Category Archives: Najmi Umar Bakkar

Kenapa Berbuat Maksiat Setelah Bermaksiat..?

Hati yang sarat galau…
Jiwa berteman gelisah…
Sanubari yang dipenuhi kehampaan serta berbagai rasa yang tidak mengenakkan…

Itulah tanda hati sedang sakit dan dapat membutakan pandangannya, dan bisa jadi semuanya disebabkan oleh kemaksiatan atau dosa-dosa yang telah dilakukannya…

Kemaksiatan dan dosa membuat hati gelisah, resah dan rasa tidak aman yang tidak jelas ujung pangkalnya, dan harta sebesar apa pun tidak akan dapat mengobatinya…

Kemaksiatan adalah kegelapan…
Manakala kegelapan itu semakin menguat, maka semakin bertambah pula kebingungan yang dirasakan…

Kemaksiatan akan melemahkan keinginan pelakunya untuk taat dan berbuat baik, dan menjadikan keinginan untuk berbuat maksiat semakin kuat, sehingga keinginan bertaubat pun akan luntur…

Kemaksiatan akan melahirkan kemaksiatan lainnya, dan pada saat itu keburukan menjadi watak, karakter dan sifat yang melekat di dalam diri seseorang…

Allah Ta’ala berfirman :

مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا

“Barangsiapa yang melakukan kejahatan (maksiat dan dosa), niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan (maksiat dan dosa)…” (QS. An-Nisaa’ [4]: 123)

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا

“Dan balasan suatu kejahatan (dosa) adalah kejahatan (dosa) yang serupa…” (QS. Asy-Syuura’ [42]: 40)

Maksiat mengantarkan pada maksiat lainnya…

Demikianlah keadaan seorang hamba, ketika ia melihat suatu yang haram, lantas tidak terbetik dalam dirinya untuk “BERTAUBAT”, maka dosa berikutnya akan tumbuh. Dalam hatinya pun ingin terus melakukan maksiat atau dosa besar selanjutnya…

Kemaksiatan akan menutup hati pelakunya hingga berkarat. Dan jika karat hati itu bertambah maka ia akan menutupi hati hingga terkunci dan di saat itu hati tak lagi sanggup melihat kebenaran sebagai kebenaran…

Akhirnya…

Kemaksiatan menyebabkan pelakunya dilupakan oleh Allah, dan bahkan seorang hamba pun lupa akan dirinya sendiri…

Oh…inilah sebabnya, kenapa selama ini selalu susah untuk taat…
Oh…inilah sebabnya, kenapa selama ini selalu saja bermaksiat…
Oh…inilah sebabnya, kenapa selama ini selalu tidak bersemangat…
Oh…inilah sebabnya, kenapa selama ini mau saja mengikuti langkah-langkah syaithan yang jahat…
Oh…inilah sebabnya, kenapa selama ini petunjuk dan hidayah tidak didapat…

Wahai Saudaraku…

Jika seluruh kenikmatan di dunia ini disatukan, maka itu tidak akan sepadan dengan kemurungan dan penyesalan pelaku maksiat di hadapan Allah…

Segeralah bertaubat…
Sebelum ajal dicabut Malaikat…
Sehingga tidak menyesal di akhirat…

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik” (QS. Al-Hasyr [59]: 19)

“Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah pun melupakan mereka” (QS. At-Taubah [9]: 67)

Hidup di dunia ini hanya 3 hari…

Hari kemarin, sudah dilalui dan tidak akan kembali…
Hari ini, dijalani dan tidak akan abadi…
Hari esok, tidak pernah tahu apa yang terjadi, bisa jadi sudah mati…

Sebesar-besar hukuman adalah apabila si terhukum tidak merasa dirinya sedang dihukum…

TIPUAN YANG PALING BESAR adalah bersikap tenang dalam berbuat dosa dengan mengharap ampunan tanpa adanya PENYESALAN…

Dan mengira telah mendekatkan diri kepada Allah tanpa melakukan ketaatan, menunggu hasil dari SURGA dengan menanam benih API NERAKA…

“Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampunan kepada-Nya ? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang” (QS. Al-Maidah [5]: 74)

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

Bagaimana Para ‘Ulama Mengatur Waktu Mereka..?

Bagaimana para ulama mengatur waktu mereka antara mempelajari ilmu, mencari nafkah, isteri, anak, orangtua dll ? 

Az-Zubair bin Bakkar berkata : “Anak saudara perempuanku berkata kepada istriku : “Pamanku adalah sebaik-baik suami terhadap istrinya. Dia tidak mengambil istri lagi dan tidak membeli budak perempuan”. Istriku pun berkata : “Sungguh kitab-kitab ini lebih berat dan lebih sulit bagiku dari pada 3 orang madu”.

Suatu hari anak Abu Yusuf (murid Abu Hanifah) meninggal dunia, lalu Abu Yusuf mewakilkan kepada tetangganya untuk memandikan dan menguburkan anak itu agar ia tidak ketinggalan pelajaran dari gurunya Abu Hanifah.

Masya Allah, lihatlah contoh dari 2 kisah diatas bagaimana semangatnya para ulama dalam menuntut ilmu.

Yang satu istrinya lebih cemburu kepada kitab-kitab suaminya daripada 3 istri yang lain seandainya suaminya mau menikah lagi.

Yang satunya lagi Abu Yusuf tidak mau ketinggalan pelajaran yang disampaikan gurunya meskipun anaknya meninggal dunia, karena itu ia tetap hadir di majelis taklim.

Abdullah putra Imam Ahmad bin Hambal rahimahumallah berkata :

“Ayahku mengajariku al-Qur’an seluruhnya dengan usahanya sendiri” (Manaqib al-Imam Ahmad karya Ibnul Jauzi hal 496)

Malik bin Anas rahimahullah berkata :

“Dahulu para salaf mengajari anak-anak mereka untuk mencintai Abu Bakar dan Umar, sebagaimana mereka mengajari mereka al-Qur’an” (Syarah Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah hal 1240 no. 2325)

Para ulama itu tetap mencari nafkah yang halal, menyediakan waktu untuk istri, anak, orang tuanya dll. Tetapi memang kebanyakan waktunya habis untuk belajar dan belajar, menulis, beribadah serta berdakwah, sehingga akhirnya mereka memperoleh kemuliaan dan ketinggian dalam ilmu dan amal.

Dan untuk mencapainya tentu harus bersungguh-sungguh dalam mujahadah, pengorbanan, berdoa, mengikhlaskan niat dll sehingga menjadi barokah untuk dirinya dan manusia secara umum.

Dan satu lagi yang tidak kalah pentingnya yaitu peran istri yang shalihah dan qona’ah, yang ikhlas, zuhud dan sabar dalam pengorbanan, yang rela menyerahkan sebagian haknya dari sisi waktu yang terambil, dan terkadang dari sisi nafkah yang agak berkurang, karena banyaknya waktu yang dihabiskan oleh suaminya untuk menuntut ilmu.

Lihatlah contoh Imam al-Albani rahimahullah yang dalam sehari belajarnya sampai 12 jam. Sisa waktunya beliau gunakan untuk mencari nafkah, tidur, melakukan ibadah dll.

Seorang guru berkata : “Setiap penuntut ilmu hendaknya menyediakan waktu dalam sehari untuk belajarnya minimal 4 jam”

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata :

“Hendaknya seorang penuntut ilmu memiliki semangat dalam belajar dan mengoptimalkan waktunya, baik siang maupun malam, saat muqim maupun safar. Waktunya tidak boleh berlalu tanpa ilmu, kecuali untuk keperluan yang mendesak, seperti makan dan tidur yang sekedarnya atau yang semisal dengan itu. Istirahat sebentar untuk menghilangkan kebosanan dan kebutuhan-kebutuhan yang mendesak lainnya”

Saudaraku, lalu bagaimana dengan dirimu ?

Ustadz Najmi Umar Bakkar,  حفظه الله تعالى

Apakah Yang Dilakukan Seorang Wanita Jika Suaminya Wafat..?

(1). ia memasuki masa iddah 4 bulan 10 hari (Qs.2:234) dan bagi yang sedang hamil iddahnya sampai melahirkan (Qs.65:4)

(2). ia menetap di rumah, tidak ditempat orang tua atau lainnya, kecuali jika ada keperluan atau kebutuhan seperti ke rumah sakit, ke pasar membeli makanan dll yang mana tidak ada seorang pun yang bisa membantunya untuk mengerjakan hal itu atau boleh keluar rumah jika ia takut atas keselamatan dirinya atau khawatir rumahnya runtuh dll.

(3). tidak boleh safar seperti haji dll.

(4). tidak mengenakan pakaian-pakaian yang indah atau dengan warna-warna yang mencolok.

(5). tidak memakai celak atau pacar (cat kuku) atau sesuatu untuk mempercantik wajah dan tubuh.

(6). tidak boleh memakai wangi-wangian atau parfum.

(7). tidak memakai segala macam perhiasan di kalung, gelang, cincin dll.

(8). tidak dilamar secara terang-terangan, kecuali sekedar sindiran saja (Qs.2:235)

ANGGAPAN YANG SALAH SELAMA MASA IDDAH ◾

(1). seorang istri itu tidak boleh berbicara dengan laki-laki yang bukan mahram secara langsung atau via telpon meskipun ia ada kebutuhan.

(2). pakaiannya harus dengan warna hitam.

(3). mandi hanya seminggu sekali.

(4). tidak boleh jalan di rumah tanpa menggunakan alas kaki.

(5). tidak boleh berjalan di bawah cahaya rembulan.

(6). tidak boleh menuntut ilmu ke masjid, kampus dll.

(7). harus keluar dari 1 pintu dan masuk dari pintu yang lain ketika masa iddah selesai.

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

Puasa Pada Akhir Bulan Dzulhijjah..?

Apakah benar disunnahkan berpuasa sehari pada akhir bulan Dzuhijjah dan puasa sehari pada awal bulan Muharrom ? 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ﻣَﻦْ ﺻَﺎﻡَ ﺁﺧِﺮَ ﻳَﻮْﻡٍ ﻣِﻦْ ﺫِﻱ ﺍﻟﺤِﺠَّﺔِ ، ﻭَﺃَﻭَّﻝِ ﻳَﻮْﻡٍ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻤُﺤَﺮَّﻡِ
ﻓَﻘَﺪْ ﺧَﺘَﻢَ ﺍﻟﺴَّﻨَﺔَ ﺍﻟﻤَﺎﺿِﻴَﺔَ ﺑِﺼَﻮْﻡٍ ، ﻭَﺍﻓْﺘَﺘَﺢَ ﺍﻟﺴَّﻨَﺔُ ﺍﻟﻤُﺴْﺘَﻘْﺒِﻠَﺔُ
ﺑِﺼَﻮْﻡٍ ، ﺟَﻌَﻞَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻟَﻪُ ﻛَﻔَﺎﺭَﺓٌ ﺧَﻤْﺴِﻴْﻦَ سنة

“Barang siapa yang berpuasa (sehari) di akhir bulan Dzuhijjah dan (sehari) di awal bulan Muharrom, maka sungguh ia telah menutup tahun yang lalu dengan puasa dan membuka tahun yang akan datang dengan puasa. Allah akan menjadikan baginya kafarat (terhapusnya dosa) selama 50 tahun” (HR. Ibnu Majah, hadits dari Ibnu Abbas, lihat juga al-Maudhuu’aat II /566 oleh Ibnul Jauzi dan al-Fawaa-id al-Majmuu’ah hal 91 no.31 oleh asy-Syaukani).

Hadits ini derajatnya PALSU (Maudhu’)

Di dalam sanadnya terdapat dua perowi pendusta dan pemalsu hadits, yaitu al-Harwi al-Juwaibari dan Wahb.

Ibnul Jauzi berkata tentang keduanya, yaitu al – Harwi atau dikenal juga dengan al-Juwaibari dan Wahb bahwa keduanya adalah seorang pendusta dan pemalsu hadits (lihat al-Maudhuu’ aat II / 566)

Asy-Syaukani berkata tentang hadits ini : “Di dalam hadits ini ada dua perawi yang pendusta yang meriwayatkan hadits ini” (lihat al-Fawaa-id al-Majmuu’ah hal 91 no. 31)

Adz-Dzahabi dalam Tartib al-Maudhuu’aat 181 berkata bahwa al-Juwaibari dan gurunya Wahb bin Wahb yang meriwayatkan hadits ini termasuk pemalsu hadits.

Hadits ini juga dianggap palsu oleh As-Suyuthi dalam Kitab al-Aala’i al-Mashnu’ah II/108, Ibnu ar-Raq dalam Tanziihusy Syari’ah II/148 dan ulama lainnya.

Maka tidak boleh bagi siapapun dari umat Islam yang “MENGKHUSUSKAN” puasa dan amalan- amalan ibadah lainnya seperti doa menyambut tahun baru hijriyah, dzikir berjama’ah, menghidupkan malamnya dengan qiyamul lail, bersedekah, membaca al-Qur’an, mengadakan pengajian dan selainnya pada awal dan akhir tahun Hijriyah, karena perkara itu bukanlah hal yang disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

 

Untuk Apa Umurmu Engkau Habiskan…?

Ketahuilah…

Setiap tarikan dan desahan nafas, saat menjalani waktu demi waktu, adalah langkah menuju kubur…

Manusia akan merugi apabila harinya berlalu begitu saja, tidak bertambah iman, ilmu dan amalnya…

Waktu itu lebih berharga dari pada harta. Seandainya seseorang yang sedang menghadapi kematian, lalu dia letakkan semua hartanya untuk memperpanjang usianya satu hari saja, apakah dia akan mendapatkan penundaan dan perpanjangan waktu tersebut…?

Setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun dan sepanjang perjalanan hidup akan ditanya, dan diminta pertanggungjawabannya dihadapan Allah Ta’ala…

Allah Ta’ala berfirman :

“Tetapi kamu pasti akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan” (QS. An-Nahl [16]: 93)

Ternyata amal tak seberapa…
Sedekah dan infaq cuma sekedarnya…
Mengajarkan ilmu tak pernah ada…
Silaturrahim pun rusak semua…

Jika sudah demikian, apakah ruh ini tidak akan melolong, meraung, menjerit menahan kesakitan di saat berpisah dari tubuh waktu sakaratul maut…?

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

‏ لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ ‏

(1). “Kedua kaki setiap hamba pada hari Kiamat tidak akan beranjak hingga ia ditanya tentang usianya, untuk apa ia habiskan ? Tentang ilmunya, sudahkah ia amalkan ? Tentang hartanya, dari mana ia mendapatkannya dan untuk apa ia belanjakan ? Dan tentang tubuhnya untuk apa ia gunakan ?” (HR. At-Tirmidzi no. 2417, ad-Daarimi no. 537 dan Abu Ya’la no. 7434, hadits dari Abu Barzah al-Aslamy, lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah no. 946)

(2). “Diantara (tanda) baiknya keislaman seseorang adalah ia meninggalkan apa yang tidak bermanfaat untuknya” (HR. At-Tirmidzi no. 2318 dan Ahmad no. 1737, hadits dari al-Husain bin Ali, lihat Shahiihul Jaami’ ash-Shaghiir no. 5911)

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata :

اِضَاعَةُ الوَقْتِ اَشَدُّ مِنَ الموْتِ لِاَنَّ اِضَاعَةَ الوَقْتِ تَقْطَعُكَ عَنِ اللهِ وَالدَّارِ الآخِرَةِ وَالموْتِ يَقْطَعُكَ عَنِ الدُّنْيَا وَاَهْلِهَا

Menyia-nyiakan waktu itu lebih dahsyat dari pada kematian. Karena menyia-nyiakan waktu memutuskanmu dari (mengingat) Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian hanya memutuskanmu dari dunia dan penghuninya (Al-Fawaaid hal 64)

Waktu manusia adalah umurnya…
Waktu tersebut adalah waktu yang dimanfaatkan untuk mendapatkan kehidupan yang abadi dan penuh kenikmatan dan terbebas dari kesempitan dan adzab yang pedih…

Berlalunya waktu lebih cepat dari berjalannya awan. Barangsiapa yang waktunya hanya untuk ketaatan dan beribadah kepada Allah, maka itulah waktu dan umurnya yang sebenarnya…

Selain itu maka tidak dinilai sebagai kehidupannya, namun ia hanya teranggap seperti KEHIDUPAN BINATANG TERNAK…

Jika waktu itu hanya dihabiskan untuk hal-hal yang membuatnya lalai, untuk sekedar menghamburkan syahwat, untuk berangan-angan yang batil, hanya dihabiskan dengan banyak tidur dan digunakan dalam kebatilan, maka sungguh KEMATIAN LEBIH LAYAK BAGI DIRINYA…” (Al-Jawabul Kaafi hal 109)

Muhammad bin Abdil Baqi rahimahullah berkata :

ما اعلم اني ضيعت ساعة من عمري في لهو او لعب

“Tidaklah aku mengetahui, jika aku pernah melalaikan sesaat saja dari umurku hanya untuk bermain-main dan senda gurau” (Siyar A’laamin Nubalaa’ XX/26 oleh Imam adz-Dzahabi)

Ibnu Aqil al-Hanbali rahimahullah berkata :

اني لا يحل لي ان اضيع ساعة من عمري حتى اذا تعطل لساني عن مذاكرة و مناظرة و بصري عن مطالعة اعملت فكري في حال راحتي و انا مستطرح

“Sesungguhnya tidak halal bagiku untuk melalaikan sesaat dari umurku, sehingga jika lisan ini telah berhenti dari berdzikir dan berdiskusi, dan mata ini berhenti dari mencari pembahasan, maka aku memikirkan ilmu di saat santaiku” (Dzail Thabaqat al-Hanabilah 1/146 oleh Imam Ibnu Rajab)

Saudaraku, bagaimana dengan dirimu…?

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى  

 

Apa Sajakah Syarat Bagi Seorang Muslim, Sehingga Diperbolehkan Mengambil Barang Yang Ditemukan Tercecer di Suatu Tempat.. ?

(1). Tujuannya bukan untuk memiliki namun untuk menjaganya dari kerusakan atau kemungkinan jatuh ke tangan orang yang tidak bertanggung jawab.

(2). Dirinya adalah orang yang amanah untuk memelihara barang tersebut.

(3). Setelah diambil maka segera diumumkan kepada publik bahwa telah ditemukan suatu barang dan kepada pemiliknya untuk segera mengambilnya.

(4). Apabila dalam waktu 1 tahun, pemiliknya tidak segera muncul untuk mengambilnya, maka ia boleh menggunakan barang itu atau menyimpannya atau memberikan kepada orang lain, tapi ia harus menyiapkan uang pengganti jika sewaktu-waktu pemiliknya datang.

(5). Apabila barang temuan itu termasuk barang yang mudah rusak, seperti makanan yang mudah basi, maka boleh hukumnya untuk dimakan, tapi harus disiapkan sejumlah uang untuk menggantinya bila pemiliknya meminta.

(6). Apabila bentuk barang adalah uang tunai, maka boleh digunakan untuk membayar suatu keperluan, tapi dengan syarat uang itu siap diganti kapan saja saat pemiliknya datang.

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

 

Apakah Suara Wanita Termasuk Aurat..?

Suara wanita bukanlah aurat, beberapa dalilnya antara lain :

(1). Dahulu Aisyah dan istri-istri Nabi yang lain ketika meriwayatkan hadits atau menjawab pertanyaan dari para sahabat dengan tidak menuliskannya dalam bentuk tulisan, tetapi menyampaikannya langsung secara lisan kepada para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari belakang tabir (baca QS.33:53)

(2). Rasul meluangkan satu hari khusus untuk mengajarkan secara langsung ilmu-ilmu agama Islam kepada para wanita muslimah saat itu, tanpa perantara istri-istrinya. Beliau berdialog langsung dengan para wanita yang ingin belajar kepadanya tanpa hijab.

Diriwayatkan dari Abu Sholih Dzakwan dari Abu Sa’id Al-Khudri dia berkata :

“Seorang wanita datang menemui Rasulullah seraya berkata : “Wahai Rasulullah, kaum laki-laki telah pergi dengan membawa haditsmu, maka terangkanlah untuk kami sehari dari dirimu, sehingga kami dapat mendatangimu, agar engkau mengajarkan kepada kami sesuatu yang Allah telah ajarkan kepadamu”.

Beliau pun bersabda :

“Berkumpullah kalian pada hari ini dan itu”. Lalu mereka berkumpul dan Rasulullah pun datang menemui mereka. Lalu Rasulullah mengajarkan kepada mereka apa yang telah Allah ajarkan kepada beliau………” (HR. Bukhari no.101, 1249, 7310 dan Muslim no. 2633)

(3). Begitu pula ketika adanya wanita yang berbicara kepada Rasul karena ingin mengajukan gugatan tentang suaminya (baca QS.58:1)

KESIMPULAN :

“Suara wanita bukanlah aurat secara mutlak”. Karena diperbolehkan ketika ada kebutuhan untuk mendengarkan suara wanita itu seperti saat dia meminta fatwa, memberikan saksi, melakukan transaksi jual beli dll.

“Yang Tidak Boleh” bagi wanita dalam masalah suara adalah jika mereka berkata-kata kepada laki-laki selain suami atau mahramnya dengan suara yang merdu, indah, halus, berlemah lembut, mendayu-dayu atau dengan desahan yang dapat menimbulkan fitnah dan keburukan, serta dapat membangkitkan syahwat.

Allah Ta’ala berfirman :

فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا

“…Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik” (QS. Al-Ahzab [33] : 32)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Tidaklah aku tinggalkan fitnah setelahku yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada (fitnah) wanita” (HR. Bukhari no. 5096, Muslim no. 2740, at-Tirmidzi no.2780 dan Ibnu Majah no.3998, hadits dari Usamah bin Zaid).

Maka dari itu, berapa banyak laki-laki yang terfitnah (tergoda) kepada seorang wanita lalu wanita itu merusak agamanya, dunianya, keluarganya, akhlaknya dll.

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

Curahan Hati Untuk Istriku…

Maafkan aku wahai istriku…
Sudah berapa kali kubuat kau bersedih…
Sudah berapa kali hatimu kulukai…
Sudah berapa kali nasihatmu kutepis…
Sudah berapa kali teguranmu kutolak…
Sudah berapa kali tingkahku memberi luka…
Sudah seringkali aku berlaku kasar padamu…

Maafkan aku wahai istriku…
atas segala salah dan khilafku…
lahir dan batin, yang tampak maupun yang tersembunyi, atas ucapan dan janji yang tak terpenuhi…

Maafkan aku wahai istriku…
jika yang ada pada diriku membuatmu kecewa…
jika yang kuperbuat sangat menyakiti hatimu…
aku hanyalah seorang lelaki biasa…
seorang suami yang lemah…
seorang suami yang banyak salah…

Tapi…

Yakinlah aku mencintaimu karena Allah…
aku sayang padamu wahai istriku…
engkau harta yang tak ternilai bagiku…

Wahai Istriku…
seandainya dirimu merasa pernah berbuat salah padaku, apapun itu, aku sudah ridho memaafkan semuanya, lahir dan batin…

Wahai Istriku…
aku kini menyadari bahwa hatimu begitu mulia…
mudah-mudahan ini kesadaran yang belum terlambat, hanya karena kebodohanku saja, serta hawa nafsu, sehingga aku menzhalimi dirimu…

Ya Allah, hanya Engkau yang mengetahui semua kebaikannya, maka berilah balasan yang baik dan berlipat atas segala kebaikannya…

Bila ia berbuat dosa, itu adalah juga dosa hamba…
karena kejahilan hamba yang tidak bisa mengemban amanah memimpin rumah tangga…

Ya Allah, ampunilah kami, sayangilah kami, tutuplah aib-aib kami, serta jagalah dan lindungilah keluarga kami, sungguh Engkaulah sebaik-baik pelindung…

Ya Allah, jadikan istriku termasuk istri yang shalihah dan semakin shalihah, serta izinkan hamba-Mu ini untuk bisa membahagiakannya sampai sisa umur yang telah Engkau tentukan…

Ya Allah, jadikanlah “ISTRIKU SURGAKU”, sebaik-baik kesenangan dunia, dan masukkanlah kami ke dalam Surga Firdaus yang Engkau janjikan sebagai rahmat-Mu…

Aamiin…

(dinukil dari buku “50 Kiat Agar Cinta Suami Kepada Istri Semakin Dahsyat”, hal 102-104)

Ustadz Najmi Umar Bakkar,  حفظه الله تعالى

 

Curahan Hati Untuk Suamiku…

Wahai Suamiku…
Dikala susah, kau setia mendampingiku…
Ketika sulit, kau tegar di sampingku…
Saat sedih, kau pelipur laraku…
Dalam lesu, kau penyemangat jiwaku…
Bila gundah, kau penyejuk hatiku…
Kala bimbang, kau penguat tekadku…
Jika lupa, kau yang mengingatkanku…
Ketika salah, kau yang menasehatiku…

Wahai Suamiku…
Telah sekian lama engkau mendampingiku…
Kehadiranmu membuatku menjadi sempurna sebagai seorang istri…
Lalu, atas dasar apa aku harus kecewa padamu…? Dengan alasan apa aku perlu marah padamu…?

Wahai Suamiku…
Aku telah memilihmu untuk menjadi imamku…
Aku yakin bahwa engkaulah yang terbaik untuk menjadi bapak dari anak-anakku…
Begitu besar harapan kusandarkan padamu…
Begitu banyak tanggungjawab kupikulkan di pundakmu…

Wahai Suamiku…
Ketika aku sendiri, kau datang menghampiriku…
Saat aku lemah, kau ulurkan tanganmu menuntunku…
Dalam duka, kau sediakan dadamu untuk merengkuhku…
Dengan segala kemampuanmu, kau selalu ingin melindungiku…

Wahai Suamiku…
Tidak kenal lelah kau berusaha membahagiakanku…
Tidak kenal waktu kau tuntaskan tugasmu…
Sulit dan beratnya mencari nafkah yang halal tidak menyurutkan langkahmu, bahkan sering kau lupa memperhatikan dirimu sendiri, demi aku dan anak-anakmu…

Lalu…

Atas dasar apa aku tidak berterima kasih padamu…?
Dengan alasan apa aku tidak berbakti padamu…?
Seberapapun materi yang kau berikan, itu adalah hasil perjuanganmu…
Sungguh, kesungguhanmu beramal shalih telah membanggakanku…
Tekadmu untuk mengajakku dan anak-anak istiqomah di jalan Allah membahagiakanku…
Sekali lagi kukatakan, tekadmu untuk mengajakku dan anak-anak istiqomah di jalan Allah benar-benar membahagiakanku…

Maafkan aku wahai suamiku…
Akupun akan memaafkan kesalahanmu…
Segala puji hanya milik Allah yang telah mengirimmu menjadi imamku…
Aku akan taat padamu untuk mentaati Allah Ta’ala…
Aku akan patuh kepadamu untuk menjemput ridho-Nya…

Mari kita bersama-sama untuk membawa bahtera rumah tangga ini hingga berlabuh di pantai nan indah, dengan hamparan keridhoan Allah Ta’ala, segala puji hanya untuk Allah yang telah memberikanmu sebagai jodohku…

Ya Allah, lindungilah suamiku, bahagiakan dia di dunia dan di akhirat, perbaikilah dia dan berikanlah petunjuk kepadanya, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu…

Ya Allah, jadikan aku sebagai penyejuk mata suamiku dan jadikan dia sebagai penyejuk mataku…

Ya Allah, jadikan aku cinta kepadanya dan jadikan dia cinta kepadaku, serta berikan kepada kami kecintaan untuk mencari keridhoan-Mu dan melaksanakan ketaatan kepada-Mu…

Ya Allah, kumpulkan aku bersamanya di Surga-Mu dan jadikanlah aku sebagai istri dan pendampingnya di dunia dan di akhirat yang kekal…

Aamiin…

(dinukil dari buku 50 Kiat Agar Cinta Suami Kepada Istri Semakin Dahsyat, hal 99-101)

Ustadz Najmi Umar Bakkar,  حفظه الله تعالى

Oh… Alangkah Besarnya Penyesalan…

Bagaimana mata kan terpejam, kalau ia terbelalak diam, di mana seharusnya ia sangat awam, di Surga atau Neraka ia berdiam…

Seseorang masìh memungkinkan untuk berbuat durhaka atau taat kepada Allah selama hayat masih di kandung badan…

Keleluasaan yang ia minta, sebaliknya akan menjadi keterkungkungan yang ia terima…

Lalu di manakah letak nikmatnya kedurhakaan seseorang dan dimana jerih payah ketaatannya…?

Seseorang yang telah tergoda oleh nafsu syahwat, ia akan begitu cepat menghampirinya dan tidak pernah berpikir tentang apa akibat yang akan ditimbulkannya kelak…

Berapa banyak sudah penyesalan yang telah ia teguk di dalam menjalani sisa-sisa hidupnya…?

Berapa besar kehinaan yang harus ia tanggung setelah kematiannya…?

Dan siksa yang tidak bisa dihindarkan datangnya, yaitu mempertanggungjawabkan atas semua perbuatannya dihadapan Allah…

Dan itu semua disebabkan oleh kenikmatan yang sesaat, yang terasa bagaikan sebuah kilat…

Alangkah mengkhawatirkan bagi orang yang meyakini sebuah perintah, akan tetapi setelah itu melupakannya…

Juga bagi orang yang telah melihat dengan mata kepala sendiri bahaya yang akan tersimpan di balik suatu persoalan, akan tetapi kemudian menutup mata darinya…

Sebesar-besar hukuman adalah apabila si terhukum tidak merasa dirinya sedang dihukum…

Ketahuilah…

Derajat yang tinggi di sisi Allah tidak akan diraih kecuali setelah bersungguh-sungguh…

Sungguh-sungguh tidak akan ada kecuali setelah adanya rasa takut…

Rasa takut tidak akan ada kecuali setelah adanya keyakinan…

Keyakinan tidak akan ada kecuali setelah adanya ilmu…

Ilmu tidak akan ada kecuali setelah belajar…

Belajar sulit dilakukan jika tanpa adanya niat, tekad dan semangat yang kuat…

Manfaatkanlah waktu dan ketahuilah perbuatan apa saja yang mengiringi malam dan siangmu yang telah berlalu…

Perbaharuilah taubat setiap waktu, dan jadikanlah umurmu dalam tiga waktu : waktu untuk ilmu, waktu untuk beramal dan waktu untuk memenuhi hak dan kewajibanmu…

Ambillah pelajaran dari orang-orang yang telah lalu, dan pikirkanlah tempat kembalinya dua kelompok di hadapan Allah. Satu kelompok di dalam Surga dengan ridha-Nya dan satu kelompok berada di Neraka dengan murka-Nya…

Kesenangannya Iblis bukan menjerumuskanmu dalam berbagai kemaksiatan, akan tetapi cita-citanya agar engkau masuk bersamanya ke tempat yang dia akan memasukinya, yaitu Neraka Jahannam…

Hindarilah maksiat hati yaitu menganggap sedikitnya rezeki, menganggap remeh nikmat Allah, lalai dari Allah, menganggap remeh bencana agama, menganggap besar dunia dan bersedih hati karena dunia yang telah meninggalkannya…

Dosa itu mewariskan kelalaian…
Kelalaian mewariskan kekerasan hati…
Kekerasan hati mewariskan jauh dari Allah…
Jauh dari Allah mewariskan Neraka…

Umur manusia hanyalah hitungan hari…
Manusia akan mendapatkan kebahagiaan jika ia menghibahkan dirinya untuk Allah ‘Azza wa Jalla…

Ingatlah suatu hari, dimana penyesalan tidaklah berguna lagi…

ٌيَا حَسْرَتَا عَلَىٰ مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللَّهِ…

“…Alangkah besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah…” (QS. Az-Zumar [39]: 56)

يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي

“Dia mengatakan : “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku ini” (QS. Al-Fajr [89]: 24)

قَالُوا يَا حَسْرَتَنَا عَلَىٰ مَا فَرَّطْنَا فِيهَا…

“…Mereka berkata : Sungguh betapa menyesalnya kami atas apa yang kami sia-siakan dahulu di dunia…” (QS. Al-An’aam [6]: 31)

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا

“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam Neraka, mereka berkata : “Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul” (QS. Al-Ahzab [33]: 66)

Semoga Allah selalu memberikan taufiq bagi para pengikut kebenaran, dan semoga menjadikan kita termasuk bagian dari mereka…

Ustadz Najmi Umar Bakkar,  حفظه الله تعالى