Category Archives: Mutiara Salaf

MUTIARA SALAF : Diantara Tanda-Tanda Kebahagiaan Seorang Hamba

Imam Asy-Syathiby rohimahullah berkata,

من علامات السعادة على العبد:
– تيسير الطاعة عليه
– وموافقة السنة في أفعاله
– وصحبته لأهل الصلاح
– وحسن أخلاقه مع الإخوان
– وبذل معروفه للخلق
– واهتمامه للمسلمين
– ومراعاته لأوقاته

الاعتصام ٢/ ١٥٢

“Diantara tanda-tanda kebahagiaan seorang hamba adalah :

● dimudahkan untuk melakukan ketaatan
● perbuatannya sesuai dengan as-sunnah
● bersahahabat dengan orang-orang sholeh
● berakhlak mulia kepada saudara-saudaranya
● mencurahkan kebaikannya kepada hamba-hamba Allah
● peduli terhadap keadaan kaum muslimin, dan
● menjaga waktunya..”

(Al I’tishom, II/152)

MUTIARA SALAF : Tingkatan Hidayah

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

“Hidayah itu ada EMPAT tingkatan dan disebutkan dalam al-Qur’an.

● TINGKATAN PERTAMA: Hidayah umum.

Hidayah ini adalah hidayah pada hewan, manusia, dan setiap makhluk. Allah Ta’ala berfirman,

سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى , الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّىٰ , وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَىٰ

“Sucikanlah nama Robbmu Yang Maha Tinggi, yang menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya), dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk..” (QS al-A’laa: 1-3).

Dalam ayat ini disebutkan empat perkara:
(1) kholaqo (menciptakan),
(2) fasawwa (menyempurnakan),
(3) qoddaro (menentukan kadar sebab maslahat dalam kehidupan dan aktivitas),
(4) fahadaa (memberi petunjuk).

● TINGKATAN KEDUA: Hidayah bayan wa dalalah (hidayah penjelasan dan petunjuk).

Yang dimaksud adalah hidayah berupa penjelasan kepada hamba dan hal ini tidak mengharuskan mendapatkan hidayah yang sempurna.

Allah Ta’ala berfirman mengenai tingkatan kedua dari hidayah adalah ayat,

وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْنَاهُمْ فَاسْتَحَبُّوا الْعَمَىٰ عَلَى الْهُدَىٰ

“Dan adapun kaum Tsamud, maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) daripada petunjuk..” (QS Fussilat: 17)

● TINGKATAN KETIGA: Hidayah taufik dan ilham.

Hidayah diberikan kepada siapa saja yang Allah kehendaki sebagaimana disebutkan dalam ayat,

وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَىٰ دَارِ السَّلَامِ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam)..” (QS Yunus: 25)

Ada yang diberikan hidayah berupa penjelasan, tetapi belum tentu mendapatkan hidayah taufik.

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya..” (QS al-Qasas [28]: 56)

● TINGKATAN KE-EMPAT: Hidayah di akhirat menuju surga atau neraka.

Allah Ta’ala berfirman,

احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ , مِنْ دُونِ اللَّهِ فَاهْدُوهُمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْجَحِيمِ

(kepada malaikat diperintahkan): “kumpulkanlah orang-orang yang zholim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah, selain Allah; maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka..” (QS as-Saffat: 22-23)

Adapun perkataan penghuni surga,

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ

“Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk..” (QS al-A’raf [7]: 43)

[Miftah Daar As-Sa’adah, jilid 1, hlm. 303-305]

MUTIARA SALAF : Bersahabat Dengan Orang-Orang Sholeh

PERTANYAAN:
Alhamdulillah saya istiqomah di atas agama Allah sejak sebulan yang lalu. Saya merasakan kekokohan ketika bersama sebagian ikhwah yang sholeh. Ketika saya berpisah dengan mereka karena kesibukan dan pekerjaan saya, saya rasakan iman berkurang. Apa yang kalian nasehatkan kepada saya..?

JAWABAN:
Kami wasiatkan kepada saudara untuk senantiasa bersahabat dengan orang-orang akhyar (sholeh). Ketika Saudara berpisah dari mereka karena sebagian kesibukan Saudara, maka bertakwalah (takut dan taat) kepada Allah Subhanahu wata’ala dan ingatlah bahwa Allah senantiasa mengawasimu. Dia lebih agung daripada mereka. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

{إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا}

“Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kalian..” [Qs. an-Nisa: 1]

Dia Subhanahu wata’ala juga berfiman,

{الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ}{وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ}

“Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sholat), dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud..” [Qs. asy-Syu’aro: 218]

Dia Subhanahu wata’ala juga berfirman,

{لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا}

“Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita..” [Qs. at-Taubah: 40]

– Allah senantiasa mengawasimu, bertakwalah kepada Allah.

– Ingatlah bahwa engkau di hadapan-Nya. Dia senantiasa melihatmu dalam keadaan apapun, taat maupun maksiat.

– Hati-hatilah dari balasan Allah. Jangan berbuat perkara yang menyebabkan Dia murka kepadamu.

Allah Jalla wa’Ala berfirman,

{وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ}

“Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya..” [Qs. Aali Imron: 28]

Allah Subhanahu wata’ala juga berfirman,

{وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ}

“Dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk)..” [Qs. al-Baqoroh: 40]

– Engkau wajib senantiasa jujur karena Allah, istiqomah di atas agama-Nya ketika sendirian, bersama teman-temanmu, dan di setiap tempat.

– Engkau senantiasa diperhatikan dan diawasi oleh Allah. Dia mendengar ucapanmu dan melihat polah tingkahmu. Wajib bagimu untuk malu kepada Allah lebih besar daripada rasa malumu kepada keluargamu maupun selain mereka.

(Majmu’ Fatawa – Syaikh Abdul Aziz bin Baz, rohimahullah : 9/39-40)

Empat Nasehat

Wadi’ah al-Anshori mengatakan bahwa dia mendengar Umar bin al Khotthob rodhiyallahu ‘anhu menasehati seseorang,

لاَ تَكَلَّمْ فِيمَا لاَ يَعْنِيكَ، وَاعْرِف ْعَدُوَّكَ، وَاحْذَرْ صَدِيقَكَ إِلاَّ الْأَمِينَ،وَلاَ أَمِينَ إِلاَّ مَنْ يَخْشَى اللهَ، وَتَمْشِي مَعَ الْفَاجِرِ فَيُعَلِّمَكَ مِنْفُجُورِهِ، وَ تُطَلِّعْهُ عَلَى سِرِّكَ، وَلاَتُشَاوِرْ فِي أَمْرِكَ إِلاَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَاللهَ عَزَّ وَجَلَّ

● Janganlah engkau berbicara dalam urusan yang tidak engkau perlukan. Kenali musuhmu.

● Waspadalah dari temanmu, kecuali yang tepercaya. Tidak ada orang tepercaya kecuali yang takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

● Janganlah engkau berjalan bersama orang yang rusak, sehingga dia akan mengajarimu sebagian keburukannya. Jangan pula engkau beri tahukan rahasiamu kepadanya.

● Janganlah engkau bermusyawarah tentang urusanmu kecuali dengan orang-orang yang takut kepada Allah ‘azza wa jalla.

(Shifatu ash-Shofwah hlm. 109)

MUTIARA SALAF : Berlomba Dalam Kebaikan

Imam Ibnu Rojab al-Hambali rohimahullah menjelaskan,

“Seorang mukmin hendaknya merasa sedih saat kebaikan agama terlewat darinya. Karena itu, dia dianjurkan untuk melihat kepada orang yang lebih baik keagamaannya dan menyainginya dalam kebaikan semaksimal kemampuannya.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),

‘Dan pada yang demikianlah (kebaikan) hendaknya manusia saling berlomba..’ (QS al-Muthoffifin: 26).”

Dan janganlah seorang mukmin merasa benci ketika ada orang lain yang menyainginya. Justru seharusnya senang ketika semua orang berlomba dalam kebaikan, bahkan menyemangati mereka..”

(Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, syarah hadits ke-13)

MUTIARA SALAF : Lima Syarat

Seseorang mendatangi Ibrahim bin Adham rohimahullah dan berkata⁣,
ㅤ⁣
“Wahai Abu Ishaq (kun-yah Ibrahim), sungguh aku seorang yang selalu menuruti hawa nafsu, maka nasihatilah diriku dengan sesuatu yang dapat mencegah dan menyelamatkan hatiku..!”

Ibrahim berkata,⁣
ㅤ⁣
“Jika engkau dapat melaksanakan lima syarat ini maka kemaksiatan tidak membahayakanmu dan kenikmatan tidak mencelakakanmu..”⁣
ㅤ⁣
“Sebutkan lima syarat itu..” ucap lelaki tersebut.

Ibrahim berkata,⁣
ㅤ⁣
PERTAMA:⁣
ㅤ⁣
“Jika hendak bermaksiat kepada Allah maka jangan makan dari rezeki-Nya..!”⁣
ㅤ⁣
“Lalu darimana aku akan makan, sedang semua yang ada di bumi ini termasuk rezeki-Nya..?!” ucapnya dengan heran⁣.
ㅤ⁣
Ibrahim berkata, “Jika demikian, apakah pantas engkau memakan rezeki-Nya, namun bermaksiat pada-Nya..?!”⁣
ㅤ⁣
KEDUA:⁣
ㅤ⁣
“Bila engkau hendak bermaksiat maka jangan menempati daerah milik-Nya..!”⁣
ㅤ⁣
“Sungguh ini lebih berat dari yang pertama. Seluruh negeri dari timur hingga barat adalah milik-Nya. Dimanakah aku akan bernaung..?!”⁣, jawabnya.
ㅤ⁣
KETIGA:⁣
ㅤ⁣
“Jika engkau ingin bermaksiat carilah tempat yang tidak terlihat oleh-Nya, kemudian lakukanlah maksiatmu di sana..!”⁣
ㅤ⁣
“Tidak mungkin..!! Allah melihat segala sesuatu yang tersembunyi..”, jawabnya.⁣
ㅤ⁣
KEEMPAT:⁣
ㅤ⁣
“Nanti, saat Malaikat Maut datang untuk mencabut nyawamu, katakan padanya, “Tundalah kematianku, agar aku dapat melaksanakan taubat nasuha dan mengerjakan amal kebajikan..”.
ㅤ⁣
“Malaikat tidak akan memenuhi permintaanku..”, ucapnya.⁣
ㅤ⁣
Ibrahim menjelaskan: “Jika engkau tak kuasa menolak kematian dan ia tidak bisa ditunda, bagaimana engkau akan menyelamatkan diri..?!”⁣
ㅤ⁣
KELIMA:⁣
ㅤ⁣
“Saat Malaikat menggiringmu ke Neraka, janganlah engkau mau mengikutinya..!”⁣
ㅤ⁣
“Mereka tak akan mendengarkanku..”, jawabnya.ㅤ⁣

Ibrahim berkata,⁣ “Lalu bagaimana engkau mengharap keselamatan..?!”⁣
ㅤ⁣
Lelaki itu pun berkata,
ㅤ⁣
“Wahai Ibrahim, cukup.. cukup.. sekarang aku memohon ampunan dan bertaubat kepada-Nya..”⁣
ㅤ⁣
(at-Tawwabin – Ibnu Qudamah al-Maqdisi)⁣

Makna Sabar

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

“الصبر:
حبس اللسان عن الشكوى إلى غير الله،
والقلب عن التسخط،
والجوارح عن اللطم وشق الثياب ونحوها”.

عدة الصابرين ص: ٢٣١.

“Sabar adalah :
– menahan lisan dari mengadu kepada selain Allah.
– menahan hati dari merasa kesal, dan
– menahan anggota badan menampar pipi, menyobek baju dsb..”

(‘Uddatush Shoobiriin – 231)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ref : https://twitter.com/UB_CintaSunnah/status/1711260149246239186?t=qq4038hUKNnFWNR946btAQ&s=19

Ibadah Yang Paling Utama

Ibnus Sammak menulis surat kepada saudaranya,

‏أَفْضَلُ العبادة الإمساك عن المعصية ، والوقوف عند الشهوة ، وَأَقْبَحُ الرغبة أَنْ تطلب الدُّنْيَا بعمل الآخرة

‏الآداب الشرعية (1/153)

“Ibadah yang paling utama adalah menahan diri dari maksiat dan berhenti saat syahwat.. dan seburuk-buruk keinginan adalah mencari dunia dengan melalui amalan akherat..”

(Al Adab Asy Syar’iyah 1/153)

Karena maksiat itu disukai oleh syahwat..
Meninggalkannya amat berat terlebih saat syahwat bergejolak..
Semakin membituhkan perjuangan maka semakin besar pahalanya..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Tiga Perkara

Yahya bin Muadz rohimahullah berkata,

ليكن حظ المؤمن منك ثلاثة :
‏إن لم تنفعــه فلا تضـره
‏وإن لم تفرحـه فلا تغمه
‏وإن لم تمدحه فلا تذمه.

“Hendaklah sikapmu kepada mukmin lain tiga perkara:

● Jika kamu tidak bisa memberinya manfaat, maka jangan memberinya mudhorot.

● Jika kamu tidak bisa membuatnya gembira, maka jangan membuatnya bersedih.

● Jika kamu tidak bisa memujinya, maka jangan mencelanya..”

(Jami’ul Ulum wal Hikam 2/283)

Memasukkan kegembiraan ke dalam hati mukmin..
Adalah termasuk amal yang dicintai Ar Rohman..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Nasehat Para Salaf

قال إمام أهل مكة في زمانه سفيان بن عيينة _ رحمه الله تعالى _ :

كان العلماء فيما مضى يكتب بعضهم إلى بعض هؤلاء الكلمات :
من أصلح سريرته أصلح الله علانيته ،
ومن أصلح ما بينه وبين الله أصلح الله ما بينه وبين الناس،
ومن عمل لآخرته كفاه الله أمر دنياه .

(رواه ابن أبي الدنيا في كتاب الإخلاص وأورده شيخ الإسلام ابن تيمية في أوائل كتاب الإيمان الكبير ج7 من مجموع الفتاوى )

Imam Sufyan bin ‘Uyainah -rohimahullahu ta’ala- meriwayatkan bahwa para salaf dahulu sering saling berkirim surat yang berisi nasehat berikut :

● barangsiapa memperbaiki apa yang tersembunyi dari dirinya, niscaya Allah akan memperbaiki apa yang terlihat dari dirinya.

● barangsiapa memperbaiki hubungannya dengan Allah, niscaya Allah akan perbaiki hubungannya dengan manusia

● barangsiapa beramal untuk akhiratnya, niscaya Allah cukupi perkara dunianya.

(Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya dalam Kitab Al IKhlas dan dinukil oleh Ibnu Taimiyyah dalam awal kitab Al Iman Al Kabir)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Dr. Sufyan Baswedan MA, حفظه الله تعالى