Category Archives: Abu Yahya Badrusalam

Tuduhlah Hatimu

Amal sholeh di bulan ramadhan adalah inti keindahan ramadhan. Manisnya amal sholeh di bulan yang mulia ini berasal dari manisnya iman..

Namun, ketika hati tidak merasakan kenikmatan saat beramal sholeh, pasti ada sesuatu padanya.

Syaikhul islam ibnu Taimiyah rohimahullah berkata:

إِذَا لَمْ تَجِدْ لِلْعَمَلِ حَلَاوَةً فِي قَلْبِكَ وَانْشِرَاحًا، فَاتَّهِمهُ؛ فَإِنَّ الرَّبَّ تَعَالَى شَكُورٌ، يَعْنِي أَنَّهُ لَا بُدَّ أَنْ يُثِيبَ الْعَامِلَ عَلَى عَمَلِهِ فِي الدُّنْيَا، مِنْ حَلَاوَةٍ يَجِدُهَا فِي قَلْبِهِ، وَقُوَّةِ انْشِرَاحٍ ، وَقُرَّةِ عَيْنٍ، فَحَيْثُ لَمْ يَجِدْ ذَلِكَ ، فَعَمَلُهُ مَدْخُولٌ

“Apabila kamu tidak mendapatkan manisnya amal sholeh di hatimu dan kelapangan dada, maka tuduhlah amalmu.. karena Robb kita maha berterima kasih (asy Syakur), artinya bahwa Allah pasti memberikan balasan amal sholeh di dunia berupa rasa manis yang ia rasakan di hatinya, kelapangan dada, dan kesejukan hati..

Ketika ia tidak merasakan itu berarti amalnya dimasuki oleh sesuatu (yang merusaknya)..”

(Madarijussalikin 3/67-68)

Mungkin dimasuki oleh ketidak ikhlasan, atau berharap kesenangan dunia dari amalnya, atau terkena ujub dan kesombongan, atau akibat dosa dan lain sebagainya sehingga ia tidak merasakan kelezatan amal..

Bagi orang yang beriman, ini adalah perkara yang membuatnya sedih. Maka ia segera beristighfar dan memohon ampun kepada Allah ‘Azza wajalla, dan berusaha memperbaiki amalnya dengan penuh kesungguhan.

Siapa yang bersungguh-sungguh maka pasti Allah berikan kepadanya manisnya iman dan amal sholeh, karena Dia maha berterima kasih kepada hamba hamba-Nya.. padahal Dia tidak membutuhkan amalnya..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Bulan Alqur’an

Ramadhan adalah bulan tilawah dan tadabbur al qur’an.

Membaca dan mentadabburi al qur’an amat bermanfaat bagi siapapun.

Diantara manfaatnya yang paling agung adalah mengokohkan keimanan.

Allah Ta’ala berfirman:

وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنتُمْ تُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ آيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ ۗ وَمَن يَعْتَصِم بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“Bagaimana kalian akan kafir sementara ayat-ayat Allah selalu dibacakan kepadamu dan pada kalian ada rosul-Nya. Dan barang siapa yang berpegang kepada (agama) Allah maka sesungguhnya ia telah diberi hidayah kepada jalan yang lurus..” (Aali Imron: 101).

Ibnu Katsir rohimahullah berkata dalam tafsirnya:

“(Artinya) kekafiran jauh dari kalian karena ayat-ayat Allah senantiasa turun di waktu siang dan malam kepada rosul-Nya dan ia membacakan dan menyampaikannya kepada kalian..”

Ini menunjukkan bahwa orang yang senantiasa mempelajari alqur’an dan hadits tentunya sesuai dengan pemahaman para shahabat dan para ulama setelahnya maka ia akan jauh dari kekafiran.

Maka kewajiban kita untuk senantiasa mempelajari ilmu Allah dengan duduk di majelis-majelis ilmu dan berusaha berpegang teguh kepada agama-Nya agar hidayah Allah senantiasa menyapa kita.

Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata,

“Kebanyakan orang yang murtad itu adalah orang yang memiliki al quran tapi tidak berilmu dan beriman. Atau memiliki iman tapi tanpa ilmu dan al qur’an. Adapun yang diberikan alquran dan iman lalu berilmu maka iman itu kokoh di dadanya..”

(Majmu Fatawa 18/305)

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Dua Kegembiraan

Semua manusia menginginkan kegembiraan dan kebahagiaan..

Kegembiraan yang hakiki adalah gembira dengan ketaatan kepada Allah, dan gembira dengan pahala besar saat bertemu dengan Allah ‘Azza wajalla..

Adapun gembira dengan dunia bukanlah gembira yang terpuji, karena dunia hakekatnya adalah ujian yang akan dimintai pertanggung jawabannya..

Orang yang berpuasa diberikan dua kegembiraan yang hakiki.
Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

للصائم فرحتانِ يفرحهما: إذا أفطر
فرِح، وإذا لقي ربه فرح بصومه

“Orang berpuasa memiliki dua kegembiraan: apabila berbuka ia bergembira, dan apabila bertemu dengan Robbnya ia bergembira dengan pahala puasanya..” (HR. Muslim)

Gembira saat berbuka bukan sebatas gembira karena dapat makan dan minum, namun gembira karena dapat melaksanakan ketaatan.

Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَن سرَّتهُ حسنتُهُ وساءتْهُ سَيِّئتُهُ فذلِكم المؤمنُ

“Siapa yang bergembira dengan hasanahnya dan merasa susah dengan dosanya maka itulah mukmin..” (HR At Tirmidzi)

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Tergantung Yang Ada Di Hati

Memperbanyak amal di bulan Ramadhan adalah perkara yang dianjurkan..

Namun besarnya pahala bukan dilihat dari banyaknya, tapi dipengaruhi oleh keadaan hati..

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata:

تفاضل الأعمال عند الله تعالى بتفاضل ما فى القلوب من الإيمان والإخلاص والمحبة وتوابعها

“Perbedaan tingkat amal di sisi Allah Ta’ala ditentukan oleh perbedaan tingkat apa yang ada di hati berupa keimanan, keikhlasan, cinta dan hal-hal yang mengikutinya..” (Shohih Al Wabil Ash Shoyyib hal. 22)

Oleh karena itu ibadah yang paling utama adalah ibadah yang benar-benar memperbaiki hati.. karena tujuan ibadah adalah untuk menimbulkan ketaqwaan di hati..

Allah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ (٢١)

“Wahai manusia ! Beribadahlah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa..”
(Q.S. Al-Baqarah ayat 21)

Ya… agar kamu bertakwa.
Maka ibadah yang tidak menimbulkan takwa di hati adalah ibadah yang tak bernilai di sisi Allah Ta’ala..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Kok Berat..?

Bulan ramadhan adalah bulan yang dilipat-gandakan amal..

Namun sebagian orang merasa berat untuk melaksanakan amal sholeh berupa puasa, sholat taraweh, membaca al qur’an dan lainnya..

Lalu apa penyebabnya..?

Allah Ta’ala berfirman:

۞ وَلَوْ اَرَادُوا الْخُرُوْجَ لَاَعَدُّوْا لَهٗ عُدَّةً وَّلٰكِنْ كَرِهَ اللّٰهُ انْۢبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيْلَ اقْعُدُوْا مَعَ الْقٰعِدِيْنَ (٤٦)

“Dan jika mereka mau berangkat, niscaya mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Dia melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan (kepada mereka), “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu..”

(Q.S. At-Taubah ayat 46)

Allah lemahkan keinginan mereka untuk keluar di jalan Allah akibat penyakit kemunafikan yang ada di hati mereka..

Demikianlah.. ketika hati diberatkan dengan dosa, maka ia akan berjalan tertatih-tatih menuju Allah.. bahkan terhenti akibat beratnya dosa yang ia tanggung..

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata :

وإذا ثقل الظهر بالأوزار منع القلب من السير إلى الله، والجوارح من النهوض في طاعته، وكيف يقطع مسافة السفر مثقلٌ بالحمل على ظهره؟
وكيف ينهض إلى الله قلب قد ثقلته الأوزار؟

“Apabila punggung diberatkan oleh dosa, akan mencegah hati untuk berjalan menuju Allah, dan mencegah badan untuk melakukan ketaatan..

Mungkinkah orang membawa beban yang amat berat dapat menyelesaikan perjalanannya..? Bagaimana akan kuat berjalan kepada Allah hati yang diberatkan oleh dosa-dosa..?”

(Bada’i Tafsir 3/223)

Maka apabila kita merasakan berat untuk melaksanakan ketaatan hendaklah memperbanyak taubat dan istighfar.. Agar hati kembali bersih dan ringan dalam perjalanannya menuju Allah..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Menelan Ludah Saat Puasa

Syaikh Khalid Al Musyaiqih hafizhohullah berkata:

“Menelan ludah ada TIGA KEADAAN :

PERTAMA : Menelan ludah tanpa mengumpulkannya. Ini tidak makruh dengan kesepakatan imam madzhab yang empat.

KEDUA : Ludah berkumpul dimulut tanpa disengaja kemudian menelannya. Maka ini pun tidak makruh.

KETIGA : Sengaja mengumpulkan ludah di mulutnya lalu menelannya. Maka ini diperselisihkan ulama menjadi dua pendapat:

Pertama: Madzhab Malikiyah dan Syafi’iyah: Tidak makruh. Karena ia sampai ke perut kepada tempat aslinya sehingga serupa dengan keadaan saat tidak mengumpulkannya.

Kedua: Madzhab Hanafiyah dan Hanabilah: Makruh

Beliau berkata: Yang rojih wallahu a’lam adalah tidak makruh. Karena ludah adalah sesuatu yang dimaafkan, dan juga pada asalnya puasanya sah dan tidak batal.

(Al Jami’ Li Ahkam As Shiyam 2/169-171)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Orang Yang Paling Besar Pahala Puasanya

Imam Ahmad meriwayatkan dari Mu’adz bin Anas

(( أَنَّ رَجُلًا سَأَلَهُ فَقَالَ أَيُّ الْمُجَاهِدِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا يَا رَسُولُ اللَّه ؟ قَالَ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ تَعَالَى ذِكْرًا ، قَالَ فَأَيُّ الصَّائِمِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا ؟ قَالَ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا ، ثُمَّ ذَكَرَ لَهُ الصَّلَاةَ وَالزَّكَاةَ وَالْحَجَّ وَالصَّدَقَةَ كُلُّ ذَلِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا ، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لِعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : ذَهَبَ الذَّاكِرُونَ بِكُلِّ خَيْرٍ !! ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَجَلْ )) .

Ada seseorang bertanya, “Siapakah mujahid yang paling besar pahalanya wahai Rosulullah..?” Beliau bersabda, “Yang paling banyak mengingat Allah padanya..”

Ia berkata, “Siapakah orang berpuasa yang paling besar pahalanya..?” Beliau bersabda, “Yaitu yang paling banyak mengingat Allah padanya..”

Lalu ia menyebut sholat, zakat, hajji dan sedekah. Semua itu dijawab oleh Rosulullah Shollallaahu ‘alaihi Wasallam, “Yang paling banyak mengingat Allah padanya..”

Abu Bakar berkata kepada ‘Umar, “Orang yang banyak berdzikir telah pergi membawa segala kebaikan..” Maka Rosulullah Shollallaahu ‘alaihi Wasallam bersabda, “Benar..”

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata :

(( أن أفضل أهل كلِّ عملٍ أكثرهم فيه ذكراً لله عز وجل ؛ فأفضلُ الصوَّام أكثرهم ذكراً لله عز وجل في صومهم ، وأفضل المتصدقين أكثرهم ذكراً لله عز وجل ، وأفضل الحجاج أكثرهم ذكراً لله عز وجل، وهكذا سائر الأعمال))

“Sesungguhnya :
● orang yang paling utama dari orang yang beramal adalah yang paling banyak mengingat Allah ‘Azza wajalla padanya..
● orang yang berpuasa yang paling utama adalah yang paling banyak mengingat Allah ‘Azza wajalla saat puasanya..
● orang yang bersedekah yang paling utama adalah yang paling banyak mengingat Allah ‘Azza wajalla..
● demikian pula orang yang berhajji dan semua amal sholeh..”

(Al Wabil Ash Shoyyib)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Kumpulan HADITS

Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

HADITS : Mengucapkan Tahniah Datangnya Ramadhan

Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu berkata,

“Ketika telah datang bulan Ramadhan, Rosulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda memberikan kabar gembira kepada para shahabatnya,

أَتَاكُمْ رَمَضَانُ ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ ، فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ ، وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ ، لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

“Telah datang Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu langit dibuka dan pintu-pintu Jahanam ditutup. Dan setan-setan yang jahat dibelenggu. Padanya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa yang terhalang dari kebaikannya maka sungguh ia telah terhalang..”

(HR An Nasai dan dihasankan oleh Al Albani)

Sebagian ulama berkata,

“Hadits ini adalah dalil (disyariatkan) manusia mengucapkan tahniah (selamat) satu sama lainnya dengan kedatangan bulan Ramadhan..”

(Lathoiful Ma’arif hal. 127)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Kumpulan HADITS

Hindari Balas Dendam

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata,

ما انتقم أحد قطُّ لنفسه إلا أورثَه ذلك ذُلاً يجده في نفسه، فإذا عفا أعزّه الله، وهذا مما أخبر به الصادق المصدوق حيث يقول “ما زاد الله عبداً بِعفوٍ إلا عزًّا”، فالعزّ الحاصل له بالعفو أحبّ إليه وأنفع له من العز الحاصل له بالانتقام).

جامع المسائل ١٧٠/١

“Tidak ada seorangpun yang balas dendam untuk dirinya kecuali akan menimbulkan kehinaan pada dirinya. Bila ia memaafkan maka Allah memuliakannya, dan ini yang dikabarkan oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam: “Tidaklah Allah menambahkan untuk hambanya yang memaafkan kecuali kemuliaan..”

Kemuliaan yang dihasilkan dari memaafkan lebih dicintai oleh Allah dan lebih bermanfaat dari kemuliaan yang dihasilkan dari membalas dendam..”

(Jami’ Masaail 1/170)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc,  حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Seorang Mukmin Diberkahi Di Mana Saja Ia Berada

Ibnul Qoyyim rohimahullah ketika berbicara tentang ayat :

‏{ وجعلني مباركًا أين ما كنتُ } مريم : ٣١

“Dan Dia menjadikanku diberkahi di mana saja aku berada..”

Beliau berkata:

‏فهكذا المؤمن مباركٌ أينما حلَّ ،
‏والفاجر مشؤومٌ أينما حلَّ ..

“Demikian pula mukmin, ia diberkahi di mana saja ia berada. Sedangkan orang fajir (buruk) membawa kesialan di mana saja ia berada..” (Al Wabil Ash Shoyyib hal. 177)

Sebagian ulama menafsir bahwa yang dimaksud diberkahi adalah memberi manfaat kepada manusia..

Pendapat lain mengatakan maksudnya adalah suka menyuruh kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran..

Sebagian lagi mengatakan maksudnya adalah mengajarkan kebaikan..

(Tafsir Ath Thobari)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى