Category Archives: Mutiara Salaf

MUTIARA SALAF : Sebab Terjaganya Nikmat

Ibnul Qoyyim rohimahullah mengatakan,

وقد جعل الله لكل شيء سببا وآفة: سببا يجلبه وآفة تبطله.
فجعل أسباب نعمه الجالبة لها طاعته وآفاتها المانعة منها معصيته.

“Allah telah menetapkan pada segala sesuatu ada sebab dan penghalangnya:
– sebab yang mengantarkan untuk mendapatkannya, dan
– penghalang yang menggagalkan diraihnya sesuatu tersebut.

Allah menetapkan bahwa sebab untuk meraih kenikmatan adalah dengan ketaatan kepada-Nya. Adapun penghalangnya adalah kemaksiatan terhadap-Nya.

فإذا أراد حفظ نعمته على عبده ألهمه رعايته بطاعته فيها.
وإذا أراد زوالها عنه خذله حتى عصاه بها.

Jika Allah menghendaki untuk menjaga suatu nikmat ada pada seorang hamba, Dia ilhamkan bagi hamba tersebut untuk menjaganya dengan menggunakan nikmat itu dalam ketaatan.

Sebaliknya, jika Allah berkehendak mencabut suatu nikmat dari seorang hamba, Dia biarkan hamba tersebut bermaksiat dengan nikmat itu..”

(Ad-Daa’u wad Dawaa’u – 249)

MUTIARA SALAF : Dosa Pasti Membawa Pengaruh Buruk

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

فترتب العقوبات على الذنب كترتب الإحراق على النار و الكسر على الانكسار و الإغراق على الماء و فساد البدن على السموم و الأمراض على الأسباب الجالبة لها

“Akibat dosa terhadap hukuman itu (adalah) sebagaimana halnya :
– api mengakibatkan terbakar,
– benturan mengakibatkan patah,
– air mengakibatkan tenggelam,
– racun mengakibatkan rusaknya tubuh, dan
– sebab-sebab penyakit mengakibatkan sakit.

وقد تقارن المضرة للذنب, وقد تتأخر عنه يسيراً وإما مدة, كما يتأخر المرض عن سببه أو يقارنه, وكثيراً ما يقع الغلط للعبد في هذا المقام, ويذنب الذنب فلا يرى أثره عقيبه, ولا يدري أنه يعمل عمله على التدرج شيئاً فشيئاً, كما تعمل السموم والأشياء الضارة حذو القُذة بالقذة

Terkadang, pengaruh buruk tersebut langsung mengiringi dosa. Namun, terkadang ada jeda waktu, bisa jadi singkat, bisa pula lama.

Ini seperti penyakit, kadang bisa langsung terasa ketika ada sebab sakitnya, kadang juga tidak langsung terasa.

Banyak orang salah memahami masalah ini. Dia berbuat dosa dan tidak langsung melihat efek buruknya. Dia tidak sadar bahwa dosa itu merusak secara bertahap, sedikit demi sedikit, seperti halnya zat beracun (merusak tubuh)…”

(Ad-Daa’u wad Dawaa’ – 272)

MUTIARA SALAF : Gunung Itu Tersusun Dari Bebatuan Kecil

Ibnul Mu’taz rohimahullah berkata,

خَلِّ الذُّنُــوبَ صَــغِيــرَهَا * وَكَبِيــــــرَهَا ذَاكَ التُّقَى

“Tinggalkanlah seluruh dosa, yang kecil dan yang besar, itulah takwa..!

وَاصْنَعْ كَمَاشٍ فَوْقَ أَرْ * ضِ الشَّـوْكِ يَحْــذَرُ مَــــا يــَـرَى

Berbuatlah seperti orang yang berjalan di atas tanah yang penuh dengan duri sehingga dia benar-benar berhati-hati dengan penuh perhatian

لاَ تَحْقِرِنَّ صَغِيـــــــــرَةً * إِنَّ الْجِبـَــالَ مِنَ الْحَصَــى

Janganlah sekali-kali kamu meremehkan sebuah dosa kecil. Sungguh, gunung-gunung itu, tersusun dari bebatuan kecil..”

(Jami’ul ‘Ulum wal Hikam 1/402)

Pemuda Idaman

Jika ingin menjadi pemuda idaman yang sulit tertandingi, maka amalkanlah nasihat berikut ini:

1. Menyibukkan waktu dengan ibadah dan hal-hal yang bermanfaat untuk dunianya.
2. Memilih guru dengan baik.
3. Waspada dengan waktu senggang yang dimiliki.
4. Bersemangat dalam mencari ilmu.
5. Menjadikan akhirat sebagai obsesi terbesar.
6. Tidak menyia-nyiakan masa muda.
7. Memaksimalkan potensi yang dimiliki pemuda, berupa kekuatan berpikir dan fisik, untuk kebaikan.
8. Berusaha untuk tidak menjadi beban bagi orang lain.
9. Jangan sampai melupakan urusan sholat.
10. Tidak memulai pertemuan kecuali dengan (mengucapkan) salam.
11. Menjadi sosok yang rajin dan taat.
12. Jangan suka menunda-nunda.

(Disarikan dari kitab Washiyyatus Salaf lisy Syabaab karya Syeikh Abdurrozzaq حفظه الله تعالى)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah MA, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Terfitnah Oleh Pujian Manusia

Kholid bin Shofwan berkata kepada Umar bin Abdil Aziz, rohimahumallah,

يا أمير المؤمنين إنّ أقواماً غرهم ستر الله
‏وفتنهم حسن الثناء فلا يغلبن جهل غيرك
‏بك علمك بنفسك
‏أعاذنا الله وإياك أن نكون بالستر مغرورين
‏وبثناء الناس مسرورين
‏وعما افترض الله علينا متخلفين ومقصرين
‏وإلى الأهواء مائلين

“wahai Amirul Mukminin..

banyak orang yang tertipu ketika Allah menutupi aib mereka..
dan terfitnah oleh pujian manusia…

maka ketidak tahuan mereka terhadap aibmu..
jangan sampai mengalahkan pengetahuanmu tentang aibmu..

– semoga Allah melindungi kami dan engkau dari tertipu dengan penutupan Allah terhadap aib kita..

– dan dilindungi dari gembira karena mendapat pujian manusia..

– dan dilindungi dari menyia nyiakan perintah Allah dan mengikuti hawa nafsu..”

(Az Zuhdul Kabiir karya imam Al Baihaqi 1/187)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Jangan Mengikuti Hawa Nafsu

Allah Ta’ala berfirman,

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَـٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِن بَعْدِ اللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah menyesatkannya di atas ilmu dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya..? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran..?!”

(Al-Jaasiyah – 23)

Syaikh Sholih Fauzan hafizhohullah berkata,

فالهوى إلهٌ آخرُ .
‏وليسَ الشركُ مقصوراً على عبادة الصنم أو الوثن .
‏بل هناك شيءٌ آخرُ وهو الهوى .
‏فقد لا يعبدُ الإنسانُ الأصنام ، والأشجار ، والأحجار ولا يعبد القبور .
‏لكن يتبع هواه ، فهذا عبدٌ لهواه .

“Hawa nafsu adalah tuhan yang lainnya..
Syirik itu tidak terbatas pada menyembah patung atau berhala..
tapi ada sesuatu yang lain yaitu hawa nafsu..

Terkadang seorang insan tidak menyembah patung, pohon, batu atau kuburan..
Tetapi ia mengikuti hawa nafsunya..
Maka ia menjadi hamba hawa nafsu..

Maka hendaklah setiap insan waspada..
Jangan ia ikuti kecuali yang sesuai dengan al qur’an dan sunnah..”

(Ithoful Qori 1/71)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Mereka Adalah Keamanan Untuk Ummat Islam

Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

النجوم أمنة للسماء فإذا ذهبت النجوم أتى السماء ما توعد وأنا أمنة لأصحابي فإذا ذهبت أتى أصحابي ما يوعدون وأصحابي أمنة لأمتي فإذا ذهب أصحابي أتى أمتي ما يوعدون

“Bintang adalah keamanan untuk langit. Apabila bintang telah pergi maka datanglah kepada langit yang dijanjikan (kiamat).

Aku adalah keamanan untuk para shahabatku. Apabila aku telah pergi, akan datang kepada shahabatku apa yang dijanjikan (berupa fitnah).

Dan para shahabatku adalah keamanan untuk ummatku. Apabila para shahabatku telah pergi, akan datang kepada ummatku apa yang dijanjikan (berupa bid’ah dan kesesatan)..”

(HR Muslim)

Maka ikutilah para shahabat Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam dalam cara beragama..
Mereka adalah keamanan untuk ummat Islam..

Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata,

فعلى كل من انتسب إلى الدين
‏بقول أو عمل أن يكون متبعـــاً
‏للصحابة، مقتديا بهم.

“Atas setiap yang menisbatkan dirinya kepada agama ini baik dengan ucapan maupun perbuatan, hendaklah ia mengikuti para shahabat dan menjadikan mereka sebagai teladan..”

(Jami’ul Masaail 1/193)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Mencintai Kebenaran

Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata,

المؤمن ترضيه كلمة الحق له وعليه وتغضبه كلمة الباطل له وعليه لأن الله تعالى يحب الحق والصدق والعدل ويبغض الكذب والظلم

“Mukmin itu ridho dengan kalimat yang benar, baik menguntungkan atau merugikan dirinya. Dan benci kepada kalimat yang batil, baik menguntungkan atau merugikan dirinya. Karena Allah Ta’ala mencintai kebenaran, kejujuran dan keadilan, dan membenci dusta dan kezaliman..” (Majmu Fatawa 10/600)

Bagi mukmin..
Merujuk kepada kebenaran saat ia salah itu mudah..
Karena kebenaran lebih ia sukai dari mempertahankan ego..
Ia tidak takut kehilangan dunia demi mengikuti kebenaran..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Menghilangkan Kegundahan Dan Kesedihan

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rohimahullah menjelaskan,

Salah satu sebab untuk menepis rasa gundah dan sedih adalah :
– fokus pada amalan hari ini,
– tidak terlalu khawatir dengan apa yang akan datang, dan
– tidak sedih berlebih dengan masa lalu.

Karena itu, Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam berlindung kepada Allah Ta’ala dari ‘hamm’ dan ‘hazn’.

– HAMM adalah kekhawatiran terhadap masa depan.

– HAZN adalah penyesalan berlebihan terhadap masa lalu yang tidak mungkin kembali dan diperbaiki.

Seorang hamba hendaknya fokus pada hari ini. Hendaknya ia kerahkan kemampuan dan usahanya untuk memperbagus amalan hari ini dan waktu yang dihadapi. Ketika seseorang konsentrasi untuk itu, ia akan terlupakan dari khawatir dan sedihnya.

(Al-Wasailul Mufidah li Nailil Hayaatis Sa’idah, hlm. 16)

jangan lupa salah satu adab berdo’a adalah memulainya dengan:

● memuji Allah dengan nama-nama-Nya yang Agung (contoh): yaa Hayyu yaa Qoyyuum (Yang Maha Hidup dan Tidak Bergantung pada Makhluk-Nya)

● lalu membaca sholawat (contoh): Allaahumma sholli wa sallim ‘alaa Muhammad

● lalu mulailah berdo’a..

#doa

Pembatal Pahala Sedekah

Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin rohimahullah berkata,

إن المن والأذى يبطل الصدقة، وعليه فيكون لقبول الصدقة شروط سابقة ومبطلات لاحقة، أما الشروط السابقة :
١– فالإخلاص لله.
٢– والمتابعة.
وأما المبطلات اللاحقة:
١–فالمن.
٢– والأذى.

“Sesungguhnya:
– mengungkit-ungkit, dan
– menyakiti orang yang menerima
menggugurkan pahala sedekah.

Atas dasar ini, diterimanya sedekah memiliki syarat-syarat yang mendahului dan pembatal-pembatal yang muncul belakangan.

Adapun syarat-syarat yang mendahului:
1. Ikhlas karena Allah.
2. Mengikuti petunjuk Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam.

Sedangkan pembatal-pembatal yang muncul belakangan adalah:
1. Mengungkit-ungkitnya.
2. Menyakiti orang yang menerimanya..”

(Tafsir Surat al-Baqoroh, jilid 3 hlm. 314)