Category Archives: BBG Kajian

Agar Nikmat Tidak Berubah Menjadi Malapetaka

Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata,

“Seorang hamba senantiasa berada antara nikmat Allah yang harus disyukuri dan dosa yang membutuhkan istighfar..”

(Majmu’ Fatawaa 10/88)

Karena setiap insan pasti selalu berada dalam nikmat Allah..

Banyak nikmat yang ternyata digunakan bukan untuk ketaatan..
Bahkan untuk dosa dan keburukan..

Maka ia selalu membutuhkan taubat dan istighfar..
Agar nikmat nikmat tersebut tidak berubah menjadi malapetaka..

وَضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ اٰمِنَةً مُّطْمَىِٕنَّةً يَّأْتِيْهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِّنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِاَنْعُمِ اللّٰهِ فَاَذَاقَهَا اللّٰهُ لِبَاسَ الْجُوْعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوْا يَصْنَعُوْنَ (١١٢)

“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezeki datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduknya) mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah menimpakan kepada mereka bencana kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang mereka perbuat..” (Qs. An-Nahl ayat 112)

Penulis,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Tiga Akhlak Tercela

Umar bin Abdil Aziz rohimahumallah berkata,

Sungguh beruntung orang yang terhindar dari sifat :
– suka berdebat,
– temperamen, dan
– rakus.

(Hilyatul Auliya’ – 5/290)

Suka berdebat adalah akhlak yang dicela oleh syari’at..
Karena dapat mengeraskan hati dan menutup pintu amal..
Menimbulkan ujub dengan kelebihan..

Demikian pula sifat tempramen atau mudah marah..
Menunjukkan akan kurang akal dan ketakwaan..

Terlebih bila disertai dengan sifat tamak dan rakus terhadap dunia..
Maka semakin merusak keimanan..

Penulis,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Tiga Prinsip Mendasar Dalam Memahami Nama Dan Sifat-Sifat Allah

Dalam memahami nama dan sifat-sifat Allah, ada tiga prinsip mendasar yang harus diperhatikan, yaitu :

1. Kesamaan nama tidak berarti sama hakikatnya.

Meskipun ada beberapa sifat yang disebutkan dengan nama yang sama, seperti Allah Maha Mendengar (As-Sami’) dan manusia juga memiliki kemampuan mendengar, hakikat pendengaran Allah sangat berbeda dengan pendengaran manusia. Allah mendengar segala sesuatu tanpa keterbatasan, sedangkan manusia terbatas dalam kemampuan mendengarnya.

2. Sifat Allah tidak sama dengan sifat makhluk.

Semua sifat yang disandarkan kepada Allah seperti sifat Maha Melihat, Maha Mengetahui, dan sebagainya, tidak boleh disamakan dengan sifat-sifat makhluk. Allah Maha Sempurna, dan sifat-sifat-Nya jauh melampaui apa yang dapat dibayangkan oleh manusia.

3. Hakikat sifat Allah hanya diketahui oleh Allah.

Manusia hanya bisa memahami sifat-sifat Allah sebatas apa yang Dia ajarkan melalui wahyu-Nya (Al-Qur’an dan Hadits). Namun, hakikat sebenarnya dari sifat-sifat Allah, seperti bagaimana cara Allah melihat, mendengar, atau berbuat sesuatu, hanya Allah yang mengetahui.

Ketiga prinsip ini menjaga agar manusia tidak terjerumus ke dalam kesalahan dalam memahami konsep ketuhanan, seperti :
– menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya (tasybih), atau
– menafikan sifat-sifat-Nya (ta’thil).

Penulis,
Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra MA, حفظه الله تعالى

Tentang Persahabatan

Ibnu Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu berkata,

“Jangan bersahabat kecuali dengan orang yang membantumu untuk mengingat Allah ‘Azza wa Jalla..”

(Az Zuhd – Abu Dawud 1/126)

Sahabat yang membuat lalai dari mengingat Allah..
Bukanlah sahabat yang membawa kebaikan..

Persahabatan bukan sebatas untuk berkumpul dan bercanda..
Tapi untuk saling menguatkan keimanan dan istiqomah..

Penulis,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Sanksi Maksiat

Ibnul Jauzi rohimahullah berkata,

“Sanksi maksiat yang paling berat adalah :
– dicabutnya keimanan,
– hilangnya kelezatan ibadah,
– melupakan Alqur’an, dan
– melalaikan istighfar

Dan sanksi yang paling ringan adalah yang menimpa badan di dunia..”

(Dzammul Hawa – 210)

Sanksi yang menimpa badan dapat menggugurkan dosa..

Sedangkan sanksi dicabutnya keimanan semakin membuat seorang hamba berbuat maksiat dan memperberat dosanya..

Penulis,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Dua Kunci Surga

2 Kunci Surga: Taqwa dan Akhlak Mulia

=====

Dari Abu Hurairah -rodhiallahu ‘anhu-: Rosulullah -shollallahu ‘alaihi wasallam- pernah ditanya tentang amalan yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga, maka beliau menjawab: “TAQWA kepada Allah dan AKHLAK yang mulia..” [HR. At-Tirmidzi: 2004, hasan].

Dan dengan dua amalan ini, seseorang akan dicintai, baik oleh Allah maupun oleh manusia.

Ibnul Qoyyim -rohimahullah- mengatakan:

“Nabi -shollallahu ‘alaihi wasallam- menggabungkan antara taqwa kepada Allah dan akhlak yang baik, karena :
– TAQWA kepada Allah memperbaiki hubungan antara hamba dengan Tuhannya, sedangkan
– AKHLAK yang baik memperbaiki hubungan antara seseorang dengan sesama makhluk.

Maka, taqwa kepada Allah menyebabkan kecintaan Allah kepadanya, dan akhlak yang baik mengundang kecintaan (makhluk) kepadanya..” [Al-Fawaid 54].

Sebagian orang hanya mementingkan sisi ibadah kepada Allah tanpa melihat sisi akhlak kepada manusia .. sebagian lagi hanya mementingkan sisi akhlak kepada manusia tanpa melihat sisi ibadah kepada Allah .. padahal Nabi -shollallahu ‘alaihi wasallam- mengajak kita untuk memperhatikan dua-duanya.

Semoga Allah memudahkan kita untuk mengumpulkan dua-duanya, amin.

Penulis,
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

=====
Do’a memohon perlindungan Allah dari akhlak yang buruk.

Carilah Harta Dengan Qona’ah

Sa’ad bin Abi Waqqosh rodhiyallahu ‘anhu berkata,

“wahai anakku .. bila engkau mencari kekayaan, maka carilah dengan qona’ah. Jika engkau tidak memiliki qona’ah, maka tidak ada manfaatnya harta (yang banyak)..”

(Uyyunul Akhbar 2/297)

Qona’ah adalah merasa cukup dengan yang ada..
Ia adalah kekayaan hati..
Bahkan ia adalah kekayaan yang sejati..

Qona’ah lahir dari hati yang menginginkan Allah dan kehidupan akherat..

Sedangkan pengejar dunia..
Sulit untuknya qona’ah..

Penulis,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Betapa Istimewanya Amalan Berikut Ini

Betapa istimewanya amalan birrul walidain

=====

Ada 3 dalil yang menunjukkan betapa tingginya kedudukan berbakti kepada kedua orangtua.

a. Disandingkannya perintah berbakti kepada kedua orangtua dengan perintah mentauhidkan Allah yang merupakan perintah paling agung dalam Islam. [Al-Isra’: 23]

b. Tidak bolehnya mengatakan kata “uff” kepada keduanya, padahal itu adalah kata dalam bahasa arab yang bisa mengganggu perasaan seseorang dalam tingkatan yang paling ringan. [Al-Isra’: 23]

c. Disebutkannya amalan birrul walidain sebelum amalan jihad fi sabilillah dalam urutan amalan yang paling afdhol. [HR. Al Bukhari 527, Muslim 137].

Ironisnya, banyak anak di zaman ini yang tidak memperhatikan masalah ini dalam kehidupannya bersama orangtuanya .. banyak dari mereka yang :

– Membebani orangtua untuk momong anak atau beban pekerjaan rumah lainnya .. padahal harusnya dia bisa mencari solusi lain.

– Masih bergantung kepada orangtua, padahal sudah dewasa dan sudah bisa kerja .. padahal harusnya dia yang gantian mencukupi kebutuhan orangtuanya.

– Banyak menuntut orangtua dengan permintaan yang membebani pikiran mereka.

– dst.

Padahal harusnya kita benar-benar menjaga :
– fisik orangtua,
– perasaannya, dan
– pikirannya

Ingatlah bahwa kita nanti juga akan menjadi orangtua, perlakukan orangtua kita, sebagaimana kita nanti ingin diperlakukan ketika sudah menjadi orangtua.

Semoga bermanfaat dan Allah berkahi.

Penulis,
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Faidah Ayat

Allah Ta’ala berfirman,

خذ العفو وأمر بالعرف وأعرض عن الجاهلين. وإما ينزغنك من الشيطان نزغ فاستعذ بالله إنه سميع عليم

“Ambillah maaf, perintahkan kepada yang ma’ruf, dan berpalinglah dari orang orang yang bodoh .. Dan apabila kamu tertimpa gangguan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha mendengar dan Maha melihat..” (Al A’raaf: 199-200)

Syaikh Muhammad Amin Asy Syanqithi rohimahullah berkata,

“Dalam ayat yang mulia ini Allah menjelaskan bagaimana menghadapi yang bodoh dari kalangan manusia dan jin.

Allah menjelaskan bahwa menghadapi yang bodoh dari manusia adalah dengan sikap :
– berlemah lembut,
– memaafkan, dan
– berpaling dari perbuatan bodohnya dan perbuatan jahatnya.

Adapun yang bodoh dari kalangan jinn, tidak ada jalan selamat darinya kecuali dengan berlindung kepada Allah dari godaannya..”

(Adlwaul Bayan 2/341)

Perbuatan bodoh adalah perbuatan yang tidak sesuai dengan ilmu..
Terkadang seseorang berkata dan berbuat dengan emosinya..
Berkata sebatas dengan akal dan pandangan yang tak berdasarkan dalil dan hujjah..

Disaat kita sampaikan dalil, dia ngeyel dan membantah..
Bukan karena mencari kebenaran tapi karena mengikuti hawa nafsu..
Di medsos, banyak kita temui sikap dan komentar emosional..
Membuat kita emosi, geram dan lainnya..

Maka berpalinglah dan hindari berdebat dalam keadaan seperti itu karena kita sedang menghadapi sikap bodoh..
Agar tidak terseret kepada kebodohan..

Allahul Musta’an..

Penulis,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Tiga Pintu Keburukan

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

“Manusia masuk neraka dari tiga pintu :

1. pintu syubhat, yang membuatnya ragu terhadap agama.
2. pintu syahwat, yang membuatnya lebih mendahulukan hawa nafsu daripada ketaatan dan ridho-Nya.
3. pintu marah, yang membuatnya zholim kepada manusia.

(Al Fawaid – hal. 58)

Pintu syubhat ditutup dengan ilmu yang kokoh dan keyakinan..
Pintu syahwat ditutup dengan rasa takut kepada Allah dan berharap akan ridho-Nya..
Dan pintu marah ditutup dengan menahan amarah..

Namun semua itu membutuhkan bantuan Allah Ta’ala..

Penulis,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى