Category Archives: Mutiara Salaf

Keutamaan Puasa Di Bulan Al Muharrom

● Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

“Puasa yang paling afdhol setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada Syahrullah al muharrom..”

(HR. Muslim – 1163)

● Al Hafizh Ibnu Rojab rohimahullah berkata,

“Nabi shollallaahu ‘alayhi wasallam memberi nama al muharrom dengan syahrullah (bulan Allah). Penyandaran bulan ini kepada Allah menunjukkan kemuliaan dan keutamaannya, karena Allah tidak akan menyandarkan sesuatu kepada diri-Nya kecuali pada makhluk-Nya yang khusus..”

(Lathoiful Ma’arif – 81)

● Al Hasan Al Bashri rohimahullah berkata,

“Sesungguhnya Allah membuka awal tahun dengan bulan harom (al muharrom), dan menutup akhir tahun dengan bulan harom juga (dzulhijjah). Tidak ada bulan yang lebih agung di sisi Allah setelah Ramadhan dibandingkan bulan al muharrom..”

(Lathoiful Ma’arif – 79)

Kekayaan Yang Hakiki

Seorang ahli hikmah berkata,

إذا طلبت العزَّ فاطلبه بالطاعة، وإذا طلبت الغنى فاطلبه بالقناعة، فمن أطاع الله عز وجل عن نصره، ومن لزم القناعة زال فقره.

– Apabila engkau mencari kemuliaan maka carilah dengan cara mentaati Allah, dan

– Jika engkau mencari kekayaan maka carilah dengan cara qona’ah (merasa puas/cukup dengan yang ada)

Karena siapa yang mentaati Allah ia pasti menjadi mulia dengan pertolongan-Nya.. dan siapa yang selalu qona’ah maka akan hilang kefakirannya..”

(Adabuddunya Waddiin – karya imam Al Mawardi hal 226)

Karena kekayaan yang hakiki adalah kekayaan hati..

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Menyukai Harta Untuk Beribadah Kepada Allah

Sa’id bin Musayyib rohimahullah -ulama tabi’in- berkata,

لا خير فيمن لا يحب المال:
‏١-يعبد به ربه،
‏٢-ويؤدي به أمانته،
‏٣-ويصون به نفسه،
‏٤-ويستغني به عن الخلق”.

“Tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak menyukai harta untuk :

1. Beribadah kepada Robbnya
2. Melaksanakan amanah
3. Menjaga kehormatan diri
4. Agar tidak minta minta kepada manusia

(Dikeluarkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman)

Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata mengomentari,

“Beliau mengabarkan bahwa kewajiban kewajiban ini berupa :

– beribadah kepada Allah,
– membayar hutang,
– menjaga kehormatan diri, dan
– tidak minta minta kepada manusia

tidak akan sempurna kecuali dengan memiliki harta. Sedangkan suatu kewajiban bila tidak sempurna kecuali dengan melakukan sesuatu, maka sesuatu itu menjadi wajib hukumnya.

Siapa yang tidak suka untuk melaksanakan kewajiban kewajiban ini dimana agama tidak tegak kecuali dengannya maka tidak ada kebaikan bagi orang tersebut..”

(Majmu Fatawa 29/280)

Mencintai harta itu baik jika tujuannya untuk beribadah kepada Allah Ta’ala, menjalankan amanah dan menjaga kehormatan diri..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Beribadah Kepada Allah Dalam Keadaan Senang Maupun Susah

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

فإن الله لم يبتل عبده ليهلكه، وإنما ابتلاه ليمتحن صبره وعبوديته

“Sesungguhnya Allah tidak menguji hamba-Nya untuk membinasakannya. Akan tetapi untuk menguji kesabaran dan penghambaannya..”

(Al Wabil Ash Shoyyib)

Karena ibadah kepada Allah bukan hanya saat senang saja..
Namun juga saat ditimpa kesusahan..
Agar tidak masuk dalam firman-Nya,

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَىٰ حَرْفٍ ۖ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ ۖ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انقَلَبَ عَلَىٰ وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

“Diantara manusia ada yang beribadah kepada Allah di tepi jurang. Jika ia memperoleh kesenangan tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa ujian berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan akherat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata..” (Al Hajj: 11)

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Empat Tonggak Kufur

Ibnul Qoyyim rohimahullah mengatakan bahwa tonggak kufur itu ada empat yaitu,

1. Sombong
2. Hasad (dengki)
3. Marah
4. Syahwat

– sombong mencegah untuk tunduk dan patuh
– hasad mencegah untuk menerima nasehat
– marah dan benci mencegah untuk bersikap adil, dan
– syahwat mencegah untuk bersungguh sungguh dalam ibadah

apabila hancur kesombongan maka ia akan mudah untuk tunduk..

apabila hancur hasad maka ia akan mudah menerima nasehat..

apabila hancur marah dan benci maka akan mudah bersikap adil dan tawadhu..

dan apabila hancur tonggak syahwat maka akan mudah bersabar dan ibadah..

(Al Fawaid hal. 157)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Nasihat Imam Ahmad

Ada seseorang berkata kepada Imam Ahmad,

“Semalam aku sholat hingga aku terus menangis.. Sampai sampai hampir tumbuh tanaman karena air mataku..”

Imam Ahmad berkata, “Kamu tertawa dalam keadaan mengakui dosamu kepada Allah lebih baik dari pada kamu menangis namun kamu menunjukkan amalmu kepada orang lain. Karena sholat orang yang menunjukkan amalnya tidak naik kepada Allah..”

Ia berkata, “Berilah aku nasehat..”

Imam Ahmad berkata, “Zuhudlah kamu di dunia dan jangan menyaingi ahli dunia..

Jadilah seperti lebah, ia hanya memakan yang baik, mengeluarkan dari perutnya sesuatu yang baik, jika hinggap di ranting ia tidak membuatnya patah..

Hendaklah kamu tetap setia kepada Allah seperti kesetiaan seekor anjing kepada majikannya. Walaupun majikannya membuatnya lapar dan memukulnya tapi ia tetap setia kepadanya..”

(Mawa’idz Sholihin hal 396)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Hikmah Dibalik Tertundanya Pengabulan Do’a

Ibnu Rojab Al Hanbali rohimahullahu Ta’ala berkata,

إنَّ المؤمن إذا استبطأ الفرج، وأيس منه بعدَ كثرة دعائه وتضرُّعه، ولم يظهر عليه أثرُ الإجابة؛
– يرجع إلى نفسه باللائمة
– وقال لها : إنَّما أُتيتُ من قِبَلِكَ،
– ولو كان فيك خيرٌ لأُجِبْتُ
– وهذا اللومُ أحبُّ إلى الله من كثيرٍ من الطَّاعاتِ
– فإنَّه يُوجبُ انكسارَ العبد لمولاه واعترافَه له بأنَّه أهلٌ لما نزل به من البلاء
– وأنَّه ليس بأهلٍ لإجابة الدعاء؛

Apabila seorang mukmin :
– merasa jalan keluar permasalahannya datang begitu lambat,
– berputus asa setelah banyak berdo’a dan merendahkan diri di hadapan-Nya, namun belum tampak tanda-tanda do’anya dikabulkan,

(maka hendaknya) ia berbalik mencela dirinya sendiri dan berkata kepada dirinya sendiri, ‘Sesungguhnya berbagai musibah yang menimpaku ini dari diriku sendiri .. seandainya ada kebaikan pada diriku, niscaya do’aku akan dikabulkan..’

Celaan ini lebih dicintai oleh Allah daripada banyak ketaatan. Sebab, celaan ini menunjukkan rendahnya sang hamba di hadapan Dzat Yang Menguasainya. Ia mengaku di hadapan-Nya bahwa :
– ia pantas mendapatkan berbagai musibah, dan
– mengakui bahwa dirinya bukanlah orang yang pantas dikabulkan do’anya.

• فلذلك؛
• تُسرِعُ إليه حينئذٍ إجابةُ الدعاء
• وتفريجُ الكرب،
• فإنَّه تعالى عندَ المنكسرةِ قلوبهم من أجله .

Ketika itu, pengabulan do’a dan jalan keluar akan datang dengan cepat. Sebab, Allah bersama orang-orang yang merendahkan hatinya karena-Nya.

(Jamii’ul ‘Uluum wal Hikam – 225)

Menjaga Lisan Saat Marah

Rosulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

قال رجل: والله لا يغفر الله لفلان، فقال الله: من ذا الذي يتألى عليَّ أن لا أغفر لفلان؟ إني قد غفرت له، وأحبطت عملك

Ada seorang lelaki yang berkata, “Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si fulan..”

Allah berfirman, “Siapakah yang bersumpah atas nama-Ku bahwa Aku tidak mengampuni si fulan..?  Sesungguhnya Aku telah mengampuni dosanya dan Aku telah menghapuskan amalmu..” (HR Muslim).

Dalam riwayat Ahmad dan Abu Dawud disebutkan bahwa ia mengucapkan itu karena marah kepada temannya yang selalu berbuat maksiat.

Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu berkata,

“Demi Dzat yang diriku berada di tangan-Nya, ia telah mengucapkan kata kata yang merusak dunia dan akheratnya..”

Atho’ bin Abi Robah rohimahullah berkata,

إن الرجل ليتكلم في غضبه بكلمة يهدم بها عمل ستين سنة ، أو سبعين سنة .

“Sesungguhnya seseorang berbicara saat marahnya dengan sebuah kalimat yang dapat menghancurkan amalan selama 60 atau 70 tahun..”

(Fathul Bari Ibnu Rojab 1/200)

Saat marah, jagalah lisan agar tidak mengucapkan kalimat yang buruk..
Agar amal kita tidak dibatalkan tanpa terasa..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Ampunan Allah Di Hari Arofah

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda (yang artinya),

“Puasa Arofah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharrom) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu..”

[ HR. Muslim – no. 1162 ]

● Al Hafizh Ibnu Rojab rohimahullah menyebutkan bahwa,

Ibnu Umar rodhiyallahu ‘anhumaa mengatakan,

إذا كان يوم عرفة لم يبق أحد في قلبه مثقال ذرة من إيمان إلا غفر له قيل له: أللمعروف خاصة أم للناس عامة؟ قال: بل للناس عامة”

‘Ketika hari Arofah, setiap orang yang memiliki iman seberat telur semut maka dia akan diampuni..’

Ada yang bertanya kepada beliau, ’Apakah khusus untuk yang sedang wukuf di Arofah ataukah umum mencakup semua orang..?’

Ibnu Umar menjawab, ‘Umum untuk semua manusia..’

(Lathoif al-Ma’arif, hlm. 492)

Apakah Takbir Muqoyyad Dilakukan Langsung Setelah Salam Secara Bersama Ataukah Sendiri-Sendiri..?

Syaikh al-‘Utsaimin rohimahullah berkata,

“Yang disyariatkan ketika selesai sholat adalah membaca dzikir yang sudah dikenal, kemudian bila anda selesai berdizikir silahkan bertakbir. Begitu pula disyariatkan supaya orang-orang tidak bertakbir bersama, akan tetapi SETIAP ORANG BERTAKBIR SENDIRI-SENDIRI..

Inilah yang disyariatkan sebagaimana di hadits Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu mereka bersama Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam saat haji, diantara mereka ada yang mengeraskan bacaan talbiyah, sebagian lagi bertakbir, mereka tidak dalam satu bentuk..”

[ Majmu’ Fatawa wa Rosail 16/261 ]