من حَفِظَ الله في صباه وقوته؛ حفظه اللهُ في حال كبره، وضعف قوته، ومتّعه بسمعه، وبصره، وحولِه، وقوته، وعقله
“Siapa yang menjaga Allah di masa muda dan kuatnya, maka Allah akan menjaganya di masa tua dan lemahnya. Memberinya kenikmatan pendengaran, penglihatan, kekuatan dan akal..”
(Jami’ul Uluum wal Hikam hal. 348)
Menjaga Allah dengan menjaga perintah dan larangan-Nya..
Menjaga batasan batasan syari’at-Nya..
Maka Allah pun akan menjaga dunia dan akheratnya..
Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
وأنين المذنبين أحبُّ إلى الله مِن زجل المسبحين المدِلِّين
“Rintihan penyesalan sang pendosa lebih disukai oleh Allah dari suara tasbih orang yang ujub..”
(Madarijussalikin 1/177)
Terkadang..
Perbuatan dosa membawa pelakunya kepada keridhoan Allah..
Saat dosanya membuat ia menyesal dan kembali kepada Allah..
Saat dosanya menghancurkan keangkuhan dan kesombongannya..
Sehingga hatinya selalu merunduk malu dan tunduk di hadapan Robbnya..
Dan terkadang..
Ketaatan mendatangkan kemurkaan Allah ‘Azza wajalla..
Saat ketaatan itu disertai ujub dan meremehkan orang lain..
Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
“Siapa yang memuliakanmu, maka muliakanlah ia .. dan siapa yang meremehkanmu maka muliakan dirimu darinya..”
(Roudhotul Uqola hal. 213)
Orang yang memuliakanmu..
Menunjukkan hatinya yang mulia..
Maka ia pantas untuk kamu muliakan..
Dan orang yang meremehkanmu..
Karena di hatinya ada kesombongan atau ketidak sukaan..
Maka muliakan dirimu darinya..
Untuk tidak membalasnya dengan kebodohan..
Karena itu tidak membahayakanmu..
Justru dosa untuk dia..
Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
(tidak ada tuhan yang berhak disembah dengan benar kecuali Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk diantara orang-orang yang berbuat aniaya)
Sesungguhnya tidaklah seorang muslim berdo’a dengannya dalam suatu masalah melainkan Allah kabulkan baginya..”
(HR. At Tirmidzi no. 3505)
Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih
• Do’a Nabi Yunus ‘alayhissalam ini juga disebutkan dalam ayat,
(Ingatlah pula) Dzun Nuun (Yunus) ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya. Maka, dia berdo’a dalam kegelapan yang berlapis-lapis :
(tidak ada tuhan yang berhak disembah dengan benar kecuali Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk diantara orang-orang yang berbuat aniaya)
Bukan lagi tentang “siapa yang mendapatkan Lailatul Qadar” .. tapi bagaimana dapat sebanyak mungkin kemuliaan dari malam itu..?
=====
Semua yang mukmin dan beramal salih di malam Lailatul Qadar akan mendapatkan keutamaannya .. Yang berbeda adalah kadar yang dia dapatkan dari kemuliaan malam itu.
Siapa yang lebih banyak amal salihnya di malam itu, maka ia mendapatkan lebih banyak kemuliaan darinya.
Jika sekedar untuk mendapatkan malam Lailatul Qadar saja .. tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak perlu i’tikaf dan menghidupkan malamnya dengan shalat, membaca Alquran dan ibadah lainnya.
Tidaklah beliau seperti itu kecuali karena beliau ingin mendapatkan kemuliaan semaksimal mungkin darinya.
Logika sederhananya, bila ada sebuah mall mengumumkan ada diskon 70 persen di semua itemnya pada 1 malam tertentu .. maka dengan membeli 1 item saja kita sudah mendapatkan keuntungan .. dan semakin banyak kita memanfaatkan diskon itu untuk membeli kebutuhan kita, maka semakin banyak kadar manfaat yang kita dapatkan darinya.
Begitu pula dengan malam Lailatul Qadar.
Pilihan ada di tangan kita .. silahkan memilih, ingin dapat banyak ataukah hanya ingin dapat sedikit dari kemuliaan malam tersebut.
Semoga Allah memberikan taufiq-Nya kepada kita, amin.
Silahkan dishare, semoga bermanfaat dan Allah berkahi.
Ditulis oleh,
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى
مَن أنعَمَ الله عليه بقوَّةٍ أو بجمالٍ أو نحو ذلك إذا اتَّـقى الله فيه؛ كان أفضل ممَّن لم يُؤْتَ ما لم يَمْتَحِنَ فيه، فإنَّ النِّعَم مِحَنٌ
“Siapa yang diberikan oleh Allah kekuatan dan keindahan fisik dan sebagainya, apabila ia bertaqwa kepada Allah maka ia lebih utama dari orang yang tidak diberikan ujian tersebut. Karena kenikmatan itu adalah ujian..”
(Al Istiqomah 1/372)
Badan yang kuat tidak ada manfaatnya jika tidak digunakan untuk mentaati Allah..
Paras yang cantik dan ganteng akan menjadi malapetaka jika tidak disertai ketakwaan..
Semua itu adalah ujian..
Maka janganlah tertipu..
Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
Imam Abu Bakr bin Abi Syaibah rohimahullah berkata,
الشهوة أمرها خطير وشرها جسيم،
فكم من عابد لله حولته الشهوة إلى فاسق،
وكم من عالم حولته إلى جاهل،
وكم أخرجت أناسا من الدين كانوا في نظر من يعرفهم أبعد الناس عن الضلال والانحراف .
“Syahwat itu berbahaya, dan keburukannya besar.
– Berapa banyak ahli ibadah yang berubah menjadi fasiq akibat mengikuti syahwat.
– Berapa banyak ulama menjadi jahil akibat syahwat.
– Berapa banyak orang yang kita kenal jauh dari kesesatan menjadi keluar dari agama akibat syahwat..”
(Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah 4/46)
Syahwat terhadap harta, wanita, tahta, ketenaran, dan pujian manusia..
Seringkali menutupi akal manusia..
Sehingga akal tak berfungi untuk memikirkan kebaikan..
Akibat hanya memikirkan kesenangan syahwat..
Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى