Simak penjelasan berikut oleh Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى
94.
95.
96.
.
ARTIKEL TERKAIT
Syarah Kitab Tauhid : 97 – 98 – 99
Syarah Kitab Tauhid : KUMPULAN ARTIKEL
Simak penjelasan berikut oleh Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى
94.
95.
96.
.
ARTIKEL TERKAIT
Syarah Kitab Tauhid : 97 – 98 – 99
Syarah Kitab Tauhid : KUMPULAN ARTIKEL
Allah Ta’ala berfirman:
يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُن مَّعَكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ وَلَـٰكِنَّكُمْ فَتَنتُمْ أَنفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ حَتَّىٰ جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ وَغَرَّكُم بِاللَّهِ الْغَرُورُ’
“Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin), “Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kalian..?” Mereka menjawab: “Benar, tetapi kalian menfitnah diri kalian sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kalian ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kalian telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang amat penipu..” (Al-Hadid – 14)
Ibnu Katsir rohimahullah berkata,
“Sebagian salaf menafsirkan makna memfitnah diri kalian sendiri yaitu memfitnah diri dengan kelezatan dunia, maksiat dan syahwat..” (Tafsir Ibnu Katsir)
Namun kita lebih senang memfitnah diri kita sendiri..
Dengan kenikmatan syahwat dunia..
Sehingga menunda nunda taubat..
Membuat jiwa lebih tentram dengan kelezatan syahwat dibanding kelezatan taat..
Maka jagalah diri kita dari api neraka..
Jangan campakkan ia dalam fitnah dunia..
Penulis,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
Sungguh kagum melihat seorang yang banyak kebaikannya dan jasanya untuk umat namun ia tak pernah mengungkitnya di hadapan manusia apalagi di sosial media..
Jadi ingat perkataan Ibnul Qoyyim rohimahullah, beliau berkata:
فإن الله إذا أراد بعبد خيراً سلبه رؤية أعماله الحسنة من قلبه والإخبار بها من لسانه ، وشغله برؤية ذنبه ، فلا يزال نصب عينيه حتى يدخل الجنة ، فإن ما تقبل من الأعمال
رفع من القلب رؤيته ومن اللسان ذكره .
“Sesungguhnya Allah apabila menginginkan kebaikan kepada seorang hamba, dijadikan hatinya tak mengingat amal amal kebaikannya, dan dijadikan lisannya tak ingin mengabarkan amalnya kepada manusia. Allah jadikan ia sibuk mengingat dosa dosanya..
Senantiasa dosa itu berada di pelupuk matanya hingga ia masuk surga. Karena tanda amal diterima itu adalah menjadikan hati tak mengingatnya dan lisan tak mengabarkannya..”
(Lihat kitab Thoriqul Hijrotain hal. 169-172)
Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL
● Imam an-Nawawi rohimahullah berkata :
“Para sahabat kami dan lainnya berpendapat sunnah puasa ‘Asyuro (hari ke 10 Al Muharrom) dan puasa Tasu’a (hari ke 9 Al Muharrom)..”
(lihat al-Majmu’ VI/383).
Adapun untuk hadits “Berpuasalah sehari sebelumnya (tanggal 9) dan sehari sesudahnya (tanggal 11)..” ADALAH HADITS YANG DHO’IIF karena ada rowi yang bernama Dawud bin Ali.
● Ibnu Hibban rohimahullah berkata : “Dia sering keliru..”
At-Tirmidzi rohimahullah meriwayatkan 1 hadits darinya dan ia menjadikan haditsnya hadits yang ghorib.
● Imam adz-Dzahabi rohimahullah berkata : “Haditsnya tidak bisa dijadikan hujjah..” dan cacat yang lain yaitu adanya rowi yang bernama Muhammad bin Abdurrohman bin Ali Ya’la.
● Imam Ahmad rohimahullah berkata : “Dia perowi yang buruk hafalannya dan haditsnya muththorib (tidak menentu pada matannya).,” begitu pula perkataan Syu’bah, Ibnu Hibban dll.
Hadits ini telah dianggap dho’iif oleh Imam al-Albani rohimahullah di dalam kitabnya Dho’iiful Jaami’ ash-Shoghiir no.3506, Syaikh Syu’aib al-Arnauth dalam Ta’liq Musnad Imam Ahmad IV/52, al-Haitsami dalam Majma’ az-Zawaaid III/191, asy-Syaukani dalam Nailul Author IV/330, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqolaani dll.
👉 Oleh karena itu, maka TIDAK ADA PENAMBAHAN PUASA 11 AL MUHARROM SEBAGAI RANGKAIAN PUASA ‘ASYURO, tetapi cukup hanya tanggal 9 dan 10 Al Muharrom saja sebagaimana pendapat mayoritas ulama.
👉 Namun lemahnya hadis yang menganjurkan puasa tanggal 11 Al Muharrom, tidaklah menunjukkan bahwa puasa di tanggal ini hukumnya terlarang. Puasa di bulan Al Muharrom secara umum sangat dianjurkan, jadi bila seandainya ingin puasa juga tanggal 11 Al Muharrom, MAKA NIATNYA UNTUK PUASA AL MUHARROM SAJA SECARA UMUM..’ Wallahu a’lam
Definisi para Ulama tentang Hadits munkar :
PERTAMA : yaitu sebuah hadits dengan perowi tunggal yang banyak kesalahan atau kelalaiannya, atau nampak kefasiqannya atau lemah ke-tsiqahannya.
KEDUA : yaitu sebuah hadits yang diriwayatkan oleh perowi yang lemah dan bertentangan dengan riwayat perowi yang tsiqah (terpercaya).
اَلَمْ تَكُنْ اٰيٰتِيْ تُتْلٰى عَلَيْكُمْ فَكُنْتُمْ بِهَا تُكَذِّبُوْنَ (١٠٥)
“Bukankah ayat-ayat-Ku telah dibacakan kepadamu, tetapi kamu selalu mendustakannya..?”
(Q.S. Al-Mu’minun ayat 105)
قَالُوْا رَبَّنَا غَلَبَتْ عَلَيْنَا شِقْوَتُنَا وَكُنَّا قَوْمًا ضَاۤلِّيْنَ (١٠٦)
“Mereka berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan kami adalah orang-orang yang sesat..”
(Q.S. Al-Mu’minun ayat 106)
رَبَّنَآ اَخْرِجْنَا مِنْهَا فَاِنْ عُدْنَا فَاِنَّا ظٰلِمُوْنَ (١٠٧)
“Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami darinya (kembalikanlah kami ke dunia), jika kami masih juga kembali (kepada kekafiran), sungguh, kami adalah orang-orang yang zholim..”
(Q.S. Al-Mu’minun ayat 107)
قَالَ اخْسَـُٔوْا فِيْهَا وَلَا تُكَلِّمُوْنِ (١٠٨)
“Dia (Allah) berfirman, “Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku..”
(Q.S. Al-Mu’minun ayat 108)
اِنَّهٗ كَانَ فَرِيْقٌ مِّنْ عِبَادِيْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَآ اٰمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَاَنْتَ خَيْرُ الرّٰحِمِيْنَۚ (١٠٩)
“Sesungguhnya ada segolongan dari hamba-hamba-Ku berdoa, “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat, Engkau adalah pemberi rahmat yang terbaik..”
(Q.S. Al-Mu’minun ayat 109)
فَاتَّخَذْتُمُوْهُمْ سِخْرِيًّا حَتّٰٓى اَنْسَوْكُمْ ذِكْرِيْ وَكُنْتُمْ مِّنْهُمْ تَضْحَكُوْنَ (١١٠)
“Lalu kamu jadikan mereka buah ejekan, sehingga kamu lupa mengingat Aku, dan kamu (selalu) menertawakan mereka..”
(Q.S. Al-Mu’minun ayat 110)
اِنِّيْ جَزَيْتُهُمُ الْيَوْمَ بِمَا صَبَرُوْٓاۙ اَنَّهُمْ هُمُ الْفَاۤىِٕزُوْنَ (١١١)
“sesungguhnya pada hari ini Aku memberi balasan kepada mereka, karena kesabaran mereka; sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan..”
(Q.S. Al-Mu’minun ayat 111)
قٰلَ كَمْ لَبِثْتُمْ فِى الْاَرْضِ عَدَدَ سِنِيْنَ (١١٢)
“Dia (Allah) berfirman, “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi..?”
(Q.S. Al-Mu’minun ayat 112)
قَالُوْا لَبِثْنَا يَوْمًا اَوْ بَعْضَ يَوْمٍ فَسْـَٔلِ الْعَاۤدِّيْنَ (١١٣)
“Mereka menjawab, “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada mereka yang menghitung..”
(Q.S. Al-Mu’minun ayat 113)
قٰلَ اِنْ لَّبِثْتُمْ اِلَّا قَلِيْلًا لَّوْ اَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ (١١٤)
“Dia (Allah) berfirman, “Kamu tinggal (di bumi) hanya sebentar saja, jika kamu benar-benar mengetahui..”
(Q.S. Al-Mu’minun ayat 114)
اَفَحَسِبْتُمْ اَنَّمَا خَلَقْنٰكُمْ عَبَثًا وَّاَنَّكُمْ اِلَيْنَا لَا تُرْجَعُوْنَ (١١٥)
“Maka apakah kamu mengira, bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami..?”
(Q.S. Al-Mu’minun ayat 115)
فَتَعٰلَى اللّٰهُ الْمَلِكُ الْحَقُّۚ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيْمِ (١١٦)
“Maka Mahatinggi Allah, Raja yang sebenarnya; tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Tuhan (yang memiliki) ‘Arsy yang mulia..”
(Q.S. Al-Mu’minun ayat 116)
وَمَنْ يَّدْعُ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهٗ بِهٖۙ فَاِنَّمَا حِسَابُهٗ عِنْدَ رَبِّهٖۗ اِنَّهٗ لَا يُفْلِحُ الْكٰفِرُوْنَ (١١٧)
“Dan barang siapa menyembah tuhan yang lain selain Allah, padahal tidak ada suatu bukti pun baginya tentang itu, maka perhitungannya hanya pada Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak akan beruntung..”
(Q.S. Al-Mu’minun ayat 117)
Di akhir surat Allah menyuruh rosul-Nya untuk senantiasa memohon ampunan dan rahmat-Nya..
وَقُلْ رَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرّٰحِمِيْنَ ࣖ (١١٨)
“Dan katakanlah (Muhammad), “Ya Tuhanku, berilah ampunan dan (berilah) rahmat, Engkaulah pemberi rahmat yang terbaik..”
(Q.S. Al-Mu’minun ayat 118)
Demikian pula kita hendaknya memperbanyak istighfar dan memohon rahmat-Nya…
Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
Sebagian orang memandang bahwa bila ikhtilafnya mu’tabar, berarti boleh dilakukan semua.
=====
Misalnya, “Qunut Subuh”, ketika dikatakan ikhtilafnya mu’tabar, maka kita boleh melakukan dua-duanya, yakni: boleh qunut boleh tidak, meski menurut kita pendapat yang tidak membolehkannya lebih kuat.
Sungguh ini kesalahan dalam memahami konsekuensi dari “ikhtilaf yang mu’tabar” .. kesalahan dalam hal ini akan menyeret kita kepada sikap plin-plan dan tidak konsisten dalam berpendapat, misalnya:
– Menyentuh wanita yang bukan mahram, apakah membatalkan wudhu atau tidak..?
– Membaca alfatihah bagi makmum ketika imamnya mengeraskan bacaannya, apakah wajib ataukah tidak..?
– Nikah tanpa wali, apakah boleh atau tidak..?
– Isbal, apakah boleh atau tidak..?
– Shalat berjama’ah, apakah wajib atau tidak..?
Ikhtilaf dalam masalah-masalah ini adalah mu’tabar, apakah itu berarti kita boleh melakukan dua-duanya..? Bayangkan bahayanya kesalahan pemahaman ini..!
Padahal ikhtilaf yang mu’tabar dalam fikih itu banyak .. begitu pula dalam masalah akidah.
● Yang benar bahwa seseorang tetap tidak boleh melakukan sesuatu yang bertentangan dengan dalil dalam pandangannya, meskipun ikhtilafnya mu’tabar.
● Kenyataan bahwa itu ikhtilaf yang mu’tabar, hanya mengharuskan kita untuk toleran di dalamnya dan tidak merendahkan pendapat lain .. bukan membenarkannya dan menjadikan kita boleh melakukan dua-duanya.
Karena bila ikhtilafnya bertentangan dan saling menafikan, tidak mungkin dua-duanya benar .. dan bila tidak mungkin dua-duanya benar, maka berarti salah satunya salah, dan kita tidak boleh melakukan sesuatu yang menurut kita salah.
Yang dibolehkan adalah melakukan salah satunya saja yang menurut dia dalilnya lebih kuat, wallahu a’lam.
Demikian, semoga bermanfaat dan Allah berkahi, amin.
Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى
Simak penjelasan berikut oleh Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى
91.
92.
93.
.
ARTIKEL TERKAIT
Syarah Kitab Tauhid : 94 – 95 – 96
Syarah Kitab Tauhid : KUMPULAN ARTIKEL
Al Hafidz Ibnu Rojab rohimahullah berkata,
فمن عجـز عن مـسابقة المـحبين
فـي مضـمارهم ؛
فلا يعجز عن مسـابقة
المذنبيــن في اسـتغفارهــم
“Siapa yang merasa lemah untuk berlomba dengan para pecinta akherat dalam amal sholeh, maka janganlah ia lemah untuk berlomba dengan para pendosa dalam memohon ampunan..”
(Lathoiful Ma’arif hal. 45)
Karena hidup di dunia ini adalah perlombaan..
Dan perlombaan terbaik adalah berlomba untuk meraih kenikmatan yang abadi..
Bukan untuk meraih kenikmatan yang fana..
Penulis,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL
Imam Ahmad rohimahullah meriwayatkan dari Muadz bin Anas rodhiyallahu ‘anhu,
(( أَنَّ رَجُلًا سَأَلَهُ فَقَالَ أَيُّ الْمُجَاهِدِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا يَا رَسُولُ اللَّه ؟ قَالَ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ تَعَالَى ذِكْرًا ، قَالَ فَأَيُّ الصَّائِمِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا ؟ قَالَ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا ، ثُمَّ ذَكَرَ لَهُ الصَّلَاةَ وَالزَّكَاةَ وَالْحَجَّ وَالصَّدَقَةَ كُلُّ ذَلِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا ، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لِعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : ذَهَبَ الذَّاكِرُونَ بِكُلِّ خَيْرٍ !! ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَجَلْ )) .
Ada seseorang bertanya, “Siapakah mujahid yang paling besar pahalanya wahai Rosulullah..?” Beliau bersabda, “Yang paling banyak mengingat Allah padanya..”
Ia berkata, “Siapakah orang berpuasa yang paling besar pahalanya..?” Beliau bersabda, “Yaitu yang paling banyak mengingat Allah padanya..”
Lalu ia menyebut sholat, zakat, hajji dan sedekah. Semua itu dijawab oleh Rosulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam, “Yang paling banyak mengingat Allah padanya..”
Abu Bakar berkata kepada Umar, “Orang yang banyak berdzikir telah pergi membawa segala kebaikan..” Maka Rosulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Benar..”
Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,
(( أن أفضل أهل كلِّ عملٍ أكثرهم فيه ذكراً لله عز وجل ؛ فأفضلُ الصوَّام أكثرهم ذكراً لله عز وجل في صومهم ، وأفضل المتصدقين أكثرهم ذكراً لله عز وجل ، وأفضل الحجاج أكثرهم ذكراً لله عز وجل، وهكذا سائر الأعمال))
“Sesungguhnya orang yang paling utama dari orang yang beramal adalah yang paling banyak mengingat Allah ‘Azza wajalla padanya.
Orang yang berpuasa yang paling utama adalah yang paling banyak mengingat Allah ‘Azza wajalla saat puasanya.
Orang yang yang bersedekah yang paling utama adalah yang paling banyak mengingat Allah ‘Azza wajalla.. demikian pula orang yang berhajji dan semua amal sholih..”
(Al Wabil Ash Shoyyib)
Dari www.al-badr.net
Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, حفظه الله تعالى
ARTIKEL TERKAIT
Kumpulan HADITS
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL
Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini :
88.
89.
90.
.
ARTIKEL TERKAIT
Syarah Kitab Tauhid : 91 – 92 – 93
Syarah Kitab Tauhid : KUMPULAN ARTIKEL