Serba Serbi Masalah Seputar Syawwal…

Berikut ini adalah kumpulan artikel audio dan tulisan terkait ibadah di bulan Syawwal. Semoga bermanfaat.

IBADAH Apa Yang Dianjurkan Di Bulan Syawwal…?

Kapan SEBAIKNYA Memulai Puasa Syawal…?

Mengapa Puasa 6 Hari Syawwal Sebaiknya Diakhirkan Setelah Hari-Hari Ied…?

Pendapat PERTAMA : Tidak Boleh Mendahulukan Puasa Syawwal Sebelum Membayar Puasa Ramadhan…

Pendapat KEDUA : BOLEH Mendahulukan Puasa Syawwal Sebelum Membayar Puasa Ramadhan…

Apakah Niat Puasa Syawwal Harus Dilakukan di Malam Hari..?

Bolehkah Menggabungkan Niat MEMBAYAR/QODHO Puasa Ramadhan Dengan Niat Puasa Syawal…?

Bolehkah Menggabungkan Niat Puasa Syawal dengan Niat Puasa Senin – Kamis…?

Apakah Puasa Syawwal Dilakukan Selang Seling atau Terus Menerus Tanpa Jeda…?

Hukum Menggabung Niat Puasa Syawal Dengan Puasa Senin-Kamis Atau Ayyaamul Biidl…

Janganlah Kita Mulai SYAWAL Dengan Kemaksiatan dan Dosa…

In-syaa Allah, daftar artikel akan bertambah. Silahkan cek dari waktu ke waktu.

 

Istighfar Dalam Tiap Majelis…

Imam Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, ia berkata:

إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَجْلِسِ يَقُولُ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ مِائَةَ مَرَّةٍ

Dalam satu majlis, kami pernah menghitung ucapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : “RABBIGHFIRLII WATUB ‘ALAYYA INNAKA ANTAT-TAWWAABUR-ROHIIM (Ya, Rabbku. Ampunilah aku dan terima taubatku. Sesungguhnya Engkau Maha Menerima Taubat dan Maha Penyayang)”, sebanyak seratus kali.

[Ash-Shahihah, 556].

Evaluasi Hari Pertama Syawwal…

Subhaanallah….Di hari pertama Syawwal saat kaum Muslimin di negeri ini merayakan Hari Raya Idul Fitr dengan saling berkunjung ke rumah kerabat, tetangga, teman, dll, tidak hanya penuh dengan keceriaan dan suguhan bermacam-macam makanan yang nikmat, namun juga petaka GHIBAH dan bahkan DUSTA/FITNAH terkait apa yang sedang terjadi di negara ini…
.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwsanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:.“Tahukah kalian apakah ghibah itu ?”.Sahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”..Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Yaitu engkau menyebutkan sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu”,.Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya: “Bagaimanakah pendapat anda, jika itu memang benar ada padanya ?.Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Kalau memang sebenarnya begitu berarti engkau telah mengghibahinya, tetapi jika apa yang kau sebutkan tidak benar maka berarti engkau telah berdusta atasnya”..[HR. Muslim no 2589, Abu Dawud no 4874, At-Tirmidzi no 1999 dan lain-lain].
.
Subhaanallah… Padahal kita tahu, betapa besar bahaya daripada dosa Ghibah ini. Disamping menginjak-injak harga diri saudaranya sesama muslim tanpa hak, juga akan menjadi beban berat di hari kiamat kelak (bila orang yang Di-ghibahi tidak memaafkan)..
Di saat sedikit pahala amat dibutuhkan untuk menambah beratnya timbangan amal kebaikan, tiba-tiba datang orang yang pernah Anda Ghibahi, kemudian dia menuntut untuk mengambil pahala kebaikan Anda, sebagai tebusan atas kezaliman yang pernah Anda lakukan kepadanya. Bila amalan kebaikan tidak mencukupi sebagai tebusan, maka amalan buruknya akan dibebankan kepada Anda. Na’udzu billah min dzaalik…
.
Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
siapa yang pernah menzalimi saudaranya berupa menodai kehormatan (seperti ghibah. pent) atau mengambil sesuatu yang menjadi miliknya, hendaknya ia meminta kehalalannya dari kezaliman tersebut hari ini. Sebelum tiba hari kiamat yang tidak akan bermanfaat lagi dinar dan dirham. Pada saat itu bila ia mempunyai amal shalih maka akan diambil seukiran kezaliman yang ia perbuat. Bila tidak memiliki amal kebaikan, maka keburukan saudaranya akan diambil kemudia dibebankan kepadanya.”. [HR. Bukhari no. 2449, hadis Abu Hurairah].
.
Anda bisa bayangkan, betapa ruginya. Anda yang susah payah beramal, namun orang lain yang memetik buahnya. Orang lain yang berbuat dosa, sedang Anda yang merasakan pahitnya. Dan Allah tidak pernah berbuat zalim sedikitpun terhadap hambaNya. Namun ini adalah disebabkan kesalahan manusia itu sendiri. Ini dalil betapa tingginya harkat martabat seorang muslim, dan betapa besar bahaya daripada dosa Ghibah…
.
Imam Nawawi rohimahullahu ta’ala berkata di dalam Al-Adzkar:
.
”Ketahuilah bahwasanya ghibah itu sebagaimana diharamkan bagi orang yang menggibahi, diharamkan juga bagi orang yang mendengarkannya dan menyetujuinya. Maka wajib bagi siapa saja yang mendengar seseorang mulai menggibahi (saudaranya yang lain) untuk melarang orang itu, kalau dia tidak takut kepada mudhorot yang jelas. Dan jika dia takut kepada orang itu, maka wajib baginya untuk mengingkari dengan hatinya dan meninggalkan majelis tempat ghibah tersebut jika hal itu memungkinkan.
.
Jika dia mampu untuk mengingkari dengan lisannya atau dengan memotong pembicaraan ghibah tadi dengan pembicaraan yang lain, maka wajib baginya untuk melakukannya. Jika dia tidak melakukannya berarti dia telah bermaksiat.
.
Jika dia berkata dengan lisannya: ”Diamlah”, namun hatinya ingin pembicaraan gibah tersebut dilanjutkan, maka hal itu adalah kemunafikan yang tidak bisa membebaskan dia dari dosa. Dia harus membenci gibah tersebut dengan hatinya (agar bisa bebas dari dosa-pent).
.
Jika dia terpaksa di majelis yang ada ghibahnya dan dia tidak mampu untuk mengingkari ghibah itu, atau dia telah mengingkari namun tidak diterima, serta tidak memungkinkan baginya untuk meninggalkan majelis tersebut, maka harom baginya untuk istima’(mendengarkan) dan isgho’ (mendengarkan dengan seksama) pembicaraan ghibah itu.
.
Yang dia lakukan adalah hendaklah dia berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan lisannya dan hatinya, atau dengan hatinya, atau dia memikirkan perkara yang lain, agar dia bisa melepaskan diri dari mendengarkan gibah itu. Setelah itu maka tidak dosa baginya mendengar ghibah (yaitu sekedar mendengar namun tidak memperhatikan dan tidak faham dengan apa yang didengar –pent), tanpa mendengarkan dengan baik ghibah itu, jika memang keadaannya seperti ini (karena terpaksa tidak bisa meninggalkan majelis gibah itu –pent). Namun jika (beberapa waktu) kemudian memungkinkan dia untuk meninggalkan majelis dan mereka masih terus melanjutkan ghibah, maka wajib baginya untuk meninggalkan majelis”

ref:

https://muslim.or.id/24578-waspadai-ghibah-terselubung.html

Hukum Mendengarkan Ghibah, Bertaubat Dari Ghibah Dan Ghibah Yang Dibolehkan

Mengapa Puasa 6 Hari Syawwal Sebaiknya Setelah Hari-Hari Ied…?

Syeikh Muhammad Mukhtar Asy-Syinqithi -hafizhohulloh- mengatakan:

Lebih Afdholnya… hendaknya seseorang menjadikan hari-hari iednya untuk kebahagiaan dan kesenangan (dengan tidak berpuasa).

Oleh karena itu, telah valid dalam sebuah hadits yang shohih dari Nabi -shollallohu alaihi wasallam- bahwa beliau mengatakan untuk hari-hari (tasyriq) di Mina: ‘itu adalah hari-hari makan dan minum… maka janganlah kalian berpuasa di dalamnya‘.

Apabila hari-hari Mina yang tiga, karena dekat dengan hari Idul Adha mengambil hukum ini, tentunya hari-hari idul fitri tidak jauh keadaannya dari hukum ini…

Oleh karena itulah, kamu dapati orang-orang akan menjadi ‘tidak enak‘ apabila mereka diziarahi oleh seseorang di hari raya, lalu dia menolak hidangan yang disuguhkan dan mengatakan ‘aku sedang berpuasa‘, sebaliknya mereka senang bila hidangan itu dinikmati tamunya.

Dan telah datang keterangan dari Nabi -alaihis sholatu wassalam- bahwa ketika beliau diundang oleh seorang sahabatnya dari kalangan Anshor untuk menikmati hidangan bersama sebagian sahabatnya, lalu ada sahabatnya yang menjauh dan mengatakan: ‘sungguh aku sedang berpuasa (sunnah)’.

Maka Nabi -shollallohu alaihi wasallam- mengatakan kepadanya: ‘Sungguh saudaramu telah bersusah payah untukmu, jadi BATALKAN puasamu dan berpuasalah di hari lainnya‘.

Ketika tamu masuk pada hari-hari ied, terutama hari kedua dan ketiga, tentu seseorang akan senang dan lega ketika melihat tamunya menikmati hidangannya. Jadi, keadaan seseorang bersegera untuk berpuasa pada hari kedua dan ketiga, ini perlu ditinjau lagi.

Sehingga lebih afdhol dan lebih sempurna bila seseorang menyenangkan perasaan orang lain (dengan tidak berpuasa). Bisa jadi di hari kedua dan ketiga ini ada acara-acara undangan, bisa jadi dia menjadi tamu mereka, dan mereka senang bila dia ada dan ikut menikmati hidangan mereka.

Maka perkara-perkara seperti ini; mementingkan silaturrahim dan membahagiakan kerabat, tidak diragukan lagi di dalamnya terdapat keutamaan yang lebih afdhol dari amalan (puasa) sunnah.

Ada sebuah kaidah mengatakan: ‘Jika ada dua keutamaan yang sama bertabrakan, dan salah satunya bisa dilakukan di waktu lain… maka hendaknya keutamaan yang bisa dilakukan di waktu lain diakhirkan‘. Bahkan, silaturrahim tidak diragukan lagi termasuk diantara amalan taqorrob yang paling utama.

Di sisi lain, syariat telah melapangkan untuk para hambanya dalam puasa 6 hari Syawwal ini, dia menjadikannya ‘mutlak‘ (tidak terikat), boleh dilakukan di seluruh hari bulan syawwal, maka pada hari apapun puasa itu dilakukan di bulan syawwal; ia dibolehkan selain pada hari ied.

Berdasarkan keterangan ini, maka tidak ada alasan bagi seseorang untuk mempersulit dirinya dalam bersilaturrahim dan membahagiakan kerabatnya dan orang yang menziarahinya pada hari ied.

Oleh karena itu, hendaknya dia mengakhirkan puasa 6 hari syawal ini, sampai setelah hari-hari yang dekat dengan ied, karena orang-orang membutuhkan hari-hari ied itu untuk menciptakan nuansa bahagia dan memuliakan tamu, dan tidak diragukan bahwa mementingkan hal itu akan mendatangkan pahala, yang bisa saja melebihi pahala sebagian amal ketaatan (puasa)…

[Kitab: Syarah Zadul Mustaqni’, 107/5].

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Serba Serbi Masalah Seputar Syawwal…

da200715-2014

Fenomena ‘ndompleng’…

Fenomena ‘ndompleng’ nama bangsa atau simbol negara untuk memuluskan langkah memerangi Islam

=====

Ini strategi lain yang digunakan oleh barisan pengecut dan munafiqun dalam merongrong Islam dari dalam.

Makanya,

– Yang tadinya namanya Islam Liberal, sekarang berganti menjadi Islam Nusantara.

– Yangg tadinya kesyirikan dan kemaksiatan, sekarang berganti nama menjadi bagian dari ‘kearifan lokal’.

– Ada yangg membaca Alquran dengan langgam jawa.

– Ada yang ibadah sai dengan membaca dzikir pancasila.

– Ada yang bershalawat untuk pancasila.

Dan masih banyak lagi, dan mereka akan mengembangkan varian-varian lain dari langkah ini.

Mereka mengambil langkah ini, agar orang-orang yang melawan mereka bisa dituduh sebagai oknum yang tidak pancasilais .. tidak setia kepada negara .. tidak menghargai kekayaan budaya bangsa!!

Paham kan .. bagaimana liciknya mereka?!

Mereka kira Allah tidak tahu apa isi hati mereka .. mereka kira Allah membiarkan agamaNya .. mereka kira Allah akan diam saja.

Ingatlah bahwa Allah adalah sebaik baik pembuat makar, silahkan kalian berbuat makar terhadap agama Allah .. Allah pasti akan membalas makar kalian.

Katakan kepada mereka: bahwa taat kepada pemerintah yang sah selama bukan maksiat adalah akidah kita .. pancasila sebagai dasar negara, kita hormati dan junjung tinggi, karena tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam .. dan kita akan membela negara RI, sebagai bentuk pembelaan kita terhadap darah kaum muslimin sebagai mayoritas penduduknya.

Tapi tetap saja kami akan memerangi kesyirikan dan kemaksiatan .. meski kalian berusaha menempelkannya dengan bangsa kami dan simbol negara.

Karena setiap kesyirikan dan kemaksiatan akan menjadikan negara ini tidak aman, tidak berkah, bahkan runtuh, sebagaimana umat-umat terdahulu menjadi hancur dan binasa karena kesyirikan dan kemaksiatan yang mereka lakukan.

Ingatlah membela Islam, berarti menjaga keutuhan bangsa dan negara ini.

Silahkan dishare .. semoga bermanfaat.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Sunnah Yang Terlupakan…


.
Sunnah yang kerap terlewatkan… Yuk hidupkan kembali…..

SUNNAH YANG TERABAIKAN…..
.
“Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- tidak mengerjakan shalat sunnah sebelum shalat ied, namun jika beliau pulang dan sampai di rumah beliau shalat 2 raka’at.”.(HR. Ibnu Majah dishahihkan oleh Imam Hakim, Adz Dzahabi, dihasankan oleh Imam Ibnu Hajar, Al Buushairi, Albani).
.
Ibnu khuzaimah mengatakan: “Disunnahkan shalat di rumah selepas pulang dari shalat ied.”(Shahih Ibnu Khuzaimah 2/362).Silahkan lihat keterangan imam iibnu quddamah dalam al mugni 2/241 dan imam ibnu hajar dalam fathul baari 3/418.
.
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, حفظه الله تعالى..
.
.
#sunnah#rumah..

Follow: @bbg_alilmu

Follow: @bbg_alilmu

Follow: @bbg_alilmu

Cara Mereka Menyudutkan Syariat Islam…

Islam yang benar, dikatakan Islam Arab

Syariat jenggot, dikatakan budaya Arab

Syariat jilbab dan cadar, dikatakan budaya Arab

Merapatkan shaff dalam shalat, dikatakan budaya Arab

Alquran, dikatakan produk budaya Arab

—–

Sudah tahu kan cara mereka menyudutkan syariat Islam !!

Jadi, karena mereka tidak gentle menyerang Islam .. akhirnya mereka mengklaim, bahwa itu budaya Arab .. baru setelah itu mereka berani menyerangnya.

Sehingga kalau ditanya, kenapa kalian menyerang Islam .. mereka akan menjawab, kami tidak menyerang Islam, yang kami lawan adalah budaya arabnya.

Itulah mereka, sangat pengecut dan munafik .. jangan sekali kali kita terkecoh dengan tipuan mereka !!

Katakan dengan tegas bahwa itu semua syariat Islam .. tentang apakah itu diserap oleh bangsa Arab menjadi budaya mereka atau tidak, maka itu tidak mempengaruhi hukum dan statusnya sebagai bagian dari syariat Islam.

Mari cerdas menghadapi musuh Islam .. meski mereka dari bangsa kita sendiri.

Tolonglah agama Allah, niscaya Allah akan menolong kalian.

Silahkan dishare, semoga bermanfaat ..

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Menengok Ke Belakang…

Di malam ke 29 ini, mari sejenak kita menengok ke belakang, ternyata…

Telah 28 hari kita berpuasa.
Puasa yang penuh kekurangan.
Puasa yang diselingi dengan khilaf dan maksiat.
Puasa yang terkadang terbakar nafsu dan emosi.

Tengoklah kembali!
Ternyata… telah 28 malam kita lewati.
Ternyata… waktu tidur lebih banyak dari waktu tadabbur.
Ternyata… waktu tertawa lebih sering dari membaca Al Qur’an dan berdoa.

Ada penyesalan,
Ada kepiluan,
Ada tanda tanya besar, masih tersisakah taqwa untuk diri ini??

Saudaraku,
Harapan itu masih ada,

Resapi sabda sang Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- berikut ini:

من أحسن فيما بقي غفر له ما مضى ومن أساء فيما بقي أخذ بما مضى وما بقي

Barangsiapa yang memaksimalkan waktu yang masih tersisa, maka kesalahannya yang lalu pasti terampuni, dan barangsiapa yang melalaikan waktu yang tersisa, maka ia akan disiksa karena kesalahan yang lalu dan yang tersisa.”  (HR. Thabrani Fil Awsath dan dihasankan oleh Albani)

Optimis dan husnuzhan-lah kepada ALLAH!
Tabuhkan kembali genderang perjuangan kita!
Kencangkan kembali ikat pinggang kita!
Hidupkanlah waktu yang tersisa!

Ingatlah!
ini adalah malam ganjil terakhir dan bisa jadi malam terakhir pada Ramadhan 1439 H ini .

Sesungguhnya amal ibadah itu tergantung penutupannya.”
(HR. Bukhari)

Semoga ALLAH memberi taufiq kepada kita di sisa waktu ini.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri Lc,  حفظه الله تعالى

Kesimpulan Hukum Untuk Hari Raya Di Hari Jumat…

Berikut adalah fatwa Lajnah Daimah tentang peristiwa hari raya yang bertepatan dengan hari jumat.

Fatwa no. 21160 diterbitkan tanggal 8 Dzulqa’dah 1420 H

Alhamdulillah wahdah, was shalatu was salamu ‘ala man laa nabiyya ba’dah, amma ba’du,

Terdapat banyak pertanyaan terkait peritiwa hari raya yang bertepatan dengan hari jumat. Baik idul fitri maupun idul adha. Apakah jumatan tetap wajib dilaksanakan bagi mereka yang telah melaksanakan shalat id? Bolehkah mengumandangkan adzan di masjid yang diadakan shalat dzuhur? Dan beberapa pertanyaan terkait lainnya. Untuk itu, Lajnah Daimah menerbitkan fatwa berikut:

Dalam permasalahan ini, ada beberapa hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dana keterangan sahabat yang menjelaskan hal itu. Diantaranya:

Pertama, hadis Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu, bahwa Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepadanya: “Apakah anda pernah mengikuti hari raya yang bertepatan dengan hari jumat di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?” “Lalu apa yang beliau lakukan?” Jawab Zaid:

صلى العيد ثم رخص في الجمعة، فقال: من شاء أن يصلي فليصل

“Beliau shalat id, dan memberi keringanan untuk tidak shalat jumat. Beliau berpesan: ‘Siapa yang ingin shalat jumat, hendaknya dia shalat.’” (HR. Ahmad, Abu Daud, Nasai, ibn Majah, Ad-Darimi).

Kedua, hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قد اجتمع في يومكم هذا عيدان، فمن شاء أجزأه من الجمعة، وإنا مجمعون

Pada hari ini terkumpul dua hari raya (jumat dan id). Siapa yang ingin shalat hari raya, boleh baginya untuk tidak jumatan. Namun kami tetap melaksanakan jumatan.” (HR. Abu Daud, Ibn Majah, Ibnul Jarud, Baihaqi, dan Hakim).

Berdasarkan beberapa hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, keterangan dan praktek sejumlah sahabat radhiyallahu ‘anhum, serta pendapat yang dianut oleh mayoritas ulama, maka Lajnah Daimah memutuskan hukum berikut:

–  Orang yang telah menghadiri shalat id, mendapat keringanan untuk tidak menghadiri jumatan. Dan dia wajib shalat dzuhur setelah masuk waktu dzuhur. Akan tetapi jika dia tidak mengambil keringanan, dan ikut shalat jumat maka itu lebih utama.

–  Orang yang tidak menghadiri shalat id maka tidak termasuk yang mendapatkan keringanan ini. Karena itu, kewajiban jumatan tidak gugur baginya, sehingga dia wajib berangkat ke masjid untuk melaksanakan shalat jumat. Jika di masjid tempatnya tidak ada shalat jumat maka dia shalat dzuhur.

–  Wajib bagi takmir masjid atau petugas jumatan untuk mengadakan jumatan di masjidnya, untuk menyediakan sarana bagi mereka yang tidak shalat id atau orang yang ingin melaksanakan jumatan. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam khutbahnya: “Namun kami tetap melaksanakan jumatan” sebagaimana disebutkan dalam hadis-hadis di atas.

–  Orang yang shalat id dan mengambil keringanan untuk tidak jumatan, dia wajib shalat dzuhur setelah masuk waktu dzuhur.

–  Tidak disyariatkan mengumandangkan adzan di hari itu, kecuali adzan di masjid yang diadakan shalat jumat. Karena itu, tidak disyariatkan melakukan adzan dzuhur di hari itu.

–  Pendapat yang menyatakan bahwa orang yang shalat id maka gugur kewajibannya untuk shalat jumat dan shalat dzuhur pada hari itu, adalah pendapat yang tidak benar. Oleh sebab itu, para ulama menghindari pendapat ini, dan menegaskan salahnya pendapat ini, karena bertentangan dengan ajaran dan menganggap ada kewajiban yang gugur tanpa dalil.

Allahu a’lam, wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammadin wa aalihii wa shahbihii wa sallam..

Baca selengkapnya di: https://konsultasisyariah.com/14497-kesimpulan-hukum-untuk-hari-raya-di-hari-jumat.html

Apakah Disyariatkan Mengangkat Tangan Untuk Tiap Takbir Dalam Sholat Eid..?

Soal:
Ustadz dalam sholat ied kan disyariatkan bertakbir 7 kali di rakaat pertama dan 5 kali di rakaat kedua. Apakah disyariatkan mengangkat tangan untuk tiap takbirnya? Soalnya ana dengar cukup takbir pertama saja?

Jawab:
Para ulama berbeda pendapat:
Mayoritas ulama berpendapat disyariatkan mengangkat tangan tiap kali takbir. Ini adalah pendapat Abu Hanifah, imam syafii dan Ahmad bin Hanbal.
Dasarnya adalah hadits bahwa Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam mengangkat tangan disetiap takbir. Namun hadits ini dlo’if.
Juga berdasarkan atsar umar bin khothob, demikian pula ini adalah pendapat Atho dan Al Auza’i dari kalangan tabi’in.

Sedangkan imam Malik berpendapat cukup di awal takbir saja berdasarkan hadits ibnu Mas’ud beliau berkata:
Maukah aku kabarkan bagaimana sholat Rasulullah? Maka beliau berdiri dan mengangkat tangannya dikali pertama kemudian tidak kembali lagi.” 
Dalam riwayat lain: “Beliau tidak mengangkat tangannya kecuali sekali saja.”
Namun hadits ini menjadi perselisihan di kalangan para ulama apakah ia shahih atau dlo’if.

Imam Attirimidzi menganggapnya Hasan.
Dan dishahihkan oleh Az Zaila’iy, ibnu Daqiq al ied, ibnu Hazm, Syaikh Ahmad Syakir dan syaikh Al Bani.

Sedangkan mayoritas ahli hadits menganggapnya dlo’if yaitu ibnul Mubarok, Imam Ahmad, Yahya bin main, imam Bukhari, Abu Hatim, Abu Dawud, ibnu Adiy, imam Al Hakim, Al Baihaqi, Al Humaidi, Ibnu Hibban, Addaroqurhni, ibnul Qothon, ibnul Mulaqqin, ibnu Taimiyah, ibnu qayyim, dan lainnya.
Mereka semua mengatakan bahwa lafadz: kemudian tidak kembali lagi adalah dloif. 

Abu Hatim menyatakan bahwa ia berasal dari kesalahan Sufyan Ats Tsauri. Beliau berkata: “Ats Tsauri salah. Karena sejumlah perawi lain meriwayatkan dengan lafadz: Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam mengangkat kedua tangannya kemudia ruku’ dan beliau meletakan dua tangannya diantara dua lututnya.
Tidak ada seorangpun yang meriwayatkan seperti lafadz Ats Tsauri.
Dan pendapat yang menyatakan kedloifannya lebih kuat. (Lihat kitab tanwirul ainain karya Abul Hasan Al Maribi).

wallahu a’lam.

Masalah ini adalah masalah ijtihadiyah, masing masing mengamalkan sesuai yang ia pandang kuat. 
Saya pribadi condong kepada pendapat jumhur. 

Wallahu a’lam.

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Menebar Cahaya Sunnah