Category Archives: Mutiara Salaf

MUTIARA SALAF : Penyebab Rusaknya Hati

Imam al-Hasan al-Bashri rohimahullah berkata,

فساد القلوب متولد من ستة أشياء، أولها:
يذنبون برجاء التوبة، ويتعلمون العلم ولا يعملون به، وإذا عملوا لا يخلصون، ويأكلون رزق الله ولا يشكرون، ولا يرضون بقسمة الله، ويدفنون موتاهم ولا يعتبرون.

“Rusaknya hati lahir dari enam perkara:

1. melakukan dosa dengan harapan ada kesempatan taubat untuknya,

2. mempelajari ilmu agama, tetapi tidak diamalkan,

3. dan kalaupun mereka mengamalkannya, tidak didasari dengan keikhlasan,

4. mereka menikmati rezeki dari Allah, tetapi tidak bersyukur dengannya,

5. mereka tidak ridho dengan pembagian rezeki yang Allah berikan,

6. mereka menguburkan orang yang telah wafat, tetapi mereka tidak mengambil pelajaran darinya..”

[Iqozhu Ulil Himam – 1/96]

Derajat Hati Yang Paling Tinggi

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata,

فإن أرفع درجات القلوب فرحها التام بما جاء به الرسول صلى الله عليه وسلم وابتهاجها وسرورها كما قال تعالى: (والذين آتيناهم الكتاب يفرحون بما أنزل إليك) وقال تعالى: (قل بفضل الله وبرحمته فبذلك فليفرحوا) ففضل الله ورحمته القرآن والإيمان من فرح به فقد فرح بأعظم مفروح به”.

“Sesungguhnya derajat hati yang paling tinggi adalah kebanggaan yang sempurna dengan apa yang dibawa oleh Rosulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam. Merasa bahagia dan gembira dengannya sebagaimana firman Allah, ‘Dan orang orang yang Kami berikan al kitab, mereka bergembira dengan apa yang diturunkan kepadamu..’ (Ar Ro’du: 36)

Dan firman Allah, ‘Katakan, dengan karunia Allah dan rahmat-Nya hendaklah mereka bergembira..’ (Yunus: 58)

Karunia Allah dan rahmat-Nya adalah Alqur’an dan keimanan. Siapa yang bergembira dengannya maka ia telah bergembira dengan sesuatu yang amat agung..”

(Majmu Fatawa 16/49)

Bergembira dengan pangkat dan kedudukan..
Bergembira dengan harta dan kenikmatan dunia..
Adalah kegembiraan yang tidak dipuji oleh Allah..

Namun gembira dengan Alqur’an dan hadits…
Gembira dengan keimanan dan ketaatan…
Adalah seindah indah kegembiraan..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ref :

Orang Yang Paling Bermanfaat Dan Orang Yang Paling Membahayakan

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

أنفع الناس لك رجل مكنك من نفسه حتى تزرع فيه خيرا أو تصنع إليه معروفا، فإنه نعم العون لك على منفعتك وكمالك، فانتفاعك به في الحقيقة مثل انتفاعه بك أو أكثر

“Orang yang paling bermanfaat bagimu adalah orang yang memberimu keleluasaan terhadap dirinya sehingga engkau bisa menanamkan kebaikan pada dirinya atau engkau memberikan kebaikan kepadanya. Dia merupakan sebaik-baik pembantumu yang memberikan manfaat bagi dirimu dan kesempurnaanmu.

Jadi, manfaat yang engkau dapatkan darinya hakikatnya setara atau lebih banyak daripada manfaat yang dia dapatkan darimu.

وأضر الناس عليك من مكن نفسه منك حتى تعصي الله فيه، فإنه عون لك على مضرتك ونقصك.

Adapun orang yang paling berbahaya bagi dirimu adalah orang yang menguasai dirimu hingga dia membuatmu durhaka kepada Allah. Dia pembantumu yang menimpakan keburukan kepadamu dan merugikan dirimu..”

(Al-Fawaid, hlm. 192)

Memaafkan Yang Dicintai Oleh Allah

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rohimahullah berkata,

العفو الذي يحبه الله هو الذي فيه إصلاح لأن الله اشترط ذلك في العفو فقال(فمن عفا وأصلح فأجره على الله)أي كان عفوه مشتملاً على الإصلاح.

“Memaafkan yang dicintai oleh Allah adalah memaafkan yang disertai dengan ishlah (memperbaiki hubungan). Karena Allah mensyaratkan hal itu dalam firman-Nya yang artinya: “Siapa yang memaafkan dan ishlah (memperbaiki hubungan) maka pahalanya dari Allah..” Artinya memaafkannya disertai ishlah..”

(Syarah Kitab Tauhid 2/278)

Sebagian orang ada yang memaafkan namun tidak memperbaiki hubungan..
Padahal memperbaiki hubungan dengan sesama muslim jauh lebih penting dari sekedar memaafkan..
Kecuali jika menimbulkan mudharat yang lebih besar..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Tawassul Kepada Allah

=======

● Syaikh Abdul Aziz bin Baz rohimahullah berkata,

هذه التوسلات من أفضل الأسباب في إجابة الدعاء. و هو التوسل إلى الله بصفاته العظيمة و أسمائه الحسنى و وحدانيته جل و علا. فذلك من أعظم الأسباب في إجابة الدعاء.

“Tawassul ini merupakan salah satu sebab terbesar dikabulkannya do’a. Yakni, tawassul kepada Allah dengan menyebut sifat Allah yang agung dan nama-Nya yang indah dan diiringi dengan tauhid, mengesakan Allah jalla wa ‘ala. Hal ini merupakan salah satu sebab dikabulkannya do’a.

فينبغي للمؤمن أن يتوسل إلى الله بأسمائه و صفاته و توحيده الذي بعث به رسله و أنزل به كتبه

Maka dari itu, sudah sepantasnya bagi seorang muslim untuk bertawassul kepada Allah dengan nama-nama Allah, sifat-sifat-Nya, dan dengan ikrar tauhid (yakni meng-esakan Allah dalam ibadah) yang merupakan tujuan Allah mengutus para rosul dan menurunkan kitab suci..”

(Syarh Kitabul Jami’ min Bulughil Maram hlm. 237)

MUTIARA SALAF : Mandi Junub Di Hari Jum’at Karena Hendak Menghadiri Sholat Jum’at

=======

MANDI JUNUB DI HARI JUM’AT KARENA HENDAK MENGHADIRI SHOLAT JUM’AT

Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin rohimahullah menjelaskan,

“Hukum ini hanya khusus bagi lelaki karena ialah yang menghadiri (sholat) Jum’at, dan ialah yang diminta untuk berhias ketika keluar. Sedangkan wanita tidak diminta untuk itu. Tetapi setiap orang jika pada tubuhnya terdapat kotoran sudah sewajarnya untuk membersihkannya. Karena hal itu termasuk perkara terpuji yang tidak layak untuk ditinggalkan.

Adapun melakukan mandi Jum’at sehari atau dua hari sebelumnya maka hal ini tidak berfaedah, karena hadits yang menerangkan hal ini menyebutkan bahwa mandi Jum’at khusus dikerjakan pada hari Jum’at mulai terbit fajar sampai menjelang sholat jum’at. Inilah waktu mandi Jum’at, sedangkan melakukannya sehari atau dua hari sebelumnya, maka hal itu tidak berpahala sebagai mandi Jum’at. Dan Allah lah yang memberi taufiq..”

(Majmu Fatawa Arkanil Islam)

Takut Kepada Allah Di Setiap Waktu

Ibnu Rojab rohimahullah menyebutkan perkataan sebagian salaf,

ﻟﻴﺲ اﻟﺨﺎﺋﻒ ﻣﻦ ﺑﻜﻰ ﻭﻋﺼﺮ ﻋﻴﻨﻴﻪ، ﺇﻧﻤﺎ اﻟﺨﺎﺋﻒ ﻣﻦ ﺗﺮﻙ ﻣﺎ اﺷﺘﻬﻰ ﻣﻦ اﻟﺤﺮاﻡ ﺇﺫا ﻗﺪﺭ ﻋﻠﻴﻪ

“Orang yang takut (kepada Allah) bukanlah orang yang menangis dan bercucuran air mata. Akan tetapi, orang yang takut (kepada Allah) adalah orang yang meninggalkan hawa nafsunya dari hal-hal yang haram dalam keadaan sebenarnya dia mampu untuk melakukannya.

ﻭﻣﻦ ﻫﻨﺎ ﻋﻈﻢ ﺛﻮاﺏ ﻣﻦ ﺃﻃﺎﻉ اﻟﻠﻪ ﺳﺮا ﺑﻴﻨﻪ ﻭﺑﻴﻨﻪ

Di sinilah letak agungnya pahala orang yang mentaati Allah ketika sendirian, saat hanya antara dia dan Allah saja yang mengetahui.

ﻭﻣﻦ ﺗﺮﻙ اﻟﻤﺤﺮﻣﺎﺕ اﻟﺘﻲ ﻳﻘﺪﺭ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺳﺮا

Demikian pula, betapa besarnya pahala orang yang meninggalkan perkara yang haram dalam keadaan sebenarnya dia mampu untuk melakukannya tanpa ada orang lain yang mengetahuinya..”

(Majmu’ Rosail Ibnu Rojab 1/163)

MUTIARA SALAF : Jangan Menyia-nyiakan Waktu

Syaikh Muhammad Sholih al-Utsaimin rohimahullah berkata,

Allah Ta’ala berfirman,

حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَ أَحَدَهُمُ ٱلۡمَوۡتُ قَالَ رَبِّ ٱرۡجِعُونِ ٩٩ لَعَلِّيٓ أَعۡمَلُ صَٰلِحًا فِيمَا تَرَكۡتُۚ

“Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Robbku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal sholeh yang telah aku tinggalkan..” (QS. Al-Mu’minun: 99-100)

Maksudnya, agar dia tidak menyia-nyiakan waktu.

Dia tidak mengatakan, “Agar aku
– menikmati harta,
– menikmati istri,
– menikmati kendaraan, atau
– menikmati istana..”
Akan tetapi, dia mengatakan, “Agar aku berbuat amal yang sholeh terhadap yang telah aku tinggalkan..”

Waktu telah berlalu, tetapi engkau tidak mendapatkan manfaat darinya. Jadi, waktu adalah sesuatu yang paling berharga.

Namun, sekarang ini menurut kita, waktu merupakan sesuatu yang paling tidak berharga. Kita membiarkan banyak waktu kita berlalu begitu saja tanpa faedah. Bahkan, kita membiarkan banyak waktu kita dengan melakukan hal-hal yang merugikan.

Saya tidak berbicara tentang keadaan satu orang, tetapi saya berbicara tentang keadaan kaum muslimin secara umum. Hari ini -sangat disayangkan- mereka tenggelam dalam lupa, hal yang sia-sia, dan kelalaian. Mereka tidak serius dalam urusan agama mereka.

Mayoritas mereka dalam kelalaian dan kemewahan. Mereka hanya sibuk memperhatikan kemewahan untuk badan mereka walaupun berkonsekuensi merusak agama mereka..”

(Syarh Riyadhus Sholihin, 1/345)

MUTIARA SALAF : Senantiasa Bersama Allah

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

– bila manusia merasa cukup dengan dunia, maka hendaknya engkau merasa cukup dengan Allah.

– bila manusia bergembira dengan dunia, maka berbahagialah engkau dengan Allah.

– bila manusia merasa tenang bersama orang-orang yang mereka cintai, maka jadikanlah ketenangan engkau dengan Allah.

– bila mereka mengenalkan dan mendekatkan diri mereka kepada raja-raja mereka dan pemimpin-pemimpin mereka untuk mendapatkan kemuliaan dan kedudukan di sisi mereka, maka kenalkanlah diri engkau kepada Allah, berusahalah meraih cinta-Nya agar dengan itu engkau mendapatkan puncak kemuliaan dan ketinggian.

(Mukhtashor al-Fawaid, hlm. 82)

MUTIARA SALAF : Pentingnya Menjaga Lisan

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

إن العبد ليأتي يوم القيامة بحسنات أمثال الجبال، فيجد لسانه قد هدمها عليه كلها ويأتي بسيئات أمثال الجبال، فيجد لسانه قد هدمها من كثرة ذكر الله وما اتصل به

“Sungguh, ada seorang hamba datang kelak pada hari kiamat dengan pahala kebajikan yang besarnya semisal gunung-gunung. Akan tetapi, ia dapati lisannya telah meluluh-lantakan seluruh pahalanya tersebut.

Ada pula hamba yang lain, datang kelak pada hari kiamat dengan dosa-dosa kemaksiatan yang besarnya semisal gunung-gunung. Namun, ia dapati lisannya telah menghancurleburkan dosa-dosa tersebut dengan banyaknya ia ber-dzikir kepada Allah dan hal-hal yang terkait dengannya..”

(Ad-Daa wad-Dawaa – 375)