All posts by BBG Al Ilmu

Amalan Yang Bisa Mendatangkan Syafa’at – Do’a Setelah Adzan – Hadits ke 1

Simak penjelasan Syaikh Prof DR Abdurrozzaq bin Abdil Muhsin Al Badr, حفظه الله تعالى berikut ini.

Diterjemahkan oleh Ustadz Abu Zaid Lc, حفظه الله تعالى (mulai dari menit 03.30) : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini:

Ikuti terus channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

Tidak Bermaksiat Namun Tetap Saja Berlumuran Dosa…

Bisa jadi selama ini anda mengira bahwa dosa itu hanya karena melakukan kemaksiatan semisal Zina, mencuri, menipu atau yang serupa.

Saudaraku ketahuilah bahwa dosa itu bisa saja karena anda berbuat maksiat seperti di atas, namun juga bisa karena anda lalai dari menjalankan sebagian kewajiban secara seutuhnya.

Walau anda sholat, namun bisa jadi anda berdosa karena sholat anda yaitu ketika Anda lalai dari memenuhi berbagai rukun dan kewajiban sholat, semisal khusyuk dan tumakninahnya.

Bila selama ini anda sadar untuk memohon ampunan kepada Allah dengan beristighfar dan bertaubat dari perbuatan dosa semisal mengadu-domba, hasad, iri dan dengki, maka sudahkah anda sadar untuk memohon ampunan kepada Allah dari dosa melalaikan kesempurnaan sholat Anda ?

Bila anda berupaya untuk membentengi diri dari perbuatan zina, namun sudahkah Anda melakukan hal yang serupa Dari dosa melalaikan hak-hak istri atau suami anda ?

Pendek kata, bisa jadi saat ini walau bulan Ramadhan telah berlalu, namun bisa jadi anda masih saja berlumuran dengan dosa. Bukan dosa berzina, minum khomer atau berjudi, tetapi dosa karena anda telah berleha-leha dari menyempurnakan ibadah puasa Anda.

Karenanya, sepatutnya anda memperbanyak istighfar dan bertaubat kepada Allah karena gagal mencapai kesempurnaan ibadah puasa anda.

Wallahu Taala a’alam bisshawab.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Kaidah Ushul Fiqih Ke-13 : Perbuatan Nabi Yang Tidak Ada Perintah Dari Beliau…

Pembahasan ini merujuk kepada kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-12) bisa di baca di SINI

=======

🍀 Kaidah yang ke 13 🍀

👉🏼   Perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang tidak ada perintah dari beliau, maka hukumnya tidak wajib.

Perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak semuanya sama hukumnya. Namun terbagi menjadi 6 macam:

1. Perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang bersifat tabiat manusiawi.
seperti selera makan, gaya berjalan dsb.
Maka kita tidak diwajibkan untuk mengikutinya.
Kecuali bila disana ada nilai ibadahnya seperti tidur di atas wudlu, tidur di atas rusuk yang kanan dll, maka ini disunnahkan.

2. Perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang berasal adat istiadat.
Contohnya bentuk pakaian dsb. Maka yang sunnah adalah mengikuti adat istiadat setempat selama tidak menyalahi syariat.

3. Perbuatan Nabi  shallallahu ‘alaihi wasallam dalam rangka mempraktekan perintah Allah.
Hukumnya sesuai perintah tersebut. jika perintah tersebut wajib, maka perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam itu pun wajib.
Contoh Nabishallallahu ‘alaihi wasallam  mengusap seluruh kepala ketika berwudlu, mempraktekan perintah Allah untuk mengusap kepala.

4. Perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang bersifat ta’abbudiy.
Seperti Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa tiga hari setiap bulan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sholat ba’da ‘ashar dua rokaat (*) dan lain sebagainya.

5. Perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang khusus untuk beliau tanpa umatnya.
Contohnya menikah lebih dari empat istri dan sebagainya.

6. Perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang masih diragukan apakah termasuk ibadah atau adat, seperti Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memanjangkan rambut sebahu.
Para ulama berbeda pendapat apakah itu sunnah atau tidak. jumhur berpendapat tidak sunnah.

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Dari kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى.
.
NB :
(*) Terkait dengan contoh yang diberikan di poin 4 dalam kaidah ke 13 (yaitu sholat sunnah 2 roka’at setelah/ba’da ‘Ashar), menurut penjelasan para Ulama, sholat 2 roka’at setelah ‘Ashar ini adalah dalam rangka QODHO sholat sunnah rawatib Zhuhur yang tertinggal, sebagaimana Hadits dari Ummu Salamah rodhiallahu ‘anha, sesungguhnya Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam shalat dua raka’at setelah Ashar, lalu dia ditanya tentang hal tersebut, maka beliau bersabda,

يَا بِنْتَ أَبِى أُمَيَّةَ ، سَأَلْتِ عَنِ الرَّكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعَصْرِ ، وَإِنَّهُ أَتَانِي نَاسٌ مِنْ عَبْدِ الْقَيْسِ فَشَغَلُونِي عَنِ الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ بَعْدَ الظُّهْرِ ، فَهُمَا هَاتَانِ. رواه البخاري (1233) ومسلم (834)

“Wahai puteri Abu Umayah (maksudnya Ummu Salamah), engkau menanyakan tentang dua raka’at setelah sholat Ashar. Telah datang menemuiku orang-orang dari kabilah Abdil-Qais, sehingga aku tidak sempat melaksanakan kedua roka’at tersebut setelah Zuhur. Maka itulah kedua roka’at (yang aku lakukan setelah sholat Ashar).” (HR. Bukhari, no. 1233, dan Muslim, no. 834)
.
Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Yang benar adalah bahwa mengqodho sholat sunnah di-SUNNAH-kan.” Pendapat ini juga dinyatakan oleh Muhammad Al-Muzani, Ahmad dalam salah satu riwayatnya….” (Al-Majmu, 4/43)
.
Al-Mardawi yang bermazhab Hambali rahimahullah berkata, “Ucapannya ‘Siapa yang tidak sempat melaksanakan salah satu sunnah (rawatib) ini, disunnahkan baginya mengqodhonya’ Ini merupakan mazhab yang masyhur dikalangan kami (mazhab Hambali). Pendapat ini dikuatkan oleh Al-Majd dalam syarahnya, dan dipilih oleh Syekh Taqiyuddin –Ibnu Taimiyah-.” (Al-Inshaf, 2/187)
.
Para ulama yang duduk di Al-Lajnah Ad-Daimah li Al-Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta’ (Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia) pernah ditanya tentang hadits-hadits yang menunjukkan adanya sholat ba’diyah ‘Ashar, mereka lantas menjawab,
.
“Tidak boleh sholat sunnah setelah ‘Ashar karena ketika itu waktu terlarang untuk sholat. Adapun yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari hadits-hadits yang disebutkan ADALAH UNTUK MENG-QODHO sholat rowatib Zhuhur yang luput dikerjakan. Adapun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merutinkannya terus menerus dikarenakan jika beliau telah melakukan suatu amalan, maka beliau akan merutinkannya, ini adalah kekhususan bagi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi masih boleh melakukan sholat yang punya sebab setelah ‘Ashar, seperti sholat tahiyatul masjid, sholat kusuf (gerhana), sholat dua raka’at thowaf setelah ‘Ashar maupun setelah Shubuh, juga sholat jenazah karena ada hadits tentang hal ini.”
.
(Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah, pertanyaan pertama dari fatwa no. 19518, 6: 174. Fatwa ini ditandatangani oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz selaku ketua, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah Alu Syaikh selaku wakil ketua dan Syaikh Bakr Abu Zaid selaku anggota)
.
Wallahu a’lam.
.
Ref : https://bbg-alilmu.com/archives/12246
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

KAIDAH USHUL FIQIH – Daftar Isi LENGKAP

da140416-1709

Mengapa Meninggalkan Yang Mampu Memberikan Syafa’at Demi Yang Tidak Mampu Memberikan Syafa’at..?


.
.
Renungan pagi…
.
Sebagaimana kebanyakan manusia saat ini sulit berpisah dari hp, maka begitulah orang-orang dahulu/salaf sulit meninggalkan Al Qur’an barang sekejap pun, rasanya selalu ada sesuatu yang diharap-harapkan, sesuatu yang ditunggu-tunggu, indah dibaca dan diamalkan… mereka mampu menikmati dan mampu fokus membaca dan mentadabburi Al Qur’an selama berjam-jam..
.
Al Qur’an akan datang pada hari kiamat memberikan syafa’at (atas izin Allah) bagi pembacanya (baca paragraf terakhir),… lalu mengapa kita habiskan jauh lebih banyak waktu untuk yang TIDAK BISA memberi syafa’at (medsos)..?
.
Allah Ta’ala berfirman:
.
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi”. “Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir: 29-30).
.
Asy Syaukani (w: 1281H)  rahimahullah  berkata,
.
Maksudnya adalah terus menerus membacanya dan menjadi kebiasaannya” (Lihat kitab Tafsir Fath Al Qadir).
.
Rasulullah Shallallahu ‘alayhi Wasallam bersabda (yang artinya):
.
“Bacalah Al Qur’an KARENA AL QUR’AN AKAN DATANG PADA HARI KIAMAT NANTI SEBAGAI SYAFI’ (PEMBERI SYAFA’AT) BAGI YANG MEMBACANYA. Bacalah Az Zahrowain (dua surat cahaya) yaitu surat Al Baqarah dan Ali Imran karena keduanya datang pada hari kiamat nanti seperti dua awan atau seperti dua cahaya sinar matahari atau seperti dua ekor burung yang membentangkan sayapnya (bersambung satu dengan yang lainnya), keduanya akan menjadi pembela bagi yang rajin membaca dua surat tersebut. Bacalah pula surat Al Baqarah. Mengambil surat tersebut adalah suatu keberkahan dan meninggalkannya akan mendapat penyesalan. Para tukang sihir tidak mungkin menghafalnya.”.
.
(HR. Muslim no. 1910. Lihat penjelasan hadits ini secara lengkap di At Taisir bi Syarhi Al Jami’ Ash Shogir, Al Munawi, 1/388, Asy Syamilah)
.

Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah Ke-38

Dari buku yang berjudulAl Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-37) bisa di baca di SINI

=======

🌼 Kaidah yang ke 38 🌼

⚉   Orang-orang yang menyelisihi Salafus Shalih itu sebetulnya telah membuka pintu untuk musuh-musuh Islam untuk meragukan Islam, untuk merusak Islam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman [QS Al-Ma’idah : 51]

‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ

Hai orang-orang yang beriman jangan kamu jadikan Yahudi dan Nasrani sebagai wali-wali kalian

‎بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ

sebagian mereka adalah wali untuk sebagian yang lain

‎وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ

siapa diantara kalian yang memberikan loyalitas kepada mereka maka sesungguhnya ia bagian dari mereka

‎إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

sesungguhnya Allah tidak memberikan hidayah kepada orang-orang yang zalim.”

Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :
Mereka orang-orang ahli bid’ah itu yang tidak mau mengikuti pemahaman Salafus Shalih bukan hanya menutup pintu atas diri mereka untuk membantah musuh-musuh Islam, bahkan mereka malah membuka pintu musuh-musuh Islam dalam rangka memerangi Alqur’an dan Sunnah.

Ketika musuh-musuh Islam masuk dari pintu mereka, maka mereka akhirnya marah menjadi pembantu-pembantu musuh-musuh Islam, memerangi wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Kalau kita perhatikan apa yang dikatakan Al Imam Ibnul Qayyim itu benar, sebuah contoh misalnya: 

⚉   Pemikiran khawarij yang menyatakan kafir pelaku-pelaku dosa besar dan kemudian menganggap bahwa orang pemimipin yang tidak berhukum dengan hukum Allah, Kafir secara mutlak.
Ini menjadi pintu untuk orang-orang kafirin masuk memerangi dan merusak Islam dari sisi sini.

Sehingga mereka masuk dengan pura-pura masuk Islam, pura-pura memperlihatkan ketaqwaan, lalu kemudian mengkafir-kafirkan kaum muslimin dengan hujjah karena mereka tidak berhukum dengan hukum Allah dan yang lainnya.
Akhirnya mengkafirkan, akhirnya menghalalkan darah, kalau sudah halal darah, akhirnya membuka pintu untuk bom bunuh diri dan yang lainnya.

⚉    Murji’ah yang mengatakan bahwa amal tidak termasuk iman dan mengatakan yang penting hatinya baik, yang penting dia punya keyakinan…. “selesai”
Masalah amal baik atau buruk itu mereka tidak peduli yang penting hatinya baik.

Ini juga menjadi pintu yang sangat empuk dari musuh-musuh Islam untuk merusak Islam dan kaum muslimin sehingga mereka memberikan pemahaman kepada kaum muslimin bahwa beramal sholeh itu tidak penting, yang penting hatinya baik, yang penting yakin kepada Allah…”selesai”.
Akhirnya banyak kaum muslimin meremehkan amal, meninggalkan amal, bahkan berbuat maksiat dengan alasan bahwa yang penting hatinya baik.

⚉    Demikian pula orang-orang mu’tazilah yang mendewakan akal membuka pintu untuk orang-orang musuh-musuh Islam merusak Islam.
“Dari pintu apa ?”
Dari pintu akal bahwa katanya akal itu harus lebih didahulukan.
Sehingga akhirnya Alqur’an dan Hadits ditolak hanya karena tidak sesuai dengan akal.
Maka ini menjadi permainan orang-orang kafirin untuk menghancurkan Islam.
Makanya munculnya liberal. 
Itu dari pintu seperti itu, menggunakan akal-akal mereka untuk menolak wahyu.

⚉    Demikian Tassawuf yang mengatakan bahwa kalau seorang sudah sampai derajat wali ( ma’rifattullah ) tidak perlu mengikuti syari’at Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam
Bahwasanya wali itu tidak mungkin salah, maka kemudian itu menjadi pintu musuh-musuh Islam untuk menghancurkan Islam, mereka masuk, pura-pura masuk Islam lalu mengaku-ngaku sebagai wali, kalau sudah jadi wali dan dianggap sebagai orang yang maksum tidak mungkin salah.
Disitulah mereka mengutak-atik Islam, merusak Islam.

👉🏼  Makanya semua pemikiran kebid’ahan pasti membuka pintu untuk orang-orang kafir yang merusak Islam.

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Artikel TERKAIT :
DAFTAR LENGKAP PEMBAHASAN – Al Ishbaah – Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Bertemu Dengan Saudara…

Lebaran dan bulan Syawal adalah momentum bertemu dengan saudara.

‘Urwah -rahimahullah- menuturkan:

Jika engkau melihat seseorang mengerjakan kebaikan maka ketahuilah bahwa kebaikan itu memiliki banyak saudara (kebaikan-kebaikan yang lain), dan jika engkau melihat seseorang mengerjakan keburukan maka ketahuilah bahwa keburukan itu memiliki banyak saudara (keburukan-keburukan yang lain). Sesungguhnya kebaikan itu mengarahkan kita ke saudara-saudaranya (sesama amal shalih) dan keburukan itu mengarahkan kita ke saudara-saudaranya (sesama dosa dan keburukan).”

(Hilyatul Auliya’ 2/177)

Saudaraku,
Maka pertanyaan besarnya adalah: Dalam suasana ‘Ied dan Syawal ini, “saudara-saudara” siapa yang bercengkrama dan menemani hari-hari kita ?

Jawabannya adalah cermin apa yang kita perbuat di bulan suci Ramadhan

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri Lc, حفظه الله تعالى

Hadits Ya’juj dan Ma’juj…

Diriwayatkan dalam hadits an-Nawwas bin Sam’an Radhiyallahu anhu, di dalamnya diungkapkan:

إِذَا أَوْحَى اللهُ إِلَى عِيْسَى: أَنِّيْ قَدْ أَخْرَجْتُ عِبَادًا لِيْ لاَ يَدَانِ لأَحَدٍ بِقِتَالِهمْ، فَحَرِّزْ عِبَادِيْ إِلَى الطُّوْرِ، وَيَبْعَثُ اللهُ يَأْجُوْجَ وَمَأْجُوْجَ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُوْنَ، فَيَمُرُّ أَوَائِلُهُمْ عَلَى بُحَيْرَةِ طَبْرَيَّةَ، فَيَشْرَبُوْنَ مَـا فِيْهَا، وَيَمُرُّ آخِرُهُمْ فَيَقُوْلُوْنَ: لَقَدْ كَانَ بِهَذِهِ مَرَّةً مَاءٌ، وَيُحْصَرُ نَبِيُّ اللهِ عِيْسَى وَأَصْحَابُهُ، حَتَّى يَكُوْنَ رَأْسُ الثَّوْرِ لأَحَدِهِمْ خَيْرًا مِنْ مِائَةِ دِيْنَارٍ لأَحَدِكُمُ الْيَوْمَ، فَيَرْغَبُ نَبِيُّ اللهِ عِيْسَى وَأَصْحَابُهُ فَيُرْسِلُ اللهُ عَلَيْهِمُ النَّغَفَ فِيْ رِقَابِهِمْ فَيُصْبِحُوْنَ فَرْسَى، كَمَوْتِ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ؛ ثُمَّ يَهْبِطُ نَبِيُّ اللهِ عِيْسَى وَأَصْحَابُهُ إِلَى اْلأَرْضِ فَلاَ يَجِدُوْنَ فِي اْلأَرْضِ مَوْضِعَ شِبْرٍ إِلاَّ مَلأَهُ زَهَمُهُمْ وَنَتْنُهُمْ، فَيَرْغَبُ نَبِيُّ اللهِ عِيْسَى وَأَصْحَابُهُ إِلَى الله، فَيُرْسِلُ اللهُ طَيْرًا كَأَعْنَاقِ الْبُخْتِ فَتَحْمِلُهُمْ فَتَطْرَحُهُمْ حَيْثُ شَاءَ اللهُ.

“Ketika Allah mewahyukan kepada ‘Isa, ‘Sesungguhnya Aku telah me-ngeluarkan hamba-hamba-Ku, tidak ada seorang pun dapat mengalahkan-nya, maka kumpulkanlah hamba-hamba-Ku ke gunung Thur, kemudian Allah mengutus Ya’-juj dan Ma’-juj, mereka datang dari setiap tempat yang tinggi. Maka kelompok pertama dari mereka melewati danau Tha-bariyyah, mereka meminum airnya, lalu orang yang belakangan dari mereka berkata, ‘Di danau ini dulu pernah ada airnya.’ Nabiyullah ‘Isa dan para Sahabatnya dikepung, sehingga pada hari itu kepala seekor sapi lebih berharga daripada seratus dinar milik salah seorang dari kalian. Kemudian Nabiyullah ‘Isa dan para Sahabatnya berdo’a kepada Allah, lalu Allah mengutus ulat-ulat pada leher-leher mereka (Ya’-juj dan Ma’-juj), akhirnya mereka semua mati bagaikan satu jiwa yang mati. Kemudian Nabiyullah ‘Isa dan para Sahabatnya turun (dari gunung) ke bumi, dan ternyata mereka tidak mendapati satu jengkal pun di bumi kecuali penuh dengan bau busuk dan bangkai mereka. Selanjutnya Nabiyullah ‘Isa dengan para Sahabatnya berdo’a kepada Allah, maka Allah mengutus sekelompok burung yang lehernya bagaikan leher unta, lalu burung ter-sebut mengambil dan melemparkan bangkai-bangkai itu ke mana saja sesuai dengan kehendak Allah.”[HR Muslim)

Hadits ini menunjukkan kebatilan pendapat yang mengatakan bahwa yajuj dan majuj adalah jengis khan.. 
Karena disebutkan dalam hadits tersebut bahwa yajuj dan majuj keluar setelah nabi isa turun ke bumi..
Di zaman jengis khan nabi isa sudah turun kah ?

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى