All posts by BBG Al Ilmu

Revisi (Text Besar) – Panduan Do’a MUDIK & SAFAR – PDF

Alhamdulillah, kini kami hadirkan REVISI buku ‘Panduan Ringkas’ seputar do’a dan dzikir khusus BERKAITAN DENGAN SAFAR & AKTIFITAS DI LUAR RUMAH.

Buku ini pantas menemani perjalanan MUDIK, UMROH/HAJI dan juga aktifitas anda di luar rumah setiap harinya karena didalamnya berisi berbagai do’a seperti do’a keluar/masuk rumah, do’a naik kendaraan, do’a masuk ke kota, do’a masuk masjid dll…

File sudah dalam bentuk pdf. SILAHKAN KLIK link dibawah ini dan simpan di ponsel anda.

Panduan Do’a MUDIK & SAFAR – ver. 3.0

Berikut adalah beberapa e-book lainnya, silahkan download :
Panduan DZIKIR PAGI v.3.2
Panduan DZIKIR SORE v.3.2
Panduan Dzikir Setelah Sholat Fardhu – v. 3.1

Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah Ke-37

Dari buku yang berjudulAl Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-35 dan KE-36) bisa di baca di SINI

=======

🌼 Kaidah yang ke 37 🌼

⚉  Orang-orang yang menyelisihi jalan salaf, mereka pasti jatuh kepada sikap ghuluw (berlebih-lebihan) atau kebalikan, yaitu sikap terlalu meremehkan

Allah Ta’ala berfirman [QS Al-Ma’idah : 77]

‎يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ

Hai Ahli Kitab, jangan kalian berlebih-lebihan dalam agama kalian dengan tanpa haq. Dan jangan mengikuti hawa nafsu suatu kaum yang telah tersesat sebelumnya dan menyesatkan banyak manusia dan tersesat dari jalan yang benar.

Di sini Allah menyebutkan bahwa orang-orang ahli kitab itu bersikap ghuluw ( berlebih-lebihan ) dalam agama, maka kita kaum muslimin di larang untuk mengikuti cara beragama mereka yang berlebih-lebihan tersebut.
Demikian pula sikap kebalikan daripada ghuluw yaitu meremehkan,ini pun perkara yang tidak dibenarkan dalam syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : “Banyak ahli bid’ah seperti khawarij, rafidhah, qodariyah, jahmiyyah meyakini sebuah keyakinan, sebetulnya itu sesat tapi mereka pandang dari sebuah kebenaran.”
Lalu mereka mengkafirkan orang-orang yang menyelisihi mereka, sehingga mereka ada keserupaan dengan orang-orang ahli kitab.
Dimana mereka, dimana orang-orang ahli kitab itu kufur kepada kebenaran dan zalim kepada makhluk, demikian pula mereka, mereka menyimpang dari kebenaran, bahkan menzalimi orang lain dengan mengkafirkan orang-orang yang tidak setuju dengan pendapatnya.

Sementara sudah begitu kata mereka, (kata beliau – Syaikh Al Ubailaan):  “sudah begitu mereka yang mengkafirkan orang-orang yang menyelisihinya, tidak memahami dengan benar tentang keyakinan Ahlussunnah wal Jama’ah atau mereka hanya mengetahui sebagiannya saja, sebagiannya lagi tidak faham.”

Kalau pun mereka tahu, mereka tidak menjelaskannya kepada manusia bahkan menyembunyikannya.
Nah inilah keserupaan mereka. Berbeda tentunya dengan Ahlussunnah wal Jama’ah.
Ahlussunnah wal Jama’ah mereka orang paling tahu tentang kebenaran dan paling sayang kepada makhluk, Ahlussunnah tidak mudah mengkafirkan orang-orang yang tidak sejalan dengan mereka, kecuali orang-orang yang tentunya dikafirkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Beliau juga berkata, oleh karena itu kamu akan dapati banyak dari mereka (orang-orang ahli bid’ah para pengikut hawa nafsu itu), karena belum jelas kepada mereka petunjuk, maka ia pun mundur ke belakang.
Lalu ia pun sibuk dengan mengikuti syahawat yang menyesatkan dalam perut dan kemaluannya.
Atau syahwat terhadap kedudukan atau hartanya atau yang lainnya.
Kenapa ?
Karena kurangnya keilmuan dan keyakinan mereka.

Maka Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda dalam hadits Imam Ahmad : “Sesungguhnya di antara perkara yang paling aku khawatirkan atas kalian, yaitu syahwat yang menyesatkan, pada perut kalian dan kemaluan kalian dan fitnah yang menyesatkan.”
Ibnu Taimiyah mengucapkan itu dalam Majmu Fatawa dalam jilid 12 halaman 467.

Oleh karena itulah salaf terdahulu berkata:

‎احْذَرُوا فتْنَة الْعَالم الْفَاجِر

hati-hatilah kalian dengan (1) fitnah orang alim yang fajir, yang tidak mengamalkan ilmunya dan (2) fitnah orang yang ahli ibadah tapi bodoh.”

Karena fitnah 2 orang ini fitnah untuk setiap orang-orang yang mudah terkena fitnah, sebagaimana kita lihat di zaman sekarang, banyak orang yang mudah terkena subhat, pemikiran yang menyesatkan akibat kurangnya keilmuan mereka.
⚉  Sudah dia kurang paham hakikat aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, sudah begitu tasawwur dia.
⚉  Penggambarannya dia tentang Ahlussunnah pun juga salah.
⚉  Ahkirnya kita dapati setiap Ustadz yang membawakan Alqur’an dan Hadits dianggapnya Ahlussunnah wal Jama’ah, padahal belum tentu keyakinannya sesuai dengan keyakinan Ahlussunnah di wal Jama’ah.

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Artikel TERKAIT :
DAFTAR LENGKAP PEMBAHASAN – Al Ishbaah – Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

KAIDAH USHUL FIQIH – Daftar Isi LENGKAP

Untuk memudahkan pencarian, berikut adalah daftar KAIDAH USHUL FIQIH yang diambil dari kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى

KAIDAH USHUL FIQIH – Daftar Isi LENGKAP

Kaidah Ke 62 : Setiap Perkara Yang Tidak Ada Batasannya Dalam Syariat Maka…

Kaidah Ke 61 : Kata ‘KAANA’ كان Mempunyai Makna Dawam (terus menerus) Kecuali…

Kaidah Ke 60 : Semua Anggota Tubuh Yang Terpisah, Hukumnya…

Kaidah Ke 59 : Orang Yang Terkena Sanksi…

Kaidah Ke 58 : Setiap Orang Yang Tergesa-gesa Melakukan Sesuatu Dengan Cara Yang Haram…

Kaidah Ke 57 : Ketika Terjadi Kesamaran Dalam Pembagian, Maka…

Kaidah Ke 56 : Menggunakan Dugaan Kuat…

Kaidah Ke 55 : Qoid (Ikatan) dan Ihtiroz (Pembatasan)…

Kaidah Ke 54 : Peniadaan Itu Pada Asalnya…

Kaidah Ke 53 : Setiap Yang Telah Diketahui…

Kaidah Ke 52 : Istidamah Lebih Kuat Dari Ibtida…

Kaidah Ke 51 : Terkadang Ibadah Yang Tidak Utama Menjadi Lebih Utama Dalam Keadaan Tertentu…

Kaidah Ke 50 : Pengganti Sama Hukumnya Dengan Yang Diganti…

Kaidah Ke 49 : Setiap Yang Masyghul (Sedang Terpakai) Tidak Boleh Dipakai Untuk…

Kaidah Ke 48 : Pada Asalnya Syarat Dalam Akad Dan Perdamaian Adalah Boleh, Kecuali…

Kaidah Ke 47 : Setiap Syarat Dalam Akad Yang Apabila Dilafadzkan Dapat Merusak Akad, Maka…

Kaidah Ke 46 : Laksanakanlah Amanah Kepada Orang Yang Memberimu Amanah, Dan…

Kaidah Ke 45 : Orang Yang Amanah Apabila…

Kaidah Ke 44 : Orang Yang Mengklaim Wajib Membawa Bayyinah…

Kaidah Ke 43 : Apabila Dua Orang Yang Berakad Berselisih…

Kaidah Ke 42 : Setiap Orang Yang Keridhoannya Tidak Dianggap, Maka…

Kaidah Ke 41 : Semua Yang Memiliki Kewalian, Maka…

Kaidah Ke 40 : Sahnya AKAD Adalah…

Kaidah Ke 39 : Kebiasaan Atau ‘Urf Sama Hukumnya Dengan Ucapan…

Kaidah Ke 38 : Aqad Ada 3 Macam…

Kaidah Ke 37 : Sanksi Bagi Yang Zholim…

Kaidah Ke 36 : Ganti Rugi (Dhoman) Hendaknya…

Kaidah Ke 35 : Orang Yang Merusak Sesuatu Wajib Menggantinya, Kecuali…

Kaidah Ke 34 : Dosa Dan Ganti Rugi Itu Gugur Karena Kebodohan, Dipaksa, Dan Lupa, Kecuali…

Kaidah Ke 33 : Boleh Membatalkan Ibadah Yang Sunnah, Kecuali…

Kaidah Ke 32 : Haram Melanjutkan Ibadah Atau Muamalah Yang Rusak, Kecuali …

Kaidah Ke-31 : Wajib Menutup Pintu Hilah…

Kaidah Ke-30 : Amal Itu Dihukumi Dengan Niat…

Kaidah Ke-29 : Hujjah Taklif Itu Ada Empat…

Kaidah Ke-28 : Pendapat Seorang Shahabat Menjadi Hujjah Apabila…

Kaidah Ke-27 : Ibadah Yang Mempunyai Beberapa Bentuk, Hendaknya…

Kaidah Ke-26 : Perbedaan Hukum Perintah Terkait Pelakunya Atau Perbuatannya…

Kaidah Ke-25 : Sesuatu Yang Terlintas Di Hati Dima’afkan Selama Tidak Diucapkan Atau Diperbuat…

Kaidah Ke-24 : Keraguan Setelah Melakukan Ibadah Itu Tidak Dianggap…

Kaidah Ke-23 : Yang Dianggap Dalam Mu’amalah Adalah Sesuai Yang Terjadi…

Kaidah Ke-22 : Apabila Ternyata Dugaan Kuat Itu Salah, Maka…

Kaidah Ke-21 : Dugaan Kuat Itu Dapat Digunakan Dalam Masalah Ibadah…

Kaidah Ke-20 : Seluruh Hukum Tidak Sempurna Kecuali…

Kaidah Ke-19 : Semua Yang Mendahului Sebab Suatu Hukum Tidak Sah…

Kaidah Ke-18 : Hukum Itu Mengikuti ILLAT-nya…

Kaidah Ke-17 : Apabila Bertemu Pembolehan Dengan Pelarangan, Maka…

Kaidah Ke-16 : Apabila Bertemu Mashlahat Dan Mudlarat, Maka…

Kaidah Ke-15 :  Apabila bertemu dua mudlarat, maka…

Kaidah Ke-14 :  Apabila Bertemu Dua Mashlahat…

Kaidah Ke-13 : Perbuatan Nabi Yang Tidak Ada Perintah Dari Beliau…

Kaidah Ke-12 : Apabila Disebutkan Keutamaan Suatu Amal Dalam Sebuah Dalil Tanpa Ada Perintah, Maka Hukumnya…

Kaidah Ke-11 : Laksanakan Sesegera Mungkin, Tidak Boleh Ditunda-Tunda…

Kaidah Ke-10 : Perintah Dan Larangan Dalam Urusan Ibadah Dan Masalah Adab…

Kaidah Ke-9 :  Pada Asalnya Segala Sesuatu Yang Berhubungan Dengan Dunia Adalah Halal Dan Suci.Sedangkan Ibadah Pada Asalnya Terlarang…

Kaidah Ke-8 : Larangan Apabila Berhubungan Dengan Dzat Ibadah atau Syaratnya, Maka Ibadah Tersebut…

Kaidah Ke-7 : Perkara Yang Diharamkan Ada Dua Keadaan…

Kaidah Ke-6 : Sesuatu Yang Haram Boleh Dilakukan Bila Darurat, Dan Yang Makruh Boleh Bila Ada Hajat…

Kaidah Ke-5
Kaidah Ke-4
Kaidah Ke-3
Kaidah Ke-2
Kaidah Ke-1

da060916-1632

 

Bolehkah Seseorang Memandikan dan Mencium Kening Suaminya/Istrinya Yang Meninggal..?

PERTANYAAN :

Ustadz, ingin menanyakan apakah boleh seorang istri mencium kening suaminya (atau sebaliknya) yang sudah meninggal dan dikafankan ? dan apakah yang bukan mahrom diperbolehkan ? Syukron

JAWABAN :

Bismillah. Boleh seorang istri mencium kening suaminya yang telah meninggal dunia. Atau sebaliknya, suami boleh mencium istrinya yang sudah meninggal dunia.

Dan demikian pula boleh bagi keluarga, kerabat mayit dan mahromnya untuk menciumnya.

Adapun orang yang bukan mahrom bagi mayit, maka hukumnya tidak boleh. Wallahu a’lam bish-showab.

Ustadz Muhammad Wasitho MA, حفظه الله تعالى

Sungguh Miris Rasanya…

Sungguh miris rasanya jika shalat, puasa, tilawah Al Qur’an dan berbagai torehan emas ibadah yang berhasil kita rajut dengan kokoh selama bulan suci mulai terurai satu demi satu, lalu akhirnya kembali tercerai berai karena kelalaian kita di awal bulan Syawwal.

Akhirnya semua yang kita perjuangkan selama Ramadhan berlalu begitu saja tanpa makna.

Tetap waspada, saudaraku.

‏﴿٩٢﴾ وَلَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّتِى نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنۢ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنكٰثًا …

Dan janganlah kalian seperti seorang perempuan yang menguraikan benang yang sudah dipintalnya dengan kuat, sehingga menjadi cerai berai kembali…
(QS. An Nahl: 92)

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri Lc, حفظه الله تعالى

Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah Ke-35 dan 36

Dari buku yang berjudulAl Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-34) bisa di baca di SINI

=======

🌼 Kaidah yang ke 35 dan ke 36 🌼

🌼 Kaidah yang ke 35 🌼

⚉  Wajibnya mewaspadakan kaum muslimin, mentahzir kaum muslimin dari kitab-kitab yang mengandung kebid’ahan.

Ini sebetulnya pembahasannya mirip dengan pembahasan sebelumnya tentang wajibnya mentahzir ahli bid’ah karena menpertahankan kelurusan agama lebih didahulukan diatas segala-galanya, dan menyelamatkan umat dari penyimpangan dan pemikiran yang menyesatkan, tentu maslahatnya jauh lebih besar.

🌼 Kaidah yang ke 36 🌼

⚉  Wajibnya bersikap tengah-tengah, bersikap adil dalam menghukumi orang-orang yang jatuh ke dalam kesalahan

Allah Ta’ala berfirman [QS Al-Maidah : 8]

‎ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ

Janganlah kebencian kalian kepada suatu kaum, menyeret kalian untuk bersikap tidak adil. Bersikap adillah kerena itu lebih dekat kepada ketaqwaan.

Dalam ayat ini Allah mengatakkan bahwa dengan sampainya sikap benci kita kepada suatu kaum membuat kita tidak bisa adil, dan ini yang kita lihat di zaman sekarang ketika kita benci kepada suatu kaum atau seseorang sering kali kita tidak bisa bersikap adil, kita lebih banyak mencari kesalahannya, menjatuhkannya atau bergembira dengan kesalahannya tersebut.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : “Orang-orang yang meniti jalan Salaf, mereka menyalahkan yang salah tapi tidak sampai mengkafirkan kecuali orang-orang yang telah tegak padanya hujjah risalah.”

Imam Syafi’i rahimahullah berkata : “Aku berbicara dalam satu ilmu yang dikatakan kepadaku padanya kamu salah lebih aku sukai daripada aku berbicara pada suatu ilmu yang dikatakan kepadaku padanya kamu kafir.”

👉🏼  Diantara kejelekan ahli bid’ah itu, mereka mudah mengkafirkan sebagian yang lainnya yang tidak setuju dengan pendapat mereka, beda dengan ahlul ‘ilm mereka menyalahkan tapi tdak mudah mengkafirkan.

Kenapa ?
Karena mereka berbicara dengan ilmu bukan dengan hawa nafsu, bukan dengan sebatas kebencian.

Ahli ilmu itu mereka menimbang segala sesuatu dengan ilmu, bukan dengan perasaan sehingga mereka pun juga tidak mudah begitu saja mengkafirkan orang-orang yang tidak setuju dengan pendapat mereka. Itulah kehebatan atau keutamaan para ulama.

Seperti contoh misalnya kalau kita perhatikan dizaman sekarang orang-orang yang mudah mengkafirkan, itu bukan hanya khawarij, tetepi juga orang Syi’ah, bahkan juga orang-orang yang notebene Mu’tazilah, Assyari’ah, mereka mengkafirkan orang yang tidak setuju dengan pendapatnya, seperti misalnya kaum Assyari’ah menganggap orang yang meyakini Allah bersemayam diatas Arasy katanya kafir, dan yang lainnya.
Inilah Ikhwata Islam, saudara-saudaraku sekalian sementara Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Salafiyun terutama tidak mengkafirkan mereka.

Kita mengatakkan bahwa orang yang mengatakkan bahwa Allah berada dimana-mana itu salah, dan bahwasanya kewajiban kita meyakini Allah bersemayam diatas Arasy tapi kita tidak sampai mengakafirkan mereka, kita juga mengingkari pendapat mu’tazilah yang mendewakan akal tapi kita pun tidak mudah mengkafirkan mereka, tentu yang kita kafirkan adalah yang jelas-jelas yaitu merupakkan kelafiran sesuai dengan dalil dari Al-Quran dan Hadits Nabi telah-telah tegak hujjah kepada pelakunya dengan jelas.

👉🏼  Maka kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah :
⚉  Ahlus Sunnah wal Jama’ah mereka paling tahu tentang kebenaran dan yang paling sayang kepada manusia.
⚉  Mereka mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam .
⚉  Mereka tidak berani berbuat bid’ah, mereka berusaha untuk ittiba’ kepada Rasul shallallahu ‘alayhi wasallam.

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Artikel TERKAIT :
DAFTAR LENGKAP PEMBAHASAN – Al Ishbaah – Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Renungan…

Baru kemaren kita menunggu datangnya Ramadhan dengan antusias, lalu dia pun datang dan pergi begitu cepat.

Kemudian datang hari Idul Fitri dengan kemeriahan dan kegembiraannya, dan ia pun berlalu dan pergi dengan segera.

Lalu segalanya kembali seperti sediakala, sunyi kembali.

Begitulah kehidupan dunia.. dan pada saatnya nanti, semuanya akan berakhir dan engkau akan kembali ke asalmu.. sendirian, tanpa ada yang menghiburmu, kecuali amalmu, maka perbaikilah amal itu.

Ikhlaskan ibadahmu hanya untuk Allah, dan sesuaikan caranya dengan tuntunan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam.. Ikhlas tanpa mengikuti tuntunan beliau akan sia-sia, sesuai tuntunan beliau tanpa keikhlasan takkan diterima.

Di dunia ini, kita kadang senang kadang meriang.. tidak ada yang abadi, pasti akan silih berganti keadaannya.. dan semuanya hanya sementara.

Fokuslah pada akhiratmu..

Banyak manusia semangat membangun dunianya, padahal itu akan dia tinggalkan.. tapi, dia malas membangun akhiratnya padahal itulah rumah abadi masa depan.

Semoga Allah mengumpulkan kita semua di surga firdaus-Nya.. amin.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

 

da020717-1956

Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah Ke-34

Dari buku yang berjudulAl Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-33) bisa di baca di SINI

=======

🌼 Kaidah yang ke 34 🌼

.
⚉  Bahaya ahli bid’ah terhadap kaum muslimin “terkadang” lebih besar daripada bahaya orang-orang kafir.

Ini kalimat banyak orang yang tidak menerimanya, namun kalau kita perhatikan dengan hati yang dingin dan kenyataan serta dalil-dalil memang keadaannya demikian terkadang.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: ”Menolak atau mencegah kezoliman orang-orang ahli bid’ah itu wajib secara fardu kifayah dengan kesepakatan kaum muslimin
Dimana Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam ketika mensifati orang-orang khawarij, beliau bersabda: “Seburuk-buruknya orang yang terbunuh dikolong langit itu orang khawarij, dan sebaik-baiknya orang yang dibunuh adalah yang dibunuh oleh orang khawarij.” (Dikeluarkan oleh Tarmidzi dan yang lainnya).

Hadits ini menyebutkan bahwa seburuk-buruknya orang yang terbunuh di kolong langit itu adalah orang-orang khawarij.
Siapa orang khawarij ?
Itu yang mengkafirkan kaum muslimin dan menghalalkan darah mereka. Dimana kerusakkan mereka langsung menimpa kaum muslimin.

👉🏼  Oleh karena itu, orang-orang ahli bid’ah itu:
merusak dien,
merusak agama secara langsung.
dan pemikiran mereka yang menyesatkan.

👉🏼  Sementara orang-orang kafir ketika mereka merusak, mereka merusak melalui ahli bid’ah, mereka tidak akan bisa merusak secara langsung, karena kaum muslimin tahu dia kafir.
Tidak mungkin seorang pendeta berceramah di depan kaum muslimin. Pasti kaum muslimin akan segera menolaknya.
Tidak mungkin orang kafir berceramah di depan langsung kaum muslimin, pasti kaum muslimin akan menolaknya.

Maka mereka menggunakan orang-orang yang mempunyai pemikiran sesat, seperti:
⚉  orang-orang khawarij untuk merusak citra Islam,
⚉  orang-orang sufi untuk mematikan jihad fiisabilillah yang syar’i, demikian pula mematikan ilmu-ilmu Islam.
Karena sufi itu paling anti terhadap ilmu-ilmu hadits dan lainnya,
⚉  demikian pula murji’ah yang mengatakan bahwa amal tidak termasuk iman, sehingga mereka mengaggap bahwa maksiat tidak mempengaruhi keimanan.
Tentu ini sangat menjadikan kesempatan emas orang-orang kafir untuk melariskan kemaksiatan di tengah kaum muslimin.
⚉  demikian pemikiran orang mu’tazilah yang mengatakan akal lebih tinggi dari pada dalil.
Untuk ini menjadi pintu yang empuk bagi orang-orang kafir untuk mengotak-atik Islam dengan akal-akal pemikiran, dengan dalih bahwa akal lebih tinggi.

Demikian pula orang sufi yang mengatakan bahwa wali lebih tinggi dari Nabi dan Rasul.
Tentu ini menjadi sebuah kesempatan untuk orang kafir pura-pura masuk Islam.
Kalau dianggaplah ia seorang wali, lalu ia berbicara dengan pembicaraan yang jauh dari Al-Qur’an dan Hadits.
Sementara manusia menganggap dia seorang wali, sehingga inilah memang kerusakkan yang di timbulkan ahli bid’ah terhadap Islam dan kaum muslimin langsung.

Oleh karena itulah Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam ketika mensifati orang-orang khawarij;
Seburuk-buruknya orang yang terbunuh adalah orang-orang khawarij

Abu Sa’id Al-Khudri berkata: “Memerangi orang khawarij bagi saya lebih agung dari pada memerangi orang-orang kafir”.
Sampai demikian Abu Sa’id Al -Khudri ia mengatakkan.

Namun tentu pahamilah, bahwa ini terkadang orang-orang ahli bid’ah itu lebih berbahaya,
kenapa ?
👉🏼 Karena mereka dengan pemikiran mereka yang menyesatkan itu langsung menghancurkan pondasi-pondasi Islam, Aqidah Islamiyah, demikian pula banyak sekali daripada keyakinan-keyakinan Ahlusunnah wal jama’ah.

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Artikel TERKAIT :
DAFTAR LENGKAP PEMBAHASAN – Al Ishbaah – Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah Ke-33

Dari buku yang berjudulAl Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-32) bisa di baca di SINI

=======

🌼 Kaidah yang ke 33 🌼

⚉  Bahwa ahlu bid’ah aksaam orang-orang jatuh pada ke bid’ahan atau kesalahan yang lain itu dibagi beberapa macam sbb ;

1. Dikatakan oleh Ibnu Qoyim yaitu orang jahil yang hanya bisa taklik tidak punya ilmu sama sekali, maka tidak boleh dikafirkan, tidak boleh dianggap fasik tidak boleh ditolak persaksiannya.
Apabila ia tidak mampu untuk mempelajari ilmu maka dihukumi orang-orang yang lemah dari kalangan laki-laki, wanita dan anak-anak.

2. Orang yang punya kemampuan untuk bertanya untuk mencari hidayah, ilmu dan untuk mengetahui kebenaran tapi ia tinggalkan itu semua karena sibuk akan dunia, kedudukan dan kelezatan kehidupannya. Maka orang ini meremehkan menuntut ilmu ia berhak mendapatkan ancaman dan ia berdosa karena meninggalkan apa yang Allah wajibkan dari bertakwa kepada Allah sesuai kemampuannya. Ini dihukumi orang yang meninggalkan kewajiban kalau sekiranya kebid’ahan, hawa nafsunya lebih menang daripada sunah dan hidayahnya maka persaksiannya ditolak.

3. Dia bertanya, mencari dan sudah jelas baginya petunjuk tapi ditinggalkan karena lebih fanatik kepada ustadznya, kelompoknya, benci kepada lawannya karena membawa kebenaran maka orang ini rendah derajatnya fasik adapun mengkafirkannya diperlukan ijtihad dan perincian kalau ia terang terangan berdakwah dan mendakwah kepada kebid’ahannya itu maka ditolak persaksiannya, fatwanya dan hukum hukumnya.

Inilah macam macam orang yang jatuh pada kebid’ahan maka keadaannya seperti yang kita lihat, jika seorang jatuh kepada kebid’ahan dan mampu untuk mencari hidayah, dia punya kecerdasan tapi dia tidak mau karena sibuk dengan dunianya maka ini orang yang berdosa karena meninggalkan apa yang diwajibkan Allah padanya.

Atau ia mampu tapi fanatik dengan ustadnya karena mengidolakan seperti ustadz ustadz yang mashur di youtube akhirnya ia tidak mau mencari hidayah bahkan mencukupkan diri dengannya bahkan fanatik buta maka orang yang seperti ini yang melakukan perbuatan jahiliyah fanatik kepada si fulan si fulan padahal kewajiban kita hanya fanatik kepada Allah dan Rasul-Nya.

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Artikel TERKAIT :
DAFTAR LENGKAP PEMBAHASAN – Al Ishbaah – Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN