Category Archives: BBG Kajian

Tentang Pertemanan

Nasehat Imam Ibnu Hibban rohimahullah tentang pertemanan

العاقل يتفقَّد ترك الجفاء مع الإخوان، ويراعي محوها إن بدت منه، ولا يجب أن يستضعف الجفوة اليسيرة؛ لأنَّ من استصغر الصغير يوشك أن يجمع إليه صغيرًا، فإذا الصغير كبير، بل يبلغ مجهوده في محوها؛ لأنه لا خير في الصِّدق إلا مع الوفاء، كما لا خير في الفقه إلا مع الورع، وإنَّ من أخرق الخرق التماس المرء الإخوان بغير وفاء، وطلب الأجر بالرياء، ولا شيء أضيع من مَوَدَّة تُمنح من لا وفاء له

“Orang yang berakal itu berusaha untuk tidak bersikap kasar kepada teman-temannya, dan berusaha menghapus kesalahan temannya jika ada.

Ia tidak menganggap remeh sikap kasar (kepada temannya) sekecil apapun. Karena orang yang menganggap remeh perkara yang kecil biasanya akan melakukan perbuatan lain yang dianggap kecil, sehingga yang kecil itu lama-lama menjadi besar.

Namun ia berusaha sekuat tenaga untuk menghapusnya.
Karena tidak ada kebaikan pada sikap jujur jika tidak disertai sikap wafa (setia). Sebagaimana tidak ada kebaikan pada fiqih bila tidak disertai oleh sikap wara’.

Dan kebodohan yang paling bodoh adalah seseorang mencari teman tapi ia tidak bersikap wafa, dan mencari pahala tapi dengan cara riya, dan tidak ada sesuatu yang paling sia-sia dari memberikan cinta kepada orang yang tidak memiliki sifat wafa..”

(Roudhotul ‘Uqola hal. 89)

Pengen berteman tapi gak boleh melihat kesalahan dan kekurangan..
Baper sedikit langsung keluar grup..
Maunya orang lain mengerti dirinya..
Tapi tak mau berusaha mengerti keadaan orang lain..
Mudah suudzan dan mencari kesalahan..

Kira kira kalau punya teman kayak gini bagaimana sikapmu..?

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

MUTIARA SALAF : Semua Tidak Akan Aman Dari Kematian

Suatu hari Abul Atahiyah sang pujangga masuk kepada Khalifah Harun Ar Rasyid.. lalu sang Khalifah meminta nasehat berupa bait-bait syair..

Abul Atahiyah berkata,

لَا تأمن الْمَوْت فِي طرف وَلَا نفس … وَإِن تسترت بالحجاب والحرس)
(وَاعْلَم بِأَن سِهَام الْمَوْت قاصدة … لكل مدرع منا ومترس)
(مَا بَال دينك ترْضى أَن تدنسه … وثوبك الدَّهْر مغسول من الدنس)
(ترجو النجَاة وَلم تسلك مسالكها … إِن السَّفِينَة لَا تجْرِي على اليبس

“Engkau tidak aman dari kematian..
Walaupun berlindung di balik hijab..
Panah kematian pastilah datang..
Kepada semua yang memakai perisai..

Akankah engkau ridho mengotori agamamu..
Sementara bajumu senantiasa dibersihkan..

Kamu berharap keselamatan..
Tapi tak mau menempuh jalannya..
Sesungguhnya kapal itu tak mungkin berlayar di atas daratan..”

(Bustanul Wa’idzin 1/282 karya Ibnul Jauzi)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Syarah Kitab Tauhid : 184 – 185 – 186

Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini :

184.

185.

186.

ARTIKEL TERKAIT
Syarah Kitab Tauhid : KUMPULAN ARTIKEL

Tanda Orang Yang Ikhlas

Ibrahim bin Adham rohimahullah berkata, “Belum jujur kepada Allah orang yang masih mencintai ketenaran..”

Lalu imam Adz Dzahabi rohimahullah memberi komentar yang indah,

عَلاَمَة ُالمُخلِصِ الذي قد يُحِبُّ شُهرَةً،ولا يشعرُ بها، أنّه إذا عُوتب في ذلك لا يَحْرَدُ(أي: لا يغضب)ولا يُبَرِّئُ نفسَهُ، بل يعترف ويقول: رحمَ الله من أهدى إليَّ عُيوبي، ولا يَكُنْ معْجباً بنفسِه؛ لا يشعرُ بعيوبها، بل لا يشعر أنّه لا يشعر، فإنّ هذا داءٌ مزمنٌ.

“Tanda orang yang ikhlas yang terkadang tak terasa menyukai ketenaran adalah jika ia diingatkan maka ia tidak marah dan tidak juga mencitrakan dirinya. Justru ia mengakui dan berkata, “Semoga Allah merahmati orang yang mengingatkan aib-aibku..”

Ia pun tidak merasa ujub dengan dirinya dengan cara tidak merasa punya aib atau bahkan tidak merasa jika ia tidak merasa. Inilah penyakit kronis..”

(Siyar A’lam Nubala 7/393)

Karena ia mencintai kebenaran..
Maka ia suka untuk diluruskan kesalahannya..
Dan dibimbing menuju jalan kebenaran..

Namun itu tak mudah..
Harus membuang ego pribadi demi mencari keridhoan Allah..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Menunjukkan Orang Lain Kepada Kebaikan

جَاءَ رَجُلٌ إلى النبيِّ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ، فَقالَ: إنِّي أُبْدِعَ بي فَاحْمِلْنِي، فَقالَ: ما عِندِي، فَقالَ رَجُلٌ: يا رَسولَ اللهِ، أَنَا أَدُلُّهُ علَى مَن يَحْمِلُهُ، فَقالَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ: مَن دَلَّ علَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ.

Ada seorang laki-laki datang kepada Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “sesungguhnya kendaraanku mati, bisakah engkau membawaku..?”

Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “aku tidak punya..”

Lalu ada seorang laki-laki berkata, “wahai Rosulullah, aku akan menunjukkannya kepada orang yang bisa membawanya..”

Maka Rosulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “siapa yang menunjukkan kepada kebaikan maka ia mendapat pahala yang sama dengan yang melakukannya..” (HR Muslim)

Saat kita tak punya..
Lalu ada saudara kita yang membutuhkan..
Maka kita hubungi teman kita yang punya kelebihan harta agar membantu dia..
Maka kita telah menunjukkannya kepada kebaikan..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Kapankah..?

Kapan boleh suka kepada orang KAFIR..?

Jawaban:

Suka kepada orang kafir ada tiga keadaan :

1. Karena kekufurannya .. ini jelas haram, bahkan termasuk kekufuran.

2. Karena sisi duniawi secara umum .. ini juga haram, tapi tidak sampai derajat kekufuran.

3. Karena jasa yang dia berikan kepada kita, atau karena hubungan nikah, atau kekerabatan .. ini dibolehkan, dan termasuk keringanan dalam syariat.

[Faidah dari Syeikh Shalih Alu Syaikh dalam kitab beliau Ithafus Sa-il Bima Fit Thahawiyah Minal Masa-il].

NB:

– Harus dibedakan antara suka permainan, dengan suka pemain yang kafir.. yang pertama boleh, yang kedua tidak boleh.

– Harus dibedakan juga antara berbuat baik kepada orang kafir dengan suka kepada orang kafir.. yang pertama hukum asalnya boleh, yang kedua hukum asalnya tidak boleh.

Kalau mengidolakan pemain kafir dari permainan sepakbola, bulu tangkis, tenis meja, dan yang semisalnya, maka masuk yang mana..?

Silahkan dipahami dengan baik, insyaAllah bisa menjawab sendiri.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Kupuji Allah Karena EMPAT

Dari Asy Sya’bi bahwa Syuraih, rohimahumallah, berkata,

“Sesungguhnya aku pernah ditimpa musibah..
Maka aku memuji Allah karena EMPAT perkara..

– Kupuji Allah karena tidak diberikan musibah yang lebih berat dari itu..

– Kupuji Allah karena aku diberikan kesabaran..

– Kupuji Allah karena telah memberikanku taufiq untuk istirja’.. sehingga aku dapat berharap pahala..

– Kupuji Allah karena musibah itu tidak menimpa agamaku..”

(Siyar A’laam An Nubalaa 4/105)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Syarah Kitab Tauhid : 181 – 182 – 183

Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini :

181.

182.

183.

 

.ARTIKEL TERKAIT
Syarah Kitab Tauhid : KUMPULAN ARTIKEL

Tak Terasa

Terkadang tak terasa bahwa sebagian hidayah telah Allah ambil dari kita..

Kekhusyu’an yang telah sirna..
Tilawah qur’an yang tak lagi dilantunkan..
Hati yang tak lagi merasa nikmat saat mengingat Allah..

Anehnya.. kita biasa biasa saja..
Tak sedih dan tidak juga merasa kehilangan..

Namun saat kehilangan sebagian dunia..
Kita stress, sedih dan galau..
Bahkan terkadang menyalahkan ketentuan sang pencipta..

Mungkin dunia lebih besar di hati kita..
Padahal ia tak lebih berharga dari bangkai anak kambing..

Rosulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

من سرَّتْهُ حسنتُهُ وساءتْهُ سيِّئتُهُ فهو مؤمنٌ

“Siapa yang merasa gembira dengan amal kebaikannya dan merasa susah dengan amal keburukannya maka ia adalah mukmin..” (HR Ahmad dan Attirmidzi)

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Kawatir Penyakit Munafik

Syaikh Shalih Fauzan hafizhohullah berkata,

فكون الإنسان يخشى على دينه، ويخشى من النفاق، هذا دليل على كمال إيمانه، وكونه يأمن، هذا دليل على نقص إيمانه، أو عدم إيمانه.

“Seorang insan yang mengkhawatirkan (keselamatan) agamanya dan khawatir terkena penyakit munafik. Ini menunjukkan kepada kesempurnaan imannya. Dan merasa aman darinya menunjukkan kepada kekurangan iman atau bahkan tidak ada iman..”

(Syarah Kitab Iman hal. 172)

Karena mukmin itu sadar..
Bahwa yang bermanfaat setelah kematiannya adalah agama dan keimanannya..
Bukan harta dan kedudukan dunia..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى