Wahai para wanita… tahukah anda bahwa jika engkau sengaja menampakan aurotmu :
(1) Semakin banyak pandangan lelaki yang tergiur denganmu semakin bertumpuk pula dosa-dosamu
(2) Semakin sang lelaki menghayalkanmu… semakin berhasrat denganmu maka semakin bertumpuk pula dosa-dosamu
(3) Janganlah anda menyangka senyuman menggodamu yang kau tebarkan secara sembarangan tidak akan ada pertanggung jawabannya kelak..!!! Bisa jadi senyumanmu sekejap menjadi bahan lamunan seorang lelaki yang tidak halal bagimu selama berhari-hari… apalagi keelokan tubuhmu….
(4) Bayangkanlah… betapa bertumpuk dosa-dosa para artis dan penyanyi yang aurotnya diumbar di hadapan ribuan…bahkan jutaan para lelaki ??
(5) Jika anda menjaga kecantikanmu dan kemolekan tubuhmu hanya untuk suamimu… maka anda kelak akan semakin cantik dan semakin molek di surga Allah…
(6) Akan tetapi jika anda umbar kecantikanmu dan kemolekanmu maka ingatlah itu semua akan sirna dan akan lebur di dalam liang lahad menjadi santapan cacing dan ulat… dan di akhirat kelak… bisa jadi berubah menjadi bahan bakar neraka jahannam !!
Yang pinter menasehati buanyak….!!! Tapi yang mengamalkan nasehatnya sendiri ?
Sungguh banyak diantara kita yang “HOBY” menasehati di facebook, sungguh ini merupakan kebaikan… tapi janganlah lupa agar kita juga semangat untuk mengamalkan nasehat-nasehat kita sendiri.
Saat itulah, nasehat dan didikanmu kan berguna, begitu pula ucapanmu, akan menjadi panutan
Yaa Allah ampunilah kami yang sering menasehati akan tetapi lalai dari nasehatnya sendiri… tunjukanlah kami jalan yang lurus, tutuplah aib-aib kami di dunia, terlebih-lebih lagi di akhirat…
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
. KAIDAH SEBELUMNYA (KE-39) bisa di baca di SINI
=======
🌼 Kaidah yang ke 40 🌼
. ⚉ Alhussunnah meyakini bahwa mengatur manusia, maksudnya yaitu berhubungan dengan politik wajib sesuai dengan Alqur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam dan pemahaman Salafush Sholih.
. Maka mereka tidak pernah menghalalkan apa yang Allah haramkan dengan alasan memberikan kemudahan kepada manusia atau untuk menarik simpati mereka. Atau dalam rangka sampai pada kedudukan, sehingga mereka jatuh di hadapan syahwat dan tipuan-tipuan media (i’lan alqodir)
. Jadi ini keyakinan yang harus diyakini, bahwa masalah siyasah/politik, yang tentunya politik dalam Islam tujuannya adalah untuk mengatur manusia untuk lebih kemaslahatan yang besar dan menghindarkan dari mereka kemudhorotan. Itu semua harus sesuai dengan Alqur’an dan Hadits. Tidak boleh di sesuaikan dengan hawa nafsu manusia, harus sesuai dengan pemahaman para Salafush Sholih, tidak boleh di sesuaikan dengan pemahaman sendiri-sendiri.
. 👉🏼 Maka tidak boleh ada istilah namanya tujuan menghalalkan segala cara, akhirnya yang haram jadi halal dulu demi untuk mendapatkan kedudukan. Maka yang seperti ini jelas sama sekali bukan untuk menegakkan agama, justru hal seperti itu hanya merusak agama.
. Oleh karena itulah saudara-saudaraku sekalian, seperti di zaman sekarang, yang namanya politik penuh dengan kelicikan, saling menjatuhkan, sudah begitu banyak mereka yang masuk dalam dunia politik pasti tidak lepas dari kotoran-kotoran berupa menghalalkan apa yang Allah haramkan.
. Karena mereka harus mendapatkan suara, sementara untuk mendapatkan suara pasti mau tidak mau harus ikut-ikutan dulu dengan keinginan manusia, akhirnya mereka ikut-ikutan berbuat bid’ah, bahkan mereka sudah hilang wala’ dan baro’ lagi, demi untuk mendapatkan apa?… kedudukan Sehingga apa yang terjadi ?… yang terjadi hukum-hukum agama di injak-injak hanya untuk mendapatkan kedudukan…. Allahul musta’aan.
. 👉🏼 Maka kewajiban para Ulama hendaklah mereka tegak diatas Kitabullah dan Sunnah Rasulillah shallallahu ‘alayhi wasallam
. ⚉ para ulama hendaknya tidak mendatangi pintu-pintu penguasa ⚉ hendaknya para ulama menasehati mereka, aga mereka itu betul-betul bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka janganlah tentunya demi untuk mendapatkan kedudukan atau simpati manusia atau suara, akhirnya batasan-batasan agama sudah tidak diperhatikan lagi.
. Ibnul Qayyim rohimahullah berkata: “Orang yang mempunyai pengalaman terhadap apa yang Allah utus dengan Rasul-Nya, dan mempunyai pengetahuan tentang kehidupan para sahabat, ia akan melihat ternyata di zaman sekarang ini, orang yang dianggap agamis, justru orang-orang yang sebetulnya paling sedikit agamanya.”
. Maksudnya kata beliau, contohnya: ⚉ Ketika ia melihat keharaman-keharaman Allah …..dilanggar. ⚉ Batasan-batasan Allah ……di sia-siakan . ⚉ Agama-agama Allah ….di hina. ⚉ Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam ……dijauhi, Tapi ternyata hatinya dingin, lisannya diam bagaikan setan yang bisu, karena takut, karena khawatir kedudukannya jatuh, karena takut kehilangan pengikut dan yang lainnya, akhirnya diam seribu bahasa.
. Maka kata beliau (Ibnul Qayyim): 👉🏼 Maka kebaikan-kebaikan apa pada orang seperti ini dalam agama, kalau ternyata ketika ia melihat semua itu dia diam, dan dia tidak berusaha untuk memberikan nasehat, tidak berusaha sekuat tenaga untuk mengadakan islah perbaikan dan perubahan.
. Wallahu a’lam 🌴
.
. Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
. Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
. Silahkan bergabung di Telegram Channel :https://t.me/aqidah_dan_manhaj
🍀 Kaidah yang ke 15 🍀
. 👉🏼 Apabila bertemu dua mudhorot, maka diambil yang paling ringan mudhorotnya.
. ⚉ Dalam Al Quran, Allah menyebutkan kisah Khidir yang membolongi kapal kaum fuqoro, agar tidak diambil oleh raja yang jahat. Membolongi kapal adalah mudhorot, namun khidir lakukan agar terhindar dari mudhorot yang lebih besar.
. ⚉ Dalam hadits disebutkan bahwa ada orang badui masuk ke masjid dan kencing di dalam masjid. maka para shahabat mengingkarinya. Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam melarang para shahabat dan membiarkan arab badui itu kencing. Karena bila Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam membiarkan para shahabat mengingkarinya, tentu akan menimbulkan mudhorot yang lebih besar.
. 👉🏼 Bila bertemu mudhorot khusus dengan mudhorot umum, maka kita korbankan mudhorot khusus untuk menghindari mudhorot umum.
. ⚉ Seperti bila pedagang kaki lima mengganggu lalu lalang jalan, maka pemerintah boleh menertibkan pedagang kaki lima untuk menghindari mudhorot yang lebih umum.
. ⚉ Perselisihan yang timbul karena membantah pemikiran yang sesat, lebih ringan dari tersebarnya kesesatan.
. ⚉ Boleh melaporkan tindakan kriminal kepada yang berwajib, karena mudhorot kriminal tersebut lebih besar. dan sebagainya.
.
. Wallahu a’lam 🌴
. Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
. Dari kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى.
. Silahkan bergabung di Telegram Channel :https://t.me/kaidah_ushul_fiqih
. KAIDAHUSHUL FIQIH – Daftar Isi LENGKAP
“Wahai orang orang yang beriman jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Allah akan menolong kalian dan mengokohkan kaki kaki kalian (di atas agama-Nya).” (Muhammad: 7)
Membela agama Allah dengan cara terus bersabar dalam menuntut ilmu, mengamalkan dan menyebarkannya. Dan terus istiqomah di atas ketakwaan walaupun ujian terus mendera.
Dengan sabar dan taqwa semua makar orang orang yang bermakar menjadi sirna. Allah berfirman:
“Jika kamu tetap bersabar dan bertaqwa, nizcaya tidak akan membahayakan kalian makar mereka sedikitpun. Sesungguhnya Allah meliputi perbuatan mereka..” (Ali Imron: 120).
Jangan khawatir Allah tidak akan merealisasikan janji-Nya. Tapi khawatirlah keimanan kita menjadi lemah dan keyakinan kita kepada Allah terkikis oleh fitnah.
Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
Hadits di atas menunjukkan tentang keutamaan dua ayat terakhir surat Al-Baqarah.
Para ulama menyebutkan bahwa siapa yang membaca dua ayat terakhir surat Al-Baqarah, maka Allah akan memberikan kecukupan baginya untuk urusan dunia dan akhiratnya, juga ia akan dijauhkan dari kejelekan. Ada juga ulama yang mengatakan bahwa dengan membaca ayat tersebut imannya akan diperbaharui karena di dalam ayat tersebut ada sikap pasrah kepada Allah Ta’ala. Ada juga ulama yang mengatakan bahwa ayat tersebut bisa sebagai pengganti dari berbagai dzikir karena di dalamnya sudah terdapat do’a untuk meminta kebaikan dunia dan akhirat. (Lihat bahasan Prof. Dr. Musthafa Al-Bugha dalam Nuzhah Al-Muttaqin, hal. 400-401.)
Al-Qadhi ‘Iyadh menyatakan bahwa makna hadits bisa jadi dengan membaca dua ayat terakhir surat Al-Baqarah akan mencukupkan dari shalat malam. Atau orang yang membacanya dinilai menggantungkan hatinya pada Al-Qur’an. Atau bisa pula maknanya terlindungi dari gangguan setan dengan membaca ayat tersebut. Atau bisa jadi dengan membaca dua ayat tersebut akan mendapatkan pahala yang besar karena di dalamnya ada pelajaran tentang keimanan, kepasrahan diri, penghambaan pada Allah dan berisi pula do’a kebaikan dunia dan akhirat. (Ikmal Al-Mu’allim, 3: 176, dinukil dari Kunuz Riyadhis Sholihin, 13: 83).
Imam Nawawi sendiri menyatakan bahwa maksud dari memberi kecukupan padanya –menurut sebagian ulama- adalah ia sudah dicukupkan dari shalat malam. Maksudnya, itu sudah pengganti shalat malam. Ada juga ulama yang menyampaikan makna bahwa ia dijauhkan dari gangguan setan atau dijauhkan dari segala macam penyakit. Semua makna tersebut kata Imam Nawawi bisa memaknai maksud hadits. (Lihat Syarh Shahih Muslim, 6: 83-84.)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menjelaskan tentang keutamaan dua ayat tersebut ketika dibaca di malam hari, “Ketahuilah para ikhwan sekalian, kedua ayat ini jika dibaca di malam hari, maka akan diberi kecukupan. Yang dimaksud diberi kecukupan di sini adalah dijaga dan diperintahkan oleh Allah, juga diperhatikan dalam do’a karena dalam ayat tersebut terdapat doa untuk maslahat dunia dan akhirat.” (Ahkam Al-Qur’an Al-Karim, 2: 540-541).
Semoga bisa mengamalkan untuk membaca dua ayat terakhir Al-Baqarah ini mulai dari malam ini. Semoga kita meraih kebaikan dan keberkahan. Semoga Allah memberi taufik.
Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal MSc, حفظه الله تعالى.
👉🏼 Apabila bertemu dua mashlahat, didahulukan mashlahat yang lebih besar.
Mashlahat adalah kebaikan bagi manusia dalam agama, dunia dan akherat. Dalam memandang mashlahat, kita wajib berpegang kepada syariat. Bukan hawa nafsu dan syahwat.
Terkadang kita dihadapkan kepada dua mashlahat yang harus dipilih salah satunya. Maka kita dahulukan yang lebih besar mashlahatnya.
⚉ Apabila bertabrakan antara yang wajib dan sunnah, maka kita dahulukan yang wajib karena yang wajib lebih dicintai oleh Allah Ta’ala.
⚉ Apabila bertabrakan antara ibadah yang bersifat mutlak (tidak terikat) dengan ibadah muqoyyad (terikat), maka kita dahulukan ibadah muqoyyad. contohnya ketika membaca alquran terdengar adzan, maka kita dahulukan mendengar adzan.
⚉ Apabila bertabrakan antara fardlu ain dan fardlu kifayah, kita dahulukan fardlu ain.
⚉ Apabila bertabrakan antara dua amal, kita dahulukan yang manfaatnya menular. Seperti mendahulukan menuntut ilmu dari sholat tahajjud.
⚉ Apabila ayah dan ibu memanggil, maka kita dahulukan ibu karena lebih besar haknya. dan lain sebagainya.
.
. Wallahu a’lam 🌴
. Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
Dari kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى.
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
. KAIDAH SEBELUMNYA (KE-38) bisa di baca di SINI
=======
🌼 Kaidah yang ke 39 🌼
.
. ⚉ Pengaruh bid’ah itu akan tampak pada wajah mereka dan lisan mereka.
“Kalaulah Kami kehendaki, Kami akan perlihatkan kepada mereka kepadamu tentang mereka dan kamu akan mengenal mereka dengan tanda-tanda mereka. Dan kamu akan mengenal mereka dalam ucapan-ucapan mereka dan Allah mengetahui amalan kamu.“
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahullah: ”Orang yang jujur dan banyak berbuat kebaikan akan tampak di wajahnya cahaya kejujurannya. Demikian pula orang yang suka berdusta dan suka berbuat dosa semakin panjang umur seseorang akan sampai, semakin tampak bekas atau pengaruh tersebut”.
Terkadang ada anak kecil, waktu kecilnya itu wajahnya bagus, tapi karena dia banyak berbuat dosa setelah besarnya, terus menerus berbuat dosa, ternyata apa yang terjadi di akhir umurnya terlihat wajahnya buruk, akibat pengaruh daripada apa yang ada di batinnya.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhumaa yang berkata:
إن للحسنة ضياء في الوجه، ونورا في القلب، وسعة في الرزق، وقوة في البدن، ومحبة في قلوب الخلق، وإن للسيئة سوادا في الوجه، وظلمة في القبر والقلب، ووهنا في البدن، ونقصا في الرزق، وبغضة في قلوب الخلق).”
“Sesungguhnya perbuatan kebaikan itu menimbulkan cahaya di hati dan akan terlihat kegembiraan di wajah, kekuatan di badan, keluasan dalam rezeki, dan cinta di hati-hati makhluk. Dan sesungguhnya keburukan itu akan menimbulkan kegelapan di hati, hitam di wajah, lemah di badan dan di jadikan hati-hati makhluk benci kepadanya.”
Subhaanallah… hal seperti ini bisa kita saksikan juga, kalau kita perhatikan orang-orang yang banyak berbuat dosa, terlihat wajah mereka itu tidak enak kita pandang. Orang-orang yang hatinya juga keyakinannya jelek terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kata beliau ( Ibnu Taimiyyah lagi ): “Terkadang seseorang itu tidak sengaja berdusta akan tetapi ia punya keyakinan-keyakinan yang bathil, yang dusta terhadap Allah dan Rasul-Nya dan agama-Nya dan hak hamba-hamba-Nya yang sholeh, namun ia mempunyai kezuhudan dan kesungguhan dalam ibadah akan tetapi keyakinan yang dusta tersebut memberikan pengaruh dalam batinnya dan akan tampak pada wajahnya.”
Sehingga sebagian salaf berkata : “Kalaulah pelaku bid’ah itu, ahli bid’ah itu memakai minyak setiap hari, minyak rambut ataupun pemutih wajah, ataupun yang lainnya, maka sesungguhnya hitamnya kebid’ahan itu akan tampak pada wajah mereka.”
Dan itu pada hari kiamat akan tampak secara sempurna sebagaimana Allah berfirman [QS. Az-Zumar: 60]
“Pada hari kiamat nanti kamu akan melihat orang-orang yang berdusta atas nama Allah, wajah-wajah mereka itu hitam.”
👉🏼 Lihat.. Allah mengatakan bahwa orang-orang yang berdusta atas nama Allah, kelak pada hari kiamat wajahnya hitam. Berdusta atas nama Allah, maksudnya berbicara dalam agama dengan tanpa ilmu, tanpa hak dan dengan kebatilan.
Wallahu a’lam 🌴
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.