Category Archives: Muhammad Wasitho

10 Kiat Sukses Dalam Menuntut Ilmu Syar’i…

Ustadz Muhammad Wasitho, MA, حفظه الله تعالى

Bismillah. Wash-sholatu wassalamu ‘ala rosulillah, amma ba’du:

» Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata:
“Ilmu itu memiliki 6 (enam) tingkatan, yaitu:

1. Bertanya (tentang ilmu) dengan cara yang baik.
2. Diam dan Mendengarkan ilmu dengan baik.
3. Memahami ilmu dengan baik dan benar.
4. Menghafal ilmu.
5. Mengajarkan Ilmu.
6. Mengamalkan ilmu.

Dan sebagian ulama sunnah lain menambahkan kiat dan sebab lain agar seorang muslim dan muslimah sukses dalam menuntut ilmu syar’I, diantaranya:

7. Menimba ilmu agama dari ahlinya (Ulama Robbani).

8. Mendahulukan yang paling pokok dan wajib dalam menuntut ilmu.

9. Mempelajari ilmu secara bertahap dan kontinu.

10. Tertib dan Disiplin dalam menuntut ilmu.

Demikian faedah ilmiyah yang dapat kami sampaikan pada hari ini. Semoga Allah ta’ala senantiasa memberikan taufiq dan kemudahan kepada kita dalam menuntut ilmu agama-Nya dan mengamalkannya serta mengajarkannya dengan ikhlas hingga akhir hayat. Amiin.

Hukum Dan Hakekat Mencintai RASULULLAH Shallallahu ‘Alaihi Wassalam MELEBIHI Ortu, Anak, Istri, Harta, Dan Segalanya…

Ustadz Muhammad Wasitho, MA, حفظه الله تعالى

Bismillah. Mencintai Nabi shallallahu alaihi wassalam dengan kecintaan yang benar-benar melekat di hati yang mengalahkan kecintaan kita terhadap apapun dan siapapun di dunia ini adalah hukumnya WAJIB (Fardhu ‘Ain) atas setiap individu muslim dan muslimah. Bahkan meskipun terhadap orang-orang yang paling dekat dengan kita, seperti anak-anak dan orang tua dan harta benda kita. Bahkan mencintai Rasulullah itu harus pula mengalahkan kecintaan kita terhadap diri kita sendiri.

» Di dalam Shohih Al-Bukhari diriwayatkan, bahwa Umar bin Khathab radhiyallahu anhu pernah berkata kepada Nabi shallallahu alaihi wassalam:

لأَنْتَ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِلاَّ مِنْ نَفْسِيْ . فَقَالَ : لاَ وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ . فَقَالَ : لَهُ عُمَرُ : فَإِنَّكَ اْلآنَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِيْ . فَقَالَ : اْلآنَ يَا عُمَرُ

“Sesungguhnya engkau wahai Rasulullah, adalah orang yang paling aku cintai daripada segala sesuatu selain diriku sendiri.” Nabi shallallahu alaihi wasalam bersabda, ‘Tidak, demi Dzat yang jiwaku ada di Tangan-Nya, sehingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri’. Maka Umar berkata kepada beliau, ‘Sekarang ini engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.’ Maka Nabi shallallahu alaihi wasalam bersabda, ‘Sekarang (telah sempurna kecintaanmu (imanmu) padaku, wahai Umar.” (HR. Al-Bukhari VI/2445 no.6257).

» Dan diriwayatkan dari Anas radhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wassalam bersabda:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Tidaklah (sempurna) iman salah seorang di antara kalian sehingga aku lebih dicintainya daripada orangtuanya, anaknya dan segenap umat manusia.” (HR. Al-Bukhari I/14 no.15, dan Muslim I/167 no.70, An-Nasai VIII/114 no.5013, Ibnu Majah I/26 no.67, dan Ahmad III/177 no.12837).

» Diriwayatkan pula dari Anas radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wassalam bersabda:

لاَ يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Tidaklah (sempurna) iman seorang hamba sehingga aku lebih dicintainya daripada keluarganya, hartanya dan segenap umat manusia.” (HR. Muslim I/67 no.69, An-Nasai VIII/115 no.5014).

(*) MAKNA mencintai Rasulullah shallallahu alaihi wassalam melebihi segalanya ialah: Lebih mendahulukan dan mengutamakan cinta kita kepada beliau dari pada cinta kepada ortu, istri/suami, anak, guru, kerabat, harta, jabatan, pekerjaan, dan segalanya.

# Sebagai contoh apabila bertentangan dalam suatu keadaan antara perintah Rasulullah shallallahu alaihi wassalam dengan perintah ortu, ustadz/kiyai:

» Nabi shallallahu alaihi wassalam memerintahkan kita agar senantiasa mentauhidkan Allah dalam beribadah kepada-Nya, namun di sisi lain ortu atau guru/ustadz/kiyai kita menyuruh kita agar melakukan kemusyrikan kepada Allah, seperti ngalap berkah di kuburan wali atau orang sholeh, berdoa dan minta kesembuhan atau rezeki yang lapang kepada mereka, mempercayai perdukunan, dan selainnya.

» Rasulullah shallallahu alaihi wassalam memerintahkan kita agar beribadah kpd Allah sesuai dgn petunjuk dan tuntunan beliau di dlm Al-Quran dan As-Sunnah, serta meninggalkan segala macam amalan yg baru dan diada-adakan dlm agama Islam. Sementara di sisi lain guru ngaji atau ustadz atau kiyai kita menyuruh kita agar mengamalkan ritual atau amalan tertentu yg tidak ada syari’atnya di dlm Al-Quran dan As-Sunnah, seperti peringatan Maulid Nabi, isro mi’roj, berkumpul di rumah mayit untuk membaca Al-Quran dan dzikir, dan selainnya.

» Rasulullah shallallahu alaihi wassalam memerintahkan kita agar meninggalkan perbuatan dosa dan maksiat, seperti berinteraksi dengan riba dlm hutang piutang dan jual beli, membuka dan memamerkan aurat kpd orang lain yg tidak halal baginya, berdusta, mengurangi takaran n timbangan, iri dengki, sombong, dan selainnya. Sementara di sisi lain ortu atau suami atau atasan kita menyuruh kita agar melakukan perkara-perkara terlarang tersebut di atas.

» Maka, sikap yang WAJIB dan benar pada saat itu ialah kita melakukan dan mendahulukan perintah Rasulullah shallallahu alaihi wassalam daripada perintah ortu, suami, ustadz/ kiyai kita. Hal ini sebagai tanda dan bukti akan kesempurnaan iman dan cinta kepada Rasulullah shallallahu alaihi wassalam.

Demikian pelajaran ilmiyah yang dapat kami sampaikan pada pagi hari ini. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat. Dan Semoga Allah memberikan taufik dan pertolongan kepada kita semua agar dapat mencintai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melebihi segalanya. Amiin. (Klaten, 16 Januari 2015).

 

Tiga Pertanyaan Bagi ‘Pecandu’ Peringatan Maulid Nabi…

Ustadz Muhammad Wasitho, MA, حفظه الله تعالى

Bismillah. Berikut ini adalah tiga pertanyaan yang kami tujukan kepada saudara-saudara seislam yang masih hobi dan kecanduan melakukan peringatan Maulid Nabi. Mudah-mudahan dengan membaca dan merenungkan tiga pertanyaan ini, mereka mendapat taufiq dan hidayah dari Allah untuk segera bertaubat dari kekeliruannya dalam mencintai dan mengagungkan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wassalam, dan mereka segera kembali ke jalan yang lurus dan benar sebagaimana yang telah ditempuh oleh Nabi shallallahu alaihi wassalam beserta para istri dan sahabat beliau -radhiyallahu anhum-, dan juga para ulama Islam terdahulu yang sholih –rahimahumullah-.

» 1.  PERTANYAAN PERTAMA:
Apakah peringatan Maulid Nabi itu termasuk amalan ketaatan ataukah kemaksiatan?

Sudah pasti mereka akan menjawab, ‘Peringatan Maulid Nabi adalah termasuk amalan ketaatan.’ Sebab jika jawaban mereka adalah ‘Peringatan Maulid Nabi termasuk perbuatan maksiat’, maka berakhirlah perselisihan pendapat diantara kita (Ahlus Sunnah) dengan mereka.

» 2.  PERTANYAAN KEDUA:
Baiklah kalau memang begitu. Kalian katakan bahwa peringatan Maulid Nabi adalah amalan ketaatan yang berpahala. Maka, apakah Nabi shallallahu alaihi wassalam dan para sahabat beliau telah mengetahui amalan ketaatan itu, ataukah mereka tidak mengetahuinya?

Jika kalian katakan bahwa Nabi shallallahu alaihi wassalam dan para sahabat radhiyallahu anhum tidak mengetahui bahwa peringatan Maulid Nabi adalah amalan ketaatan yang berpahala, maka betapa celakanya kalian, karena telah menuduh Nabi shallallahu alaihi wassalam yang merupakan guru besar yang paling agung dalam perkara agama dengan kebodohan. Dan tuduhan ini merupakan bentuk kemunafikan yang nyata dan murni.

Namun, jika kalian katakan bahwa Nabi shallallahu alaihi wassalam telah mengetahuinya, maka sudah saatnya kita berlanjut dengan pertanyaan berikutnya.

» 3. PERTANYAAN KETIGA:
Kalian katakan bahwa peringatan Maulid Nabi adalah amalan ketaatan yang berpahala, dan hal itu telah diketahui oleh Nabi shallallahu alaihi wassalam dan para sahabat radhiyallahu anhum. Maka pertanyaan kami, apakah Nabi shallallahu alaihi wassalam telah menyampaikan kepada umat Islam tentang pensyari’atan Maulid Nabi ataukah belum menyampaikannya?

Jika kalian katakan, bahwa Nabi shallallahu alaihi wassalam belum menyampaikannya kepada umat, maka jawaban ini merupakan keburukan dan kejahatan yang paling besar, karena ini adalah tuduhan kepada Nabi shallallahu alaihi wassalam bahwa beliau menyembunyikan sebagian risalah Allah. Sementara di dalam Al-Quran Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ ۖ وَإِن لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ

“Hai Rasul, sampaikanlah apa-apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Jika kamu tidak kerjakan apa yang diperintahkan itu, berarti kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.” (QS. Al-Maaidah: 67).

Namun, jika kalian katakan, ‘Bahwa Nabi shallallahu alaihi wassalam telah menyampaikan tentang syari’at peringatan Maulid Nabi,’ maka kami tanyakan lagi kepada kalian, ‘manakah dalil yang menunjukkan akan benarnya perkataan kalian itu? Dan manakah riwayat yang menerangkan adanya sebagian ulama generasi as-salaf ash-sholih yang melakukan peringatan Maulid Nabi? Dan apakah dalil-dalil yang mensyari’atkan Maulid Nabi tersebut tidak diketahui oleh seorang pun dari generasi sahabat, tabi’in, dan pengikut tabi’in sepanjang 3 generasi emas yang mulia? Dan tidakkah ada yang mengetahuinya kecuali hanya orang-orang najis dari Dinasti Fathimiyyah?’.

Apabila fakta sejarah dan asal muasal peringatan Maulid Nabi demikian, maka kami (Ahlus Sunnah) bisa memastikan dan menegaskan bahwa peringatan MAULID NABI itu termasuk perkara BID’AH yang diada-adakan dalam agama Islam, disamping di dalamnya terdapat berbagai kemungkaran. Dan semua bid’ah dan kemungkaran itu semata-mata dilakukan dengan maksud memperingati hari kelahiran Nabi shallallahu alaihi wassalam.

Demikian 3 pertanyaan seputar peringatan Maulid Nabi. Semoga menjadi bahan renungan dan bermanfaat bagi kita semua. Dan kita memohon kepada Allah pertolongan dan perlindungan dari segala penyimpangan dan keburukan di dunia dan akhirat.

Dan semoga Allah senantiasa memberikan taufiq, pertolongan dan rahmat-Nya kepada siapa saja yang membela sunnah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, menerangkan ilmu syar’i dan memperingatkan umat dari bahaya bid’ah dan ahli bid’ah yang sesat lagi binasa. Amiin. (Klaten, 13 Januari 2015).

Keutamaan Shodaqoh Pada Hari Jum’at…

Ustadz Muhammad Wasitho, MA, حفظه الله تعالى

Bismillah. Bershodaqoh kapan pun itu baik, berpahala, dan mendatangkan keberkahan pada rezeki, umur dan keluarga bagi pelakunya jika niatnya ikhlas karena Allah semata dan berasal dari harta dan profesi yang halal, serta disalurkan untuk kepentingan Islam dan muslimin, dan untuk mendukung kegiatan dan program yang dibenarkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Akan tetapi, bershodaqoh pada hari Jumat atau malam Jumat pahala dan keutamaannya lebih utama dan agung dibanding hari-hari selainnya. Hal ini dikarenakan keagungan hari Jumat itu sendiri dibanding hari2 dalam sepekan.

» Imam Ibnu Qoyyim rahimahullah ketika menjelaskan beberapa keistimewaan hari Jumat, ia berkata:

الخامسة والعشرون: أن للصدقة فيه مزية عليها في سائر الأيام، والصدقة فيه بالنسبة إلى سائر أيام الأسبوع ، كالصدقة في شهر رمضان بالنسبة إلى سائر الشهور. وشاهدت شيخ الإسلام ابن تيمية قدس الله روحه، إذا خرج إلى الجمعة يأخذ ما وجد في البيت من خبز أو غيره، فيتصدق به في طريقه سرا،

(Keistimewaan Hari Jumat Yang Kedua Puluh Lima):

“Sesungguhnya shodaqoh pada hari Jum’at itu memiliki kelebihan dibandingkan dengan hari-hari lainnya. Shodaqoh pada hari itu dibandingkan dengan hari-hari lainnya dalam sepekan seperti shodaqoh pada bulan Romadhon jika dibandingkan dengan seluruh bulan lainnya. Dan aku pernah menyaksikan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, semoga Allah menyucikan ruhnya, jika berangkat menunaikan sholat Jum’at, beliau membawa apa saja yang ada di dalam rumahnya, baik itu roti atau yang lainnya untuk dia shodaqohkan selama dalam perjalanannya itu secara sembunyi-sembunyi.” (Lihat Zaadul Ma’aad I/407).

Demikian Faedah Ilmiyah yg dapat kami sampaikan pd pagi hari ini. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat. Amiin.

Aku Bahagia Dan Bangga Menjadi Ahlus Sunnah…

Ustadz Muhammad Wasitho, MA, حفظه الله تعالى

Bismillah.

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah berkata:

» “Jika engkau berbicara tentang Aqidah Tauhid, niscaya Ahli Syirik akan meninggalkanmu.

» Jika engkau berbicara tentang Sunnah (Tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam), niscaya Ahli Bid’ah akan meninggalkanmu.

» Jika engkau berbicara tentang (kewajiban) taat kepada pemerintah (muslim) dalam hal yang ma’ruf, mendo’akan dan menasehati (kebaikan) untuk mereka, serta tentang Aqidah Ahlus Sunnah, niscaya orang-orang (yang berpemahaman) Khowarij dan yang fanatik terhadap aliran dan kelompok (sesat) akan meninggalkanmu.

» Ini adalah keterasingan yang luar biasa bagi Ahlus Sunnah.

» Mereka semua memerangi kita (Ahlus Sunnah) dengan berbagai media.

» Mereka memerangi kita melalui media massa cetak (buku, majalah, koran) maupun elektronik (televisi, radio, internet, dsb), sehingga keluarga dan sahabat-sahabat pun (ikut) memerangi “orang asing” ini yang senantiasa berpegang teguh dengan Al-Kitab & As-Sunnah.

» Namun meskipun demikian, kami (Ahlus Sunnah) merasa bahagia dan bangga dengan keterasingan ini. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya Islam pertama kali datang dalam keadaan terasing, dan akan kembali dalam keadaan terasing pula sebagaimana keadaan awalnya. Maka, kebahagiaan diperuntukkan bagi orang-orang yang terasing. Maka ada seseorang yang bertanya, ‘Siapakah mereka yang terasing itu, wahai Rasulullah?’ Beliau mjawab: “Mereka adalah orang-orang yang senantiasa sholih (baik aqidah, manhaj dan ibadahnya, pent) ketika manusia telah rusak.” (Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah nomor.1273)

Semoga Allah memberikan taufiq dan pertolongan kepada kita semua untuk senantiasa istiqomah, sabar dan tegar dalam mempelajari dan mengamalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta mendakwahkan keduanya hingga akhir hayat. Amiin.

(Madinah Nabawiyyah, 1 Januari 2015)

» Selengkapnya, KLIK:
https://abufawaz.wordpress.com/2015/01/02/aku-bahagia-dan-bangga-menjadi-ahlus-sunnah

Cintailah Ahlus-Sunnah Dan Berlemah Lembutlah Kepada Mereka…

Ustadz Muhammad Wasitho, MA, حفظه الله تعالى

Bismillah. Ahlus-Sunnah Wal Jama’ah ialah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, para sahabat radhiyallahu ‘anhum, dan setiap muslim yang mengikuti jejak mereka dengan baik dan benar dalam memahami dan mengamalkan Al-Qur’an & As-Sunnah serta mendakwahkan keduanya.

Berikut ini adalah riwayat-riwayat yang shohih dari para ulama as-salafus sholih yang menerangkan tentang kewajiban bersikap lemah lembut dan mencintai sesama Ahlus-Sunnah Wal Jama’ah.
 
1. Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: “Wahai Ahlus Sunnah, bersikap lemah lembutlah diantara kalian -semoga Allah merahmati kalian-, karena sesungguhnya kalian adalah manusia yang paling sedikit (jumlahnya).” (Lihat Syarhu Ushuli I’tiqodi Ahlis Sunnati Wal Jama’ah, karya Al-Lalaka’i I/57 no.19).

2. Beliau juga berkata: “Ketahuilah, semoga Allah merahmati kalian, sesungguhnya Ahlus Sunnah adalah manusia yang paling sedikit di masa lalu, sekarang dan di masa yang akan datang. Mereka adalah orang-orang yang tidak pergi dan berjalan bersama orang-orang yang hidup mewah yang mengakibatkan tenggelam dalam kemewahan mereka. Dan mereka juga tidak pergi dan berduduk-duduk bersama Ahli Bid’ah yang mengakibatkan terjerumus dalam kebid’ahan mereka. Mereka senantiasa bersabar dalam mengikuti As-Sunnah sampai berjumpa dengan Robb mereka. Maka begitu juga dengan kalian. Jadilah seperti mereka.” (Ta’zhim Qodri Ash-Sholat II/678)

3. Imam Ahmad rahimahullah berkata di akhir surat yang dikirimnya kepada Musaddad bin Musarhad: “Cintailah Ahlus Sunnah dengan apapun yang ada mereka. Semoga Allah mewafatkan kita semua di atas As-Sunnah & Al-Jama’ah. Dan semoga Allah menganugerahkan kepada kita sikap ittiba’ (mengikuti) kepada ilmu (syar’i), dan memberikan taufiq kepada kita untuk senantiasa melaksanakan apa-apa yang dicintai n diridhoi-Nya.” (Thobaqot Al-Hanabilah I/345)

Semoga Allah menganugerahkan kepada kita Husnul Khotimah. Amiin. (Klaten, 29 Desember 2014)

Inilah Orang Cerdas Yang Sebenarnya

Ustadz Muhammad Wasitho, MA, حفظه الله تعالى

1. Bismillah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَفْضَلُ المُؤْمِنِينَ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَ أَكْيَسُهُمْ أَكْثَرُهُم لِلمَوتِ ذِكْرًا وَ أَحْسَنُهُم لَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ

“Orang mukmin yang paling utama adalah orang yang paling baik akhlaknya. Orang mukmin yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling bagus persiapannya untuk menghadapi kematian. Mereka semua adalah orang-orang cerdas (yang sesungguhnya, pent).” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan dinyatakan SHOHIH oleh syaikh Al-Albani rahimahullah di dalam Irwa’ul Gholiil no.682. Sedangkan di dalam Silsilatu Al-Ahaadiits Ash-Shohihah no.1384 beliau menilai hadits ini derajatnya HASAN dengan semua jalan periwayatannya).

2. Di dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الكيس من دان نفسه وعمل لما بعد الموت

“Orang yang cerdas ialah siapa saja yang dapat menundukkan jiwanya (agar selalu taat kepada Allah, pent) dan ia senantiasa beramal untuk hari (akhirat) sesudah kematiannya.” (Hadits ini sanadnya dinyatakan DHO’IF oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqolani dan syaikh Al-Albani rahimahumallah).

3. Oleh karenanya, beliau memerintahkan para sahabat dan umat Islam agar senantiasa mengingat kematian, sebagaimana sabda beliau:

أَكْثِرُوا مِنْ ذِكْرِ هَادِمِ اللَّذَاتِ

“Perbanyaklah mengingat penghancur segala kelezatan (dunia). Yakni kematian.” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan An-Nasa’i. Dan dinyatakan SHOHIH oleh Ibnu Hibban).

Demikian Faedah Ilmiyah dan Mau’izhoh Hasanah yang dapat kami sampaikan pada pagi hari ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

Rasa Takut Terhadap Penyakit ‘Ujub (Merasa Bangga Diri)

Ustadz Muhammad Wasitho, MA, حفظه الله تعالى

Bismillah. Diantara penyakit hati yang sangat berbahaya dan membinasakan serta sering menjangkiti hati seorang muslim dan muslimah adalah sikap ‘Ujub. Yaitu seseorang merasa terpukau dan bangga terhadap dirinya sendiri. Apakah ia merasa bangga diri dengan ilmunya, amal ibadahnya, popularitasnya, harta bendanya, jabatan, title dan kedudukannya, banyaknya majlis ta’lim yang diselenggarakannya dan jama’ah yang hadir di dlmnya, ketampanan atau kecantikannya, atau dengan hal-hal selainnya dari urusan agama maupun dunia.

Di dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

ثلاث مهلكات : شح مطاع ، و هوى متبع ، و إعجاب المرء بنفسه

Artinya: “Ada tiga perkara yang akan membinasakan pelakunya, (yaitu):
1. Kekikiran yang sangat yang selalu ditaati,
2. Hawa nafsu yang selalu diikuti,
3. Dan seseorang merasa bangga dengan dirinya sendiri.”

(Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi, dan dinyatakan Hasan oleh syaikh Al-Albani rahimahullah).

Berikut ini kami akan sebutkan beberapa perkataan ulama sunnah dari generasi as-salafus sholih tentang rasa takut mereka thdp penyakit ‘ujub.

»1. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu berkata: “Kebinasaan itu ada pada 2 perkara, yaitu: merasa putus asa dari rahmat Allah, dan merasa bangga diri terhadap diri sendiri.”

»2. Diriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Abdullah bin Umar bin Khoththob radhiyallahu anhuma: “Wahai orang terbaik, atau anak dari orang terbaik.” Maka Abdullah bin Umar menjawab: “Aku bukanlah orang terbaik, juga bukan anak dari orang terbaik. Tapi aku hanyalah salah seorang hamba Allah yang selalu berharap dan merasa takut kepada-Nya. Demi Allah, kalo kalian senantiasa bersikap seperti itu (yaitu memuji secara berlebihan) terhadap seseorang, justru kalian akan membuatnya celaka/binasa.” (Lihat Siyaru A’laami An-Nubala’ karya imam Adz-Dzahabi III/236).

»3. Al-Mutharrif bin Abdulllah rahimahullah berkata: “Tidur terlelap
(semalam suntuk, pent) untuk kemudian bangun dengan penyesalan (karena tidak melakukan qiyamul lail/tahajjud) lebih aku sukai daripada melakukan sholat tahajjud (qiyamul lail) semalam penuh dan bangun pagi dengan perasaan ‘ujub (bangga diri).” (Lihat Hilyatul Auliya’ karya Abu Nu’aim Al-Ashbahani II/200).

»4. Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata: “Demi Allah, Allah tidak
akan memberikan kemenangan kepada orang yang menganggap suci dirinya sendiri atau bersikap ‘ujub.” (Lihat Siyaru A’laami An-Nubala’ karya imam Adz-Dzahabi IV/190).

»5. Wahb bin Munabbih rahimahullah berkata: “Camkanlah tiga perkara yang akan aku sampaikan ini, (yaitu): Waspadalah terhadap hawa nafsu yang dipertuhankan, teman yang jahat/buruk, dan merasa ‘ujub (bangga diri).”
(Lihat Siyaru A’laami An-Nubala’ karya imam Adz-Dzahabi IV/549).

»6. Abu Wahb bin Al-Marwazi rahimahullah berkata: “Aku pernah bertanya kepada Abdullah bin Al-Mubarok rahimahullah; “Apa yang dimaksud dengan Al-Kibr (kesombongan)?” Beliau jawab: “Melecehkan orang lain.” Lalu aku
bertanya lagi tentang apa itu ‘Ujub. Beliau jawab: “‘Ujub ialah perasaan
bahwa kita memiliki sesuatu (kelebihan) yang dimiliki orang lain. Aku tidak mengetahui sesuatu yang lebih berbahaya daripada sikap ‘ujub bagi orang-orang yang sholat.” (Lihat Siyaru A’laami An-Nubala’ karya imam
Adz-Dzahabi IV/407).

»7. Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Kalau kamu merasa khawatir terhadap sikap ‘ujub atas amal perbuatanmu, maka ingatlah keridhoan siapakah yang (sedang kau cari dan) menjadi tujuan dari amalanmu? Di alam kenikmatan siapakah engkau hendak berlabuh? Dan dari siksa yang manakah engkau berupaya menghindarkan dirimu (darinya)?.” (Lihat Siyaru A’laami An-Nubala’ karya imam Adz-Dzahabi X/42).

Demikian perkataan para ulama sunnah dari generasi as-salafus sholih tentang perasaan takut mereka terhadap bahaya ‘ujub (bangga diri) atas amal-amal ibadah mereka. Semoga Allah ta’ala melindungi kita semua dari bahaya ‘ujub, riya’ dan penyakit2 hati lainnya seperti sombong, iri dengki, riya’, dsb.
آمِيْنَ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Syi’ah Rofidhoh Adalah Manusia Paling Pendusta Di Muka Bumi

Ustadz Muhammad Wasitho, MA حفظه الله تعالى

Bismillah. Berdusta adalah termasuk dosa besar yang membinasakan dan menjerumuskan pelakunya ke dalam neraka, karena ia merupakan salah satu ciri dan sifat orang munafik.

Sebesar-besar kedustaan adalah berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.

Golongan orang munafik yang paling berani berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya adalah orang-orang yang menganut agama Syi’ah Rofidhoh, La’natullahi ‘Alaihim. Oleh karenanya, mereka lebih berani untuk berdusta kepada manusia terlebih khusus kepada Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

» Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Para ulama Islam telah sepakat, berdasarkan nukilan, riwayat, dan sanad, bahwa Rofidhoh (Syi’ah) adalah kelompok paling pendusta. Dan kedustaan pada mereka sudah ada sejak masa silam. Karena itu, para ulama Islam mengenal ciri khas mereka dengan banyaknya berdusta.” (Lihat Minhaj As-Sunah An-Nabawiyah, I/59).

» Ibnu Taimiyah rahimahullah juga  mengatakan, “Pokok-pokok dasar dari bid’ah orang-orang Syi’ah Rofidhoh adalah kekufuran mereka yang tersembunyi dan penyekutuan kepada Allah. Kedustaan adalah hal biasa bagi mereka, bahkan mereka sendiri mengakuinya, dengan mengatakan bahwa agama kami adalah taqiyyah, yaitu ucapan seseorang dengan lisannya yang bertolak-belakang dengan keyakinannya. Inilah kedustaan dan kemunafikan, mereka dalam hal ini seperti ucapan pepatah, “Melempar orang lain tapi kena dirinya sendiri.” (Lihat Minhaj As-Sunnah An-Nabawiyah, I/68).

» Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata: “Maka dalil-dalil itu bisa dalam bentuk dalil naqli (berupa ayat Al-Quran dan Al-Hadits) dan bisa dalam bentuk dalil akal. Dan kaum Syi’ah mereka adalah manusia paling dusta dalam penukilan dan manusia paling bodoh dalam pendalilan dengan akal”. (Lihat Al-Muntaqo Min Minhaj Al-I’tidal hal.18).

» Yazid bin Harun berkata: “Bisa diterima riwayat seorang pelaku bid’ah, selama tidak mengajak kpd kebid’ahannya, kecuali (kelompok Syi’ah) Rofidhoh, selamanya tidak bisa diterima riwayatnya dikarenakan mereka pendusta.”

» Syarik bin Abdillah mengatakan, “Saya menimba ilmu (hadits) dari setiap orang yang saya jumpai, kecuali orang Rofidhoh (Syi’ah). Karena mereka suka memalsukan hadits Nabi dann menjadikannya sebagai aturan agama.” (Lihat Tadribur Rowi karya As-Suyuthi I/327).

» Asyhab (ulama Malikiyah) mengatakan, “Imam Malik pernah ditanya tentang orang-orang Rofidhoh (Syi’ah). Jawaban beliau: “Kami tidak mau bicara dengan mereka, tidak meriwayatkan dari mereka, karena mereka suka berdusta.”

» Harmalah (murid Imam Asy-Syafii) mengatakan, “Saya mendengar As-Syafi’i mengatakan, ‘Saya belum pernah mengetahui ada kelompok yang paling mudah berdusta melebihi Rofidhoh (Syi’ah).” (Lihat An-Nukat ‘ala Muqadimah Ibnu Sholah karya Az-Zarkasyi, III/399, dan Tadribur Rowi karya As-Suyuthi I/327).

» Muhammad bin Hazm dalam kitabnya tentang aliran-aliran dan kelompok-kelompok yang menisbatkan dirinya kepada islam mengatakan, “(Kelompok Syi’ah) Rofidhoh adalah kelompok yang pertama kali muncul 25 tahun setelah meninggalnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam… dan itulah kelompok yang sangat persis dengan Yahudi dan Nasrani dalam hal berdusta dan melakukan kekufuran. (Lihat Al-Fisholu Fi Al-Milal wa Al-Ahwa’ wa An-Nihal, Ibnu Hazm I/176).

Demikian perkataan para Ulama Sunnah tentang penganut agama Syi’ah Rofidhoh yang paling pendusta di muka bumi ini. Semoga Allah melindungi kita dari kedustaan dan kemunafikan mereka. Dan semoga kita selalu istiqomah di atas Aqidah Tauhid dan As-Sunnah hingga akhir hayat.Amiin.

Bila Istri Tidak Bersedia Di Ajak Pindah Luar Kota

Ustadz Muhammad Wasitho, MA, حفظه الله تعالى

Tanya :
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, ustadz, gimana hukumnya bila istri tidak mau diajak suaminya menemaninya di luar daerah, dimana suaminya bekerja, maaf sekalian kalau ada hadistnya.
Terima kasih Ustadz
Baarakallahu fiykum

Jawab:
وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bismillah. Pada dasarnya seorang istri wajib taat dan patuh terhadap perintah dan ajakan suaminya, baik dalam perkara-perkara agama yang hukumnya wajib, sunnah, maupun dalam hal-hal yang bersifat mubah seperti suami mengajaknya makan bersama di luar rumah, jalan-jalan ke luar kota untuk refreshing, atau menemaninya di tempat kerjanya.

» Hal ini dikarenakan kedudukan suami dalam agama Islam sangat tinggi, sehingga dalam suatu hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

لو كنت آمرا لأحد أن يسجد لأحد لأمرت المرأة أن تسجد لزوجها

“Lau Kuntu Sampurno Ahadan An Yasjuda Li Ahadin La-Amartul Mar’ata an Tasjuda Li Zaujiha”

Artinya: “Kalau sekiranya aku (diizinkan Allah) memerintahkan seseorang agar sujud kepada orang lain, niscaya aku akan perintahkan seorang istri agar sujud kepada suaminya.” (HR. At-Tirmidzi dan Al-Hakim).

» Dan dalam hadits yang lain, beliau bersabda:

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

“Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina), dan taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita tersebut, “Masuklah ke surga melalui pintu manapun yang engkau suka.” (HR. Ahmad).

Hadits-hadits ini menunjukkan betapa wajibnya seorang istri melayani, menghormati dan mentaati suami dalam setiap kebaikan.

» Dengan demikian, seorang istri jika menolak ajakan suaminya untuk menemaninya bekerja di luar kota tanpa alasan syar’i apapun, dan tanpa alasan yang dapat diterima secara akal, maka ia telah berbuat dosa karena meninggalkan kewajiban taat dan patuh kepada suami. Dan ini termasuk kedurhakaan kepada suami yang dapat menjerumuskan pelakunya ke dalam api neraka.

» Adapun jika istri menolak ajakan suaminya dan tidak bersedia menemaninya pergi ke luar kota di tempat kerjanya karena adanya alasan-alasan syar’i seperti sakit berat yang menyulitkannya pergi jauh, atau lingkungan di sekitar tempat kerja suami sangat buruk yang bisa mengkhawatirkan akan merusak agama dan akhlak dirinya dan keluarganya, dan alasan selainnya, maka ia tidak berdosa dan bukan termasuk bentuk kedurhakaan kepada suami. Bahkan sudah semestinya seorang suami memaklumi dan menyayanginya serta tidak mengajaknya secara paksa pergi ke luar kota karena adanya alasan-alasan syar’i tersebut.

Demikian jawaban yg dapat kami sampaikan. Semoga mudah dipahami dan menjadi ilmu yang bermanfaat. Wallahu a’lam bish-showab. Wabillahi at-Taufiq.