Category Archives: BBG Kajian

Tidak Mengapa

Rosulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لا بأسَ بالغِنَى لمنِ اتَّقى ، والصِّحَّةُ لمنِ اتَّقى خيرٌ منَ الغِنَى ، وطيبُ النَّفسِ منَ النَّعيمِ

“Tidak mengapa kekayaan itu bagi orang yang bertakwa. Dan kesehatan bagi orang yang bertakwa lebih baik dari kekayaan. Dan baiknya jiwa itu termasuk kenikmatan..”

(HR Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani)

Kesehatan bagi orang yang bertakwa adalah kekuatan untuk ibadah..
Tapi bagi orang yang tidak bertakwa..
Kesehatan menjadi petaka..
Karena ia gunakan kesehatan untuk memaksiati Allah..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Kehidupan Yang Baik

Allah Ta’ala berfirman,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barang siapa yang beramal sholeh baik ia laki-laki maupun perempuan maka sesungguhnya Kami akan menghidupkannya dengan kehidupan yang baik dan Kami akan memberi mereka balasan dengan yang lebih baik dari apa yang mereka amalkan..” (An Nahl : 97)

Kehidupan yang baik berupa kekayaan hati..
Selalu bersyukur dengan rezeki yang Allah berikan..

Kehidupan yang baik berupa kebahagiaan hati..
Karena hati tidak akan bahagia kecuali dengan mengenal Robbnya dan beribadah kepada-Nya..

Kehidupan yang baik berupa ketenangan batin dan kelapangan dada..
Selalu ridho dengan ketentuan sang pencipta..

Adakah kehidupan yang lebih baik dari itu..?!

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Waktu Terus Berputar

Waktu terus berputar..
Seperti mentari yang berlari menuju tempat terbenamnya..
Dan ajalpun semakin mendekat..
Namun perbekalan ini terasa amat sedikit..

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ : كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ : « أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا ». قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ : « أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ ».

Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, Aku pernah bersama Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, lalu seorang Anshor mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya, ‘Wahai Rosulullah, mukmin manakah yang paling baik..?’

Beliau bersabda, ‘Yang paling baik akhlaknya..’

Ia kembali bertanya, ‘Lalu mukmin manakah yang paling cerdas..?’

Beliau bersabda, ‘Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas..’

(HR. Ibnu Majah no. 4259. Hasan kata Syaikh Al Albani)

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Kekayaan Yang Hakiki

Seorang ahli hikmah berkata,

إذا طلبت العزَّ فاطلبه بالطاعة، وإذا طلبت الغنى فاطلبه بالقناعة، فمن أطاع الله عز وجل عن نصره، ومن لزم القناعة زال فقره.

– Apabila engkau mencari kemuliaan maka carilah dengan cara mentaati Allah, dan

– Jika engkau mencari kekayaan maka carilah dengan cara qona’ah (merasa puas/cukup dengan yang ada)

Karena siapa yang mentaati Allah ia pasti menjadi mulia dengan pertolongan-Nya.. dan siapa yang selalu qona’ah maka akan hilang kefakirannya..”

(Adabuddunya Waddiin – karya imam Al Mawardi hal 226)

Karena kekayaan yang hakiki adalah kekayaan hati..

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Menyukai Harta Untuk Beribadah Kepada Allah

Sa’id bin Musayyib rohimahullah -ulama tabi’in- berkata,

لا خير فيمن لا يحب المال:
‏١-يعبد به ربه،
‏٢-ويؤدي به أمانته،
‏٣-ويصون به نفسه،
‏٤-ويستغني به عن الخلق”.

“Tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak menyukai harta untuk :

1. Beribadah kepada Robbnya
2. Melaksanakan amanah
3. Menjaga kehormatan diri
4. Agar tidak minta minta kepada manusia

(Dikeluarkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman)

Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata mengomentari,

“Beliau mengabarkan bahwa kewajiban kewajiban ini berupa :

– beribadah kepada Allah,
– membayar hutang,
– menjaga kehormatan diri, dan
– tidak minta minta kepada manusia

tidak akan sempurna kecuali dengan memiliki harta. Sedangkan suatu kewajiban bila tidak sempurna kecuali dengan melakukan sesuatu, maka sesuatu itu menjadi wajib hukumnya.

Siapa yang tidak suka untuk melaksanakan kewajiban kewajiban ini dimana agama tidak tegak kecuali dengannya maka tidak ada kebaikan bagi orang tersebut..”

(Majmu Fatawa 29/280)

Mencintai harta itu baik jika tujuannya untuk beribadah kepada Allah Ta’ala, menjalankan amanah dan menjaga kehormatan diri..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Beribadah Kepada Allah Dalam Keadaan Senang Maupun Susah

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

فإن الله لم يبتل عبده ليهلكه، وإنما ابتلاه ليمتحن صبره وعبوديته

“Sesungguhnya Allah tidak menguji hamba-Nya untuk membinasakannya. Akan tetapi untuk menguji kesabaran dan penghambaannya..”

(Al Wabil Ash Shoyyib)

Karena ibadah kepada Allah bukan hanya saat senang saja..
Namun juga saat ditimpa kesusahan..
Agar tidak masuk dalam firman-Nya,

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَىٰ حَرْفٍ ۖ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ ۖ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انقَلَبَ عَلَىٰ وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

“Diantara manusia ada yang beribadah kepada Allah di tepi jurang. Jika ia memperoleh kesenangan tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa ujian berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan akherat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata..” (Al Hajj: 11)

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Empat Tonggak Kufur

Ibnul Qoyyim rohimahullah mengatakan bahwa tonggak kufur itu ada empat yaitu,

1. Sombong
2. Hasad (dengki)
3. Marah
4. Syahwat

– sombong mencegah untuk tunduk dan patuh
– hasad mencegah untuk menerima nasehat
– marah dan benci mencegah untuk bersikap adil, dan
– syahwat mencegah untuk bersungguh sungguh dalam ibadah

apabila hancur kesombongan maka ia akan mudah untuk tunduk..

apabila hancur hasad maka ia akan mudah menerima nasehat..

apabila hancur marah dan benci maka akan mudah bersikap adil dan tawadhu..

dan apabila hancur tonggak syahwat maka akan mudah bersabar dan ibadah..

(Al Fawaid hal. 157)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Lisan Yang Istiqomah

Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ وَلَا يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ وَلَا يَدْخُلُ رَجُلٌ الْجَنَّةَ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ ‏ ‏بَوَائِقَهُ

“Iman tidak dapat istiqomah hingga hati istiqomah.. dan hati tidak akan istiqomah hingga lisan istiqomah.. dan seseorang tidak masuk surga hingga tetangganya aman dari gangguannya..”

(HR Ahmad dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani)

Istiqomah hati itu tak mudah..
Karena hati mudah berbolak balik..
Mudah dipengaruhi oleh ucapan dan perbuatan..

Istiqomah yang hakiki itu adalah istiqomah hati..
Dan hati tidak akan istiqomah bila lisan kita bengkok..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Karena Semua Adalah Milik Allah Semata

Allah Ta’ala berfirman:

قُلِ ادْعُوا الَّذِيْنَ زَعَمْتُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِۚ لَا يَمْلِكُوْنَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ فِى السَّمٰوٰتِ وَلَا فِى الْاَرْضِ وَمَا لَهُمْ فِيْهِمَا مِنْ شِرْكٍ وَّمَا لَهٗ مِنْهُمْ مِّنْ ظَهِيْرٍ (٢٢)

“Katakanlah (Muhammad), ‘Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah..! Mereka tidak memiliki seberat zarrah pun di langit dan di bumi, dan mereka sama sekali tidak mempunyai peran serta dalam (penciptaan) langit dan bumi dan tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya

(Qs. Saba’ ayat 22)

وَلَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا لِمَنْ اَذِنَ له

Dan syafa’at (pertolongan) di sisi-Nya hanya berguna bagi orang yang telah diizinkan-Nya (memperoleh syafa’at itu)..”

(Qs. Saba’ ayat 23)

Renungkanlah ayat ini..
Allah meniadakan semua perkara yang menjadi sebab dipertuhankan selain Allah..

Ia tidak memiliki sedikitpun di langit dan di bumi..
Karena semua adalah milik Allah semata..
Ia tidak berperan serta dalam menciptakan alam semesta..
Tidak pula dapat membantu..

Sisa yang terakhir yaitu syafa’at..
Dan ternyata syafa’at siapapun tidak akan diterima tanpa izin dari Allah..

Maka semua selain Allah tak berhak dipertuhankan..
Semua yang menyembah selain Allah adalah sesembahan yang batil..

Laa ilaaha illallah..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Sayang Untuk Disia-Siakan

Al-‘Allaamah Ibnu Jasir – ghofarallahu lahu- berkata,

” روى صاحب مثير الغرام الساكن في كتابه، عن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : (( صلاة في مسجدي هذا أفضل من ألف صلاة فيما سواه، إلا المسجد الحرام، وصلاة في المسجد الحرام أفضل من مائة ألف صلاة )) … قلت: حسبنا ذلك فوجدنا صلاة واحدة- بالمسجد الحرام- عن ستٍّ وخمسين سنة وستة أشهر إلا يومًا واحدًا، وحسبنا صلاة يوم وليلة فوجدناها عن مائتي سنة واثنتين وثمانين سنة وستة أشهر إلا خمسة أيّام، وذلك على رواية جابر بن عبد الله … فحُقّ لمثل هذا الحرام الشريف أن تُشدَّ إليه الرحال، وتتلف فيه أنفس الرجال، فضلًا عن الأموال “.*

Penulis kitab mutsirul ghoram as-sakin dalam kitabnya telah membawakan riwayat dari Jabir bin Abdillah rodhiyallahu ‘anhumaa berkata,

Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘sholat di Masjidku ini lebih utama seribu kali lipat daripada di selainnya, kecuali Al-Masjidil Haram, dan sholat di Al-Masjidil Haram lebih utama seratus ribu kali lipat..’

Aku berkata, ‘kami menghitung itu dan kami dapati :
● satu kali sholat -di Al Masjidil Haram- (sama) dengan sholat selama 56 tahun, 6 bulan kurang satu hari,
● dan kami hitung sholat sehari semalam kami dapati sebanding 282 tahun, 6 bulan kurang lima hari..

dan hal itu menurut riwayat Jabir bin Abdillah, maka benarlah untuk semisal Al Masjidil Haram yang mulia ini dilakukan safar menuju kepadanya, dihabiskan umur orang apalagi harta benda..”

(Mufidul Anam, hal: 214-215)

Betapa besar pahala yang Allah siapkan dan berikan bagi hamba Allah yang beriman dari sholat di tempat yang suci dan mulia ini, dan sungguh merugi orang yang menyia-nyiakan diri, waktu dan hartanya..

Berlomba-lombalah dalam kebaikan…

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, حفظه الله تعالى