Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah KE-18

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj salaf dalam masalah tarbiyah dan perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

KAIDAH KE-17 bisa di baca di SINI

=======

🌼 Kaidah yang ke 18 🌼

Ahlussunnah menyeru kepada setiap orang beramar ma’ruf nahi mungkar untuk mempertimbangkan antara maslahat dan mafsadah sesuai dengan timbangan syari’at.

Karena Islam berporos pada 2 perkara,
ANTARA MENDATANGKAN MASLAHAT atau MENOLAK MAFSADAH.

👉🏼 Apabila MASLAHATNYA JAUH LEBIH BESAR DI BANDINGKAN DENGAN MAFSADAHNYA maka itu DIPERINTAHKAN

👉🏼 Sebaliknya apabila  MAFSADAHNYA LEBIH BESAR DARI PADA MASLAHATNYA maka DITINGGALKAN.

👉🏼 Dan apabila MASLAHAT dan MAFSADAHNYA SEIMBANG maka ini BUTUH KEPADA IJTIHAD dan BERTANYA KEPADA AHLI ILMU.

👉🏼 TAWAKUF ITU LEBIH SELAMAT.

Diantara dalil yang menunjukkan bahwa penting dalam beramar ma’ruf nahi mungkar mempertimbangkan masalah maslahat dan mufsadah itu diantaranya Hadits yang di riwayatkan Imam Muslim.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dari hadits Aisyah:
Kalau bukan kaummu itu masuk Islam dan mereka belum lama dari masa jahiliyah, aku akan menginfakkan harta karun ka’bah di jalan Allah. Dan aku akan menjadikan pintunya dekat ke tanah. Dan aku akan masukkan Hijr Isma’il itu ke dalam Ka’bah.”

Lihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin merombak Ka’bah, tapi beliau tidak lakukan.
Karena kaum musyrikin Quraisy. Orang-orang Quraisy pada waktu itu baru masuk Islam dan belum lama dari masa jahiliyah, sehingga keilmuan mereka masih sangat dangkal.

Kalau Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merombaknya, akibatnya akan dipahami, di khawatirkan akan muncul mudharat yang lebih besar dan di pahami dengan pemahaman yang tidak benar.

Sehingga untuk menghindari mudharat yang lebih besar inilah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan maslahat, memugar Ka’bah tersebut.

Demikian pula disebutkan dalam Hadits Jabir yang di riwayatkan Imam Bukhori dan Muslim, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya:
Kenapa engkau tidak bunuhi orang munafik itu ?
Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;
Jangan sampai orang-orang berbicara bahwa Muhammad membunuh teman-teman sendiri karena orang-orang munafik itu yang memperlihatkan keislaman, mereka ikut sholat tapi hati mereka penuh dengan kedengkian dan kebencian kepada Islam, dan mereka terus berusaha bermakar.”

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika di tanya, kenapa tidak membunuhi mereka saja, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak lakukan itu karena takut malah menimbulkan dampak mudharat yang lebih besar.
Yaitu orang-orang kaum arab , orang-orang kafir akan mengaanggap Nabi Muhammad membunuh teman-temannya sendiri.

Maka dari itulah, ini semua hadits-hadits ini menunjukkan wajib mempertimbangkan antara maslahat dan mafsadah.
Demikian pula hadits yang di keluarkan Imam Muslim:
“bahwa ada orang Arab Badui masuk ke masjid untuk kencing.
Maka para sahabat ingin mengingkarinya, ingin menahannya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat kalau di biarkan mengingkarinya akan timbul mudharat yang lebih besar. Maka Rasulullah bersabda: biarkan… biarkan jangan di putus kencingnya.

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang para sahabat untuk mengingkarinya.
Karena mengingkarinya di saat itu malah menimbulkan mudharat yang lebih besar.

Maka inilah kaidah yang harus di pahami bagi siapapun yang ingin beramar ma’ruf nahi mungkar.
Itu penting untuk mempertimbangkan antara maslahat dan mafsadah dan tentunya harus di bimbing oleh para ulama, karena merkalah yang mampu untuk mempertimbangkan masalah itu

Wallahu a’lam🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Syair “Perasaan Seorang Ayah”…

(Oleh: Umar Baha’uddin al-Amiri, dari Suria)

أين الضجيج العذب والشغب
أين التدارس شابه اللعب ؟

Dimanakah kegaduhan dan kebisingan yang manis itu
dimana pula belajar yang bercampur dengan permainan

أين الطفولة في توقدها
أين الدمى في الأرض والكتب ؟

Dimanakah kekanak-kanakan saat riang-riangnya
dimana pula banyak boneka dan buku dilantai (berserakan)

أين التشاكس دونما غرض
أين التشاكي ماله سبب ؟

Dimanakah pertengkaran tanpa tujuan
dimana pula saling mengadu tanpa alasan

أين التباكي والتضاحك في
وقت معا والحزن والطرب ؟

Dimanakah tangisan dan tawa yang bersamaan
begitu pula kesedihan dan kegirangan yang demikian

أين التسابق في مجاورتي
شغفا إذا أكلوا وإن شربوا ؟

Dimanakah hasrat berlomba-lomba berada di dekatku
saat mereka makan, dan saat mereka minuman

يتزاحمون على مجالستي
والقرب مني حيثما انقلبوا

Mereka berdesak-desakan untuk duduk bersamaku
dan untuk dekat denganku kemanapun mereka bepergian

يتوجهون بسوق فطرتهم
نحوي إذا رهبوا وإن رغبوا

Disetir oleh fitrah, mereka menuju ke arahku
Baik saat mereka takut, maupun saat mereka senang

فنشيدهم : ( بابا ) إذا فرحوا
ووعيدهم : ( بابا ) إذا غضبوا

Nyanyian mereka “baba”, saat mereka senang
ancaman mereka “baba”, saat mereka marah

وهتافهم : ( بابا ) إذا ابتعدوا
ونجيهم : ( بابا ) إذا اقتربوا

Teriakan mereka “baba” saat mereka jauh
bisikan mereka “baba” saat mereka dekat

بالأمس كانوا ملء منزلنا
واليوم ويح اليوم قد ذهبوا

Kemarin mereka memenuhi rumah kami
tapi hari ini -sungguh menyedihkan- mereka telah pergi

وكأنما الصمت الذي هبطت
أثقاله في الدار إذ غربوا

Seakan kebisuan yang turun saat mereka pergi
bebannya yang berat menimpa rumah ini

إغفاءة المحموم هدأتها
فيها يشيع الهم والتعب

(Seperti) sakit panas, yang redanya
menyebarkan kegundahan dan kelelahan

ذهبوا أجل ذهبوا ومسكنهم
في القلب ما شطوا وما قربوا

Mereka telah pergi, benar-benar telah pergi
Namun tempat mereka di (tengah) hatiku, bukan di tepinya, bukan pula di dekatnya.

إني أراهم أينما التفتت
نفسي وقد سكنوا وقد وثبوا

Aku lihat mereka kemanapun diriku menoleh
mereka ada yang tenang dan ada yang berlarian

وأحس في خلدي تلاعبهم
في الدار ليس ينالهم نصب

Aku merasakan di benakku, mereka bermain
di dalam rumah, tanpa dihinggapi oleh kelelahan

وبريق أعينهم إذا ظفروا
ودموع حرقتهم إذا غلبوا

Aku rasakan pula kilatan mata mereka saat menang
Begitu pula air mata tangisan mereka saat dikalahkan

في كل ركن منهم أثر
وبكل زاوية لهم صخب

Di setiap sudut rumah ini ada jejak mereka
dan di setiap sisinya ada kebisingan mereka

في النافذات زجاجها حطموا
في الحائط المدهون قد ثقبوا

Di jendela-jendela ada kaca yang mereka pecah
di dinding yang telah dicat, ada yang mereka lubangi

في الباب قد كسروا مزالجه
وعليه قد رسموا وقد كتبوا

Di pintu, ada kunci-kunci yang telah mereka rusak
padanya pula ada gambar dan tulis yang telah mereka goreskan

في الصحن فيه بعض ما أكلوا
في علبة الحلوى التي نهبوا

Di piring ada sisa makanan mereka
Begitu pula di tempat manisan yang mereka berebut mengambilnya

في الشطر من تفاحة قضموا
في فضلة الماء التي سكبوا

Di sisa setengah apel yang telah mereka makan
Begitu pula di sisa minuman yang mereka tumpahkan

إني أراهم حيثما اتجهت
عيني كأسراب القطا سربوا

Kulihat mereka kemanapun mataku tertuju
Seakan mereka burung yang bergerak bersamaan

دمعي الذي كتمته جلدا
لما تباكوا عندما ركبوا

Linangan air mataku dengan kuat aku tahan
Saat mereka semua menangis menaiki kendaraan

حتى إذا ساروا وقد نزعوا
من أضلعي قلبا بهم يجب

Hingga saat mereka berjalan menjauh
(seakan) mereka mencabut hatiku yang jatuh cinta melewati tulang rusukku

ألفيتني كالطفل عاطفة
فإذا به كالغيث ينسكب

Engkau mendapatiku seperti anak kecil dalam perasannya
Tapi sebenarnya aku seperti hujan yang menumpahkan (keberkahan)

قد يعجب العذال من رجل
يبكي ولو لم أبك فالعجب

Mungkin para pengkritik heran dengan seorang lelaki yang menangis
Tapi lebih mengherankan lagi bila saja aku tidak menangis

هيهات ما كل البكا خور
إني وبي عزم الرجال أب

Karena tidak semua tangisan adalah kelemahan
Sungguh aku seorang ayah dan padaku ada tekat kuat kaum lelaki.
—————-
Nikmatilah kebersamaan dengan anak-anak dan orang-orang kesayangan kalian.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da200116-0823

Hati Yang Diberi Cahaya…

Nabi Muhammad Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda

Sesungguhnya seorang Mukmin itu melihat dosa-dosanya seolah-olah dia berada di kaki sebuah gunung, dia khawatir gunung itu akan menimpanya. Sebaliknya, orang yang durhaka melihat dosa-dosanya seperti seekor lalat yang hinggap di atas hidungnya,
dia mengusirnya dengan tangannya –begini–, maka lalat itu terbang”.

(HR. at-Tirmidzi, no. 2497 dan dishahîhkan oleh al-Albâni rahimahullâh)

Ibnu Abi Jamrah rahimahullâh berkata,

“Sebabnya adalah, karena hati seorang Mukmin itu diberi cahaya. Apabila dia melihat pada dirinya ada sesuatu yang menyelisihi hatinya yang diberi cahaya, maka hal itu menjadi berat baginya. Hikmah perumpamaan dengan gunung yaitu apabila musibah yang menimpa manusia itu selain runtuhnya gunung, maka masih ada kemungkinan mereka selamat dari musibah-musibah itu. Lain halnya dengan gunung, jika gunung runtuh dan menimpa seseorang, umumnya dia tidak akan selamat. Kesimpulannya bahwa rasa takut seorang Mukmin (kepada siksa Allâh Ta’ala -pen) itu mendominasinya, karena kekuatan imannya menyebabkan dia tidak merasa aman dari hukuman itu. Inilah keadaan seorang Mukmin, dia selalu takut (kepada siksa Allâh-pen) dan bermurâqabah (mengawasi Allâh). Dia menganggap kecil amal shalihnya dan khawatir terhadap amal buruknya yang kecil”.

(Tuhfatul Ahwadzi, no. 2497)

Apa Yang Di Syari’atkan Untuk Kita Ucapkan Sebelum Muadzin Mengucapkan Hayya ‘Alas Sholaah..?

Disampaikan langsung oleh Syaikh Prof. DR. Abdurrozzaq bin Abdil Muhsin Al Badr, حفظه الله تعالى di Radio Rodja pada hari Ahad 26 Juni 2016 dan diterjemahkan oleh Ustadz Abu Zaid Cecep Nurrohman Lc, حفظه الله تعالى

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam , beliau bersabda:

« مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً وَبِالإِسْلاَمِ دِينًا. غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ ».

Barang siapa yang ketika mendengar adzan membaca

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً وَبِالإِسْلاَمِ دِينًا

ASYHADU ALLA ILAAHA ILLALLOH
WAHDAHU LAA SYARIIKALAHU
WA ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA ROSUULUHU,
RODHIITU BILLAHI ROBBA
WA BI MUHAMMADIR ROSUULA
WA BIL
ISLAAMI DIINA 

maka akan diampuni dosanya. (Syarah Shahih Muslim oleh Imam Nawawi 4/331)

Dzikir ini dibaca setelah mendengar muadzin mengucapkan
“..ASYHAADU ANNA MUHAMMADAR ROSUULULLAH..”
yaitu sebelum muadzin mengucapkan
“..HAYYA ‘ALASH-SHOLAAH..”

Dalam rekaman ini, hanya suara al Ustadz Abu Zaid Cecep Nurrohman Lc yang ditampilkan karena ketebatasan ruang dan waktu. Bagi yang ingin mendengarkan pembahasan lengkap Syaikh Prof. DR. Abdurrozzaq bin Abdil Muhsin Al Badr, silahkan buka : https://www.radiorodja.com/21668/

da270616-1620
da071017-0615

Betapa Seringnya dan Ruginya Kita Biarkan Kesempatan EMAS Ini Lewat Begitu Saja…

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Setiap orang akan berada di bawah NAUNGAN SEDEKAH-nya hingga diputuskan hukum antara manusia.”

Yazid berkata, “Abul Khair tidak pernah melewati satu haripun melainkan ia bersedekah dengan sesuatu walaupun hanya dengan sebuah kue ka’kah atau lainnya.”

(HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Syaikh Al Bani)

Ref : http://bbg-alilmu.com/archives/9856

Ternyata Keshalihan Bisa Diturunkan…

Allah Ta’ala berfirman :

Dan berikanlah keshalihan kepadaku (dengan juga memberikan keshalihan itu) kepada anak cucuku” (QS. Al-Ahqaf [46]: 15)

Wahai Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku termasuk orang yang tetap mendirikan shalat, wahai Rabb kami, perkenankanlah do’aku” (QS. Ibrahim [14]: 40)

Imam al-Bukhari rahimahullah, diantara sebab beliau menjadi anak yang shalih adalah karena keshalihan ayahnya yaitu Abul Hasan Isma’il bin Ibrahim…

Ahmad bin Hafsh berkata :

“Aku masuk menemui Abul Hasan Isma’il bin Ibrahim tatkala ia hendak meninggal. Maka beliau berkata : “Aku tidak mengetahui di seluruh hartaku ada satu dirham yang aku peroleh dengan syubhat” (Taariikh ath-Thabari 19/239 dan Tabaqaat asy-Syaafi’iyyah al-Kubra II/213).

Allah Ta’ala berfirman :

Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang “ayahnya adalah seorang yang shalih”, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu…” (QS. Al-Kahfi [18]: 82)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata :

Dikatakan bahwa ayah (yang tersebutkan dalam ayat di atas) adalah ayah/kakek ke-7, dan dikatakan juga kakek yang ke-10. Dan apapun pendapatnya (kakek ke-7 atau ke-10), maka ayat ini merupakan dalil bahwasanya seseorang yang shalih akan dijaga keturunannya” (Al-Bidaayah wan-Nihaayah 1/348).

Lihatlah bagaimana Allah menjaga sampai keturunan yang ke-7 karena keshalihan seseorang…

Sa’iid bin Jubair rahimahullah berkata :

Sungguh aku menambah shalatku karena putraku ini
Berkata Hisyam : “Yaitu karena berharap agar Allah menjaga putranya” (Tahdziibul Kamaal X/366 dan Hilyatul Auliyaa’ IV/279)

Umar bin ‘Abdil ‘Aziz rahimahullah berkata :

Setiap mukmin yang meninggal dunia (di mana ia terus memperhatikan kewajiban pada Allah), maka Allah akan senantiasa menjaga anak dan keturunannya setelah itu” (Jami’ al-‘Ulum wal Hikam 1/467)

Sekarang coba renungkan, apakah sudah termasuk orang-orang yang shalih…? Banyak beribadah…? Selalu menjaga diri untuk tidak memakan dan membeli dari harta yang syubhat…?

Maka janganlah seseorang heran jika mendapati anak-anaknya keras kepala dan bandel, masih lalai dengan shalat, tidak mau diajak shalat ke masjid, sulit untuk menghafal al-Qur’an, tidak mau diajak ke taklim, tidak mau menutupi aurat dll…

Bisa Jadi” sebabnya adalah orang tua itu sendiri yang tidak shalih, durhaka kepada orang tuanya serta memakan atau menggunakan harta haram, sehingga dampaknya kepada anak-anaknya…

Anak yang tumbuh dari makanan yang haram kelak menjadi orang yang tidak peduli akan rambu-rambu halal dan haram dalam agamanya, lalu bagaimana mungkin orang tua akan mendapatkan anak yang shalih…?

Akan tetapi pada asalnya insya Allah jika seorang ayah atau ibu itu shalih dan shalihah, maka Allah Ta’ala pun akan menjaga anak-anaknya…

Wahai Saudaraku…

Inginkah anakmu menjadi shalih dan shalihah…?

Ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya, serta berbakti kepada kedua orang tuanya…?

Dan jika engkau menginginkannya…

Lalu sudahkah engkau shalih sebagai orang tua…?

Allah Ta’ala berfirman :

“…Sesungguhnya orang-orang yang merugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat…” (QS. Az-Zumar [39]: 15)

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

Sudahkah Takut Akan DOSA..?

Abdullah bin Syubrumah rahimahullah berkata :

عجبت للناس يحتمون من الطعام مخافة الداء، ولا يحتمون من الذنوب مخافة النار

Aku heran kepada manusia, mereka berhati-hati ketika mengkonsumsi makanan karena khawatir penyakit, namun mereka tidak berhati-hati dari dosa karena takut api Neraka” (Siyar A’laamin Nubalaa’ VI/348)

Ibnu Sirin rahimahullah berkata :

“Sungguh aku mengetahui sebuah dosa yang membuatku kini terlilit hutang. 40 tahun yang lalu aku pernah memanggil seseorang dengan ucapan : “Wahai orang yang bangkrut“. Lalu aku menceritakan hal ini kepada Abu Sulaiman ad-Darini, kemudian beliau berkata : “Dosa mereka sedikit, sehingga mereka tahu dosa mana yang menyebabkan musibah yang menimpa mereka, sedangkan dosaku dan dosamu banyak, sehingga kita tidak tahu dosa mana yang menyebabkan musibah menimpa kita” (Shifatus Shofwah III/246).

Suatu hari Kurz bin Wabiroh di dapati sedang menangis, lalu ketika ia ditanya apa sebabnya, maka ia pun berkata : “Tadi malam aku gagal membaca al-Qur’an seperti biasanya, itu semua gara-gara 1 dosa yang telah aku kerjakan” (Shifatus Shofwah III/122).

Ali bin Husain bin Abu Maryam berkata bahwa Riyaah al-Qoisi berkata : “Aku memiliki dosa sebanyak 40 lebih. Sungguh aku telah mohon ampun kepada Allah sebanyak 100rb kali untuk setiap dosa itu” (Jaami’ul ‘Uluum wal Hikam hal 539 oleh Ibnu Rajab).

Wuhaib bin al-Warad ditanya : “Apakah orang yang melakukan maksiat itu bisa merasakan nikmatnya beribadah ?” Dia menjawab : “Tidak“, begitu pula bagi orang yang di dalam hatinya “TERBESIT” keinginan untuk melakukan maksiat” (Dzammul Hawaa hal 196 oleh Ibnul Jauzi).

Oh…..betapa malangnya hati yang buta, yang tidak sabar menahan kepahitan sesaat, dan lebih memilih kehinaan sepanjang abad dengan cara melakukan berbagai maksiat…

Oh…..betapa malangnya hati yang mati, berkelana memburu dunia, padahal dunia kelak pasti sirna, dan malas meniti jalan menuju akhirat, padahal semuanya akan berakhir disana…

اَللَّهُمَّ إِنَّ عَافِيَةَ يَوْمِيْ أَنْ لاَ أَعْصِيْكَ فِيْهِ

Ya Allah, sesungguhnya keselamatan hariku adalah dimana aku sama sekali tidak bermaksiat kepada-Mu pada hari tersebut…

اللهم لين قلبي بالتوبة ولا تجعل قلبي قاسيا كالحجر

Ya Allah, lembutkanlah hatiku dengan taubat, dan janganlah Engkau jadikan hatiku keras seperti batu…

اللهم ارزقني عينين هطالتين تشفيان القلب بذروف الدمع من خشيتك

Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku dua mata yang banyak meneteskan air mata, yang mengobati hati dengan air mata, lantaran rasa takut kepada-Mu…

اللهم انك تحول بين المرء و قلبه فحل بيني و بين معاصيك ان اعمل بشيء منها

Ya Allah, sesungguhnya Engkau memberi tabir di antara seseorang dengan hatinya. Maka tabirilah antara diriku dengan berbagai kemaksiatan kepada-Mu, agar aku tidak melakukan sedikit pun di antara kemaksiatan-kemaksiatan itu…

Aamiin…

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

Kebahagiaan Di Akhirat Akan Di Dapat Melalui ISTIGHFAR…

Kebahagiaan di akhirat akan di dapat melalui ISTIGHFAR. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:

مَن أحَبَّ أنْ تسُرَّه صحيفتُه فلْيُكثِرْ فيها مِن الاستغفارِ

Barangsiapa yang ingin berbahagia ketika melihat lembaran catatan amalnya, maka perbanyaklah ISTIGHFAR

(HR. Ath Thabrani dalam Al Ausath, 1/256, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’ no, 5955).

Allah Ta’ala berfirman

“فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّاراً . يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَاراً . وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَاراً”

Artinya: “Aku (Nabi Nuh) berkata (pada mereka), “Beristighfarlah kepada Rabb kalian, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan kepada kalian hujan yang lebat dari langit. Dan Dia akan memperbanyak harta serta anak-anakmu, juga mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu” (QS. Nuh: 10-12)

Ayat di atas menjelaskan dengan gamblang bahwa di antara buah istighfar: turunnya hujan, lancarnya rizki, banyaknya keturunan, suburnya kebun serta mengalirnya sungai.

Karenanya, dikisahkan dalam Tafsir al-Qurthubi, bahwa suatu hari ada orang yang mengadu kepada al-Hasan al-Bashri rohimahullah tentang lamanya paceklik, maka beliaupun berkata, “Beristighfarlah kepada Allah”.

Kemudian datang lagi orang yang mengadu tentang kemiskinan, beliaupun memberi solusi, “Beristighfarlah kepada Allah”. Terakhir ada yang meminta agar didoakan punya anak, al-Hasan menimpali, “Beristighfarlah kepada Allah”.

Ar-Rabi’ bin Shabih yang kebetulan hadir di situ bertanya, “Kenapa engkau menyuruh mereka semua untuk beristighfar ?”.

Maka al-Hasan al-Bashri rohimahullah pun menjawab, “Aku tidak mengatakan hal itu dari diriku sendiri. Namun sungguh Allah telah berfirman dalam surat Nuh: “Aku (Nabi Nuh) berkata (pada mereka), “Beristighfarlah kepada Rabb kalian, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan kepada kalian hujan yang lebat dari langit. Dan Dia akan memperbanyak harta serta anak-anakmu, juga mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu”.

Mereka Akan Menjadi Saksi…

Janganlah engkau memusuhi syaitan tatkala di hadapan manusia, namun engkau menjadi sahabatnya tatkala bersendirian. Tatkala engkau menutup pintu kamar, lalu menengok ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada orang yang melihatmu, tatkala itu ingatlah:

1) Allah Maha Melihat dan Mendengar …

2) Jangankan gerakan tubuhmu, bahkan lirikan dan jelalatan matamu diketahui oleh Allah bahkan telah dicatat oleh Allah sebelum engkau mengedip matamu, bahkan isi hatimu diketahui oleh Allah …

3) Allah mengadakan pengawasan yang ketat dengan menugaskan para malaikat untuk mencatat segala gerak-gerikmu. Bahkan malaikat Raqib dan ‘Atid senantiasa menyertaimu …

4) Bukan hanya buku catatan amalanmu yang akan menjadi saksi kelak pada hari kiamat, bahkan tanganmu dan kakimu akan menjadi saksi, sementara mulutmu ditutup, maka bagaimana engkau bisa membela dirimu?

5) Bahkan kulitmu akan berbicara membeberkan aib-aibmu yang kau lakukan tatkala bersendirian …

6) Demikian juga bumi tempat pijakmu tatkala engkau bermaksiat akan ikut pula menjadi saksi …

7) Lantas bagaimana lagi jika ternyata yang memaparkan files aib-aibmu dan yang akan mengadilimu adalah Allah …

8) Lantas bagaimana lagi jika pengumbaran aib-aibmu ternyata di hadapan khalayak ramai, di hadapan kedua orang tuamu, istrimu, anak-anakmu, para sahabatmu, & murid-muridmu yang selama ini hanya mengenal penampilanmu sebagai orang baik di hadapan mereka?

Ya Allah anugrahkanlah kepada kami rasa khosyah kepada-Mu tatkala kami bersendirian.

Ustadz DR. Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

da210614
da141116-2032

 

Menebar Cahaya Sunnah