Bolehkah Membenci Seorang Muslim Karena Sikapnya Yang Kerap Meremehkan Orang Lain..?

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini:

Ikuti terus Telegram channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

Nasihat Bagi Orangtua Yang Kerap Menceritakan Keberhasilan Anaknya…

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini:

Ikuti terus Telegram channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

Pendakwah Bengis dan Dokter Sadis…

Apa yang pertama kali terbetik di hati anda ketika anda melihat korban kecelakaan, kebakaran, atau penderita penyakit parah ?

Rasa iba melihat betapa berat derita mereka, atau rasa benci karena anda mengetahui mereka ceroboh tidak menempuh hidup sehat, atau melanggar rambu lalulintas atau karena tidak merapikan instalasi listriknya ?

Dan bagaimana perasaan anda bila menyaksikan seorang tenaga medis yang menolong korban kecelakaan dengan membentak bentaknya, atau sambil menghujatnya, atau sambil bermuka masam, atau sikap kaku dan kasar ?

Coba bandingkan dengan perasaan anda ketika menemukan pelaku maksiat atau bid’ah. Ketahuilah bahwa dosa dan bid’ah adalah penyakit hati, sebagaimana luka bakar, kudisan dan luka kecelakaan adalah penyakit fisik.

Bila anda merasa iba dengan penderita penyakit fisik, sehingga anda tergugah untuk berdonasi, atau menolong mereka, tanpa perlu mencibirnya, mengapa ketika melihat pelaku dosa dan bid’ah anda lebih mengedepankan nafsu menghujat, mencibirkan, hasrat membenci dibanding semangat untuk mendakwahi atau menyelamatkan ?

Dan kalaupun anda berusaha menyelamatkan mereka, namun betapa sering usaha anda diiringi dengan kata kata yang kasar, sikap yang kaku, muka yang masam?

Apakah menurut anda penderita penyakit atau luka fisik lebih layak disayangi dibanding penderita penyakit hati dan iman?

Semoga menggugah dan bermanfaat.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Ketika Hati Telah Membatu…

Dalam alqur’an, Allah menyebutkan bahwa hati yang keras itu bagaikan batu bahkan lebih keras lagi. Allah berfirman:

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُم مِّن بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً ۚ

Kemudian hati kalian mengeras setelah itu bagaikan batu atau lebih keras lagi.” (Al Baqoroh: 74)

Hati yang keras sudah tidak dapat lagi mengambil pelajaran dan peringatan.
Saat gempa dan bencana menimpa, mereka menganggap hanya fenomena alam saja tak ada hubungannya dengan syirik dan maksiat yang mereka lakukan..
Mereka pun ngeyel dan menuduh orang orang yang mengingkarinya terlalu tekstual.. agar kemaksiatan yang mereka tak disalahkan.

Padahal Allah menceritakan dalam alqur’an bagaimana Allah mengadzab kaum kaum sebelum kita akibat kemaksiatan mereka..

Tapi demikianlah hati bila telah keras, bagaikan batu bahkan lebih keras lagi.

Besi dan baja bila dibakar oleh api akan meleleh dan lebur. Sedangkan batu bila dibakar tak hancur.

Demikianlah hati yang keras yang menentang Allah dan rasul-Nya. Api Neraka pun tak dapat melebur dosa-dosanya, hingga ia berhak kekal di dalamnya..

Na’udzu billah min dzalik. Semoga Allah memberi kepada rakyat indonesia hidayah dan rahmatNya..

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Mengenali Contoh-Contoh Durhaka Kepada Orangtua…

Simak penjelasan Ustadz Ahmad Zainuddin Al Banjary, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :

BAGIAN PERTAMA

BAGIAN KEDUA

Dari pembahasan Kitab Al Kabaair, hari Sabtu tanggal 13 Oktober 2018 di Masjid Ar Rahmat, Slipi, Jakarta Barat.

Ikuti terus Telegram channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

Dialog Imam Asy Syafi’ii Dengan Seorang Murji’ah…

ﻗﺎﻝ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ :: ﻭﻣﻦ ﺃﻳﻦ ﻗﻠﺖَ :: ﺇﻥ ﺍﻟـﻌـﻤـﻞ ﻻ ﻳﺪﺧﻞ ﻓﻲ اﻹﻳﻤﺎﻥ ؟!!

Apa dasar ucapanmu bahwa amal tidak termasuk iman ?

فقاﻝ ﺍﻟـﻤـﺮﺟﺊ :: ﻣﻦ ﻗﻮﻟﻪ الله تعالى :: { إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ } ( ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ : 277 ) فصار ﺍﻟﻮﺍﻭ ﻓﺼﻼ ﺑﻴﻦ ﺍﻹﻳﻤﺎﻥ ﻭﺍﻟﻌﻤﻞ ؛؛؛
ﻓﺎﻹﻳﻤﺎﻥ ﻗـﻮﻝ ، ﻭﺍﻷﻋﻤﺎﻝ ﺷﺮﺍﺋﻊ …

Murjiah berkata: “Yaitu firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya orang orang yang beriman dan beramal salih..”
Ayat ini membedakan iman dan amal. Iman sebatas ucapan dan amal itu syariat.

ﻓﻘﺎﻝ الإمام ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ :: أﻭَ ﻋـﻨﺪﻙ ﺍﻟﻮﺍﻭُ ﻓﺼﻞٌ ؟!!

Imam Syafi’i berkata: “Jadi menurutmu wawu itu bermakna pembeda ?

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻤﺮﺟﺊ :: ﻧﻌﻢ ..

Murjiah berkata: “iya.”

ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ :: ﻓﺈﺫاً ﻛﻨﺖَ ﺗﻌﺒﺪ ﺇﻟﻬﻴﻦ ; ﺇلها ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺸﺮﻕ ، ﻭﺇلها ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻐﺮﺏ ..!!! ﻷﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻳﻘﻮﻝ :: { رَبُّ الْمَشْرِقَيْنِ وَرَبُّ الْمَغْرِبَيْنِ } ..!!!..

Kalau begitu kamu menyembah dua tuhan; tuhan timur dan tuhan barat. Karena Allah berfirman: “Rabb dua timur dan Rabb dua barat.”

ﻓﻐﻀﺐ ﺍﻟﺮﺟﻞ ، ﻭﻗﺎﻝ :: ﺳﺒﺤﺎﻥ ﺍﻟﻠﻪ ، ﺃﺟﻌﻠﺘﻨﻲ ﻭﺛﻨﻴﺎ ؟!!

Murjiah ini marah dan berkata: “Kamu menjadikan aku sebagai penyembah berhala !!”

ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ :: ﺑﻞ ﺃﻧﺖ ﺟﻌﻠﺖ ﻧﻔﺴﻚ ﻛﺬﻟﻚ …

Justru kamu yang menjadikan dirimu sebagai penyembah berhala.

ﻗﺎﻝ :: ﻛﻴﻒ ؟!!

Murjiah berkata: “Kok bisa ?”

ﻗﺎﻝ :: ﺑﺰﻋﻤﻚ ؛ﺃﻥ ﺍﻟﻮﺍﻭ ﻓﺼﻞ …

“Karena kamu menganggap bahwa wawu itu pembeda.”

ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻟﺮﺟﻞ :: ﻓﺈﻧﻲ ﺃﺳﺘﻐﻔﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻤﺎ ﻗـﻠـﺖَ ، ﺑﻞ ﻻ ﺃﻋـﺒﺪ ﺇﻻ ﺭﺑﺎً ﻭﺍﺣﺪﺍ ، ﻭﻻ ﺃﻗﻮﻝ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﻴﻮﻡ :: ﺇﻥ ﺍﻟﻮﺍﻭ ﻓﺼﻞ ، ﺑﻞ ﺃﻗﻮﻝ :: إﻥ ﺍﻹﻳﻤﺎﻥ ﻗﻮﻝ ﻭﻋﻤﻞ ، ﻭﻳﺰﻳﺪ ﻭﻳﻨﻘﺺ …

Orang itu berkata: Aku mohon ampun kepada Allah dari ucapanku. Aku hanya beribadah kepada satu Rabb saja. Semenjak hari ini aku tidak akan berkata lagi bahwa wawu itu pembeda. Sekarang aku yakin bahwa iman itu adalah ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang.

(Hilyatul aulya 9/110)

Ustadz AbuYahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

HAL-HAL Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN – Penghalang Ke-8

Dari kitab yang berjudul “Showarif ‘Anil Haq“, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Penghalang yang ke 7) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Penghalang yang ke 8 🌿

Penghalang yang ke 8 dari kebenaran yaitu :

⚉   UJUB.
Ujub itu bangga dengan diri sendiri, bangga dengan kelebihan. Dan ujub itu termasuk syirik kecil yang bisa membatalkan amal ketika kita merasa ujub dengannya.

Kata beliau (Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى):

‎العُجب يَحمل صا حبه على تعظيم نفسه
‎حَتَّى يفر ح بِما هو عليه و يستغنِي بِما عنده
‎فيرى أن الحقَّ لايصدر إلا عنه

Ujub itu membuat pelakunya mengagungkan dirinya, sehingga ia merasa gembira dengan kelebihan-kelebihannya tersebut dan merasa cukup. Sehingga dia tidak mau lagi menerima kebenaran atau menerima nasehat dan masukan dari orang lain.
Sehingga ia memandang kebenaran itu berasal dari dirinya”

Seakan-akan dia itulah sebagai pembawa kebenaran . Ini merupakan sikap orang- orang kuffar.

Allah berfirman [QS Ghafir : 83]

…‎فَلَمَّا جَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَرِحُوا بِمَا عِنْدَهُمْ مِنَ الْعِلْمِ

Ketika datang kepada mereka para Rasul dengan pembawa keterangan mereka malah bergembira dengan ilmu yang mereka miliki…

Mereka (yaitu orang-orang kafir tersebut), mereka merasa ujub dengan keilmuan mereka.

👉🏼   Maka apabila seseorang merasa ujub dengan dirinya pasti dia tidak mau menerima masukan.

Makanya yang seperti ini kerugian sangat terugi bagi dia, sebab dia tidak akan menerima kebenaran kalau dia sudah merasa dirinya cukup.

⚉  Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda dalam hadits dalam riwayat Abu Dawud

‎إذا رأيت هوًى متَّبعًا، وشُحًّا مطا عًا، وإ عجاب كلّ ذي رأي بر أيه، فعليك بِخا صة نفسك

Apabila kamu melihat hawa nafsu diikuti, kekikiran yang ditaati dan setiap orang memiliki pendapat merasa ujub dengan pendapatnya, maka pada waktu itu hendaklah kamu memelihara dirimu sendiri.”

Maka orang yang merasa ujub dengan dirinya merasa dia punya keutamaan lebih, lalu kemudian menganggap orang lain remeh, akhirnya apa yang terjadi dia meremehkan orang lain, kalau sudah meremehkan dia tidak akan menerima masukan dari orang tersebut.

‎بل ولو قُدر أنه كان مُحقًا صدَّاعًا بااحق ، فليحذر العجب

Bahkan orang yang berada di atas kebenaran saja, jangan sampai terkena ujub. Sebab ketika seseorang merasa ujub dengan amalannya, dengan keberhasilan dakwahnya maka apa yang terjadi

‎يفسد ثَمرة عمله الصا لِح

Bisa merusak amalan sholehnya tersebut.

⚉  Syaikh Utsaimin rohimahullah memandang bahwa ujub itu bisa membatalkan amal.

⚉  Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah mengatakan bahwa ujub itu adalah termasuk salah satu perbuatan kesyirikan.
Karena seseorang seakan-akan merasa dia punya kelebihan dari dirinya sendiri tanpa ada pemberian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala .

👉🏼   Maka dari itulah orang yang merasa dirinya hebat, merasa ujub dengan pendapatnya, di saat itu Allah jadikan dia sulit untuk menerima kebenaran.

‎و العجب والكبر متدا خلان

Ujub dan sombong itu saling mengisi.
Orang yang ujub biasanya sombong.

⚉  Ibnu Hibban rohimahullah berkata :

‎إنه لا يتكبَّر على أحد حَتَّى يُعجَب بنفسه
‎وير ى لَها على غير ها الفضل

Seseorang tidak akan sombong sampai ia merasa ujub dengan dirinya sendiri, dan ia merasa punya kelebihan di atas orang lain.

⚉  Kata Ibnu Qayim rohimahullah juga di dalam kitab Ruwh :

‎وأما الكبر فأثر من آثار العجب

Sombong itu adalah pengaruh dari efek ujub.

👉🏼   Maka orang yang ujub biasanya ia akan jatuh kepada kesombongan, dan sombong itu hakikatnya adalah menolak kebenaran dan menganggap remeh orang lain.

Semoga Allah melindungi kita dari sifat ujub.

‎آمين يا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab yang berjudul Showarif ‘Anil Haq“, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Jangan Menilainya Dari Keadaan Kebanyakan Orang…

Dalam masalah AGAMA… jangan menilainya dari keadaan kebanyakan orang…

Tapi, nilailah dengan dalil… agar keadaan selalu selaras dengan dalil, bukan dalil yang sering dipaksa selaras dengan keadaan.

Ibnul Jauzi -rohimahulloh- mengatakan:

“Siapapun yang mengetahui syariat sebagaimana mestinya, dan dia tahu keadaan Rosul shollallohu ‘alaihi wasallam, para sahabat, dan para ulama besar; tentu dia tahu bahwa sebagian besar manusia tidak dalam keadaan yang lurus (dalam agamanya).

Namun mereka itu berjalan seiring dengan adat kebiasaan.

Mereka biasa saling mengunjungi, tapi kemudian saling menggibah.

Ada dari mereka yang mencari aib saudaranya, dia hasad bila saudaranya dalam kenikmatan, dia mencela bila saudaranya dalam musibah.

Dia bersikap takabur bila dinasehati, menipunya untuk mendapatkan sesuatu dari hartanya, dan memanfaatkan kesalahannya bila mungkin untuk dia lakukan.”

[Kitab: Shoidul Khothir, karya Ibnul Jauzi, hal:301]

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da270615-1710

LPP – Peduli Gempa dan Tsunami – 11 dan 12 Oktober 2018

⚉ LPP hingga AHAD, 30 September 2018, Lihat di SINI
LPP hingga SENIN, 1 Oktober 2018, Lihat di SINI
⚉ LPP hingga SELASA, 2 October 2018, Lihat di SINI
⚉ LPP hingga RABU, 3 October 2018,  Lihat di SINI
⚉ LPP hingga KAMIS, 4 October 2018,  Lihat di SINI
⚉ LPP hingga JUM’AT, 5 October 2018,  Lihat di SINI
⚉ LPP hingga SABTU, 6 October 2018,  Lihat di SINI
⚉ LPP hingga AHAD dan SENIN, 7 dan 8 October 2018,  Lihat di SINI
⚉ LPP hingga SELASA dan RABU, 9 dan 10 October 2018,  Lihat di SINI
⚉ LPP hingga KAMIS dan JUM’AT, 11 dan 12 October 2018,  Lihat di bawah.

Menebar Cahaya Sunnah