Category Archives: Abu Yahya Badrusalam

Indahnya Taghoful

TAGHOFUL artinya : melupakan kesalahan saudara kita dan tidak mengingat ingatnya.

Ia adalah akhlak yang mulia..

Al Hasan Al Bashri rohimahullah berkata, “Taghoful adalah akhlak orang-orang yang mulia..”

Ibnul Jauzi rohimahullah berkata:

ﻣﺎ ﻳﺰﺍﻝ ﺍﻟﺘﻐﺎﻓﻞ ﻋﻦ ﺍﻟﺰﻻﺕ ﻣﻦ ﺃﺭﻗﻰ ﺷﻴﻢ ﺍﻟﻜﺮﺍﻡ
ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﺠﺒﻠﻮﻥ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺰﻻﻥ ﻭﺍﻷﺧﻄﺎﺀ ﻓﺈﻥ ﺍﻫﺘﻢ ﺍﻟﻤﺮﺀ ﺑﻜﻞ ﺯﻟﺔ ﻭﺧﻄﻴﺌﺔ ﺗﻌﺐ ﻭﺃﺗﻌﺐ ﻏﻴﺮﻩ ﻭﺍﻟﻌﺎﻗﻞ ﺍﻟﺬﻛﻲ ﻣﻦ ﻻ ﻳﺪﻗﻖ ﻓﻲ ﻛﻞ ﺻﻐﻴﺮﺓ ﻭﻛﺒﻴﺮﺓ ﻣﻊ ﺃﻫﻠﻪ
ﻭﺃﺣﺒﺎﺑﻪ ﻭﺃﺻﺤﺎﺑﻪ ﻭﺟﺮﺍﻧﻪ ﻭﻟﻬﺬﺍ ﻗﺎﻝ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺣﻨﺒﻞ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ : ﺗﺴﻌﺔ
ﺃﻋﺸﺎﺭ ﺣﺴﻦ ﺍﻟﺨﻠﻖ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﻐﺎﻓﻞ.

“Melupakan kesalahan orang lain adalah sifat orang-orang mulia. Karena manusia tak ada yang lepas dari kesalahan dan dosa.

Apabila seseorang selalu memperhatikan tiap kesalahan orang lain, ia akan lelah dan membuat orang lain lelah.

Orang yang berakal dan cerdas adalah orang yang tidak menghitung-hitung kesalahan saudaranya, tetangganya, temannya dan keluarganya.

Oleh karena itu Imam Ahmad berkata, “Sembilan per-sepuluh akhlak yang baik ada pada taghoful..”

(Tahdzibul Kamal 19/230).

Bila kita cinta mungkin amat mudah kita melupakan kesalahannya..

Tetapi ketika kita benci..
Kesalahan kecil padanya tampak jelas di mata kita..

Allahul Musta’an..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Hakikat Kasih Sayang

Dari Anas rodhiyallahu ‘anhu, Rosulullah Shollallaahu ‘alaihi Wasallam bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَا يَضَعُ اللَّهُ رَحْمَتَهُ إِلَّا عَلَى رَحِيمٍ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، كُلُّنَا يَرْحَمُ، قَالَ: لَيْسَ بِرَحْمَةِ أَحَدِكُمْ صَاحِبَهُ، يُرْحَمُ النَّاسَ كَافَّةً

“Demi Dzat yang diriku berada di tangan-Nya, Allah tidak akan meletakkan kasih sayang-Nya kecuali kepada orang yang berjiwa penyayang..”

Mereka berkata, “Semua kita ada sifat kasih sayang..”

Beliau bersabda, “Bukan menyayangi temannya saja, akan tetapi menyayangi seluruh manusia..”

(HR Abu Ya’la dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam silsilah shohihah no 167)

Sayang itu hakikatnya adalah usaha untuk memberi manfaat dan menolak mudhorot kepada yang disayangi..

Sayang itu hendaknya dengan ilmu bukan dengan semata perasaan..

Allah sayang kepada hamba-Nya terkadang dengan cara menyusahkannya..
Agar ia terhindar dari berbagai macam fitnah dunia..

Kita sayang kepada anak bukan dengan cara memanjakannya..
Namun mendidiknya agar ia disiplin dan bersungguh sungguh..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc حفظه الله تعالى

Mukmin Yang Paling Utama

Syaikh Muhammad Nashirudin al-Albani rohimahullah berkata,

الحق ثقيل.. فلا تثقلوه أكثر بسوء أخلاقكم، كنت أعتقد أن المشكلة في الأمة مشكلة عقيدة وتبين لي أنها عقيدة وأخلاق.

“Kebenaran itu berat.. maka jangan kamu lebih beratkan lagi dengan akhlak yang buruk.. Tadinya aku meyakini bahwa problematika ummat ini hanya pada akidahnya saja. Tapi ternyata problematika akidah dan akhlak..”

(Silsilah Huda wan Nuur no 900)

Mudah mencibir dan membully..
Berkomentar dengan kata-kata yang pedas dan tak baik..
Senang berdebat dan menertawakan lawan..
Dan akhlak buruk lainnya..

Padahal..
Akhlak menunjukkan kadar keimanan seseorang..
Karena mukmin yang paling utama adalah yang paling baik akhlaknya..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Menutupi Aib Seorang Muslim

Di akherat..
Ada orang orang yang dibuka aibnya di hadapan seluruh manusia..
Ia dipermalukan oleh Allah akibat perbuatannya..

Maka jika kita ingin aib kita ditutupi oleh Allah di dunia dan di akherat..
Maka tutupilah aib saudaramu..

ومن ستر مسلما ستره الله في الدنيا والاخرة

“Siapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akherat..” (HR Muslim)

Saat kita berteman..
Pastilah suatu saat kita akan melihat aib dan kekurangannya..
Sebaik-baik teman adalah yang menutupi aib temannya..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Tanda Kebeningan Iman

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: جَاءَ نَاسٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَسَأَلُوهُ: إِنَّا نَجِدُ فِي أَنْفُسِنَا مَا يَتَعَاظَمُ أَحَدُنَا أَنْ يَتَكَلَّمَ بِهِ. قَالَ: “وَقَدْ وَجَدْتُمُوهُ؟” قَالُوا: نَعَمْ. قَالَ: “ذَاكَ صَرِيحُ الإِيمَانِ

Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu berkata,

“Ada beberapa orang datang kepada Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam dan bertanya: “Kami mendapati pada diri kami sesuatu yang terasa besar (berat) untuk diucapkan (berupa keburukan)..”

Beliau bersabda, “Kalian merasakan itu..?”

“Iya..” jawab mereka.

Beliau bersabda, “itu (tanda) kebeningan iman..”

(HR. Muslim)

Imam Nawawi rohimahullah menjelaskan:

“Maksudnya : perasaan kalian yang membesarkan dan menganggap berat untuk mengucapkan (pikiran yang buruk itu) adalah kebeningan iman..

Karena menganggapnya besar dan merasa takut dari mengucapkannya apalagi meyakininya adalah hanya terjadi pada orang yang telah sempurna keimanannya dan hilang keraguan dari hatinya..”

(Syarah Shohih Muslim)

Setan selalu membisikan pikiran buruk di hati insan..
Agar ia ragu kepada Allah, kepada al qur’an, rosul-Nya dan sebagainya..

Namun ketika hati menolaknya dan menganggapnya besar..
Itu adalah tanda kebeningan iman..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Membiasakan Kebaikan

Imam Ahmad rohimahullah meriwayatkan dalam musnadnya, dari Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu, Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لا عليكم ألا تعجبوا بأحد حتى تنظروا بما يختم له، فإن العامل يعمل زمانًا من عمره أو برهة من دهره بعمل صالح لو مات عليه دخل الجنة، ثم يتحول، وإن العبد ليعمل البرهة من دهره بعمل سيء لو مات عليه دخل النار، ثم يتحول، فيعمل عملاً صالحًا، وإذا أراد الله بعبد خيرًا استعمله قبل موته قالوا: يا رسول الله وكيف يستعمله؟ قال: يوفقه لعمل صالح ثم يقبضه عليه

“Janganlah kamu kagum dengan (amal) seseorang sampai kamu lihat di atas apa ia meninggal. Karena seseorang ada yang beramal sholeh di sebagian umurnya, jika ia meninggal di atasnya tentu ia masuk surga. Namun ia berubah..

Dan ada juga hamba yang berbuat keburukan pada sebagian umurnya jika ia wafat di atasnya tentu ia masuk neraka. Namun ia berubah dan beramal sholeh..

Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada seorang hamba, dijadikannya beramal sebelum wafatnya..”

Para sahabat bertanya, “Bagaimana (seorang hamba) dijadikan beramal..?”

Beliau shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah memberikan taufik kepadanya untuk beramal sholeh lalu di wafatkan di atasnya..”

(Al hadits)

Kewajiban kita terus berusaha membiasakan kebaikan..
Dan menjauhi semua perkara yang menyebabkan kita tidak istiqomah..

Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-hamba-Nya yang berusaha dengan sungguh sungguh..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Tak Sesuai Harapan

Saat kenyataan tak sesuai harapan, hati sering mengeluh..

Namun saat kita yakin bahwa Kasih sayang Allah tak selamanya berupa kesenangan, tapi terkadang dengan ujian dan cobaan.. saat itulah hati terhibur dan ridho dengan ketentuan-Nya.

Karena Allah lebih sayang kepada hamba-Nya dari kasih sayang ibu kepada anaknya.

Dari Umar bin Al Khattab rodhiallahu ‘anhu , beliau menuturkan

ﻗﺪﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺳﺒﻲ، ﻓﺈﺫﺍ ﺍﻣﺮﺃﺓ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﺒﻲ ﻗﺪ ﺗﺤﻠﺐ ﺛﺪﻳﻬﺎ ﺗﺴﻘﻲ، ﺇﺫﺍ ﻭﺟﺪﺕ ﺻﺒﻴﺎً ﻓﻲ

ﺍﻟﺴﺒﻲ ﺃﺧﺬﺗﻪ، ﻓﺄﻟﺼﻘﺘﻪ ﺑﺒﻄﻨﻬﺎ ﻭﺃﺭﺿﻌﺘﻪ، ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻨﺎ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : (ﺃﺗﺮﻭﻥ ﻫﺬﻩ ﻃﺎﺭﺣﺔ ﻭﻟﺪﻫﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺎﺭ ). ﻗﻠﻨﺎ: ﻻ، ﻭﻫﻲ ﺗﻘﺪﺭ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﻻ ﺗﻄﺮﺣﻪ، ﻓﻘﺎﻝ: (ﻟﻠﻪ ﺃﺭﺣﻢ ﺑﻌﺒﺎﺩﻩ ﻣﻦ ﻫﺬﻩ ﺑﻮﻟﺪﻫﺎ

“Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam kedatangan rombongan tawanan perang. Di tengah-tengah rombongan itu ada seorang ibu
yang sedang mencari-cari bayinya.

Tatkala dia berhasil menemukan bayinya di antara tawanan itu, maka dia pun memeluknya erat-erat ke tubuhnya dan menyusuinya.

Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada kami, “Apakah menurut kalian ibu ini akan tega melemparkan anaknya ke dalam kobaran api..?”

Kami menjawab, “Tidak mungkin, demi Allah, sementara dia sanggup untuk mencegah bayinya terlempar ke dalamnya..”

Maka Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada ibu ini kepada anaknya..” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka seindah indah harapan adalah keridhoan hati untuk menerima kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan dengan penuh keikhlasan dan kesabaran.

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Seburuk-Buruk Teman

Yahya bin Mu’adz rohimahullah berkata,

بئس الصديق تحتاج أن يقول له : اذكرنى في دعائك، وأن تعيش معه بالمــداراة ، أو تحتاج أن تعتذر إليه

Seburuk-buruk teman adalah yang :
– engkau butuh berkata kepadanya, “ingat aku dalam do’amu ya..”
– engkau harus berusaha agar dia tidak marah, atau
– engkau harus selalu minta maaf padanya.

(Mukhatshor Minhajil Qoshidin)

Temanmu..
Adalah yang mau berjalan bersama menuju jannah-Nya..
Yang tidak melalaikanmu dari mengingat-Nya..
Dan mengingatkanmu tentang tujuan hidup di dunia..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Getirnya Ujian Sebelum Datangnya Kenikmatan

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

“Diantara ihsan Allah yang sempurna kepada hamba-hambaNya adalah memberikan getirnya ujian sebelum diberi kenikmatan..

Ketika Allah hendak menyempurnakan kenikmatan surga kepada Adam, Allah berikan kepadanya pedihnya dikeluarkan dari surga dan merasakan derita kehidupan dunia yang kesenangannya diwarnai oleh kepayahan..

Tidaklah Allah menguji hamba-Nya kecuali karena Dia ingin memberinya kenikmatan..

Tidaklah Allah menimpakan bala kepadanya kecuali karena Dia ingin memberinya keselamatan…

Tidaklah Allah mematikannya kecuali karena Dia ingin menghidupkannya kembali..

Tidaklah Dia menjadikan dunia penuh kepayahan kecuali agar si hamba berharap kehidupan akherat..

Dan tidaklah Allah mengujinya dengan sikap manusia yang tidak baik kepadanya, kecuali karena agar si hamba kembali kepada-Nya..”

(Mukhtashor Showa’iq Mursalah hal. 844)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Nasehat Menghadapi Fitnah Zaman Ini

Nasehat Syaikh ‘Abdurozzaq bin ‘Abdil Muhsin Al Badr حفظه الله تعالى menghadapi fitnah zaman ini :

1. Berdo’a
2. Mentadabburi Alqur’an
3. Menuntut ilmu
4. Mujahadah
5. Panutan Yang Benar, Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam
6. Mengingat hari akhirat
7. Berteman dengan Teman-teman yang sholeh

1. BERDO’A

Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kita do’a agar kita tetap istiqomah di jalannya dan mengikuti manhaj yang mulia ini. Do’a ini sangat penting untuk kita amalkan dan selalu berharap Allah ‘azza wajalla wafatkan kita didalam Iman dan Islam sesuai manhaj yang haq ini. Berikut do’anya:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“YAA MUQOLLIBAL QULUUB TSABBIT QOLBII ‘ALAA DIINIK

“Wahai Robb yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu..” [HR.Tirmidzi 3522, Ahmad 4/302, al-Hakim 1/525, Lihat Shohih Sunan Tirmidzi III no.2792]

2. MENTADABBURI ALQUR’AN

Tugas kita sebagai seorang muslim bukan hanya membaca Al Qur’an atau menghafalkannya. Walaupun itu memang sebuah perkara yang luar biasa dan merupakan sebuah amalan yang akan menjadi penerang hati kita. Juga mentadabburinya adalah hal yang penting lainnya.

Ini sabda Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam

“خيركم من تعلم القرآن وعلمه” رواه البخاري(1).

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya..” (HR. al-Bukhari)

Dengan belajar Al Qur’an, insyaa Allah kita memiliki pondasi keimanan yang kokoh dalam menghadapi godaan di dunia ini.. aamiin ya Robbal ‘aalamiin

3. MENUNTUT ILMU AGAMA

Menuntut ilmu agama sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam adalah salah satu benteng menghadapi fitnah zaman ini. Sekali lagi tentunya sesuai dengan tuntunan yang diajarkan oleh Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam.

Mengapa ini menjadi begitu penting..?

Sebab ilmu merupakan dasar kita berkata dan beramal sehingga kita dapat beribadah sesuai dengan sunnah Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam.

Dengan ilmu segala sesuatu diukur, diketahui halal dan haram, dipahami hukum-hukum syariat, dan dibedakan kebenaran dan kebatilan, serta jalan petunjuk dan kesesatan. Oleh karena itu Nabi shollallahu ‘alaihi wasalllam senantiasa berdo’a di pagi hari setelah shubuh :

«اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا صَالِحًا»

“Ya Allah, Aku memohon kepadamu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal shalih yang diterima..” (HR Ahmad)

Do’a ini dimulai dengan meminta ilmu yang bermanfaat. Karena dengannya seorang hamba bisa membedakan antara rezeki yang baik dan buruk, dan antara amal sholeh dan amal kejelekan.

Adapun jika seorang hamba tidak memilik ilmu yang bermanfaat, bagaimana dia bisa membedakan halal dan haram, perkara baik dan buruk, serta amalan kebaikan dan kejelekan.

4. MUJAHADAH (bersungguh-sungguh)

Bersungguh-sungguh dalam melakukan segala sesuatu, terutama beribadah kepada Allah ‘azza wajalla. Kesungguhan inilah yang akan menjadi bekal kita dalam terus berusaha beribadah kepada Allah ‘azza wajalla. Tetap istiqomah hingga kematian nanti menjemput kita. Dengan bersungguh-sungguh insyaa Allah kita akan selalu berupaya memperbaiki diri.

Mujahadah tidaklah cukup sekali atau dua kali, namun ia harus dilakukan sepanjang hayat hingga ajal menjelang. Allah tabaroka wa ta’ala berfirman (yang artinya):

“Sembahlah Robbmu hingga datang kematian kepadamu..” (QS. Al Hijr: 99).

5. PANUTAN – TAULADAN YANG BENAR

Kepada siapa lagi kita meneladani hidup ini kalau tidak kepada Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam. Dengan mengikuti jejak Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam dan meneladani perilakunya lah insyaa Allah kita akan mendapatkan keuntungan di akhirat dan dunia ini. Dan meneladani Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam berarti kita mengambilnya melalui jalur yang benar, yaitu melalui para salafush sholih, sahabat, tabi’in dan tabiut tabi’in. Inilah salah satu bekal kita.

“Dan orang-orang yang terdahulu – yang mula-mula (berhijrah dan memberi bantuan) dari orang-orang “Muhajirin” dan “Anshor”, dan orang-orang yang menurut (jejak langkah) mereka dengan kebaikan (iman dan taat), Allah ridho akan mereka dan mereka pula ridho akan Dia, serta Ia menyediakan untuk mereka Syurga-syurga yang mengalir di bawahnya beberapa sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, itulah kemenangan yang besar..” (Qs 9:100)

6. MENGINGAT HARI AKHIRAT

Mengingat hari akhirat akan selalu membuat kita waspada. Kembali ingat bahwa dunia sementara dan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan akhirat. Dengan mengingat akhirat yang menjadi tujuan kita, insyaa Allah hati dan fikiran menjadi kembali fokus untuk mempersiapkan diri kita menghadapi hari akhirat dengan beramal sholeh sesuai ajaran Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam.

7. BERTEMAN DENGAN TEMAN-TEMAN YANG SHOLEH

Teman yang sholeh akan selalu mengingatkan kita jika kita lalai. Dengan berteman dengan teman-teman yang sholeh, insyaa Allah kita tidak tergelincir pada jurang maksiat. Karena teman-teman yang sholeh ini akan selalu mengingatkan kita untuk tetap istiqomah berada pada jalur yang benar.

Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian..” (HR. Abu Daud no. 4833, Tirmidzi no. 2378, Ahmad 2/344, dari Abu Hurairah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shohihul Jaami’ 3545).

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى