Category Archives: Mutiara Salaf

MUTIARA SALAF : Orang Yang Paling Mengenal Allah

Ibnul Qoyyim rohimahullah  berkata,

“Ibnu Mas’ud pernah mengatakan, ‘cukuplah rasa takut kepada Allah sebagai bukti keilmuan..’

Kurangnya rasa takut kepada Allah itu muncul akibat kurangnya pengenalan/ma’rifah yang dimiliki seorang hamba kepada-Nya..

Oleh sebab itu, orang yang paling mengenal Allah ialah yang paling takut kepada Allah di antara mereka..

Barangsiapa yang mengenal Allah, niscaya akan menebal rasa malu kepada-Nya, semakin dalam rasa takut kepada-Nya, dan semakin kuat cinta kepada-Nya..

Semakin pengenalan itu bertambah, maka semakin bertambah pula rasa malu, takut dan cinta tersebut..”

[ Thoriq al-Hijrotain ]
Adh-Dhau’ al-Muniir ‘alat-Tafsiir  5/97

MUTIARA SALAF : Membaca Sholawat Saat Berdo’a

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah mengatakan,

الصلاة على النبي صلى الله عليه و سلم قبل الدعاء وفي وسطه وفي آخره من أقوى الأسباب التي يرجى بها إجابة سائر الدعاء

“Membaca sholawat atas Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam sebelum berdo’a, di tengah do’a, dan di akhir do’a, termasuk sebab terkuat yang diharapkan dengannya akan terkabul seluruh doa..”

[ Iqtidho’ ash-Shiroth 2/249 ]

Sombong Dan Dengki

Ibnu Taimiyah rohimahullahu Ta’ala berkata,

والكبر والحسد هما داءان أهلكا الأولين والآخرين وهما أعظم الذنوب التي بها عصى الله أولا فإن إبليس استكبر وحسد آدم وكذلك ابن آدم الذي قتل أخاه حسد أخاه

“Sombong dan dengki adalah dua penyakit yang membinasakan generasi pertama sampai terakhir. Keduanya dosa terbesar yang Allah dimaksiati dengannya. Karena Iblis sombong dan dengki kepada Adam. Demikian juga anak Adam membunuh saudaranya akibat dengki..”

(Jami’ur Rosail hal. 233)

Akibat kesombongan, ia menolak kebenaran..
Lebih memilih kesesatan dibanding kebenaran..

Akibat kedengkian ia berusaha mencelakakan orang lain..
Tak peduli apakah Allah akan murka atau tidak..

Na’uudzu billaah min dzaalik..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Was-Was Riya’ Dalam Beramal Kebaikan

Ketika seseorang berkeinginan untuk beramal kebaikan, syaithon datang memberikan was-was kepadanya dengan mengatakan, “Engkau melakukan itu karena riya dan sum’ah..” Karena omongan ini, akhirnya ia urung melakukan amalan kebaikan. Bagaimanakah cara menjauhi was-was semacam ini..?

Syaikh al-Utsaimin rohimahullah menjawab,

“Caranya adalah memohon perlindungan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari syaithon yang terkutuk dan terus melanjutkan beramal kebaikan, tanpa menoleh kepada was-was yang menghalangi/mencegahnya dari berbuat kebaikan tersebut..

Jika ia berpaling dan tidak memperdulikan omongan (syaithon) itu, serta berlindung kepada Allah subhanahu wa ta’ala  dari syaithon yang terkutuk, niscaya akan hilang darinya was-was tersebut dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala..”

[ Fatawa Syaikh al-Utsaimin rohimahullah – 2/209 no. 277 ]

Terkait masalah yang sama, Fudhail bin ‘Iyadh rohimahullah berkata,

“Meninggalkan amal karena manusia termasuk riya’.. dan beramal karena manusia termasuk syirik..”

[ Majmu’ al-Fatawa – 23:174 ]

NOTE: Jika hendak mengerjakan suatu amal kebaikan, namun khawatir riya’, maka hendaknya istighfar, ta’awudz (berlindung kepada Allah), perbaharui niat, dan tetaplah lanjutkan amal kebaikan tersebut.. Allahu a’lam

MUTIARA SALAF : Beberapa Hal Yang Wajib Diperhatikan Sebelum Menjalin Pertemanan

Abu Hatim Muhammad bin Hibban al-Busti rohimahullah memberikan tips hal-hal yang wajib untuk diperhatikan sebelum menjalin pertemanan dengan seseorang.

Beliau rohimahullah mengatakan,

من علامات الحمق التي يجب للعاقل نفقدها ممن خفي عليه أمره: سرعة الجواب، وترك التثبت، والإفراط في الضحك، وكثرة الالتفات، والوقيعة في الأخيار، والإختلاط بالأشرار.‌‌

“Beberapa tanda kebodohan yang wajib bagi orang yang cerdas untuk memperhatikan (ada atau tidaknya tanda-tanda kebodohan tsb) pada diri orang yang statusnya masih samar baginya ..

1. Cepat menjawab
2. Tidak mengklarifikasi (suatu permasalahan)
3. Tertawa berlebihan
4. Sering menoleh
5. Menjatuhkan orang-orang yang baik
6. Bergaul dengan orang-orang yang buruk..”

[Roudhatul Uqola’ wa Nuzhatul Fudhola’ – 119]

MUTIARA SALAF : Amalan Tergantung Akhirnya

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

من أحدث قبل السلام بطل ما مضى من صلاته، ومن أفطر قبل غروب الشمس ذهب صيانه ضائعا، ومن آساء في آخر عمره لقي ربه بذلك الوجه.

– siapa yang berhadats sebelum salam, maka sholatnya batal.

– siapa yang berbuka sebelum terbenamnya matahari, maka puasanya hilang sia-sia, dan

– barangsiapa melakukan keburukan di akhir hidupnya, maka dia bertemu Robbnya semisal itu (merugi, tidak berguna amalannya)..

[ Al-Fawaid, hlm. 71 ]

Bersabar Ketika Sakit

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah pernah memberikan pelajaran yang sangat indah tentang sabar di kala sakit.

Beliau rohimahullah berkata,

“Sabar yang indah (yang baik) adalah seseorang bersabar tanpa mengeluh (merintih) rasa sakit pada makhluk..

Oleh karena itu, pernah dibacakan kepada Imam Ahmad bin Hambal kala ia sakit bahwa Thowus sangat tidak suka merintih tatkala sakit. Setelah itu Imam Ahmad tidak pernah mengeluh lagi (pada makhluk dengan merintih sakit) sampai waktu ia meninggal dunia..

Adapun mengeluh kepada Allah, Sang Kholiq maka itu tidak menafikan sabar yang jamil (yang indah). Bahkan Ya’qub pernah berkata,

فَصَبْرٌ جَمِيلٌ

“Bersabarlah dengan sabar yang baik..” (Qs Yusuf: 18)

Ya’qub berkata,

إنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إلَى اللَّهِ

“Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku..” (Qs Yusuf: 86)

[Majmu’ al-Fatawa – 10 : 183-184]

Akibat Menyebarkan Kejelekan Terhadap Seorang Mukmin

Ibnu Rojab rohimahullah mengatakan,

وعقوبةُ مَنْ أشَاعَ السُّوءَ على أخيهِ المؤمنِ، وتَتبّعَ عُيوبَه، وكَشَفَ عَورتَهُ؛ أنْ يَتَّبِعَ اللهُ عَورتَه و يَفْضَحَهُ ولو في جَوفِ بَيتِهِ

Hukuman bagi orang yang :

1. menyebarkan kejelekan terhadap saudaranya yang mukmin,

2. mencari-cari berbagai kekurangannya, dan

3. menyingkap sesuatu yang tertutupi dari saudaranya,

ialah bahwa Allah akan mencari-cari kekurangan-kekurangan dirinya dan mempermalukannya walaupun dia berada di dalam rumahnya.

(Al-Farqu Baina an-Nashiihati wat Ta’yiir – 20)

Keutamaan Dzikir

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

“Jika keutamaan dzikir hanyalah ini (mengusir musuh), tentu seorang hamba akan terus membasahi lisannya dengan dzikir pada Allah Ta’ala dan terus teguh dengan dzikir tersebut. Karena yang dapat melindunginya dari musuh (yaitu setan) hanyalah dengan dzikir..

Musuhnya pun baru bisa menyerang ketika ia lalai dari dzikir. Musuh tersebut baru akan menangkap dan memburunya ketika ia lalai dari dzikir..

Namun jika dirinya disibukkan dengan dzikir pada Allah, musuh tersebut akan bersembunyi, menjadi kerdil dan hina. Sampai-sampai ia seperti burung pipit atau seperti lalat (binatang kecil yang tak lagi menakutkan).

Karenanya setan memiliki sifat ‘waswaasil khonnaas’. Maksudnya, menggoda hati manusia ketika manusia itu lalai. Namun ketika manusia mengingat Allah, setan pun mengecil..”

[ Al-Wabil Ash-Shoyyib – 83 ]

Waspada Dari Murka Allah Dalam TIGA Perkara

Sufyan ats-Tsauri rohimahullah berkata,

Waspadalah terhadap murka Allah Ta’ala dalam tiga perkara :

– waspada dari meremehkan hal-hal yang diperintahkan kepadamu.

– waspadalah jika Allah Ta’ala melihat dirimu dalam kondisi engkau tidak ridho dengan apa yang telah (Allah tetapkan) menjadi bagianmu.

– waspadalah jika engkau murka kepada-Nya saat meminta sesuatu, tetapi tidak dikabulkan.

( Siyar A’lam an-Nubala – 7/244 )