All posts by BBG Al Ilmu

MUTIARA SALAF : Obat Bagi Para Pecandu Musik

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

“Obat bagi orang yang semacam ini pada kondisi seperti ini (yakni pecandu musik), hendaknya ia berpindah sedikit demi sedikit kepada mendengar Alqur’an dengan suara merdu, disertai dengan memperhatikan dan memahami maknanya, mentadaburinya hingga hilang dari kalbunya cinta mendengar lirik lagu itu, dan berganti dengan cinta mendengar ayat..”

[ Madaarijus Salikin, 440 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

MUTIARA SALAF : Hukuman Yang Disegerakan Adalah Tanda Kebaikan

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

(( إذا أرادَ اللَّهُ بعبدِه الخيرَ عجَّلَ لَه العقوبةَ في الدُّنيا ، وإذَا أرادَ اللَّهُ بعبدِه الشَّرَّ أمسَك عنهُ بذنبِه حتَّى يوافيَ بِه يومَ القيامة ))

“Jika Allah menginginkan kebaikan pada seorang hamba, Dia akan menyegerakan hukuman untuknya di dunia..

Namun, jika Allah menginginkan kejelekan pada seorang hamba, Dia menangguhkan hukuman untuk dosanya, hingga dia datang dengan dosanya hari kiamat..”

[ HR. At Tirmidzi, dihasankan oleh Syaikh Al Albani]

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rohimahullah mengatakan,

“Apabila hukuman disegerakan, Allah menggugurkan dosa dari hamba tersebut. Dia pun datang kepada Allah tanpa membawa dosa. Musibah dan bencana telah membersihkannya.

Ini adalah nikmat. Karena, siksaan di dunia lebih ringan daripada siksa di akhirat..”

[ Syarh Riyadhus Sholihin 1 – 258 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

MUTIARA SALAF : Tanda Kebahagiaan Dan Tanda Kesengsaraan

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

فعلامة السعادة ان تكون حسنات العبد خلف ظهره وسيئاته نصب عينيه
وعلامة الشقاوة ان يجعل حسناته نصب عينيه وسيئاته خلف ظهره

“Tanda kebahagiaan adalah ketika kebaikan-kebaikan seseorang di belakang punggungnya (ia melupakan dan tidak menghitungnya) sedang kejelekan-kejelekannya di depan matanya (sehingga dia berusaha memperbaiki diri dan bertobat darinya)..

Tanda kesengsaraan adalah saat seseorang melihat kebaikan-kebaikannya di depan matanya (sehingga membuatnya ujub dan sombong), sedang kejelekan-kejelekannya di belakang punggungnya (sehingga meremehkannya dan tidak memperbaikinya)..”

[ Miftah Daris Sa’adah 2 – 843 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Bila Keluar Dari Masjid Hanya Sebentar, Apakah Mengulangi Sholat Tahiyatul Masjid..?

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rohimahullah pernah ditanya oleh seseorang :

هل يلزم تكرار تحية المسجد بتكرار الخروج من المسجد؟

Apakah harus mengulangi tahiyatul masjid jika berkali-kali keluar masjid..?

Syaikh Al ‘Utsaimin rohimahullah menjawab :

لا يلزم، إذا كان الإنسان من نيته أن يرجع عن قرب فلا يلزم كما لو خرج وتوضأ، أو خرج يكلم أحداً، فلا يلزم أن يكررها، أما لو خرج بنية عدم الرجوع، فهذا إذا رجع ولو بخطوة واحدة يصلي تحية المسجد،

Tidak mesti.

Apabila seseorang berniat sebentar lagi kembali, maka tidak mesti tahiyatul masjid. Misalnya, dia keluar berwudhu, atau keluar untuk berbincang dengan seseorang. Maka, tidak mesti untuk mengulangi tahiyatul masjid.

Adapun jika dia keluar dan berniat tidak kembali, maka jika dia kembali (meskipun hanya keluar satu langkah) dia sholat tahiyatul masjid.

فيفرق بين من رجع عن قرب وبين من خرج لا ليرجع عن قرب، فالأول لا يحتاج إلى صلاة تحية المسجد، والثاني: يصلي تحية المسجد ولو لم يخط إلا خطوة واحدة.

Bedakan antara :
● orang yang (berniat) hanya sebentar kemudian kembali, dan
● orang yang keluar tidak berniat kembali dalam waktu dekat.

Maka yang pertama tidak perlu lagi tahiyatul masjid, sedang yang kedua dia sholat tahiyatul masjid, meski hanya keluar satu langkah.

(Liqo Baabil Maftuh 224 – 32)

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Syarah Kitab Tauhid : 97 – 98 – 99

Simak penjelasan berikut oleh Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى

97.

98.

99.

.
ARTIKEL TERKAIT
Syarah Kitab Tauhid : 100 – 101 – 102
Syarah Kitab Tauhid : KUMPULAN ARTIKEL

MUTIARA SALAF : Tanda Orang Yang Faqih

Fudhail bin ‘Iyadh rohimahullah berkata,

إنما الفقيه الذي أنطقته الخشية وأسكتته الخشية، إن قال قال بالكتاب والسنة وإن سكت سكت بالكتاب والسنة، وإن اشتبه عليه شيء وقف عنده ورده إلى عالمه

“Sesungguhnya orang yang faqih adalah seseorang yang ketika dia berbicara maka didasari oleh rasa takut (kepada Allah), dan ketika diam pun juga dikarenakan rasa takutnya (kepada Allah)..

Ketika dia berbicara, maka dia berbicara di atas Alqur’an dan as-Sunnah, dan ketika dia diam, maka diamnya pun juga di atas Alqur’an dan as-Sunnah..

Dan jika ada perkara yang samar baginya, maka dia berhenti dan mengembalikannya kepada ulama..”

[ Thobaqoot Al-Hanaabilah II – 150 ]

* FAQIH : adalah pemahaman tentang Tauhid yang benar, serta hal-hal yang berkaitan dengan syari’at Allah secara umum, berlandaskan Alqur’an dan Hadits yang shohih sesuai dengan pemahaman salaafush sholih, bukan hawa nafsu semata.

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

MUTIARA SALAF : Pahala Sholat Anda

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah mengatakan,

وَالْعَبْدُ وَإِنْ أَقَامَ صُورَةَ الصَّلَاةِ الظَّاهِرَةَ فَلَا ثَوَابَ إلَّا عَلَى قَدْرِ مَا حَضَرَ قَلْبُهُ فِيهِ مِنْهَا، كَمَا جَاءَ فِي السُّنَنِ لِأَبِي دَاوُد، وَغَيْرِهِ: عَنْ {النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: إنَّ الْعَبْدَ لَيَنْصَرِفُ مِنْ صَلَاتِهِ وَلَمْ يُكْتَبْ لَهُ مِنْهَا إلَّا نِصْفُهَا، إلَّا ثُلُثُهَا، إلَّا رُبْعُهَا، إلَّا خُمُسُهَا، إلَّا سُدُسُهَا، إلَّا سُبُعُهَا، إلَّا ثُمُنُهَا، إلَّا تُسْعُهَا، إلَّا عُشْرُهَا}. وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا لَيْسَ لَك مِنْ صَلَاتِك إلَّا مَا عَقَلْتَ مِنْهَا

“Seorang hamba, meskipun dia telah melakukan bentuk sholat secara lahiriah, namun dia tidak mendapatkan pahala kecuali sesuai kadar kehadiran kalbunya saat sholat..

Sebagaimana diriwayatkan dalam Sunan Abi Dawud dan selainnya, dari Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Seorang hamba, dia selesai dari sholatnya, padahal tidak dituliskan pahala baginya kecuali :
– setengahnya,
– sepertiganya,
– seperempatnya,
– seperlimanya,
– seperenamnya,
– sepertujuhnya,
– seperdelapannya,
– sepersembilannya, atau
– sepersepuluhnya..”

Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhumaa juga mengatakan, “Engkau tidak mendapatkan pahala dari sholatmu kecuali apa yang engkau pahami..”

[ Majmu’ Fatawa Syaikhil Islam 32 – 217 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

MUTIARA SALAF : Zaman Tidak Akan Tetap Di Atas Satu Keadaan

Ibnul Jauzi rohimahullah berkata,

اعلم أن الزمان لا يثبت على حال،كما قال الله عز وجل: ﴿وتلك الأيام نداولها بين الناس﴾
‏فتارة فقر،
‏وتارة غنى،
‏وتارة عز،
‏وتارة ذل،
‏وتارة يفرح الموالي،
‏وتارة يشمت الأعادي،
‏فالسعيد من لازم أصلًا واحدًا على كل حال وهو تقوى الله عز وجل”

“Ketahuilah bahwa zaman itu tidak akan tetap di atas satu keadaan.. Sebagaimana firman Allah, ‘Itulah hari-hari Kami silih bergantikan kepada manusia..’

terkadang fakir..
terkadang kaya..
terkadang mulia..
terkadang terhina..
terkadang gembira..
terkadang ditertawakan musuh..

Orang yang bahagia itu (adalah) orang yang selalu memegang satu keadaan..
Yaitu takwa kepada Allah ‘Azza wajalla..”

(Shoidul Khothir hal 137)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Biasakanlah Berterima Kasih Kepada Saudara Sesama Muslim Yang Telah Berbuat Baik Kepada Kita

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

“Tidak dikatakan bersyukur pada Allah bagi siapa yang tidak tahu berterima kasih pada manusia..”

[ HR. Abu Daud no. 4811 ]
Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih

Beberapa faedah dari hadits di atas:

1. Siapa yang biasa tidak tahu terima kasih pada manusia yang telah berbuat baik padanya, maka ia juga amat sulit bersyukur pada Allah.

2. Allah tidaklah menerima syukur hamba sampai ia berbuat ihsan (baik) dengan berterima kasih pada orang yang telah berbuat baik padanya.

3. Perintah untuk pandai bersyukur.

4. Pemberi nikmat hakiki adalah Allah dan manusia yang berbuat baik adalah sebagai perantara dalam sampainya kebaikan.

Maka, jadilah manusia yang pandai berterima kasih, lebih-lebih kepada orang tua, guru dan setiap yang telah memberikan berbagai kebaikan pada kita.

ref : https://rumaysho.com/3406-tidak-tahu-berterima-kasih.html

● Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam juga bersabda,

“Barangsiapa diberi suatu kebaikan, lalu ia mengucapkan kepada orang yang memberi kebaikan tersebut, ‘jazaakallahu khoyron (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), maka sesungguhnya hal itu sudah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya..”

[ HR. at-Tirmidzi ]
Shohiih at-Targhib wat-Tarhib 969

● ‘Umar bin Al Khoththob rodhiyallahu ‘anhu mengatakan,

“Seandainya salah seorang dari kalian mengetahui apa yang dia dapatkan ketika mengucapkan kepada saudaranya ‘jazaakallahu khoyron’ (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan),
niscaya sebagian kalian akan banyak mengucapkannya kepada yang lain..”

[ Mushonnaf Ibni Abi Syaibah no 27050 ]

Kalimat terima kasih serta do’anya dalam syari’at itu berbeda tergantung gender dan jumlah, sbb :

jazaakallahu khoyron – kepada satu pria

jazaakillahu khoyron – kepada satu wanita

jazaakumallahu khoyron – kepada 2 laki atau 2 wanita

jazaakumullohu khoyron – kepada lebih dari 2 pria

jazaakunnallahu khoyron – kepada lebih dari 2 wanita

contoh:
– saat ayah/suami memberikan nasehat/uang belanja, atau saat anak laki mengerjakan perintah kita, maka ucapkanlah ‘jazaakallahu khoyron..’

– saat ibu/istri/anak perempuan kita menyiapkan sarapan, membersihkan rumah dll, maka ucapkanlah ‘jazaakillahu khoyron..’

namun janganlah dipotong jadi “jazaakallahu” saja karena:

1. kalimat tsb belum lengkap dan belum sesuai yang diajarkan oleh Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam, sebagaimana yang terdapat dalam hadits yaitu mengucapkan “jazaakallahu khoyron” yang artinya “semoga Allah membalasmu dengan kebaikan/khoyron”

2. kalimat “jazaakallah” saja itu artinya “semoga Allah membalasmu..” tapi membalasmu itu dengan apa..? keburukan atau kebaikan.. tentunya kita ingin mendo’akan kebaikan, maka ucapkanlah sesuai yang diajarkan oleh Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam, yaitu “jazaakallahu khoyron..”

Lalu bagaimana kalimatnya bila orang yang berbuat baik sama kita TIDAK berada dihadapan kiita..? kita ucapkan (do’akan) sbb:

jazaahullahu khoyron – kepada satu pria

jazaahallahu khoyron – kepada satu wanita

jazaahumallahu khoyron – kepada 2 laki atau 2 wanita

jazaahumullohu khoyron – kepada lebih dari 2 pria

jazaahunnallahu khoyron – kepada lebih dari 2 wanita

Wallaahu ta’ala a’lam

Syarah Kitab Tauhid : 94 – 95 – 96

Simak penjelasan berikut oleh Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى

94.

95.

96.

.
ARTIKEL TERKAIT
Syarah Kitab Tauhid : 97 – 98 – 99
Syarah Kitab Tauhid : KUMPULAN ARTIKEL