Category Archives: Mutiara Salaf

Jauhilah Perbuatan Ini

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

‎من ضحك من الناس ضُحك منه، ومن عيَّر أخاه بعمل ابتلي به ولا بد.

“Siapa yang mentertawakan orang lain maka ia akan ditertawakan lagi .. dan siapa yang menjelekkan saudaranya karena sebuah perbuatan maka biasanya ia akan jatuh kepada perbuatan tersebut..”
(Al Furusiyah hal. 446)

Beliau juga berkata,

‎مامن عبد يعيبُ على أخيه ذنباً ، إلا و يُبتلى به ، فإذا بلغك عن فلان سيئةً فقل : غفر الله لنا وله

“Tidak ada seorang hambapun yang memburuk burukkan orang lain karena sebuah dosa, maka biasanya ia akan jatuh kepada dosa tersebut. Apabila sampai kepadamu tentang kesalahan seseorang maka ucapkanlah, “Semoga Allah mengampuni kita dan dia ( ghofarallaahu lanaa wa lahu )..”

📝
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Hati Yang Hidup Dan Sehat

Imam Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

“Hati yang hidup dan sehat jika ditampakkan padanya keburukan-keburukan maka dia akan menjauhinya dengan sendirinya, membencinya dan tidak akan menoleh kepadanya.

Berbeda dengan hati yang telah mati, hati ini tidak bisa membedakan antara yang baik dan yang buruk, sebagaimana ucapan (Sahabat yang mulia) ‘Abdullah bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu, “Binasalah orang yang tidak mempunyai hati untuk mengenal kebaikan dan mengingkari keburukan..”

(Ighootsatul Lahfaan, 1/20)

Menjaga Lisan

Ibnul Jauzi rohimahullah berkata,

‏فمَن حفظَ لسانهُ لأجلِ الله تعالىٰ في الدنيا ، أطلقَ اللهُ لسانهُ بالشهادة عندَ الموتِ ولقاءِ الله تعالىٰ .

‏ومَن سَرَّح لسانهُ في أعراضِ المسلمين ، واتبعَ عَوراتهم ، أمسكَ اللهُ لسانهُ عن الشهادةِ عند الموت .

Barangsiapa menjaga lisannya karena Allah di dunia, Allah akan memudahkan lisannya mengucapkan syahadat ketika dia meninggal dan bertemu dengan-Nya.

Sebaliknya, barangsiapa tidak bisa menjaga lisannya dari membicarakan kehormatan kaum muslimin dan mencari-cari aib mereka, Allah akan membuatnya sulit mengucapkan syahadat ketika meninggal dunia.

(Bahrud Dumu’, hlm. 124)

Meskipun Banyak Dosa

Al-Imam An-Nawawi rohimahullah berkata,

لو تكرر الذنب مائة مرة أو ألف مرة أو أكثر , وتاب في كل مرة : قبلت توبته , وسقطت ذنوبه , ولو تاب عن الجميع توبة واحدة بعد جميعها : صحت توبته

“Seandainya dosa itu berulang seratus kali atau seribu kali, bahkan lebih, lantas pelakunya selalu bertaubat setiap kali melakukan dosa, niscaya akan diterima taubatnya. Akan gugur dosa-dosanya.

Seandainya ia bertaubat dari semua dosanya dengan satu kali taubat saja setelah semua dosanya; tetap sah taubatnya..”

(Syarh Shahih Muslim, 17/75)

Tanda Beningnya Iman

Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu berkata,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: جَاءَ نَاسٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَسَأَلُوهُ: إِنَّا نَجِدُ فِي أَنْفُسِنَا مَا يَتَعَاظَمُ أَحَدُنَا أَنْ يَتَكَلَّمَ بِهِ. قَالَ: “وَقَدْ وَجَدْتُمُوهُ؟” قَالُوا: نَعَمْ. قَالَ: “ذَاكَ صَرِيحُ الإِيمَانِ

Ada beberapa orang datang kepada Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam dan bertanya, ‘kami mendapati pada diri kami sesuatu yang terasa besar untuk diucapkan (berupa keburukan)..’

Beliau bersabda, ‘kalian merasakan itu..?’
Mereka menjawab, ‘iya..’
Beliau bersabda, ‘itu (tanda) kebeningan iman..’

(HR Muslim)

Imam Nawawi rohimahullah menjelaskan hadits diatas, beliau berkata,

“Maksudnya perasaan kalian yang membesarkan dan menganggap berat untuk mengucapkan (pikiran yang buruk itu) adalah kebeningan iman. Karena menganggapnya besar dan merasa takut dari mengucapkannya apalagi meyakininya adalah hanya terjadi pada orang yang telah sempurna keimanannya dan hilang keraguan dari hatinya.”

(Syarah Shohih Muslim)

Setan selalu membisikan pikiran buruk di hati insan..
Agar ia ragu kepada Allah, kepada Alqur’an, Rosul-Nya dan sebagainya..

Namun ketika hati menolaknya dan menganggapnya besar..
Itu adalah tanda kebeningan iman..

Penulis,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Segala Sesuatu Akan Ada Akibatnya

Luqman Al-Hakim pernah berkata kepada putranya,

يا بنيّ، مَن رَحِمَ يُرْحَم، ومَن يصمِت يسلَم، ومَن يفعلِ الخير يَغْنَم، ومَن يَفْعَلِ الشَّرَّ يأثم، ومَن لَم يملك لسانه يندم

Wahai putraku,

– barangsiapa yang menyayangi, maka ia akan disayangi,
– barangsiapa yang diam, maka ia akan selamat,
– barangsiapa yang melakukan kebaikan, maka ia akan beruntung,
– barangsiapa melakukan keburukan, maka ia berdosa, dan
– barangsiapa yang tidak menjaga lisannya, maka ia akan menyesal.

(Bahru ad-Dumu’, hlm. 152)

Diantara Bentuk Kehormatan Seseorang

Al Hasan al-Bashri rohimahullah berkata,

مروءةُ الرَّجُلِ: صِدْقُ لِسانِهِ، واحْتِمَالُهُ مُؤْنَةَ إخْوانِهِ، وبذْلُهُ المعروفَ لأهلِ زمانِهِ، وكَفُّهُ الأذى عن جيرانِهِ.

Muruah (kehormatan/harga diri) seseorang ada pada:
• kejujuran lisannya.
• kerelaan menanggung kebutuhan saudara-saudaranya.
• kesungguhan usahanya dalam mencurahkan kebaikan untuk orang lain.
• menahan diri agar tidak mengganggu tetangga-tetangganya.

(Adab al-Hasan al-Bashri wa Zuhduhu wa Mawaizhuhu, hlm. 36)

Selama Ini Kita Berteman Karena Apa..?

Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhumaa berkata,

من أحب في الله وأبغض فى الله ووالى فى الله وعادى فى الله فإنما تنال ولاية الله بذلك ولا يجد عبد طعم الإيمان وإن كثرت صلاته وصيامه حتى يكون كذلك وقد صارت عامة مؤاخة الناس على أمر الدنيا وذلك لا يجدى على أهله شيئا

Siapa yang :
– mencintai karena Allah,
– membenci karena Allah,
– memberi loyalitas karena Allah,
– memusuhi karena Allah

maka sesungguhnya loyalitas Allah kepada kita hanya dapat diraih dengan itu .. seorang hamba tidak akan merasakan manisnya iman walaupun sholat dan puasanya banyak hingga ia melakukan itu.

Kebanyakan persaudaraan manusia hanya karena urusan dunia belaka. Padahal itu tidak bermanfaat sama sekali..”

(Dikeluarkan oleh Ibnu Jarir Ath Thobari)

Cobalah setiap kita introspeksi..
Selama ini kita berteman karena apa..?
Karena satu lembaga kah..?
Karena satu yayasan kah..?
Karena satu hobi kah..?
Atau karena iman dan ketaatan..

Penulis,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Tawakal Kepada Allah Ketika Menghadapi Kejahatan Orang Lain

Allah Ta’ala menceritakan mengenai Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam dan para sahabatnya rodhiyallahu ‘anhum dalam firman-Nya,

اَلَّذِيْنَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ اِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوْا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ اِيْمَانًاۖ وَّقَالُوْا حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ ۝١٧٣

“(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rosul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, ‘sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka’, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, ‘hasbunallahu wa ni’mal wakiil..’ (cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung)..” (Qs. Aali ‘Imron: 173)

● Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rohimahullah berkata,

‏إذا رأيتَ من الناس عدوانا عليك فقل:”حسبي الله ونعم الوكيل” يكفك الله عز وجل شرَّهم وهمَّهم.

“Jika engkau melihat permusuhan dari manusia terhadapmu, katakanlah, ‘hasbiyallahu wa ni’mal wakiil..’ (cukuplah bagiku Allah, dan Dia lah sebaik-baiknya Dzat yang diserahi urusan). Niscaya Allah akan mencukupimu dari kejahatan dan keinginan buruk mereka..”

(Syarh Riyadhush Sholihin, jilid 1 hlm. 557)

Nasehat Penting

Abu Bakar ash-Shiddiq rodhiyallahu ‘anhu berkata,

إياكم واتباع الهوى؛ فقد أفلح من حفظ من الهوى والطمع والغضب. وإياكم والفخر، وما فخر من خلق من تراب ثم إلى التراب يعود، ثم يأكله الدود،ثم هو اليوم حيٌ وغدًا ميت؟!

Hati-hatilah kalian dari mengikuti hawa nafsu..! Sungguh telah beruntung siapa yang dijaga (dilindungi) dari hawa nafsu, kerakusan, dan sifat marah.

Hati-hatilah kalian dari kesombongan..!
Apa yang disombongkan oleh makhluk yang tercipta dari tanah lalu dikembalikan ke tanah, kemudian tubuhnya dilahap oleh cacing..?! Hari ini dia hidup, dan esok ia mati..!

(Tarikh Al-Khulafa’ – 197)