Category Archives: Mutiara Salaf

Jangan Tertipu

Imam Asy Syafi’i rohimahullah berkata,

‏إذا رأيتم الرجل يمشي على الماء ويطير في الهواء ، فلا تغتروا به حتى تعرضوا أمره على الكتاب والسنة ” .

“Apabila engkau melihat orang yang mampu berjalan di atas air atau terbang di udara maka jangan tertipu dengannya sampai engkau periksa urusannya .. apakah sesuai dengan Alqur’an dan sunnah atau tidak..?”

(Al Bidayah Wannihayah 13/251)
‏
Walaupun berbaju gamis dan sorban..
Berbahasa arab dan sedikit membawakan ayat Alqur’an..
Karena para dukun pun mampu melakukan itu..

Inilah Dajjal yang nabi shollallahu ‘alayhi wasallam kabarkan mampu menyuruh langit agar hujan..
Dan menyuruh bumi agar subur..
Itu bukan bukti akan kebenaran Dajjal..
Namun orang orang yang berilmu dangkal saja yang menerimanya..

Semoga Allah melindungi kita darinya..

Penulis,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Mendirikan Sholat Karena Takut Kepada Allah

● Rosulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

يعجَبُ ربُّكَ من راعي غنمٍ ، في رأسِ شظيَّةِ الجبلِ يؤذِّنُ بالصَّلاةِ ويصلِّي فيقولُ اللَّهُ عزَّ وجلَّ انظروا إلى عبدي هذا يؤذِّنُ ويقيمُ الصَّلاةَ يخافُ منِّي قد غَفرتُ لعَبدي ، وأدخلتُهُ الجنَّةَ

“Allah kagum kepada penggembala kambing yang berada di puncak gunung. Ia adzan untuk sholat lalu ia sholat.

Maka Allah berfirman, “Lihatlah hamba-Ku itu, ia adzan dan mendirikan sholat karena takut kepada-Ku. Sungguh Aku telah mengampuni hamba-Ku itu dan Aku akan memasukkannya ke surga..”

(HR Abu Dawud dan An Nasai)

● Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

« ﻭاﻟﺼﻼﺓ ﻣﺠﻠﺒﺔ ﻟﻠﺮﺯﻕ، ﺣﺎﻓﻈﺔ ﻟﻠﺼﺤﺔ، ﺩاﻓﻌﺔ ﻟﻷﺫﻯ، ﻣﻄﺮﺩﺓ ﻟﻷﺩﻭاء، ﻣﻘﻮﻳﺔ ﻟﻠﻘﻠﺐ، ﻣﺒﻴﻀﺔ ﻟﻠﻮﺟﻪ، ﻣﻔﺮﺣﺔ ﻟﻠﻨﻔﺲ، ﻣﺬﻫﺒﺔ ﻟﻠﻜﺴﻞ، ﻣﻨﺸﻄﺔ ﻟﻠﺠﻮاﺭﺡ، ﻣﻤﺪﺓ ﻟﻠﻘﻮﻯ، ﺷﺎﺭﺣﺔ ﻟﻠﺼﺪﺭ ﻣﻐﺬﻳﺔ ﻟﻠﺮﻭﺡ، ﻣﻨﻮﺭﺓ ﻟﻠﻘﻠﺐ، ﺣﺎﻓﻈﺔ ﻟﻠﻨﻌﻤﺔ، ﺩاﻓﻌﺔ ﻟﻠﻨﻘﻤﺔ، ﺟﺎﻟﺒﺔ ﻟﻠﺒﺮﻛﺔ، ﻣﺒﻌﺪﺓ ﻣﻦ اﻟﺸﻴﻄﺎﻥ، ﻣﻘﺮﺑﺔ ﻣﻦ اﻟﺮﺣﻤﻦ »

Sholat itu :
– mendatangkan rezeki,
– menjaga kesehatan,
– menolak bala,
– mengusir penyakit,
– menguatkan hati,
– memutihkan wajah,
– membahagiakan jiwa,
– menghilangkan kemalasan,
– membuat semangat anggota badan,
– memberi kekuatan,
– melapangkan dada,
– memberi gizi kepada ruh,
– mencahayakan hati,
– menjaga nikmat,
– menolak adzab,
– menimbulkan keberkahan,
– menjauhkan dari setan, dan
– mendekatkan kepada Ar Rohman.

(Zaadul Ma’aad 304/4)

Penterjemah,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Bukanlah Sifat Seorang Mukmin

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

الكسَالى أكثر النَّاس همًّا وغمًّا وحزنًا،
‏ليس لهم فرح ولا سرور،
‏بخلاف أرباب النَّشَاط والجِدِّ في العمل”.

“Pemalas itu orang yang paling sering terkena gundah, galau dan sedih. Mereka tidak merasakan kegembiraan dan kebahagiaan. Berbeda dengan orang orang yang selalu semangat dalam beramal..”

(Raudhotul Muhibbin hal 268)

Malas bukanlah sifat mukmin..
Dan tidak ada manfaatnya..
Bahkan berbahaya untuk seseorang..

Orang yang berakal tidak akan menuruti kemalasan..
Ia akan berusaha melawannya..
Dan berusaha untuk selalu semangat dalam kebaikan..
Malasnya mukmin itu kepada keburukan dan kepada perkara yang tak bermanfaat..

Penulis,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Obat Lupa

Ali bin Khasyram rohimahullah berkata,

“Aku melihat Waki’ bin al-Jarrah tidak pernah membawa kitab, namun beliau bisa menghafal apa yang tidak kami hafal.

Maka aku merasa heran dengan hal itu sehingga aku pun bertanya kepada beliau, “Wahai Waki’, engkau tidak pernah membawa kitab dan tidak menggoreskan yang hitam di atas yang putih (tidak mencatat -pent), namun engkau menghafal lebih banyak dibandingkan apa yang kami hafal..”

Maka Waki’ berkata dengan membisikkan ke telingaku, “Wahai Ali, jika aku tunjukkan kepadamu obat lupa, apakah engkau akan mengamalkannya..?”

Aku pun menjawab, “Ya, demi Allah..”

Maka beliau menjelaskan, “Meninggalkan maksiat, demi Allah, aku tidak melihat sesuatu yang lebih bermanfaat untuk memudahkan menghafal dibandingkan meninggalkan kemaksiatan..”

(Siyarul A’lamin Nubala’, 6/384)

MUTIARA SALAF : Tidak Berharap Kepada Makhluk

Kholifah Hisyam bin Abdul Malik masuk ke dalam Ka’bah, ternyata di dalamnya ada Salim bin Abdullah bin Umar rohimahullah,

Maka Kholifah berkata kepadanya: “Wahai Salim, mintalah kepadaku apa yang engkau butuhkan..!”

Salim menjawab: “Sesungguhnya aku merasa malu kepada Allah untuk meminta di rumah Allah kepada selain-Nya..”

Ketika Salim keluar maka Kholifah mengikutinya seraya berkata kepadanya: “Sekarang engkau telah keluar, maka mintalah kepadaku apa yang engkau butuhkan..!”

Salim menjawab: “Kebutuhan dunia atau kebutuhan akhirat..?”

Kholifah menjawab: “Kebutuhan dunia..”

Maka Salim menjawab: “Aku tidak memintanya kepada yang memilikinya (Allah), maka bagaimana aku akan meminta kepada yang tidak memilikinya..”

(Al-Muntazham Fii Taarikhil Muluk wal Umam, 7/114-115)

Teman Yang Paling Disukai

Kholid bin Shofwan rohimahullah ditanya, ‘siapakah temanmu yang paling kamu sukai..?’

Ia berkata,
– yang suka memaafkanku,
– mau menerima kekuranganku, dan
– menutupi kesalahanku.

(Kitab Mujalasah – Ad Dainawari)

Teman yang susah memaafkan..
Tak mau menerima kekurangan..
Bahkan menebar aib kita..
Adalah teman yang tak ada manfaatnya..
Bahkan lebih banyak mudhorotnya..

Penulis,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Memilih Teman

Ibnu Hibban rohimahullah berkata,

“Yang wajib atas seorang yang berakal adalah agar ia berlindung kepada Allah dari berteman dengan orang yang :
– jika dirinya mengingat Allah, orang tersebut tidak mau membantunya,
– jika dirinya lupa, orang tersebut tidak mau mengingatkannya,
– jika dirinya lalai, orang tersebut justru mendorongnya agar meninggalkan dzikir.

Siapa yang berteman dengan orang-orang yang buruk maka hakekatnya dialah yang paling buruk diantara mereka.

Sebagaimana orang yang baik tidak mencintai kecuali orang-orang yang baik, demikian pula orang yang buruk tidak akan berteman kecuali dengan orang-orang yang jahat.

Jadi seseorang jika membutuhkan teman maka hendaklah ia berteman dengan orang-orang yang menjaga kehormatannya..”

(Roudhotul Uqolaa’ – hal. 102)

MUTIARA SALAF : Tergelincir Oleh Lisannya Sendiri

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

“Termasuk hal yang mengherankan bahwa seseorang ada yang mudah baginya untuk menjaga diri dan menahan diri dari memakan sesuatu yang haram, kezholiman, zina, mencuri, minum khomer, melihat yang haram dan selainnya,

Namun sulit baginya untuk mengendalikan gerakan lisannya. Sampai-sampai engkau melihat seseorang yang dianggap baik agamanya, zuhud dan banyak ibadah, namun dia berbicara dengan ucapan yang dimurkai Allah tanpa mempedulikan akibatnya.

Dengan satu kalimat saja dia tergelincir ke dalam jurang yang dalamnya lebih jauh dari jarak antara timur dan barat.

Betapa banyak engkau melihat orang yang sangat berhati-hati dari perbuatan keji dan zholim, namun lisannya suka menodai kehormatan orang-orang yang masih hidup maupun yang telah mati tanpa mempedulikan apa yang dia ucapkan..”

(Al-Jawaabul Kaafi – hal. 366)

MUTIARA SALAF : Akibat Dari Tidak Mengenal Jahiliyah

● Umar bin Al Khothob rodhiyallahu ‘anhu berkata,

إنما تنقض عرى الإسلام عروة عروة إذا نشأ فى الإسلام من لم يعرف الجاهلية

“Sesungguhnya tali Islam itu terputus seutas demi seutas apabila tumbuh dalam Islam orang yang tidak mengenal jahiliyah..”

● Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

“Semua yang menyelisihi ajaran Rosul termasuk jahiliyah.

Maka siapa yang tidak mengenal dengan jelas jalan orang+orang yang tersesat, maka akan menyangka jalan kesesatan itu sebagai jalannya kaum mukminin.

Sebagaimana hal ini terjadi pada ummat Islam dalam banyak perkara, baik dalam masalah aqidah, atau ilmu dan amalan.
Padahal ia adalah jalannya kaum kafir yang memusuhi para Rosul tapi dianggap sebagai jalannya kaum mukminin. Bahkan ia menyeru kepadanya. Juga seperti mereka yang jatuh kepada bid’ah dan menyeru kepadanya..”

(Masail Fil I’tiqod hal 22)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Hakekat Umur Dan Kehidupan Seseorang

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

“Waktu seseorang itulah hakekat umurnya, dialah penentu kehidupan abadinya (di kemudian hari), apakah dalam kenikmatan abadi ataukah dalam kehidupan sengsara dalam adzab abadi yang pedih.

Waktu berlalu lebih cepat dari aliran awan. Maka siapa saja yang waktunya dihabiskan untuk Allah dan karena Allah, maka waktu itulah hakekat umur dan kehidupannya. Adapun selain itu (jika waktunya tidak dihabiskan untuk dan karena Allah) maka waktu tersebut pada hakekatnya bukanlah termasuk kehidupannya, akan tetapi kehidupannya laksana ibarat kehidupan hewan.

Jika ia menghabiskan waktunya dalam kelalaian dan syahwat, serta angan-angan yang batil, dan waktu yang terbaiknya adalah yang ia gunakan untuk tidur dan menganggur maka matinya orang yang seperti ini lebih baik dari pada hidupnya..”

(Al-Jawaab Al-Kaafi hal 109)