Category Archives: BBG Kajian

Kisah Perang Badar : 17 Ramadhan – 02 Hijriyah

KILAS BALIK PERISTIWA DALAM SEJARAH ISLAM

Pertempuran Badar terjadi pada tanggal 17 Ramadhan tahun 2 Hijriyah.

Allah Ta’ala berfirman,

إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ

“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu : “Sesungguhnya aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu Malaikat yang datang berturut-turut..” (Qs Al-Anfaal/8:9)

Sebanyak 14 sahabat rodhiyallahu ‘anhum, gugur sebagai syahid di jalan Allah dalam pertempuran ini, nama-nama mereka adalah (lihat foto).

Continue reading Kisah Perang Badar : 17 Ramadhan – 02 Hijriyah

Akhlak Yang Mulia

Syaikh Abdul Qodir Al Jilani rohimahullah berkata,

كن مع الحق بلا خلق وكن مع الخلق بلا نفس

“Hendaklah saat bersama Allah tanpa makhluk. Dan saat bersama makhluk tanpa ego pribadi..”

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

فتأمل. ما أجل هاتين الكلمتين، مع اختصارهما، وما أجمعهما لقواعد السلوك ولكل خلق جميل؟ وفساد الخلق إنما ينشأ من توسط الخلق بينك وبين الله تعالى.
وتوسط النفس بينك وبين خلقه. فمتى عزلت الخلق – حال كونك مع الله تعالى – وعزلت النفس – حال كونك مع الخلق – فقد فزت

“Perhatikanlah betapa agungnya dua kalimat ini padahal amat ringkas, namun mencakup kaidah kaidah suluk dan akhlak yang mulia.

Karena rusaknya akhlak adalah akibat hubungan antara hamba dengan Allah dirusak oleh makhluk. Dan adanya ego pribadi saat berhubungan dengan makhluk.

Saat engkau fokus kepada Allah dan tidak mengingat makhluk saat bermunajat kepada-Nya, dan engkau tinggalkan ego pribadi saat berhubungan dengan makhluk, maka kamu akan sukses..”

(Madarijussalikin 2/310)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Akibat Ghibah

Al Fudhail bin Iyadh rohimahullah berkata,

إِذَا ظَهَرَتِ الْغِيبَةُ، ارْتَفَعَتِ الْأُخُوَّةُ فِي اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، إِنَّمَا مَثَلُكُمْ فِي ذَلِكَ الزَّمَانِ مَثَلُ شَيْءٍ مَطْلِيٍّ بِالذَّهَبِ، أَوْ بِالْفِضَّةِ دَاخِلُهُ خَشَبٌ وَخَارِجُهُ حَسَنٌ

“Apabila telah tampak ghibah maka akan terangkatlah pertemanan karena Allah ‘Azza wajalla .. dan perumpamaan kalian di zaman tersebut bagaikan sesuatu yang disepuh dengan emas atau perak padahal ia adalah kayu luarnya terlihat bagus..”

(Attaubikh Wattanbih karya Abu Syaikh Al Ashbahani no 183)

Seperti halnya di zaman ini..
Sebagian orang terlihat anggun dengan kesolehannya..

Namun saat bersendirian dengan media sosial..
Ia suka meng-ghibah, mengadu domba dan mejelek jelekkan..
Bahkan dibumbui dengan kedustaan..

Allaahul musta’aan.. (*)

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

(*) artinya, ‘hanya Allah tempat berlindung’

Memberi Makan Untuk Buka Puasa Di Masjid

Syeikh Al-Utsaimin rohimahullah:

“Hendaknya orang yang mampu (secara finansial) untuk berusaha memberikan makanan berbuka kepada orang-orang yang berpuasa, BISA DI MASJID, bisa juga di tempat-tempat lain. Karena ‘orang memberikan makanan berbuka kepada orang yang berpuasa, dia akan mendapatkan seperti pahala orang yang berpuasa’.

Maka, barangsiapa memberikan makanan berbuka kepada saudara-saudaranya yang berpuasa, baginya seperti pahala puasa mereka.

Oleh karena itu, hendaknya orang yang Allah berikan kecukupan untuk memanfaatkan kesempatan ini agar mendapatkan pahala yang banyak..”

[48 tanya jawab tentang puasa, hal 20]

——

Kata-kata beliau “bisa di masjid”, menunjukkan bolehnya mengadakan buka bersama di masjid, dan ini yang lebih sesuai dalil, karena hadits Nabi yang menjelaskan keutamaan amalan ini tidak membatasi tempatnya. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh,
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Semua Sedang Berjalan

Kita semua sedang berjalan .. tidak ada yang bisa berhenti .. bedanya hanya pada kemana arahnya dan pada cepat lambatnya perjalanan kita.

=====

Ibnul Qoyyim -rohimahullah- mengatakan,

فالعبد سائر لا واقف، فإما إلى فوق، وإما إلى أسفل، إما إلى أمام وإما إلى وراء، وليس في الطبيعة ولا في الشريعة وقوف البتة، ما هو إلا مراحل تطوى أسرع طي إلى الجنة أو النار، فمسرع ومبطئ، ومتقدم ومتأخر، وليس في الطريق واقف البتة، وإنما يتخالفون في جهة المسير، وفي السرعة والبطء … فمن لم يتقدم إلى هذه بالأعمال الصالحة فهو متأخر إلى تلك بالأعمال السيئة

“Seorang hamba itu berjalan, bukan berhenti. Kemudian bisa jadi ia pergi ke atas (kemuliaan) atau ke bawah (kehinaan), bisa jadi ia pergi ke depan atau ke belakang.

Dalam kehidupan ini -begitu pula dalam syariat- tidak ada yang berhenti sama sekali.

Ia hanya fase-fase yang akan digulung dengan sangat cepat, bisa ke surga atau ke neraka. Ada yang sampai dengan cepat, ada yang lambat, ada yang ke depan, ada yang ke belakang, dan tidak ada yang berhenti di jalan ini sama sekali.

Mereka hanya berbeda dalam arah perjalanan itu dan dalam cepat dan lambatnya .. barangsiapa tidak maju ke surga dengan amal-amal saleh, berarti ia mundur ke neraka dengan amal-amal buruknya..”

[Madarijus Salikin 1/278]

——

Sungguh betapa lemahnya manusia .. ternyata untuk berhenti saja, mereka pun tidak mampu .. maka tunduk dan taatlah kepada Allah dan bersabarlah untuk menjalaninya, hingga kita mendapatkan surga-Nya, amin.


Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Keselamatan Di Akherat Tergantung Kepada Keselamatan Hati

Perjalanan di dunia ditempuh dengan menggunakan kendaraan..
Sedangkan perjalanan akherat ditempuh dengan menggunakan hati..

Allah Ta’ala berfirman,

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوْنَ ۙ (٨٨)

(yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna.. (Qs Asy-Syu’ara’ ayat 88)

اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍۗ (٨٩)

kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat. (Qs Asy-Syu’ara’ ayat 89)

Hati yang selamat dari kungkungan hawa nafsu dan syahwat..
Hati yang selalu mengagungkan Allah dan syariat-Nya..
Hati yang rindu untuk bermunajat dengan-Nya..
Hati yang merasa sedih karena memaksiati-Nya..
Itulah hati yang selamat..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

HADITS : Keutamaan Berwudhu

simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini :

KEUTAMAAN BERWUDHU

Dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

“Jika seorang hamba muslim atau mukmin berwudhu kemudian ia membasuh wajahnya, keluarlah dari wajahnya seluruh dosa karena penglihatan kedua matanya bersamaan dengan air atau akhir tetesan air.

Jika ia membasuh kedua tangannya, keluarlah dari kedua tangannya setiap dosa yang dilakukan kedua tangannya bersamaan dengan air atau tetesan air terakhir.

Jika ia membasuh kedua kakinya, maka keluarlah seluruh dosa dari langkah-langkah kakinya yang digunakan menuju maksiat bersamaan dengan air atau tetesan air terakhir, hingga ia keluar (dari berwudhu) dalam keadaan bersih dari dosa..”

(HR. Muslim no. 244)

Tanpa Hujjah

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

والجاهل الظالم يخالفك بلا حجة ويكفرك أو يبدعك بلا حجة، وذنبك: رغبتك عن طريقته الوخيمة وسيرته الذميمة،
فلا تغتر بكثرة هذا الضرب، فإن الآلاف المؤلفة منهم؛ لا يعدلون بشخص واحد من أهل العلم

“Orang yang bodoh lagi zholim menyelisihimu dengan tanpa hujjah. Mengkafirkanmu dan membid’ahkanmu pun dengan tanpa hujjah.

Kesalahanmu di matanya karena tidak mengikuti tata caranya yang berpenyakit.

Maka jangan tertipu dengan banyaknya orang jenis ini.
Karena ribuan orang seperti ini tidak bisa dibandingkan dengan satu orang ahli ilmu..”

(I’laamul Muwaqqi’in 1/308)

Orang yang tak memiliki ilmu..
Hanya mengandalkan pemikirannya saja..
Tak ada dasar dari kitabullah tidak pula dari hadits Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam..
Tidak pula dari para ulama yang terkemuka..

Jika tak sesuai dengan pendapatnya..
Ia tolak walaupun dalilnya jelas shohih..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Menjaga Hubungan Persahabatan Lama Adalah Termasuk Keimanan

‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha berkata,

“Datang seorang nenek kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam. Saat itu beliau di rumahku.

Maka Nabi bertanya, “Siapakah kamu..?”
Ia menjawab, “Namaku Jatsamah Al Muzaniyah..”

Beliau bersabda, “Tapi namamu adalah Hassanah Al Muzaniyah. Bagaimana keadaan dan kabar kalian..? Bagaimana kalian sepeninggal kami..?”

Ia menjawab, “Bikhoir demi ayah dan ibuku sebagai tebusannya wahai Rosulullah..”

Ketika ia keluar, aku berkata, “Wahai Rosulullah, mengapa engkau memperlakukan nenek itu dengan penuh kegembiraan..?”

Beliau bersabda, “Dahulu ia selalu mengunjungi kami di zaman Khodijah. Dan sesungguhnya husnul ‘ahdi termasuk keimanan..”

(HR. Al Hakim dan dishohihkan oleh Syaikh Al Albani dalam silsilah hadits shohih 1/424)

• Ibnul Atsir rohimahullah berkata,

“Makna hadits ini adalah bagus dalam menjaga persahabatan dan menjaga ikatan yang telah lama..”

• Imam Assakhowi rohimahullah berkata,

“Maknanya adalah menjaga hubungan yang telah lama dengan orang yang mencintaimu, atau mencintai orang yang mencintaimu..”

Demikianlah kecintaan Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam yang amat besar kepada Khodijah rodhiyallahu ‘anha..
Hingga beliau tak pernah melupakan teman dan sahabatnya..
Bahkan tetap menjaga hubungan dengan mereka..
Dan itu termasuk keimanan..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Menyambung Silaturrohim

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

ليس الواصل بالمكافئ، ولكن الواصل الذي إذا قطعت رحمه وصلها

“Bukanlah menyambung silaturrohim itu dengan membalas kunjungan. Akan tetapi menyambung silaturrohim itu adalah apabila diputuskan hubungan ia segera menyambungnya..”

(HR. Al Bukhari)

Menyambung hubungan yang diputus oleh saudara kita adalah berat..
Membutuhkan kesabaran dan dada yang lapang..

Seringnya kita adalah marah dan tak peduli lagi..
Namun keburukan itu hendaknya dibalas dengan kebaikan..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى