jenis yang bukan mahrom, karena sangat dikhawatirkan dapat menimbulkan fitnah dan penyakit di dalam hati, sehingga dengan demikian statusnya berubah dari amal kebaikan yang berpahala menjadi perbuatan buruk yang mendatangkan dosa dan murka Allah ta’ala.

Demikian beberapa pelajaran penting n faedah ilmiyah yang dapat kami sebutkan. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kita semua.

Wallahu a’lam bish-showab. Wabillahi at-Taufiq. (Klaten, 21 Januari 2014).

» Artikel BBG Majlis Hadits, chat room Mutiara Hadits Shohih.

– – – – – •(*)•- – – – –

Menebar Cahaya Sunnah