Category Archives: BBG Kajian

Adab Ziarah Kubur

UST. FUAD HAMZAH BARABA’, LC

Di antara adab² ziarah kubur yg perlu diperhatikan adalah sbb:

1. Mengucapkan salam ktika masuk pekuburan,

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ لَلاَحِقُوْنَ نَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ

“Smg kesejahteraan utkmu wahai penduduk kampung (Barzakh) dr kaum mu’minin & muslimin & sesungguhnya kami Insya Allôh akan menyusul kalian, kami memohon kpd Allôh keselamatan bagi kami & bagi kalian” (HR.Muslim)

2. Tdk memakai alas kaki (sandal/sepatu) ktika memasuki pekuburan.

Nabi Shollallôhu ‘Alayhi Wasallam ketika melihat seseorg sdg berjalan di antara kuburan dg memakai sandal, bersabda,
“Wahai pemakai sandal, celakalah engkau! Lepaskan sandalmu!”
Lalu org trsbt melihat (kpd org yg meneriakinya). Tatkala ia mengenali (kalau org itu adlh) Nabi Shollallôhu ‘Alayhi Wasallam ia melepas kedua sandalnya & melemparnya”
(HR. Abu dawud, Ibnu Majah dll)

3. Tdk duduk di atas kuburan & menginjaknya.
Nabi Shollallôhu ‘Alayhi Wasallam bersabda; “Sungguh jika salah seorg dari kalian duduk di atas bara api shg membakar bajunya & menembus kulitnya, itu lebih baik drpd duduk di atas kubur” (HR. Muslim)

5. Mendo’akan ahli kubur jika dia seorg muslim & boléh mengangkat tangan ketika mendo’akan mayit dgn menghadap ke kiblat. (HR. Ahmad).

6. Tdk mengucapkan al-hujr
(ucapan yg bathil).

7. Diperboléhkan menangis yg wajar tetapi tdk boléh meratapi mayit dgn histeris, menampar pipi, merobék kerah & sejenisnya.

8. Tdk boléh membaca al-Qur’an di kuburan, baik hanya sekedar membaca di sisi kubur atau utk dihadiahkan kpd si mayit.

Nabi Shollallôhu ‘Alayhi Wasallam bersabda, “Jgnlah kalian jadikan rumah2 kalian sbg kuburan, sesungguhnya syaython akan lari dari rumah yg dibacakan padanya suroh alBaqoroh”. (HR. Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa kuburan bukanlah tempat utk membaca al-Qur’an & sbaliknya rumah yg selayaknya dibacakan di dlmnya al-Qur’an.

Kewajiban Ittiba’ Seperti Dalam Mengusaf Khuff

Ust. Badrusalam Lc

Hadits 54.
Dari Ali radliyallahu ‘anhu berkata: “Kalaulah agama ini berdasarkan ro’yu, tentulah bagian bawah khuff lebih layak diusap dari pada bagian atasnya. Sesungguhnya aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengusap punggung khuffnya”.
(HR Abu Dawud dengan sanad yang hasan).

Fawaid hadits:
1. Wajibnya mengusap bagian punggung khuff saja, dan tidak disyari’atkan mengusap bagian lainnya dari khuff.

2. Agama islam dibangun di atas wahyu dari Allah dan yang berasal dari RasulNya. Bukan berdasarkan ro’yu semata, maka kewajiban kita adalah ittiba’ bukan berbuat bid’ah.

3. Akal yang sehat tidak akan bertentangan dengan dalil yang shahih. Bila terjadi pertentangan maka yang dituduh adalah akal bukan dalil yang shahih.

4. Islam tidak menghilangkan fungsi akal sama sekali, namun akal digunakan untuk memahami wahyu (al qur’an dan hadits), bukan untuk menentang wahyu.

Wallahu a’lam

Hadits 54. Kewajiban ittiba’ seperti dalam mengusaf khuff

Hal-Hal Yang Belum Banyak Diketahui Ketika Mengurus Jenazah

1. Tidak ada sunnah menyedekapkan tangan jenazah.

2. Tidak ada sunnah membuka wajah mayit ketika dikuburkan.

3. Dalam mengantar jenazah, tidak boleh orang yang berkendara berada di depan mayit.

4. Duduk di atas kuburan itu dosa besar.

5. Tidak harus membuka tali pocong.

6. Ketika di kuburan, tidak boleh duduk sebelum mayat diletakkan.

7. Yang berada di liang adalah orang yang tidak jima’ pada malam harinya.

8. Tidak ada dalil untuk memimpin do’a setelah mayit dikuburkan, yang ada ialah doa sendiri2.

9. Disunnahkan bagi setiap hadirin untuk melemparkan 3 gumpalan tanah ke arah kepala mayat.

10. Sunnah menyalatkan jenazah di tanah lapang.

11.Sunnahnya tidak mengangkat tangan dalam takbir ketika shalat jenazah.

12. Tidak sunnah menutup mayat dengan keranda.

13. Tinggi kuburan maksimal 1 (satu) jengkal.

14. Tidak usah mengganti dhamir hu menjadi ha karena dalam doa tersebut kembali kepada mayat, bukan jenis kelamin mayat.

15. Tidak disunnahkan adzan dan iqomah di liang lahat, adzan adalah panggilan untuk sholat.

♥ Dari kajian أُسْتَاذُ Abu Yahya Badrusalam, Lc -حفظه الله تعال- di Rodja TV



Adab Islami Sederhana Sebelum Tidur

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Adab islami sebelum tidur yang seharusnya tidak ditinggalkan oleh seorang muslim adalah sebagai berikut.

 

Pertama: Tidurlah dalam keadaan berwudhu.

Hal ini berdasarkan hadits Al Baro’ bin ‘Azib, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلاَةِ ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الأَيْمَنِ

Jika kamu mendatangi tempat tidurmu maka wudhulah seperti wudhu untuk shalat, lalu berbaringlah pada sisi kanan badanmu” (HR. Bukhari no. 247 dan Muslim no. 2710)

 

Kedua: Tidur berbaring pada sisi kanan.

Hal ini berdasarkan hadits di atas. Adapun manfaatnya sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qayyim, “Tidur berbaring pada sisi kanan dianjurkan dalam Islam agar seseorang tidak kesusahan untuk bangun shalat malam. Tidur pada sisi kanan lebih bermanfaat pada jantung. Sedangkan tidur pada sisi kiri berguna bagi badan (namun membuat seseorang semakin malas)” (Zaadul Ma’ad, 1/321-322).

 

Ketiga: Meniup kedua telapak tangan sambil membaca surat Al Ikhlash (qul huwallahu ahad), surat Al Falaq (qul a’udzu bi robbil falaq), dan surat An Naas (qul a’udzu bi robbinnaas), masing-masing sekali. Setelah itu mengusap kedua tangan tersebut ke wajah dan bagian tubuh yang dapat dijangkau. Hal ini dilakukan sebanyak tiga kali. Inilah yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dikatakan oleh istrinya ‘Aisyah.

Dari ‘Aisyah, beliau radhiyallahu ‘anha berkata,

كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا ( قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ) وَ ( قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ) وَ ( قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ) ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ

Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika berada di tempat tidur di setiap malam, beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya lalu kedua telapak tangan tersebut ditiup dan dibacakan ’Qul huwallahu ahad’ (surat Al Ikhlash), ’Qul a’udzu birobbil falaq’ (surat Al Falaq) dan ’Qul a’udzu birobbin naas’ (surat An Naas). Kemudian beliau mengusapkan kedua telapak tangan tadi pada anggota tubuh yang mampu dijangkau dimulai dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan. Beliau melakukan yang demikian sebanyak tiga kali.” (HR. Bukhari no. 5017). Membaca Al Qur’an sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini lebih menenangkan hati dan pikiran daripada sekedar mendengarkan alunan musik.

 

Keempat: Membaca ayat kursi sebelum tidur.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata,

وَكَّلَنِى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – بِحِفْظِ زَكَاةِ رَمَضَانَ ، فَأَتَانِى آتٍ ، فَجَعَلَ يَحْثُو مِنَ الطَّعَامِ ، فَأَخَذْتُهُ فَقُلْتُ لأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – . فَذَكَرَ الْحَدِيثَ فَقَالَ إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِىِّ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ ، وَلاَ يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « صَدَقَكَ وَهْوَ كَذُوبٌ ، ذَاكَ شَيْطَانٌ »

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menugaskan aku menjaga harta zakat Ramadhan kemudian ada orang yang datang mencuri makanan namun aku merebutnya kembali, lalu aku katakan, “Aku pasti akan mengadukan kamu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam“. Lalu Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menceritakan suatu hadits berkenaan masalah ini. Selanjutnya orang yang datang kepadanya tadi berkata, “Jika kamu hendak berbaring di atas tempat tidurmu, bacalah ayat Al Kursi karena dengannya kamu selalu dijaga oleh Allah Ta’ala dan syetan tidak akan dapat mendekatimu sampai pagi“. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Benar apa yang dikatakannya padahal dia itu pendusta. Dia itu syetan“. (HR. Bukhari no. 3275)

 

Kelima: Membaca do’a sebelum tidur “Bismika allahumma amuutu wa ahyaa”.

Dari Hudzaifah, ia berkata,

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ قَالَ « بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا » . وَإِذَا اسْتَيْقَظَ مِنْ مَنَامِهِ قَالَ « الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا ، وَإِلَيْهِ النُّشُورُ »

Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hendak tidur, beliau mengucapkan: ‘Bismika allahumma amuutu wa ahya (Dengan nama-Mu, Ya Allah aku mati dan aku hidup).’ Dan apabila bangun tidur, beliau mengucapkan: “Alhamdulillahilladzii ahyaana ba’da maa amatana wailaihi nusyur (Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya lah tempat kembali).” (HR. Bukhari no. 6324)

Masih ada beberapa dzikir sebelum tidur lainnya yang tidak kami sebutkan dalam tulisan kali ini. Silakan menelaahnya di buku Hisnul Muslim, Syaikh Sa’id bin Wahf Al Qohthoni.

 

Keenam: Sebisa mungkin membiasakan tidur di awal malam (tidak sering begadang) jika tidak ada kepentingan yang bermanfaat.

Diriwayatkan dari Abi Barzah, beliau berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.” (HR. Bukhari no. 568)

Ibnu Baththol menjelaskan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak suka begadang setelah shalat ‘Isya karena beliau sangat ingin melaksanakan shalat malam dan khawatir jika sampai luput dari shalat shubuh berjama’ah. ‘Umar bin Al Khottob sampai-sampai pernah memukul orang yang begadang setelah shalat Isya, beliau mengatakan, “Apakah kalian sekarang begadang di awal malam, nanti di akhir malam tertidur lelap?!” (Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 3/278, Asy Syamilah)

Semoga kajian kita kali ini bisa kita amalkan. Hanya Allah yang beri taufik.

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

 

Panggang-South Mountain, 10 Rajab 1431 H (23/06/2010)

Article www.rumaysho.com

Ust. Muhammad Abduh Tuasikal

http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3094-adab-islami-sederhana-sebelum-tidur.html

Berobat Dengan Al-Qur’an Dan Sunnah

Nabi صلى الله عليه وسلم memberikan perhatian besar terhadap kesehatan jasmani dan rohani dgn perlindungan dan pengobatan. Anjuran kpd pengobatan dan penyembuhan dgn ayat-ayat alqur’an dari berbagai penyakit hati spt dendam, dengki, syahwat yg diharamkan serta penyakit2 jiwa spt kecemasan, kesusahan, depresi dan penyakit2 fisik. Allah berfirman:

“Hai manusia sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Robbmu dan penyembuh bagi penyakit2 didalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang2 yg beriman” (QS:Yunus:57)

Alqur’an adalah penyembuh yg sempurna dari seluruh penyakit hati dan fisik. Berikut tatacara mengobati penyakit dgn alqur’an / ruqyah:

1.Ruqyah dgn membaca sj.
Dari Aisyah Radhiyallahu Anha adalah Rosul صلى الله عليه وسلم jika mendatangi orang sakit atau didatangkan kepada beliau orang sakit beliau berdoa:
اللّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ اَذْهِبِ الْبَأْسَ اشْفِ فَأَنْتَ الشَّافيِ لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَماً

‘Hilangkanlah penyakit, wahai Tuhan manusia, sembuhkanlah, Engkau adalah Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan kecuali penyembuhanMu yaitu penyembuhan yg tdk meninggalkan penyakit (HR. Al-Bukhori 5676)

2.Ruqyah dgn membaca dan meniup
Adalah Rosul صلى الله عليه وسلم jika ada seorang dari keluarganya yg sakit, beliau meniup padanya dengan bacaan al-Mu’awwidzat (ayat2 perlindungan) maka saat beliau sakit, dengan sakit yg beliau wafat didalamnya, akupun meniup atas beliau lalu aku usapkan dgn tangan beliau sendiri karena tangan beliau lbh besar keberkahannya daripada tanganku’ (HR. Muslim (50/2192)

3.Ruqyah dgn membaca dan meludah ringan.
Dari Muhammad bin Hatib رضي الله عنه dia berkata:
‘Periuk terjatuh (tertumpah) atas tanganku maka tangankupun terbakar, lalu bapakku pergi membawaku kpd Rosul صلى الله عليه وسلم. Dan beliau kala itu meludah padanya (tanganku) seraya bersabda ‘Hilangkanlah penyakit wahai Tuhan manusia’ Dan aku kira beliau bersabda ‘Dan sembuhkanlah dia,
Sesungguhnya Eangkau adalah Sang Maha Penyembuh’ (HR. Ahmad)

4. Ruqyah dgn membaca dan mengusap.
Dari Aisyah Radhiyallahu Anha dia berkata: ‘Adalah Nabi صلى الله عليه وسلم memintakan perlindungan utk sebagian mereka dan mengusapnya dgn tangan kanannya seraya berdoa ‘Hilangkanlah penyakit wahai Tuhan manusia, sembuhkanlah, sesungguhnya Engkau adalah Sang Maha Penyembuh, tdk ada kesembuhan selain kesembuhanMu, dgn kesembuhan yg tidak meninggalkan penyakit (HR. Al-Bukhori 5750)

5.Ruqyah dgn membaca lalu meletakkan tangan diatas tempat yg sakit kemudian mengusap.
Dari Utsman bin Abil Ash ats-Tsaqaofiy رضي الله عنه berkata: ‘Bahwasanya dia mengadu kpd Rosulullah akan sebuah sakit yg dia dapati di tubuhnya semenjak dia msk islam. Maka Rosul صلى الله عليه وسلم bersabda kepadanya ‘Letakkanlah tanganmu diatas tempat yg kamu merasakan sakit dari tubuhmu kemudian katakanlah ‘Dengan menyebut asma Allah (3x) dan ucapkanlah 7x ‘Aku berlindung kpd Allah dan kekuasaanNya dari keburukan yg aku dapatkan dan aku khawatirkan ‘ (HR Muslim 67/2202)

6. Meruqyah dgn bacaan, tiupan dan usapan
Dari Abu Sa’id al-Khudriy رضي الله عنه berkata: ‘Maka sayapun membaca al-Fatihah lalu sy usap tempat yg dipatuk (disengat hewan berbisa) hingga dia sembuh’ (HR. An-Nasa’i dl al-Kubra 7/70)

7. Ruqyah dgn membaca, kemudian meletakkan ludah diatas jari, kemudian meletakkannya diatas tanah kemudian diletakkan diatas orang yg sakit.
Dari Aisyah Radhiyallahu Anha: ‘Bahwa Rosul صلى الله عليه وسلم jika ada seseorang mengeluhkan sesuatu darinya atau padanya terdapat borok atau luka maka Nabi صلى الله عليه وسلم melakukan spt ini dengan jarinya, Sufyan (memperagakan) meletakkan jari telunjuknya ditanah kemudian mengangkatnya seraya berkata ‘Dengan menyebut asma Allah n (ini adalah) tanah bumi kami, dengan air ludah kami, agar orang sakit kami disembuhkan dgn (sebab)nya dgn izin rabb kami (HR Muslim 54/2194)

An-nawawi Rakhimahullah berkata, ‘Makna hadits adalah mengambil air ludah sendiri diatas jari telunjuk

Kemudian meletakkan diatas tanah lalu menempellah dari tanah itu sesuatu kemudian mengusap-usapkannya di atas tempat luka atau sakit dengan mengucapkan doa tersebut pada saat mengusap (Syarah Muslim, Imam an-Nawawi Rahimahullah XIV/183)

8. Ruqyah dengan meletakkan garam didalam air kemudian mengusapkannya diatas tempat sakit dgn disertai membaca utk orang yg disengat.

Dari Ali رضي الله عنه berkata: “Ketika Rosulullah صلى الله عليه وسلم shalat pada suatu malam, beliau meletakkan tangan beliau diatas tanah, maka seekor kalajengking menyengatnya, maka Rosul صلى الله عليه وسلم mengambilnya dengan sandal beliau lalu membunuhnya. Maka tatkala beliau selesai sholat, beliau bersabda, ‘Allah melaknat kalajengking, dia tdk membiarkan orang yg sedang sholat, tidak jg selainnya, atau seorang nabi atau selainnya’. Kemudian beliau minta diambilkan garam dan air lalu menjadikannya dalam satu wadah kemudian menuangkannya diatas jari beliau yang disengat kalajengking dan mengusapnya serta meminta perlindungan dgn al-Mu’awwidzataim (surat al-Falaq dan an-Nas)”. (HR. Al-Baihaqi 2340, al-Mishkah, al-Albani II/534)

9.Ruqyah dengan membaca disertai dgn mencampurkan tanah dgn air lalu meiup padanya lalu menuangkannya diatas orang yg sakit.
“Rosulullah صلى الله عليه وسلم masuk menemui Tsabit bin Qais – Ahmad berkata, ‘Dia sedang sakit, seraya beliau bersabda, ‘Singkaplah penyakit wahai Tuhan manusia dari Tsabit bin Qois bin Syammas. ‘Kemudian beliau mengambil tanah dari Bathhan lalu menjadikannya dalam sebuah wadah kemudian beliau meniup padanya dengan air dan menuangkannya diatasnya. (HR Ibnu Hibban, an-Nasa’i, sanadnya di jayyidkan oleh Ibnu Baz dlm Majmu’ Fatawa VIII/94)

10. Memakan makanan dan minuman yg memiliki khasiat sbg obat dgn izin Allah سبحانه وتعالى . Sebagaimana sabda beliau صلى الله عليه وسلم dalam al-Bukhori: “Sesungguhnya jinten hitam adalah penyembuh dari segala penyakit kecuali kematian”.

Rujukan: Bahtsul Istisyfa’ bil Qur’anil Karim

Sayyidul Istighfar

Ust. Abu Riyadl, Lc

Sayidul Istigfar
Untuk dibaca tiap pagi dan petang

عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ أَنْ تَقُولَ:

” اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ.”

مَنْ قَالَهَا مِنْ النَّهَارِ مُوقِنًا بِهَا فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِيَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَمَنْ قَالَهَا مِنْ اللَّيْلِ وَهُوَ مُوقِنٌ بِهَا فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

Dari Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu  dari Nabi shalallhu alaihiwasalam bersabda,

“Penghulu istighfar ialah engkau mengucapkan:
“Ya Allah, engkau adalah Rabku, tidak ada ilah yang haq selain-Mu. Engkaulah yang menciptaku dan aku adalah hamba-Mu. Aku selalu di atas perjanjian dan ketetapan-Mu sesuai kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku, aku mengakui nikmat-Mu atasku,
dan aku mengakui dosaku, maka ampunilah aku. Sebab hanya Engkau yang bisa mengampuni dosa”

Barangsiapa mengucapkannya di siang hari seraya meyakininya, lalu mati pada hari itu sebelum sore, maka ia termasuk ahli surga. Dan barangsiapa mengucapkannya di malam hari seraya meyakininya, lalu mati sebelum pagi, maka ia termasuk penghuni surga.”

Hadits Shahih, diriwayatkan Al-Bukhari (6306) dan At-tirmidzi (3393)

Semoga bisa diamalkan.
Amalan ringan.. Tidak perlu beaya..
Cukup kesungguhan dan niat yg ikhlas..
Maka anda dapat istiqomah mengamalkannya..

Amal ibadah yg terbaik adalah istiqomah..

walau sedikit tapi kontinyu..

Janganlah jadi hamba Allah musiman..
Ada musim rajin dan ada musim malas.. Tp muslim malasnya
seperti panas di padang pasir.. Sedangkan musim rajin bagai musim hujannya. Kalo beribadah hanya sekali saja dan bubar.

Keutamaan Berzikir Ketika Terjaga Di Malam Hari

Dari ‘Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

مَن تَعارَّ من الليل فقال: لا إله إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ ولهُ الْحَمْدُ وهُوَ على كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، الحمدُ للهِ، وسبحانَ اللهِ، ولا إله إلا اللهُ، واللهُ أَكْبَرُ، ولا حَوْلَ ولا قُوَّةَ إلا بِاللهِ، ثم قال: اَللّهُمَّ اغْفِرْ لي – أو دعا – استُجِيبَ له، فإنْ توضأ وصلى قُبِلتْ صلاتُه

“Barangsiapa yang terjaga di malam hari, kemudian dia membaca (zikir tersebut di atas):

لا إله إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ ولهُ الْحَمْدُ وهُوَ على كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، الحمدُ للهِ، وسبحانَ اللهِ، ولا إله إلا اللهُ، واللهُ أَكْبَرُ، ولا حَوْلَ ولا قُوَّةَ إلا بِاللهِ

[Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syain qodiir. Alhamdulillah wa subhanallah, wa laa ilaha illallah, wallahu akbar, wa laa hawla wa laa quwwata illa billah] Segala puji bagi Allah Tiada sembahan yang benar kecuali Allah semata dan tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nyalah segala kerajaan/kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dia maha mampu atas segala sesuatu, segala puji bagi Allah, maha suci Allah, tiada sembahan yang benar kecuali Allah, Allah maha besar, serta tiada daya dan kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah, kemudian dia mengucapkan:

اَللّهُمَّ اغْفِرْ لي

“Ya Allah, ampunilah (dosa-dosa)ku“, atau dia berdoa (dengan doa yang lain), maka akan dikabulkan doanya, jika dia berwudhu dan melaksanakan shalat maka akan diterima shalatnya”[1].

Hadits yang mulia ini menunjukkan besarnya keutamaan orang yang berzikir ketika terjaga di malam hari, kemudian dia berdoa kepada Allah atau melakukan shalat[2].

Imam Ibnu Baththal berkata: “Allah menjanjikan melalui lisan (ucapan) nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa barangsiapa yang terjaga dari tidurnya (di malam hari) dalam keadaan dia lidahnya selalu mengucapkan (kalimat) tauhid kepada Allah, tunduk pada kekuasaan-Nya, dan mengakui (besarnya limpahan) nikmat-Nya yang karenanya dia memuji-Nya, serta mensucikan-Nya dari (sifat-sifat) yang tidak layak bagi-Nya dengan bertasbih (menyatakan kemahasucian-Nya), tunduk kepada-Nya dengan bertakbir (menyatakan kemahabesaran-Nya), dan berserah diri kepada-Nya dengan (menyatakan) ketidakmampuan (dalam segala sesuatu) kecuali dengan pertolongan-Nya, sesungguhnya (barangsiapa yang melakukan ini semua) maka jika dia berdoa kepada-Nya akan dikabulkan, dan jika dia melaksanakan shalat akan diterima shalatnya. Maka bagi orang sampai kepadanya hadits ini, sepantasnya dia berusaha mengamalkannya dan mengikhlaskan niatnya (ketika mengamalkannya) untuk Allah Ta’ala[3].

Faidah-faidah penting yang terkandung dalam hadits ini:

– Imam Ibnu Hajar berkata: “Perbuatan yang disebutkan dalam hadits ini hanyalah (mampu dilakukan) oleh orang telah terbiasa, senang dan banyak berzikir (kepada Allah), sehingga zikir tersebut menjadi ucapan (kebiasaan) dirinya sewaktu tidur dan terjaga, maka Allah Ta’ala memuliakan orang yang demikian sifatnya dengan mengabulkan doanya dan menerima shalatnya”[4].

– Keutamaan mengucapkan zikir ini juga berlaku bagi orang yang terjaga di malam hari kemudian dia mengucapkan zikir ini (berulang-ulang) sampai dia tertidur. Imam an-Nawawi berkata: “Orang yang terjaga di malam hari dan ingin tidur (lagi) setelahnya, dianjurkan baginya untuk berzikir kepada Allah Ta’ala sampai dia tertidur. Zikir-zikir yang dibaca (pada waktu itu) banyak sekali yang disebutkan (dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam), di antaranya … kemudian beliau menyebutkan hadits di atas[5].

– Di antara para ulama ada yang menjelasakan bahwa peluang dikabulkannya doa dan diterimanya shalat pada saat setelah mengucapkan zikir ini lebih besar dibandingkan waktu-waktu lainnya[6].

Penulis: Ustadz Abdullah Taslim, MA

[1] HSR al-Bukhari (no. 1103), Abu Dawud (no. 5060), at-Tirmidzi (no. 3414) & Ibnu Majah (no. 3878).

[2] Lihat kitab “Shahih Ibni Hibban” (6/330) dan “al-Washiyyatu biba’dhis sunani syibhil mansiyyah” (hal. 185).

[3] Dinukil oleh imam Ibnu Hajar dalam kitab “Fathul Baari” (3/41).

[4] Kitab “Fathul Baari” (3/40).

[5] Kitab “al-Adzkaar” (hal. 79 – cet. Darul Manar, Kairo, 1420 H).

[6] Lihat kitab “Tuhfatul ahwadzi” (9/254).

http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/keutamaan-berzikir-ketika-terjaga-di-malam-hari.html

Dari artikel ‘Keutamaan Berzikir Ketika Terjaga Di Malam Hari — Muslim.Or.Id

Ciri-Ciri Hati Yang Selamat

1. Mengutamakan kehidupan akhirat dibanding dunia,serta hatinya memahami ia datang kedunia ini seperti orang asing.

2. Hatinya selalu menegur untuk selalu istighfar serta bertaubat kepada ALLAH subhaanahu wa ta’ala.
(Ali imran: 133).

3. Hati merasakan sakit/menyesal apabila ada bentuk ketaatan yang luput darinya.

4. Hatinya selalu merindukan untuk beribadah kepada ALLAH.

5. Hatinya senantiasa menyibukkan dari waktu ke waktu untuk hal-hal yang akan memberikan manfaat untuk kehidupan akhiratnya.

6. Apabila ia melaksanakan shalat,maka akan hilang darinya semua kesibukan dunia dan dia merasakan kelezatan yang sangat dari shalat tersebut.

7. Tidak pernah putus untuk senantiasa berdzikir kepada ALLAH karna ia sangat membutuhkan dan tidak juga pernah bosan dari beribadah kepadaNYA.

8. Hati yang selamat senantiasa memiliki perhatian yang sangat untuk senantiasa mengoreksi setiap amal yang ia kerjakan, dan selalu berusaha untuk senantiasa ikhlas dan mengikuti sunnah Nabi.

9. Hati yang selamat senantiasa menyibukkan untuk mengoreksi dari setiap kekurangan/aib yang ada pada dirinya dan ia tidak menyibukkannya terhadap aib saudaranya.

10. Ia selalu memusatkan perhatiannya/ menanti serta merindukan dari setiap nasehat para ahli ilmu yang akan senantiasa menasehatinya, dan ia gemar berakhlak yang mulia kepada manusia.

Semoga memberikan manfaat kepada kita semua.

Oleh Ustadz Ahmad Ferry Nasution.

Keutamaan Shalat Sunnah Sebelum Shubuh

Shalat sunnah qobliyah shubuh atau shalat sunnah Fajar yaitu dua raka’at sebelum pelaksanaan shalat Shubuh adalah di antara shalat rawatib. Yang dimaksud shalat rawatib adalah shalat sunnah yang dirutinkan sebelum atau sesudah shalat wajib. Shalat yang satu ini punya keutamaan yang besar, sampai-sampai ketika safar pun, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terus menerus menjaganya. Bahkan ada keutamaan besar lainnya yang akan kita temukan.

Dalam Shahih Muslim telah disebutkan mengenai keutamaan shalat ini dalam beberapa hadits, juga dijelaskan anjuran menjaganya, begitu pula diterangkan mengenai ringkasnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam melakukan shalat tersebut.

Shalat Sunnah Fajar dengan Dua Raka’at Ringan

Dalil yang menunjukkan bahwa shalat sunnah qobliyah Shubuh atau shalat Sunnah Fajar dilakukan dengan raka’at yang ringan, adalah hadits dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar yang berkata bahwa Ummul Mukminin Hafshoh pernah mengabarkan,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا سَكَتَ الْمُؤَذِّنُ مِنَ الأَذَانِ لِصَلاَةِ الصُّبْحِ وَبَدَا الصُّبْحُ رَكَعَ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ تُقَامَ الصَّلاَةُ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu diam antara adzannya muadzin hingga shalat Shubuh. Sebelum shalat Shubuh dimulai, beliau dahului dengan dua raka’at ringan.” (HR. Bukhari no. 618 dan Muslim no. 723).

Dalam lafazh lain juga menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat Sunnah Fajar dengan raka’at yang ringan. Dari Ibnu ‘Umar, dari Hafshoh, ia mengatakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا طَلَعَ الْفَجْرُ لاَ يُصَلِّى إِلاَّ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ

Ketika terbit fajar Shubuh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah shalat kecuali dengan dua raka’at yang ringan” (HR. Muslim no. 723).

‘Aisyah juga mengatakan hal yang sama,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى رَكْعَتَىِ الْفَجْرِ إِذَا سَمِعَ الأَذَانَ وَيُخَفِّفُهُمَا

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah mendengar adzan, beliau melaksanakan shalat sunnah dua raka’at ringan” (HR. Muslim no. 724).

Dalam lafazh lainnya disebutkan bahwa ‘Aisyah berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى رَكْعَتَىِ الْفَجْرِ فَيُخَفِّفُ حَتَّى إِنِّى أَقُولُ هَلْ قَرَأَ فِيهِمَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu shalat sunnah fajar (qobliyah shubuh) dengan diperingan. Sampai aku mengatakan apakah beliau di dua raka’at tersebut membaca Al Fatihah?” (HR. Muslim no. 724).

Imam Nawawi menerangkan bahwa hadits di atas hanya kalimat hiperbolis yaitu cuma menunjukkan ringannya shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dibanding dengan kebiasaan beliau yang biasa memanjangkan shalat malam dan shalat sunnah lainnya. Lihat Syarh Shahih Muslim, 6: 4.

Dan sekali lagi namanya ringan juga bukan berarti tidak membaca surat sama sekali. Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Sebagian ulama salaf mengatakan tidak mengapa jika shalat sunnah fajar tersebut dipanjangkan dan menunjukkan tidak haramnya, serta jika diperlama tidak menyelisihi anjuran memperingan shalat sunnah fajar. Namun sebagian orang mengatakan bahwa itu berarti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membaca surat apa pun ketika itu, sebagaimana diceritakan dari Ath Thohawi dan Al Qodhi ‘Iyadh. Ini jelas keliru. Karena dalam hadits shahih telah disebutkan bahwa ketika shalat sunnah qobliyah shubuh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surat Al Kafirun dan surat Al Ikhlas setelah membaca Al Fatihah. Begitu pula hadits shahih menyebutkan bahwa tidak ada shalat bagi yang tidak membaca surat atau tidak ada shalat bagi yang tidak membaca Al Qur’an, yaitu yang dimaksud adalah tidak sahnya.” (Syarh Shahih Muslim, 6: 3).

Rajin Menjaga Shalat Sunnah Qobliyah Shubuh

Dan shalat sunnah fajar inilah yang paling Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jaga, dikatakan pula oleh ‘Aisyah,

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- لَمْ يَكُنْ عَلَى شَىْءٍ مِنَ النَّوَافِلِ أَشَدَّ مُعَاهَدَةً مِنْهُ عَلَى رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الصُّبْحِ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah menjaga shalat sunnah yang lebih daripada menjaga shalat sunnah dua raka’at sebelum Shubuh”  (HR. Muslim no. 724).

Dalam lafazh lain disebutkan bahwa ‘Aisyah berkata,

مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى شَىْءٍ مِنَ النَّوَافِلِ أَسْرَعَ مِنْهُ إِلَى الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ

Aku tidaklah pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat sunnah yang lebih semangat dibanding dengan shalat sunnah dua raka’at sebelum Fajar” (HR. Muslim no. 724).

Dalil anjuran bacaan ketika shalat sunnah qobliyah shubuh dijelaskan dalam hadits berikut,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَرَأَ فِى رَكْعَتَىِ الْفَجْرِ (قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ) وَ (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ)

Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ketika shalat sunnah qobliyah shubuh surat Al Kafirun dan surat Al Ikhlas” (HR. Muslim no. 726).

Keutamaannya: Lebih dari Dunia Seluruhnya

Adapun dalil yang menunjukkan keutamaan shalat sunnah qobliyah Shubuh adalah hadits dari ‘Aisyah di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

Dua raka’at fajar (shalat sunnah qobliyah shubuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Muslim no. 725). Jika keutamaan shalat sunnah fajar saja demikian adanya, bagaimana lagi dengan keutamaan shalat Shubuh itu sendiri.

Dalam lafazh lain, ‘Aisyah berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbicara mengenai dua raka’at ketika telah terbih fajar shubuh,

لَهُمَا أَحَبُّ إِلَىَّ مِنَ الدُّنْيَا جَمِيعًا

Dua raka’at shalat sunnah fajar lebih kucintai daripada dunia seluruhnya” (HR. Muslim no. 725).

Hadits terakhir di atas juga menunjukkan bahwa shalat sunnah fajar yang dimaksud adalah ketika telah terbit fajar shubuh. Karena sebagian orang keliru memahami shalat sunnah fajar dengan mereka maksudkan untuk dua raka’at ringan sebelum masuk fajar. Atau ada yang membedakan antara shalat sunnah fajar dan shalat sunnah qobliyah shubuh. Ini jelas keliru. Imam Nawawi mengatakan,

أَنَّ سُنَّة الصُّبْح لَا يَدْخُل وَقْتهَا إِلَّا بِطُلُوعِ الْفَجْر ، وَاسْتِحْبَاب تَقْدِيمهَا فِي أَوَّل طُلُوع الْفَجْر وَتَخْفِيفهَا ، وَهُوَ مَذْهَب مَالِك وَالشَّافِعِيّ وَالْجُمْهُور

“Shalat sunnah Shubuh tidaklah dilakukan melainkan setelah terbit fajar Shubuh. Dan dianjurkan shalat tersebut dilakukan di awal waktunya dan dilakukan dengan diperingan. Demikian pendapat Imam Malik, Imam Syafi’i  dan jumhur (baca: mayoritas) ulama.” (Syarh Shahih Muslim, 6: 3).

Moga kita semakin semangat beramal sholih. Hanya Allah-lah yang memberi taufik.

 http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/4324-keutamaan-shalat-sunnah-sebelum-shubuh.html

MEMINTA RAHMAT (BERTARAHHUM) BAGI ORANG KAFIR

Ust. Abdussalam Busyro Lc

Allah Ta’ala melarang hambaNya untuk bertarahhum kepada orang kafir selagi mereka mati dalam keadaan kafir. Permintaan rahmat kepada orang kafir, maknanya adalah memindahkannya dari neraka menuju surga sementara Allah سبحانه وتعالى mengharamkan surga atas orang-orang kafir.

Imam Ahmad Rohimahullah meriwayatkan dalam al-musnad dan lainnya, bahwa orang-orang yahudi dahulu bersin disisi Nabi صلى الله عليه وسلم berharap mendapat doa dari Nabi صلى الله عليه وسلم, akan tetapi Rosul صلى الله عليه وسلم tidak bertarahhum kepada mereka.

Sebagaimana Allah سبحانه وتعالى melarang menshalati orang kafir dan berdiri diatas kuburnya, Allah سبحانه وتعالى berfirman:
“Dan janganlah kamu sekali-kali menshalati (jenazah) orang yg mati diantara mereka dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan RosulNya dan mereka mati dlm keadaan fasik” (QS. At-taubah : 84)

Shalat dan berdiri tidaklah dilarang namun keduanya mengandung unsur doa. Oleh karen itulah Allah سبحانه وتعالى melarang Nabi صلى الله عليه وسلم utk bertarahhum untuk ibu beliau. Dalam hadits shahih muslim (976) dari Abu Hurairah رضي الله عنه berkata, Rosul صلى الله عليه وسلم bersabda:

“Aku telah meminta izin kepada rabbku untuk beristighfar bagi ibuku, maka Dia tidak memberiku izin dan aku meminta izin untuk menziarahi kuburnya maka Diapun mengizinkanku”

Hadits diatas memberikan pelajaran bahwa bertarahhum kepada orang2 kafir adalah perbuatan yg melampaui batas dalam berdoa. Dan Allah سبحانه وتعالى melaknat orang2 kafir lebih dari satu tempat dalam kitabNya, sementara laknat adalah pelemparan dan penjauhan dari rahmatNya.