Tanda Ilmu Yang Bermanfaat

Syaikh Bakr Abu Zaid rohimahullah berkata,

تساءل مع نفسك عن حظك من علامات العلم النافع، وهى:
العمل به.
كراهية التزكية والمدح والتكبر على الخلق.
تكاثر تواضعك كلما ازددت علماً.
الهرب من حب الترؤس والشهرة والدنيا.
هجر دعوى العلم.
إساءة الظن بالنفس، وإحسانه بالناس تنزها عن الوقوع بهم

Tanyalah dirimu, adakah tanda-tanda ilmu yang bermanfaat pada dirimu :

1. Mengamalkan ilmu.

2. Tidak suka pujian dan tidak bersombong diri.

3. Semakin banyak ilmu semakin tawadhu.

4. Lari dari mencintai kedudukan, ketenaran dan cinta dunia.

5. Tidak mengaku diri berilmu.

6. Suuzhon kepada diri sendiri dan husnuzhan kepada orang lain.

(Hilyah Tholibil ‘Ilmi hal. 71)

✏️
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Menebar Aib

● Imam Asy Syafi’i rohimahullah berkata,

“Siapa yang menasehati saudaranya secara empat mata maka ia telah menasehati dan menghiasinya.. dan siapa yang menasehati dengan terang-terangan maka sama dengan menjelekkan dan merusak citranya..”

(Ihya Ulumuddin 2/182)

● Al Hafidz Ibnu Rojab rohimahullah berkata,

إخراجُ السوء وإشاعتُه في قالب النصح، فهو يُظهر الشَّفَقَةَ والتألُّم لحال المنصوح، وفي الباطن إنما غرضه التعيير والأذى، فهذا من إخوان المنافقين الذين ذمهم الله؛

“Membongkar keburukan (seseorang) dan menyebarkannya dengan kedok nasehat. Ia memperlihatkan rasa kasihan dan sedih kepada orang yang dinasehatinya, padahal di batinnya ia ingin menjelekkannya.. ini adalah perbuatan kaum munafiqin yang Allah cela..”

(Al Farqu Bayna Ta’yir Wanashihah)

Betapa banyaknya jenis ini di zaman ini..

Ia tebar nasehatnya untuk seseorang di media sosial..
dengan dalih dalam rangka menasehati..
padahal perbuatannya tersebut sebetulnya menebar aib..

Semoga Allah melindungi kita dari sifat demikian..

Kecuali bila pelakunya melakukan kemungkaran secara terang terangan..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Penyebab Su’ul Khotimah

Ibnu Rojab rohimahullah berkata,

إنَّ خاتمة السوء،
‏ تكون بسبب دسيسة باطنة للعبد،
‏لا يطَّلع عليها الناس

“Sesungguhnya su’ul khotimah disebabkan oleh penyakit yang ada di batin seorang hamba yang tidak diketahui oleh manusia..”

(Jami’ul Ulum wal Hikam 1/57)

Terkadang..
Seseorang terlihat sholeh di hadapan manusia..
Namun saat sendiri ia memaksiati Allah..

Terkadang..
Seseorang menampilkan amalnya kepada manusia..
Sehingga manusia memujinya..
Sementara hatinya riya berharap pujian manusia..

Ada lagi orang yang ikhlas saat beramal..
Namun tertimpa ujub dan sombong setelah beramal..

Ada lagi yang tertipu dengan banyaknya amal yang ia lakukan..
Lalu ia memandang remeh maksiat dan melakukannya..
Ternyata ajalnya menjemput saat ia bermaksiat..

Itu semua penyakit batin yang membinasakan.

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Tips Bagi Penuntut Ilmu

Imam Ibnu Syihab Az Zuhri rohimahullah berkata,

إن هذا العلم إن أخذته بالمكاثرة غلبك، ولم تظفر منه بشيءٍ، ولكن خذه مع الأيام والليالي أخذاً رفيقاً تظفر به

“Ilmu ini jika kamu ambil sekaligus banyak akan membuatmu lemah dan kamu juga tidak akan mendapat apa apa. Tapi ambillah sedikit demi sedikit bersama berlalunya malam dan hari niscaya kamu akan berhasil..”

(Hilyatul Auliya’ 3/364)

Beliau juga berkata,

من طلب العلم جملة فاته جملة، وإنما يدرك العلم حديث وحديثان

“Siapa yang menuntut ilmu sekaligus, maka akan hilang juga sekaligus. Tapi ilmu itu diraih satu atau dua hadits dahulu..”

(Al Jami karya Al Khathib no 452)

Cara ini memudahkan bagi para penuntut ilmu..
Karena kita tidak dituntut untuk menguasai seluruh ilmu..

Namun yang terpenting adalah kontinyu sampai akhir hayat..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Yakinlah

Rosulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ادعوا اللَّهَ وأنتُم موقِنونَ
‏بالإجابَةِ،
‏واعلَموا أنَّ اللَّهَ لا يستجيبُ
‏دعاءً من قلبٍ غافلٍ لاهٍ.

“Berdo’alah kepada Allah dalam keadaan kamu yakin diijabah. Dan ketahuilah bahwa Allah tidak akan mengijabah do’a orang yang hatinya lalai..”

(HR Attirmidzi)

Saat berdo’a..
Yakinlah bahwa Allah pasti mengabulkan do’a kita..
Namun serahkan waktu pengabulannya kepada Allah..
Karena Dia lebih mengetahui dan Maha Kasih Sayang..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Agar Terjaga Semua Urusan

● Allah Ta’ala berfirman tentang lisan,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ (٧٠)

“Wahai orang-orang yang beriman..! bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar..”

يُّصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا (٧١)

“niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu, dan barangsiapa mentaati Allah dan Rosul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung..”

(Qs. Al-Ahzab ayat 70-71)

● Rosulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang sholat,

أولُ ما يحاسبُ بهِ العبدُ يومَ القيامةِ الصَّلاةُ ، فإنْ صَلَحَتْ ، صَلَحَ سائِرُ عَمَلِه ، و إنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سائِرُ عَمَلِه

“Pertama yang akan dihisab dari hamba adalah sholatnya. Jika sholatnya baik maka amal lainnya akan baik, dan jika sholatnya rusak maka amal lain pun ikut rusak..”

(Shohih Targhiib no 376 dari Anas bin Malik)

● Yunus bin Ubaid rohimahullah berkata,

“Ada dua perkara yang bila keduanya baik maka akan baik pula urusannya yang lain.. yaitu sholat dan lisannya..”

(Siyar A’lam Nubala 6 / 293)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Kisah Seorang Majikan Marah Kepada Budaknya

Mu’awiyah bin al-Hakam as-Sulami Rodhiyallahu ‘anhu berkisah,

‘Aku memiliki seorang budak wanita. Biasanya ia menggembala kambing-kambingku di daerah antara gunung Uhud dan Jawwaniyyah.

Suatu hari aku mengawasinya, ternyata ada seekor serigala yang memangsa seekor kambing dari kambing-kambing yang digembala budak wanita itu.

Sebagai manusia biasa, aku terkadang marah sebagaimana manusia pada umumnya.

Aku menamparnya dengan sekali tamparan. Namun aku segera menyesali sikapku itu.

Segera aku mendatangi Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam dan menceritakan kejadian itu kepada beliau.

Aku bertanya, ‘Wahai Rasolullah, tidakkah sebaiknya aku merdekakan dia..?”

Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bawa dia kepadaku..”

Maka akupun membawanya menghadap Beliau, kemudian beliau shollallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada budak wanita itu,

أَيْنَ اللَّهُ قَالَتْ فِي السَّمَاءِ قَالَ مَنْ أَنَا قَالَتْ أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ قَالَ أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ

‘Di manakah Allah..?’

Budak wanita itu menjawab, ‘Allah Di atas langit..’

Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam bertanya lagi, ‘Siapakah aku..?’

Budak Wanita itu menjawab, ‘Anda adalah Rosulullah..’

Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku, ‘Merdekakanlah dia, sesungguhnya dia seorang wanita mukminah..’

[HR. Muslim dan lain-lain)

Jadi jawaban pertanyaan ‘di mana Allah’ itu adalah :

– di atas langit

bukan :
– tidak di atas,
– tidak di bawah,
– tidak di luar,
– tidak di dalam langit.

Jelas kawan..?

Ditulis oleh,
Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Terlalu Percaya Diri

Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata,

قد يكون الرجل من أذكياء العالم.وأحدّهم نظراً ويعمه الله عن أظهر الأشياء
‏وقد يكون من أبلد الناس وأضعفهم نظرا
‏ويهديه الله لما اختلف فيه من الحق بإذنه
‏فلاحول ولاقوة إلا به فمن اتكل على نظره
‏واستدلاله أو عقله ومعرفته ، خذل

“Terkadang orang yang paling cerdas dan pintar dibutakan oleh Allah untuk melihat sesuatu yang amat jelas (kebenarannya).. dan terkadang orang yang paling bodoh diberikan hidayah oleh Allah kepada kebenaran dalam masalah yang diperselisihkan dengan izin-Nya..

Karena tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan izin-Nya..

Siapa yang bersandar kepada kecerdasan dan kepintaran akal dan pengetahuannya, maka dihinakan oleh Allah..”

(Dar’u Ta’arudh Aql wan-Naql 9/43)

Tak perlu bersombong dengan titel dan kepintaran..
Karena hidayah itu milik Allah..

Hidayah tidak diberikan sesuai titel dan kedudukan..
Tapi Allah berikan kepada siapa yang Dia kehendaki..

Maka bertawakallah hanya kepada Allah dan mohonlah hidayah kepada-Nya..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Bertaubat Dari Meninggalkan Kebaikan

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata,

وَلَيْسَت التَّوْبَة من فعل السَّيِّئَات فَقَط كَمَا يظنّ كثير من الْجُهَّال لَا يتصورون التَّوْبَة إِلَّا عَمَّا يَفْعَله العَبْد من القبائح كالفواحش والمظالم بل التَّوْبَة من ترك الْحَسَنَات الْمَأْمُور بهَا أهم من التَّوْبَة من فعل السَّيِّئَات الْمنْهِي عَنْهَا فَأكْثر الْخلق يتركون كثيرا مِمَّا أَمرهم الله بِهِ من أَقْوَال الْقُلُوب وأعمالها وأقوال الْبدن وأعماله وَقد لَا يعلمُونَ أَن ذَلِك مِمَّا أمروا بِهِ أَو يعلمُونَ الْحق وَلَا يتبعونه فيكونون إِمَّا ضَالِّينَ بِعَدَمِ الْعلم النافع وَإِمَّا مغضوبا عَلَيْهِم بمعاندة الْحق بعد مَعْرفَته

“Taubat itu bukan hanya dari perbuatan buruk saja sebagaimana yang disangka oleh orang yang dangkal ilmunya dimana mereka menyangka bahwa taubat itu hanya dari perbuatan buruk seperti zina dan perbuatan yang zholim..

Justru taubat dari meninggalkan kebaikan yang diperintahkan lebih penting, seperti ucapan dan perbuatan hati, juga ucapan dan perbuatan badan..

Terkadang mereka tidak mengetahui bahwa itu adalah diperintahkan.. atau mengetahui kebenaran namun tidak mengikutinya. Sehingga menjadi sesat akibat ilmunya tidak bermanfaat.. atau dimurkai oleh Allah akibat menolak kebenaran setelah mengetahuinya..”

(Jami’ Rosail Ibnu Taimiyah 1/228)

Betapa seringnya kita meninggalkan perintah..

Selain juga kita banyak maksiat..
Kita diperintahkan mengingkari kemungkaran walaupun dengan hati..
Namun kita sering meninggalkan itu..

Amal-amal hati yang wajib seperti tawakal, ikhlas, cinta dan benci karena Allah dan sebagainya..
Amat kurang melaksanakannya..

Ya Allah ampunilah semua dosa-dosa kami..
Dan maafkan kami yang banyak meninggalkan perintah-Mu..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Itulah Dunia

Ibnul Jauzi rohimahullah berkata,

لا عيش في الدنيا إلا للقنوع باليسير، فإنه كلما زاد الحرص على فضول العيش زاد الهم وتشتت القلب واستعبد العبد.

“Tak ada kehidupan (yang tenang) di dunia kecuali dengan merasa qona’ah dengan yang sedikit. Karena semakin bertambah ketamakan seorang insan untuk meraih kelebihan, semakin bertambah juga kegundahan. Hatinya pun bercerai berai dan si hamba pun semakin diperbudak..”

(Shoidul Khathir 606)

Itulah dunia..
Semakin dikejar semakin menyibukkan hati dari kehidupan akherat..

Maka carilah dunia untuk kebaikan akherat..
Bukan dengan hati yang tamak dan rakus..
Niscaya dunia menjadi kebaikan bagi seorang hamba..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Menebar Cahaya Sunnah